Akhir Kisah Perjalanan di PPIP

Category : tentang PeKerJaan

Mendapatkan promosi di posisi Kepala Seksi Permukiman akhir April tahun 2013 lalu, rupanya memberikan banyak penugasan baru yang mau tidak mau harus saya lakoni mengingat secara legalitas Surat Keputusan yang ada, melekat pada jabatan struktural yang diemban. Maka itu selain mengurusi 62 paket Jalan Lingkungan, saya pun dipaksa terjun bebas menangani kegiatan bersumber dana APBN dengan 2 jenis berbasiskan pemberdayaan masyarakat yaitu PNPM Mandiri Perkotaan dan PPIP atau Infrastruktur Perdesaan.

Bagi orang baru yang didorong jatuh untuk memahami semua kegiatan termasuk istilah yang ada didalamnya, tentu membuat kelimpungan kondisi lahir bathin saat BPKP turun melakukan pemeriksaan sementara saat itu nyaris tidak ada transfer knowledge dari pejabat lama maupun pimpinan yang secara kesehatan bisa dikatakan sudah tidak memungkinkan lagi. Minimnya kehadiran pelaku pelaksana menjadikan proses berjalannya pemeriksaan kacau balau, mengingat sebagai pejabat baru di posisi tersebut, tidak ada hal yang bisa dibantu termasuk soal legalitasnya.

Satu persatu dokumen baru bisa ditemukan pasca Laporan Hasil Audit diserahterimakan dan ditindaklanjuti. Banyak hal tentu saja yang harus dipelajari.
Pada kegiatan PPIP atau Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan, saya melihat proses yang ada jauh lebih sederhana ketimbang turunan satunya lagi, PNPM Mandiri Perkotaan. Sehingga pembelajaran untuk memahami lebih jauh isi kedua kegiatan itu lebih mudah untuk mencerna PPIP ketimbang lainnya. Itu sebabnya saat Usulan pergantian Pejabat Inti Satker disampaikan ke Kementrian PU, saya lebih memilih berada di PPIP dengan rangkap jabatan Kasatker sekaligus PPK ketimbang PNPM Mandiri Perkotaan. Apa lacur, keluaran SK yang diturunkan malah menambah beban yang ada dimana posisi PPK di kegiatan PPIP tetap diemban sedangkan PNPM malah merangkap jabatan keduanya.

PPIP PanDe Baik

Dua tahun, saya mengabdikan diri untuk kegiatan PPIP yang pada akhirnya sebagaimana yang disebutkan dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 305/KPTS/M/2015 tentang Pengangkatan Atasan Pejabat Perbendaharaan dan Pejabat Perbendaharaan Satuan Kerja di Lingkungan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, posisi saya telah digantikan sepenuhnya oleh Kasatker yang merangkap jabatan sebagai PPK per tanggal 27 Mei 2015 lalu.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama kurun waktu tersebut, dimana aura positif selalu hadir dalam setiap pertemuan baik di awal maupun saat serah terima pekerjaan. Suasana yang hangat kekeluargaan sebetulnya telah membuat saya betah berlama-lama dalam keluarga PPIP. Pun demikian saat diminta berkoordinasi dengan rekan sejawat se-Indonesia di Batam, Manado, Solo dan lainnya. Berkenalan dengan sosok Bapak Kadek Sutika, mantan PPKP PPIP Provinsi Bali, Bapak Nyoman Sutrisna Kasatker yang hingga kini masih menjabat di posisi yang sama, Agus Yudi Kasatker merangkap PPK PPIP Kabupaten Bangli, Gus Mahesnawa dari Kabupaten Klungkung atau Gusti Ariana dari Kabupaten Gianyar membawa banyak cerita dan pesan yang unik dalam kisah perjalanan ini.

Satu persatu tugas yang saya emban kelihatannya sudah mulai dikurangi. PNPM tak lagi masuk ke Kabupaten Badung, demikian halnya PPIP yang tak lagi saya asuh dalam kurun satu tahun kedepannya. Entah nanti

Satu Penerbangan lagi

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Pesawat dengan nomor penerbangan GA 221 mendarat mulus di landasan bandara Cengkareng saat jarum panjang jam tangan menunjukkan angka enam. Masih ada waktu setengah jam artinya sebelum berpindah pesawat dan kembali pulang. Cukup wakti untuk membeli roti dan sebotol air mineral, bekal menanti jadwal di ruang tunggu keberangkatan. Ah, sudah gak sabar untuk bersua empat gadisku.

Jadwal penerbangan berikut, tampaknya mundur dua puluh menit dari waktu yang ditunjukkan pada tiket, artinya tentu masih cukup waktu untuk membersihkan diri dari keringat. Agar bisa sedikit lebih segar saat tiba di Ngurah Rai nanti.

Intan marah kelihatannya saat kutelpon sesaat sebelum naik pesawat di bandara Adisumarmo. Jelas tampak ia kangen dan ingin tiduran ditemani Bapaknya. Entah apakah malam ini aku masih sempat meninabobokannya, atau malah baru sampai saat mereka terlelap.

Tapi yang penting, aku pulang.

Dan semua kangen ini akan terbayar lunas sebentar lagi…

Menanti Waktu (Pulang)

Category : tentang PLeSiran

Jadwal yang tercantum dalam lembaran tiket elektronik pergi pulang yang saya pesan lewat telepon selasa lalu adalah sekitar pukul 16.00 WIB. Artinya saya masih punya waktu tiga jam atau dua jam untuk leyeh leyeh menanti di lobi hotel ini, atau jalan jalan lagi mengelilingi Kota Solo atau malah menunggu waktu di seputaran bandara Adisumarmo.

Jauhnya jadwal, sebenarnya saya pilih lantaran berpikir bahwa waktu keliling kota buat nyari oleh oleh ketiga putri saya, baru bisa terlaksana pasca check out dari hotel, atau jumat pagi dengan ancer-ancer waktu memuaskan. Apa daya yang terjadi malah sebaliknya. Waktu untuk menikmati Kota Solo malahan bisa saya lakukan kemarin malam, dan saya anggap tuntas toh bingung juga mau beli oleh oleh apa lagi. Tinggal yang untuk Staf kantor saja yang belum kesampean. Lagian mau dibawakan apa ya mereka ?

Suasana lobi hotel ini cukup panas, tapi gak terlalu mengganggu lantaran ketinggian rangka atap dari lantai cukup tinggi, jadi hawa masih bisa masuk meski gak bisa dibilang leluasa. Tapi cukuplah bagi saya untuk duduk sebentar, menunggu kedatangan taxi yang belum saya pesan. He…

Dalam pertemuan PPIP kali ini, saya menjalani proses bersama teman sekamar pak Agus Yudi dari Kabupaten Bangli yang punya hobi mirip mirip, yaitu gadget. Maka bisa ditebak, kalo topik obrolan dan aktifitas luang di dalam kamar berkisaran soal apa saja. Dari review, kekurangan dan kelebihan hingga Tips menyesatkan yang sepertinya bakalan mampu membuat Beliau itu lupa akan pekerjaannya beberapa waktu. Jadi Good Luck kawan, semoga apa yang dicari di dunia maya bisa didapatkan. Saya cuma nitip kalo lain kali bersua kembali, ajarkan saya soal investasi dananya.

Waktu sudah berlalu setengah jam lamanya. Dan saya pun masih duduk di pojokan sambil berusaha menghubungi nomor telepon Golden Bird yang diberikan petugas mereka di bandara Adisumarmo kemarin. Rupanya nomor itu belum terdaftar katanya. Sementara nomor Flexy yang terdaftar sebagai Counter mereka malah dikatakan tidak aktif lantaran sudah harus diganti ke nomor GSM.
Maka jadilah saya menanti kembali sambil leyeh leyeh menikmati secangkir kopi sendirian.

Sendirian (lagi)

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

GA 401 tujuan Jakarta… transit sebentar, lalu berpindah ke GA 222 tujuan Surakarta. Solo.

Untuk yang kesekian kalinya, saya berangkat sendirian (lagi). Melewati pagi yang dingin, serta kursi duduk tanpa teman bicara. Semua asyik menatap layar ponsel termasuk saya.

Menanti keberangkatan di Gate 3 pada pukul 6.45 AM, membuat pening kepala akibat mabuk perjalanan menumpangi taksi dari rumah menuju bandara tadi. Benar benar gak nyaman.

Setelah menitipkan tas ransel Navy yang saya beli di Lazada tahun lalu di area bagasi, sayapun berusaha menikmati semua perjalanan yang akan dilakukan hari ini. Menuju kota Solo. Kota dimana pak Presiden kita dahulu berasal.

Solo PanDeBaik 1

Dibandingkan perjalanan sebelumnya, bekal perjalanan kali ini bisa dikatakan lebih ringan. Pengalaman yang didapat pada kisah sebelumnya menjadi data awal. Hanya berharap bahwa lawatan pertama saya ke luar kota tahun ini alan memberikan hasil yang baik bagi semua.

Ohya, keberangkatan saya ada kaitannya dengan penugasan sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen pada PPIP kegiatan Program Pembagunan Infrastruktur Perdesaan, sebagai awal dilaksanakannya kelanjutan sisa kegiatan tahun lalu. Jadi ya… dinikmati saja.

Menanti waktu di Gate 1 Bandar Udara Sultan Hasanuddin

Category : tentang PeKerJaan

Masih sejam lagi sebelum jadwal keberangkatan kami. Sesi terakhir untuk perjalanan panjang ke Manado. Menanti waktu di Gate 1 Bandar Udara Sultan Hasanuddin.

Mata sudah penat dan mengantuk. Pikiran juga mulai berat. Capek benar kali ini. Masih banyak hutang pekerjaan yang harus saya selesaikan dalam 2-3 hari kedepan.

Terkait kegiatan PPIP yang saya lakoni selama di Manado, rencananya Senin tanggal 10 November besok akan turun Tim pemeriksa dari BPKP Provinsi untuk melakukan Audit Interim kegiatan Reguler 1 Tahun Anggaran 2014 yang secara pedoman saya pantau bakalan sekaligus pula dengan yang Reguler 2.

Itu artinya, selama 20 hari kedepan hingga tanggal 30 November, kembali saya harus mendampingi Tim tersebut mengingat posisi yang saya jabat saat ini adalah selaku PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen yang menandatangani Kontrak/SP3 bersama OMS atau Organisasi Masyarakat Desa.

Dengan pola pemberdayaan masyarakat desa ini, tugas yang harus diselesaikan adalah fisik sebesar 40 % dengan progress 100 % dari keseluruhan nilai yang harusnya diturunkan di masing-masing desa.

Kabupaten Badung sendiri mendapatkan jatah sebanyak 6 Desa di Reguler 1 dimana tahap pencairan dana sudah dilakukan akhir Oktober lalu, dan 1 Desa di Reguler 2 dengan progress baru tahapan Pelatihan OMS yang sedianya akan dilaksanakan pada kamis jumat besok.

Praktis, sisa waktu yang ada untuk dapat menyampaikan Tindak Lanjut kegiatan Sosialisasi Pedoman Audit Interim hanyalah Rabu besok. Berkoordinasi dengan OMS dan Desa, sebagai early warning mengabarkan hal-hal apa saja yang berpotensi menjadi Temuan, berdasarkan pengalaman dan hasil pemeriksaan tahun lalu.

Fiuh… kenapa saya jadi membahas kerjaan di sore yang letih begini ya ? Ya sudah ah… ini juga saya catat sebagai pengisi waktu menanti jadwal pulang ke rumah lintas pulau.

Oke deh, sampai jumpa di lain cerita. Semoga bisa jauh lebih optimis dan bersemangat. Chao…

Selamat Pagi Bunaken

Category : tentang PLeSiran

Hari ini kami memutuskan untuk menyeberang, mengunjungi salah satu obyek wisata terdekat di Sumatera Utara, hanya setengah jam menggunakan boat, delapan orang penumpang sekali jalan.

Cuaca tampak cerah. Ombakpun terlihat tenang dari pinggir dermaga. Setelah menyetujui harga, kamipun melaut.

Menikmati wisata air macam begini, tentu banyak kekhawatiran yang mampir dalam pikiran. Tapi setelah dibuang jauh-jauh, semua maha karya inipun bisa melewatkan waktu dengan cepat.

Bunaken, kami datang…

Bunaken PanDeBaik6

Perairan tampak begitu jernih dari atas kapal, di kejauhan beberapa lumba-lumba pun berloncatan di sekitar kami. Makin gag sabar ingin merasakan dinginnya pantai.

Bersyukur beberapa perlengkapan menyelam di laut dangkal bisa didapatkan dengan size yang terbesar. Baik baju karet maupun sepatu kataknya. Hanya kaget ketika tahu bahwa kaca selam rupanya menutupi hidung. Maka jadilah musti mendengarkan short course dari rekan Gianyar yang tampaknya sudah jauh lebih mahir menghadapi kegiatan begini.

Karena gag bisa berenang, saya lebih memilih untuk berjalan kaki diatas terumbu karang. Keputusan yang sulit tentu saja. Yang ada malahan beberapa kali terjatuh dan mengakibatkan lecet dan berdarah di 9 titik kedua kaki. Perihnya ampun dah.

Tapi sudah kepalang basah, liburan memang tetap harus dijalankan dan dinikmati mumpung disini. Sempat mengabadikan diri lewat beberapa gambar baik diatas maupun bawah air bersama ikan. Pengalaman pertama yang menakjubkan.

Bunaken kalo secara peta yang saya lihat berada di sisi utara pulau Sulawesi. Dengan bernegosiasi harga, rute bolak balik perairan dari Manado menuju Bunaken bisa sekitar 1 jutaan, yang kalo dibagi per kepala jatuhnya ya murah juga. Suasana khas yang ada mirip di pesisir Sanur atau Kedonganan.

Bagi kawan yang ingin main kesitu, jangan lupa bawa kamera anti air agar bisa mengabadikan pemandangan bawah laut. Namun jika tidak ingin repot, kamera dan pemandunya bisa didapat dengan biaya tambahan 350rb per 100 gambar, yang nantinya ditransfer ke bentuk cd.

Khusus yang ingin menikmati wisata bawah air, kalo bisa siapkan peralatan bilas seperti handuk, sabun maupun shampoo, juga perawatan luka kecil sperti kapas, betadine dan lainnya mengatisipasi lecet akibat terlalu akrab dengan karang. Penduduk setempat memang menyediakan semua itu jika mau, namun harganya ya dua kali lipat mengingat lokasi yang cukup jauh dari kota.

Kalau tidak salah hitung, dengan jumlah 8 kepala menghabiskan biaya sekitar 3 juta untuk semua beban diatas tersebut. Sudah termasuk transportasi ke dan dari hotel plus makanan kecil penunda lapar.

Jadi pengen menyelam lagi. Tapi kapan yah ? :p

dari Rest Area lantai 6 Aryaduta Manado

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Aliran listrik sudah dua kali padam seharian ini, cukup bikin kaget untuk hotel sebesar Aryaduta Manado. Akhirnya saya memilih untuk keluar dari ruangan ballroom tempat pertemuan digelar sejak pagi. Masih di acara Sosialisasi Pedoman Audit Interim bersama BPKP.

Agenda malam ini sebenarnya merupakan jadwal besok yang seperti biasanya acara-acara pegawai negeri, dimajukan agar bisa menikmati kota lebih awal, atau sekedar jalan jalan mencari oleh oleh, bisa juga menikmati istirahat pagi lebih panjang. Jadi ceritanya kali ini tahap akhir dari perjalanan sosialisasi audit, yaitu Desk Percepatan Pelaksanaan PPIP yang seharusnya sudah dimulai sejak pukul 18.30 tadi. Akan tetapi hingga waktu menunjukkan pukul 20.05, belum tampak tanda-tanda akan dimulainya acara.

Gag salah juga sih kalo begini kondisinya. Jumlah peserta jadi jauh berkurang, beberapa usai makan malam tampaknya lebih memilih jalan keluar menikmati malam di Manado, sekedar cari oleh-oleh ataupun 3B-nya yang beken itu. He… apalagi ditambah rasa kantuk yang menyerang mata tampaknya makin membuat ruangan ini jadi semakin sepi. Jadi pengen balik kamar dan istirahat… tapi teman sekamar saya kabur kemana ya ?

GA606 9.25 PM

Category : tentang PLeSiran

Mata ternyata masih jua belum bisa terpejam. Padahal penerbangan sudah hampir dua jam lamanya. Sempat mampir tadi ke toilet belakang sambil ber-Selfie *uhuk *tampak wajah wajah lelah yang tertidur dengan posisi yang gag menentu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9.25 malam. Sementara perjalanan perkiraan akan tiba satu jam kedepan. Kecepatan pesawat terpantau sekitar 800 km/jam, rasanya.

Tapi memang, jam jam segini mata biasanya belum mengantuk. Kalo dirumah sih, jam segini biasanya masih diganggu Intan putri kedua kami, yang minta diputerin ‘ba ba’, sambil ngedot susu dan kelonan wajib dengan Bapaknya.

Ohya, ‘ba ba’ adalah sebutan dari Intan untuk perangkat tabletpc Samsung Galaxy Tab 7+, ‘ponsel’ saya terdahulu yang kini sudah dihibahkan pada kedua putri saya tadi, dimana istilah ‘ba ba’ diingat setelah ia menyukai video Banana yang dinyanyikan oleh empat Minions mungil, salah satu trailer dari film animasi Despicable Me 2. Ah, bagaimana kabar anak itu yah…

Waktu mulai beranjak ke pukul 9.33 pm, beberapa remaja Korea yang ada di sekeliling sudah mulai beraktifitas dengan gadget mereka. Remaja putri disebelah bahkan tampak asyik menghitung bekal yang ia miliki, dan si teman yang duduk di pojokan samping jendela susah mulai memasang earphone di perangkat iPhone yang ia bawa.

Sempat juga ngobrol dua tiga kalimat dengan mereka, meski kata yang keluar dari mulut saya masih terdengar kurang jelas bagi mereka, lantaran khawatir mengganggu tidur yang lain.

Dalam kondisi ini, ada banyak yang saya pikirkan sejak tadi.

Bagaimana ya kalo seumpama saya ditugaskan ke luar negeri dengan waktu tempuh 12 jam penerbangan tanpa henti seperti pengalaman kawan saya om Anton Muhajir, sebagaimana yang saya baca sepintas tadi di akun FaceBook ? Atau mungkin perjalanan kedua ponakan saya dari Ottawa Kanada pulang ke Bali ? Pasti jenuh dan capek… wong saya dua jam ini saja sudah kebingungan.

Bagaimana juga kabar si Intan, putri kecil lucu yang nakal itu tanpa kehadiran saya selama tiga hari kedepan ? Apa ia akan menyadari absennya saya di rumah dan menangis sebagaimana saya tinggalkan mandi biasanya ?

Bagaimana pula nasib saya nanti di Manado, kerjaan kantor dan semua pe er yang menanti di meja kerja ? Duh… pasti numpuk deh semua pas balik kantor.

Tapi ya sudahlah.

Anggap saja ini sebagai liburan.

Liburan setelah lama gag pernah ambil Cuti pribadi, Liburan setelah dua tahun terakhir didera penderitaan yang panjang, atau Liburan di sela kesibukan yang padat sebelum pertengahan November nanti bakalan berhadapan dengan BPKP terkait pemeriksaan kegiatan PPIP ?

Ya, susah sih sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi… Anggaplah ini sebagai pengalaman baru dalam menggapai cita cita. Jiaaahhh…

So, selamat malam kawan semua, selamat beristirahat. Pikiran kayaknya sudah mulai kendor, kebiasaan buruk tiap kali menulis di layar ponsel. Bye…

From GA653 to GA606

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Penerbangan GA606 tujuan Manado sepertinya baru bisa take off sekitar pukul 7.30 pm waktu Jakarta. Molor sejam dari jadwal yang tertera pada tiket. Waktu yang lama sebenarnya. Alasannya sih karena ramainya lalu lintas udara di Bandara Soekarno Hatta hingga pilot memutuskan untuk menunda keberangkatan.

Kabin diramaikan rombongan remaja Korea yang sedang liburan sekolah. Di sebelah sayapun duduk dua diantaranya yang tampak lelah dan tertidur dengan lelapnya, dengan posisi yang mesra *uhuk *sementara mata ini belum jua merasakan kantuk hingga sayapun memilih untuk menulis *ah mengetik di perangkat ponsel sembari menunggu kapal ini diterbangkan. Belum ada tanda-tandanya.

Gag banyak yang berubah dari Bandara Soekarno Hatta dari sejak awal saya melakoni penerbangan. Berbeda dengan Ngurah Rai yang per tadi siang rupanya penerbangan domestik dipindah ke area yang dahulunya difungsikan sebagai penerbangan internasional. Padahal waktu saya melawat ke Batam, posisi keberangkatan masih ada di sisi timur dekat gerbang masuk bandara. Dan untuk mencapai Gate 1C (yang kemudian dipindah ke Gate 2), penumpang diharuskan mengakses jarak yang lumayan jauh. Apalagi diselingi dengan salah baca tiket *duh *sempat nyasar ke Gate 6 (baca tiket GA606 Gate F6).

Melintasi area menuju ruang tunggu kami disajikan area penjualan yang menarik hati. Hebat benar tukang desain interiornya, bathin saya. Jadi merasa kecil hati jika ingat dengan pendidikan yang saya jalani selama 5 (lima) tahun di kampus dulu, yang kalau didaulat untuk membuat desain macam begini, dijamin jauh jadinya.

Oke deh… pesawat sudah bersiap untuk take off. Saya out dulu dari sini. Nanti lanjut lagi.

Berangkat (lagi)

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Sambil menikmati segelas Cappucino di Gate 2 ruang tunggu bandara Ngurah Rai, setelah memeriksa kembali tiket keberangkatan kali ini, sayapun mulai menuangkan isi kepala seperti biasanya,  menunggu jadwal yang telah ditetapkan Garuda Indonesia, minggu siang 2 November 2014.

Untuk ketiga kalinya saya meninggalkan keluarga, demi menjalankan tugas dinas dengan tujuan Kota Manado Sulawesi Utara. Adapun agenda yang akan diikuti berkaitan dengan kegiatan Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan atau yang lebih dikenal dengan PPIP.

Sendirian (lagi)

Sebetulnya melihat dari undangan yang disampaikan, tugas keluar daerah ini harusnya diemban 2 (dua) orang. Yaitu Kepala Satuan Kerja PIP Kabupaten Badung bersama Pejabat Pembuat Komitmen atau PPKnya. Sayang, ibu Kepala Bidang Permukiman dan Penyehatan Lingkungan yang ditunjuk sebagai Kasatker PIP Badung berdasarkan SK Kementrian PU per Oktober lalu, gag bisa ikut serta lantaran masih harus menyelesaikan Diklat PIM III serta menghadapi Pemeriksaan dari BPK terkait kegiatan Air Bersih. Maka, lantaran secara pertanggungjawaban Keuangan tidak memungkinkan untuk mengajak salah satu staf di ruangan, ya mau gag mau, suka gag suka… musti berangkat Sendirian (lagi).

Meski begitu, bersyukur bahwa di bandara saya bersua dengan kawan-kawan Kasatker dan PPK PIP Provinsi Bali yang rupanya berada di pesawat yang sama. Jadi minimal ya ada temannya.

Dengan tujuan keberangkatan ke Kota Manado Sulawesi Utara, kami menjalani dua kali penerbangan dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA653 tujuan Jakarta bandara Cengkareng jadwal pukul 14.30 wita (transit) dan berlanjut dengan penerbangan GA606 tujuan Manado jadqal pukul 18.10 wib. Waktu luang yang panjang tentu saja. Tapi gag apa, jadi gag terburu-buru nantinya.

Suasana ruang tunggu sudah semakin ramai. Keberangkatanpun sudah dipanggil. Jadi ya sampai nanti… Doakan saya, tiba di tujuan dengan Selamat. Tentu dengan janji, ceritanya saya lanjutkan setiba di Jakarta.

Off Campus

Category : tentang PeKerJaan

Matahari !!! Huuu Haaaaaa !!!
Selamat Pagi !!! Pagi Pagi Pag… *eh  Mimpi apa nih ?

Mih… Maaf Maaf… yang tadi itu ceritanya Yel Yel kami, kelompok Matahari (tapi bukan Bunga Matahari Shincan loh yah…) yang begitu dibanggakan saat dipamerkan didepan dua puluh peserta Diklat PIM IV Angkatan V Kabupaten Badung… Meski gag dapet Juara Umum dan menyabet emas, tapi pengalaman kali ini memang amat berkesan… apalagi pernah punya pengalaman jatuh dan amnesia saat outbound masa prajabatan terdahulu. Jadi bisa dikatakan yang sesi hari terakhir itu merupakan sesi bertahan hidup normal… ups…

Jika tulisan dua makan siang kemarin ada kaitannya dengan tulisan sebelumnya yang golput itu, maka tulisan kali ini ada kaitannya juga dengan tulisan sebelumnya yang… eh yang mana yah ?

Jadi ceritanya nih usai melakoni 13 hari kerja On Campus di pendidikan pola baru ini, semua peserta angkatan V Kabupaten Badung (sebetulnya angkatan pertama di kabupaten Badung untuk pola baru) kembali ke kantor masing masing (off campus) untuk berdiskusi dengan para Mentor (atasan langsung) serta mendapatkan persetujuan atas tugas Proyek Perubahan yang akan dikerjakan selama masa Diklat selanjutnya nanti.

Demi mendapatkan apa yang ditugaskan selama masa Off Campus ini, sebenarnya sih peserta disarankan untuk tidak mengambil kerjaan kantor, tapi faktanya ya gag bisa begitu. Sama halnya dengan apa yang saya protes saat pembelajaran pertama dahulu, bahwa sebenarnya para peserta tidak bisa meninggalkan pekerjaan utamanya meski usai jam pembelajaran sekalipun.

Dan entah mengapa ketika kegiatan Off Campus ini dilakoni… satu persatu permasalahan datang setiap harinya (dalam total 5 hari kerja), sehingga mau tidak mau ya harus diselesaikan demi masa depan cerah saat ditinggalkan kembali hari senin nanti. Edan bener…

Terhitung yang paling parah adalah berkaitan dengan waktu pulang yang gag pernah tepat waktu (diatas jam 5 sore). Ini lantaran waktu kerja yang ada rasanya gag pernah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Sampai sampai di hari pertama balik kantor malah memicu pertikaian antar pulau yang mengakibatkan ‘pisah ranjang’ selama empat hari berikutnya… ya… sudahlah… mau bilang apa lagi…

Yang lebih bikin kaget lagi ya terkait usaha menindaklanjuti PermenPU nomor 14/MRT/M Tahun 2011 yang isinya tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan di Kementrian Pekerjaan Umum yang mengakibatkan pada pencalonan saya menjadi Kepala Satuan Kerja untuk kegiatan PPIP atau Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan sekaligus merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmennya yang diperbolehkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan APBN. Ini terkait penugasan sebagai pejabat inti satker yang tidak boleh dirangkap. Lebih Edan kan ?

Bukan apa apa sih, tapi masa dengan jabatan baru setahun di Kepala Seksi begini sudah harus masuk lagi menjadi Kepala Satuan Kerja… padahal yang namanya Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK saja rasanya belum semua bisa dilakoni dengan baik, berhubung jumlah paket yang ditangani itu ada sekitar 63 paket dan akan bertambah 6-8 paket lagi di anggaran Perubahan akhir tahun 2014 nanti. Makin Edan kan ?

Maka jadilah masa Off Campus ini yang seharusnya bisa lebih santai dijalani, jadinya jauh lebih berat untuk dilakoni. Apalagi membayangkan kelak mulai Senin nanti bakalan lebih banyak pekerjaan lagi yang harus ditangani… Bweeehhh… harus siap siap stamina dan konsentrasi pikiran nih biar gag jatuh sakit.

Eh… waktu sudah menunjukkan pukul 6.20… saatnya memandikan dua putri kecil kami sebelum bersalin rupa. Ya sudah… nanti saya lanjut lagi deh.