Prepared for UU PorNoGrafi

2

Category : tentang Opini

Tampaknya gak sampe nunggu waktu setahun, RUU Pornografi yang kini berusaha disosialisasikan dan masih menimbulkan Pro dan Kontra, bakalan dengan segera disahkan. Itu artinya, segala bentuk penolakan yang dilakukan beberapa waktu lalu bisa jadi cuman dianggap angin lalu oleh para anggota Pansus. Terutama yang sempat mampir ke Bali tentunya.

Belum lagi salah satu parpol besar dinegeri ini bulat menyatakan penolakannya akan RUU yang dianggap masih memiliki multi penafsiran yang berbeda. Ini justru akan membahayakan personal yang secara tak sengaja atau malah tak menyadari mampu ‘mengundang syahwat’ orang lain.

Secara pribadi sih bakalan mengatakan setuju kalo ngeliat dari maraknya kemunculan video-video porno hasil besutan sutradara dadakan, yang baru ngeh kalo punya ponsel berkamera, atau malah baru ngeh merasakan nikmatnya bercinta dengan lawan jenis walopun secara status belum pantas dilakukan.

Tapi, itu harus benar-benar dipikirkan bagaimana cara menekan peredaran, pembuatan baru bukan sekedar melarangnya. Barangkali saja ada cara untuk mendeteksi sang pelaku dalam rekaman video yang biasanya hanya menampilkan ‘aurat’sang pelaku tanpa wajah secara langsung. Atau malah hanya menampilkan profil si cantik yang justru menjadi korban jika video tersebut beredar dimana-mana.

Hanya saja, kalo ngeliat dari salah satu isinya terkait pengaturan cara berpakaian, saya pribadi sih kurang setuju. Apalagi kalo dikatakan seperti penafsiran dari salah satu anggota Pansus ‘jangan sampe berbikini kalo cuman masuk pasar’. Lah, pernah main ke Pasar Badung siang hari gak ? para turis yang bersliweran disana, ada yang berbusana minim juga loh. Nah, apa ini bakalan langsung dikenakan sangsi ? padahal salah satu pengecualian penerapan UU Pornografi itu (katanya sih) tidak termasuk apabila itu daerah Pariwisata.

Itu semua kini malah bikin saya berandai-andai’.

Kalo seumpama saat keluar rumah, ada cewek cantik berkulit putih mulus yang memakai celana pendek dengan sepeda motor, lewat didepan para cowok ABG yang kebetulan lagi nge-jomblo. Sudah jelas pemandangan gratis ini bakalan mengundang syahwat sang jomblowan tadi. Apakah tu cewek bakalan dikenai sangsi atau hukuman berdasarkan UU Pornografi ?

Padahal disekitar kita, begitu banyak cewek, ibu-ibu, bapak-bapak dan lain sebagainya yang memilih memakai celana pendek ketimbang celana panjang, mengingat panasnya cuaca akhir-akhir ini. Kok gak dikenai sangsi dan hukuman yang sama ?

Yah, barangkali saja alasannya karena penampilan baik cewek lain (yang berkulit gelap dan sedang merenggut misalnya), atau ibu-ibu maupun bapak-bapak gak semenarik pemandangan seorang cewek cantik berkulit putih mulus sehingga gak sampe mengundang syahwat siapapun.

Hmmm… itu artinya, UU Pornografi nanti harus diwaspadai bagi mereka yang memiliki Sex Appeal, baik dari penampakan wajah, hidung yang sexy, bibir yang sexy seperti kata Mulan Jameela, hingga payu**** dan paha sexy. Aduh ! Mohon Maaf, jangan-jangan BLoG saya ini bakalan kena sensor nih gara-gara nulis kalimat diatas.

Barangkali juga saya termasuk orang yang harus mewaspadai hadirnya UU Pornografi itu. Karena menurut Istri, saat saya hanya memakai celana pendek tanpa baju dirumah, walopun perut makin ndut, tetep bisa mengundang syahwat kok. Hehehe….

Hmm….

1

Category : tentang KeseHaRian

Ini sedikit gambar yang bikin mata sedikit mendelik, terutama bagi mereka yang bujang dan ngejomblo. Sekaligus menguatkan gambaran suasana fitness yang rata-rata memiliki grup aerobik macam ini.

aerobik1.JPG

Wajar memang yang namanya aerobik dengan gerak yang cepat, membutuhkan fashion yang ringkas dan simpel. Apalagi kalo sampe menonjolkan bagian tubuh yang mungkin tujuannya yah, memamerkan ˜ini loh hasil saya ikut aerobik'(setidaknya ini pemikiran yang paling positif di otak penulis, agar layak tampil di blog, tanpa khawatir dibredel).

aerobik2.JPG12

Tapi yang biasanya gak bisa ditolerir ya mata para peserta fitness yang dapat dipastikan jelalatan sampe-sampe rela nungguin jam jadwal aerobik demi sebuah pemandangan yang jauh lebih menarik dibanding screensaver pc. (hmm… Klihatannya ini mirip dengan pengalaman tempo dulu waktu penulis masih iseng ikutan fitness) Syukur-syukur kalo rentetannya cuman sebatas jelalatan tadi. Nah kalo sampe nyambung ke senam plus-plus ?

Hmm…. jadi gak sabar ngliat efek perubahan dari fashion senam aerobik ini kalo UU Pornografi jadi diterapkan di negeri ini. 

‘Bali Pulau Porno’ Mendukung RUU APP ???

Category : tentang KeseHaRian

Mungkin belum banyak teman yang tau, kalo tulisanku tempo hari, tentang ‘Bali Pulau Porno’, dicomot begitu saja tanpa permisi, walaupun mereka tetap mencantumkan darimana tulisan itu berasal.
Bagi yang belum tau, bisa liat disini.Jujur saja, tulisan itu terwujud saat gencarnya penolakan pindahnya kantor majalah Playboy ke Bali, dan sama sekali bukan dalam rangka mendukung ataupun menolak RUU APP.

Namun bukan salahku juga jika tulisan itu kemudian disalahartikan malah mendukung rancangan tadi, karena dari dalam hati ini, rasanya undang-undang pornografi bila disahkan, malah akan membuat negara ini tambah kacau.
Karena sebagian besar menentang, dan sebagian lainnya meminta disahkan.

Jika saja yang mengelola blog ruu app tadi meminta ijin dariku, bisa dikatakan, aku tidak akan mengijinkan tulisanku dimuat bila itu berkaitan dengan hal-hal yang berbau politis. Karena bagaimanapun tulisanku bukanlah pendapat banyak orang atau mewakili suara sebagian kalangan tertentu, tapi hanya uneg-uneg dalam hati saja.

Kembali berbicara tentang antipornografi tadi, bagiku itu terlontar hanya karena sebuah ketidakpuasan dari seorang raja dangdut di negeri kita, yang merasa terancam jika lahannya direbut oleh artis lain yang secara kebetulan mengambil lahan dengan cara yang kemudian dianggap tabu.

Aku yakin, saat pemunculan pertama Inul dengan Goyang Ngebor-nya, sebagian masyarakat Indonesia, pasti membeli satu dua keping vcd bajakannya, yang lantas membuat Inul jadi secantik sekarang.
Padahal sang raja sendiri, seperti yang kita tau, gak luput dari syahwatnya yang sampe memiliki istri lebih dari satu. Bahkan Angel yang terakhir beredar, hanya kawin siri dengan sang raja.

Kemunafikan Sang Raja ?

Lantas terlontarlah ide cemerlang sang raja, untuk membungkam pesaingnya yang memilih jalan Ngebor ketimbang banyak gaya yang sama dengan personil lainnya.

So, aku gak mendukung RUU APP disahkan, jika itu hanya untuk kepentingan kalangan tertentu saja, mempertahankan ladang uang atau bahkan membungkam budaya serta ke-Bhinekaan Indonesia.
Karena sebagian tarian Bali yang bertujuan Seni, memang memperlihatkan bagian tubuh tertentu seperti pundak yang disesuaikan dengan pakaian tari, atau dada seperti tari Kecak.

Namun jika isi daripada RUU APP memang benar hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mempertunjukkan bagian tubuh secara porno-jorok lantas dibungkus dengan arti Seni, seperti Striptease di tempat-tempat Dugem, atau Joged Porno, tentu saja…
Aku mendukung RUU APP disahkan.
Karena budaya yang ada di Indonesia, bukanlah Seni yang diekploitasi dengan mengumbar nafsu.

Tapi apakah draft yang sudah disusun untuk RUU APP ini akan mau merangkum seperti dua hal diatas, atau tidak ?
Entahlah.

Yang jelas, aku enggan untuk ikut masuk ke bidang yang berbau Politis.
That’s it.

Bali : Pulau Porno ???

Category : tentang KeseHaRian

Bali, selama aku hidup, sudah banyak permasalahan yang terjadi disini. Dari sebutan Bali Pulau Seribu Pura, berubah menjadi Bali Pulau Seribu Ruko, atau Bali Pulau Beton, atau bahkan yang Ekstrim, Bali Pulau Sari Laut, huehehe….Bali Terkini, bisa jadi Bali disebut sebagai Pulau Porno.

Mungkin ada yang masih ingat dengan Joged Porno ? atau Pelawak Bali, yang tiap malam minggu mengadakan acara di Art Centre namun Banyolan yang dibawakan malah nyerempet bau-bau porno ?

Ini semua didukung pula dengan kondisi lapangan, dimana turis bule yang berjemur di pesisir pantai dengan sangat terbuka, padahal tidak jauh dari tempat tersebut Umat Hindu sedang mengadakan ritual keagamaan.

Bukan hal rahasia lagi jika tempat-tempat dugem, diskotik di seputar Kuta, bahkan mulai berani menyuguhkan penari-penari eksotis yang siap membuka pakaian hingga telanjang.

Siswi SMU kinipun sudah berani mempertontonkan adegan yang memperlihatkan (maaf) payudaranya dan bagian-bagian syur melalui fasilitas video pada ponsel, dan disebarkan pada teman-temannya hinga satu dua nyampe juga pada ponsel saya.

Penolakan RUU APP juga jadi berita hangat di Bali, karena itu semua bisa memberangus budaya Bali yang barangkali tidak akan bisa menarik wisatawan lagi jika busana penarinya ditutup seperti wanita-wanita muslim Afganistan misalnya. atau para penari Cak, yang berbusana lengkap layaknya ke mall saat pentas di panggung.

Playboy diterbitkan dan berkantor di Bali, menambah semarak citra Bali, yang saat ini mungkin saja, bisa saja Bali sudah mendukung sebutan Pulau Porno.

Ah, akankah Rumahku ini hancur begitu saja saat orang-orang sudah mulai mengekploitasi Bali hanya untuk kepentingan Dompet mereka ? Mungkin karena kami makin terbuai dengan sebutan orang luar yang mengatakan Orang Bali, begitu ramah dan terbuka pada setiap orang…

Playboy di Bali

Category : tentang KeseHaRian

Koran hari ini, Senin 12 Juni 2006, cerita seputar penerbitan majalah Playboy, yang saat ini berkantor di Bali, masih marak, bahkan kini ada 17 tokoh yang ikut menolak kehadiran kantor Playboy di Bali. Ngurah Harta, tempo hari menyarankan agar Playboy berkantordi Bali, lebih karena Erwin sang Pimpinan majalah adalah salah satu muridnya yang sudah menjadi bagian dari Keluarganya, dan mendapat restu untuk memindahkan kantor Playboy yang sempat diusak oleh FPI di Jakarta.

Menurutku, keputusan itu satu hal yang Bodoh. Lebih mengedepankan hubungan masa lalu dibandingkan dengan citra Pulau Bali saat ini. Tindakan yang kalo boleh dikatakan sebagai Tindakan yang Mencari Muka di mata masyarakat penggemar Playboy.

Walaupun isinya memang tidak sevulgar yang dibayangkan, namun tetaplah image Playboy dimata awam, adalah majalah Porno. Sama seperti Aqua yang bagi orang awam adalah minuman mineral, walaupun mereka memproduksi minuman dengan rasa buah-buahan, tetap saja awam lebih mengenal Aqua sebagai minuman mineral.

Sebagus apapun isi majalah Playboy, bagiku tetap saja image awam tetap Porno. Jadi menurutku, jika Erwin tetap ingin memproduksi majalah yang aman, pake nama lain saja. Beres urusan.

Tapi Bisnis adalah Bisnis. Dengan memakai label Playboy, diharapkan majalah inipun laku keras di masyarakat karena mengudang kontroversial. Namun apakah isinya akan tetap dijamin tidak vulgar ? Apakah sang pemilik majalah dipusatnya akan diam saja, jika mengetahui Playboy Indonesia isinya malah jauh dari pakem utama majalah tersebut ?

Mungkin akan sangat lucu jika misalkan saja, membaca Tempo versi Luar Negeri yang isinya cergam anak-anak, jika Tempo di daerah tersebut dilarang memuat berita Politik.

Bagiku, ini hanya sebuah dagelan yang tidak lucu…