#HPjadul Venera V1 QWERTY Lokal Rasa Blackberry

Category : tentang TeKnoLoGi

Dalam setiap masa keemasan suatu produk yang booming di tanah air, selalu saja ada versi KW atau tiruan, dirilis oleh sejumlah pengusaha lokal tentu dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau meski harus mengabaikan soal kemampuan dan fungsionalitas yang bisa dilakukan.
Termasuk era ponsel BlackBerry.

BlackBerry mulai dikenal di pasar ponsel Indonesia, setidaknya saat seri Bold 9000 dirilis pada tahun 2008 silam. Saat itu, ada sejumlah fitur yang mulai banyak dilirik sebagai timbal balik harga jualnya yang cukup selangit. Dari bentukannya yang bulky gegara deretan keypad qwerty dengan tingkat kenyamanan extra leluasa, push email yang realtime dan gegas, BlackBerry Messenger yang mampu mengumpulkan sejumlah kawan dalam satu ruang chat, hingga TrackBall atau tombol gulir yang dikenal jauh lebih lincah dalam operasional ponsel ketimbang keypad 5 arah yang saat itu sudah terlanjur tenar lewat ponsel konvensional.

Keunikan-keunikan inilah yang kemudian rata-rata ditiru dalam setiap desain ponsel lokal rilisan jaman itu. Baik bentukan bodi dan layar yang melebar, pula keypad qwerty yang seabrek. Bahkan ada juga yang ikut menyematkan tombol gulir bahkan meniru plek desain beberapa ponsel seri BlackBerry lainnya. Salah satunya ya #HPjadul Venera Voyager V1 ini.
Fitur-fitur yang ditawarkan cukup lengkap untuk ukuran ponsel yang berbasis Java. Dari ketersediaan memory internal yang cukup lega, dukungan slot memory tambahan untuk penyimpanan musik dan video, juga browser opera mini untuk berselancar nyaman.

Ada banyak vendor yang ikut serta menjajal pangsa pasar ponsel qwerty semacam ini. Seperti Nexian, Imo, Mito atau Cross.

#HPjadul #lokal #china #blackberry #qwerty

#HPjadul BlackBerry 9810 Torch 2, qwerty slide dengan layar sentuh

Category : tentang TeKnoLoGi

BlackBerry saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Gegara perkenalan seri Bold 9000 yang fenomenal dengan tombol gulir, Blackberry Messenger atau yang lebih dikenal dengan BBM, dan juga kemampuan Push Email secara real time, membuat banyak vendor lainnya berlomba merilis ponsel dengan bentukan serupa. Termasuk Nokia.

Hampir 90% kawan di lingkungan saya berpindah haluan menggunakan BlackBerry. Berangkat dari kebosanan yang melanda saat bermesraan dengan ponsel Symbian Nokia series.
Entah karena kebutuhan kerja, sekedar trend ikut-ikutan eksis di BBM, atau malah tak paham cara memakai yang benar. Ada.

Demam BlackBerry makin menjadi saat vendor asal Canada itu mengembangkan sistem navigasi trackpad, menggantikan trackball atau tombol gulir yang sebelumnya menghiasi wajah ponsel dengan tingkat kenyamanan keypad qwerty yang luar biasa. Saya sendiri pada akhirnya ketularan menggunakan “BlackBerry” hanya demi mendapatkan kalimat ‘update status via FaceBook from BlackBerry’ yang saat itu menjadi satu gengsi tersendiri. Solusinya sederhana dan Gratis tanpa harus beli ponselnya. Ya, Simulator.

Salah satu Simulator yang saya gunakan saat itu adalah seri 9800 atau yang dikenal dengan Torch. Baru rilis beberapa minggu dari seri fisiknya. Sebuah ponsel pintar dari BlackBerry yang masih menggunakan tombol qwerty digabung dengan layar sentuh dan konstruksi slide, menyebabkan harga jual seri ini tergolong mahal di masanya. Aksi ini lumayan mampu menipu beberapa kawan yang hingga setahun berikutnya masih ngotot minta Pin BB agar bisa mengundang saya masuk dalam group Alumni sekolah.

#HPjadul BlackBerry seri 9810 atau Torch 2 dirilis setahun setelah seri pertama 9800 diluncurkan dan booming di pasaran. Pembaharuan spesifikasi muncul dengan sejumlah perbaikan yang sebelumnya dianggap mengganggu, utamanya pada akses layar sentuh yang memang merupakan teknologi baru bagi RIM.
Mengandalkan internal memory 8 GB dan prosesor 1,2 GHz (dua kali lipat dari seri sebelumnya) dan RAM 768 MB, BlackBerry 9810 mendapat suntikan OS BlackBerry 7.0 yang saat itu menjadi standar baku sejumlah seri lainnya.

Setelah menunggu selama 7 tahun, ponsel BlackBerry yang memiliki desain unik ini baru bisa terbeli dengan harga yang amat sangat terjangkau. 299 ribu di Tokopedia. Satu harga yang mengagetkan mengingat ponsel dalam kondisi Baru namun stok lama, dengan fisik mulus semulus paha dedek dedek gemes dengan hot pants. He em…

#HPjadul #Blackberry #9810 #Torch #RIM #touchscreen #slide #qwerty

#HPjadul Nokia 6820 Transformers Series Jaman Old

Category : tentang TeKnoLoGi

Untuk ukuran Jaman Old, Nokia merupakan satu-satunya vendor yang berani bermain di banyak desain ponsel sehingga tak heran bila pada Jaman Now banyak kolektor ponsel jadul memburu seri-seri apik mereka seperti halnya Transformer satu ini.

Diawali dengan duo seri 6800 dan 6810 yang diluncurkan hampir berbarengan, Nokia menawarkan ponsel dengan form factor candy bar seperti kebanyakan lainnya namun dilengkapi dengan engsel tambahan yang ketika cangkang dibuka, mampu mengubah fungsi ponsel laiknya communicator series, lengkap dengan keypad qwerty di kedua sisi layar. Ide yang briliant meski persoalan layar yang digunakan tergolong mini untuk ukuran ponsel dengan desain dan teknologi yang unik.

Baru pada seri 6820 yang diturunkan pada akhir Tahun 2003, beberapa gimmick ditambahkan demi mendukung aktifitas pengguna setia Nokia.
Dari lensa kamera CIF dengan fitur video, tambahan internal memory 3,5 MB, dukungan phonebook multientry, hingga konektivitas Bluetooth dan nada dering polyphonic. Dengan adanya tambahan internal memory, beberapa opsi downloadable pun dapat dilakukan pada seri ini.
Tidak lupa disematkannya dua tombol tambahan yang pada bentukan candy bar berada di kanan dan kiri sisi atas layar, sehingga saat ponsel berubah orientasi menjadi landscape, tombol tersebut menyempurnakan fungsi ponsel yang absen pada dua seri sebelumnya.

Nokia 6820 ini pada akhirnya dikembangkan lagi dalam sebuah perangkat kerja seri E70 yang dibekali dengan sistem operasi Symbian 60 3rd Edition dan fitur mumpuni lainnya tanpa meninggalkan teknologi yang diperkenalkan pada seri ini.

#HPjadul #Nokia #6820 #6800 #E70 #work #office #technology #qwerty

Gempuran Dashyat Nokia Sang Raja

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Gerah. Barangkali satu kata tersebut sudah bisa mewakili tindak tanduk Nokia, sang raja ponsel tanah air di sepanjang tahun 2010 lalu. Bagaimana tidak, gempuran tiga raksasa baru lengkap dengan ponsel dan sistem operasi terbaru mereka, Android, BlackBerry dan iPhone, tampaknya sudah cukup membuat kelabakan dengan berkurangnya kue konsumen yang selama ini dinikmati. Ditambah dengan curi-curi yang dilakukan sekian puluh brand ponsel China, yang kendatipun tak terlalu banyak mengambil jatah, namun akar mereka seakan menjalar tak pernah putus.

Lihat saja. Di sepanjang tahun 2010, Nokia sudah tak lagi merilis seri ponsel pintar berkeypad standar numerik. Terhitung tahun 2009, mereka berhenti pasca merilis seri N95 dan N96. Setelah itu, Nokia mulai terfokus pada seri berlayar sentuh seakan menjawab tantangan Android dan iPhone, serta ponsel berkeypad QWERTY untuk menjawab tantangan BlackBerry dan puluhan ponsel lainnya.

Tak kurang ada seri 5800 XM, 5530 XM, 5230, 5233, N97, N97 Mini, X6, C6, C7, N900 hingga N8 yang menyematkan 12 MP kamera berlensa Carl Zeiss, merupakan seri ponsel berlayar sentuh (beberapa diantaranya berkeypad qwerty sliding) dengan mengandalkan sistem operasi andalan mereka, Symbian 5th Edition yang diubah nama menjadi Symbian ^3 dan MeeGo.

Demikian halnya dengan seri C3, E5 dan X5 yang siap menyapa konsumen dengan keypad QWERTY berharga murah namun berfitur koneksi Wifi. Bahkan kabarnya untuk makin mendesak keberadaan ponsel China, Nokia berancang-ancang merilis seri X2-01 yang bakalan dibanderol dengan harga dibawah satu juta rupiah. Tunggu saja.

Kendati begitu, Nokia tampaknya tak melupakan beberapa seri yang sekiranya bakalan menarik hati para konsumen setianya, untuk mencoba seri C1-00 yang dikenal dengan fitur Dual Sim Card meskipun belum mampu aktif secara bersamaan, seri X3-02 yang mengawinkan input layar sentuh dengan keypad standar numerik, seri X2 yang menawarkan kamera beresolusi tinggi 5 MP dengan banderol harga murah, dan juga seri 2710 yang menawarkan sistem Navigasi built ini.

Beragamnya rilis ponsel Nokia di sepanjang tahun 2010 ini, tak lepas dari tujuan mereka sejak awal, merebut kue konsumen di semua lini. Baik tingkat pengguna pemula, menengah hingga ponsel pintar. Satu usaha yang patut diapresiasikan bukan ?

Nokia siap bunuh Ponsel Lokal

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Tak dipungkiri bahwa harga merupakan faktor utama yang dipertimbangkan oleh sebagian besar konsumen alat telekomunikasi pada pangsa pasar menengah ke bawah. Itu sebabnya beberapa vendor China dan lokal masih tetap setia merilis ponsel terbaru mereka dengan harga terjangkau, meski ada beberapa tipe yang dibuat secara khusus menyasar kaum menengah keatas.

Booming ponsel China dan lokal terjadi bisa jadi lantaran dari segi bentuk dan rupa hampir-hampir menyerupai beberapa ponsel kelas atas keluaran vendor ternama. Katakanlah BlackBerry Bold, Nokia E71 dan E72 bahkan iPhone. Selain itu didukung pula oleh beragam fitur yang dahulu barangkali hanya bisa didapatkan pada ponsel-ponsel tertentu saja. Memory Eksternal, koneksi internet hingga tv tuner dan dual sim card.

Harga yang murah, wajah yang keren ditambah beragam fitur terkini membuat ponsel China dan lokal begitu diburu ketimbang ponsel dari vendor ternama. Hal ini bahkan sempat membuat limbung vendor sebesar Sony Ericsson bahkan Motorola yang dalam satu kurun waktu tidak merilis seri ponsel mereka dengan harga bersaing.

Direbutnya sebagian pangsa pasar yang pernah dikuasai terdahulu membuat beberapa vendor ponsel mulai kegerahan. Demi mendapatkannya kembali LG dan Samsung memberanikan diri memulainya dengan merilis ponsel QWERTY dan layar sentuh mereka dengan harga dibawah 1,5 juta saja. Hasilnya bisa dikatakan lumayan, beberapa vendor China dan lokal yang dahulunya masih bertahan pada rentang harga 1 jutaan, mulai menurunkan harga jual mereka di kisaran 800ribuan.

Tidak ketinggalan Nokia selama dua bulan terakhir ini mulai ikut serta dalam ajang pertarungan, meski kalau boleh saya katakan agak terlambat. Adapun dua langkah mereka yaitu menurunkan harga ponsel QWERTY seri E63 ke rentang harga 1,5 juta dan mengisi kekosongan harga 1 jutaan dengan seri C3.

Nokia C3 seperti yang saya ulas beberapa waktu lalu, memberikan banyak kepuasan bagi penggunanya apabila dilihat dari sergi harga yang sangat terjangkau. Koneksi Internet yang didukung dengan Wifi, kamera 2 MP berfitur Timeline dan aplikasi Ovi Mail serta Ovi Market ditambah FaceBook yang dapat meng-upload foto layaknya ponsel kelas atas sudah cukup mewakili kebutuhan pengguna disamping akses menu dan pengoperasiannya yang gegas. Silahkan dibandingkan dengan pengoperasian ponsel China atau lokal.

Kehadiran Nokia C3 ini saya rasakan bakalan digunakan untuk membunuh keberadaan ponsel China dan lokal secara perlahan jika masih bertahan pada fitur yang dahulu pernah dibanggakan. Minimal menurunkan harga jual hingga kisaran 500ribuan. Apalagi kabarnya seri X5 yang pula memiliki desain QWERTY berkonsep sliding akan dirilis dengan harga dibawah 1,5 juta. Bentukan kotak kecil persegi bakalan mengingatkan kita pada desain ponsel China atau lokal (yang kebetulan juga meniru Nokia 7705).

Apakah Nokia mampu membunuh keberadaan ponsel China dan lokal ? kita tunggu saja.

Nokia C3 QWERTY Murah yang Tidak Murahan

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Tampaknya Nokia sebagai salah satu vendor ponsel terkemuka di Indonesia mulai gerah dengan booming ponsel lokal berkeypad QWERTY yang sejatinya diprakarsai oleh vendor BlackBerry. Meski demikian, Nokia bukanlah pendatang baru untuk pangsa pasar ponsel QWERTY. Dibuktikan dengan perilisan Nokia E61 dan E61i beberapa tahun lalu, diikuti oleh seri E71, E63 dan E72 yang dikenal dengan tombol navigasi trackpad.

Sayangnya kelima seri tersebut tampaknya belum mampu menjangkau pasar konsumen Indonesia yang sudah kadung terbuai dengan harga nominal sejutaan. Nominal yang rendah plus fitur yang beragam seperti tv tuner, dual kamera atau bahkan eksternal memory card. Selain ponsel lokal dan China, kesempatan ini baru bisa dijangkau oleh vendor sekelas LG dan Samsung saja.

Maka itu, Nokia C3 sejatinya dirilis untuk masuk kedalam pangsa pasar sejutaan ini dengan konsekuensi pengurangan beberapa fitur yang pernah mengisi Nokia seri E terdahulu. Diantaranya sistem operasi Symbian 60 dan tentu saja jaringan koneksi 3G. Dilepas dalam kisaran harga 1,1 juta yang bahkan saat promo terdahulu Nokia hanya mematok harga 800ribuan untuk bisa menebus ponsel ini dibawa pulang. Meski demikian murahnya, Nokia C3 bukanlah sebuah ponsel murahan yang barangkali malah menurunkan gengsi pemakainya.

Ditilik dari dimensi, Nokia C3 tidak begitu jauh berbeda dengan ponsel batangan Nokia lainnya, hanya sedikit lebar saja. Dibandingkan dengan ponsel Motorola Q cdma yang saya review sebelumnya atau bahkan perangkat BlackBerry, Nokia C3 jelas lebih kompak dan masih nyaman untuk digenggam dengan satu tangan atau dimasukkan ke saku kemeja.

Ada sedikit kekhawatiran bagi yang memiliki tangan dan jari besar ketika melihat bentuknya yang mudah digenggam, yaitu kenyamanan akses keypad yang sangat rapat tanpa jeda sedikitpun. Maka bersyukurlah pada struktur keypad yang dibuat sedikit menonjol, sungguh jauh lebih memudahkan bagi mereka yang memiliki jari besar.

Untuk pengoperasiannya, Nokia C3 mengandalkan Symbian 40 yang artinya hanya dapat didukung dengan aplikasi berformat java saja. Untuk mengakses menu sedikit banyak memiliki kemiripan dengan akses menu Nokia QWERTY Seri E, jadi bagi yang sudah kadung familiar saya rasa tidak akan menemui banyak kendala dalam penggunaannya.

Yang menarik adalah fitur kamera yang disematkan pada punggung ponsel ini. Meski menggunakan resolusi standar ponsel masa kini, Nokia menyediakan beberapa pilihan efek (sephia, negative, grayscale), self timer hingga pilihan untuk menon-aktifkan suara shutter saat mengambil gambar. Yang artinya, kamera dapat digunakan untuk mengambil gambar secara diam-diam. *PapaRATzzi mode ON. :p Sayangnya tak satupun tombol yang tersedia di sisi samping ponsel dapat digunakan sebagai tombol shutter seperti halnya ponsel Nokia berkamera lainnya. Jadi pengguna tetap harus menggunakan tombol navigasi untuk mengeksekusi gambar. Tambahan lainnya dari Nokia adalah disediakannya Timeline, dimana foto-foto yang dihasilkan dapat dilihat berdasarkan tanggal pengambilan gambar. Ini jelas akan memudahkan pengguna untuk mengingat kapan dan dalam momen apa foto tersebut diambil.

Dalam paket penjualannya, Nokia C3 tidak disertai dengan kartu memori eksternal, ini sangat disayangkan karena puluhan ponsel lokal lainnya meski dengan harga 500ribuan sekalipun, masih berkenan memberikan bonus memory tambahan sebesar 1 GB. Namun kalau hanya untuk penggunaan normal, memory internal sebesar 55 MB saya rasa sudah cukup untuk menyimpan beberapa nada dering, tema dan gambar. Untuk mengakses kartu memory, pengguna tidak harus membuka batere ponsel, jelas itu akan sangat memudahkan.

Nokia C3, ponsel QWERTY murah yang tidak murahan. Sekali lagi ini saya tekankan kembali mengingat dua hal mengagumkan yang disematkan secara built oleh Nokia. Pertama terkait koneksi data yang tidak hanya mengandalkan GPRS dan Bluetooth saja tapi juga Wlan atau yang dikenal dengan Wifi. Kedua terkait aplikasi FaceBook dan Twitter yang terintegrasi dalam icon Communities. Adapun aplikasi tersebut bukanlah berfungsi hanya sebagai sebuah launcher atau shortcut menuju halaman jejaring sosial yang fenomenal seperti halnya ponsel lokal atau China bahkan beberapa vendor lainnya, namun benar-benar berfungsi sebagai sebuah aplikasi dalam arti sebenarnya. Bahkan didalamnya terdapat fitur upload foto yang dapat diambil melalui galeri (gambar yang sudah tersedia) dan kamera (mobile upload seperti halnya fitur dalam perangkat BlackBerry atau Android). Mengagumkan bukan ?

Saatnya Berburu Ponsel Branded

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Melewati ruas jalan Teuku Umar Denpasar sabtu malam lalu, mata menangkap antusiasme pengunjung di beberapa konter kecil penjualan ponsel hingga sekelas Cellular City, BTC atau Handphone Shop. Saat kami kembali melewati ruas jalan yang sama 2 jam sesudahnya tampak pengunjung makin menyemut dan kendaraan yang mereka parkirkan disekitar lokasi sempat membuat kemacetan kecil saking banyaknya.

Tahun 2010 ini yang namanya ponsel QWERTY nampaknya masih menjadi trend di kalangan masyarakat. Serbuan brand lokal maupun China tampaknya mulai menggusur pasar beberapa merk branded yang dua tiga tahun lalu masih berkibar dengan kencangnya. Lambat laun brand sekelas Motorola bahkan Sony Ericsson harus mengakui bahwa kebutuhan pasar telah beralih begitu jauh hingga kedua brand tersebut tampaknya tidak mampu mengikuti pemasaran dalam rentang harga yang dikuasai sang lawan.

Maraknya pasar yang hampir dipenuhi ponsel bertipe QWERTY merupakan salah satu efek dari booming penggunaan jejaring sosial pertemanan di dunia maya FaceBook dan juga histeria pasar dalam menanggapi layanan BlackBerry yang lebih terfokus pada fitur Messaging dan Messenger. Beberapa brand lokal bahkan sudah mulai menawarkan fitur serupa (FaceBook dan Messenger) yang mampu digunakan dengan baik antar pemilik brand yang sama.

Poin Utama yang menjadi pertimbangan utama masyarakat lebih menyasar ponsel dari brand lokal ataupun China ketimbang branded adalah soal harga. Dengan kisaran 500ribuan hingga satu juta mereka siap menggelontor pasar dengan ponsel berfitur terkini (TV Tuner, kamera megapixel, java, multi tasking hingga koneksi wifi) kendati secara kualitas masih kalah jauh dibanding merk branded. Tapi siapa yang peduli ? Saya yakin setiap orang yang memutuskan untuk memilih ponsel brand lokal atau China ketimbang branded pasti sudah menyadari soal kualitas fitur maupun ponsel yang akan dibeli. Maka tidak salah jika umur ponsel tidak terlalu diharapkan mampu bertahan selama ponsel branded umumnya.

Pangsa pasar yang terlanjur diambil dan pelan mulai dikuasai membuat ponsel yang dirilis oleh merk branded secara perlahan mulai menurun hingga kisaran harga yang sudah terjangkau oleh kantong. Bandingkan dengan harga awal yang mereka rilis dahulu. Sudah jauh dari bayangan.

Bagi yang jeli dengan soal kualitas diatas tidak ada salahnya mengumpulkan pundi-pundi anggaran sedikit lebih tinggi dari standar harga ponsel brand lokal atau China. Mumpung sudah mulai terjangkau sepertinya kini saatnya untuk berburu ponsel branded.

Mau tahu apa saja pilihannya ? tunggu tulisan saya selanjutnya.

Ponsel Impian dari TREO hingga Windows Mobile

Category : tentang TeKnoLoGi

Ketertarikan saya pada perkembangan teknologi ponsel sebagai alat komunikasi tidak dipungkiri tercermin dari sebagian besar isi BLoG ini dan juga bahan bacaan yang saya lahap setiap harinya. Namun ketertarikan itu hanya sebatas ingin tahu fitur apa yang dimiliki, bagaimana memahami operasional atau pemeliharaannya dan tidak sampai sejauh menjadi seorang pakar ataupun teknisi ponsel. Hal ini mengundang ketertarikan orang akan satu pertanyaan yang kerap dilontarkan kepada saya. ‘Seperti apa sih ponsel Impianmu Nde ?’

Bicara ponsel impian, jika boleh saya merunut jauh kebelakang bahkan jauh sebelum histeria blackberry, iPhone atau ponselTV terjadi di Indonesia, salah satu wujud yang saya inginkan adalah memiliki keypad QWERTY. Namun fungsi yang saya harapkan waktu itu bukanlah Messaging ataupun FaceBook, Chat dll, tapi lebih pada kebutuhan pekerjaan. Selain itu, memiliki handset yang berbeda dengan apa yang dimiliki orang disekitar atau lingkungan saya adalah satu hal mutlak yang saya inginkan.

Tepatnya bulan April tahun 2003 InfoKomputer, sebuah malajah bulanan yang saya lahap dahulu menurunkan Liputan Utama mereka tentang PDA Konvergensi. Tentang perkembangan teknologi pada PDA yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai sebuah Organizer, sudah mulai merambah sebagai alat komunikasi dan juga multimedia. Kalo ga’salah waktu itu mereka mengulas tiga sistem operasi yang lazim digunakan pada PDA saat itu sebagai pendukung liputan, yaitu Windows Mobile, Palm dan Symbian UIQ.

http://www.techory.com/blog/wp-content/uploads/treo-history.jpg

http://www.techory.com/blog/wp-content/uploads/treo-history.jpg

Pada beberapa halaman terakhir liputan tersebut, diperkenalkanlah handset PDA yang mendukung kriteria konvergensi tersebut. Diantaranya HP iPaQ dan O2 mewakili OS Windows Mobile, Tungsten dan Treo mewakili OS Palm, serta Nokia dan Sony Ericsson mewakili OS Symbian UIQ. Bisa dibayangkan kekaguman saya akan beragam jenis handset ‘tak biasa’ ini. Beberapa diantaranya bahkan sesuai dengan impian saya. Katakan saja Treo 300 dan 600 merupakan piliahn pertama saya saat itu, mengingat dari segi harga masih bisa dijangkau. Saya tidak berani mengkhayalkan sebuah iPaQ atau O2 yang kisarannya waktu itu mencapai angka 6-7 jutaan.

Masalah utama yang muncul saat itu adalah tak satupun gerai ponsel yang ada diseputaran Kota Denpasar menyediakan handset seperti yang saya inginkan. Impian saya tersebutpun akhirnya saya pendam dan buang jauh-jauh hingga berselang dua tahun kemudian, saya akhirnya mampu mewujudkannya. Sebuah PDA yang tak berani saya khayalkan sebelumnya, akhirnya bisa saya gapai.

Apabila kini saya kemudian ditanyakan ‘Seperti apa sih ponsel Impianmu ?’ maka jawaban saya tetap sama. Minimal memiliki keypad QWERTY dan dengan bentuk yang tak biasa atau bahkan tidak sama dengan apa yang dimiliki oleh lingkungan saya. Namun ada satu kriteria lagi yang akhirnya patut ditambahkan setelah sekian lama menggunakan T-Mobile MDA yang merupakan varian dari O2 XDA II yaitu, OS Windows Mobile Pocket PC adalah hal mutlak.

http://www.gadgetreview.com/wp-content/uploads/2009/01/ice-phone-1.jpg

http://www.gadgetreview.com/wp-content/uploads/2009/01/ice-phone-1.jpg

the ICEphone… ponsel impian PanDe Baik

PonseL QWERTY ? Maaf, Saya Belum Tertarik

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Tidak dipungkiri bahwa kehadiran beragamnya ponsel lokal (baca:ponsel China) di tanah air, membawa satu perubahan kebiasaan para pengguna ponsel. Dari teknologi layar televisi dalam genggaman, teknologi layar sentuh, dua kartu sim, ponsel murah hingga terakhir demam BlackBerry. Untuk mewujudkan semua itu tak hanya satu dua brand yang siap bertarung dikancah pertempuran, merebut pangsa pasar yang selama ini dikuasai brand besar, tak sedikit pula yang gulung tikar dan berganti nama.

Demam BlackBerry setidaknya menyebabkan maraknya kemunculan posel gembul yang menyerupai handset kelahiran Kanada tersebut. Dari yang hanya menampilkan jajaran thumbboard QWERTY seadanya hingga yang menjiplak habis-habisan bentuk dan rupa, plus ada juga yang latah mengganti tombol navigasi menjadi Trackball yang beken atau Trackpad seri mutakhir.

Tak hanya ponsel lokal saja yang bereaksi atas ‘demam BlackBerry’ ini. Bahkan brand sekelas Nokia, Samsung, LG dan Motorola mulai ikut-ikutan berlomba menyajikan teknologi paling gres mereka dalam bentuk serupa. Uniknya ada beberapa seri yang nyatanya memberikan peluang harga yang terjangkau bagi sebagian besar pengguna ponsel di tanah air.

Katakanlah Nokia E63, Samsung Corby TXT, LG GW300 atau Motorola Q9h adalah beberapa ponsel yang mengadopsi thumbboard QWERTY dengan kisaran harga dibawah 2 juta rupiah saja. Tentu saja ini tawaran yang sangat menarik, apalagi katakanlah Nokia selain menawarkan bentuk, mereka pula menawarkan koneksi Wifi dan sistem operasi yang kelak dapat ditambahkan berbagai aplikasi multifungsi apabila diperlukan.

Sayang, kehebohan tersebut kurang menarik perhatian saya yang notabene memiliki hobi otak atik teknologi ponsel seperti halnya yang saya sajikan di blog PanDe Baik ini. Ada tiga alasan yang mendasari mengapa saya belum tertarik untuk memiliki ponsel ber-thumbboard QWERTY.

Pertama soal jaringan. Sejauh ini saya hanya menggunakan satu jaringan operator yaitu CDMA, yang kurang lebih kurang dilirik pangsa pasarnya oleh ponsel ber-thumbboard QWERTY kelas atas. Jaringan ini saya kira sudah lebih dari cukup, mampu meng-cover kebutuhan segala saya. Apalagi jaringan CDMA yang saya gunakan dalam hal ini Telkom Flexy kalau boleh saya katakan, lulus dari ujian tahap loncat pagar. Fitur Combo-nya ternyata dapat diaktifkan begitu mudah sekalipun terlanjur berada dikota tujuan.

Kedua berkaitan dengan kebutuhan tadi. Lebih banyak memanfaatkan teknologi Voice. Sebaliknya untuk Messaging (pesan-sms atau email yang menjadi tujuan utama ponsel ber-thumbboard QWERTY) tidak banyak saya manfaatkan, hanya seperlunya saja. Demikian pula dengan Data (internet), lebih banyak saya lakukan lewat laptop plus koneksi unlimited-nya yang notabene biaya bulanannya jauh lebih murah. Dengan menggunakan ponsel Nokia 6275i CDMA nyatanya sudah lebih dari cukup.

Ketiga terkait isi jeroan atau sistem operasi yang digunakan ponsel. Rata-rata sudah saya miliki dan pahami lantaran keberhasilan saya mendapatkan berbagai macam sistem operasi yang merupakan simulator dari berbagai handset ponsel yang ada. Dari BlackBerry seri lawas, seri Bold dan sejenisnya juga yang berlayar sentuh. Ada juga Symbian 60 dan 80 (Communicator) dan tentu saja Windows Mobile. Semua itu dapat saya operasikan dengan baik melalui laptop yang saya gunakan ini. Makanya ketika menyentuh handset-nya secara real atau nyata, seringkali tidak ada lagi yang namanya perasaan ‘surprised, ‘terkesima’ atau bahkan terheran-heran dengan kemampuan ponsel.

Tiga alasan diatas beserta pemaparannya barangkali sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ketika seorang teman bertanya pada saya, ‘kapan nih ganti ponsel ? masa sih udah 3 (tiga) tahun belum berubah juga ?’ maka dengan lugaspun saya bakalan menjawab…

“PonseL QWERTY ? Maaf, Saya Belum Tertarik.”

Taxco VX1 Blackberry Javelin rasa lokal

20

Category : tentang TeKnoLoGi

Nexian boleh saja disebut sebagai pembuka jalan dalam meningkatnya minat masyarakat akan kehadiran ponsel berkeypad QWERTY besutan China dan mengambil alih rupa Blackberry, namun hingga saat ini tak satupun dari seri yang dirilis mampu menyamai desain ponsel gembul kelahiran Kanada tersebut. Tidak demikian halnya dengan Taxco, salah satu dari sekian banyak brand lokal ini tampaknya tak mau kalah dengan para pesaingnya dalam merilis ponsel berkeypad QWERTY.  Rupanya Taxco tak ingin bersikap setengah setengah dalam soal jiplak menjiplak, lihat saja dari desain secara keseluruhan ponsel seri VX1 milik mereka, bisa diidentikkan dengan Blackberry Curve 8900 alias Javelin.

TaxCo 1st look

Ditilik dari spesifikasi yang diusung tak jauh beda kok dengan ponsel berkeypad QWERTY besutan lokal lainnya, dari Dual On GSM, koneksi Bluetooth, Memori tambahan MicroSD, dukungan Java (eBuddy, Facebook dan Yahoo Messenger) serta Kamera. Yang menarik adalah resolusi kamera yang dimiliki sudah mencapai 2 MP dan ini beneran loh, gak Cuma tulisan yang menghias box pembelian ataupun cover belakang ponsel.

Ohya, tadi sempat saya katakan kalo Taxco VX1 (yang lebih dikenal dengan julukan TaxcoBerry) menjiplak Balckberry Curve 8900 alias Javelin secara keseluruhan, itu benar adanya. Bahkan bukan hanya dari dimensi bodi ponsel, namun juga bentuk keypad QWERTY hingga ke navigasi Trackball. Kehadiran Trackball ini berfungsi sama halnya dengan Trackball milik BlackBerry. Tak hanya navigasi Trackball, desain Menu yang ditampilkan dalam layar milik Taxco ini bisa dikatakan sangat mirip dengan milik BlackBerry, demikian pula pada tampilan awal (today screen).

TaxCo vs others

Dukungan Java pada ponsel ini dapat dikatakan sebagai nilai tambah. Bagi yang memerlukan web browser bisa menggunakan Opera Mini yang memiliki tingkat kompresi tinggi dalam menampilkan halaman web sehingga ditinjau dari pengeluaran tentu saja jauh lebih murah. Demikian pula games ataupun aplikasi chatting lainnya.

Tapi untuk chatting bukankah sudah ada eBuddy ? nah ini dia masalahnya. eBuddy milik Taxco VX1 ternyata tidak dapat berfungsi dengan baik, namun bisa diakali dengan menginstalasi eBuddy milik HT30, brand lain yang secara kebetulan merilis jenis ponsel yang sama. Hasilnya, chatting via ponsel tak lagi menjadi masalah besar.

Sayangnya memang belum semua aplikasi ponsel berbasis Java dapat diinstalasi dan digunakan dengan baik pada ponsel ini, salah satunya misalkan saja Morange. Aplikasi yang bersifat all in one ini bahkan tak jua berhasil dibuka kendati telah menunggu waktu yang lama.

Berbeda dengan Nexian, dimana slot SIM 1 biasanya sudah di-lock untuk kartu sim tertentu (sesuai paket bundling), untuk Taxco VX1 pengguna dibebaskan untuk menggunakan sim card gsm dari operator yang tersedia di Indonesia. So, ada yang berminat ?

Perang Ponsel ber-keypad QWERTY

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, tentang imbas demam BLackBerry dan ketertarikan para pengguna ponsel ditanah air pada jejaring sosial Facebook di dunia maya atau internet, di bulan Juli ini tampaknya musti bersiap-siap lagi loh dengan perang tanding yang bakalan digelar oleh para produsen ponsel China, terutama yang bakalan bergerak dan berusaha merebut pangsa pasar ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’

Satu hal yang sepertinya mutlak diadopsi oleh para produsen ponsel lain demi memberikan iming-iming ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’ adalah desain layaknya BLackBerry. Berlayar landscape dan ber-keypad QWERTY.

Selain NexBerry (Nexian G900) yang dibundling bareng operator XL, dan juga Nokia E series, tampaknya masih banyak yang harus disambut oleh publik, dan inilah mereka.

Nexian G911, merupakan ponsel penerus seri sebelumnya yang dibundling bareng operator Indosat. Fiturnya masih sama, dual GSM, dilengkapi aplikasi (baca:shorcut) Facebook, eBuddy namun memiliki desain wajah yang sedikit berbeda ketimbang pendahulunya, G900. Harga penawaran masih tetap sama yaitu Rp. 999.000,00. Gak tau deh apakah seri ini bakalan melonjak juga dari harga resmi tersebut…

ZTE-W N61 XIANG menggunakan sistem operasi Windows Mobile Pocket PC 6.1 yang tentu saja ber-layar sentuh. Sudah mengadopsi kamera 3,2 MP, resolusi standar saat ini. Satu hal yang patut disayangkan adalah layar yang landscape, bakalan menyulitkan pengguna dalam mencari aplikasi yang dapat ditampilkan dengan baik.

Motorola Karma QA1 berkonstruksi slider dan mengadopsi kamera 2 MP plus navigasi A-GPS, punya perwajahan unik. Mengingatkan saya pada MP4 Player rilisan China
ZTE M LG
LG GW550 masih menggunakan Windows Mobile 6.1 Standar, desain keypad navigasinya mirip Nokia E Series dan keypad QWERTY yang mirip banget dengan BLackBerry. Hmm… minim inovasi rupanya.

IMO B9000, punya wajah plek banget dengan BLackBerry BOLD. Lengkap dengan Trackball yang menyertainya. Layarnya jauh lebih baik ketimbang seri Nexberry, standar ponsel masa kini. Sayangnya kamera yang diadopsi masih belum menjangkau ukuran megapixel.

IMO G910 malah punya wajah plek dengan Nokia seri E71. He… Tampaknya ponsel China satu ini masih keranjingan menjadi plagiat brand ponsel papan atas.

HT Mobile G30 ponsel dengan dual GSM memiliki keypad QWERTY yang mirip dengan BLackBerry, namun konstruksi keypad navigasinya masih mencerminkan kesan ponsel China

Mixcon S900 bahkan mengklaim rilis mereka sebagai MixconBerry lantaran kemiripan desainnya dengan BLackBerry BoLD.

Samsung series secara serentak menggebrak dengan barisan ponsel mereka yang rata-rata memang ber-keypad QWERTY untuk berbagai tujuan pangsa pasar dari menengah kebawah dan keatas. Terhitung ada Samsung A177, Samsung i637, Samsung Impression yang memiliki slider ke samping, Samsung A257 Magnet dan Samsung Propel Pro dengan slider biasa.

Moto Q series, ponsel rilis lama yang kembali dihadapkan kepada publik ini sebenarnya sudah mengadopsi sistem operasi Windows Mobile 6.1 versi smartphone alias tanpa layar sentuh. Punya bodi tipis mirip seri Razr plus segudang fitur yang oke dibanding ponsel China.
SamS M HTC
Sedangkan untuk jajaran kelas atas, tak ketinggalan brand HTC ikut-ikutan latah dengan merilis seri HTC Snap yang mirip banget dengan BlackBerry Javelin.

Seakan menjawab semua tantangan para produsen ponsel diatas, tampaknya BLackBerry-pun seakan tak mau kalah. Kabar terakhir mereka bakalan merilis seri teranyar yakni BLackBerry Tour. Seri ini memiliki desain yang merupakan perpaduan dua seri sebelumnya sehingga menjadikannya lebih mirip BOLD dalam bodi ramping Javelin. He… Penasaran ? Tunggu saja rilis resmi mereka nanti.