Pengalaman Pertama menjalani Pemeriksaan Diabetic Centre

Category : tentang KHayaLan

Berbekal informasi awal tentang tata cara pengambilan nomor antrean BPJS di RS Sanglah dari kakak ipar yang bertugas disitu, sekitar pukul 6.15 pagi tadi, kamis 22 Februari, saya sudah tiba di pelataran Poli dan menaruh berkas pada tumpukan daftar tunggu manula.
Meski awalnya agak pesimis bisa segera mendapatkan nomor antrean, berhubung diwajibkan puasa dari jam 9 kemarin malam, tapi ternyata ketiadaan kartu RS Sanglah lantaran seingat saya belum pernah berhubungan atas nama pribadi, memberikan peluang Nomor Antrean 1 bagi Pasien Baru.
Maka setelah melewati proses input Administrasi di Loket 1 pun, sekitar pk.7.30 pagi saya sudah menunggu kedatangan dokter untuk panggilan cek lab. Masih cukup waktu untuk menumpahkan isi hati melalui Evernote.

Sekitar pk.7.45 pasien pertama antrean Pusat Diabetes inipun mulai dipanggil. Saya mendapat giliran yang keempat.
Berdasarkan info dari Petugas, saya harus meluncur ke Bagian Laboratorium disebelahnya PMI yang rupanya sudah penuh antrean pasien dari berbagai belahan poliklinik. Disini saya mendapatkan nomor Antrean A80 sementara yang dipanggil baru sekitaran A20an. Masih cukup lama.
Jadi antre agak lama berhubung proses pengambilan darah hanya cukup sekali saja, yang diarahkan ke ruangan besar, sementara ruangan kecil dimana antreannya sedikit diperuntukkan bagi pasien dengan dua kali pengambilan darah.
Baiklah.

1,5 Jam berlalu. Akhirnya Antrean nomor A80 pun dipanggil ke Konter 1.
Kirain bisa langsung ambil darah, ternyata dapat Antrean lagi nomor C123. Sementara yang dipanggil baru nomor 40an. What the… ?

Pantes saja ada Ibu-ibu tua yang barusan duduk didepan saya, sempat komplain dengan keluarganya, kok bisa setelah pemanggilan nomor A6 malah nunggu lagi jadi C26 ?
Adeeehhh…
Pantesan saja ruangan ini penuh sesak dari pagi. Rupanya prosesnya dobel toh ?
Yang dapat urutan Nomor 1 Pasien Baru saja musti nunggu edan begini sampe jam 9.15 belum juga ambil darah, apalagi yang Antrean belakangan ya ?
Pantesan juga kalo di Poli tadi sejak jam 6 pagi infonya sudah mulai berdatangan antre ambil nomor. Memeh…

Kira-kira sampai jam berapa ya selesai proses Cek Lab kali ini ?

Mengurus Diri Sendiri dengan BPJS di RS Sanglah

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Jika saja boleh memilih dari awal, lebih baik mengambil jalan menjadi pasien Umum ketimbang BPJS. Memang opsinya ya membayar, namun secara layanan biasanya minim antre yang tidak jelas macam ini.
Kamis pagi 22 Februari, tiba di pelataran Poli RS Sanglah sekitar pk.06.15 wita. Dengan pemandangan antrean berkas yang sudah lumayan menumpuk. Tanpa ada petugas atau masyarakat lain yang menjelaskan, sayapun menaruh berkas pada tumpukan sebelah kiri berhubung orang yang datang lebih dulu meletakkannya disitu. Berselang setengah jam baru tahu kalau tumpukan sebelah kiri adalah daftar antrean untuk Manula dengan usia 60 tahun keatas.
Adeeeh… sudah kepalang tanggung, ya dibiarkan saja deh. Resiko belakangan.

Sekitar pukul 6.55, pelataran Poli sudah mulai dipenuhi pasien dan keluarganya. Sayapun mengambil tempat duduk di tangga depan loket, sembari berharap loket bisa cepat dibuka. Lantaran perut sudah lapar berhubung wajib puasa sedari pk.21.00 kemarin malamnya, kaitan dengan agenda Cek Lab pagi ini.

Entah mengapa saya jua tak berhasil mendaftarkan diri secara Online di halaman web miliknya RS Sanglah dari hari Senin kemarin. Entah apakah karena saya adalah pasien rujukan dari RS lainnya sehingga Nomor Rekam Medis belum terdaftar dalam database milik Sanglah.
Pertanyaannya, apakah saya perlu mengambil Nomor Antrean sementara agenda yang dijalani hanya sebatas Cek Lab ?
Kalau rujukannya langsung ke bagian Lab atau UGD mungkin tidak perlu. Namun dibaca dari petunjuk pada Rujukan yang ada dan mengarah ke Poli Interna, sesuai informasi yang didapatkan dari petugas RS Sanglah sebelumnya, saya tetap wajib mengambil Nomor Antrean dan mendaftarkan diri dari Loket 1.
Yang artinya ya harus menunggu loket Pengambilan Nomor dibuka dulu. Sayangnya hingga jam menunjukkan pk 7.05 belum ada tanda tanda apapun disini. Sementara pemanggilan Nomor Antrean yang didaftarkan secara Online, sudah mulai dipanggil tepat pk.7.00.

Agenda Cek Lab yang dirujuk ke RS Sanglah ini merupakan bagian dari jadwal pemeriksaan kesehatan yang saya lakukan sejak sebulan lalu. Untuk Kadar Gula Darah puasa dan 2 jam setelah makan, Kolesterol dan Asam Urat, sudah usai saya jabani minggu lalu. Sementara agenda kali ini menyasar Tiroid dan Kadar Gula Darah tiga bulanan. Atas dasar gemetaran pada tangan setiap kali memegang piring atau cangkir, maka dokter Internis yang bertugas pada faskes satu pun merujuk ke Poli Interna RS Sanglah.

Menunggui Bapak

Category : tentang KeseHaRian

Bapak kecelakaan, pulang kerja jangan kemana-mana, antar periksa ke RS. Begitu Ibu berpesan lewat telepon sekitar pukul 10 pagi tadi.

Kaget tentu saja.

Bapak yang kini telah berusia 73 tahun sudah sejak awal Mirah sekolah, menawarkan diri untuk mengantar jemput mengingat aktifitasnya yang tak lagi banyak. Terkait itu, kami sepakat mengganti Vespa kesayangannya dengan Honda Scoopy dari tahun 2012 lalu. Agar Bapak bisa lebih mudah mengendarai tanpa perlu menarik kopling segala.

Bapak kecelakaan tadi pagi. Sekitar pukul 10. Saat itu ia sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya Mirah. Melindas pasir yang ada di pinggir jalan depan Bale Banjar Tainsiat, Bapak terjatuh dari motor ke arah kanan. Meski lecet pada lutut dan sekitar mata kaki, Bapak tak banyak mengalami luka. Bisa jadi lantaran ini kecelakaan tunggal dengan kecepatan yang pelan pula. Hanya kasihan, pipi dan area sekitar mata agak lebam. Mungkin terbentur helm yang menjaga wajahnya dari permukaan aspal.

Bangkit dari jatuhnya, Bapak masih mampu menjemput Mirah dan membawanya pulang. Setelah membersihkan luka dan mengobatinya, Ibu pun menghubungi lewat telepon.

Bapak diantar ke RS Bhakti Rahayu oleh bliMan Anom, sepupu sekaligus kakak ipar kami, suami dari almarhum kakak yang saat dihubungi baru saja menjemput anak semata wayangnya dari sekolahan.
Dari pemeriksaan, Bapak di-Rontgen dan dinyatakan tidak apa-apa. Hanya ada darah yang masih menetes dari hidung yang ditenggarai dari pecahnya pembuluh darah di area sekitar bawah mata kanan.
Jika nanti masih menetes, Bapak disarankan ke UGD Sanglah sebagai tindak lanjut rujukan.

Pukul 6 sore, kami tiba di Sanglah. Keputusan ini diambil pasca darah yang menetes dari hidung ternyata masih dialami sekitar pukul 2 dan 4 tadi. Tidak ingin berakibat fatal, Bapak kami ajak ke UGD Sanglah dengan memanfaatkan Jaminan Kesehatan BPJS yang ia miliki. Bapak harus diObservasi selama 2 jam kedepan.
Ada sedikitnya tiga dokter yang saya tahu berusaha menanyai Bapak tanpa memperbolehkan saya untuk membantu menjawab. Untuk pengujian kesadaran dan syaraf Bapak katanya. Masuk akal juga.

Sekitar pukul 8 lebih, Observasi selesai. Tampaknya memang tak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi dari kondisi Bapak. Hanya bengkak pada mata kanannya saja yang makin terlihat. Pula pipi kanan seakan menyimpan permen didalamnya.

Ada rasa kasihan pada Bapak. Ada juga rasa bersalah setelah semua ini.

Jangan sepelekan Gigitan AnJing

6

Category : tentang Opini

Hanya ada satu kata… Miris.

Membaca berita tewasnya anak 12 tahun lantaran menujukkan tanda-tanda rabies beberapa jam sebelum mendapat perawatan dan pada akhirnya tidak tertolong, I Made Putra demikian kalau tidak salah nama si anak menambah panjang daftar kematian akibat gigitan anjing. Padahal beberapa hari kemarin, seorang bocah balita juga dikabarkan mengalami hal yang sama. Bahkan si bocah sempat menggigit tangan sang paman, ayah serta ibunya.

Hanya karena berpikiran bahwa luka gigitan yang tak seberapa pihak keluarga lantas memutuskan untuk tidak memberikan suntikan VAR (Vaksin Anti Rabies) setelah vaksin tersebut dinyatakan habis baik di puskesmas maupun rumah sakit terdekat. Padahal tidak demikian adanya.

Selain harus dibersihkan dengan air yang mengalir, si korban gigitan anjing MUTLAK mendapatkan suntikan VAR, walaupun nantinya si anjing penggigit dinyataan tidak terindikasi rabies. Bukankah lebih baik berjaga-jaga akan segala kemungkinan ketimbang menyesal di kemudian hari ?

Sayapun sempat merasakan kekhawatiran yang sama saat Bapak digigit anjing Juni lalu. Namun bersyukur pihak rumah sakit Sanglah masih berkenan menerima kami dan memberikan 3 (tiga) kali suntikan VAR dalam rentang waktu tertentu.

Jangan sepelekan gigitan anjing. Apabila kelak mengalaminya, jangan pernah menyerah untuk mendapatkan suntikan VAR. Dua suntikan di lengan kanan dan kiri saat vaksin pertama, dan masing-masing satu kali suntikan saat vaksin kedua dan ketiga. Adapun pengalaman saya dapat dibaca pada tulisan Pengalaman (mengantar) Suntik VAR pasca gigitan AnJing.

Kalaupun nanti dinyatakan habis stok baik di puskesmas ataupun rumah sakit terdekat, lakukan pencarian di kabupaten lain bahkan jika perlu meluncur ke Kota Denpasar untuk mendapatkannya. Seperti yang dilakukan oleh beberapa ‘teman senasib’ saat saya mengantarkan Bapak vaksin di rumah sakit Sanglah beberapa waktu lalu.

Jikapun dirumah memiliki anjing peliharaan, segera vaksinasikan anjing tersebut secara terjadwal. Jangan tunggu sampai ada korban tergigit lagi.

Pengalaman (mengantar) Suntik VAR pasca Gigitan Anjing

7

Category : tentang KeseHaRian

Selasa 15 Juni 2010 pukul 6 pagi, MiRah baru saja terbangun dari tidur dan seperti biasa meminta untuk diputarkan video ‘Mejangeran’. Belum usai saya memenuhi permintaannya, Bapak terlihat tergopoh-gopoh membuka pintu rumah sambil berkata ‘Pak digigit Anjing, ayo antarkan ke RS Sanglah sekarang…’

Panik ? jelas. Bagaimana tidak, rasanya baru kemarin kami membicarakan tingginya angka gigitan anjing dimana satu dua diantaranya tidak ditangani dengan baik dan pada akhirnya berujung pada kematian. Beberapa hal yang ikut melengkapi adalah ketiadaan VAR (Vaksin Anti Rabies) di beberapa Puskesmas bahkan Rumah Sakit daerah maupun keteledoran (pengetahuan) tenaga medis yang tidak tanggap dengan kondisi pasien. Saya katakan demikian karena ada beberapa kasus yang terungkap di media mengatakan bahwa sudah jelas si pasien digigit anjing beberapa hari sebelumnya namun panas badan yang menyerang pasien malah di diagnosa penyakit lain. Ironis.

Kami bergegas menuju RS Sanglah dengan harapan agar Bapak bisa segera disuntik VAR. Setelah mendaftar, kami diarahkan ke bagian Bedah di UGD/IRD dan Bapak disuntik 2 (dua) kali di lengan kanan dan kiri. Mungkin lantaran hari masih pagi, tidak banyak masalah yang kami temui saat itu. Kecuali Parkir kendaraan barangkali.

Selasa 22 Juni 2010, seminggu pasca digigit anjing, kami kembali menuju RS Sanglah untuk mendapatkan suntikan VAR yang kedua. Sesuai Surat Rujukan, kami menuju bagian Poli yang kemudian disarankan untuk mendaftar pada loket Pasien Rawat Jalan yang berada tak jauh dari situ. Setelah mendaftar kami diarahkan ke sal Ratna dimana kabarnya menjadi Pos Pengobatan bagi pasien gigitan binatang. VAR kami dapatkan dari Apotik yang berada disebelah konter Dunkin Donut’s area parkir. Bapak disuntik satu kali dan selesai. Satu-satunya masalah sekaligus aktifitas yang menghabiskan banyak waktu adalah mencari lahan parkir kendaraan roda empat yang pada akhirnya baru kami dapatkan di ruas jalan depan Fakultas Sastra Udayana.

Selasa 6 Juli 2010, tiga minggu pasca gigitan anjing, kami kembali lagi untuk mendapatkan suntikan VAR yang ketiga. Kali ini dengan harapan mendapatkan parkir kendaraan roda empat, kami datang lebih pagi dari sebelumnya. Sayang, keterbatasan tempat yang ada (parkir utama, utara UGD dan didepan kantin) rupanya harus mengecewakan sekian banyak pengendara yang berkepentingan di RS Sanglah. Saya sendiri pada akhirnya menurunkan Bapak di depan UGD/IRD dan baru mendapatkan parkir didepan lahan eks. Alfa Diponegoro. Beuh…

Setelah berjalan kaki menuju Poli dan mendaftar, agak shock juga ketika kami memasuki lorong menuju Sal Ratna. Banyak orang terlihat mengantre didepan pintu masuk dengan wajah yang tak sabar. Rupanya kali ini sebelum mengambil resep VAR, setiap pasien diwajibkan mengisi daftar tertulis (sebelumnya dilakukan saat pengambilan VAR di apotik) terkait biodata dan riwayat gigitan. Untuk masuk ke ruangan periksa pun dipanggil satu persatu. Banyaknya pasien gigitan anjing (dan kucing) rupanya merupakan akibat dari kosongnya VAR di beberapa Puskesmas setempat dan Rumah Sakit daerah seperti RS Kapal misalnya. Antrean ini saya alami pula saat mengambil VAR di apotik dan saat kembali melewati loket pendaftaran Pasien Rawat Jalan.

Satu kali suntikan VAR harus ditebus dengan biaya 32.000 rupiah dengan akses pasien melalu jalur umum tanpa menggunakan askes. Biaya ini bagi saya pribadi termasuk murah mengingat label harga yang tertera pada kemasan obat adalah lebih dari seratusan ribu. Artinya untuk masyarakat umum yang tanpa melalui askes pun kami sudah bersyukur mendapatkan subsidi dari Pemerintah. Sedangkan bagi mereka yang menggunakan askes, kalau tidak salah baca dari edaran yang ditempelkan disebelah loket pendaftaran Pasien Rawat Jalan, baik yang menggunakan askes wajib, swasta maupun JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara), pasien tidak dipungut biaya alias VAR digratiskan.

Atas berbagai kemudahan yang saya dapatkan selama proses suntik VAR, sebagai pengantar pasien (dalam hal ini orang tua sendiri) hingga kali ketiga, saya sempatkan beberapa menit sebelum pulang untuk memberikan petunjuk kepada mereka yang marah-marah dan terlihat tidak sabar saat menunggu antrean dan kebingungan dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Yah, semoga saja semua bisa berjalan dengan baik.

Belajar Bersyukur akan cobaan-Nya

7

Category : tentang Buah Hati, tentang Opini

Ada dua pelajaran yang patut kami syukuri ketika mendapatkan cobaan yang mengharuskan MiRah GayatriDewi putri kecil kami dirawat di Rumah Sakit Sanglah tempo hari. Pertama bahwa cobaan yang Beliau berikan pastinya mampu kami pikul seberat apapun itu. Hal ini kami sadari ketika berada dalam sebuah atmosfer lingkungan yang dipenuhi pasien seusia MiRah namun mengalami cobaan yang jauh lebih berat. Hal yang Kedua adalah bahwa ketika kami mendapatkan cobaan ini, teman dan keluarga takkan pernah berhenti memberikan semangat dan uluran tangan. Kedua hal diatas makin menguatkan keyakinan kami selama ini. Bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan atau ujian melebihi dari kemampuan hamba-Nya.

Hari pertama, beberapa saat sebelum MiRah disuntikkan jarum infus, seseorang yang tadinya masih dirawat di pojokan ruang IRD sudah mulai dibungkus kafan sekujur tubuhnya. Terlihat betapa terpukulnya wajah kerabat yang ditinggalkan. Kami bersyukur bahwa harapan kami agar MiRah segera mendapatkan pertolongan pertama sudah dikabulkan. Demikian pula saat kami dinyatakan positif mendapatkan kamar perawatan meski harus berbagi dengan pasien lain, lagi-lagi syukur kami panjatkan mengingat masih banyak pasien lain yang terlihat dirawat di sepanjang lorong yang kami lewati.

Hari kedua ketika MiRah sudah mulai menunjukkan senyum manisnya saat digoda teman sekamarnya, mata kami mulai dibukakan pada lingkungan sekitar. Pada seorang anak kecil yang cedera mata namun masih bisa bermain sesukanya. Pada seorang anak yang dililit selang infus pada bagian kepalanya namun masih bisa tertawa. Ah, kendati MiRah sakit, agaknya cobaan ini belum seberapa dibanding mereka.

Hari ketiga ketika MiRah sudah mulai menunjukkan tabiat aslinya saat difoto dengan kamera digital, penuh pose gaya centil, hati kami kembali diingatkan pada seorang anak yang dikabarkan dalam kondisi koma pasca operasi mata. Malam hari saat saya menjenguk MiRah kembali, sang anak dinyatakan telah tiada dan sang orang tua tentu saja histeris mengamuk.

Hari keempat ketika MiRah sudah dinyatakan diperbolehkan pulang, puji syukur kami panjatkan selama proses penyelesaian administrasi, berapapun biayanya akan kami bayarkan dan berapapun lamanya akan kami tunggu dengan sabar. Mengingat disebelah ruang perawatan yang kami ambil, ada pasien lain yang sejak tanggal 15 Juni lalu masih belum diperbolehkan meninggalkan Rumah Sakit. Demikian halnya ketika akhirnya kami mengetahui siapa dan untuk alasan apa teman sekamar MiRah dirawat.

Kami yakin yang namanya Cobaan dari-Nya akan tetap ada sampai kapanpun. Berharap kami bisa melewatinya dengan baik.

Bersama MiRah Kembali ke RS Sanglah

6

Category : tentang Buah Hati

Beberapa persiapan untuk tangkil ke Pura Penataran Pande Tamblingan sudah kami usahakan sedari hari kamis lalu, yang belum tinggal membeli buah dan camilan. MiRah GayatriDewi kami ajak ikut serta berbelanja ke Tiara Grosir hari jumat siang sepulang kerja. Tak nampak banyak perubahan saat itu. MiRah hanya mengeluhkan perutnya yang sakit namun tetap riang dan meminta saya (seperti biasa) menaikkannya ke kereta dorong barang belanjaan. Kami berkeliling mencari camilan, sementara ibunya sibuk di counter buah. MiRah bahkan sempat menaiki mainan Anjing yang berkeliling areal food court dan sudah berani tanpa perlu dipegang ibunya lagi. Kami pulang kerumah sambil menikmati satu cup es krim Campina yang dibagi bertiga.

MiRah muntah, beberapa saat kami tiba dirumah. Kami masih menganggapnya biasa lantaran memang cuaca yang kurang bersahabat tiga hari terakhir. Baru mulai khawatir ketika muntahnya mencapai kali ketiga, kira-kira pukul lima sore, Neneknya mulai mempertanyakan soal makanan yang dikonsumsi selama perjalanan tadi. Kami segera menghubungi dokter Widia, dokter anak yang kami percayai selama ini. Kami diminta datang pukul enam.

Setelah mendapatkan dua buah obat minum, satunya untuk mencegah mual dan lainnya antibiotik, kami meluncur pulang. Ada rasa khawatir disepanjang perjalanan karena MiRah punya history muntah seperti ini saat usianya beranjak bulan keenam. ketika kendaraan masuk ke ruas jalan Nangka, MiRah kembali muntah dalam jumlah banyak. Kami panik dan memutuskan untuk meminggirkan kendaraan. Jujur, ini pertama kalinya saya memaki orang dijalan lantaran mereka membunyikan klakson ketika kami membelokkan laju kendaraan secara mendadak.

Malamnya, kami berusaha untuk memberikan obat minum pada Mirah secara bertahap. Sesuai saran dokter anak, kami berusaha untuk tidak memaksakan MiRah meminum obat tersebut agar tidak memicu mual dan keinginan untuk muntah. Sayang, usaha kami tetap saja percuma.

MiRah muntah untuk kali yang kesebelas pada pukul empat pagi. Tubuhnya mulai terlihat lemas dan ia tak banyak bicara. Kami memutuskan untuk segera membawanya ke IRD Sanglah dan berharap mendapatkan pertolongan pertama. Banyak kekhawatiran yang ada pada kepala ketika itu. Dua yang terbesar adalah kamar perawatan yang penuh lantaran musim penyakit Demam Berdarah dan juga jarum infus. Kekhawatiran kami benar adanya. MiRah akhirnya untuk sementara ditempatkan di lorong IRD sambil menunggu kepastian adanya pasien yang keluar dari kamar perawatan. Jarum infus yang disuntikkan pada tangan kiri MiRah, tak kuasa menahan air mata kami menyaksikan tangisan MiRah yang seakan mengiba pada kami. Bisa jadi ini kali pertama MiRah yakin bahwa Bapaknya berbohong, mengatakan tidak apa-apa padanya ketika infus itu dibebatkan pada tangannya.

Atas bantuan Mertua dan famili dari keluarga Istri, pukul sebelas siang kami positif mendapatkan kamar perawatan Kelas I, yang artinya kami harus berbagi kamar dengan pasien lainnya. Tak apa, sepanjang tidak berada di lorong saja.

Beribu asa dan doa kami panjatkan untuk MiRah putri kecil kami, begitu pula semangat yang diberikan oleh puluhan teman di jejaring sosial pertemanan FaceBook, berusaha untuk menguatkan segala daya upaya yang harus kami lakukan. Keinginan untuk tangkil ke Pura Penataran Pande Tamblingan pula odalan di kawasan Mangupura, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung harus dikorbankan saat itu juga.

Kami pun kembali menapaki selasar rumah sakit Sanglah…

Antara Rehat, Liburan dan Persiapan ; Nol Besar

3

Category : tentang DiRi SenDiri

Mengambil keputusan untuk Rehat nge-BLoG awal bulan ini, ternyata bersamaan dengan umat Muslim yang merayakan Hari Kemenangannya. Secara kebetulan pula, kebijakan Pemerintah untuk mengambil cuti bersama bagi para pengabdi negeri ini, memberikan waktu luang selama seminggu penuh, seakan mendukung keputusan Rehat untuk beneran istirahat dan konsen pada Persiapan Thesis.

Apa daya, libur semingguan tak lantas mampu mewujudkan Thesis yang diharapkan lantaran dirawatnya putri kami beberapa waktu lalu di RS Sanglah, lumayan membebani pikiran yang sudah dipenuhi oleh desakan untuk menyelesaikan kuliah secepatnya.

Pulangnya putri kami pada hari Minggu sebagai awal dari liburan kemarin, hanya berselang satu hari saja, Putri kami mengalami Diare atau bahasa rakyatnya ya Mencret. Padahal selama perawatan di RS Sanglah, pemeriksaan pada feses (kotoran) tidak ditemukan kejanggalan alias normal. Begitu pula saat dicurigai Muntah dan panas badan putri kami karena kondisi THTnya, eh normal juga. So, untuk sementara penyebabnya ditenggarai disebabkan oleh Virus. Ini karena dilingkungan rumah, ada 2 keponakan yang mengalami hal yang sama, hanya saja muntahnya tak sebanyak putri kami.

Belum selesai disibukkan oleh diare putri kami, kabar dukapun datang. Nenek yang ditinggal dirumah sebelah meninggal dunia. Beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dirumah duka setelah selama seminggu penuh mengisi ruangan pasien di RS Puri Raharja, bersamaan dengan putri kami. Nenek ini adalah saudara kandung Kakek saya yang dari Ibu. Tidak menikah hingga umurnya saat meninggal diperkirakan sekitar 85an tahun.

Hari-hari liburanpun disita jauh lebih banyak karena kami sekeluarga harus mengatur waktu bergantian, agar menyempatkan diri hadir disetiap prosesi upacara, sambil merawat dan menjaga putri kami. Rencananya hari ini (Selasa) akan dilakukan upacara Pengabenan ke setra Bungkeneng jalan Ratna. Berharap tak akan ada kasus adat pelarangan menggunakan Setra seperti berita kemaren. Ugh, hari gini gumi Bali masih saja disibukkan oleh kasus-kasus adat antar saudara sendiri.

Seakan cobaan yang belum usai, Ibu kemaren malam terjatuh di kamar mandi, saat ingin mandi sepulang dari rumah duka. Terpeleset sendiri sedikit tergesa lantaran sudah kangen ingin ngemong putri kami, setelah seharian penuh berada dirumah duka. Syukur Beliau tak mengalami cidera berat, hanya bokongnya yang terasa nyut-nyutan, langsung aja dipanggilkan Pak Reti, orang yang kerap dicari untuk memijat.

Hmm… rasa-rasanya Otonan (penulis) yang dilakukan hari Minggu kemaren gak ada kesannya sama sekali, hanya sekedar lewat karena beruntunnya cobaan yang datang. Berharap upacara Otonan pertama bagi Putri kami hari Selasa depan 14 Oktober 2008 (bersamaan dengan hari ULTah Ibunya), tak ada lagi beban, sehingga kami dapat lebih konsentrasi pada jalannya upacara.

Liburan oh liburan. Hingga hari terakhirpun tak sempat dinikmati dengan penuh suka cita dan lebih bersantai. Apalagi untuk mempersiapkan Thesis seperti yang diharapkan. Nasib… Nasib…

RS SangLah sebuah cerita tentang keNyamanan

4

Category : tentang Buah Hati

Pindahnya ruang Rawat Inap putri kami Mirah Gayatridewi ke sal Anggrek, rupanya patut kami syukuri sebagai sebuah cerita keNyamanan yang lantas mengecilkan semua kekecewaan kami saat menjalani hari di sal Pudak sebelumnya.

Pelayanan yang ramah dari para perawat sejak kami sampai, mengingatkan penulis pada terkesannya kami saat Istri dirawat bulan ApRiL kemaren karena menderita Demam Berdarah.

Kunjungan para perawat saat berganti tugas jaga keruangan masing-masing pasien untuk mengenalkan satu-persatu petugas perawat, sekaligus menanyakan kesehatan pasien plus kesan pelayanan baik kebersihan ruangan, pula kualitas makanan yang disajikan, benar-benar kontras dengan yang kami alami sebelumnya di sal Pudak.

Penulis sampai sungkan sendiri saat ingin meminta tolong saat cairan infus tak menetes, khawatir mendapatkan bentakan lagi dari para perawat. Sebaliknya salah seorang perawat dengan ramah malahan menawarkan memperbaiki posisi jarum (yang artinya tangan putri kami ditusuk sekali lagi), dan memberikan jaminan pada kualitas pelayanan yang ia berikan pada putri kami. Itu terbukti. Walopun seagresif apapun tangan putri kami bergerak, dari Jumat malam hingga Minggu siang saat putri kami diijinkan pulang, jarum infus tak bergeser sedikitpun.

Keramahan terjadi berulang kali, apalagi saat mereka menyapa putri kecil kami dengan godaan agar tak menangis saat dikunjungi, jauh berbeda dengan ketidakpedulian perawat di sal Pudak sebelumnya. Menjadikan kami saat menunggui putri kami, serasa berada dirumah sendiri.

Mereka (para perawat) mempersilahkan kami meminta tolong ataupun mengambil sendiri air sesuai yang diperlukan, terutama berkaitan dengan air hangat untuk mandi si pasien (tinggal ambil dari kran yang telah dilengkapi Water Heater) juga air hangat untuk diminum (harus dimasak dahulu didapur).

Sama seperti kesan yang penulis alami saat menunggui Istri dirawat selama 9 hari di RS Sanglah waktu lalu, tiga hari dua malam yang kami jalani kali ini pun tak terasa panjangnya. Rasanya seperti baru kemaren putri kami dirawat disini.

Sungguh. Inilah cerita keNyamanan yang kami harapkan sebelumnya. Membuat kami selaku para pelanggan jasa Rumah Sakit, terpuaskan atas pelayanan cinta kasih yang diberikan, serta mengecilkan rasa tak puas kekecewaan kami sebelumnya.

Ohya, perihal penolakan Askes di sal Pudak sebelumnya, rupanya menjadi satu permasalahan saat penulis melakukan pembayaran sebelum putri kami diijinkan pulang hari Minggu siang. Bahwa dalam waktu 1×24 jam, Askes tersebut harus diurus untuk mendapatkan Jaminan pembayaran. Apa yang membuat penulis makin terkesan pada pelayanan para Perawat di sal Anggrek ?

Mereka (para perawat) meminta status penangguhan atas biaya yang penulis keluarkan selama perawatan putri kami, berhubung Loket Jaminan Askes tutup pada hari Minggu, dan memberikan penawaran bahwa besok Senin, penulis diminta kembali ke RS Sanglah untuk mendapatkan Surat Pengantar mengurus Jaminan Askes, sehingga biaya sebesar Rp. 1.390.000,00 yang penulis bayarkan lewat jalur Umum (bukan Askes), bisa dikembalikan sedikit sesuai jumlah tanggungan Jaminan Askes.

Well, dengan segala kesan yang penulis dapatkan hingga kepulangan putri kami kerumah, penulis merasakan betapa pelayanan yang mereka berikan ini sangat menyentuh hati, hingga penulis memutuskan, apabila esok senin pagi Askes tersebut tak bisa diurus karena penolakan perawat di sal Pudak hari Jumat lalu, maka biarkanlah itu seperti apa adanya.

Pelayanan yang jauh lebih memuaskan untuk memberikan satu kesehatan bagi putri kecil kami, seakan menghancurkan arti nilai uang yang penulis bayarkan selama perawatan…

Terima Kasih untuk Para Perawat di sal Anggrek RS Sanglah, yang begitu mencurahkan perhatian dan cinta kasihnya demi sebuah cerita keNyamanan bagi pasien dan keluarganya.

Pulang jua akhirnya ke Rumah…

RS SangLah sebuah cerita tentang keTidakNyamanan

16

Category : tentang Buah Hati, tentang Opini

Pelayanan adalah mutlak bagi mereka yang menyediakan jasa bagi pelanggannya. Dengan memberikan pelayanan yang terbaik pulalah, pelanggan diyakini bakalan makin terpuaskan dan kedepan memilih untuk datang lagi.

Apa daya, nama besar RS SangLah tak membuatnya mampu memberikan pelayanannya yang terbaik bagi para pelanggan mereka, dalam hal ini kami selaku keluarga Pasien.

Kekecewaan kami akan pelayanan yang kami dapatkan hari Jumat lalu seakan mengamini image sebuah Rumah Sakit yang kabarnya sudah berstandar Internasional, namun tetap saja banyak masyarakat yang mengeluh saat membutuhkan perhatian jasa kesehatan. Mungkin itu pula sebabnya, masyarakat lebih memilih Rumah Sakit lain sebagai prioritas utama ketimbang RS SangLah, seperti Prima Medika misalnya.

Pelayanan dalam arti luas, bisa meliputi kelengkapan sarana prasarana dalam menjalankan jasa mereka dan itu sudah terpenuhi di RS SangLah. Ini terlihat saat Rumah Sakit lain tak mampu menangani pasien mereka, maka dirujuklah si pasien menuju RS SangLah, sebagai tumpuan terakhir harapan si Pasien.

Lantas, mengapa ada saja masyarakat yang jauh lebih loyal mengacu pada Rumah Sakit lain ketimbang datang berobat ke RS SangLah ?

Keramahan Pelayanan, mungkin bisa dijadikan jawaban nomor satu dari hal lainnya. Walaupun penulis menyadari benar, kesan Keramahan sudah mulai ditunjukkan sejak awal pasien sampai di RS SangLah, dalam kondisi gawat sekalipun, terwujud dari perilaku dan sapaan paramedis pula bagian administrasinya. Tetap saja keramahan tak mampu ditunjukkan secara penuh dibagian lain.

Pengalaman saat putri kecil kami Mirah Gayatridewi, diputuskan untuk menjalani Rawat Inap di RS Sanglah hari kamis malam lalu, mulai memberi kesan sedikit kejanggalan. Kamar untuk Rawat Inap pada kelas tertentu, dinyatakan penuh. Kelas I (satu ruangan untuk dua orang pasien), VIP C dan VIP A (satu ruangan untuk satu pasien), dikatakan menjadi favorit para pasien, sehingga tak satupun yang bisa dipesan untuk putri kami.

Malah diarahkan untuk memesan kelas Mahottama I dan II (yang kalau tidak salah baca tarif perharinya kisaran 500rb hingga 800rb), ah duit darimana pula yang bisa kami dapatkan untuk itu ? akhirnya diambillah Kelas II (satu ruangan untuk tiga Pasien), yang dalam kenyataannya, kami malah menemati Kelas III (satu ruangan untuk empat pasien).

Bersyukur kamar yang kami dapatkan untuk putri kami belum terisi, maka jadilah tiga bed yang tersisa bisa dimanfaatkan sebagai tempat penulis untuk beristirahat. Hanya saja ruangan yang besar tanpa dilengkapi fasilitas pendingin atau kipas angin sekalipun, membuat ruangan panas pengap plus diramaikan pula dengan tarian Nyamuk. Cukup membuat ketidaknyamanan timbul sebagai tahap awal.

Belum lagi bola lampu yang mati di Kamar Mandi ruangan yang kami tempati, sangat mengganggu saat kami ingin buang air sekalipun pada malam hari, ditambah tak mengalirnya pembuangan di kloset yang cukup membuat shock usai buang air besar, menyisakan bau tak sedap diruangan. Ugh !

Ketidaknyamanan tadi makin meningkat saat keesokan harinya ruangan mulai diisi oleh 2 pasien (salah satunya penderita asma), membuat suasana ruangan yang sudah panas dan pengap makin menjadi mimpi buruk saat putri kami menangis keras (mungkin karena gerah akan kondisi ruangan) dan dianggap mengganggu pasien lain. Maka bentakan pun melayang dari perawat yang bertugas pada hari Jumat siang di sal Pudak (data yang tidak cukup lengkap, karena tidak menyertakan nama juga foto si perawat), mengatakan bahwa tangis bayi itu karena si bayi haus dan tinggal diberi susu saja, pasti mau diam. Padahal kenyataannya tak segampang itu…

Keinginan kami untuk pindah ruangan makin menjadi saat permintaan kami diabaikan tanpa ada penanganan lebih lanjut, terutama saat infus tak mau menetes karena tangan putri kami tak hentinya bergerak (bayi baru berusia enam bulan kalender) sehingga dalam satu siang itu, harus dilakukan tiga kali perbaikan posisi jarum di tangan putri kami. (bayangkan mirisnya hati saat tusukan jarum hingga tiga kali dilakukan pada tangan kanan putri kami, kasihan kamu Nak…). Barangkali ini yang menjadikan mereka (para perawat) lantas membentak penulis saat melaporkan bahwa Askes sudah selesai diurus.

Ya, Askes. Jaminan Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil ini mulanya tak penulis ambil, lantaran si kecil belum memiliki kartu Askes sebagai syarat bantuan nantinya. Namun atas kebijaksanaan pihak Administrasi pada Kamis malam saat registrasi Rawat Inap bagi putri kami, jaminan Askes tersebut bisa digunakan asalkan selesai diurus hari Jumat siang dan dilaporkan ke Perawat dimana dirawat Inap untuk mendapatkan surat Pengantar.

Apa daya, Askes tersebut ditolak oleh Perawat di sal Pudak pada Jumat siang, dengan alasan seharusnya diajukannya kemarin (kamis) malam. Lho, bagaimana pula ini ?

Saat penulis menjelaskan kisah mulanya, eh si perawat marah-marah dan menyarankan Askes itu diurus nanti saja, kalo sudah pindah ruangan.

Belajar dari polemik sebelumnya dimana emosi hanyalah mengundang masalah lain timbul, maka enulis memilih diam dan mengikuti saran (bentakan) si perawat tadi. Bersyukur, permohonan pindah ruangan dikabulkan sore harinya. Ke sal Anggrek disebelah timur Pudak.

Penolakan Askes di sal Pudak ini rupanya menimbulkan masalah saat penyelesaian administrasi diakhir nanti.

Ohya, ada yang terlupa. Diawal Registrasi tadi dikatakan kamar Rawat Inap Kelas I dinyatakan penuh.

Padahal pada jumat pagi, penulis sempat jalan-jalan ke ruangan lain di sal yang sama (Pudak) sesuai petunjuk pihak administrasi, barangkali saja ada kamar yang akan ditinggalkan oleh pasien lainnya. Eh, ternyata ruangan disebelah kami, tergolong Kelas I dan kosong dari kemaren malam. Artinya, kenapa bisa dikatakan penuh jika ternyata ada yang masih bisa ditempati ?

Hmmm… ini malahan menyisakan satu pertanyaan, mungkin saja hal-hal seperti ini seringkali terjadi, berdalih mengatakan kamar penuh untuk mengalihkan pasien ke ruangan yang High Class (Mahottama) barangkali ?

Sebuah cerita keTidakNyamanan terjadi di sal Pudak, sangat kontras dengan Kenyamanan yang penulis dapatkan saat pindah ruangan ke sal Anggrek. Simak lanjutannya.

Kembali ke RS Sanglah

6

Category : tentang Buah Hati

Menyusuri lorong selasar Rumah Sakit dimalam hari, hanya diterangi oleh lampu pijar, mengingatkanku pada suasana film horor besutan lokal, sedikit seram. Jika pun aku sekedar iseng melakukan hal ini, barangkali bakalan berpikir dua kali, karena aku tergolong penakut pada hal-hal berbau mistik. Seperti cerita jurit malam uji nyali saja.

Malam yang aku jalani sudah memasuki hari ketiga, berada kembali di Rumah Sakit Sanglah. Kali ini putri kami Mirah Gayatridewi ganti dirawat, karena sejak hari Kamis lalu muntah berkali-kali, hingga lemas. Keputusan untuk dilarikan dan dioname di RS pun datang dari Dokter Anak yang menangani sebelumnya, dr. Widia, agar ia tak sampai mengalami Dehidrasi.

Penuhnya kamar untuk pasien menjadikan kami harus berpikir akan pelayanan pada putri kami nantinya, apakah berdesak-desakan dalam kamar Kelas 3 (satu ruangan dengan empat pasien, plus tanpa kunjungan dokter yang menyarankan kami tadi) ataukah diruang berkelas tinggi (semalamnya dikenai tarif 800ribuan). Akhirnya diputuskan mengambil apa yang ada sesuai kantong kami selaku orang tua Mirah, di Sal anak-anak Pudak, sambil menitipkan pesan pada perawat juga bagian administrasi, apabila ada kamar yang kosong, segera mengkontak kami.

Bersyukur, kamis malam kami menginap pertama kali, kamar belum terisi pasien. Jadilah tiga bed yang tersisa, kami manfaatkan untuk tempat istirahat tidur. Hanya ruangan yang tanpa pendingin (AC) dan tarian nyamuk membuat Mirah menangis dimalam hari, cukup membuat miris hati,apalagi dengan rasa sakit akibat suntikan infus di tangan kanannya.

Bumi seakan bertambah gerah, saat siang menjelang, kamar mulai dipenuhi pasien dan membuat suasana ruang layaknya oven, membuat Mirah makin keras tangisnya. Apalagi mungkin ia bingung dengan situasi ruangan, berbeda dengan rumah kami tentunya.

Doa kami ternyata didengar oleh-Nya, sore kami diperbolehkan pindah ke bangsal lain, yang sesuai dengan harapan kami, satu pasien dalam satu ruangan, seperti ruang yang ditempati oleh Istriku saat menderita Demam Berdarah waktu lalu.

…dan lorong selasar Rumah Sakit Sanglahpun kembali disusuri, tengah malam sekalipun, untuk mencari obat sesuai pesanan di Apotik Depo, apotik khusus peserta Askes. Demi putriku seorang, apapun kan aku jalani. Menembus suasana layaknya film horor sekalipun.