Makin Jarang Oprek Android

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Memiliki sebuah perangkat Android nampaknya mau tidak mau, suka tidak suka, rata-rata pasti pernah terbersit keinginan bahkan hingga mencoba langsung aksi oprek mengoprek perangkat, dengan maksud dan tujuan tertentu. Entah menginginkan kinerja yang lebih baik, menembus batas normal yang mampu dilakoni kemampuan handhelds, bahkan coba-coba, ingin tau atau membuatnya keren secara penampilan tok. Diluaran itu, tentu masih banyak alasan lagi yang bisa diungkap jika kalian merupakan salah satunya…

Demikian halnya dengan saya. Perkenalan pertama dengan perangkat Android awal tahun 2011 lalu merupakan pintu gerbang dari semua aksi ekstrem yang pernah saya lakukan sepanjang kisah kepemilikan sebuah ponsel. Dari proses Upgrade OS Android versi 2.2 Froyo ke 2.3 GingerBread, Rooting, BootLoop, Flashing, Custom Rom, CWM hingga Mati Totalnya HTC One V padahal belum diapa-apain :p sedang Samsung Galaxy Ace pertama malah aman hingga akhir hayatnya… Dijual :)) Ada banyak pengalaman yang saya dapat selama menjalani proses tersebut, satu diantaranya bahwa aktifitas ekstrem seperti yang disebutkan tadi sebetulnya gag perlu-perlu amat dilakukan oleh setiap pengguna ponsel dan tablet berbasis Android. Karena memang beda kebutuhan, dan kepentingan. Apalagi bagi mereka yang memegang ponsel atau tablet berkategori flagship dengan spesifikasi hardware yang jelas jauh lebih tinggi.

Katakanlah aktifitas Rooting.

Salah satu alasan kenapa handhelds dijejajli aktifitas Rooting adalah terkait permasalahan minimnya internal storage yang ada, lantaran tidak ada keterbukaan peluang untuk mempertanyakan dan memberi kuasa kepada pengguna perangkat, bakalan ditaruh (baca:install) dimana aplikasi maupun games yang diminati kali ini ? Sangat berbeda jika dibandingkan dengan proses instalasi pada perangkat berbasis Windows Mobile maupun Symbian terdahulu, karena sejak awal pengguna diberikan kebebasan untuk menentukan posisi instalasi. Dengan demikian, pada kasus Android, perangkat akan secara otomatis meletakkannya di posisi dimana sekiranya dibutuhkan untuk mempercepat akses, bahkan bisa jadi aplikasi atau permainan yang berukuran besar malah dijejalkan pada internal storage yang biasanya tergolong minim dibekali.

Selain itu terkait pula dengan besaran sisa memori RAM yang tersedia, untuk dapat menjalankan aplikasi ataupun permainan secara sempurna dalam bentuk multitasking. Nah, dua hal inilah yang biasanya menjadi hambatan bagi pemilik perangkat untuk menginstalasi lebih banyak aplikasi dan games sesuai keinginan, lantaran begitu banyaknya ketersediaan yang ada di pasar aplikasi atau yang kerap disebut dengan Google Play. Hal ini tentu tidak akan terjadi pada perangkat Android terkini yang biasanya telah dibekali internal storage minimal 4 GB hingga 32 GB plus memory RAM minimal sebesar 512 MB.

Berbeda lagi dengan aktifitas UpGrade dan perburuan Custom ROM, dimana tujuan utamanya menginginkan pembaharuan sistem operasi dan aplikasi Android dan tentu saja perubahan tampilan khas teknologi Android yang sedang berkembang kini. Terpantau sistem terakhir yang banyak digunakan oleh berbagai perangkat Android baik lokal maupun branded adalah versi 4.0 Ice Cream Sandwich dan 4.1 Jelly Bean, dan sebentar lagi bakalan meluncur pula 4.2 Key Lime Pie.

Jika para vendor perangkat merasa peduli untuk memperhatikan konsumennya, biasanya sih bakalan secara rutin memberikan pembaharuan versi sistem operasi, selain bertujuan untuk mencegah adanya celah keamanan yang berpotensi masuknya segala ancaman berupa virus, malware, script dan lainnya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan para vendor lokal, ataupun seri lama namun branded, yang rata-rata tidak memiliki tim pengembangan sistem operasi tersendiri, sehingga penggunanya harus berpuas diri pada sistem yang dibekali sejak awal. Hal inilah yang kerap menjadi alasan mengapa aksi perburuan Custom Rom itu terjadi. Syukur apabila banyak pengembang independen di luar sana mau membuat versi Custom Rom sendiri, yang biasanya menyasar seri Android yang banyak digunakan, jika tidak ? Gigit jarilah mereka ini pada akhirnya… Namun apakah sedemikian perlunya aktifitas UpGrade ataupun perburuan Custom Rom ? Jika itu resmi dikembangkan oleh para vendor, tentu jawabannya harus, mengingat faktor keamanan tadi plus bonus aplikasi, yang barangkali memang dinanti oleh para penggunanya.

Sedang Custom Rom, ada baiknya sih sebelum mencoba dan menggunakannya pada perangkat yang kawan miliki, agar sebanyak mungkin mengumpulkan informasi terkait versi tersebut. Dari fitur dan aplikasi tambahan apa yang dimiliki, langkah serta proses yang harus dijalankan, apakah terdapat patch atau penyempurnaan instalasi sesudahnya, dan bugs atau hal-hal yang barangkali kelak sulit untuk dijalankan. Biasanya sih ini terkait penggunaan kamera, suara, atau koneksi wireless. Karena memang pengembangan Custom Rom ini tidak dibarengi dengan uji coba secara mendalam pada banyak perangkat. Jadi hati-hati sebelum melakukannya. Kegagalan proses yang terjadi baik dalam aksi Rooting maupun Upgrade dan perburuan Custom Rom ini biasanya mengakibatkan perangkat mengalami bootloop (gambar pembuka yang ditampilkan berulang-ulang tanpa kepastian tindaklanjutnya) atau brick dan mati total. Bayangkan jika itu sampai terjadi ? Bukankah jadi lebih repot ? Dan kasihan juga data contact, agenda dan data lain yang tersimpan dalam perangkat namun tidak sempat diselamatkan.

Sedang saran lain dari proses perburuan Custom Rom adalah penggunaan Launcher yang biasanya jauh lebih aman untuk dicoba dan memiliki banyak variasi tema untuk dicoba. Bisa jadi untuk mendapatkan tampilan ‘ala Jelly Bean misalkan, cari dan install saja Launcher Jelly Bean. Simpel kan ?

Barisan aktifitas semacam itu bisa dikatakan hampir setiap minggu menjadi agenda rutin, apalagi jelang perangkat Samsung Galaxy Ace S5830, Android pertama yang saya miliki, berencana untuk dijual lantaran jarang dipergunakan. Hal ini terjadi karena istri, saya hibahkan kepemilikan HTC One V, hadiah dari HTC Road beberapa waktu lalu, sedang saya pribadi memegang perangkat Tablet Samsung Galaxy Tab 7+ saat harga promo setahun lalu. Dan lantaran sudah kadung jatuh cinta pada versi TabletPC, sayapun enggan beralih lagi ke perangkat Android berlayar 7 kebawah. Dua minggu sebelum Ace dijual, sayapun kemudian mencoba menguji beberapa Custom Rom yang sudah dikumpulkan jauh sebelumnya satu persatu. Hasilnya ? Lihat saja pada daftar Halaman Android yang ada di halaman ini poin ….. Setelah puas, baru deh Ace laku terjual. Nah, pasca kepemilikan TabletPC 7+, praktis semua aktifitas diatas kecuali Upgrade, sudah tak lagi saya lakukan, lantaran secara besaran internal storage sudah cukup lapang (16 GB ditambah eksternal untuk foto, video dan buku sebesar 16 GB), plus memory RAM sebesar 1 GB tentu sudah lebih dari cukup. Apalagi secara jatah sistem operasi, Versi 4.0.4 Ice Cream Sandwich sudah bisa dinikmati setelah berpuas diri dengan OS bawaan 3.2.1 Honeycomb. Sayapun tak berminat lagi mencoba Custom Rom hanya untuk mendapatkan Jelly Bean, cukup menggunakan beberapa Launcher secara bergantian, dari Go Ex, Espier, DX hingga kini Apex Pro. Sudah sangat lumayan dan memuaskan.

Makin jarangnya saya melakukan barisan aktifitas tersebut, pun disebabkan oleh alasan yang sama dengan makin jarangnya punya kesempatan untuk menulis, seperti yang sempat diungkapkan beberapa waktu lalu. Jadi mohon maaf apabila belakangan saya memang jarang menurunkan tips, trik atau pembelajaran lainnya tentang Android baik di Blog maupun akun Twitter. Apalagi saat ini, pasokan perangkat Android baru tergolong jarang saya dapatkan mengingat rata”perangkat yang diambil oleh kawan dan saudara, sama satu dan lainnya. Yaitu Samsung Galaxy Note II. Jadi ya harap maklum saja. *uhuk

Tips #Ngandroid Mengenal Root

2

Category : tentang TeKnoLoGi

  • Eh iya, ada yang blom tau apa itu #Root? Semacam tindakan hack atau jailbreak (pada iphone) yg mengubah kemampuan pemilik perangkat #Android
  • Dari yang dulunya cuma sebagai User -pengguna- menjadi Admin. #Root
  • Beberapa kelebihan aktifitas #Root ini adalah mampu mengelola, memelihara internal storage, RAM hingga speed clock dan mengambil screenshot
  • #Root sebenarnya tidak disarankan bagi pengguna awam oleh Vendor, karena kesalahan saat melakukan #Root dpt merusak ponsel dan tentu Garansi
  • Sepanjang pengalaman melakukan #Root pada perangkat Samsung GalAce #1, ada dua cara melakukan #Root bergantung pada OS yang digunakan
  • Pertama jika OS masih versi 2.2, silahkan gunakan aplikasi SuperOneClick SOC dengan memanfaatkan PC/notebook dan kabel data
  • Sedang jika OS sudah versi 2.3, gunakan file Updt_1.zip yang dicopykan ke sdcard dan lakukan Update via sdcard melalui Recovery Mode
  • Untuk Recovery Mode dpt diakses dari kondisi ponsel Off, lalu tekan dan tahan tombol Power plus Home. Lepaskan saat layar masuk tampilan RM
  • Sukses tidaknya #Root bisa dilihat dari ada tidaknya fitur SuperUser di halaman Menu
  • Untuk menguji #Root berhasil atau tidak, instalasi app/utility yang mensyaratkan aktifitas #Root tsb
  • @tamba09 kalo gag berhasil, biasanya ponsel hang di awal start… Tapi gampang kok mengatasinya :p
  • Untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan saat melakukan #Root, pengguna WAJIB hukumnya melakukan Backup data ponsel
  • Salah satu app Backup Data yang di Recommend adalah Mobile Backup II untuk menyelamatkan daftar Kontak, Sms, Log serta Agenda
  • Kalopun mau melakukan backup Setting ponsel dan app/games yang sudah terinstall, bisa menggunakan Titanium Backup
  • Bila dibandingkan, Mobile Backup II hanya membutuhkan sedikit space di sdcard sedang Titanium membutuhkan space yang lebih besar
  • Untuk proses #Root tidak membutuhkan waktu lama, sekitar 5 menitan menggunakan aplikasi SOC dan beberapa detik menggunakan file Updt_1 tadi
  • #Root baru dianggap merupakan sebuah solusi saat ponsel mengalami kekurangan space internal storage dan kekurangan memory RAM
  • Kekurangan itu terjadi karena secara default/bawaan, ponsel akan mengalokasikan secara otomatis dimana app/games akan diinstalasi
  • Selain itu, beberapa app/utility biasanya mengikutsertakan dirinya masuk dalam daftar Start Up, untuk dieksekusi saat ponsel dinyalakan
  • Aktifitas Start Up ini kurang lebih sama dengan perangkat PC/NoteBook dan Windows Mobile
  • Untuk melakukan perpindahan app/games atau menonaktifkan Start Up app/utility ini mutlak mensyaratkan #Root
  • Menyambung sedikit soal #Root, untuk memindahkan app/games dari internal ke external storage, dibutuhkan tambahan app Move2SD enabler
  • Instalasi dan aktifkan Move2SD Enabler terlebih dahulu baru lakukan perpindahan app/games ke memory external
  • Untuk melakukan pemindahan app/games yang diinginkan, bisa dilakukan dengan 2 cara
  • Satu, akses menu Setting/Applications/Manage App. Pilih App/games yang diinginkan lalu pilih tombol ‘Move to sdcard’
  • Jika tidak ingin repot”, gunakan app2SD. Jalankan aplikasi, tekan dan tahan icon aplikasi, pilih details, lalu pindahkan ke sdcard
  • Satu saran penting, jangan memindahkan semua app/utility yang dirasa perlu untuk ditampilkan pada Taskbar dan Homescreen/widget
  • Karena app/utility yang dapat ditampilkan pada Taskbar atau Widget, mutlak ditempatkan pada Internal Storage
  • @tamba09 he… GalAce #1 kemaren langsung di #Root bulan ketiga kalo gag salah, kepalang tanggung nunggu garansi habis 🙂
  • #Android itu mengasyikkan, setidaknya begitu pendapat teman yang baru mengenalnya setelah merasa bosan main Messenger
  • Tapi tanpa pernah mengenal messenger milik tetangga itupun, #Android tetap jauh lebih keren *just my opinion
  • Bahasan soal #Root udahan dulu yah, kalo ada yang kurang jelas bisa mention atau kontak langsung via sms/whatsapp di 083119540188
  • Cegah Lelet pada SmartPhone Android

    8

    Category : tentang TeKnoLoGi

    Selain borosnya daya tahan batere pada perangkat smartphone Android, satu hal lagi yang kerap dikeluhkan oleh sebagian besar pengguna awam adalah leletnya akses baik pada Menu ataupun Aplikasi saat perangkat digunakan dalam kurun waktu lama. Ada tips yang bisa dibagi untuk mengatasinya ?

    Tiga hal yang barangkali bisa menjadi penyebab utama menurunnya kinerja perangkat ponsel pintar khususnya Android adalah, Cache yang menumpuk, Minimnya sisa Memory Internal dan Minimnya sisa Memory RAM. Ketiga faktor tersebut terlebas dari besaran Prosesor dan spesifikasi yang dibenamkan dalam perangkat loh ya.

    Yang dimaksud dengan Cache adalah tumpukan file temporary (sementara) yang biasanya muncul dan digunakan saat membuka atau mengoperasikan satu aplikasi sehingga tidak memberatkan sedari awal proses. Kurang lebih begitu. Ukuran Cache akan semakin besar jika semakin banyak aplikasi yang dijalankan dalam kurun waktu tertentu. Cache ini akan menempati atau menghabiskan kapasitas memori internal yang disediakan. Untuk mengatasinya, cukup bersihkan Cache secara berkala, dengan memanfaatkan aplikasi Cache Cleaner yang dapat diunduh melalui Android market.

    Secara Default, setiap aplikasi ataupun games yang diinstalasi pada perangkat smartphone Android, akan ditempatkan secara otomatis berdasarkan kebutuhan atau perkiraan sistem tanpa campur tangan atau ijin dari pengguna seperti halnya sistem operasi Symbian ataupun Windows Mobile. Hal ini menyebabkan adanya kemungkinan bahwa aplikasi ataupun games yang berukuran besar, ditempatkan dalam Memory Internal yang mengakibatkan minimnya sisa kapasitas. Dan seperti halnya perangkat PC/NoteBook, saat memory internal mulai penuh, kecepatan akses untuk membuka perangkat ataupun aplikasi dan games akan makin tersendat dan menjengkelkan.

    Satu-satunya cara untuk dapat mengatasi minimnya sisa memory internal pada perangkat SmartPhone Android diluar aksi Uninstall adalah Rooting. Bagi yang belum paham apa dan bagaimana cara melakukan Rooting, silahkan main ke tulisan sebelumnya yah. Dengan melakukan aktifitas Rooting, memberikan hak penuh bagi pengguna untuk mengontrol proses Instalasi Aplikasi dan Games ataupun pemindahan instalasi yang telah selesai dari memory internal ke sdcard atau memory eksternal.

    Bagi pengguna yang memahami proses Instalasi aplikasi pada perangkat PC/NoteBook, pasti mengerti bahwa ada beberapa diantaranya akan meninggalkan shortcut eksekusi pada folder StartUp yang nantinya akan dijalankan saat perangkat dinyalakan kembali/Restart. Demikian halnya dengan perangkat SmartPhone Android. Itu sebabnya dalam kondisi Siaga baik saat ponsel aktif namun tidak digunakan atau baru dinyalakan, sisa kapasitas Memory RAM sudah tersedot habis 75% dari total kapasitas yang disediakan. Padahal untuk mampu membuka aplikasi/games ataupun Menu lainnya, membutuhkan pula memory RAM dalam jumlah tertentu agar bisa berjalan dengan baik. Faktor ketiga inilah yang mampu mengakibatkan penurunan kinerja terbesar pada perangkat yang Rekan miliki.

    Untuk mengatasinya, unduh dan instalasi utility StartUp Manager dari Android Market atau sekalian saja kumpulan utility seperti Optimize ToolBox yang saya gunakan saat ini. Utility semacam ini mampu me-nonaktifkan aplikasi yang dijalankan saat perangkat ponsel dinyalakan sedari awal proses. Khusus Optimize ToolBox, merupakan kumpulan utility yang digabungkan dalam sebuah aplikasi dengan kemampuan semua tips diatas kecuali Rooting. Selain itu ada juga opsi tambahan untuk melakukan Optimasi perangkat dengan cepat. Sejauh ini hanya ada 5 aplikasi yang saya ijinkan untuk dijalankan sejak awal proses dinyalakan. SuperUser, Whatsapp, Gmail, Advance Task Killer dan Battery Status.

    Tiga tips diatas dapat dijadikan alternatif awal untuk mencegah terjadinya lelet atau penurunan kinerja perangkat smartphone Android bagi pengguna pemula. Jika lain kali ada tips lain lagi, tentu akan saya bagi untuk Rekan semua.

    Hard Reset / Factory Reset perangkat Android

    14

    Category : tentang TeKnoLoGi

    Saya yakin tak satupun pengguna ponsel menginginkan terjadinya satu kesulitan akses baik menuju Menu maupun fitur penting yang kerap digunakan dalam perangkat apapun. Termasuk pula saya. Namun akibat kecerobohan pasca aktifitas Root/Rooting yang memberikan kuasa pada setiap pengguna ponsel Android untuk berperan menjadi Administrator bukan saja sebagai seorang User, mengakibatkan hilangnya halaman HomeScreen atau tampilan utama pada ponsel.

    Penyebabnya adalah kepedean saya untuk menghapus sebuah aplikasi Launcher yang pada awalnya saya pikir merupakan bagian dari GingerBread dan Go Launcher yang telah dihapus sebelumnya. Maka seiring suksesnya proses UnInstall yang dilakukan, tampilan HomeScreen maupun Menu pada ponsel dengan segera menghilang dan menyisakan satu kotak dialog ‘Force Closed’ setiap kali tombol Home ditekan. Setelah berkali-kali melakukan proses Booting maupun akses Safe Mode, tampilan layar utama maupun Menu tak jua dapat diakses. Tak ada kemajuan.

    Berbekal sedikit pengetahuan dan juga rasa penasaran saat melakukan proses Root/Rooting jauh sebelumnya, sayapun memberanikan diri untuk melakukan Hard Reset atau Factory Reset, untuk mengembalikan kondisi ponsel seperti baru datang dari pabrik. Caranya sangat mudah.

    Matikan terlebih dahulu perangkat Android yang akan dieksekusi, kemudian tekan tombol Home dan tombol Power secara bersamaan, lepas ketika layar sudah masuk ke Menu Manual Mode atau Android System Recovery. Pilih ‘Wipe Data/Factory Reset’ lalu tekan tombol Home. Pilih ‘Yes’ dan tunggu prosesnya hingga selesai.

    Namun jika Rekan-rekan dalam kondisi jauh lebih beruntung daripada kondisi yang saya alami, sebelum keputusan untuk melakukan proses Hard Reset atau Factory Reset, ada baiknya kita melakukan Backup Data terlebih dahulu meliputi Daftar Contact, Memo ataupun Schedule yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan pc suite bawaan masing-masing perangkat. Dalam hal ini, saya menggunakan Samsung Kies dan Microsoft Outlook pada NoteBook. Jika sudah, ada baiknya pula kita melakukan Backup Aplikasi ataupun Games yang sedang digunakan dengan memanfaatkan aplikasi App2SD.

    Proses Hard Reset atau Factory Reset ini tidak berlangsung lama seperti halnya melakukan proses Hard Reset pada perangkat PDA Windows Mobile PocketPC yang dahulu kerap saya lakoni. Uniknya, mengingat proses Root/Rooting sudah pernah dilakukan sebelumnya pada perangkat yang sama, Menu ‘SuperUser’ yang menjadi satu-satunya Ciri Khas keberhasilan proses, tampaknya tetap ada meskipun yang namanya Hard Reset dikatakan sebagai aktifitas untuk menghapus semua data, aplikasi atau apapun yang berada dalam perangkat.

    Setelah aktifitas Hard Reset atau Factory Reset selesai dilakukan, penggunapun dihadapkan pada tampilan awal sistem operasi Android yang memang mutlak mengharuskan pengguna untuk memasukkan satu alamat email yang kelak digunakan untuk semua aktifitas termasuk pengunduhan aplikasi.

    Mumpung semua masih baru, maka sayapun kemudian mencoba memprioritaskan aplikasi mana saja yang perlu saya instalasi terlebih dahulu demi mendapatkan memory internal yang lebih teratur dan lapang. Langkah pertama, Aplikasi Move2SD Enabler yang tempo hari saya rekomendasikan pasca aktifitas Root/Rooting. Tujuannya tentu untuk memaksa setiap aplikasi atau games yang akan diinstalasi menuju Media Penyimpanan Eksternal. Setelah itu barulah saya menginstalasi aplikasi atau games yang sebelumnya saya gunakan satu persatu.

    Hasilnya cukup mantap. Memory Internal yang dahulu Cuma mampu dilapangkan hingga 30-an MB, kini setelah semua aplikasi dan juga games yang sebelumnya saya gunakan terinstalasi, sisa memory internal yang saya dapatkan jauh lebih lapang. Sekitar 80-an MB.

    Ternyata ada bagusnya juga melakukan aktifitas Hard Reset atau Factory Reset pasca aktifitas Root/Rooting.

    Root Android-mu untuk Space Internal yang lebih Lapang

    10

    Category : tentang TeKnoLoGi

    Berawal dari keluhan yang saya sampaikan di jejaring sosial FaceBook tempo hari terkait ngadatnya Samsung Galaxy ACE S5830 yang secara resmi dibeli pertengahan Maret lalu, gara-gara memory internal yang mulai kepenuhan oleh aplikasi dan games, beberapa komentar baik secara secara langsung pada status maupun tak langsung melalui fitur Chat, rata-rata menyarankan untuk dengan segera melakukan ‘Root.

    Sekedar Informasi, yang dimaksud dengan aktifitas Root/Rooting pada perangkat Android, merupakan sebuah Proses yang mengijinkan pengguna sebagai pemilik perangkat tersebut bertindak sebagai Admin dan bukan hanya sekedar Users. Kemampuan ini tergolong Istimewa dalam bahasa pemograman Linux sebagai bahasa dasar dari sistem operasi Android sehingga salah satu tanda keberhasilan proses Root/Rooting ini adalah terdapatnya Menu SuperUser dalam barisan Menu yang terdapat dalam perangkat Android. Proses Root/Rooting ini kira-kira setara artinya dengan proses JailBreak pada perangkat iOS atau iPhone yang sekiranya bakalan secara otomatis, menghanguskan Garansi ponsel.

    Bagi pengguna awam seperti halnya saya, untuk melakukan Proses Root/Rooting tentu saja tidak mudah. Selain hangusnya Garansi ponsel yang masih kinyis-kinyis dimiliki, ancaman kegagalan pun kerap diperingatkan oleh banyak Master of Android lainnya. Itu sebabnya, awal-awal kemarin, saya lebih memilih menanti Masa Garansi habis ketimbang nekat melakukan aksi Root/Rooting ini hanya untuk sekedar gaya-gayaan. Namun dalam kenyataan malah berkata lain.

    Dari sekian banyak Tutorial yang bisa ditemukan di dunia maya, untuk saat ini barangkali hanya satu saja yang secara aman dapat saya rekomendasikan untuk melakukan proses Root/Rooting oleh awam. Silahkan cek di link milik Forum XDA Developers berikut.

    SuperOneClick atau yang lebih dikenal dengan istilah SOC merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh Shortfuse.org, khusus untuk membantu para pengguna perangkat Android melakukan aksi Root/Rooting secara aman dalam tampilan User Interface aplikasi yang jelas dan sederhana. Selain itu, dalam versi 1.9 yang saya dapatkan ini, ternyata untuk mengamankan ‘Garansi’ ponsel, merekapun menyediakan opsi ‘UnRoot’ bagi yang ingin mengembalikan ponsel dalam kondisi semula. Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca Tutorialnya secara langsung.

    Sayangnya, pasca keberhasilan proses Root/Rooting ini, saya kembali menemui kesulitan untuk memindahkan beberapa aplikasi dan juga games, yang dari info sebelumnya hanya dapat dipindahkan ‘secara paksa’ oleh aplikasi App2SD dengan perangkat dalam kondisi Root. Ada 25 aplikasi dan juga games yang ‘masih tetap’ belum mampu saya pindahkan baik sebelum dan sesudah proses Root/Rooting dilakukan, meski telah mencoba menginstalasi beberapa aplikasi serupa baik App2SD Free dan versi Pro, Apps 2 SD dan juga File Expert yang kabarnya berfungsi sama.

    Berkat bantuan dua Droiders yang sempat mengomentari keluhan saya terkait sulitnya pemindahan ini, maka disarankanlah untuk menginstalasi Move2SD Enabler terlebih dahulu baru kemudian berusaha untuk memindahkannya secara Manual.

    Ternyata Benar. Saran tersebut merupakan  satu Ide yang bagus, mengingat begitu banyak yang menyarankan dan merekomendasikan aplikasi App2SD namun tak satupun yang mampu memberikan Cara, Tutorial ataupun langkah-langkahnya.

    Aplikasi Move2SD Enabler karya Roberto Leinardi ini dapat ditemukan di Android Market dan dapat dipergunakan secara Free to Use (salah satu alasan mengapa saya memilih Perangkat Android), namun hanya untuk perangkat Android yang telah di Root/Rooting. Dengan ukuran aplikasi yang begitu kecil, proses unduhan (download) dan juga instalasi berlangsung tak sampai semenit. Yang perlu diperhatikan disini adalah Petunjuk Penggunaannya yang memang dipaparkan diawal penggunaan aplikasi.

    Dengan memanfaatkan aplikasi Move2SD Enabler ini SEBENARNYA seorang pengguna perangkat Android tidak lagi memerlukan aplikasi App2SD dan sejenisnya, hanya untuk memindahkan aplikasi atau games ke perangkat memory eksternal seperti yang digembar gemborkan banyak Reviewer di dunia maya. Cukup mengakses halaman Setting/Applications/Manage Applications/ maka pengguna sudah dapat memindahkan satu persatu aplikasi yang dianggap perlu untuk dipindahkan ke memory eksternal.

    Sejauh yang telah saya coba, sebelum proses Root/Rooting dan juga pemindahan aplikasi/games dilakukan, space yang tersisa dari memory eksternal yang saya gunakan hanyalah sebear 5 MB. Ruang ini kemudian jauh berkembang hingga 30 MB setelah proses Root/Rooting dan juga pemindahan aplikasi/games berhasil dilakukan. Dari 25 aplikasi dan juga games yang sempat saya sebut diatas tadi, hanya menyisakan 14 aplikasi penting saja, yang sekiranya memang mutlak saya butuhkan pada perangkat Android seperti APN On/Off, Advanced Task Killer, TweetDeck dan juga Optimize Tool Box yang belakangan kerap saya gunakan untuk membersihkan Cache aplikasi.

    Proses Root/Rooting tetap mutlak dibutuhkan untuk memberikan space ruang memory internal yang jauh lebih lapang bagi sebuah perangkat Android. Gunakan saja aplikasi SuperOneClick versi terakhir untuk lebih amannya. Setelah itu, gunakan aplikasi Move2SD Enabler untuk mengijinkan sistem memindahkan aplikasi/games yang diinginkan satu persatu. Tidak perlu terpaku pada aplikasi lain lagi.