Windows 8 Release Preview

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Apabila dalam edisi lalu pernah kami turunkan satu topik terkait apa dan sejauh mana perubahan yang terjadi pada Windows 8 Consumer Preview dibandingkan sistem operasi milik Microsoft sebelumnya, kini giliran kami yang menjajalnya secara langsung melalui Windows 8 Release Preview.

Metro Style. Sesuai dengan apa yang diprediksikan dan dipromosikan oleh banyak pihak, bahwa untuk antar muka sistem operasi Windows 8 mengadopsi Metro Style, sebuah User Interface yang telah dikenal publik lebih dulu lewat perangkat ponsel pintar baik milik Nokia Lumia, HTC ataupun Samsung. Beberapa Menu utama yang disajikan dalam bentuk Tile -kotak- yang dapat dikustomisasi besarannya sesuai dengan selera pengguna.

Terdapat diantaranya fitur-fitur baku yang biasanya hadir dalam sebuah perangkat pintar meliputi Mail, Calendar, Contact, Messaging, Store hingga yang berkaitan dengan hobi seperti Music, Photo, Video, News, Lifestyle, Sports dan Finance. Adapun Fitur yang terdapat dalam tampilan Menu ‘Metro Style’ kali ini bakalan bertambah seiring instalasi aplikasi ataupun games yang dilakukan oleh pengguna. Apabila fitur yang tertampil ada yang dianggap kurang berkenan, dapat dihilangkan dengan cara melakukan ‘unpin’.

Touch Screen. Fitur layar sentuh yang biasanya hadir di perangkat pintar baik ponsel ataupun tablet yang mengadopsi sistem operasi Windows, sangat kental terasa di sepanjang penggunaan. Begitu pula tampilan yang sederhana dan luas, memberikan ciri sentuhan oleh jari lebih didominankan meski pemanfaatan Mouse tetap dapat dilakukan. Untuk mengimbanginya, kami mencoba melakukan sapuan dengan perangkat mouse pada layar tampilan yang rupanya dapat direspon dengan baik.

Applications Store. Salah satu jualan yang biasanya diandalkan oleh setiap perangkat pintar baik ponsel ataupun tabletpc adalah pasar Aplikasi yang siap menyediakan ratusan bahkan ribuan aplikasi/games siap unduh dan gunakan, demikian halnya dengan Windows 8 kali ini. Dalam pengujian kami, Application Store dapat diakses dengan baik dimana beberapa games ternama seperti Fruit Ninja, Doodle God ataupun aplikasi Kindle, Maps, SketchBook dan WordPress bias dicoba dengan baik.

Internet Explorer 10. Seperti yang pernah kami sampaikan terdahulu bahwa untuk tampilan jendela Browser terkini milik Microsoft ini bakalan mengalami beberapa perubahan, diantaranya kolom Address Bar yang kini tertampil di sisi bawah layar, penggunaan Tab dan Thumbnail di sisi atas tampilan untuk memudahkan proses navigasi pengguna, hingga opsi Back-Forward yang kini dapat diakses dengan menyentuh sisi kiri/kanan halaman yang sedang aktif digunakan.

Sign Out. Jika dulu dalam penggunaan sistem operasi Windows pada perangkat pc/notebook selalu dikenal istilah Log Off ataupun Log On untuk keluar dari tampilan Desktop bagi pengguna yang memanfaatkan fitur password demi melindungi tampilan halamannya, kini telah diganti dengan istilah Sign Out dan Sign In. lebih familiar bukan ? ketika opsi ini dilakukan, pengguna akan dihadirkan sebuah tampilan yang menyajikan Tanggal maupun Jam, sinyal bar dan daya baterai, layaknya sebuah perangkat mobile komunikasi yang telah terkunci.

Bagi kawan yang ingin mencobanya, Windows 8 Release Preview ini dapat diunduh melalui halaman resmi Microsoft, dengan ukuran 2,5 GB untuk versi 32bit dan 3,3 GB untuk versi 64bit. Ukuran ini biasanya dapat dikonversikan dalam bentuk keping dvd yang kemudian dapat digunakan secara Bootable seperti laiknya proses Instalasi OS. Release version ini kabarnya dapat dipergunakan (dalam arti sebenarnya) hingga versi komersial nantinya dipasarkan. Untuk membuktikan kabar ini, kamipun melakukan proses instalasi beberapa aplikasi yang biasa kami gunakan dari pemutar music, video, office processing hingga photo editor. Semua aplikasi ini rupanya mampu berjalan dengan baik sesuai harapan kami.

Sayangnya, lantaran masih berupa Preview, pihak Microsoft tidak bertanggung jawab atas segala kerusakan ataupun perubahan yang terjadi pada sistem operasi versi sebelumnya. Hal ini harus disadari sepenuhnya mengingat proses instalasi sistem operasi Windows 8 bakalan menumpuk sistem operasi lama sehingga untuk mengaksesnya kembali dibutuhkan proses Recovery yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan keping disc sistem operasi sebelumnya.

Untuk dapat menjalankan sistem operasi Windows 8 Release Preview dengan sempurna, sangat disarankan untuk mencobanya pada perangkat pc/notebook yang mampu menggunakan Windows 7 dengan spesifikasi minimum Prosesor 1 GHz, Memory RAM 1 GB (32bit) atau 2 GB (64bit), Internal Storage 16 GB (32bit) atau 20 GB (64bit) dan Kartu Grafis yang mendukung Microsoft DirectX 9. Untuk kebutuhan sentuh, sangat disarankan untuk menggunakan perangkat layar yang mendukung fitur Multitouch dengan Resolusi minimal 1024×768. Selain itu, untuk memaksimalkan pemanfaatannya, dibutuhkan pula akses internet yang mumpuni.

Selain spesifikasi hardware seperti yang telah disebutkan tadi, pengguna mutlak membutuhkan akun ID Microsoft yang dapat dibuat secara langsung saat pengguna melakukan Sign In pertama kali. Adapun akun ID ini dapat memanfaatkan beragam akun email dari miliknya Yahoo, Gmail hingga domain pribadi sekalipun. Akun ID ini bakalan ditanyakan oleh sistem saat pengguna melakukan akses ke fitur ataupun menu yang disajikan pertama kali akses.

Demi memudahkan pengguna dalam mengoperasikan Windows 8 Release Preview ini, disediakan opsi Pengaturan mencakup layar depan, layar terkunci, akun profile, hingga notifikasi dan sinkronisasi yang disajikan layaknya opsi Pengaturan pada perangkat tabletpc. Selebihnya, terpantau beberapa perubahan tampilan baik pada layar depan Desktop hingga Windows Explorer yang kini hadir jauh lebih simple.

Mempertanyakan Bundling Gratis Paket Layanan Data Ponsel

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada banyak cara yang biasanya dilakukan oleh para vendor ataupun operator telepon selular untuk menarik minat dan perhatian pengguna atau konsumen, akan jualan yang mereka tawarkan dalam satu waktu. Bisa berupa bonus asesoris seperti Leather Case atau Memory Card, peralatan tambahan modem wifi bagi perangkat yang tidak mendukung slot sim card tambahan, hingga layanan paket data gratis selama beberapa bulan bergantung kebijakan atau kerjasama mereka. Khusus yang terakhir merupakan hal yang paling lazim dilakukan mengingat salah satu kebutuhan atau persyaratan mutlak bagi setiap perangkat telekomunikasi masa kini adalah koneksi internet.

Bundling, begitu kira kira istilah yang kerap digunakan, sebagai pemahaman awam bagi setiap pengguna atau konsumen dalam memilih alternatif perangkat yang ingin dimiliki. Dari pemantauan kami, Setidaknya ada beberapa perangkat mobile phone yang ditawarkan dengan cara ini diantaranya Android Galaxy Series, iPhone 4S hingga BlackBerry.

Sayangnya, embel embel Gratis yang biasanya menyertai paket bundling layanan data ini tidak selamanya bisa seindah yang dibayangkan, lantaran ada juga beberapa operator yang malah mensyaratkan ketentuan tambahan untuk bisa menikmati bonus bonus tersebut. Simak pengalaman beberapa Kawan yang bisa kami kumpulkan sejauh ini.

Pengalaman pertama datang dari kawan yang membeli perangkat Android Samsung Galaxy Pocket sekitar dua minggu lalu. Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam box penjualan ponsel, tertera jelas ‘Free 3 Month Internet for only Rp. 50.000’ dari operator merah.

Awalnya si Kawan berpikir bahwa dengan mengisi pulsa sebesar 50ribu pasca aktivasi kartu sim card, maka pengguna berhak atas akses internet Unlimited selama 3 bulan kedepan. Ternyata apa yang ia perkirakan salah besar. Apa yang dimaksudkan dengan penawaran tadi adalah ‘Pengguna berhak menikmati akses Free Internet Unlimited dengan kuota 300 MB setiap bulannya setelah mengisi pulsa senilai 50.000 untuk setiap bulannya, bukan satu kali untuk tiga bulan. Setidaknya penjelasan itu yang ia dapatkan setelah menghubungi Customer Service operator bersangkutan melalui jalur telepon. Ealah…

Yang lebih merepotkan lagi adalah Proses Aktivasinya. Setelah berkali-kali melakukannya melalui sms, proses selalu berakhir dengan kalimat Error saat Pengguna menyetujui pemotongan pulsa senilai 50.000 tadi. Demikian halnya saat Pengguna mencoba menghubungi Call Centre, yang rupanya di ping pong ke beberapa nomor oleh mesin penjawab otomatis. Proses aktivasi baru berhasil dilakukan, setelah si Kawan mencoba menghubungi salah satu nomor Call Centre yang mengenakan biaya 300 rupiah untuk satu kali panggilan. Menjengkelkan, ungkapnya.

Pengalaman kedua datang dari seorang Kawan yang beberapa waktu lalu membeli sebuah perangkat iPhone 4, yang ditawarkan dengan harga cicilan tertentu. Bundling dengan Free akses Internet kecepatan tinggi operator kuning. Dari pemaparan awal yang dijelaskan dalam paket hanyalah soal kemampuan Kuota yang memang mencapai volume Giga Bytes. Satu ukuran volume yang cukup besar tentu saja, mengingat dari segi aktifitas ia meyakini gag bakalan bisa melewati Kuota tersebut.

Sayangnya si Kawan tidak diberitahukan soal efek dari kelebihan Kuota yang kelak bakalan dipergunakan. Dengan kecepatan tinggi yang mampu diklaim oleh operator tersebut, tentu saja Volume yang tersedia dan dapat dipergunakan, dengan cepat disedot habis dalam waktu 10 hari saja. Sehingga sisa sekian hari yang dilakoni oleh si Kawan, tentu menghabiskan volume data yang tidak kalah besarnya, yang rupanya dikenai biaya tambahan sesuai tarif normal yang berlaku. Terkaget kaget dengan besaran pulsa yang dihabiskan, akhirnya si Kawan memilih untuk berpindah ke lain Operator.

Pengalaman ketiga datang dari seorang Kawan yang membeli perangkat BlackBerry Bundling dengan tarif murah milik operator biru yang menyatakan cukup bayar sekali untuk penggunaan selama tiga bulan kedepan. Adapun kemampuan yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna adalah fitur browsing dunia maya, BBM, social media hingga fasilitas push email. Sebuah tawaran yang tentu saja menggiurkan baginya.

Sayang beribu sayang, setelah puas menikmati paket data bulan pertama, tidak demikian halnya dengan bulan kedua dan seterusnya. Selain proses pengiriman pesan BBM yang lemot, terkadang sinyal internet yang diharapkan tak jua kunjung tiba. Hal ini tentu saja berakibat fatal pada lepasnya beberapa tawaran pekerjaan yang sebetulnya dapat diambil apabila koneksi internet berfungsi dengan baik sebagaimana harapannya.

Tiga pengalaman buruk yang sempat kami kumpulkan diatas, rasanya tak imbang jika belum mengungkap satu pengalaman baik yang secara kebetulan penulis alami secara langsung saat mengambil perangkat Tabletpc Samsung Galaxy Tab 7+ di awal tahun ini.

Berdasarkan keterangan bundling, paket layanan data yang didapatkan cukup menarik hati yaitu Free Internet Unlimited dari operator biru selama 6 bulan kedepan dari tanggal aktivasi (hingga kini masih berlaku hingga bulan Oktober 2012), dengan besaran kuota 1 GB setiap bulannya. Yang ternyata, memang benar dapat dinikmati tanpa harus membeli pulsa dengan nilai tertentu. Tidak perlu membayar biaya tambahan ketika penggunaan melebihi Kuota, atau mengalami proses aktivasi yang berbelit belit.

Meski dalam dua minggu pertama penulis sempat mengalami sinyal blank di beberapa lokasi penggunaan, bahkan sempat pula mengajukan dua kali komplain lewat akun Twitter, namun sejauh ini kinerja operator tersebut sangat memuaskan mengingat koneksi selama tiga bulan terakhir lebih kerap hadir di kecepatan tinggi. Jadi, tidak semua operator loh ya yang bisa dipertanyakan komitmennya. :p

Menarik satu benang merah yang sekiranya dapat mengambil sedikit kesimpulan dari empat pengalaman diatas adalah ungkapan ‘ada harga tentu ada kualitas’. Jangan pernah berharap bahwa layanan data Gratis yang ditawarkan oleh masing masing operator yang dibundling dengan paket mobile phone akan menguntungkan konsumen atau pengguna tanpa persyaratan lainnya, mengingat operator tentu saja tetap ingin mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut. Yang jika boleh kami sarankan agar pengguna mampu bersikap lebih bijak akan banyaknya penawaran menarik terutama berbau gratis dan Free ketimbang mendongkol dan menyesal nantinya.

Sony XPeria U, Android Menengah Kelas Ekonomis

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa waktu lalu kami sempat menghadirkan Sony XPeria S di halaman Tekno Koran Tokoh sebagai perangkat High End pertama milik Sony yang tampil tanpa kolaborasi dengan brand ternama Ericsson. Kini Sony mulai tampil percaya diri kembali untuk hadir di kelas Menengah dengan seri XPeria U. Apa saja kelebihan yang bisa dihandalkan, yuk kita intip.

Datang dengan desain persegi yang tak jauh berbeda dengan seri sebelumnya, Sony XPeria U hadir dalam dimensi yang lebih kecil lantaran mengadopsi layar sentuh 3,5”. Bandingkan dengan seri XPeria S yang tampil dalam layar 4,3”. Mengusung besaran resolusi yang setara dengan Arc series 480×854 pixel 16 M warna multi touch, tak lupa menyertakan teknologi Bravia Engine untuk tingkat kecerahan yang lebih baik dibandingkan kompetitornya.

Salah satu keistimewaan desain yang hadir dalam perangkat XPeria U terletak pada list transparan warisan Pureness, ponsel premium Sony yang memiliki layar tranparan fenomenal itu, yang mampu berubah warna sesuai warna tampilan dominan pada layar. Tak hanya itu, bodi cap bagian bawah pun tampaknya dapat diganti sesuai selera pengguna untuk memberikan rasa dan selera yang berbeda. Tersedia dua warna dalam paket penjualan yang bisa digunakan. Hitam dan Putih atau Hitam dan Pink.

Selain tombol power, rocker, lubang mic serta microUSB sebagai charger, disediakan pula tombol tambahan untuk shutter yang dapat dimanfaatkan saat melakukan pengambilan gambar lewat kamera. Apabila dalam seri XPeria S Sony mengandalkan besaran kamera 12 MP, dalam seri kali ini cukup menjual dengan resolusi 5 MP saja. Ini kurang lebih setara dengan para kompetitornya dalam rentang harga yang sama di kisaran 2,75 Juta seperti Samsung Galaxy Ace dan W, LG Optimus Black dan HTC One V. Didukung pula dengan fitur autofocus dan lampu LED Flash serta Image Stabilization untuk mengambil gambar yang lebih baik. Tidak hanya itu saja, untuk resolusi perekaman video yang mampu dilakukan oleh XPeria U pada kamera utamanya sudah mencapai 720p @30 fps. Sedangkan kamera sekunder untuk kebutuhan video call hanya memiliki kekuatan hingga VGA saja.

Mengusung sistem operasi Android versi 2.3.7 Gingerbread, Sony XPeria U masih tetap mengandalkan tampilan User Interface lama yaitu Timescape baik dalam bentuk homescreen maupun beberapa widget lainnya. Dalam beberapa bulan kedepan, kabarnya seri ini bakalan mendapatkan upgrade ke versi 4.0 Ice Cream Sandwich seperti halnya XPeria lainnya.

Untuk kecepatan dapur pacu Sony XPeria U telah dibekali dengan prosesor Dual Core 1 GHz serta 512 MB Memory RAM. Saat kami uji, hasil Benchmarking dengan memanfaatkan aplikasi AnTuTu menunjukkan angka 4430 jauh melampaui perangkat Samsung Galaxy S serta Nexus S. Cukup memuaskan memang, apalagi jika soal kinerja jauh lebih dipentingkan. Padahal untuk para kompetitornya tadi, tak satupun yang mampu mencapai hasil tersebut.

Sayangnya, kinerja tersebut tak sebanding dengan ruang space memory yang disediakan yaitu hanya sekitar 4 GB saja (3 GB shared), tanpa dilengkapi dengan slot memory tambahan lagi. Hal ini bisa jadi menjadi nilai minus terutama bagi para pengguna yang terkadang suka menyimpan berbagai file format Multimedia yang biasanya membutuhkan ruang space lebih besar. Namun apabila Kawan sudah merasa cukup dengan fungsi perangkat hanya untuk penggunaan aplikasi serta games saja dan multimedia seperlunya, barangkali soal keterbatasan ini tidak lagi menjadi masalah besar sehingga layak untuk dijadikan pilihan.

HTC One V, Hero dari kelas Menengah

Category : tentang TeKnoLoGi

One Series, merupakan ponsel Android generasi terbaru dari HTC, sebuah brand ternama asal Taiwan, yang rencananya bakalan masuk di berbagai lini pasar secara bertahap. Setidaknya ada dua seri yang mendapat kesempatan pertama untuk hadir dihadapan publik. HTC One X dan HTC One V.
Untuk seri pertama yang kami sebut diatas merupakan perangkat high-end milik HTC yang memiliki kekuatan prosesor empat inti dengan harga jual yang tergolong tinggi pula untuk ukuran budget rata-rata orang Indonesia. Sedang yang terakhir, merupakan perangkat Android milik HTC kelas Menengah dan ditawarkan dengan harga jual yang lebih bersahabat.

Di rentang harga yang sama, One V bakalan bersaing dengan perangkat Samsung Galaxy W, Sony Xperia U dan LG L7 yang notabene memiliki spesifikasi jauh lebih baik. Lantas jualan apa yang mampu dipersiapkan oleh HTC untuk menghadapi para kompetitornya kali ini ? yuk simak paparannya.

Memiliki desain unibodi yang sedikit melengkung di sisi bawah perangkat, sempat mengingatkan kami pada perangkat HTC Hero dan Salsa yang dahulu sempat tampil di awal perkenalan sistem operasi Android pada publik. Tampaknya tujuan pembentukan ini adalah untuk memudahkan pengguna saat melakukan pembicaraan atau bisa jadi demi memberi ruang pada kisi kisi speaker yang terletak di belakang bodi. Yang meskipun dalam kondisi tergeletak diatas meja, suara sound ataupun nada panggil masih dapat terdengar dengan baik.

Desain perangkat seperti ini tentu saja memiliki satu kelemahan yang barangkali kelak bakalan sedikit merepotkan pengguna, terutama jika ingin melepaskan batere yang memang tidak akan mampu dilakukan. Desain yang sama, terlihat pada perangkat Tablet milik HTC, Flyer dimana untuk menyematkan kartu sim card dan juga memory eksternal, pengguna cukup menggeser sedikit penutup yang berada di lekukan bawah perangkat.

Secara penampilan luar, HTC One V tergolong minimalis. Di sekeliling bodi, hanya terdapat dua tombol fisik yaitu Power dan Volume, ditambah dua buah port, audio dan charger micro usb. Sedangkan untuk akses operasional ponsel, terdapat tiga tombol haptic atau sentuh yang berfungsi sebagai Back, Home dan Multitask. Tiadanya tombol sentuh Pilihan yang biasanya dihadirkan pula pada perangkat Android lainnya, cukup menyusahkan pengguna untuk mengakses sejumlah opsi Pilihan pada beberapa aplikasi tertentu.

Masuk kedalam pengoperasian, Pengguna disuguhkan dengan tampilan baru pada bilah menu di sisi bawah layar Homescreen dimana tampilan icon yang akan hadir dalam setiap halaman depan, dapat dikustomisasi sesuai keinginan pengguna seperti halnya perangkat iOS. Selain itu, terdapat pula fitur pengelompokkan aplikasi ataupun games kedalam folder terpisah yang lagi-lagi mengadopsi teknologi yang sama. Serta tambahan tombol sentuh Multitasking yang dapat dimanfaatkan untuk menutup aplikasi atau games secara permanen dengan cara menggesernya kearah samping kanan dari tampilan.

Demikian halnya saat melakukan aktivasi perangkat pertama kali, pengguna akan diberikan Bonus berupa space sebesar 25 GB pada akun Dropbox secara gratis selama masa aktif 2 tahun. Sekedar informasi bahwa Dropbox merupakan salah satu bagian dari teknologi Cloud Computing, dimana penyimpanan file dapat dilakukan di awan (dunia maya), Sehingga dapat diakses dari manapun dan kapanpun dibutuhkan.

Untuk fitur incoming calls setidaknya ada tiga teknologi yang disematkan didalam perangkat HTC One V ini. Yaitu ‘Quite ring on pickup’ fitur untuk menonaktifkan nada panggil saat ponsel diambil oleh pengguna, ‘Pocket Mode’ fitur untuk mengeraskan nada panggil saat berada didalam tas atau saku, dan ‘Flip for Speaker’ fitur aktivasi Speaker mode dengan cara membalikkan perangkat.

Pada pengaturan Display atau layar terdapat opsi untuk memperbesar dimensi huruf atau font yang dipergunakan, ditambah opsi pengaturan LED Flash untuk mengatur datangnya notifikasi bagi enam fitur utama. Missed Call, sms/mms, email, Voice mail, Reminders dan Alarms.

Sedangkan dalam pengaturan Daftar Kontak, terdapat opsi untuk melakukan pemblokiran panggilan pada nama-nama yang diinginkan sehingga pengguna tak lagi repot menginstalasi aplikasi tambahan hanya untuk melakukan fungsi tersebut. Menarik bukan ?

Mengusung sistem operasi Android terkini versi 4.0.3 Ice Cream Sandwich dipadu dengan User Interface HTC Sense 4.0, tampaknya lumayan menghabiskan resources Memory RAM, dimana dalam kondisi default perangkat lebih sering menyisakan ruang dibawah 100 MB dari 512 MB yang tersedia. Ini jelas sedikit merepotkan saat perangkat akan digunakan untuk beraktifitas multitasking mencakup office applications dan lainnya. Mungkin itu pula sebabnya bahwa sistem Caroussel yang biasanya hadir pada UI dan Menu HTC lainnya, kini dihilangkan demi menghemat memory RAM yang tersisa.

Tidak hanya itu, minimnya memory storage yang tersedia pada internal ponsel, meskipun diatas kertas memiliki spesifikasi 4 GB internal storage (3 GB shared), terpantau saat kami melakukan uji coba pengiriman data melalui koneksi Bluetooth. Rupanya untuk besaran storage yang disediakan pada internal perangkat hanya sekitar 95 MB saja, sehingga kami agak mengalami kesulitan saat berusaha mengirimkan file atau data yang memiliki kapasitas lebih dari volume yang disediakan, meskipun telah dilakukan penghapusan data storage ponsel secara permanen.

Dari hasil uji Benchmark yang kami lakukan pada perangkat One V dengan tiga aplikasi berbeda, terpantau nilai sebesar 2767 untuk uji dengan AnTuTu, 2018 untuk uji dengan Quadrant dan 3259 untuk uji dengan DX Toolbox. Skor tersebut rata-rata berada jauh dibawah Samsung Galaxy S dan Galaxy Tab seri pertama yang memiliki spesifikasi setara. Entah mengapa.

Namun diluar semua kelemahan dan kelebihan dalam pengoperasian diatas, sebenarnya ada dua inovasi Teknologi yang diadopsi oleh HTC One V yang patut kita acungi jempol.

Pertama ada Beats Audio. Seperti halnya perangkat HTC lainnya pasca seri Sensation XE, kualitas sound yang apik bakalan dihadirkan demi memuaskan hasrat pengguna Android yang kerap mendengarkan musik di kala senggang. Untuk itulah kabarnya HTC telah resmi mengakuisisi Beats untuk melengkapi portofolio mereka. Sayangnya, pada headset yang disertakan dalam paket pembelian, tak lagi menyertakan logo Beats yang telah menjadi jaminan mutu bagi penikmat Audio.

Saat kami uji dengan memainkan beberapa karya orkestra milik Yanni hingga musisi tradisional Gus Teja, terasa benar megahnya audio yang disemburkan dari lubang speaker di sisi belakang bodi. Apalagi saat headset ditancapkan kedalam port 3,5”, makin terdengar mantap tanpa pecah meski volume sudah dimaksimalkan.
Inovasi teknologi kedua, ada ‘Simultaneous HD video and image recording. Selain kualitas Audio yang nyaris sempurna, salah satu kebanggaan yang coba ditawarkan HTC pada ponsel Androidnya kini adalah kemampuan untuk melakukan perekaman video berkualitas HD 1280p 30 fps, sembari mengambil gambar yang mampu melakukan face dan smile detection secara bersamaan dengan mengandalkan resolusi lensa 5 MP ditambah lampu LED Flash.

Selain itu tersedia pula fitur Continuous Shot, dimana lensa kamera dapat melakukan pengambilan gambar secara kontinyu hingga 20 frame tanpa jeda untuk mengabadikan objek bergerak demi mendapatkan tampilan terbaiknya. Teknologi serupa tampaknya juga ditanamkan pada perangkat One X yang tentu saja memiliki banyak kemampuan lebih lainnya.

Untuk memudahkan pengguna memilih sejumlah effect saat pengambilan gambar, pada layar capture telah disediakan opsi untuk mengakses semua fasilitas tersebut secara cepat, meliputi Distortion, Vignette, Dots, Mono, Country, Vintage, Grayscale, Sepia, Solarize dan Posterize. Sedang untuk mode Scene selain Panorama, terdapat pula opsi pengambilan objek secara group dan Close Up.

Demi mendukung dua kemampuan dashyat perangkat ponsel Android tersebut, HTC membekali perangkat One V dengan daya sebesar 1500 mAh. Dengan kapasitas ini, perangkat mampu melakukan Talk Time hingga 10 jam lamanya. Sedang untuk kebutuhan standby dengan penggunaan normal, dalam satu kali charge mampu bertahan hingga satu setengah hari.

Dengan kisaran harga 2,9 juta rupiah, besaran prosesor satu inti 1 GHz tampaknya memang masih tergolong mahal untuk ditebus. Sementara beberapa kompetitor seperti yang disebutkan diatas tadi, sudah mengusung besaran 1,4 GHz hingga Dual Core demi memuaskan kinerja yang diharapkan oleh pengguna. Namun bagi Kawan yang mengutamakan kedua terobosan inovasi teknologi pada fitur Multimedia seperti yang kami sebutkan diatas, agaknya HTC One V bisa dijadikan alternatif pilihan berikutnya.

Samsung Galaxy Tab 7.7 GT6800, si Ramping yang Bertenaga

Category : tentang TeKnoLoGi

Diantara perangkat TabletPC yang pernah dirilis oleh vendor besar Samsung, barangkali hanya yang satu ini tampak memukau bagi mata siapapun yang melihatnya. Secara dimensi tampak sedikit lebih lebar dibanding sejawatnya namun masih mampu digenggam nyaman dengan dua tangan. Lahir dan besar dari Galaxy Tab series, satu nama yang kini telah menjadi jaminan mutu bagi para konsumen yang menginginkan perangkat pintar namun powerful. Samsung Galaxy Tab 7.7.

Dari segi penamaan yang memang biasanya diadopsi dari lebar diagonal layar, tampaknya Samsung memang benar-benar menginginkan menjadi yang terdepan diantara semua vendor dengan mengandalkan nama besar Android saat ini. Masuknya dimensi 7.7 seakan melengkapi barisan TabletPC milik Samsung yang selama ini sudah dikenal lebih awal lewat dimensi 7, 8.9 dan 10.1.

Mengandalkan layar lebar dengan resolusi 1280 x 752 pixels dan Super AMOLED Plus menjadikan Samsung Galaxy Tab 7.7 tampil sejernih Galaxy Note yang memang sudah lebih dulu menggunakannya. Meski kabarnya belum mampu menyaingi indahnya Retina Display milik the New iPad namun saat digunakan untuk memutar beberapa video High Definitions atau bekerja dengan office documents, tampak jelas perbedaannya dengan sejumlah perangkat TabletPC yang pernah mampir di meja kami.

Dibandingkan sang adik Galaxy Tab 7+, secara dimensi panjang bisa dikatakan setara, Cuma beda-beda dikit. Namun secara lebar ada penambahan sekitar 1 cm sehingga saat berusaha kami genggam dengan satu tangan memang memerlukan sedikit pembiasaan lantaran selama ini ukuran layar 7 inchi masih merupakan yang terbaik untuk urusan mobile, setidaknya bagi kami. Akan tetapi jika dilihat dari ketipisannya yang hanya 7,9 mm jujur saja sempat membuat kami agak khawatir bakalan mematahkannya. Tentu saja kami bercanda untuk yang satu ini. Tipisnya Samsung Galaxy Tab 7.7 menjadikannya sebagai TabletPC teramping dan teringan dari yang pernah ada, bahkan dari New iPad sekalipun.

Meski tergolong tipis dan ringan, jangan salah sangka jika lantas mencoba bicara soal kecepatan dan dapur pacu. Menggunakan prosesor dual-core 1.4 GHz ARM Cortex-A9 dan GPU Mali-400MP ditambah Memory RAM sebesar 1 GB, bisa dikatakan setara dengan perangkat ponsel Galaxy Note yang memiliki besaran layar 5,3 inchi. Saat kami uji keduanya dengan menggunakan aplikasi Benchmarking AnTuTu dan Quadrant, hasil yang terpantau nyatanya sedikit melampaui dari yang diperkirakan. Sekitar 6578 untuk AnTuTu dan 3242 untuk Quadrant. Lebih baik dari Galaxy Note.

Sayangnya, Samsung Galaxy Tab 7.7 yang mumpuni dari segi kecepatan dan dapur pacu tidak dibarengi dengan besaran atau resolusi kamera yang digunakan. Masih tetap mengadopsi lensa 3,2 MP layaknya tiga seri Galaxy Tab 7 lainnya. Meski demikian untuk kualitas capture baik foto dan video yang sudah mencapai 1280p 30fps, tentu saja tidak usah diragukan lagi.

Lantaran dirilis sekitar bulan September tahun 2011 lalu, untuk persoalan Sistem Operasi, Samsung Galaxy Tab 7.7 ternyata masih dibekali dengan Android versi 3.2 Honeycomb. Sedikit berbeda dengan OS yang disematkan pada Galaxy Tab 7+, baik pada halaman Menu dan juga Homescreen memiliki fitur penambahan folder yang mampu mengelompokkan beberapa shortcut aplikasi dan juga games sesuai kategori tertentu. Menjadikan tampilan sedikit lebih rapi dan teratur. Fitur ini mirip dengan penambahan folder yang dimiliki oleh perangkat berbasis iOS. Kabarnya pada bulan Agustus 2012 ini bakalan mendapatkan opsi Upgrade menuju Ice Cream Sandwich 4.0. satu kabar yang sangat ditunggu-tunggu pun demikian dengan pengguna Galaxy Tab series lainnya.

Dalam kondisi default, terdapat sedikitnya lima halaman Homescreen dengan grid 8 x 6 yang dapat dinikmati oleh pengguna sebagai tampilan utama yang dapat dikostumisasi sesuai keinginan. Selain Samsung Apps yang secara rutin hadir di setiap perangkat Android milik Samsung, terdapat pula penambahan aplikasi Games Hub, Reader Hub dan Sosial Hub yang dapat difungsikan untuk beragam aktifitas. Tersedia pula dua aplikasi Memo yang dapat difungsikan dengan cara mengetik memanfaatkan virtual keyboard maupun dengan goresan tangan ataupun stylus tambahan.

Perangkat yang kami dapatkan kali ini rupanya memiliki internal Storage lumayan lega, yaitu sekitar 32 GB. Jika masih kurang, slot memory eksternal yang mampu mendukung microsd hingga 32 GB pun siap digunakan. Meski sudah tergolong besar, dalam tiga varian yang ditawarkan terdapat pula opsi 64 GB yang dapat dipilih tentu dengan harga jual yang sedikit lebih mahal.

Untuk mendukung semua kelebihan dan kinerja maksi yang disajikan Samsung Galaxy Tab 7.7 diatas, pasokan daya yang diadopsipun cukup besar, 5100 mAh. Dengan penggunaan normal, dalam sekali charge perangkat ini mampu bertahan hingga satu setengah hari lamanya. Tentu akan berbeda nantinya bergantung pada aktifitas yang dilakukan oleh pengguna.

Bagi Kawan yang menginginkan sebuah perangkat TabletPC yang powerful, Samsung Galaxy Tab 7.7 bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan. Apalagi untuk urusan telepon dan sms pun masih mampu diakomodir dengan baik.

BlackBerry 9320 aka Armstrong, 9220 versi 3G

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Pertengahan tahun 2010 lalu, publik Indonesia dihentakkan dengan kehadiran perangkat BlackBerry termurah yang mengadopsi Osv5, Gemini series 8520 yang pada akhirnya dilepas dalam dua versi. GSM dan CDMA. Hanya berselang tak sampai satu tahun, BlackBerry kembali merilis perangkat serupa yang dinamakan Curve 9300 yang memiliki kelebihan pada dukungan jaringan 3G, sementara spesifikasi lainnya cenderung sama.

Entah kebetulan atau tidak, dibulan yang yang sama dua tahun kemudian, beberapa saat pasca rilis Osv7, publik kembali dihadapkan pada kenyataan yang sama dengan sebelumnya. Blackberry 9220 aka Davis dirilis sebagai perangkat terkini yang termurah dan kabarnya digadang-gadangi menggantikan keberadaan Gemini terdahulu. Dan berselang hanya satu bulan, kembali merilis versi 3G, BlackBerry 9320 aka Armstrong.

Secara penampilan antara Armstrong 9320 dengan pendahulunga Davis 9220, rasanya tak tampak banyak perubahan yang bisa dijumpai kecuali list lapisan logam yang berada di sekeliling bodi. De Ja Vu ? yak, perbedaan inipun pernah terjadi antara penampilan Blackberry Curve 9300 dengan Gemini 8520. Perbedaan baru terlihat jika dilihat dari sisi belakang perangkat dimana lensa kamera BlackBerry 9320 kini dilengkapi dengan lampu LED Flash sebagai penerang bantuan saat mengambil gambar. Mengusung resolusi yang sedikit lebih baik, 3,15 MP demikian halnya jika ditilik dari segi hasil.

Untuk kecepatan dapur pacu kelihatannya BlackBerry 9320 aka Armstrong tak jauh berbeda dengan versi terdahulu. Menggunakan 512 MB RAM dan 512 MB ROM rasanya sudah cukup menjadi jaminan untuk mendukung OS v 7.1 yang memiliki penampilan jauh lebih dinamis dan berwarna. Spesifikasi ini kurang lebih sama dengan perangkat Blackberry berlayar sentuh versi awal, Torch 9800 yang tampaknya masih menjadi favorit hingga kini.

Tampil dalam resolusi layar 320×240 pixel TFT 65K warna, merupakan standar terbawah dari sebuah perangkat ponsel pintar dan hadir tanpa teknologi layar sentuh. Terdapat lima panel yang berdampingan pada halaman Homescreen yaitu All, Favorites, Media, Downloads dan Frequent. Pembagian ini tentu untuk memudahkan pengguna dalam beraktifitas dengan perangkat tanpa perlu mencari satu persatu keberadaan fitur serta aplikasi yang diinginkan.

BlackBerry bisa dikatakan sangat identik dengan keberadaan BlackBerry Messenger atau yang lebih dikenal dengan istilah BBM. Dalam perangkat 9320 ini Research In Motion atau RIM selaku pengembang sistem operasi BlackBerry menyertakan versi teranyar 6.1 yang dilengkapi dengan fitur BlackBerry Connect. Untuk lebih memudahkan akses menuju aplikasi ini, di sisi kiri perangkat telah disediakan tombol akses cepat atau shortcut yang fungsinya dapat pula diubah dari menu Options didalam perangkat.

Untuk mendukung kinerja, BlackBerry 9320 aka Armstrong dibekali daya tahan batere sebesar 1450 yang secara hitung-hitungan sedikit lebih besar ketimbang pendahulunya 9220 aka Davis. Meski demikian, untuk urusan online secara kontan tentu saja besaran daya ini membutuhkan setidaknya dua tiga kali charge dalam sehari, bergantung pada jenis aktifitas yang dilakukan.

Dalam paket penjualannya, disertakan pula memory eksternal dan kabel data yang dapat digunakan untuk melakukan sinkronisasi perangkat dengan pc/notebook. Sedang aplikasi PC Suite BlackBerry Desktop manager tampaknya harus diunduh secara manual dari halaman resmi milik BlackBerry.

Dengan harga jual di kisaran 2,6 juta rupiah, BlackBerry 9320 akan Armstrong tampaknya bakalan bersaing dengan dua OS kompetitor lainnya yaitu Android yang hadir lewat perangkat Samsung Galaxy Ace Plus dan Sony Xperia U serta Windows Mobile lewat Nokia Lumia 710, yang secara spesifikasi dan kemampuan memiliki jaminan mutu lebih besar, hanya saja tanpa dukungan BlackBerry Messenger tentu saja.

BlackBerry 9360 Apollo, OS7 Menengah dengan NFC

Category : tentang TeKnoLoGi

Dari perwajahannya sebenarnya sudah bisa dikenali bahwa perangkat kembangan Research In Motion ini datang dari Curve series, ponsel BlackBerry yang diperuntukkan bagi kelas menengah ke bawah. Namun apabila dibandingkan dengan seri Curve sebelumnya, banyak perubahan yang kami temui kali ini.
Untuk image perangkat BlackBerry yang selama ini dikenal dengan dimensi yang berat dan lebar, agaknya boleh dikesampingkan mengingat secara ketebalan ponsel hanya berkisar 11 mm dengan berat yang tak sampai 100 gram. Bagi yang sudah terbiasa dengan ponsel berkeypad qwerty barangkali bakalan merasakan perbedaannya. Bahkan kami sendiri masih belum percaya jika ponsel yang kami Review kali ini merupakan salah satu dari enam rilis BlackBerry terkini.

Mengambil codename Apollo, BlackBerry 9360 sejauh ini merupakan perangkat berbasis Osv7 yang termurah di tingkat menengah, sangat pantas dimiliki bagi mereka yang merupakan die hard BlackBerry dengan budget terbatas, ataupun pengguna pemula yang menginginkan perangkat BlackBerry tanpa lemot.

Mengusung jaringan 3,5 G HSDPA agaknya sudah menjadi satu jaminan mutu bahwa secara network yang kelak bakalan digunakan tak lagi mengalami keterbatasan akses. Tidak cukup hanya mengandalkan koneksi wireless Bluetooth dan WLAN, BlackBerry 9360 Apollo bahkan telah dibekali pula dengan teknologi NFC atau Near Field Communications. Sebuah teknologi terkini yang memungkinkan pengguna berbagi file dengan cara mendekatkan perangkat saja.

Dengan harga jual dibawah 3,5 juta rupiah, pengguna diharapkan sudah cukup puas dengan layar non-touchscreen berkekuatan 16 juta warna 480×360 pixel, jauh lebih baik dibanding seri Curve sebelumnya. Mengingat versi sistem operasi yang didukung sudah 7.1 maka secara tampilan yang disajikan pun jauh lebih berwarna dan dinamis. Cukup memberi penyegaran bagi mata pengguna yang dahulu dipaksa untuk berhadapan dengan kesan serius.

Dibekali lensa kamera utama sebesar 5 Mega Pixels lengkap dengan LED Flash tanpa tambahan kamera kedua, BlackBerry 9360 Apollo kali ini sudah bisa berbangga dengan kemampuan tambahan perekaman video yang beresolusi VGA. Dari beberapa kali uji coba yang kami lakukan, hasil perekaman gambar maupun video menunjukkan kualitas yang juga jauh lebih baik dari kamera seri BlackBerry sebelumnya.

Untuk mendukung kinerja ponsel serta memudahkan aktifitas pengguna, BlackBerry 9360 Apollo siap mengerahkan daya upayanya dengan cpu prosesor 800 MHz, sebuah ukuran yang sebenarnya bukan merupakan standar masa kini apabila disandingkan dengan ponsel lain di rentang harga jual yang sama. Sedangkan untuk media penyimpanan, sudah tergolong leluasa meski belum selega para kompetitornya. Storage internal diberikan 512 MB serta Memory RAM 512 MB. Inilah yang kemudian menjadi alasan kami untuk mengatakan perangkat BlackBerry tanpa lemot.

Sayang, banyaknya perubahan yang kami temui kali ini tidak dibarengi dengan penambahan daya tahan perangkat yang hanya dibekali standar battery Li-Ion 1000 mAh, sebuah kapasitas yang bagi kami masih tergolong kurang untuk dapat memacu perangkat secara optimal. Dalam sekali charge penuh, BlackBerry 9360 Apollo hanya dapat bertahan beberapa jam saja mengingat secara kebutuhan, perangkat berada dalam posisi online. Sehingga pengguna memerlukan dua tiga kali Charge dalam sehari layaknya ponsel pintar lainnya. Untuk itu, Kami rekomendasikan bahwa pengguna wajib membawa serta kabel charger dalam tas untuk mengatasi kemungkinan terburuk lowbat.

Terkait minimnya daya tahan batere ini, di pasaran bisa ditemui beberapa battery non original yang berkekuatan dua setengah kali lipatnya disertai dengan cover belakang perangkat untuk menutupi keberadaan battery. Jika opsi ini diambil, maka bisa ditebak, baik dari dimensi ataupun berat perangkat barangkali gag akan berkesan lagi bagi para penggunanya.

Tablet Vandroid T2 Android Murah Rasa Lokal

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Demam akan sistem operasi si Robot Hijau rasanya sudah kian menjadi. Dikatakan demikian lantaran semakin banyak saja Vendor baik global dan lokal yang merilis perangkat berbasis sistem operasi Android dengan berbagai rentang harga dan kemampuan. Dari High End hingga Entry level atau Pemula.

Jika selama ini kami lebih merekomendasikan perangkat level Menengah sebagai pilihan bagi Kawan yang ingin merasakan bagaimana nikmatnya perangkat mobile berbasis Android, kini kami mencoba untuk hadirkan Tablet Android level bawah yang barangkali dapat menarik minat bagi mereka yang memiliki budget terbatas. Vandroid T2.

Secara dimensi, Tablet Vandroid T2 terlihat tak jauh berbeda dengan Samsung Galaxy Tab #2 7.0 yang tempo hari sempat kami Review, pun dengan list aluminium yang mengitari layar demikian halnya dengan ketebalan perangkat. Hanya jika disandingkan saja bakalan terlihat perbedaan yang mencolok pada keberadaan empat tombol sentuh yang terdapat di sisi bawah layar. Bisa dimaklumi lantaran secara Versi OS yang dipergunakan masih mengadopsi Android 2.3 GingerBread. Uniknya, meski sudah terdapat empat tombol haptic tersebut, terdapat pula list Taskbar disisi atas layar yang memiliki manfaat sama yaitu mengembalikan aktifitas ke halaman awal (home), back serta volume up and down.

Mengusung prosesor berkecepatan tinggi 1 GHz dikombinasikan dengan besaran Memory RAM 512 MB (386 MB shared) rasanya untuk ukuran sebuah Tablet Lokal yang menyasar pangsa pasar Entry Level sudah cukup menjanjikan. Namun entah mengapa, persoalan layar sentuh yang disandang masih menghantui seperti Tablet Lokal lainnya. Membutuhkan dua tiga kali sentuhan yang sama dengan perangkat Samsung Galaxy Tab #2 7.0 untuk mendapatkan Respon atas tindakan yang Kawan inginkan. Bagi yang sudah terbiasa dengan cepatnya akses menu tentu hal ini Jadi sedikit menjengkelkan.

Urusan Storage rasanya Kawan memang harus berpuas diri dengan sedikit keterbatasan space yang disediakan, yaitu 4 GB (3 GB shared) dengan dukungan memory eksternal yang hanya mampu mencapai maksimal 16 GB saja. Keternatasan pula ditemukan pada resolusi kamera yang disandang pada punggung perangkat berkisar 2 MP tanpa lampu LED Flash. Uniknya selain mengadopsi port mini USB sebagai media charger ataupun bertukar data, Vandroid T2 menyediakan pula port mini HDMI disisi yang sama.

Menjanjikan sistem Plug and Play, Vandroid T2 tampaknya tak ingin membebani pengguna yang akan memanfaatkan perangkat Tablet baik sebagai modem ataupun storage penyimpanan data. Ketika perangkat disambungkan ke pc/notebook, dalam waktu singkat segera terdeteksi dengan baik dan perangkat Vandroid T2 pun siap dieksekusi.

Berhubung Vandroid T2 merupakan Tablet Lokal, dilihat dari segi penampilan halaman depan ataupun menu, hampir tak ada inovasi ataupun User Iinterface tambahan yang mampu membedakan perangkat dengan Tablet lainnya. Meski demikian dari beberapa aplikasi bawaan terdapat aplikasi Market tambahan milik vendor yang patut diapresiasi lantaran dapat dimanfaatkan untuk mengunduh ketersediaan aplikasi dan games dengan cara memotong pulsa.

Selain itu saat kami ujicoba pertama kali, terlihat beberapa aplikasi penting sudah berada di halaman menu seperti Documents To Go Viewer, Google +, FaceBook, eBook Reader, Explorer, Yahoo Mail and Messenger pula Flash Player. Yang terakhir kami sebutkan ini tampaknya memang amat jarang disematkan dalam perangkat Android murah, jadi tidaklah salah jika kami kemudian memberi nilai tambah untuk dukungan dan kemampuannya.

Namun belum lengkap rasanya jika perangkat Vandroid T2 belum melakukan test Benchmarking dengan memanfaatkan AnTuTu, hasilnya lumayan. Layar menunjukkan setidaknya terdapat poin sebesar 2394, setengah dari uji yang sama pada perangkat Samsung Galaxy Tab #2 7.0. Hasil ini berada diatas HTC Wildfire dan Hero yang memang memiliki spec teknis dibawah T2. Untuk membuktikannya memang sedikit terasa adanya lag atau jeda saat digunakan untuk memainkan games Angry Birds atau Cut The Rope.

Terlepas dari semua keterbatasan yang kami sebutkan tadi, dengan harga jual dibawah satu juta rupiah, agaknya keberadaan Tablet Vandroid T2 sangat layak dipertimbangkan. Apalagi untuk pangsa pasar Entry Level, T2 bakalan bersaing dengan beberapa Tablet milik IMO dan juga Axioo Pico 7 yang memiliki spec teknis sama namun harga yang sedikit lebih mahal. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan jejaring sosial atau memainkan beberapa games, T2 cukup mampu mengakomodirnya.