QG 153, Harris 523 dan 804

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Tadinya saya berencana bisa melawat ke Jakarta untuk bisa melihat semua kemajuan yang sudah dihasilkan pada masa kepemimpinan Gubernur ‘Penista Agama’ Ahok dengan cara liburan bersama, dengan harapan bisa lebih santai dan menikmatinya.
Terakhir dinas terkait Kotaku, keknya aksi tersebut ndak maksimal bisa saya lakukan. Kalo ndak salah waktu itu proses pembahasan materi berlangsung hingga sesi malam. Jadi, ndak sempat kemana-mana.

Pagi ini saya sudah nongkrong di depan counter check-ins pesawat Citilink, kode penerbangan QG 153. Agenda berangkat berkaitan dengan upaya pemanfaatan dana DAK Bidang Perumahan dan pembahasan Draft Ranperda RP3KP Kabupaten Badung, mendampingi dua pimpinan.

Dari beberapa barang bawaan, rupanya saya kelupaan kacamata item minus yang biasanya saya selipkan untuk be’gaya saat luang di tujuan, dan sendal big size yang lupa dimasukkan saat mengganti tas ransel agar lebih ringan digendong. Ya sudahlah… Toh ini perjalanan hanya sehari. Harapan saya tadinya bisa membawa ‘bekal’ sedikit lebih ringan lagi.

Waktu menunjukkan pukul 8.45 WIB saat pesawat mendarat di bandara Halim Perdanakusuma. Meleset sekitar 25 menitan dari jadwal yang tertera pada boarding pass. Ini karena saat keberangkatan tadi, maskapai menyatakan penundaan lantaran agenda terbang terlampau ramai.

Setelah sarapan pagi di Soto Kudus Blok M, kamipun tiba di Kementrian PUPR dan diterima oleh Bapak Budiono, Koordinator Bidang Permukiman yang memandu proses diskusi terkait rancangan Peraturan Daerah RP3KP Kabupaten Badung yang menurut Beliau, merupakan generasi pertama yang berupaya menyusun pasca amanat undang-undang. Sementara Kementrian PUPR sendiri baru akan memprioritaskan bimbingan terkait penyusunan RP3KP pada Tahun 2017 mendatang. Ealah…
Meski demikian, agenda yang sedianya kami bagi menjadi dua sesi, akhirnya terjawab pula pada sesi yang sama dengan mendatangkan narasumber tambahan dari lantai 5 Kementrian, berkaitan dana DAK Bidang Perumahan.

Untuk menginap, awalnya pimpinan menjatuhkan pilihan di Harris Hotel Tebet, dan sudah melakukan proses booking. Entah bagaimana ceritanya selama 1,5 jam, Beliau berupaya mencari alternatif hotel lain dan hasilnya rata-rata menyatakan fullybooked. Maka ya kembali ke pasal 1. He…

Pengalaman Pertama sekaligus lucu campur kaget, saya alami ketika mendapati Kamar 523 sudah terisi orang, lengkap dengan barang bawaan dan interior yang masih berantakan. Eits… Untung ada mas CS yang lagi bersihin kamar sebelah. Setelah dijelaskan permasalahannya, saya dirujuk ke kamar King’s Size disertai permintaan maaf dari pihak Hotel.
Kamar ini jauh lebih besar ketimbang kamar di awal tadi.

Maka disinilah saya melewati malam penatnya Ibu Kota Jakarta, pasca mual dan pening yang dialami sepanjang perjalanan tadi. Setelah menelan sebutir promaag dan Neuralgin, keknya saya masih perlu pijat refleksi malam ini…