Menjaga Ara dalam Kantuk

Category : tentang Buah Hati

Waktu menunjukkan pukul 12.44 dini hari, sementara mata belum bisa terpejam nyaman laiknya tidur sebelumnya.
Panasnya cuaca dan batuknya Gek Ara membuat istirahat malam ini sangat terganggu. Apalagi Ara dari kemarin siang sudah nda mau lagi didampingi ibunya. Hanya Bapak dan Ninik yang diminta. Gendong atau sekedar menemani tidurnya.
Repot juga.

Batuk Gek Ara keknya ndak ada perubahan dari awal kemarin. Makin menjadi malahan.
Malam ini kondisi Ara jadi hangat lagi, padahal seharian kemarin lumayan turun hingga ia sudah bisa bermain main dengan si kakak.

Badannya yang minggu kemarin sudah terlihat lebih berisi, kini tampak jauh lebìh kurus akibat sakit yang ia derita. Kasian banget liat Ara jadi lembek lembek begini. Istilah kakak sulungnya saat ia masih kecil dulu.

Menjaga Gek Ara dalam kantuk dilakoni dari semalam. Kini gantian dengan si ibu yang memilih tidur di kasur bawah, lantaran Ara menolak kehadiran ibu disisinya. Alamat begadang sampe pagi deh keknya…

Ara Demam (lagi)

Category : tentang Buah Hati

Anak sakit itu sebetulnya ya hal yang sudah biasa.
Bisa jadi karena perubahan cuaca yang nda menentu, perubahan pola makan yang aneh-aneh, hingga tumbuh gigi atau perkembangan tumbuh kembang si anak mau tambah pinter ngapain gitu ceritanya.

Tapi yang ada hari ini kok ya saya malah jadi ikutan sedih gegara si Ara, bungsu kami yang dulu sempat ditinggal lama di rumah sakit, demam yang kemungkinan besar akibat panas dalam, akibat tertular batuknya si mbak Intan yang nakal, atau ya aksi tumbuh gigi yang mana, sehingga menyebabkan aktifnya si anak kesana kemari mendadak hilang.

Ara pun tertunduk lesu dari Jumat kemarin.
Mih… akhir pekan pun jadi terasa sendu hingga malam ini menjelang.

Bisa jadi karena saat ini aktifitas bapaknya sudah ndak sebanyak dulunya, sehingga bisa full menemani kesehariannya Ara. Jadi ngikut lesu deh akhirnya.
Padahal rencana liburan minggu depan ke Amed rasanya sudah nda bisa dibendung lagi.
Jadi khawatir kerana kesehatan Ara tampaknya belum membaik dari kemarin.

Pening Bapakmu ini Gek…

InTan dan QZ 520 ETA

Category : tentang Buah Hati

InTan dan QZ 520 ETA

Intan baru bisa tidur saat kutinggalkan tadi. Menurut Ibunya, ia tak sekalipun memejamkan mata sejak pukul satu tengah malam. Keluhannya masih sama. Sakit pada perut, dan demam.

Dokter Anak yang kami temui jumat sore kemarin sempat menyampaikan, bahwa jika sampai hari ketiga Intan masih demam, ia harus segera melakukan cek darah. Kemungkinan besar Demam Berdarah.

Namun mengingat historisnya yang sempat mengalami Typhus, kami sudah mulai khawatir karena Intan cukup lama memerlukan proses untuk menghabiskan makan, entah pagi siang ataupun malam. Susah diberitahu.

Intan diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Satu hal yang saya khawatirkan dari kemarin. Mengingat pagi ini saya sudah bersiap terbang dan kini berada di dalam pesawat.

QZ 520 ETA

Pikiran melayang pada kesibukan mengurus administrasi yang biasanya saya lakukan. Kini, siapa yang harus diandalkan ?

Kartu Asuransi Prudentialnya sudah saya titip sebelumnya pada istri. Tapi tidak dengan Askes atau BPJSnya. Berhubung info terakhir, kakek Canggunya yang akan mengantar.
Damn… jadi menyusahkan banyak orang keberangkatan kali ini.
Sementara, cerita lamanya masih sama. Agen Asuransi Prudential yang saya miliki, susah dihubungi. Telepon gak diangkat, sms dan bbm pun tak dibalas.

Sepertinya ini akan menjadi liburan singkat bagi saya pribadi. Sementara yang lain, mungkin silahkan jalan terus. Kasihan keluarga di rumah mengurusi Intan tanpa kehadiran saya.

Semoga Tuhan memberi jalan dan kesehatan untuk putri kami Intan.
Get well soon Nak…

Akhirnya tumbang juga

Category : tentang KeseHaRian

Memasuki ruang tunggu dokter THT di lantai atas apotek Anugerah sebetulnya sudah mulai membuat suasana badan tak nyaman. Dinginnya suhu membuat tubuh ini serasa menggigil. Entah apa sebabnya.

Usai menunggui giliran periksa dokter, menunggui antrean obat dan menunggui proses penggantian lembar anti gores untuk ketiga perangkat Android diseberang jalan, pada akhirnya menumbangkan badan besar ini ke tempat tidur lengkap dengan kaus kaki dan selimut tebal. Dingin…

Suhu badan mulai terasa menurun setelah menjalani istirahat dua jam lamanya. Berusaha memejamkan mata namun selalu gagal lantaran Intan, putri kedua kami selalu berusaha membangunkan bapaknya lewat cubitan, cium hingga injakan dan tindihan badannya yang hanya seberat belasan kilogram itu. Terpantau 37.2 derajat saat berupaya bangun dari tempat tidur dan memaksakan diri untuk makan malam meski tak memiliki nafsu untuk itu.

Muntah. Ini muntah kali kedua yang dialami sedari pagi tadi. Benar-benar gak nyaman rasanya.

Mungkin ini benar-benar saatnya untuk beristirahat dan tidur. Me-nonaktifkan ponsel, dan meng-egepe kan semua kerjaan serta permintaan lembur…

Gejala Typus untuk Intan

Category : tentang Buah Hati

Panas badannya mulai meninggi, sekitar 39,8 derajat di malam kedua ini. Kamipun berembug singkat dan memutuskan untuk secepatnya melarikan Intan ke Rumah Sakit terdekat. Kartu Prudential atas namanya pun segera kupastikan berada didompet. Untuk berjaga-jaga pada kemungkinan terburuknya.

Di lorong pintu masuk sebelah UGD RS Bhakti Rahayu, selama setengah jam kami masih menunggu. Disebelah kami ada beberapa pasien rawat jalan yang masih menunggu panggilan. Artinya kami mendapatkan prioritas paling akhir. Jawaban pihak RS pun cukup membuat kami kebingungan, saat kami mencoba minta didahulukan. “Belum mengalami kejang kan pak ?” *lha apakah anak kami baru akan ditangani jika sudah mengalami kejang ? Apakah harus menunggu kejang dulu baru ada tindakan ? Meh…

Intan Typus 12

Setelah ijin pada beberapa pasien lainnya yang secara kepentingan hanya untuk memeriksakan kemajuan mereka, kamipun diberikan peluang masuk lebih dulu mengingat Intan saat itu mulai mengigau dan menangis. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, rabu kemarin.

Dokter Jaga berusaha melakukan observasi terlebih dahulu dengan memasukkan obat dari pantat bayi. Setelah setengah jam tampaknya belum jua ada perubahan. Maka itu kami meminta cek lab saja menindaklanjuti rujukan dari dokter anak. Hasilnya, Trombosit Intan terpantau turun hingga 84, padahal panas badannya baru menginjak hari kedua. Merasa ada yang tidak beres, Dokter Jaga menyarankan kami untuk Rawat Inap ditempat. Kamipun setuju.

Ada rasa kekhawatiran kami akan turunnya Trombosit Intan yang begitu jauh. Pertama tentu saja Demam Berdarah. Pengalaman menemani dua pasien DB, yang paling sulit adalah menganjurkan pasien untuk minum secara berkala demi menjaga mengentalnya darah, yang tentu akan makin sulit mengingat usia putri kami ini baru menginjak 2 tahun. Sulit dirayu dan sulit digugah kesadarannya. Jadi berharap saja bukan DB yang hinggap kali ini.

Trombosit Intan mulai membaik saat tim medis mengambil sampel darah Intan pagi berikutnya, naik menjadi 107 dan 167 di hari kedua dirawat. Dokterpun mengambil kesimpulan atas hasil lab yang ada, bahwa putri kami mengalami Gejala Typus dan meminta kami menjaganya agar tidak terlalu capek dan lelah. Oke, meskipun sakit tapi ini jauh lebih baik ketimbang DB.

Mungkin karena pembuluh darahnya Intan masih belum jelas terlihat, tim medis memerlukan dua kali suntikan di lengan kanannya untuk mengambil sampel darah. Bersyukur baik hari pertama dan kedua menginap, suntikan hanya perlu sekali ambil saja sehingga Intan gag perlu lama menangisnya karena sakit. Malah Bapaknya yang gag tahan meneteskan air mata lantaran kasihan.

Intan Typus 1

Begitu panas badannya mulai turun dihari kedua, disertai naiknya Trombosit, Intan tampak normal kembali. Mulai marah dan mencubit saat keinginannya tidak dipenuhi dan mulai tertawa juga mengoceh saat kami hibur bergantian. Terhitung Sabtu siang, Intan sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Anak yang menanganinya selama berada di RS. dan betapa leganya kami melihat perkembangan psikis Intan pasca infus dilepaskan.

Doa untuk Kakak

Category : tentang DiRi SenDiri

Duduk di pojokan deretan kamar rawat inap lantai tiga paviliun praja Rumah Sakit Wangaya, mengingatkanku pada masa menunggui MiRah putri kami saat ia terbaring sakit akibat Demam Berdarah beberapa waktu lalu… Kini kami kembali lagi di tempat yang sama untuk menunggui kakak kandungku yang jauh lebih lemah terbaring akibat kanker lidah, menggerogoti tubuh dan dagingnya hingga menyisakan kulit membungkus tulang. Sangat memprihatinkan.

Pikiranpun melayang…

Masih lekat dalam ingatanku. kakak ikut mengantar kami ke seputaran Kuta hanya untuk mencari sepatu kets berwarna putih sebagai kewajiban dan keharusan bagiku di kantor Bupati melaksanakan tugas hari jumat pagi. Itu kebersamaan kami yang terakhir, melihatnya makan dengan lahap bersama putranya.

Jauh setelahnya, kamipun masih sempat berkumpul bersama kakak kandung laki-lakiku yang datang ke Bali, dan menghabiskan waktu sekeluarga sehari sebelum keberangkatannya balik ke Kanada. Saat itu ia sudah tak dapat lagi makan dengan baik mengingat sakit yang ia derita pada lidah dan telinga. Aku masih ingat, hanya kuah bakwan yang dapat ia telan serta sedikit nasi untuk mengisi perut di tengah keriuhan kami bersendagurau.

Perjuangannya sungguh berat terasa.

Kanker lidah yang divonis telah mencapai stadium empat dalam waktu singkat, telah mengagetkan syaraf kami hingga titik yang terbawah. Ditambah diagnosa dokter akan Diabetes yang diderita makin melengkapi kesedihan kami, akan keinginan kakak untuk sembuh seperti sedia kala.

Dokter sama sekali tak berani untuk memberikan keputusan akan langkah apa yang harus kami perbuat. Pengobatan kanker atau kemoterapi tak disarankan, mengingat lemahnya kondisi kakak saat itu serta diabetes yang diderita mengecilkan kemungkinan untuk dilakukannya tindakan. Satu-satunya langkah yang menjadi harapan saat itu adalah mencoba jalan alternatif ke Tangerang, pada seorang ilmuwan yang sedang mengembangkan cara membunuh sel kanker lewat alat yang dibuat secara khusus sesuai kondisi pasien.

Hasilnya nol… Sama sekali tak berpengaruh… Dan kondisi kakak makin tambah parah dengan keluarnya air liur dan dahak dalam jumlah banyak, serta sulitnya ia menelan makanan yang meski sudah diblender dan disaring oleh ibu dan suaminya. Pasrah…

Meski demikian, dalam kepasrahan kami tetap berbuat untuk berobat dan berobat. Namun keinginan untuk menyembuhkan kakak selalu tersandung pada kesulitan untuk mencerna obatnya, dan kondisinya kini pun bertambah kritis.

Rabu siang lalu merupakan neraka bagi kami. Disini semua idealisme, harapan dan amarah tertumpah hingga akhirnya kakak diputuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit demi mendapat asupan infus dan cairan makanan yang disuntikkan lewat selang, gara-gara selama dua hari ini tak ada apapun yang bisa ia telan lagi. Ketimbang menunggu, bukankah lebih baik kami berbuat ?

Waktu kian menunjukkan malam yang semakin pekat. Hujan diluaran pun mulai turun membasahi bumi. Demikian halnya air mata kami yang menetes satu demi satu hanya untuk bisa panjatkan doa untuk kakak, demi mukjizat dan kesembuhannya nanti…

Biarpun lama, namun kehadirannya akan tetap kami tunggu… Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mendengarnya…