Menunggui Anakku, Selasa Malam di emperan selasar Cempaka 4

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Jika saja kondisinya sudah jauh lebih baik Nak, mungkin Bapak takkan sesedih ini duduk sendirian di emperan selasar sebelah sal Cempaka ruang keempat. Karena bagaimanapun juga kasarnya temperamen Bapakmu, tetap saja ada rasa kangen untuk sekedar melihat wajah cantikmu semingguan ini.

Jika saja aku diberi kesempatan untuk bertemu Nak, mungkin kan kuberi pelukan hangat dan sayang sebagaimana yang sering kuberikan pada dua kakakmu saat kurindu pada wajah anak-anakku.

Jadi biarlah malam ini kulewati sejenak waktuku untuk memandangi kaca jendela buram yang menjagamu agar tetap hangat berada didalamnya.

Jika boleh kuhitung Nak, ini sudah hari keduapuluhtiga kamu lahir, namun sampai hari inipun aku belum pernah bisa menggendong dan menciummu dengan segala cinta kasih yang kupunya. Jadi wajarlah jika aku hanya bisa diam disini sambil berharap kelak kau kan membuka mata, menyadari kehadiran Bapakmu ada disisimu selalu.

Infeksi yang menyerangmu sejak dalam kandungan itu kelihatannya membuatmu jauh lebih menderita dari apa yang pernah kami bayangkan Nak, namun kami pun tak pernah berharap itu terjadi padamu, putri cantikku. Jadi, jika saja aku bisa menyembuhkanmu dengan kedua tanganku tentu sudah kulakukan sejak dahulu sehingga takkan sampai menyakitimu Nak.

Dan takkan pernah, tidak akan pernah terlintas, terbayang bahkan tersirat dalam pikiranku untuk meninggalkanmu sendirian dalam ruangan ini jika saja aku diijinkan untuk menjaga tidurmu Nak, seperti yang pernah kulakukan untuk ibu dan kedua kakakmu.

Jadi jangan pernah bersedih hanya karena kamu tak pernah melihatku disini, disisi tempatmu dirawat, begitupun sentuhan, senyum, belaiku, dan nyanyian serta doaku. Karena aku kan selalu mengingatmu dalam semua tindakanku.

7.40 PM, masih di emperan selasar selatan sal Cempaka, Rumah Sakit Sanglah

Cerita Satu Sore di Sal Cempaka

Category : tentang Buah Hati

Tangisannya masih keras terdengar saat kami melangkah pulang. Kata Ibunya, si Cantik seperti ingin mengadu, tak mau ditinggal pergi. Sedangkan kami, begitu tahu perkembangan si Bayi akan dipuasakan kembali, sepertinya pulang merupakan pilihan agar bisa beristirahat setelah seharian berada di RS Sanglah.

Pukul 10 pagi, kami tiba di PJT Sanglah. Setelah berbagi tugas, kami menjalankan kewajiban masing-masing sembari menunggu Konsul dengan Dokter Jaga. Dua jam kemudian, saya mendapat kabar dari Istri, bahwa adik akan dipindah ke sal Cempaka hari ini. Informasi yang sama kami dapatkan saat jumat malam lalu. Berbeda dengan malam itu, rencana kepindahan hari ini, sudah di Acc oleh Dokter Dharma Artana, dokter yang sama merawat putri kami sejak di Puri Bunda.

Lima Jam lamanya kami menunggu persiapan kepindahan, waktu yang lumayan lama sebetulnya jika digunakan untuk beraktifitas lain, istirahat misalnya. Infonya sih, butuh waktu yang tak sedikit untuk mensterilkan Inkubator yang nantinya akan digunakan oleh si Bayi berikutnya.
Namun demi anak, kamipun sama-sama mengutamakan penantian meski sempat jenuh duduk di areal depan gedung PJT, setelah diusir Keamanan lantaran terlalu lama berada di sejuknya ruangan PJT.

Mutiara PanDe Nyoman 03

Karena Tangisannya yang sudah cukup keras dan kencang, merupakan salah satu penyebab Gek Ara dipindahkan ke Sal Cempaka. Sal Isolasi dimana hanya sang Ibu saja yang diijinkan berinteraksi menyusui dengan anaknya, tanpa diperbolehkan ditengok oleh anggota keluarga lainnya, Ayah sekalipun.
Dimana secara fisik luar, si Cantik ini sudah tergolong stabil, meski secara hasil cek darah, masih ada beberapa catatan penting lainnya yang harus dicermati kembali.
Namun berhubung ia tak lagi menggunakan Oksigen, dan alat-alat perawatan NICU, maka dengan keputusan dokter, ia kini bisa turun ke tahap 2, tahap untuk berinteraksi dengan si Ibu, meski masih tetap berada dalam naungan Inkubator.

Perut Gek Ara terpantau bengkak lagi, walau tak sebesar dulu. Sedikit cairan berwarna kecokelatan juga masih tampak hadir dalam residu yang dimasukkan kedalam mulutnya. Itu sebabnya, ia kini harus dipuasakan lagi hingga cairan itu tak lagi dikeluarkan. Setelahnya, ia akan diberi mimik ASI melalui botol yang disiapkan dari sang Ibu, baru kemudian dievaluasi kembali. Begitu berulang hingga batas toleransi terpenuhi.

Beberapa pe-er khusus yang kini masih tersisa dari perawatannya adalah pemeriksaan terkait Cairan Otak dan Mata (ROP) yang ditenggarai merupakan efek samping dari penggunaan Inkubator dan Oksigen yang cukup lama, dan juga Jantung serta Hati akibat dari Infeksi yang dideritanya. Ohya, sakit yang dialami putri kami ini disebutkan sebagai Sepsis oleh dokter yang menanganinya. Infeksi Berat, begitu kurang lebihnya.

Jadi, tetaplah kami meminta Do’a dari semua kawan dan saudara, untuk kesehatan dan kepulihan Putri Ketiga kami ini, agar bisa sembuh dari sakitnya itu. Sehingga kami pun bisa segera berkumpul dengan si Cantik Mutiara.

Sudah tak sabar ingin menciumnya…

RS Sanglah : tentang CoAs

1

Category : tentang KeseHaRian

Tergelitik mendengar cerita Istri saat diperiksa kandungannya hari sabtu pagi kmaren, dimana saat mengetahui kondisi bayi didalam perut masih tertidur, dilihat dari grafis detak jantung sikecil, secara mendadak sang Coas langsung menggoyang-goyang perut Istri yang langsung ditegur oleh pak Dokter saat itu juga. Beralasan sikecil masih tidur, sang Coaspun sedikit ngeles dengan mengatakan tidak melakukan hal yang mungkin tak layak dilakukan dalam prosedur. Hasilnya jelas terlihat bahwa si bayi tampak terkejut yang mengakibatkan perubahan detak jantung sebegitu besar (semoga saja tidak salah mencerna istilah dan maksud pemeriksaan kmaren) dan menimbulkan tanda tanya pak Dokter.

Akhirnya pak Dokterpun mengambil inisiatif lain, dan mengulang prosedur tadi sambil mengambil alih proses pemeriksaan yang tadinya dilakukan Coas. Caranya dengan memberikan minuman yang manis seperti teh botol, yang langsung direspon oleh sikecil dalam perut dan memberikan hasil grafis yang jauh lebih baik.

coas.jpg

Apa yang terjadi di RS Sanglah pagi itu, boleh jadi merupakan satu keironisan yang seringkali dikomplain oleh masyarakat saat memeriksakan dirinya terutama saat yang bersangkutan dirawat inap. Penanganan yang diharapkan diambil oleh dokter-dokter berpengalaman dan mampu menghargai posisi pasien malah dipakai sebagai ajang pelatihan bagi Coas yang sedang mencoba magang dalam kaitannya dengan pendidikan sarjananya. Akibatnya beberapa orang yang sempat mengalami ‘cobaan’ oleh beberapa Coas saat persalinan dilakukan, mengeluh bahwa apa yang telah dilakukan membuat si pasien tak nyaman hingga merasa tersakiti akibat teguran-teguran sebagai respon dari rasa sakit si pasien.

Mungkin keberadaan Coas di RS Sanglah bisa jadi hanya untuk membantu para dokter dan seluruh jajaran staf yang ada, mempermudah pengawasan terhadap pasien, namun mungkin perlu satu telaah, apakah seorang Coas cukup layak untuk langsung terjun ikut menangani pasien tanpa pengawasan langsung dari orang-orang yang memiliki kompetensi dibidang tersebut. Tentu dengan mempertimbangkan faktor psikologis si Coas, agar jangan sampe mengecewakan seorang pasien yang notabene merupakan raja dalam sebuah institusi Rumah Sakit.

RS Sanglah : Memudahkan Proses dengan Sistem Komputerisasi

Category : tentang KeseHaRian

Mimpi-mimpi boleh indah. Mendambakan proses pendaftaran pasien hingga pembayaran jasanya dengan cepat dan mudah. Tak lagi harus bolak-balik kesana kemari dioper hanya demi membayar keperluan yang mungkin dapat dipermudah jalurnya.

sanglah-loket.jpg

Pemakaian sistem komputerisasi yang tersambungkan antar unit dan layanan yang ada dalam satu lingkup wilayah pelayanan masyarakat umum, bisa jadi satu solusi tepat untuk memberikan kenyamanan dan efisiensi waktu kepada keluarga pasien, yang sudah dipenuhi oleh segala beban akan kesehatan si pasien. Sehingga dalam pelaksanaannya tak lagi ditemukan pegawai yang menangani segala urusan yang berhadapan dengan keluarga si pasien secara langsung sampe-sampe terlelap kecapean lantaran ramainya pengunjung sedari malam tadi ia bertugas. Ini pula demi memudahkan keluarga si pasien untuk mengurus administrasi di satu pintu saja. Tapi entah kapan mimpi itu bisa terwujud.

RS Sanglah : Pasien terlantar

Category : tentang KeseHaRian

Ternyata benar adanya, berita yang dimuat di media maupun kabar yang didengar dari penjaga loket bahwa kamar untuk pasien dinyatakan fully booked, hingga mengakibatkan beberapa orang pasien tampak berjejer di lorong ruang Triage UGD.

sanglah-pasien-lorong.jpg

Satu sisi memang sangat disayangkan, mengingat sedemikian besarnya image RS Sanglah sebagai rujukan terakhir rumah sakit manapun di seantero Bali, mengalami kekurangan tempat yang sedianya dibutuhkan oleh masyarakat. Mungkin dana askeskin yang kini ramai dimuat di media cetak, baiknya dipakai untuk mengembangkan area untuk pasien tentunya. Hanya sayangnya, tak semua yang duduk di kursi empuk mau dan mampu mengorbankan kepentingan pribadinya demi kebutuhan pasien. Padahal hidup mereka ditentukan oleh pasien juga kan ?