Menikmati Hiburan Kota Pattaya

Category : tentang PLeSiran

Terakhir kali saya menyaksikan pertunjukan Elephant Show atau atraksi Gajah barangkali sekitar setahun lalu, tepatnya saat wisata anak TK Lokasari ke Bali Zoo di Singapadu. Itupun kalo gag salah hanya berjalan-jalan di seputaran kebun binatang tanpa ada pertunjukan hiburan yang melibatkan segudang gajah dengan keahlian mereka.

Dan terakhir kalinya saya menikmati hiburan alam plus segala rupa fasilitasnya barangkali sekitaran dua tiga tahun lalu. Tepatnya saat menginjakkan kaki di Jatim Park, atau dua dekade lalu saat Taman Bali Festival Padang Galak baru saja diresmikan.

Pattaya adalah Kota Malam-nya Thailand. Kurang lebih begitu sebutan yang disampaikan Tour Guide kami kali ini. dilengkapi dengan sejuta gambaran menarik perihal hiburan yang dapat dinikmati. Dari pertunjukan kabaret yang terkenal bertajuk Alcazar, rekreasi keluarga Nong Nooch Paradise, hingga pertunjukan ‘no camera please’ ala BigEye yang kabarnya di-Legalkan oleh pemerintah setempat.

Pattaya sendiri kelihatan seperti wilayah Kuta, saya kira. Penuh dengan pub, cafe, dan arena pertunjukan yang siap menghibur wisatawan dengan berbagai tawaran yang menarik. Bedanya, jika Kuta lebih banyak dipenuhi oleh cewe bule berbikini yang melenggang bebas di sepanjang jalan, Pattaya agak-agak mengkhawatirkan, mengingat yang hadir disini adalah versi KW nya. Dari kualitas nomor satu hingga yang begitu mudah dikenali dalam sekali tatap.

Hebatnya, Trans Gender disini sepertinya didukung penuh oleh Pemerintah dan masyarakatnya, sehingga ya gag heran kalo mereka kemudian diberdayakan untuk tampil dalam satu pertunjukkan Kabaret penuh warna yang sangat mengagumkan. Dikemas dalam beberapa sesi, Alcazar show mampu menyedot sekitaran seribu penonton sekali tampil.

Dipadu dengan tata lampu yang megah, backdrop yang indah dan penampilan para bintang yang wah, melengkapi semua bayangan yang selama ini hanya bisa dinikmati melalui layar kaca atau rekaman film kelas hollywood ternama.

Ini jelas jauh berbeda dengan semua gambaran yang diberikan oleh banyak teman perihal hiburan malam di Pattaya, yang rata-rata berbau tiga huruf, S-E-X. SEX atau Seks tentu saja.

Pertunjukan Kabaret Alcazar show sepertinya memang dibuat sedemikian seriusnya, terutama saat melihat pergantian backdrop dan detail yang ditampilkan dalam setiap sesi, membuat tepuk tangan makin membahana saat semua penampilan usai. Yang paling membuat hati terkesan, salah satunya saat penampilan budaya China dan Thai pula Jepang dan lainnya. Sayang minus budaya Indonesia. :p
Termasuk penampilan dua karya yang tak asing bagi telinga, Cindai nya Malaysia dan Gangnam Style nya Korea.

Bagi pengunjung yang berminat untuk menonton penampilan mereka di rumah, bisa dilakukan via keping DvD yang dijual sekitar 300an Baht di akhir pertunjukan. Pula berfoto bersama dengan membayar uang lelah 20 Baht, diluar gedung Alcazar Show.

Pattaya Alcazar PanDe Baik

Apabila pertunjukan Alcazar masih belum memuaskan hasrat dan fantasi para wisatawan di Kota Malam Pattaya, bisa melirik ke BigEye, satu penampilan yang menyajikan tiga huruf tadi secara vulgar, tanpa malu-malu dan uniknya, sangat diminati oleh ratusan bahkan ribuan pengunjung dalam sekali waktu. Dari tiket masuk yang diterima kalo gag salah ingat sekitaran 5000 Baht atau satu setengah juta rupiah, sangat besar jika dibandingkan dengan biaya yang harus dibayarkan peserta Rombongan.

Sesi penampilan para bintang, murni mengandalkan (maaf) kelamin yang dipamerkan sedemikian rupa, tanpa penutup dan penonton dapat berinteraksi langsung jika mau dan tanpa malu. Itu sebabnya, usai beraktifitas di panggung depan, mereka langsung menghampiri barisan penonton secara acak, untuk memberikan bukti bahwa tontonan kali ini, free to use :p

Sajian yang hadir secara berulang setiap jamnya di BigEye ini, tak ubahnya seperti menonton Film BF, Bilm Ferjuangan, secara langsung, Live dan penonton dapat pula berinteraksi dengan para aktor dan aktrisnya. Meski demikian, tak sedikit pula yang tampak Munafik, lari dari ‘kunjungan dadakan’ para aktor dan aktris, yang menghampiri dan mengijinkan tangan penonton untuk memegang atau mengeksekusi, lekuk tubuh maupun (maaf) kelamin yang dipamerkan. Padahal mereka mau dan gag malu untuk menontonnya secara langsung. *uhuk

Meski sajian BigEye tergolong sangat Vulgar, namun minat para penontonnya sangat hebat, dibuktikan dengan antrean yang mengular hingga keluar gedung. Tua muda, ibu ibu, bapak bapak, pasangan kekasih hingga mirisnya, anak-anak usia SD pun tampak menikmati penampilan mereka. Cukup bikin geleng-geleng kepala jadinya.

Apalagi keVulgaran mereka ditambah pula dengan aksi gila lainnya, seperti memukulkan (maaf) Penis yang sudah mengeras seperti batu ke gendang kecil secara berkala, meniup terompet dari (maaf) lubang Vagina, atau striptease dengan memanfaatkan tiang menjulang tinggi, dan aksi Kamasutra dengan berbagai Gaya.

Kabarnya sih, masyarakat lokal gag diijinkan untuk ikutan menonton, jadi diperuntukkan hanya bagi turis asing saja. Bisa jadi alasan ini untuk mencegah terjadinya ‘hey, itu kan teman saya… ‘loh ? Keponakan saya ternyata punya (maaf) kelamin yang sekeras batu toh ? *kan repot kalo seumpama ada yang kemudian mengenal bahkan melaporkan sang aktor/aktris ke FPI. *eh

Jika Alcazar ataupun BigEye menyajikan ciri khas Kota Malam ala Pattaya, tidak demikian halnya dengan Nong Nooch Paradise yang rasanya jauh lebih pantas untuk dinikmati bersama keluarga.

Thailand 21 Jan 13 220

Disini hampir semua atraksi dan juga hiburan seperti yang disebut di awal tadi bisa dinikmati sepanjang hari tanpa khawatir kehabisan waktu. Namun jika dilihat dari map dan ketersediaan venue yang ada, sepertinya memang tak akan cukup untuk dijajal dalam waktu sehari penuh.

Main Gate dimana pengunjung diturunkan rupanya berada di area Parkir satu, yang langsung menyajikan live show budaya Kota Pattaya dan Thailand, tanpa pungutan atau bayaran lagi. Namun berbeda dengan Alcazar, baik tata panggung, tempat duduk hingga artistik lainnya seakan diminimalisir, hanya sajian panggungnya saja yang barangkali bisa disejajarkan.

Usai menonton Live Show, pengunjung bisa menikmati atraksi Gajah yang digelar di belakang panggung pertama, dengan arena yang cukup luas untuk menampung barisan pasukan Gajah dan para pawangnya.

Di sekitaran area lain, terdapat beberapa bukit berbunga buatan, patung jagung, rumah semut raksasa, hingga altar layaknya digunakan untuk tempat pernikahan. Semua tertata begitu rapi dan indah, di bidang seluas 652 are ini. Cukup luas bukan ?

Sayangnya, liburan kali ini cukup singkat untuk bisa mengeksplorasi puluhan hiburan yang ada disini. Akan tetapi, tunggu saja catatan berikutnya.

Bagi satu dong Pak Video pornonya

10

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Rasanya untuk bisa menjadi seorang Public Figure itu sangat susah dilakukan, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan biasa, dan dalam waktu singkat mendadak menjadi luar biasa. Jangankan menjadi Artis, menjadi seorang PNS yang Biasa-biasa saja sudah saya rasakan penuh tantangan lantaran tidak sedikit hujatan dan kecaman dilontarkan saat mulai bersikap layaknya orang normal. Apalagi anggota DPR ?

Figur yang terakhir saya sebutkan ini belakangan hari jadi makin terkenal dan termashyur akibat kelakuan dan tingkah polah yang kata Gus Dur dahulu malah mirip sekumpulan Anak TK. Dari yang tertangkap melakukan adegan mesum dengan artis ternama lantaran aksinya terekam dalam format video ponsel, yang meributkan soal tunjangan ini itu padahal kinerjanya masih perlu dibuktikan lagi, yang kerjanya plesiran mengatasnamakan Studi Banding, atau yang terakhir ngotor membangun gedung baru yang katanya sedikit lebih murah ketimbang biaya per meter sebuah instansi negara lainnya.

Menjadi seorang Anggota DPR bagi saya pribadi ya bak buah simalakama. Sama halnya seperti menjadi seorang PNS namun dalam kadar yang jauh lebih besar. Bertindak diluar norma dan etika kesusilaan, dikecam dan dihujat, bahkan bisa jadi malah dicerca dalam hitungan bulan sampe ada topik baru yang lebih menarik untuk menutupi perbuatannya. Sebaliknya, berusaha bertindak profesional dan berjalan diatas rel malah cenderung dipertanyakan, dianggap tak bersuara vokal dan tak inovatif dalam memperjuangkan hak rakyat. Sedangkan kalo bertindak yang lebih lagi malah dianggap cari muka atau persiapan kampanye untuk periode mendatang. Hehehe… serba salah.

Malah saking apatisnya, sebagian masyarakat lantas menganggap ‘ah, itu mah sudah biasa…’ dan kemudian tindakan itu malah dilegalkan oleh rekan sejawatnya. Aneh.

Adalah Arifinto, seorang anggota Dewan yang terhormat dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang notabene saat kampanye lalu sempat membentangkan kain putih sebagai wujud perjuangan mereka, bahkan sempat pula memberantas kemaksiatan lewat aksi sopannya, ternyata malah tertangkap kamera sedang menonton video porno ditengah Sidang Paripurna yang seharusnya ia perhatikan.

Arifinto jelas menyangkal dan mengatakan bahwa ia tak sengaja melihat video tak senonoh itu lantaran melakukan -klik- pada sebuah link yang tercantum dalam sebuah email yang diterimanya. Segera dalam hitungan detik ia buang dan sayangnya ia tak ingat dengan alamat pengirim email tersebut.

Penjelasan ini berbeda dengan pengakuan wartawan yang secara kebetulan menangkap basah melalui kamera yang ia gunakan. Bahkan beberapa hasil jepretan ini sempat diperlihatkan pula pada rekan sejawatnya, para wartawan maupun sejawat si Dewan, Nasir Djamil.

Kendati perbuatan tersebut kemudian dimaklumi lantaran manusiawi,karena  yang bersangkutan merasa jenuh  ditengah Sidang paripurna, namun yang kemudian dianggap penting untuk diajukan adalah, seberapa jauh kemajuan pemblokiran video dan situs porno yang dilakukan oleh Pemerintah seperti yang selama ini digembar gemborkan oleh salah satu Menteri negeri ini yang pula merupakan seorang Public Figure dunia maya.

Jikapun kemudian kemajuan tersebut sudah dianggap maksimal , lantas siapakah yang sebetulnya berbohong ? Pak Menteri ? ataukah anggota Dewan kita yang terhormat itu ? atau malah bisa jadi itu bukanlah Video Streaming secara online, tapi merupakan koleksi pribadi yang memang disimpan dalam perangkat yang dimiliki ? fiuh… memang susah kalo sudah jadi Public Figure di negeri ini. Baru ketangkep nonton Video porno saja sudah sebegitu hebohnya…

Bagi satu dong Pak, video pornonya… hehehe…

 

Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang Penthouse

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Playboy lagi, Playboy lagi. Tapi yakin deh, ini tulisan terakhir saya yang menceritakan tentang aksi heboh www.pandebaik.com selama bergelut dengan Torrentz, Playboy Magazine hingga PentHouse.

PentHouse ?

Kata terakhir yang saya sebutkan diatas, bagi yang masih belum familiar, kurang lebih bermakna sama dengan halnya Playboy Magazine. Sebuah majalah yang kabarnya dianggap sebagai kategori Pornografi dan katanya mampu merusak pikiran generasi muda bangsa Indonesia hingga sampai sel terkecil sekalipun sehingga dirasa perlu untuk dibabat habis dengan ancaman Undang-Undang.  Sayapun baru teringat dengan PentHouse ketika edisi Playboy yang terdownload sudah mencapai space 3 GB.

Dibandingkan dengan Playboy Magazine baik itu yang merupakan edisi rilis resmi USA, Argentina, Cheko, Greece, Philipina, Mexico hingga Slovenia ataupun edisi bonus tahunannya, ternyata PentHouse jauh lebih vulgar baik dari tema, isi tulisan, data pendukung hingga pose wanita telanjangnya. Hingga jujur saja saya malah jadi enegh saat berusaha menikmatinya halaman demi halaman. Bikin panas dingin…

Aura vulgarnya bahkan sudah terasa ketika pembaca membuka halaman demi halaman sedari awal. Makin menjadi ketika halaman makin dalam. Meski Tema yang diangkat beragam, namun gambar ataupun foto pendukungnya jauh lebih menantang bahkan sudah mengarah pada (maaf) hubungan seks. Berbeda jauh dengan apa yang disajikan dengan Playboy.

Kartun atau gambar sket khas majalah luarpun tergolong banyak tertampil di Playboy Magazine, lengkap dengan satu kalimat di bagian bawah gambar, yang lumayan membuat pembaca tersenyum simpul. Tidak demikian halnya dengan PentHouse. Nyaris 75 persen gambar ataupun foto yang terpampang, mampu membuat para pria normal yang membacanya (termasuk saya tentu saja) menelan ludah dan cepat-cepat membuka halaman berikutnya. Bukan bagaimana, tapi khawatir jika pikiran malah mulai keterusan mengarah ke aksi Pornografi.

Tidak hanya pada liputan utama, tapi juga tulisan pendukung dan iklan tentu saja. Lay outnya sendiri mengingatkan saya pada sebuah majalah gadget local yang kerap menurunkan liputan hal-hal konyol di seputaran kita, hanya sekedar mengingatkan betapa bodohnya manusia percaya pada hal-hal yang bisa dikatakan fenomenal. Begitu pula dengan PentHouse.

Menjual gambar atau pose wanita sexy telanjang dan terekam dalam satu eksemplar majalah barangkali tergolong ‘menarik’ untuk ukuran pria normal di Indonesia yang dikungkung oleh Undang-Undang dan Peraturan serta norma Agama. Sayangnya sepengetahuan saya, larangan itu hanya diperuntukkan bagi Playboy Indonesia saja. Barangkali jikapun kelak PentHouse berkeinginan sama dengan Playboy, ingin melebarkan sayap ke Indonesia, saya yakin bakalan bernasib sama. Dikepruk sebelum diterbitkan. Apalagi seumpama masih mempertahankan gaya liputan mereka seperti yang saya gambarkan diatas.

Padahal kalo Pemerintah dan juga para pembela Norma itu mau jeli, banyak kok tabloid esek-esek yang dijual walau secara sembunyi-sembunyi tak kalah menyajikan pose syur, cerita mesum atau bahkan iklan yang mampu menaikkan syahwat pembacanya. Tapi terlepas dari itu, Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang PentHouse. Gag percaya ? Donlot aja via Torrentz. Hehehe…

Playboy Magazine, antara Porno atau Nilai Seni ?

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika saya menyebutkan dua kata kunci yang kabarnya mampu menurunkan sekompi pasukan Front Pembela Islam beberapa waktu lalu ?

“ Playboy Magazine “

Sebutan yang kurang lebih bermakna sama dengan Majalah Playboy (versi Indonesia) ini, benar-benar diidentikkan dengan majalah porno, mesum hingga tak sejalan dengan norma agama bangsa kita Indonesia. Walaupun ada sebagian kecil pendapat yang menyatakan bahwa ‘itu adalah sebuah karya seni yang diakui Dunia’. Wah, mana yang benar nih ?

Bagi saya sih ya bergantung pada pola pikir si pembaca saja kok. Kalo sedari awal memang sudah meyakini bahwa Playboy Magazine atau Majalah Playboy ini isinya full porno, buka-bukaan vulgar, atau gambar wanita telanjang ya saya yakin otakpun bakalan langsung terlintas adegan mesum kendati halaman yang pertama dibuka menyajikan iklan sebuah kendaraan keluaran terkini atau bahkan gambar sebuah botol minuman, sambil tak sabar terus membuka halaman satu persatu secara cepat hingga menemukan apa yang terpikirkan. ‘nah, benar kan apa yang saya katakan ?’ ujar si otak. Hehehe…

Menyimak perkembangannya dari beberapa tahun edisi yang saya dapatkan, terlihat jelas perbedaan kualitas gambar, penampilan majalah hingga penampilan wanitanya tentu saja. Bayangkan, dari tahun 1978 hingga tahun 2011 saya nikmati satu persatu meski tidak semua.

Memang saya akui bahwa dalam beberapa halaman di setiap edisi Playboy Magazine ini, jelas terdapat pose ataupun gambar telanjang para wanita yang mengundang jatuh air liur setiap pria normal di belahan dunia manapun. Namun informasi yang tertuang dalam sekian banyak halaman lainnya tak melulu soal pornografi dan seisinya. Seperti juga majalah dewasa lainnya, informasi seputar hobby ataupun kemaniakan para pria normal terhadap benda diluar wanitapun ada tertampil dalam layout yang memikat. Mencirikan  khas majalah luar, bathin saya. Jika masih bingung dengan bagaimana tampilannya tanpa ingin melihatnya langsung, bayangkan saja majalah lokal seperti Popular, Tempo ataupun RollingStones.

Benda yang saya maksudkan disini berupa mobil mewah gres keluaran brand ternama, motor besar, gadget, ponsel hingga asesoris seperti kacamata ataupun Tuxedo. Bagi yang belum masuk terlalu dalam ke seisi majalah, barangkali malah berpendapat sebaliknya ‘masa sih majalah Playboy edisi USA isinya hanya kaya’gini ?’ saya berani Taruhan loh.

Maka, seperti halnya puluhan majalah bertema khusus lainnya seperti M2 atau Cinemagz yang menjual informasi tentang film, Hai tentang Remaja atau bahkan Tempo yang menjual soal Politik, Hukum dan sebagainya, PlayBoy Magazine pun demikian. Hanya saja memang topic atau bahkan gambar pendukung yang berupa pose wanita telanjang bisa dikatakan sangat jarang kita saksikan di negeri sendiri secara langsung atau bahkan dianggap melanggar norma-norma kesusilaan. Meski sedari tampilan gambar dan halaman bagi saya malahan mampu mengundang decak kagum atas cara pengambilan angle, obyek hingga rasanya sayang jika isi majalah langsung habis ditelan dalam hitungan menit. Musti dicermati dan dinikmati dulu.

Seperti kalimat saya diatas, ya kembali pada pikiran si pembaca saja kok. Kalo memang sedari awal sudah beranggapan bahwa majalah Playboy atau diluar dikenal dengan sebutan Playboy Magazine merupakan majalah yang biasa-biasa saja seperti tag blog saya diatas, ya gag banyak emosi kok yang terasa. Kalopun kemudian mata disuguhkan pose wanita sexy nan menantang ya anggap saja itu semua sebagai Bonus atas kebosanan yang ada dari halaman pertama. Itu saja.

XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Sejak resmi bercerai dengan koneksi cdma milik Indosat, StarOne Unlimited, praktis hari-hari saya saat berinteraksi di dunia maya ditemani oleh dua koneksi gsm Indosat IM2 dan XL Unimited. Sayangnya, meski biaya bulanan IM2 Indosat jauh lebih besar ketimbang XL Unlimited, dari segi kecepatan baik saat masih dalam batas Kuota ataupun saat penurunan kecepatan, XL nampaknya lebih mampu menunjukkan taringnya dengan lebih baik. Padahal Indosat itu dimiliki orang luar loh. Mungkin itu sebabnya saya lebih kerap menggunakan koneksi XL ketimbang IM2 untuk semua aktifitas internetan.

Seperti halnya pertama kali menggunakan koneksi StarOne ataupun IM2 Indosat, sudah bisa ditebak sayapun kesetanan dalam memanfaatkan kecepatan koneksi XL Unlimited dan praktis Kuota pun terlampaui dalam waktu singkat. Terbanyak saya manfaatkan untuk mengunduh aplikasi Emulator system operasi ponsel (Symbian 5th Edition dan Symbian ^3) termasuk simulator iPhone dan juga iPad. Disamping itu, sayapun membongkar gudang milik 4Shared, meluapkan hasrat untuk memiliki konten illegal dari album music artis kenamaan era 80 atau 90an. Hasilnya lumayan. Tak kurang dari 70 album soundtrack film, aliran rock hingga punk saya dapatkan dengan sukses termasuk beberapa diantaranya memang sangat ingin saya miliki sejak remaja dulu.

Puas mengubek-ubek halaman 4Shared, sayapun berpindah ke Torrentz. Hal ini saya lakukan ketika koneksi mulai diturunkan seiring penghabisan jatah Kuota bulanan lantaran aksi sedot 4Shared itu. Torrentz  saya jadikan pelampiasan mengingat aksi sedot via p2p itu bisa berjalan hingga selesai tanpa aksi putus atau mengulang proses. Maksudnya, ketika laptop dimatikan tanpa memutuskan koneksi, aplikasi pengunduh Torrentz ini secara otomatis akan menyimpan proses tanpa membatalkannya. Lantas, ketika laptop dinyalakan dan koneksi tersambung, proses pengunduhan akan secara otomatis dilanjutkan hingga selesai tanpa perlu di-Resume. Bagi yang belum familiar dengan istilah Torrentz, silahkan mampir ditulisan saya terdahulu ya.

Trus, kenapa bisa sampai “XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ? “

Ini gara-gara keisengan saya seperti halnya saat mencoba 4Shared. Hanya karena kehabisan ide untuk mencari konten download, dari album music, soundtrack film, live concert, akustik hingga Tribute, pilihanpun beralih pada majalah, buku ataupun e-Book gratisan yang ada dalam database mereka. Hingga akhirnya tercetus jua dua kata kunci paling fenomenal sepanjang karir aksi download dunia maya secara pribadi. ‘Playboy Magazine’.

Hasilnya Maknyus. Hanya dalam waktu tiga hari, Torrentz mampu menyedot 142 edisi majalah Playboy dari tahun 1978 (ini tahun kelahiran saya) hingga terbitan gres 2011. Itupun tidak terurut dengan baik, bercampur dengan edisi Lingerie, Nudes dan juga PentHouse. Total space yang dihabiskan sekitar 3,7 GB. Rencananya aksi ini bakalan terus saya lanjutkan hingga genap seukuran satu keping dvd-r atau 4,40 GB. Do’akan saja. Hehehe…

‘Ada Rahasia di balik Rahasia” kurang lebih begitu kata Bang Ali di sinetron Islam KTP yang belakangan menjadi tontotan favorit putri kami, MiRah GayatriDewi. Bukan PanDe Baik pula jika aksi yang saya lakukan ini tanpa tujuan selain maksiat, bakar syahwat dan sejenisnya. Lagi-lagi atas dasar penasaran, ingin tahu dan pada akhirnya malah menjadi pembelajaran untuk bahan BLoG www.pandebaik.com. Setidaknya mampu memberikan warna lain sejauh perjalanan yang telah saya lakoni sejak Mei 2006 lalu. Tidak hanya soal FaceBook, FourSquare ataupun MiRah putri kami, tapi juga ingin mencoba yang jauh lebih panas dan menggelinjang. Hihihi…

Be Famous ala Luna Maya, Ariel atau Cut Tari ?

7

Category : tentang Opini

Menjadi Terkenal atau Ternama bisa jadi merupakan satu tujuan akhir dari sebagian besar orang termasuk PanDe Baik. Berbagai carapun berusaha ditempuh untuk bisa mencapainya. Dari yang halal sampai yang haram. Dari yang memberikan efek instant hingga membutuhkan proses yang lama. Tidak jarang dalam perjalanan tersebut, banyak hal yang terjadi dan dialami.

Tiga nama artis negeri ini dalam seminggu terakhir secara mendadak mampu membuktikannya dengan telak. Luna Maya, Ariel PeterPorn eh ‘Peterpan’ dan Cut Tari. Nama mereka melambung tinggi setelah ‘ditemukannya’ video porno atau mesum yang diduga memiliki kemiripan hampir 99 % dan melibatkan mereka sebagai sepasang lawan main dalam 2 (dua) video yang berbeda.

Aksi video mirip Luna Maya dan Ariel ‘Peterpan’ ditemukan dalam 2 (dua) versi durasi yaitu 2 menit 37 detik dan 6 menit 49 detik. Hehehe… mirip-mirip judul lagunya Iwan Fals. :p Sedangkan video mirip Cut Tari dengan (lagi-lagi) mirip Ariel ‘Peterpan’ (kok bisa ya ?) dalam durasi 8 menit 45 detik. (koleksinya PanDe Baik Lengkap nih…).

Dari hasil ‘pemantauan’ PanDe Baik terhadap ketiga video diatas tampaknya video-video tersebut memang dibuat untuk kepentingan koleksi pribadi oleh oknum yang terlibat secara amatiran. Tanpa scene cerita, angle pengambilan gambar apalagi sound yang mantap. Ngomongin soal video mesum amatiran, kalo tidak salah ingat memutar kembali sejarah masa lalu, video amatiran seperti ini pertama kali ditenarkan oleh sepasang insan mahasiswa Itenas Bandung. Video inilah yang kemudian menjadi jalan pembuka dari ratusan bahkan ribuan video amatiran lainnya yang rata-rata dibuat dengan sarana paling murah. Ponsel. Lagi-lagi Teknologi yang disalahgunakan.

Efeknya jelas mantap. Famous ? sangat….

Dari menjadi bahan pembicaraan nomor satu di berbagai Forum, jejaring sosial, media cetak hingga obrolan warung kopi, tindakan diatas mampu memberikan kemungkinan paling besar untuk dipanggil dan ditanyai oleh pihak kepolisian. Apalagi kini sudah ada Undang-undang yang mengatur soal pornografi.

Merekam adegan mesum apalagi yang melibatkan diri sendiri sebagai sang aktor/aktrisnya adalah satu tindakan bodoh yang paling tidak saya rekomendasikan untuk dilakukan. Karena dengan perkembangan kecanggihan teknologi saat ini, seberapa besarpun usaha yang dilakukan untuk menghapus video yang telah tersimpan sebelumnya dalam memori ponsel apalagi memori luarnya, dapat dikembalikan lagi dengan baik. Bahkan oleh orang awam sekalipun. Jadi saran saya Cuma satu seandainya sudah terlanjur membuat dan menyimpannya dan berniat mengganti ponsel. Hancurkan. :p

Menjadi Terkenal atau Ternama adalah satu hal yang mengagumkan. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Karena begitu nama kita dikenal sebagai seorang aktor/aktris video porno amatiran, jangan harap publik akan melupakannya. Memang ini salah satu cara yang (diduga) bisa jadi merupakan satu trik untuk mendongkrak pamor bagi seorang artis atau selebritis. Tapi pliz deh…

Terlepas dari semua kontroversi yang masih  dipertanyakan apakah oknum yang terlibat dalam ketiga video tersebut adalah benar Luna Maya, Ariel PeterPorn eh ‘Peterpan’ atau Cut Tari atau hanya sekedar mirip alias Rekayasa, saran saya ‘Jangan dilakukan ya… kecuali  Anda  ingin memberikan ide tulisan untuk BLoG www.pandebaik.com. :p

YouTube : Not Just a Porn Videos

4

Category : tentang KHayaLan

Mohon maaf sebelumnya kalo kalimat diatas gak sesuai ejaan Bahasa Inggris yang Disempurnakan (emangnya ada yah ?), lantaran yang namanya Toefl blom jua dikantongi walopun menjadi syarat mutlak kalo mau lulus dari program pasca. Tapi berhubung gak nyinggung perihal berbahasa Inggris yang baik dan benar, maka jangan dianggap serius deh kalo itu salah. J

Balik to the Point : YouTube.

Situs penyedia video yang dapat didonlot gratis ini sempat mengalami pemblokiran hanya gara-gara beredarnya video film ‘Fitna’ yang diklaim menghina umat Islam plus ditenggarai sebagai sumber dari segala sumber video porno yang beredar luas di negeri ini.

Bersyukur tindakan keblinger tersebut gak berlangsung lama. Karena berkat jasa YouTube pula akhirnya bisa juga ngedapetin video clip musik yang sejak jaman sma dahulu sangat sulit didapat, dalam bentuk vcd-dvd sekalipun.

Murahnya tarif internet via Starone turut pula menjadi andil pengunduhan puluhan video musik ini lantaran dengan tarif yang hanya 25 rupiah per menit, nge-net selama sebulan cuman ngabisin gak nyampe angka 50ribuan. Beda banget kalo masih make Telkomnet Instant. Mahal bok !

youtube.jpg

Jadilah dibulatkan hingga pemakaian 100 ribu per bulan yang sisanya itu dipake buat nge-donlot puluhan video musik dari Kemuri, Offspring, Sepultura hingga grup rock lainnya yang sempat menjadi idola sejak sma dahulu.

Nge-donlot video porno ? No Way ! ngapain ngabisin waktu percuma, kalo video2 tersebut bisa didapetin dengan cara gampang sedot langsung dari Warnet seantero Kota Denpasar. Lebih baik nge-donlot video musik dah…