Perubahan arus Lalin di areal Puspem Badung pk. 15.30 wita (jam pulang)

Category : tentang PeKerJaan

Mengacu kepada Surat dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Nomor 511.11/081/Hubkominfo tanggal 13 Januari 2011 perihal Informasi Perubahan Arus Lalu Lintas bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, berkaitan dengan mulai diberlakukannya absensi sidik jari yang efektif berlaku tanggal 5 Januari 2011, dan demi kelancaran lalu lintas di sekitar areal Puspem Bagung, diinformasikan bahwa :

Bagi Pegawai yang pulang menuju arah DENPASAR dan LUKLUK agar keluar areal PusPem melalu Gapura Utama (Gapura Utara) > Jalur Alternatif 1

Bagi Pegawai yang pulang menuju arah KWANJI DALUNG dan KEROBOKAN agar keluar areal PusPem melalu Gapura Selatan > Jalur Alternatif 2

Demikian disampaikan untuk dimaklumi.

Pasal 73 dan Absensi Sidik Jari Pemkab Badung

8

Category : tentang Opini

Suasana kawasan PusPem Badung jumat pagi lalu, mengingatkan saya pada masa sekolah dahulu. Dimana saat hari masih pagi buta, kami sudah siap berangkat liburan keluar daerah dan menciptakan keramaian yang tidak biasanya terjadi di lingkungan menuju sekolah. Demikian halnya dengan kawasan perkantoran PemKab Badung selama satu minggu terakhir.

Diterapkannya penggunaan absensi Sidik Jari (fingerprint) sejak tanggal 5 Januari 2011 lalu, merupakan pemicu utamanya. Adanya peraturan baru yang ditetapkan khusus pada hari jumat pagi, dimana absensi akan berjalan sedari pukul 5 hingga maksimum 6.30 pagi. Itu artinya, jika pegawai melakukan absen setelah waktu yang ditetapkan, maka yang namanya uang makan sebesar Rp. 20.000,- per hari, tidak akan diberikan.

Begitu pula dengan hari kerja biasa. Rasanya masih tak percaya menyaksikan kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan menuju wilayah PusPPem Badung Sempidi. Baik di pagi hari ataupun sore sekitar pukul 15.45. Padahal hingga akhir tahun lalu, jumlah kendaraan yang melintas di seputaran kawasan PusPem pada jam  yang sama, masih bisa dihitung. Tapi kini, tidak lagi.

Penerapan absensi Sidik Jari ini bukan tanpa alasan. Minimnya disiplin Pegawai Negeri Sipil PemKab Badung kerap disorot media dan masyarakat, walaupun hal yang sama juga ditemukan di daerah lainnya. Tidak ingin terus berlarut, maka per awal Januari 2011 ini, setiap pegawai dituntut profesionalismenya dalam bekerja serta tanggung jawabnya sebagai seorang abdi masyarakat. Kebijakan ini didukung pula dengan dikeluarkannya PP No. 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai.

Maka bisa ditebak. Berbagai keluhan pun muncul. Dari yang kelabakan dengan peraturan baru bahwa ‘absensi tetap berjalan di sore hari, dikeluhkan oleh mereka yang kerap pulang kerja lebih awal. Pilihannya kini ada dua. Tetap berada di kantor tanpa ada sesuatu yang bisa dikerjakan hingga waktu absensi tiba, atau pulang saat makan siang, trus balik lagi saat jam pulang. Hingga yang kebingungan dengan jadwal absensi jumat pagi, ditentukan maksimum sampai pukul 6.30. Wajib Krida. Hehehe…

Saya pribadi jujur saja menyambut baik kebijakan ini, karena memang sudah sebagai konsekuensi  dari apa yang kita pilih. Menjadi seorang PNS. Abdi negara. Abdi Masyarakat. 5 Hari kerja. Jadi mau tidak mau ya musti ikut aturan, start kerja pukul 7.30 dan pulang pukul 15.30.

Hanya saja, yang namanya PNS juga Manusia, ya selalu ada celah yang dicari untuk mangkir dari aturan baku yang ditetapkan. Apalagi kalo bukan pasal 73. :p

Pasal 73 itu kurang lebih isinya ‘datang pagi absen pukul 7 trus pulang atau kelayapan dan balik kantor absen pukul 3’. Hehehe… Soale selama seminggu kemarin, seperti juga dugaan saya jauh sebelumnya, di siang hari yang namanya pegawai bisa dikatakan gag seramai kehadirannya di pagi atau sore hari. Entah pada kemana. Kalo alasannya survey ke lapangan sih, masih bisa diterima, tapi masa sih tiap hari ? Makan siang mungkin ? hehehe…

Lihat saja di seputaran parkiran baik halaman depan ataupun basement gedung, dijamin bisa sliweran bebas pas jam 9 keatas. Sebaliknya bakalan empet setiap masuk basement kisaran pukul 3 sore. Cobain deh.

Seketat apapun aturan yang diterapkan, saya yakin gag bakalan bisa menjamin bahwa yang namanya kinerja PNS bisa meningkat. Apalagi kalo sudah sampe ngomongin soal ‘kedekatan’ atau faktor koneksi ‘siapa yang berada di belakang mereka’. Kerap  yang seharusnya mendapatkan sanksi malah berbalik mendapatkan promosi dan award berlebihan.  Well, kita lihat saja kelanjutannya.

PusPem Badung : Wantilannya kok gitu sih ?

3

Category : tentang KHayaLan

Disela waktu menunggu dilakukannya rapat pembahasan usulan jalan tembus GOR Mengwi bareng Bapak Bupati Badung, disempatkan pula duduk2 sbentar diluar gedung sembari nyobain sinyal Starone di areal Puspem ini, barangkali aja nanti kalo pindah ngantor ya gak ragu lagi untuk tetep setia make koneksi ini.

Nyatanya sinyal yang didapat sangat baik, hingga aktivitas nge-netpun berjalan lancar, sempat chat pula dengan om Anton, perihal keluhannya pada pengaspalan jalan di Kota Denpasar.

Eniwe, gak sengaja mata menangkap dua biji Wantilan yang telah selesai dibangun, satu disebelah gedung DPRD Badung, satunya lagi disebelah barat Pura. Hanya saja kenapa jadi rada aneh nglihatnya, ataukah hanya sebuah perasaan saja ?

wantilan-dprd.jpg

Untuk Wantilan disebelah gedung DPRD itu kok kliatannya kayak udah dibangun sekian tahun lalu ya ? penampilannya tak semegah gedung DPRD. Apa mungkin bangunannya kurang tinggi ataukah pengaturan bahannya yang tak sama dengan gedung mewah disebelahnya ?

wantilan-puspem.jpg

Nah, wantilan yang satunya lagi malah lebih aneh lagi. Terlalu banyak kolom (tiang-saka) yang menopang atap wantilan, kira-kira ada 6 kolom untuk satu sisi wantilan. Hingga membuat wajah Wantilan sepertinya jadi penuh dengan kolom tanpa menyisakan ruang yang lapang didalamnya. Mungkin akan jauh lebih baik kalo saat perencanaannya tempo hari, kolom yang dipakai adalah 4 buah untuk tiap sisi, tentu dengan perhitungan ulang pada beban yang dipikul nantinya (ugh… kata-katanya udah kayak gape Sipil aja nok !)

Tapi yah, mohon untuk dimaklumi, kritikan diatas. Wong seperti pendapat yang dikatakan oleh seorang rekan diwaktu lalu, bahwa Arsitek itu ternyata memang banyak omong. J

PusPem Badung : Mementingkan Kuantitas dibanding Kualitas

4

Category : tentang KeseHaRian

Sambil menunggu bersua dengan pimpinan nomor satu Pemda Badung, Anak Agung Gde Agung untuk membahas usulan jalan tembus menuju GOR Mengwi Selasa siang lalu, yang sedianya dilakukan sedari jam sembilan pagi akhirnya molor hingga pukul setengah satu siang, akhirnya waktu senggang dilewati dengan bersantai diluar gedung kantor Bupati.

Sambil menikmati pemandangan sekitar yang dahulu masih berupa sawah saat dilakukannya penataan lahan dikawasan ini oleh Dinas Bina Marga tahun 2004 lalu, dimana penulis blog ini merupakan salah satu Direksi yang bertugas sebagai tukang gambar rencana hingga realilasi pekerjaan.

Mengamati kondisi gedung kantor Bupati yang kmaren dikerjakan dalam waktu yang sangat singkat, baru tahu kalo ternyata dengan waktu pengerjaannya yang diuber-uber, sekaliber apapun rekanan yang menjadi pemenang tender untuk didapuk mengerjakannya, tak mampu menyelesaikannya dengan baik.

puspem-badung.jpg

Jika dilihat sepintas mungkin tak terlalu terlihat, karena yang terbayang adalah megah dan mewahnya desain yang menempel menjadi ornamen disetiap sudut ruangan hingga penampilan gedung. Kesannya seperti berada di hotel berbintang lima lengkap dengan lift untuk 4 lantai yang dilayaninya serta ukiran pada ornamen dan meubelernya sendiri. Benar-benar jauh dari kondisi perkantoran yang berada diluar areal PusPem, halnya Dinas yang penulis tempati di perempatan selatan alun-alun Kota Denpasar.

Namun, jika jeli mengamati, maka akan terlihat belang-belang pengerjaannya, dimana tembok sudah tampak retak rambut (mungkin lantaran pergerakan tanah sawah yang labil, bisa juga finishing pekerjaan yang tak bagus). Belum lagi pengerjaan ukiran paras pada Karang Gajah di tiap sudut gedung, rasa-rasanya seperti hasil pekerja yang baru belajar mengukir rasanya. Kasar.

Finishing pemasangan kusen yang begitu wah’, baru tampak bolong2nya, entah memang kualitas yang dikurangi demi segepok amplop bagi para petinggi yang terlibat ataukah memang karena kualitas pengerjaan para rekanan yang tak mampu memberikan hasil terbaik mereka, hingga lebih mengutamakan penampilan yang cling secara sepintas atau kuantitas pekerjaan agar selesai tepat waktu ?

Sua DK 1 D

7

Category : tentang KeseHaRian

Apa yang bakalan terasa pabila seorang pegawai kelas terendah diberikan kesempatan tuk berhadapan dengan atasan tertinggi pada satu sistem kerja yang sama ? Mungkin hanya satu yang terlintas, yaitu bagaimana memberikan pelayanan terbaik pada pimpinan nomor satu agar tak sampai mengewakan kesempatan yang telah diberikan tersebut.

Sialnya, rapat bersama hari Selasa siang yang sedianya membahas usulan jalan tembus menuju GOR Mengwi, berlangsung dengan perasaan gugup lantaran alat yang disediakan blom di-set terlebih dahulu, sehingga memaksa berpikir lebih keras untuk dapat menampilkan presentasi usulan tersebut dihadapan Pak Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung, secara efektif dari efisien waktu mengingat kesibukan Beliau tentunya.

dk1d.jpg

Jadilah beberapa program yang menampilkan dokumen usulan baru bisa dibuka setelah layar projector bisa tampil secara utuh didepan Pak Bupati, tanpa mampu menampilkan hal sama di layar laptop (single view). Maka bisa ditebak, untuk membuka Google Earth yang dilakukan secara online untuk mencari posisi usulan jalan di Kecamatan Mengwi tersebut harus tersendat berbarengan dengan dibukanya Microsoft Word untuk peta usulan yang telah digambarkan serta Autocad untuk menampilkan gambar detail penanganannya.

Hmm.. Syukur Beliau memakluminya…

Joroknya Toilet Puspem

4

Category : tentang KHayaLan

Belum usai pembangunan gedung Puspem, belum terselesaikan pula sekian masalah yang terkait dengan operasional gedung kabarnya hingga mencapai angka ratusan juta per bulannya, ternyata apa yang dikhawatirkan tempo hari terjadi juga. Iseng mampir ke toilet gedung kantor yang megah dan mewah, nyatanya tak sesuai harapan yang dibayangkan sebelumnya. Dengan penampilan finishing khas hotel berbintang, seharusnya perihal pemeliharaannya jangan sampai dilupakan pula. Sayangnya hal ini tampaknya luput dari perhatian para pejabatnya ditengah hiruk pikuk kawasan suci Uluwatu  (Radar Bali, 18 Juni 2008).

toilet-puspem.jpg

Balik ke soal toilet, padahal di lokasi inilah orang bakalan mampir sebentar untuk membuang hajat selama berada di seputaran Puspem. Namun apa yang dilihat saat itu mirip dengan kondisi toilet di peken Badung atau mungkin toiletnya Fakultas Teknik Unud Jimbaran yang minim airnya. Sayang sekali kalau tampak luarnya Puspem begitu mempesona, namun menyimpan bau pesing yang sekiranya sebentar lagi bakalan tersebar diseantero ruangan kerja…

Melali ke PusPem Badung

3

Category : tentang PLeSiran

jalan2-ke-puspem.jpg

Sekali waktu saat ditugaskan buat nge-tim, ngcek kegiatan yang dilakukan tahun 2007 lalu, bareng satu tim gabungan eh langsung berkesempatan pula melongok ke kantor baru para pegawe di lingkungan Pemda Badung. ceritanya nih, sambil nge-tim ya ‘goes to PusPem’ deh.

Awalnya sempet ndak percaya aja kalo sekian bangunan udah berdiri dengan megahnya, diareal yang dahulu pernah dekat sampe-sampe dari tidur siang dan buang hajatpun dilakukan  di tempat yang sama. (sempat mengabdi tahun 2004 lalu, ngubah sawah jadi areal lapang penuh dengan limestone). eh sekarang udah keren banget…

Tapi namanya juga gedung baru selese, blom maksimal bisa dimanfaatkan sehingga terlihat sedikit lucu saat melintas didepan pintu masing-masing ruangan, ditempeli kertas dengan tulisan ‘harap alas kaki dibuka’. padahal dalam kenyataannya para pegawe yang ada didalemnya ya tetep aja make sepatu. Ato malah ‘Jangan Ribut : Ruang Rapat’. Lho, emang didalemnya gak ada peredam suaranya biar baik aktifitas didalem gak sampe kedengaran keluar ruangan begitu juga sebaliknya ?

Masuk kedalam ruanganpun terasa sangat lega bila dibandingkan dengan kondisi kantor yang kini masih ditempati. plafondnya tinggi sehingga besaran ruangnyapun  sangat nyaman untuk ditempati sebagai ruang kerja. (beh omongan nak Arsitek sube mulai pesu ne…)

Sayangnya hal yang sama masih saja ditemui disini. Kabel-kabel masih berserakan gak seperti gambar konsepnya dimana kabel-kabel baik untuk alat kerja maupun fasilitas pelengkap tertanam rapi. efeknya secara gak sengaja salah seorang pegawe melintas dan tersandung kabel kipas angin, yang selain mengakibatkan jatuhnya si pegawe, ntu kabel juga putus dari colokannya. putus artinya listrik diruangan mendadak padam lantaran korslet. wah gak bisa dibayangin kalo itu tetep dibiarkan.

Yang paling asik ya main ke WC. Hah ? Main ke WC ?

Iya lah, Kamar kecil ini rupanya didesain serupa dengan kelas hotel berbintang. walopun masih ada sedikit kekhawatiran, apa nanti pemeliharaannya bakalan mau sebagus harapannya hari ini ? jangan-jangan untuk jangka panjang, wc yang seharusnya menjadi area vital dari satu fungsi bangunan malah mengeluarkan bau pesing plus aer yang ndak ngalir hingga menyebabkan luapan air dilantainya. Ini pengalaman pribadi sedari masa SMP dulu, hingga kuliah di Bukit Jimbaran bahkan udah ngantor di tengah Kota Denpasarpun, masih harus ngalamin hal yang sama.

Yang bikin makin terpana sekaligus heran ya keberadaan Balkon di sisi tenggara bangunan (kebetulan waktu itu mainnya cuman sempet disatu gedung aja). gak ada akses masuk ke Balkon. jadi apa fungsinya balkon tadi ?

kata pegawe yang udah nempatin gedung sedari 28 april lalu sih untuk tempat instalasi AC aja, bener juga sih, lantaran emang ada sebiji diluaran. tapi kalo mau perbaikan gimana caranya ? ya lewat jendela, naik pake tangga. Wah ?

Kok bisa-bisanya desain gedung yang sebegitu menterengnya gak nyediakan akses ke tempat seperti ini ? padahal kalo disediakan jalan, tentu balkon bisa dipake pula buat tempat beristirahat sejenak bagi pegawe yang penat saat bekerja. sekedar menghirup udara luar.

Belum habis terheran-heran, panasnya ruangan menyergap mungkin lantaran AC yang disediakan baru satu itu aja untuk ruangan segede ini. jadi untuk sementara memang harus make AC alami-Angin Carik yaitu ngebuka jendela lebar-lebar… wah, kaco deh.

Dari jalan-jalan tersebut, mungkin emang blom semua kekurangan desain bisa dilihat dari perencanaan proyek yang nyedot anggaran milyaran rupiah ini. Seperti yang pernah diungkap media cetak Radar Bali perihal gedung DPR yang baru, berlantai 3 namun hanya memiliki 3 orang Waker untuk menangani gedung seluas itu.

Laen kali kalo emang sempat ya pasti bakalan diposting lagi, dengan harapan ya bakalan jauh lebih baik.

Oya kelupaan. Di areal basement, udah ada CCTVnya lho, kabarnya gambar bisa dilihat di layar lebar yang posisinya blom tau dimana. Sayangnya penataan parkirnya masih amburadul, sirkulasinya gak jelas. jadi mobil pada parkir didekat jalan keluar, menutupi areal didalamnya yang dibiarkan kosong tanpa bisa diakses oleh kendaraan lain, padahal mungkin bisa muat jauh lebih banyak kalo saja dibuatkan alur keluar masuknya seperti kalo masuk basement Mall Ramayana.

Ato mungkin bagi rekan pengawas lapangan seperti Bli ADi Sudyatmika bisa ikutan turun dan melihat kekurangan tadi Bli ? Siapa tau aja setelah dilakukan sedikit perbaikan disana sini, untuk gedung yang bakalan ditempati nanti mumpung sekarang blom dibangun, bisa jauh lebih baik lagi Bli ? Huahaha… dasar ! maunya.