Nyalakan Selalu Lampu Sepeda Motor Anda

47

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Dua hari terakhir ini jajaran Dit Lantas Polda Bali mulai memberlakukan peraturan baru terkait usaha untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang kerap terjadi di Kota Denpasar. Peraturan ini mengacu kepada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) pasal 107 ayat 2 yang salah satu poinnya adalah menghimbau agar masyarakat yang menggunakan kendaraan sepeda motor menyalakan lampu kendaraan disiang hari. Jika tidak, bersiaplah untuk membayar denda sebesar 100 ribu rupiah.

Himbauan ini disampaikan melalui pamflet yang dipasang dan disebarkan diseantero jalan Kota Denpasar. Tak ketinggalan diantara para jajaran yang terlihat sedang mengatur laju lalu lintas, ada juga yang membawa papan kecil bertuliskan himbauan tersebut. Sebenarnya hal ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Kota Denpasar. Beberapa waktu lalu sudah pernah dicoba dan diterapkan namun kemudian menghilang, mubazir kata orang.

Selain poin ‘menyalakan lampu kendaraan disiang hari, ada banyak lagi yang harus diperhatikan oleh pengendara antara lain ‘menyalakan lampu kendaraan dimalam hari, memiliki SIM/STNK, memasang plat kendaraan yang bagi saya pribadi sudah jelas dimengerti oleh masyarakat. Tapi ‘menyalakan lampu kendaraan disiang hari ?

Jujur saja saya kebingungan dengan peraturan ini sedari awal. Apa alasannya mengapa harus menyalakan lampu kendaraan disiang hari ? Mungkin bisa dilakukan sosialisasi kepada masyarakat baik itu pada tempat-tempat umum, media massa ataupun televisi. Tujuannya agar masyarakat mengerti dan memahami apa makna atau maksud dari ‘menyalakan lampu kendaraan disiang hari tersebut.

Apakah sebagai tanda bagi pengendara lain agar berhati-hati ketika menyeberang jalan, berpapasan pada laju kendaraan dua arah (bagaimana jika lalu lintas satu arah ???) ataukah ada alasan tertentu lainnya. Seberapa efektif pula hubungan ‘menyalakan lampu kendaraan disiang hari dengan penurunan angka kecelakaan, MENGINGAT perilaku para pengendara sepeda motor yang masih seenak perut mereka berperilaku dijalan raya.

Saya yakin banyak orang yang pernah mengalami hal yang barangkali pernah saya alami. Anak-anak yang sudah jelas secara visual seragam berada pada usia ‘dibawah umur standar kepemilikan SIM, berkeliaran dijalan raya dengan sepeda motor rilis terbaru, alasan para orang tua karena mereka tidak memiliki waktu untuk mengantar anaknya, bisa juga karena jauhnya jarak tempuh si anak dari rumah ke sekolah. Bukan rahasia lagi kalau didaerah pinggiran kota, begitu banyak anak-anak yang barangkali untuk menjejakkan kaki mereka di aspal sambil badan tetap berada diatas sepeda motor saja masih kesusahan namun dengan pongahnya ngebut dijalan raya.

Banyak pengendara yang tidak tahu, mana yang dinamakan jalur lambat kendaraan atau jalur cepat, sehingga kerap para pengendara sepeda motor berada ditengah-tengah jalan raya, menghalangi laju kendaraan yang ada dibelakangnya. Yang ketika ditegur malah balik marah-marah…

Ada juga yang bersikap ‘slonong asal, yang penting ada kesempatan tanpa melihat ada tidaknya kendaraan sekitar, langsung main potong jalur. Kadang sambil mengomel ketika sebuah kendaraan yang terlanjur melaju dengan kencang mendadak ngerem gara-gara aksi slonong asal. Tidak peduli dengan kedua spion yang menjulang dikedua sisi motor.

Masih banyak kok perilaku pengendara motor yang menurut saya malah memiliki kecenderungan lebih besar menciptakan kecelakaan ketimbang ‘menyalakan lampu kendaraan disiang hari. Pengendara motor yang nekat menyalip kendaraan lain dari sisi kiri, pengendara yang naik ke jalur trotoar pejalan kaki akibat terjebak macet, atau pengendara yang dengan cueknya berada pada jalur yang bukan peruntukkannya (arus lalu lintas dua arah).

Mungkin sebaiknya selain sosialisasi yang saya harapkan tadi, sebelum memberlakukan sebuah peraturan baru lalu lintas, dapat pula mempertmbangkan perilaku sosial pengendara saat ini. Jangan sampe apa yang sudah dimulai dengan anggaran biaya yang mahal, hanya ‘hangat-hangat tahi ayam’ dan kemudian menghilang (lagi)….

SAFETY RIDING : Efektifkah ?

1

Category : tentang Opini

Terhitung awal tahun ini, aparat Kepolisian Kota Denpasar, sedang gencar mengkampanyekan program mereka, ‘Safety Riding’. Tujuannya tentu untuk mengurangi angka kecelakaan yang semakin hari semakin tinggi grafiknya.
Program ini sebetulnya sudah pernah diterapkan tahun lalu di Kota Jakarta, dan tujuan utamanya memang tercapai, yaitu menekan angka kecelakaan.Tak jauh berbeda dengan kota Jakarta, di kota Denpasar pun kemacetan jadi momok utama. Selalu terjadi saat jam-jam sibuk, baik berangkat kantor, makan siang maupun pulang kerja.
Makin menjadi-jadi saat hari menjelang malam minggu, sepertinya tiga perempat penduduk kota pada kluar semua cari angin.

Namun kondisi yang sudah kacau saat terjadi kemacetan dititik-titik tertentu, diperparah lagi dengan perilaku para pengendara motor yang kalo boleh dirata2kan antara angka 1 sampe 10 sebagai nilai sempurna, ni pengendara bisa dikategorikan minus 5.
Sudah lima, yang tergolong angka merah, minus pula.
Wuih.

Rata-rata pengendara yang masuk kelompok ini berkisar pada anak-anak smp yang sudah sudah diperbolehkan secara sepihak oleh para ortu mereka untuk mengendarai sepeda motor kluaran mutakhir, walopun juga didukung secara tak tertulis oleh Poltabes, karena kok masih bisa ngluarin SIM, padahal belom 17 tahun ?
Teorinya sih TOP…

Ato juga para pengendara yang baru blajar mengendarai sepeda motor, namun lagak lagunya sudah mengerti dan fasih dengan peraturan lalu lintas yang ada. Nyalip dari sisi kiri, atopun mendahului kendaraan dari sisi kanan, padahal sudah jelas moncong kendaraan sudah berbelok, bahkan memasang lampu sein yang terang bisa dilihat jelas oleh pengendara dibelakangnya.

Bisa juga remaja tanggung yang sudah brani ngebut dijalan, tanpa memperhatikan efek mendadak dari orang yang didauluinya.
Namun yang paling parah tentu saja pengendara yang tak memakai helm, bergaya dan berlagak huebat, padahal itu bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Ini biasanya terjadi pada jalan-jalan lingkungan, pinggir kota, tapi ada juga yang nekat melakukannya ditengah kota.

Perilaku pengendara juga tak lepas dari kebiasaan memotong jalur kendaraan lain, melanggar rambu lalu lintas sampe menerobos lampu merah.
Ini sering terjadi diseputar kota Denpasar.
Namun jika sudah ada polisi yang nongkrong di jalan, baru deh para pengendara ini berlagak alim menuruti auran lalu lintas.
Seperti iklan rokok saja, ‘mau patuh jika diawasi’.

Aparat kepolisian tentu gak boleh menutup mata akan semua perilaku pengendara yang nyeleneh tadi. Karena bagaimanapun juga sekeras apapun program yang ingin diterapkan, namun jika dari segi perilaku person tak juga berubah, kan mubazir ?

Apa efektifnya jika menyalakan lampu di siang hari, dijalan satu arah (one way), yang tentunya pengendara dibelakang tetap saja zigzag dalam berkendara.
Mungkin jika digunakan pada jalan dua arah, bisa jadi.
Tentu kembali pada perubahan sikap dan perilaku para pengendara tadi, saat akan memulai perjalanan begitu kluar dari tempat tinggalnya.

Safety Riding yang dilontarkan tahun ini mungkin saja dapat berlaku efektif, jika saja pengendara mau merubah kebiasaannya tadi. Sebagai contoh, saat melintas di jalan Gatsu Barat, pada jalur dua arah, rata-rata pengendara memang sudah menerapkan nyala lampu disiang hari.
Namun ini dirusak oleh tingkah beberapa pengendara motor, yang ngebut dan zigzag dijalanan. Sambil mengklakson pengendara didepannya.
Apakah ini akan mampu berjalan efektif ?
Sebuah tanda tanya besar menggantung dilangit-langit kamar ini.

Makanya tak heran, saat jalanan macetpun ada seorang pengendara yang membonceng orang tua dibelakangnya, dan sempat zig zag searah dengan tempat tujuan yang ingin dicapai.
Terlihat jelas kalo orang ini gak peduli dengan pengendara lain, dan berusaha sampai lebih cepat.
Namun gerakan zig zag ini berubah menjadi hantaman keras sepeda motor ke sebuah mobil yang jelas-jelas berhenti karena macet.
Bagian belakang motor sampe naik dan membuat angle 45 derajat, dan akhirnya jatuh kearah kiri.
Yang kasihan tentulah si orang tua, dimana darah terlihat mengalir dipelipisnya.
Kasihan.
Trus, nasib si anak muda hebat ini ?
Gak ada yang peduli….

-Gatsu Barat, di jembatan sebelah barat jalan Buluh Indah dan pom spbu sebelah kiri jalan. Senin 5 Maret 2007 jam 11.45 siang.
Satu bukti bahwa kecelakaan yang terjadi dijalan dua arah pada lajur satu arahpun dapat terjadi kecelakaan, walopun mungkin sudah menerapkan program Safety Riding, dengan menyalakan lampu motor disiang hari.
Tak lepas pula dari kebiasaan dan perilaku dari masing-masing pengendara dijalan raya.
Mungkin ini bisa jadi program berikutnya dari aparat Kepolisian, jika memang bersungguh-sungguh dalam tujuannya menekan angka kecelakaan.
Semoga.