Puspem Badung dan Suasana Malamnya

2

Category : tentang Opini

Hari Selasa lalu, saya diminta tolong istri untuk mengantarkannya ke event tahunan Dinas Pendapatan Badung, penghargaan bagi Wajib Pajak Terbaik yang diselenggarakan di Kertha Gosana, ruang pertemuan terbesar di unit kerja kami, Puspem Badung.

Kami berangkat saat senja, sehingga ketika kendaraan masuk wilayah Kabupaten Badung, segmen jalan Cokroaminoto menuju Jalan Raya Sempidi, suasana sudah mulai gelap. Namun keramaian lalu lintas seakan makin semarak saja. Bahkan istri sempat terheran-heran, ya maklum saja, mengingat ruas jalan Denpasar – Gilimanuk ini memang merupakan jalur lintas kabupaten yang utama.

Namun sebaliknya, begitu memasuki areal gerbang Puspem Badung yang dari kejauhan lebih mirip penampakan resort, kesepian suasananya begitu terasa. Areal seluas ini, hanya dilengkapi lampu jalan dan taman yang temaram. Jika saja saya sendirian berkendara, mungkin akan berpikir dua kali untuk berhenti dan memarkirkan kendaraan.

Suasana ini ndak jauh beda dengan sisi selatan area, yang merupakan pintu masuk kedua, dari empat yang seharusnya ada dalam desain awal. Rumah – rumah makan dan warung yang ada di sepanjang jalan menuju gerbang tampak tutup dan gelap. Tak tampak lagi keramaian yang biasanya diciptakan saat jam makan siang tiba.
Begitu jam Kantor usai, selesai pula aktifitas masyarakat di lingkungan sekitarnya. Kira – kira begitu rutinitasnya.
Ndak jauh beda dengan kawasan kantor di seputaran kota Denpasar.

Menjadi Satpam di Kantor Sendiri ?

2

Category : tentang PeKerJaan

Awalnya sih kaget. Demi melihat daftar jaga yang ditempelkan di papan pengumuman dekat mesin absensi sidik jari gedung Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung lantai 1, hari jumat lalu. Bukan apa-apa, tapi aneh melihat nama sendiri terpampang bersama nama kawan lain untuk bertugas jaga keamanan menggantikan para satpam yang per akhir Desember 2012 lalu sudah habis masa kontrak. Kok bisa ?

Kilas Balik ke tahun 2012 pertengahan, saat Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dipublikasikan, dimana salah satu isi yang kemudian menjadi perdebatan adalah terkait pelaksanaan tender yang tidak diperbolehkan sebelum penetapan APBD, hal inilah yang kemudian menjadi akar masalahnya.

Untuk Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan pemerintah, ada beberapa kasus Pengadaan yang sebetulnya membutuhkan penanganan lebih awal ketimbang lainnya berdasarkan prioritas kepentingannya, dan itu semua harus sudah dapat dilaksanakan diawal tahun. Misalkan Security atau pengamanan, Cleaning Service, Trayek Sarbagita, ataupun semacam pakan ternak. Dimana semua yang disebutkan tadi akan berpeluang menyebabkan banyak resiko besar jika tidak dilaksanakan sejak awal tahun. Bayangkan jika satu gedung kantor tidak memiliki security atau cleaning service hanya karena masih dalam proses tender. Atau ternak yang tidak diberi makan selama berhari-hari hanya karena menunggu tender usai.

Maka itu, saat PerPres sebelumnya yaitu Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang sebetulnya memperbolehkan pelaksaan tender dilaksanakan sebelum penetapan APBD, tujuannya adalah agar usai ditetapkan, pemenang tender sudah bisa ditetapkan dan memulai pekerjaan. Dimana notabene penetapan biasanya dilakukan di akhir tahun anggaran sebelumnya.

Sayangnya, meski isu ini kemudian menjadi perdebatan di sepanjang tahun 2012 lalu, Surat Edaran Bersama yang menyatakan pelaksanaan tender diperbolehkan sebelum penetapan APBD datang terlambat waktu, yaitu pada akhir tahun dimana mengakibatkan semua paket tersebut baru bisa dilaksanakan jelang Tahun Baru. Bisa ditebak, lantaran panjangnya waktu untuk menyelesaikan proses tender, maka akan ada waktu-waktu kosong dimana jasa pengamanan, cleaning service atau juga trayek sarbagita tidak bisa dioperasionalkan. Maka salah satu alternatif solusi yang dapat ditawarkan adalah memberdayakan para pegawainya untuk ikut serta menjaga (entah ikut membersihkan) kantor masing-masing dalam 24 jam.

307234_4633860096044_1392723340_n

Dalam kasus ini, Tugas Jaga lalu dibagi menjadi 2 shift, Pagi dari pk. 7.30 hingga pk. 19.00, sedang malam ya sebaliknya. Dan berdasarkan penjadwalan, kalo gag salah sih, saya pribadi dapetnya sekitar 5 kali. Senin Tanggal 7 Januari dapatnya Shift Malam. Rabu Tanggal 16 Januari dapet Shift Malam lagi… Rabu Tanggal 6 Februari dapat Shift Pagi. Senin Tanggal 18 Februari dapat giliran Shift Pagi lagi… dan Rabu 27 Februari kembali di Shift Pagi.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, jika bertugas pada jam Shift Malam, apakah saya akan memiliki keberanian untuk berjaga di depan gedung dengan area seluas itu, meski berlima ¿ <- ini kok tanda tanya bisa kebalik terus sih ¿ *aduh

Dan Pertanyaan kedua kalo kelak dapatnya Shift Pagi, dimanakah saya harusnya berposisi ¿ apakah di ruangan seperti biasa ¿ ataukah didepan Gedung sambil menyapa tamu yang datang ¿ :p

Tapi sudahlah, semua memang harus dijalani dan semoga saja bisa berjalan dengan baik. An ngomong-ngomong, kalo kalian ada lewat-lewat kantor, jangan lupa mampir dan bawakan kami cemilan. Hehehe…

MiRah GayatriDewi in Act Juli 2012

Category : tentang Buah Hati

Rasanya sudah lama saya gag posting fotonya MiRah GayatriDewi putri saya nih… kira-kira sudah sebesar apa yah ia sekarang ? yuk intip beberapa…

Foto diatas ceritanya lagi pose dulu sebelum beraktifitas. Dari kanan atas itu adalah aksinya MiRah sesaat sebelum otonannya, trus ada aksi pas rahinan Hari Raya Galungan, lanjut aksi mejeng di Alun-alun Kota Denpasar saat kegiatan ‘Mengenal Lingkungan’ dari TK Lokasari, sekolah tempatnya beraktifitas dan terakhir, ada aksi bergaya sebelum melakukan Senam Paud di acara Ulang Tahun TK Lokasari beberapa waktu lalu.

Trus sesi foto kedua, diambil saat rahinan Pagerwesi yang jatuh pada tanggal 20 Juni 2012 lalu, dari kanan atas tampak MiRah lagi keasyikkan bermain ‘menaklukkan’ Putri Malu yang banyak tersebar di sekitaran pura Lingga Bhuwana Puspem Badung, kemudian kanan bawah menyempatkan berpose di pintu masuk sisi barat Pura, kiri bawah merupakan pose jahilnya di areal pura dan kiri atas saat menjadi mangku cilik di pura Ibu Pande Tonja.

Nah, sesi terakhir, foto diambil saat kami melakukan olah raga pagi di kawasan Puspem Badung, areal perkantoran saya dan istri, bersama keluarga pada Sabtu 23 Juni 2012. Tampak di Kanan atas ada MiRah yang mejeng di patung bundaran Utara, trus bareng Kakek didepan Kantor Bupati Badung, ada juga yang didepan kantor Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung tempat saya bernaung dan terakhir bersama semua didepan papan nama kawasan Puspem Badung.

Nah, segitu dulu. Kalopun lain kali ada lagi tentu bakalan saya posting lagi disini…

Perubahan arus Lalin di areal Puspem Badung pk. 15.30 wita (jam pulang)

Category : tentang PeKerJaan

Mengacu kepada Surat dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Nomor 511.11/081/Hubkominfo tanggal 13 Januari 2011 perihal Informasi Perubahan Arus Lalu Lintas bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, berkaitan dengan mulai diberlakukannya absensi sidik jari yang efektif berlaku tanggal 5 Januari 2011, dan demi kelancaran lalu lintas di sekitar areal Puspem Bagung, diinformasikan bahwa :

Bagi Pegawai yang pulang menuju arah DENPASAR dan LUKLUK agar keluar areal PusPem melalu Gapura Utama (Gapura Utara) > Jalur Alternatif 1

Bagi Pegawai yang pulang menuju arah KWANJI DALUNG dan KEROBOKAN agar keluar areal PusPem melalu Gapura Selatan > Jalur Alternatif 2

Demikian disampaikan untuk dimaklumi.

Jalan Panjang berangkat Kerja menuju PusPem Badung

9

Category : tentang PLeSiran

Diperlukan waktu sekitar 25 sampai 35 menit setiap paginya untuk bisa mencapai kantor Puspem Badung di hari kerja dari rumah yang berlokasi seputaran pusat Kota Denpasar. Ini artinya apabila jam kerja dimulai sekitar pukul 7.30, saya dan istri maksimal harus sudah berangkat dari rumah sekitar pukul 7.00. Durasi ini jauh lebih panjang dibandingkan ketika kami masih berkantor di jalan Beliton, sebelah barat lapangan puputan Badung.

Untuk bisa mencapai kantor Puspem Badung ada tiga jalur alternatif yang kerap kami lalui setiap harinya. Dari perempatan Monumen Adipura meluncur kearah barat, melalui jalan Yudistira, Arjuna, Gatotkaca, Kartini, Maruti dan perempatan Cokroaminoto – Gatot Subroto. Dari sini ada dua jalur alternatif yang bisa diambil. Lurus ke utara, melewati jalur Ubung – Sempidi yang jaraknya kurang lebih kalo diakumulasikan sekitar 9,5 Km dari rumah. Sedangkan yang kearah barat melalui jalur Kebo Iwa memiliki jarak yang lebih panjang yaitu 10,5 Km. Jalur ketiga dari perempatan Monumen Adipura meluncur kearah timur, melalui jalan Patimura, Suli, Gatot Subroto, Ahmad Yani, Ken Arok tembus Sempidi memiliki jarak kurang lebih sama dengan jalur yang melewati jalan Kebo Iwa.

Ditinjau dari jarak tempuh sebenarnya jalur yang melalui ruas jalan Cokroaminoto Ubung merupakan track terpendek dibandingkan dengan dua jalur lainnya. Namun dengan tingkat kemacetan yang tinggi dan arus lalu lintas yang agak berbahaya. Terutama ketika kendaraan sudah mencapai terminal Ubung dan sekolah Taman Rama. Jalur yang melewati jalan Kebo Iwa secara jarak lebih panjang ketimbang melalui terminal Ubung, selain itu ada 5 (lima) traffic light yang harus dilalui, namun dari segi kemacetan bisa dikatakan sangat jarang terjadi. Demikian pula yang melalui jalur timur.

Waktu tempuh ternyata dipengaruhi juga oleh jam keberangkatan. Apabila berangkat tepat sekitar pukul 7.00 seperti rencana diatas, besar kemungkinan bersua kemacetan di beberapa titik meskipun tidak se-krodit yang kerap terjadi pada jam-jam sibuk Kota Denpasar. Sebaliknya apabila berangkat kantor sedikit lebih awal, kira-kira pukul 6.45 bisa dikatakan perjalanan jauh lebih nyaman dan lancar.

Meski demikian ternyata masih banyak hal lain yang mampu mempengaruhi proses perjalanan berangkat kerja menuju kantor Puspem Badung. Kemacetan dadakan akibat penutupan jalan saat pelaksanaan upacara beberapa waktu lalu termasuk faktor putra putri kita yang meminta diantar sekolah atau ditemani main dulu. Hehehe…

Rekreasi Sabtu Pagi di PusPem Badung

7

Category : tentang PLeSiran

Rasanya sudah lama kami tidak jalan-jalan bersama keluarga. Terakhir kalo gak salah waktu melintas ke Benoa, itupun lantaran harus membayar biaya koneksi bulanan ke kantor Indosat Tuban. Main jauh, ya sekalian aja singgah kesana sini.

Pasca perawatan MiRah di Rumah Sakit Sanglah tempo hari sebenarnya yang menjadi agenda kami sabtu pagi adalah lapangan alun-alun. Hampir setiap pagi sedari pulang perawatan, MiRah selalu meminta kami untuk mengajaknya berjalan-jalan lagi. Kangen barangkali.

Sayangnya sabtu pagi ini kakek nenek MiRah punya keinginan lain. Pengen makan lawar bali atau sate dan soto Sempidi. Memang sudah adatnya sebelum jalan-jalan kami berembug, mempertimbangkan keingan satu sama lainnya dan mengambil keputusan yang terbaik sembari mencari alternatif bagi yang sedikit menyimpang. Sempidi Mengwi akhirnya menjadi pilihan pagi ini.

Puas dengan sarapan pagi sate dan soto Sempidi, kami meluncur ke kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Mangupura Mengwi, areal yang dahulu pernah menjadi rumah kedua saat pematangan lahan dilakukan. Ketika kendaraan mulai memasuki pintu gerbang utama, satu persatu kenangan masa lalu muncul kembali. Kenangan akan masa menjelajah kawasan persawahan untuk mencari batas dan patok kayu, kenangan akan luasnya wilayah yang harus dilalui untuk mencapai satu titik ketitik lain, kenangan akan berjalan bahkan berlarian di pematang sawah dan terjerembab dalam lumpur dalam kondisi pakaian dinas lengkap.

Kami mulai mengitari satu persatu gedung yang kini telah menjadi kantor kerja kami sambil menjelaskan situasi sekitar bak pemandu wisata. Entah itu perubahan desain yang terjadi, gambaran lingkungan kerja bahkan visual kawasan pura yang sepintas mirip dengan lingkungan Pura Gunung Salak.

MiRah sudah tampak tak sabar ingin turun dan bermain. Hamparan paving yang lapang, hijaunya pohon dan rumput sertaa patung yang menjulang bisa jadi mengingatkannya pada lapangan alun-alun yang telah kami janjikan sebelumnya. Bersama seorang kakak sepupunya, MiRah sangat menikmati petualangan barunya ini. Mengenal bunga dan tumbuhan putri malu, menaiki tangga dan duduk dipinggiran monumen patung atau bahkan berlarian disekitar kami. Dunia anak-anak memang indah.

Cukup lama kami duduk dan bercengkrama, langit yang sedikit mendung ditambah angin yang semilir dingin membuat waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Rekreasi di sabtu pagi dengan terpaksa kami akhiri sampai disini.

Menuju ManguPura Meninggalkan Beliton 1

5

Category : tentang PeKerJaan

Tiga orang pemuda tanggung tampak berjalan mengikuti seorang Bapak tua dengan memanggul sejumlah peralatan dan patok kayu menyusuri pematang sawah, siang pertengahan tahun 2005. Bentangan hijaunya lahan yang menemani hari demi hari beberapa saat sebelum pematangan lahan dilaksanakan perlahan mulai berkurang. Lelahnya begitu terasa hingga hari ini.

Jauh lebih awal dari perkiraan saya sebelumnya, pertengahan bulan Maret 2010 kabar itu datang. Seluruh pegawai di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pengairan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung agar segera berbenah dan pindah ke gedung baru, kantor baru yang berlokasi di Mangupura, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Kecamatan Mengwi. Bersama sejumlah Dinas dan Badan diharapkan sudah siap beraktifitas sebelum akhir bulan ini, dimana akan dilaksanakan upacara mecaru dan melaspas.

Lima tahun. Lahan ini sudah jauh banyak berubah. Tidak ada lagi pematang sawah yang siap mengotori sepatu dan menggelincirkan badan besar ini kedalam lumpur. Gubuk teduh ditengah sawah yang dahulu roboh ketika didudukipun telah berubah menjadi hamparan paving. Tidak ada hamparan rumput liar yang mengelilingi pelinggih kecil dengan nuansa yang lumayan membuat bulu kuduk merinding. Patok-patok kayu yang dahulu kami tanamkanpun kini telah ditumbuhi gedung megah.

Kepindahan kami menuju kantor baru membuat suasana hati saya secara pribadi dipenuhi rasa kangen dan melankolis. Disinilah saya memulai semuanya. Pekerjaan, karir, teman hingga cinta saya dapatkan semuanya disini. Satu persatu ruangan saya kunjungi kembali. Beberapa malah kerap saya datangi hanya untuk memandang wajah yang kini telah menghiasi hari-hari indah. Banyak perubahan yang saya alami disini, emosi yang tumpah, tawa yang lantang dan kedewasaan hubungan pertemanan.

Lantai tiga, ruangan yang besar dan pemandangan yang dahulu tidak pernah saya bayangkan merupakan wajah yang kini mulai kami jalani.

Rasanya baru kemarin kami bersendagurau ditengah hamparan sawah kawasan ini. Rasanya baru kemarin ditengah kenekatan saya menelusuri patok kayu hingga ke batas barat dan utara, mengalami banyak hal baru yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Rasanya baru kemarin kami dipaksa menikmati panasnya matahari lantaran tidak banyak tempat teduh yang kami jumpai disini.

Kawasan ManguPura Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung… kami kembali.