Indahnya Berbagi, Baksos Yowana Paramartha Warga Pande

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada rasa bangga yang terbersit di pikiran saya sejak pagi tadi melihat kami semua, 70-an generasi muda yang tergabung dalam pesemetonan Yowana Paramartha Warga Pande dan berasal dari berbagai Kabupaten, berkumpul kembali di Pura Penataran Pande Tamblingan, Rabu 31 Agustus 2011. Bukan, kegiatan kami kali ini bukan untuk Ngayah Bersama seperti yang dahulu pernah kami lakukan, namun untuk Berbagi pada Sesama.

Dalam waktu yang cukup singkat, sekitar dua minggu tepatnya, kami berhasil mewujudkan apa yang saat itu sempat terlintas dibenak. Keinginan untuk Berbagi yang begitu besar.

Mendaulat Semeton Yowana Paramartha Kabupaten Tabanan sebenarnya bukan tanpa rencana. Saya pribadi saat melontarkan ide untuk berbagi ini, sedari apa, bagaimana dan siapa yang akan memimpin berpendapat bahwa kekompakan yang selama ini ditunjukkan oleh Semeton dari daerah lumbung padi, sangat bagus dan makin erat sejak pembentukannya Juni 2011 lalu. Jika ini berhasil, barangkali bisa menjadi pelecut semangat bagi Semeton Yowana kabupaten/kota lainnya untuk bisa memimpin satu persatu kegiatan yang kelak harus mampu kami wujudkan.

Meski sedikit melenceng dari rencana semula yang sebenarnya kami sasar untuk panti Anak Asuhan, Bakti Sosial pertama ini pada akhirnya menyasar 54 KK (bertambah 11 KK dari yang direncanakan sebelumnya) yang tinggal di pinggiran danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng sesuai dengan hasil rapat kecil yang dilakukan hari Minggu, 21 Agustus lalu di Desa Abianbase Gianyar.

Ada tiga alasan mengapa kami kemudian mengalihkan rencana dari panti Anak Asuhan ke 43 KK di pinggir Danau Tamblingan. Pertama, karena dari lima Panti Anak Asuhan yang ada di wilayah Kabupaten Tabanan, berdasarkan survey lapangan yang dilakukan menyatakan bahwa masing-masing sudah memiliki orang tua asuh yang siap memberikan sumbangan secara berkala. Kedua, karena ke-54 KK yang dahulu tinggal di pinggiran Danau Tamblingan ini, memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal asalnya yang telah terendam akibat naiknya air danau Tamblingan sejak awal tahun 2011 dan kini masih berstatus menumpang, dan Ketiga, karena keberadaan Pura Penataran Pande Tamblingan yang selama ini telah banyak membantu dan membimbing kami sejak awal ide pembentukan Yowana, maka Sudah sewajarnya kami mengucapkan Terima Kasih kepada lingkungan sekitar Pura yang selama ini telah ikut menjaganya.

…dan atas asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan juga Ida Ratu Ngurah Pande, Kegiatan Baksos ini pada akhirnya mampu kami wujudkan dengan baik.

Tidak kurang kami mendapatkan sumbangan dalam bentuk uang tunai sejumlah Rp. 5.020.000,00 (lima juta dua puluh ribu rupiah) yang berasal dari Maha Semaya Warga Pande tingkat Kabupaten/Kota dan juga secara pribadi semeton Warga Pande, baik yang tinggal di Bali maupun luar Bali. Selain itu sesuai dengan apa yang kami informasikan beberapa waktu lalu, ada juga yang menyumbangkannya dalam bentuk Sembako Beras, Mie Instant dan Minyak Goreng. Semua sumbangan tersebut kemudian kami bagi sesuai dengan yang kami rencanakan sebelumnya.

Ternyata dari apa yang telah kami terima, bagikan dan sumbangkan kepada ke-54 KK tersebut, menambah antusiasme salah satu semeton Generasi Muda untuk menyumbangkan sejumlah buku dan alat tulis kepada anak-anak yang tinggal disana. Maka bisa ditebak, jejeran anak usia sekolahpun tampak bersemangat  menerima hadiah kecil mereka. Terima Kasih ya untuk Dek Dian Febriana.

Disamping itu, ada juga beberapa Semeton yang kemudian menambahkan sumbangan dalam bentuk tunai di lokasi kegiatan. Sehingga dari sejumlah dana yang kami terima dikurangi sembako, sedikit konsumsi dan banten, dana yang tersisa ada sejumlah Rp. 1.285.000,00 (satu juta dua ratus delapan puluh lima ribu rupiah).  Sesuai dengan hasil rapat akhir kami dengan meminjam tempat semeton Yunix Natalia di kawasan Pacung, adapun sisa dana tersebut kami gabungkan kembali dengan dana kas yang kami miliki sebelumnya.

Kelak, untuk beberapa kegiatan kedepan yang tadi sudah sempat terlontar ide-idenya, sisa dana tersebutlah yang akan kami sisihkan sedikit untuk digunakan sebagai dana awal. Semoga Kebaikan akan datang pada kita semua.

Pada akhirnya, kami selaku Yowana Paramartha Warga Pande secara keseluruhan, mengucapkan Terima Kasih untuk semua Semeton Warga Pande yang telah berkenan hadir membantu dan yang telah berpartisipasi membagi sedikit Rejekinya untuk hari ini, khususnya antusiasme Semeton Yowana Kabupaten Tabanan yang telah mampu menunjukkan integritas dan semangatnya kepada kami hari ini.

Salut untuk Semeton Semua…

Catatan Perjalanan 19 Januari menuju Pura Penataran PanDe Tamblingan

1

Category : tentang PLeSiran

Bau tanah yang disirami air hujan tercium dengan khasnya, rabu pagi 19 Januari 2011, hari yang telah kami nanti sejak lama. Entah mengapa setiap kali kami merencanakan untuk tangkil bersama keluarga, MiRah putri kami selalu saja dalam kondisi sakit. Demikian pula hari ini. Maka bisa ditebak, ada rasa khawatir yang hinggap di pikiran akan kesehatannya jika kami ajak ikut serta ke Pura Penataran Pande Tamblingan.

Tekad kami sudah bulat, kami harus berangkat apapun yang terjadi. Sarana upacara sudah siap demikian pula dengan kendaraan jadul yang kami miliki, setidaknya dipersiapkan pula lebih awal. Mengingat rasa khawatir kami yang kedua akhirnya terwujud jua. Hujan yang berpotensi meluluhlantakkan satu-satunya jalur kendaraan menuju pura.

Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan Penyayang umat-Nya. Beliau tahu harapan kami begitu besar untuk bisa hadir bersama keluarga. Terhitung perjalanan pasca daerah Luwus, hujan tak tampak lagi. Langit cerah ceria dipenuhi matahari yang tampak masih malu-malu diselimuti awan. Begitu pula dengan MiRah putri kami, batuknya tak tampak di sepanjang perjalanan. Bisa jadi lantaran ia begitu menikmati liburannya kali ini.

Kendaraan mulai menyusuri jalan masuk ditengah hutan. Sebuah Avanza awalnya tampak begitu jauh didepan kami, perlahan tapi pasti bisa didekati. Air danau yang meninggi, membuat jalur kendaraan alternatif di pinggiran tak dapat dilalui lagi. Akibat lainnya, jalan jadi penuh lumpur dan kendaraan kami ? bukan kendaraan yang disarankan oleh para Offroader untuk bisa melewati jalur tersebut.

Masalah muncul ketika beberapa kendaraan tampak berhenti didepan kami dari  arah yang berlawanan. Jalan yang sempit rasanya tidak mampu untuk memberi ruang dua kendaraan lalu lalang. Ban mobil yang terselippun kemudian menjadi pemandangan kami, kerjasama antara semeton PanDe benar-benar diuji kali ini.

Perjalanan selama tiga setengah jam, molor satu setengah dari perkiraan. Kami sampai di pelataran parkir Pura Penataran Pande Tamblingan dengan selamat. Rasa syukur menyelimuti hati yang digeluti hawa dinginnya Danau Tamblingan. Air benar-benar begitu tinggi, hingga setiap orang yang hadir hanya bisa mengakses Pura dari jalan kecil di samping kanan area.

Tampak bli Ande Tamanbali, sesepuh di Yowana Paramartha menyapa kami bersama ‘anak-anaknya’. Dari status akun FaceBook yang mereka update pagi tadi, jelas sekali kini sudah bersiap untuk pulang. Demikian halnya dengan rombongan Putu Yadnya (Pande Bali), yang sekendaraan dengan Gus Hardy, Gektu Cipluk dan pak guru Dego. Dancuk kami Yande Putrawan beserta istrinDa bu dokter Astrie, baru tiba ketika kami usai melakukan persembahyangan di areal utama Pura. Sesuai rencana, Yowana Paramartha sedang mencoba tampil di hadapan para Penglingsir.

MiRah tampak ceria hari ini. Tak tampak ia sakit sedikitpun, hingga mengundang pertanyaan dari para teman di jejaring social FaceBook. Wajah cerahpun ditunjukkan oleh ibu dan neneknya. Ini adalah pengalaman pertama mereka bisa hadir di Pura Penataran Pande Tamblingan ini. Bersua saudara, bersua  orang-orang baru.

Cuaca yang tampak bersahabat sepanjang hari membuat senda gurau dan cengkrama kami begitu hangat dan mengalahkan rasa dingin yang mencoba menggoda kami. Hujan rintik sesekali turun namun tak sampai membasahi. Rasa lapar yang timbul, masih bisa ditahan walau hanya dengan segelas kopi. Baru terobati ketika pulang menjelang.

Sengaja kami memutuskan untuk kembali saat semua orang sudah beranjak pulang. Minimal disepanjang perjalanan ada teman yang kelak bisa kami mohonkan pertolongannya, apabila terjadi situasi krodit seperti siang tadi. Beberapa kendaraan offroader tampak siaga di titik tertentu lengkap dengan fasilitas dereknya. Kami bersyukur bisa melewati rintangan dengan baik. Kijang Grand Extra tahun 88 tanpa modifikasi ini kembali membuktikan ketangguhannya.

Saat perjalanan pulang, dalam benak baru saya sadari bahwa apa yang menjadi tujuan semula, terlupakan begitu saja. Hasil Paruman Sri Empu beserta Pengurus Maha Semaya Warga Pande tak sedikitpun bisa saya ceritakan disini. Tumben, saya seperti tak peduli dengan jalannya parum, entah karena suasana bercengkrama yang begitu hangat, rasa bahagia bisa hadir bersama keluarga, atau karena keceriaan MiRah putri kami mendominasi suasana hati sepanjang hari. Semoga semeton lain bisa mengabarkannya.