Catatan Pagi Ini, 24 Februari 2017

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari yang cerah…

Tapi aku lebih memilih untuk bangun agak siang dari biasanya.
Capek…

Selama empat hari terakhir, ditugaskan mendampingi BPK untuk turun ke lapangan memeriksa apakah paket kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan uang rakyat Badung anggaran tahun lalu, tergolong fiktif atau tidak.
Secara visual, tentu ini bisa dijawab. Namun belum mencapai persoalan kualitas atau lainnya.
Tinggal tunggu waktu.

Sekurangnya ada 18 paket yang diambil secara acak oleh Pak Agung Kusuma, anggota tim BPK Perwakilan Bali, dari enam kecamatan yang ada.
Sungguh melelahkan, tapi jauh lebih melelahkan jika melihat dari sudut pandang BPK. Kami hanya mengantarkan Beliaunya saja.

Ada beberapa catatan yang diinfo selama perjalanan kemarin. Dari kerusakan minor yang terpantau oleh mata hingga kemungkinan adanya teguran atas perencanaan lantaran satu dua objek dikerjakan masuk ke ranah pribadi. Satu hal yang sudah kerap diingatkan, namun rasanya belum ada perubahan.

Tapi syukur, semua itu telah dilewati dalam 3,5 tahun terakhir. Saat ini tugas yang diemban bisa dikatakan jauh dari fisik yang dulu penuh aroma politisasi.
Meski belum bisa dinikmati, namun setidaknya ada harapan bisa lebih tenang menjalani hari.

Jumat hari pendek.
Tapi tampaknya aku memilih untuk ngantor agak siang.
Dua hari kemarin, pemeriksaan tembus hingga jam 7 malam. Gegara jarak yang jauh dari kantor Puspem.
Nyampe rumah sudah nda sempat lagi untuk bercengkrama dengan anak dan istri. Langsung tepar, mandi dan boboin si bungsu. Sekalinya terbangun, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Sementara kualitas tidur selalu kurang lantaran Ara lebih sering terbangun di malam hari, menangis, menendang-nendang atau minta garuk punggung.
Anak nakal… tapi bikin gemas.

Meski sudah tiba di area Puspem sejak tadi, mobil kuparkirkan didekat kantor LPSE yang dikelilingi puing bangunan lama.
Aku ingin diam sejenak.

Jadi PNS yang (tidak) Baik

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Waktu pada dashboard mobil sudah menunjukkan pukul 8.33. Lewat satu jam dari biasanya.
Meskipun pengaturannya sudah disadari lebih cepat sekitar 20-30 menitan, tetap saja ini terlalu siang untuk bisa berangkat kantor bagi seorang PNS.
Rutinitas sebulan terakhir.

Saat tiba, Ruangan sudah mulai ramai dengan kehadiran rekan kerja. Baik sejawat maupun pelaksana dan konsultan. Padahal biasanya ruangan ini masih sepi tanpa ada seorangpun yang mendahului.

Siang dilalui dengan penat. Kantuk yang menyerang, seakan mengingatkan perjuangan semalam. Mengeloni dua bayi. Mutiara dan kakaknya, Intan. Ara tidur di kasur atas bersama Ibu, Intan di kasur bawah bersama Bapak. Sesekali Intan tersadar dari tidurnya untuk meminta kehadiran Ibu. Kelihatan sekali ia kangen pada Ibunya kini.

Pikiran mencoba konsen pada permintaan di pekatnya malam. Mana botol susu adiknya, mana milik kakaknya. Agar tidak sampai tertukar. Belum lagi menenangkan Intan agar tak lama tersadar dari tidurnya.
Capek namun menyenangkan.

Kesibukan kerja sedikit melupakan semuanya. Banyaknya permintaan seakan menenggelamkan rasa penat yang ada. Hingga sore tiba dan badanpun meluncur pulang.

Namun jika tak mampu dan dikalahkan, terpaksa juga mendahului atau memilih tertidur di jok depan mobil untuk beberapa menit.

Rasanya memang sudah gak layak lagi menyandang nama ‘Baik’ kini…

Rutinitas Pagi seorang Abdi Negeri

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Alarm pertama terdengar berirama, cukup mengingatkanku pada waktu yang telah menunjukkan pukul 4.45 pagi. Tak Peduli… dan kulanjutkan tidurku kembali.

Alarm kedua menghentak. Menyadarkanku bahwa kini jarum telah bergerak menunjuk waktu pukul 5 pagi. Aku harus bangun, merapihkan tempat tidur dorongku, dan bersiap untuk mandi. Waktu akan bergerak dengan cepat jika aku membuangnya dengan berpindah tidur. Demi hal itu, aku pun akan menyeduh setengah gelas kopi dan menyeruputnya sedikit untuk menumbuhkan semangat. dan aku siap melakukannya.

Alarm ketiga berbunyi lagi. Waktu pun sudah beranjak lima belas menit lamanya. Aku pun mulai beraktifitas dan minimal lima belas menit kedua, sudah siap mengambil rutinitas pagi sebagaimana biasa.

Kusapa malaikatku yang cantik dan menciumnya, serta mengingatkannya untuk bangun pagi dan merapihkan tempat tidur sambil memintanya untuk menjaga sang adik sembari bersiap memulai hari,

Kukenakan selendang dan menghaturkan banten pagi di kemara dan ari ari kedua putriku. Sambil memohon keselamatan bagi mereka dan kami semua, kupanjatkan pula doa bagi kedua saudaraku dan keluarganya dimanapun mereka berada.

Sembari menanti bidadariku bersiap untuk mandi, tak lupa kusiapkan pula semua untuk prosesi yang sama bagi kedua cantik kecilku. Lalu menghampiri dan menggendong mereka berdua dengan senyum, tawa dan canda. Terkadang si kecil masih agak malas untuk mengiyakanku. Jadi butuh sedikit rayuan extra demi meluluhkan hatinya.

Waktu tak terasa menunjukkan pukul 6.15… saatnya memanaskan semua kendaraan, membersihkannya dan sembahyang pagi. Jika sudah, sarapan pagi pun menanti. Walau sedikit, tapi sangat mengenyangkan perut. Si merahpun siap untuk ditunggangi.

Jarum panjang mulai mendekati angka sembilan, akupun mulai mengemas pakaian, sepatu, jaket dan helm. Untuk mengantarkan si murid SD hadir di sekolahnya dengan senyum yang mengembang. dan saat tiba dirumah, semua rutinitaspun kembali dilakoni.

Berulang dan berulang.

Setiap hari tanpa henti.

Rutinitas pagi seorang abdi negeri.