Pelajaran dari Politik Hari Ini Untuk Kita Semua

Category : tentang iLMu tamBahan

Pelajaran dari Agus Harimurti untuk kita semua :
Jangan resign kalau belum dapat kerjaan baru, meskipun dapet rekomendasi dari bapak.

Pelajaran dari Pak Mahfud buat kita semua :
Jangan cerita ke orang-orang dapat kerjaan baru kalau belum sign kontrak.

Pelajaran dari Sandiaga untuk kita semua :
Selalu liat peluang baru yang lebih baik. Berani keluarin modal untuk keberhasilan.

Pelajaran dari Ma’ruf Amin buat kita semua :
Jangan putus asa jika usia sudah tidak muda lagi, siapa tau keberhasilan datang di usia di atas 60 tahun.

* * *

Saya kurang tahu siapa yang membuat quote diatas pertama kali. Namun jika dicermati, tentu memiliki makna yang sangat dalam utamanya bagi kita generasi muda milenial.
Saya sendiri mendapatkannya dari share kawan Whatsapp Group. Mohon Maaf jika hanya Copas…

22 Juli… nah trus sekarang ngapain ?

Category : tentang Opini

Ah… pada akhirnya keputusan akhir hasil rekap suara KPU menyatakan sejalan dengan hasil sebagian besar quick count sesaat setelah coblosan selesai ya ? Jadi ya Selamat sekali lagi untuk pasangan capres cawapres pak Jokowi – pak Jusuf Kalla atas kemenangannya, yang tentu saja ini merupakan hasil kemenangan rakyat ya pak ? Mengingat sejak awal kami memang total mendukung perjuangan hingga rekapitulasi suara selesai.

Disandingkan dengan uang bisa jadi apa yang sudah dilakukan oleh semua relawan (yang tentunya tidak dibayar alias ikhlas membantu) rasanya gag ternilai lagi di akhir cerita. Jadi ya silahkan pak, naik ke kursi yang lebih tinggi sementara kami sambil menunggu pelantikan tentu kembali pada aktifitas dan rutinitas kami sebagaimana biasa. dan seperti kata pak Anies Baswedan saat ditanya mbak Najwa Sihab, mendukung pasangan Jokowi-JK bisa dikatakan gag ada beban yang harus dipikul dan diemban. Jadi ya ringan saja menyikapinya.

Totalitas. Memang begitu seharusnya. Saya sih masih ingat saat memutuskan untuk memberikan sedikit rejeki saya ke rekening bersama Jokowi-JK tempo hari, beberapa kawan sempat mencibir dan mengejek, bahwa kok mau-maunya jebolan S2 bisa dibohongi oleh seorang Jokowi, lebih baik itu duit disumbang ke anak yatim. Sah-sah saja sih sebenarnya, tapi ya inilah yang dinamakan totalitas. Gak tanggung-tanggung tapi masih dalam batas kemampuan dan kewajaran. Bukankah itu lebih baik bagi Capres yang kami dukung menggunakan dana kampanye dari rakyatnya untuk memberikan efek tanggung jawab akan semua perjalanan sebagai Presiden ketimbang menggunakan dana pribadi yang biasanya sih bakalan menuntut pengembalian lewat jalur yang gag berpihak pada rakyat.

Uniknya lagi, meskipun terkadang kami mengabarkan tentang kekurangan lawan, akan tetapi sisi positif pak Jokowi kerap pula dipostingkan di media sosial baik Facebook maupun Twitter. Yang kemudian memicu pihak kawan yang berseberangan dukungan untuk menghujat atau menghakimi dengan gaya mereka atau keyakinan yang dipahami, ujung-ujungnya mengatakan ‘anda Tertipu oleh Pencitraan Jokowi…’ atau ‘blunder…’ atau banyak lagi kalimat penjatuhan mental lainnya. Pokoke Nomor Satu itu bagai Dewa… yang semua nilai minus dipositifkan, namun saat ditanya balik sisi yang patut dibanggakan malah minta ‘goggling aja, pasti nemu…’

Ternyata Tuhan memang tidak tidur ya Pak. dan sebagaimana keyakinan saya sejak awal, bahwa kebenaran itu akan mulai terungkap sendirinya. Pelan dan lama tapinya. Bahkan di saat rasa percaya diri untuk bangga pada pilihan itu mulai sirna lalu bergeser pada kata pasrah dan ikhlaskan. Namun… Sore ini pun semua terbukti…

Capres Nomor Satu menyatakan mundur (menarik diri) dari kancah PilPres. Yang jujur saja tudingan ‘Blunder…’ kini malah lebih pantas untuk diarahkan pada dirinya sendiri atau pada Capres yang didukung kawan saya itu. Blunder karena sejak awal sudah mengklaim kemenangan, sujud syukur, perayaan, tapi menuduh KPU Curang, berencana menuntut lalu mengundurkan diri. Lha, ini maksudnya apa ? dan tak pelak pula tudingan ‘Anda Tertipu Pencitraan…’ memang pantasnya ditujukan juga. Mengingat selama masa kampanye kita disuguhi tayangan tokoh negarawan yang patriotik, tegas dan berwibawa. Siap Menang dan Siap Kalah. Tapi nyatanya hanya Siap Menang saja…

Entah harus bilang apa sesungguhnya kini. Karena apa yang sudah disajikan hari ini, sungguh sangat mengecewakan, utamanya tentu bagi mereka yang dahulu mati-matian mendukung dengan mulut berbusa, menutup mata dengan kenyataan yang ada, menuduh saudara sebangsanya sendiri sebagai PKI, memutarbalikkan fakta, hingga melegalkan kampanye hitam. Semua hanya demi ambisi. dan kini semuanya sudah terbuka lebar.

Yang jelas, dalam pemilu kali ini sebagian besar tokoh masyarakat Indonesia (termasuk kawan sendiri) berhasil menunjukkan sifat dan karakter aslinya. Bisa ditebak sejak awal kemana arah perjuangannya serta pola pikir, akal sehat serta logika yang dimiliki. Bahkan saat last minute sekalipun.

Kemenangan hari ini adalah kemenangan rakyat yang sudah sedemikian gigih memberikan suara dan dukungan, mengawal proses penghitungan suara hingga akhir penetapan tiba. Bahkan ada juga yang mewujudkannya dengan inovasi berbasis IT kawalpemilu.org *bukan – dot orang – yah. :p

Keputusan sudah final. 22 Juli pun sudah akan berlalu. Nah trus, selanjutnya mau ngapain ?

Mungkin… Sebagaimana tekad kami saat mendukung bapak Jokowi-JK sebelumnya, kini saatnya kami memilih untuk berdiri diseberang, siap menagih janji dan mengawasi kinerja. Tapi sebelumnya yuk kita berpeluk erat terlebih dulu. Itupun jika kalian ikhlas dan mau menerima dan mengakui hasil Pemilu kali ini apa adanya.

Ya Sudahlah

Category : tentang Opini

Fiuh… akhirnya berakhir juga tugas itu dilaksanakan. Setelah memantau hasil Quick Count dari 7 (tujuh) lembaga Survey, beberapa diantaranya bisa dipercaya kredibilitasnya, tampaknya usaha dan dukungan yang selama ini diyakini Berhasil, sudah tampak bentuk dan rupanya. Minimal untuk ukuran lokal Bali, formasi 70-30 sangat lumayan mengingat target yang pernah ingin dicapai kawan sebelah adalah 60-40 untuk kemenangan Capres nomor urut 1.

Peran Sosial Media

Bagi sebagian kalangan, Sosial Media tampaknya masih diacuhkan kepentingannya. Mengingat pemilik hak suara diyakini jauh lebih besar jumlahnya berasal dari luar kaum Netizen. Tapi apa daya, kekuatan dunia maya seakan dilupakan padahal pengaruh satu orang pengguna dapat melakukan klarifikasi pada dua tiga bahkan lima pemilik suara lainnya yang awam soal internet. Hal inilah yang secara pribadi saya coba ingat, lakukan dan terapkan juga pada yang lain. Kalo gag salah sih, muasal idenya dari akun twitter miliknya @kurawa aka Rudi Valinka, akun yang ngakunya punya basic seorang Forensic Auditor. Terlepas asli anonimnya akun tersebut, tapi idenya masuk akal juga kok.

Sayangnya memang gag semua bisa dipengaruhi. Bahkan sampai H-1 hari pencoblosan, seorang rekan kantor masih juga belum terima dengan klarifikasi dan tularan informasi fakta yang saya postingkan di akun sosial media. Bahkan ia tetap kukuh pada pilihannya meski hingga kini, saya belum melihat Totalitasnya sebagai pendukung Capres nomor urut 1. Tapi sudahlah… itu sudah berlalu, dan formasi akhir 70-30 untuk ukuran Bali rasanya sudah cukup memberikan gambar pasti hari ini.

Terlalu Dini untuk mengKlaim Kemenangan

Benar kata pak BeYe usai penghitungan Quick Count sembari menunggu penghitungan hasil akhir Real Count 22 Juli nanti. Hari yang akan dinantikan kedua kubu dimana keduanya sama-sama mengklaim kemenangan beda tipis dengan cara mereka sendiri. Saya setuju itu. Apalagi untuk kasus pengawalan Surat Suara yang ada baiknya diabadikan pula dengan gambar digital sesaat setelah hasil di sahkan.

Soal Klaim, biarlah Tuhan nanti yang akan membantu mencerahkan semuanya. Toh saat ini Bulan Ramadhan hadir di tengah bangsa kita tercinta. Akan sangat disayangkan jika kejujuran berpikir, berkata dan bersikap dinodai demi kepentingan partai semata. Kita memang sedang di uji olehnya.

Tapi ngomong-ngomong diluar sub judul tadi, saya pribadi merasa agak kasihan dengan pak Presiden kita saat ini, pak BeYe. Sudah sedemikian susahnya Beliau memberikan dukungan pada sang Calon Presiden nomor urut 1, tapi kok masih diam saja saat kebijakan dan juga gerbong yang Beliau pimpin, direndahkan dalam setiap debat pula ajang kemenangan malam ini, dimana seorang mantan militer mengatakan ketidakamanan negeri ini pasca reformasi termasuk kini. Tapi ya sudahlah… jangan terlalu dipikirkan. Serahkan saja semuanya pada pak BeYe.

Kembali Bekerja

Dan begitu semuanya usai, selain masih memiliki hutang kewajiban untuk mengawal Suara hingga pengumuman hasil akhir 22 Juli kedepannya, saya pribadi sih beranggapan bahwa esok, kita harus kembali bekerja dan mengesampingkan semua caci maki dan posting negatif para Capres yang sudah melaksanakan tugas serta kewajibannya dengan Baik. Setidaknya kembali menjalankan tugas serta kewajiban masing-masing atau bahkan mengakui kekalahan dengan legowo lebih awal. Sehingga kelak tidak banyak hal yang harus disesali hanya karena ambisi.

Ya sudahlah… menyitir lirik lagunya Bondan Prakoso… ‘Ketika mimpimu yg begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah…
Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah…
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu…
Janganlah kau bersedih… coz everything’s gonna be okay…’

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi

Category : tentang Opini

Terharu… saya membaca timeline akun sosial media malam ini. Baik kawan yang mendukung bapak Prabowo sebagai Capres nomor urut 1 maupun kawan yang mendukung bapak Jokowi sebagai Capres nomor urut 2. Mereka sama… sama-sama menganjurkan untuk menggunakan suara atau hak pilih dengan bijak, tanpa Golput.

Tanpa Golput…

Itu penekanannya.

Karena kalau tidak salah, dalam pemilihan calon legislatif beberapa waktu lalu, sebagian besar kawan yang saya miliki, secara terang-terangan menyatakan Golput lantaran sudah tidak memiliki kepercayaan lagi pada calon pemimpinnya. Sehingga tidak heran jika angka Golput lalu menjadi sedemikian besar saat pemilihan berlangsung.

Semoga kini, tidak lagi. Itu harapan saya. Orang-orang yang dahulu begiti bangga dengan pilihannya untuk Tidak Memilih, kini beramai-ramai turun gunung dan menyatakan dukungannya dengan jelas. Bahkan tokoh-tokoh yang saya kagumi sejak dulu, menyatakan dukungannya meski lewat jalur yang lain. Mereka Hebat. Semuanya Hebat. Kalianpun Hebat…

Besok adalah Pesta Demokrasi. Untuk kesekian kalinya kita akan menghadapi, namun saya yakin ini bukanlah perang sebagaimana kata seorang Tokoh Reformasi, atau bahkan pertempuran yang selama ini berusaha menghalalkan segala cara untuk satu kata. Menang…

Namun mereka lupa, bahwa fitnah yang dilancarkan sesungguhnya disampaikan pada saudara yang sudah seharusnya dikasihi sebagaimana kalimat dalam Pancasila, hal yang begitu dibanggakan sejak kecil dahulu. Mereka lupa bahwa perhelatan seperti ini bukanlah hal untuk mengkafirkan tetangga yang berbeda agama, berbeda aliran bahkan berbeda pilihan Capres.

Ini adalah sebuah pembelajaran Demokrasi. dan kita diwajibkan belajar untuk secara dewasa untuk menghadapinya.

Kalah atau Menang bagi saya bukan lagi menjadi satu masalah atau Hal yang patut ditakutkan, sehingga malam ini atau besok tidak harus menyiapkan bedil dan amunisi demi menumbangkan lawan. Kita semua bersaudara, dan kita patut berbangga karenanya.

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi sudah sedemikian dekat, dan semoga Tuhan selalu menyertai Bangsa ini mencapai kehidupan bernegara yang lebih Baik dari sebelumnya.

Selamat menggunakan Hak Pilih kalian besok… dan jangan terprovokasi untuk menghancurkan negeri ini saat pilihan telah usai untuk ditetapkan. Saya percaya kita pasti Bisa.

Dua Pilihan dan makan siang

3

Category : tentang Opini

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wita. Siang yang terik sebetulnya jika kami masih berada di area Denpasar.

Sesuai arahan dari panitia, sejak pagi tadi kami tidak diijinkan membawa dompet dan ponsel selama mengikuti Outbound. Praktis saat hari sudah sesiang ini, satu satunya pilihan yang kami nanti tentu saja makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia. Apalagi outbound yang ditujukan untuk menguji fisik, mental dan pola berpikir sejak awal tadi lumayan menguras tenaga, mengurai tawa canda bahkan sedikit duka lantaran kekalahan di beberapa permainan.

Tapi santai, yang saya ingin bahas disini bukanlah bagaimana jalannya outbound atau kelanjutannya. Hanya berandai-andai saja. Tingkat keakuratan sebelum paragraf ini tentu bisa dipercaya, namun setelah ini ya jadikan saja sebagai bahan perenungan.

Ketika berada dalam kondisi diatas, Panitia memberi kami dua pilihan makan siang. Masing-masing paket makan tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dari segi kualitas makanan, kadar gizi dan semacamnya. Dengan adanya dua pilihan tersebut jika kami menikmati salah satunya, maka dijamin kami memiliki tenaga untuk bisa menyelesaikan permainan berikutnya. Yang barangkali dari jumlah tersisa sekitar lima, tiga atau empat jenis masih bisa dilakoni dengan baik. Bergantung dari pengolahan makanan oleh tubuh dan cara kita mengatur tenaga yang dihasilkan nantinya.

Sayangnya diantara dua pilihan yang ada, beberapa kawan sempat berpikir untuk tidak menikmati keduanya. Hal ini terlintas lantaran dari kedua jenis makanan yang ada tidak sesuai dengan selera atau harapan yang diinginkan. Jika kalian berada dalam kondisi kami, kira-kira apa yang akan kalian lakukan ? Menikmati salah satu meskipun jenis makanannya tidak sesuai harapan, namun jika itu dinikmati kita diberikan tenaga untuk melanjutkan permainan, atau memilih untuk tidak makan siang ?

Ingat, situasi disini hanya ada Dua Pilihan. Tidak ada uang di kantong, pun tidak ada ponsel. Sedangkan saat waktu makan siang habis, ada lima jenis permainan lagi yang harus diselesaikan.

Jika kalian memilih untuk tidak menikmati makan siang yang ada, apakah kalian siap untuk tidak menyelesaikan kewajiban yang tersisa, capek dan pingsan karena tidak ada asupan tenaga yang bisa dicerna, dan membiarkannya sementara kawan yang lain, berpikir sebaliknya dan sudah siap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya ?

Bagi yang cermat dengan kondisi bangsa kita saat ini, saya yakin kalian paham dengan gambaran diatas. Bisa saja kita bercanda saat menjawabnya. Tapi jika saya boleh ingatkan bahwa terkadang pilihan yang ada musti ditanggapi dengan keseriusan karena ini menyangkut bangsa. Saya tentu tidak akan memaksa atau mengarahkan pilihan kalian pada salah satu dari keduanya. Karena itu semua merupakan area private.

Balik ke cerita makan siang diatas yang tentu saja fiksi atau andai-andai dari saya pribadi.

Akan berbeda kondisinya apabila disaat yang sama, kita memiliki kesempatan untuk membeli makan siang sendiri, dengan jenis makanan yang sesuai harapan dan keinginan. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa seandainya paket yang telah kita pesan tersebut, kemudian digandakan dan disodorkan kepada beberapa kawan yang ada ?

Apakah mereka akan merasakan kepuasan yang sama dengan yang kalian rasakan ? Atau malah menolak dan memilih untuk tidak menikmatinya dengan alasan yang sama dengan kalian tadi ?

Itulah bedanya.

Pilihan yang ada, saya yakin tidak akan pernah bisa memuaskan satu dua pihak. Karena pilihan tersebut lahir berdasarkan pemikiran sejumlah kepala yang notabene memiliki argumentasi berbeda-beda.

Jadi apakah kalian akan menunggu ada orang yang akan membawakan makan siang yang sesuai harapan ataukah menikmati salah satu pilihan yang ada dengan harapan bisa melanjutkan proses kegiatan selanjutnya meski tidak tuntas ?

Semua kewenangan telah diberikan. Tinggal kalian yang memutuskan.

Errr… cerita outbound dan makan siangnya sekali lagi bukan berdasarkan kejadian fakta yang ada hari sabtu lalu. Jadi yah…

Masih Mau Golput lagi ?

1

Category : tentang Opini

Dalam hidup saya yakin, kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan arah untuk diputuskan segera. Dimana masing-masing pilihan akan mengantarkan kita pada arah, tujuan dan konsekuensinya masing-masing. Ada jalan yang terjal namun memiliki tawaran yang menggiurkan di awal, begitupun sebaliknya. Ada jalur yang salah, ada pula yang benar namun penuh rintangan. Andai pun kita kurang berkenan dengan pilihan tersebut, biasanya kita tak akan mengambil langkah apapun dan diam di tempat tanpa satupun kemajuan yang didapat. Apapun resikonya, untuk maju kita memang harus berani menghadapi dan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Demikian pula dengan bangsa ini.

Pertengahan tahun 2014 nanti, kita semua rakyat Indonesia akan dihadapkan pula pada dua pilihan, calon pemimpin bangsa, yang jujur saja sangat sulit untuk ditentukan kelebihan dan kekurangannya secara akurat mengingat antara berita maupun fakta yang disampaikan oleh media, masih simpang siur kebenarannya. Sehingga mau tidak mau masyarakat musti lebih pintar dan arif untuk memilah informasi yang diterima sebagai modal pemilihan nantinya.

Layaknya pilihan dalam hidup tadi, kita rakyat Indonesia benar-benar dihadapkan pada dua pilihan saja oleh-Nya. Padahal sebetulnya jika saja ada satu partai politik lagi yang mampu melakukan koalisi terpisah, bakalan ada satu pilihan lain meskipun agak sulit untuk tampil sebagai pemenang. Meski demikian, bersyukur juga sih bahwa kita sebagai rakyat Indonesia gag jadi dihadapkan pada pilihan calon pemimpin yang salah. Contoh yang beginian, saya yakin kalian pasti tahu siapa yang dimaksudkan.

Dua pilihan itu adalah pasangan Jokowi – Jusuf Kalla dan Prabowo – Hatta Radjasa.

Masing-masing calon pemimpin alias Presiden tentu punya kelebihan dan kekurangan. Demikian halnya dengan para wakil mereka yang ditetapkan menjelang akhir pendaftaran calon. Dimana kini baik kekurangan maupun kelebihan itu dieksplorasi makin dalam yang lama kelamaan malah cenderung memuakkan lantaran saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

Makin lebarnya jurang perpecahan antara dua partai pengusung yang dahulu sempat bergandengan mesra di Pilkada DKI atau bahkan kesalahan mengambil keputusan saat menggandeng calon wakil dan kawan koalisi kemudian menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia lainnya merasa enggan untuk menjatuhkan pilihan diantara dua yang ada kini. Padahal inilah tantangan terbesarnya, serupa dengan ilustrasi diatas.

Saya yakin Tuhan ataupun bahkan siapapun yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, takkan mampu memberikan pilihan yang sesuai dengan harapan dan keinginan kita baik dalam kapasitas sebagai rakyat Indonesia maupun sebagai manusia dalam dunia-Nya. Karena inilah yang namanya tantangan dalam hidup. Malah bisa jadi, jikapun pilihan yang ada sudah sesuai dengan harapan dan keinginan kita, di lain pihak malah tidak memuaskan mengingat bukan itu harapannya. Jadi wajar saja jika ada kemudian yang merasa tidak puas dengan kenyataan yang ada.

Lalu apa pilihan kita saat dihadapkan pada situasi serupa ? Lari dari kenyataan ? Diam dan tidak mengambil langkah ? Atau mencoba peruntungan serta berdoa untuk mencari pilihan lain yang saya yakin gag akan terakomodir selama kita masih menginjakkan kaki di bumi yang sama. Atau dengan kata lain… Masih Mau Golput lagi ?

Saya jadi ingat dengan cerita yang pernah saya baca di sebuah media cetak, tentang seorang Bapak yang begitu taat berdoa pada Tuhan, berharap Beliau akan mengirimkan bantuan untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya banjir yang kian mengancam. Yang dalam akhir cerita disebutkan bahwa saat sang Bapak mempertanyakan kebesaran dan kemurahan hati Tuhan yang ternyata tidak menyelamatkan nyawanya, Tuhan malah balik bertanya, pilihan seperti apakah yang engkau harapkan padaku padahal aku telah berkali kali memberikan pilihan padamu namun selalu kau tolak ?

Kita semua sudah berkali-kali dihadapkan pada pilihan untuk memilih Calon Pemimpin Bangsa yang kita cintai ini. Dan sudah terbukti pula, saat pilihan yang salah telah kita sepakati bersama untuk dilakoni selama lima tahun kedepannya, kita seakan dihadapkan pada gerbang kehancuran dan kekecewaan atas perilaku para pemimpin negeri hingga kroni kroni yang ada dibawahnya.

Kini pilihan itupun hadir kembali. Apakah kelak akan jatuh pada sang Gubernur yang tidak amanah menjalankan tugasnya, begitu ambisi pada kekuasaan yang lebih besar serta perilaku pencitraan lewat media, ataukah pada sang mantan Jenderal yang dipecat lantaran tersandung kasus HAM pada Mei 1998 lalu, yang hanya bisa meniru tokoh proklamator bangsa, serta dikelilingi armada perang yang penuh masalah ? Tentu semuanya ada di tangan kalian.

Jikapun masih bersikeras untuk Tidak Memilih karena Tidak Memilih adalah merupakan sebuah pilihan juga, maka persiapkan diri pula untuk merasakan kecewa, siapapun nantinya yang akan terpilih. Malah bisa jadi, kekosongan suara yang kalian ciptakan akan memperbesar perbedaan perolehan suara bagi pilihan lainnya. Dan itu semua bisa menjadi bumerang bagi bangsa ini selama 5 tahun kedepan.

Tuhan sudah memutuskan, ada 2 pilihan yang bisa kalian tentukan. Nasib Bangsa tentu akan berada di tangan kalian.

Bagaimana ? Masih Mau Golput lagi ?