Tips Mengakali Kekurangsempurnaan ponsel Hisense Pureshot Plus HS-L695

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Pada postingan terdahulu tentang beberapa Catatan terkait Hisense Pureshot+, saya sempat sampaikan tentang sulitnya mencari Leather Case lantaran saat itu tergolong ponsel baru yang masih susah dicarikan asesoris pelengkapnya. Namun kini, semua sudah bisa ditemukan dengan mudah di Tokopedia. Baik yang berupa flip cover maupun rubber casenya. Hanya saja saya belum menemukan versi dompet sebagaimana yang pernah saya miliki lewat seri Note 3 terdahulu. Sangat berguna untuk menyelipkan SIM, KTP dan beberapa lembar uang merah saat bepergian. Hemat berat lantaran tak lagi disibukkan membawa dompet.

Lalu masih menyambung soal barunya perangkat saat itu, persoalan plastik pelindung dari sidik jari dan minyak atau lengketnya nasi pada layar juga menjadi masalah. Namun masih bisa diatasi dengan menggunakan pelindung layar universal yang tinggal dipotong sesuai lebar diagonal ponsel dengan mengorbankan lubang lensa kamera dan lainnya.

Sering mendengarkan Musik di ponsel ?
Awal penggunaan, persoalan pemutar musik sempat pula jadi masalah. Lantaran tiap kali dibuka, aplikasi Pemutar Musik bawaan selalu crash dan menutup dengan sendirinya. Saat itu masih bisa diakali dengan menambah aplikasi pemutar musik gratisan dari Play Store. Hanya untuk menemukan kemampuan yang setara memang agak sulit.
Masalah baru terpecahkan pasca melakukan Update Wireless, pembaharuan sistem yang mengembalikan fungsi aplikasi berjalan dengan baik.

Meski demikian, untuk aplikasi Pemutar Musik bawaan ini, masih kerap bermasalah pada penyajian file musik yang menghilangkan semua file pada beberapa folder tertentu, sementara apabila diakses melalui File Manager, semua file tersebut masih ada dan bisa diputar dengan baik. Sudah begitu, khusus satu folder kumpulan karya Bang Iwan Fals yang dikompilasi dari tahun 1979 hingga kini, tampil acak sesuai dengan judul lagu, tidak sebagaimana nama file yang sudah diatur sesuai tahun rilisnya. Hal ini tidak pernah terjadi pada aplikasi Pemutar Musik bawaan ponsel Samsung Galaxy Note 3 terdahulu.
Masih soal menghilangkan daftar penyajian, hal ini pula berlaku pada opsi pembuatan Playlist. Agak susah jadinya.

Tips mengakalinya sederhana. Install saja aplikasi Pemutar Musik tambahan seperti yang saya sampaikan diatas tadi, jika tujuannya hanya untuk mendengarkan musik saat berolahraga ataupun santai di rumah atau meja kerja.
Cuma Tips ini tidak mampu menyambungkannya dengan ‘status’ yang ditampilkan oleh BBM Messenger. Tentu sangat mengecewakan bagi mereka yang sedang kepingin eksis di layar ponsel kawan lainnya. Hehehe…

Pureshot Hisense SmartFren 4G LTE

Lepas dari persoalan Musik, beralih ke soal SMS.
Meski era sudah berganti ke BBM, Whatsapp, Line dan lainnya, opsi SMS sebetulnya masih berguna bagi saya pribadi, utamanya untuk berinteraksi dengan pimpinan atau orang yang sekiranya jauh dari kemampuan teknologi. Bahasa Sederhana nya ya Gaptek.
Masalah muncul ketika saya mengetikkan banyak pesan yang akan dikirimkan baik secara personal maupun multipel nomor, kerap hilang dari daftar percakapan, meskipun tadinya sudah yakin bahwa pesan-pesan itu terkirim ke Tujuan.
Maka itu sempat jadi kaget, ketika tujuan mengatakan tidak pernah menerima pesan apapun, didukung dengan menghilangnya catatan percakapan pada aplikasi SMS bawaan tadi.

Tips mengakalinya mungkin sedikit merepotkan bagi kalian. Yaitu dengan melakukan Copy Pesan setiap kali mengetikkan isian panjang lebar, sebelum memutuskan untuk mengirimkannya, sebagai antisipasi saat pesan hilang dari daftar atau tidak terkirim ke nomor tujuan. Sehingga kelak bisa di Paste kembali saat dibutuhkan di pengiriman berikutnya.

Lanjut lagi ke persoalan Share multiple File (lebih dari satu file/objek) Via BlueTooth yang tidak saya temukan opsinya melalui File Manager bawaan ponsel. Bisa diakali dengan menginstalasi aplikasi File Manager tambahan macam ES File Explorer misalkan untuk mengirimkan beberapa file sekaligus melalui BlueTooth ke ponsel/perangkat lainnya.

Beda lagi ke persoalan Pengiriman Kartu Nama yang pada ponsel Note 3 terdahulu bisa dilakukan melalui aplikasi SMS-Pilihan-Insert-Contact. Opsi ini tidak saya temukan pada ponsel Hisense melalui jendela yang sama.
Tipsnya adalah, mengirimkannya melalui opsi Contact-cari nama yang akan dikirimkan, buka lalu pilih opsi Send. Langkah ini akan membawa kalian ke aplikasi SMS, untuk dipilihkan nomor tujuan yang diinginkan.
Apabila akan mengirimkan lebih dari satu kontak, bisa dilakukan dengan meng-Copy isian pesan pada SMS, lalu balik lagi ke Tips diatas. Tentu di-Paste-kan kembali untuk menambahkan daftar nama pada pesan tersebut.

Persoalan terakhir, datang dari sisi daya tahan ponsel dimana saat sisa batere turun ke prosentase 20, ponsel langsung mematikan diri tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Apabila dinyalakan kembali, sisa batere bisa mendadak habis hingga menyisakan 2 persen saja. Entah apakah ini ada pengaturan khusus terkait pemanfaatan batere ponsel, ataukah memang disebabkan batere drop sehingga membutuhkan penggantian sebagaimana saran senior saya, Seno Pramuadji.
Sementara sih masih bisa aman dengan cara membekali diri power bank berdaya besar, mengantisipasi berkurangnya daya saat berada di bawah 50 persen. Amat sangat berguna agar aktifitas tak mentok di siang hari hanya karena terkendala batere. He…

Kira kira demikian sih, beberapa permasalahan yang kerap saya alami selama menggunakan ponsel Hisense Pureshot Plus HS-L695 besutan SmartFren. Memang mengganggu sedikit kenyamanan, namun masih lebih mending jika melihat dari kemampuan secara keseluruhan.
Semoga bisa menjadi masukan yang membantu ya.

Cerita Terkini tentang Pergantian ponsel dari Note 3 ke PureShot Plus

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Saat memutuskan penggantian ponsel dari brand ternama Samsung Galaxy Note 3 ke perangkat premium besutan SmartFren, Hisense Pureshot Plus HS-L695, jujur saja memang ada rasa canggung lantaran secara umum Note 3 jauh lebih nyaman untuk digunakan.
Tapi let’s see…

Setelah nyaris setahun berlalu, kini nasib ponsel Samsung Galaxy Note 3 yang dulu pernah saya banggakan kemampuannya pun tersimpan dalam box originalnya, lengkap dengan semua asesoris dalam paket penjualannya. Awal pernah terpikir untuk dilego via OLX, cuma ndak rela kalo dihargai 1/3 nya… Ndak jauh dari harga baru ponsel Hisense saat diluncurkan tahun lalu.

Samsung Galaxy Note 3 Hisense PureShot

Maka bisa dikatakan rutinitas saya dari semenjak berangkat kantor, pulang hingga tidur dan terbangun lagi keesokan harinya, ditemani hanya dengan satu ponsel, yang kemudian mengubah semua kriteria awal ponsel impian jika diberi kesempatan menggantinya kelak.

Dual SIM menjadi hal mutlak yang dipersyaratkan. Itupun slot kedua Sim Card mutlak berbeda dengan slot kartu memory eksternal dengan tujuan kemampuan penambahan kapasitas penyimpanan. Internal storage minimal 32 GB dan RAM minimal 2 GB. Biar lebih nyaman saat digunakan.
Layar lebar, tetap sama. Selebihnya ya opsional.

Meski demikian tidak berarti saya nyaman nyaman saja saat menggunakan ponsel Hisense Pureshot Plus HS-L695, jika dibandingkan dengan Samsung Galaxy Note 3 terdahulu.
Ada juga beberapa kekurangsempurnaan yang sempat saya alami dalam perjalanannya, lumayan mengganggu pola pemakaian di awal. Namun lama kelamaan, ada juga solusi yang bisa ditawarkan sebagai Tips untuk kalian, andai mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya.

Apa saja itu, simak di tulisan selanjutnya.

Ponsel idaman sejauh ini, macam apa sih ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalian…
Ya, Kalian…

Kalian yang kini sedang asyik memegang ponsel, apapun isinya, saya yakin sebagian besar masih berkeinginan untuk mengganti perangkat dengan spek yang jauh lebih baik. Entah dengan harapan kecepatan, leganya storage atau bahkan eksplorasi sosial media.
Tapi kelihatannya tidak lagi kalo seandainya dibalik menunjuk hidung ke saya.

Ada sih keinginannya, cuma ndak urgent banget kebutuhannya. Untuk satu dua tahun ini rasanya sih belum perlu. Bisa jadi karena saat ini merasa sudah cukup puas dengan kinerja ponsel yang saya gunakan, termasuk fitur yang ada didalamnya, walaupun ada sedikit kekhawatiran akan kualitas pemakaian ponsel dalam jangka yang lama.

Mau tau ponsel apa yang saya pegang kini ?
Hisense PureShot+ yang dibundling dengan kartu SmartFren berjaringan 4G LTE itu.
Samsung Galaxy Note 3 yang dulu saya banggakan itu, pada akhirnya masuk kotak dan tidak lagi pernah disentuh. Inginnya dijual, cuma kasian kalo harus banting harga.

Secara spek, ni ponsel kalo mau disandingkan dengan trend kekinian, masuk kategori menengah lantaran RAM yang dibekali sudah mencapai 2 GB. Dan entah kenapa, sisa RAM yang bisa dimanfaatkan lebih sering kisaran 0,99 GB. Jauh beda dengan ponsel Samsung yang sejak awal kemunculan Android saya favoritkan ketimbang lainnya.

Makin kesini, ponsel yang makin disuka ya rasanya masih tetep Android. Meski banyak yang mengeluhkan soal borosnya batere, dan lambatnya kinerja jika dibandingkan ponsel besutan Apple, kemampuan copy paste nya masih tetap jadi faktor penentu nomor satu. Selainnya itu ya mungkin ada beberapa kelebihan lain yang hanya ada di ponsel selain Apple. Dan kelebihan ini, jujur aja baru saya temukan keasyikannya saat menggunakan ponsel Hisense PureShot+. Maaf, bukan lagi promosi merek loh ya.

ponsel-android-pande-baik

Minimal fitur yang didukung adalah Dual SIM. Yang salah satunya berjaringan 4G. Tujuannya ya agar tetap bisa menggunakan nomor lama untuk kebutuhan komunikasi baik sms maupun telepon, dan gonta ganti sim utama untuk kebutuhan internet. Kebetulan saya lagi jatuh cinta dengan jaringan 4G LTEnya SmartFren. Jadi kasian melepas atau malas kembali pada XL lagi.

Setelah itu yang saya butuhkan adalah Internal Storage yang besar. Minimalnya 32 GB kalo ada, seperti Note 3 terdahulu. Sementara yang Hisense ini masih mengandalkan 16 GB untuk internal, maka itu ditambahkan eksternal yang 64 GB biar puas nyimpen filmnya. Hehehe…

Nah, kombinasi tiga slot kartu inilah yang saya harapkan nanti semoga masih ada yang mengadopsi, saat saya membutuhkan pergantian ponsel. Yang rata-rata untuk ponsel kekinian termasuk Samsung, hanya mengakomodir dua slot saja, dimana satu slot bersifat fleksibel, bisa untuk sim card, bisa untuk memory card. Ndak asyik, menurut saya.

Layar lebar itu mutlak. Minimal 5 inchi lah. Lagian lucu kalo saya pegang ponsel berlayar kecil, nanti dikira mainan oleh orang yang melihatnya.
Sedangkan Kamera, ndak butuh yang oke karena nantinya palingan hanya buat pamer di akun Instagram dan cetak ukuran 3R.
Begitu halnya dengan versi OS dan segala macam kelebihannya itu, rasanya sih belum urgent dibutuhkan. Wong ponsel saya kini gak pernah dikunci password atau pattern kok. Free aja.
Cuma manfaatin fitur Lock Screen nya Apex Launcher, mencegah terhapus atau berpindahnya shortcut aplikasi pada layar akibat ketidaksengajaan penggunaan anak anak, selain bertujuan meringankan User Interface dan menyeragamkan tampilan icon.

Ada lagi ya kira-kira pertimbangan lainnya ?

Intip Barisan Ponsel Android dengan RAM 3 GB

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Kehadiran ponsel besutan Samsung lewat seri Galaxy Note 3 N9000 pada September 2013 lalu cukup menghebohkan publik, lantaran secara spesifikasi, seri tersebut telah dibekali besaran RAM 3 GB. Dimana untuk ukuran ponsel Android saat itu, RAM raksasa merupakan teknologi terkini apalagi dibalut dengan Stylus dan kemampuan S Note yang apik.
Ndak heran kalo saat peluncuran pertama Samsung Galaxy Note 3 sempat menyentuh harga 7 jutaan, termasuk salah satu ponsel flagship kalo boleh meminjam istilah bekennya.

Kini berselang 3 tahun, tampaknya kehadiran ponsel Android yang menjual spek RAM 3 GB telah menjadi standar ponsel High End dari brand Global hingga Lokal pun ada.

Mau tahu apa saja pilihan Ponsel Android dengan RAM 3 GB yang rata-rata membesut layar 5 inchi keatas ini ?

Pertama dari Samsung. Pasca rilis Galaxy Note 3, ada setidaknya 4 seri ponsel dan 2 seri tabletPC yang dilepas dengan besaran RAM 3 GB.
Ada Galaxy Note 4 yang merupakan Stok Lama, lalu flagship S6 dan S6 Edge di kisaran 7.2 – 8.8 jt dan Terkini ada A7, Octa Core di angka 5,6 juta.

Masih dari brand Global, ada Sony lewat 4 seri ponsel XPeria berkecepatan quad core dan 2 seri TabletPC stok lama. Harganya mirip-mirip.
Sony melepas XPeria Z3, Z5 serta Z5 Premium, ponsel Android Quad Core dari kisaran harga 7.2 – 10.5 juta ? dan satu seri Dual SIM yaitu M5.
Sedang dua seri TabletPC stok lama milik Sony ada Tab Z2 dan Tab Z3 yang dilepas tahun 2014 lalu dengan harga second yang bisa dijangkau kisaran 4.5 jutaan.

Dari vendor LG ada seri G5 SE quad core 5.5 inchi dengan harga jual 7 jutaan.

Eh dari HTC apa kabarnya ya ?
Masih eksis kah ?

Sedang dari brand Lokal, ada
OnePlus X – 3.3 jt
ZTE Blade S7 – 3.5 jt
Flash Plus 2 – 2.3 jt
Coolpad Max Lite – 2.3 jt, dan
HisenseID PureShot+ 2 – 4.5 jt.
Semua seri diatas merupakan ponsel Android quad core berlayar 5 inchi dengan fitur Dual SIM. Standar baku ponsel Lokal masa kini.

Lenovo punya varian plg banyak. Ada Vibe K5 Plus – 2.5 jt, Vibe Shot, Vibe P1 Turbo – 3.7 jt, Vibe S1 – 3.3 jt, Vibe K4 Note dan K5 Plus – 2.5 jt.

Brand Oppo punya dua varian yaitu F1 – 3.2 jt, quad core 5.0 inchi dual sim dan seri R7 Plus – 7.0 jt, quad core 6.0 inchi dual sim. Kabarnya terakhir juga melepas seri pembaharuan F1 Plus, yang memiliki spek lebih tinggi yaitu RAM 4 GB dan Internal Storage 64 GB.
Hmmm…

Trus ada seri yang lagi rame dibicarakan, Infinix Hot S Pro – 2.2 jt dan Zero 3 – 2.6 juta, ponsel yang dirilis dengan prosesor delapan inti atau Octa Core dan Dual Sim.

Dan Terakhir yang lagi Trend ada Asus lewat seri Zenfone 2 Laser – 3.35 jt, dengan prosesor octa core 6.0 inchi dan Zenfone Selfie – 2.9 jt (32 GB) ; 2.7 jt (16 GB).
Belakangan Asus melepas Zenfone 3 yang pula memiliki seri ‘Ultimate’ paling edan yaitu Internal Storage 128 GB dan RAM 6 GB.

Selain brand ponsel Android diatas, yang bisa ditemukan umum di pasaran, rupanya ada juga brand ternama BlackBerry yang tampaknya lagi hijrah nyoba peruntungan di pasar #Android lewat seri Priv Dual Core 9 jt ?

Ada beragam vendor, beragam seri dan beragam spesifikasi. Kini tinggal soal Budgetnya yang tersedia ada di kisaran berapa. He…

dan di luar semua ponsel Android ternyata ada juga ponsel BlackBerry Passport yang berjuang lewat OS terkini BB 10nya, berkecepatan Quad Core 6.5 jt, tapi apa iya masih ada yg minat ?

Satu lagi ada Microsoft Lumia 950 ponsel mantan Nokia series dengan OS Windows 10, Dual Core yang dijual 8.5 jt.

Ponsel Android dengan besaran RAM 3 GB, apa sudah sedemikian perlu bagi kalian ?
Ya hanya kalian yang tahu.
He…

Ponsel 4G LTE Terjangkau dalam balutan Premium, Memangnya Ada ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Tak banyak brand ponsel yang mengedepankan desain saat berupaya untuk menjual murah perangkat bersama segala peningkatan kapasitas yang dimiliki demi menarik minat konsumen.

Katakanlah beberapa brand lokal.
Ketika harga dikedepankan, sebagian besar malah mengorbankan desain meski spesifikasi yang dijual tergolong kelas menengah.
Demikian halnya brand global.
Berada di segmen yang sama, spesifikasi perangkat kerap dinomorduakan.

Lalu bagaimana dengan perangkat yang satu ini ?

Biar ndak penasaran, saya kenalkan deh seri AndroMax terbaru, satu diantara dua yang dirilis sebulan belakangan.
AndroMax E2+.

Smartfren Andromax E2+

Jujur, awalnya saya nggak terlalu tertarik untuk melakukan Unboxing perangkat berjaringan 4G LTE yang merupakan pengembangan seri sebelumnya E2 yang dirilis Triwulan pertama kemarin.
Berhubung secara desain terdahulu memang memberikan kesan ponsel murah meski spesifikasi tergolong standar masa kini.

Tapi pas punya waktu lowong untuk melihatnya lebih jauh, yang ada malah kaget. Hehehe…
Karena untuk sebuah ponsel yang dijual kepada konsumen di rentang harga 1.199 ribu rupiah atau kalo dibulatkan jadi 1,2 juta, seri AndroMax E2+ ini punya penampilan menyerupai ponsel buah berharga mahal itu.
Eh langsung disebut deh, iPhone 4 besutan Apple. Hanya dari segi material luar loh ya. Utamanya pada penggunaan material logam pada bezel di sekeliling ponsel. Selebihnya ya memang khas AndroMax lewat seri Android mereka.

Masih belum percaya ?

Simak tulisan lanjutannya ya.

Lebih Jauh dengan AndroMax A

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu persyaratan mutlak perangkat Android masa kini sebagaimana yang pernah saya tweetkan beberapa waktu yang lalu adalah kekuatan RAM minimal 1 GB. Selebihnya ya terserah Anda inginnya apa.
Lebar layar, besaran internal storage, prosesor, harga ataupun hal lain boleh jadi pertimbangan kedua. dan tampaknya pelan tapi pasti, semua harapan itu jadi kenyataan.

Setelah melakukan standarisasi tak resmi pada ponsel seharga sejutaan, penggunaan prosesor Quad Core, lalu internal storage sebesar 8 GB, dan terakhir RAM 1 GB, kini tampaknya SmartFren ingin tampil terdepan melalui seri AndroMax, mereka memperkenalkan standar jaringan baru, 4G LTE, yang tercepat sejauh ini, namun tetap berada pada lingkup harga sejutaan.
Kebawah.

Tempo hari mereka sudah melepas seri E2 di rentang 899ribuan saja. Selang tiga bulan kembali meramaikan pasar lewat seri A yang terpaut harga cukup jauh yaitu sebesar 649ribuan sudah termasuk perdana SmartFren dan bonus paket Data saat perangkat untuk pertama kali diaktifkan. Murah ?
Edan !!!
Sementara brand global lainnya masih bermain pada angka Sejutaan, yang faktanya diatas bahkan nyaris mencapai Duajuta lantaran kurang serupiah, AndroMax aka SmartFren berani tarung setengahnya.

Namun menyimak spesifikasi dan penampilan yang menyertai AndroMax A ini, secara pendapat saya pribadi mbok ya jangan mengharapkan kualitas atau kinerja yang sama dengan ponsel Android global yang dijual sejutaan tadi. Meski sesungguhnya diatas kertas malah menyerupai spek ponsel global lainnya.
Minimal makna kepemilikan ponsel berjaringan 4G LTE ini kalo ndak salah ditujukan untuk berselancar dan menikmati gegasnya dunia maya, termasuk berSosial Media atau bahkan sebagai alat bantu Tethering bagi perangkat lain yang memiliki spek mumpuni namun terbatas kemampuan kecepatan datanya. Hehehe…
Lumayan kan ?

Apalagi kalo disandingkan dengan membeli perangkat Modem Mifi yang tak jauh beda harganya, minimal AndroMax masih bisa digunakan untuk menelepon kolega saat terdesak batere low perangkat utama, atau sekedar selfie dan bermain games disaat yang sama.
Toh secara harga saya yakin tidak banyak yang harus menabung matimatian demi menebus AndroMax A pulang kerumah.

Murahnya perangkat sedikitnya bisa memberikan pilihan pada konsumen terutama mereka yang memiliki budget rendah namun tetap ingin merasakan gayanya berSelfie dengan akun Instagram, Path atau FaceBook, juga chat bersama teman lewat BBM, Whatsapp atau SnapChat, apalagi sebatas mencari informasi melalui akun twitter dan media online. Semua lewat begitu saja tanpa beban lagi. Menarik bukan ?

AndroMax A, (lagi-lagi) Ponsel 4G LTE Murah untuk Semua

Category : tentang TeKnoLoGi

Rasanya belum lama saya melepas review AndroMax E2, ponsel 4G LTE berkekuatan Quad Core dan RAM 1 GB, paling murah diantara kompetitornya.
Eh, kini mereka hadir kembali dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Mau tau lebih lanjut ?

AndroMax A

Datang dengan layar berukuran 4,5″ resolusi standar ponsel pemula, AndroMax A dibekali teknologi SVI (Sun Visibility Improvement) yang memberikan kenyamanan bagi mata pengguna saat menggunakan ponsel dibawah paparan matahari.
Sedangkan untuk jenis dan kecepatan prosesor, besaran RAM juga internal storage kelihatannya masih sama dengan pendahulunya.

AndroMax A PanDe Baik 2

Terdapat dual kamera yang disematkan di sisi depan dan belakang, dengan menu pengaturan setara professional, dilengkapi pula dengan lampu LED flash untuk memberi pencahayaan tambahan saat pengambilan gambar. ISO, exposure, saturasi, ketajaman warna hingga reduksi mata merah pun ada. Tidak heran apabila hasil gambar yang dihasilkan tergolong halus disandingkan kompetitor di pasar Pemula. Bagi kalian yang punya hobi utak atik pengaturan model begini, wajib diuji coba deh sepertinya.

Mengusung bahan plastik dof abu gelap, sedikit lebih nyaman saat digenggam karena tidak meninggalkan sidik jari pada permukaannya yang halus.
Penampilannya menyiratkan ponsel unibodi dimana batere tampaknya gak bakalan bisa dibuka. Akan tetapi saat ditelusuri lebih jauh, terdapat celah berbeda pada sudut bawah kanan layar yang menjadikannya cara gampang membuka cover belakang layaknya ponsel milik Nokia seri Lumia.

Posisi slot Charger bisa ditemukan di sisi kiri samping atas. Mengingatkan saya pada ponsel Android lama milik HTC, brand ternama dari Taiwan itu. Sementara tombol power dan volume, berkumpul di sisi kanan sedang audio seperti biasa ada di sisi atas.
Dikarenakan penggunaan cover yang menyerupai form unibodi ini, maka akan menyulitkan pengguna untuk melakukan aksi penekanan tombol tanpa menutupnya terlebih dahulu.

Dibalik cover terdapat tiga slot kartu. Paling kanan untuk sim card berjaringan 4G LTE dengan jangkauan yang lebih luas berkat FDD dan TDD LTE, slot tengah untuk sim card berjaringan GSM dan paling kiri untuk eksternal card yang didukung hingga 32 GB saja. Lumayanlah.
Jadi ceritanya masih mampu menampung dual sim beda operator dan jaringan plus penyimpanan tambahan film eh data sekaligus. Ehem…
Hanya saja harus membuka batere untuk bisa menggantikannya.

AndroMax A PanDe Baik 1

Saat dinyalakan, pengguna wajib melewati prosedur standar khas ponsel Android plus pembaharuan hampir seluruh aplikasi default yang tertanam pada ponsel.
Maka bersyukurlah pada bonus kuota data saat aktivasi paket pertama kalinya.

User Interface terpantau menggunakan Trebuchet Launcher dengan Android versi 5.1.1 atau permen Lolipop. Kalo ndak salah sampai saat tulisan ini diturunkan, belum pada upgrade lebih lanjut ke seri M apalagi N. Nagasari eh Nougat maksudnya.

Selain membawa fitur khas AndroMax series seperti penjadwalan perangkat untuk mati dan menyala secara otomatis, saya baru tahu kalo didalamnya disematkan pula fitur Black List yang mampu memblokir nomor atau panggilan masuk dari daftar kontak atau log yang tercatat. Bisa diperuntukkan bagi agen asuransi atau mungkin nomor mantan yang sudah meninggalkan kalian untuk menikah dengan yang lebih mapan. Eh…

Lainnya sih, saya lihat masih sama kok. Baik itu aplikasi tambahan seperti Radio, lampu senter, perekam hingga google photo, maupun kemampuan untuk melakukan pencetakan melalui cloud.

Masih penasaran dengan isi lanjutannya ?

Kenapa ndak dicoba untuk membawanya pulang dari gerai ponsel terdekat ?

Harganya cukup terjangkau kok.
Malah jauh lebih terjangkau dari pendahulunya, apalagi kompetitornya.

Hanya sekitar Rp 649.000 saja kalian sudah bisa menjajal jaringan 4G LTE berkecepatan tinggi milik SmartFren sekaligus menikmati panggilan jernih voLTE dengan bonus kuota sebesar 8 GB saat aktivasi nomor pertama kali.

Bikin RingTone di Ponsel yuk

Category : tentang TeKnoLoGi

Makin kesini, fungsi ponsel yang saya pegang rasanya memang makin mengingkari kodratnya.

Setelah digunakan untuk membaca buku dan komik digital, space eksternal card-nya disikat habis untuk menyimpan puluhan filem box office dari masa ke masa. Malah terkadang dipake buat bantu-bantu kerjaan, buka peraturan, pe-er dan tugas rutin hingga baca peta jalan dalam format autoCad. Tak lupa mendukung aktifitas blogging yang tak pelak memaksa saya untuk mempensiunkan diri perangkat hybrid laptop Acer W511 yang hingga kini telah mencapai usia nyaris tiga tahun, jadi masih tahan lama.

Hari ini kelihatannya bertambah satu manfaatnya yaitu membuat RingTones. Gara-gara keinget dengan karya cadas om Lemmy Motorhead yang meminjamkannya pada grup band Thrash Metal era 90-an Sepultura. Yup, “Orgasmatron”. Bercerita soal Agama yang membuat manusia saling bertikai, layaknya bangsa kita satu abad terakhir ini. Memuakkan tentu saja.

Tapi biarlah makna karyanya om Lemmy dipendam dulu karena ceritanya lagi pengen jadiin ni audio sebagai ringTone pengganti gitarnya SID selama ini. Maka diinstalasilah aplikasi urutan teratas hasil pencarian dengan menggunakan kata kunci ‘Cut Audio’.

MP3 Cutter and RingTone Maker. Satu aplikasi yang dapat difungsikan untuk memotong Audio berformat MP3 lalu disimpan sebagai nada dering atau notif ataupun alarm, yang pula dapat dibuat dengan melakukan perekaman. Asyiiikkk…

Percobaan pertama pada karya Orgasmatron ini pun sukses tanpa tedeng aling-aling banyak percobaan. Karena prosesnya cukup sederhana, tinggal menggeser tanda awal nada dan menggeser tanda akhir nada. Semudah itu. Menjadi mudah karena terdapat gambar keras lembutnya nada layaknya seismograf gempa itu. Jadi gampang menebak dari detik yang mana untuk memulai editing file audionya.

Weleh, kok malah jadi panjang penjelasannya. Padahal tadinya pengen cerita 100 kata tok sebagai update tulisan di blog ini. Tapi sudahlah, yang penting kini gak susah untuk nyari-nyari nada dering lagi. Bisa edit kapan saja lewat ponsel.

Kamu tertarik ?

Android Devices makin menggila

Category : tentang TeKnoLoGi

Lama gak memantau berita perkembangan sistem operasi terFavorit disela kesibukan kerja dan keluarga, malah jadi kaget pas baca dua Tabloid ponsel yang masih eksis hingga kini, Pulsa dan Sinyal.

Bukan apa-apa sih, tapi pasca pilihan ke Note 3 dua tahun lalu memang bikin gak terlalu minat buat melirik perangkat Android lainnya baik ponsel maupun tablet pc, baik merek besar hingga nubie, lantaran sudah merasa cukup dengan kemampuan yang diberikan. Hanya sesekali ya menuliskan hal-hal baru yang sekiranya menarik bagi orang lain, agar dapat diketahui dengan cepat.

Sebut saja Samsung.
Merek asal Korea ini tampaknya makin mengekor kesuksesan Nokia satu dekade lalu. Saat mereka masih jaya lewat ponsel Symbian dengan merilis puluhan seri yang serupa namun tak sama, juga melepas dengan spesifikasi yang tak jauh beda. Yang hebatnya, masuk dalam pangsa pasar di semua lini.
Akal Nokia dengan membuat banyak varian penamaan juga diikuti plek. Setelah kita familiar dengan seri S, Galaxy atau Note, kini ada seri A, J, E, On atau Grand. Bagi yang gak mengikuti perkembangan Samsung dijamin bakalan bingung saat dimintakan rekomendasinya.

Meski tak serakus Samsung dalam upaya merebut pasar Android Devices, Sony, LG bahkan HTC tampaknya masih jugs tetap setia menggelontorkan seri-seri ternama mereka melanjutkan sukses yang pernah diraih sebelumnya. Katakanlah ada seri Z nya XPeria, seri G nya LG atau One series nya HTC. Meluncur dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya.

Berusaha bermain aman di kecepatan Quad Core, 1 GB RAM dan 8 GB internal Storage, atau bersaing di ranah flagship 3 GB RAM dengan harga jual terjangkau ketimbang brand korea tadi.

Pangsa ini bahkan kini telah dipenuhi oleh merek-merek kenamaan yang lebih dulu jaya di kancah personal komputer. Ada Acer, Lenovo, HP bahkan Asus.
Nama terakhir ini bahkan jauh lebih getol dari kawan seangkatannya dengan rajin merilis ponsel-ponsel dengan spek menggiurkan dan dalam varian yang berbeda baik dari besaran internal storage yang ditanamkan, juga RAM untuk dapat memproses aplikasi dengan cepat.

Sementara merek lokal tampaknya memang jauh lebih menggila. Mereka berani tampil dengan menggunakan spesifikasi perangkat yang tak jauh berbeda namun dengan harga yang lebih murah. Tentu ada pertimbangannya di balik itu semua, misalkan mengganti jenis prosesor yang disematkan dengan buatan China yang biayanya jauh lebih murah.
Meski begitu, di era kekinian dimana Google selaku pengembang sistem operasi Android, mulai berupaya mengenalkan ponsel murah pada konsumen  dunia, tampaknya sudah tak ada keraguan lagi bagi mereka yang ingin memiliki perangkat Android tanpa perlu khawatir dengan pilihan Update baik untuk aplikasi maupun sistemnya sendiri.

Maka tidak heran, jika belakangan perangkat Android tampak makin menguasai pasar dibanding para pesaingnya. Sedikitnya 82% sebagaimana dilansir halaman IDC perangkat berbasis Android mengambil kue pada quartal kedua tahun 2015 ini. Turun sedikit ketimbang tahun lalu.
Penurunan ini kelihatannya merupakan imbas dari pindahnya para pengguna Android ke iOS Apple seiring dirilisnya seri 6 yang meskipun secara harga jauh lebih tinggi namun informasinya jauh lebih stabil secara aplikasi.

Antara Samsung Galaxy Note 3, Note 3 Neo dan Hisense Pureshot+

Category : tentang TeKnoLoGi

Bingung.
Yah… kurang lebih begitu.

Perasaan ini kerap terjadi ketika hari-hari nyaman itu mulai terganggu dengan kehadiran barang baru. Eh… Gadget baru. Maaf…

Namun kebingungan ini biasanya tak akan lama jika barang eh Gadget baru maksud saya, bukan termasuk yang diinginkan atau layak menggantikan perangkat yang sudah ada sebelumnya.

Nah… trus bagaimana kalo yang datang itu barang eh Gadget baru gres dengan kemampuan mumpuni ?

Na ini… disinilah kebingungan akan selalu muncul, menghantui selama beberapa hari bahkan pekan dan bukan tidak mungkin kehadirannya menggantikan peranan yang telah ada sebelumnya.
Seperti Hisense PureShot+ kali ini.

Samsung Galaxy Note 3 Hisense PureShot

Bagi kalian yang sudah lama mengikuti beberapa postingan saya terakhir, pasti tahu dan pahamlah sejauh mana kemampuan ponsel besutan perusahaan dari China yang selama ini jadi pemasok perangkat milik SmartFren, apalagi saat dikombinasi dengan paket data True Unlimited 4G LTE yang beneran Unlimited sampe puas itu, membuat Hisense PureShot jauh lebih menjanjikan ketimbang Samsung Galaxy Note 3 Neo yang selama ini mendampingi ponsel dan nomor utama yang tersemat didalam Samsung Galaxy Note 3.

Itu sebabnya ketika mencoba satu dua kali membawa ketiga ponsel berlayar lebar ini bersamaan, sepertinya hanya Galaxy Note 3 Neo saja yang lebih banyak terabaikan. Bisa jadi secara isi jeroan yang sama persis dengan sang kakak, Note 3 rilis pertama. Maka disusunlah satu konspirasi untuk menyingkirkan Note 3 Neo secara perlahan namun pasti.

Tidak banyak dokumen maupun file multimedia yang harus dipindahkan dari Samsung Galaxy Note 3 Neo meski sudah dijejali eksternal card 64 GB, karena sebagian besar original filenya masih berada di pc kantor. Maka proses pun bisa jauh dipercepat termasuk menginstalasi beberapa aplikasi yang dahulunya hanya disuntikkan pada ponsel cadangan mengingat secara kebutuhan tidak memerlukan kecepatan saat dibutuhkan.

Begitu semua isi diduplikasi dan dipindah ke ponsel Hisense PureShot+ yang dilakukan pertama kali adalah mengubah Launcher UI nya dari Vision UI versi originalnya Hisense ke Apex Launcher yang selama ini menemani hari di sekian banyak ponsel Android yang pernah dimiliki. Selain simpel, Apex punya fitur mengunci layar desktop yang memberi keamanan dan kenyamanan saat ponsel dipegang anak-anak. Selain itu, dibutuhkan juga pengaturan tambahan penataan icon agar serupa dengan ponsel utama Samsung Galaxy Note 3. Tujuan tentu agar tak membingungkan saat menggunakan salah satu diantaranya secara bergantian.

Maka jadilah ponsel Samsung Galaxy Note 3 Neo teman setia bagi iPhone 4 CDMA yang sejak bangkrutnya Telkom Flexy lebih banyak ngijeng (baca:menunggui) di rumah ketimbang dibawa beraktifitas harian.
Rencananya sih mau di lego saja. Atau diantara kalian ada yang mau ?
He…

Hisense, Pendatang Baru di Kancah Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Meski saat ini perkembangan sistem operasi besutan Google sudah mencapai tahap stagnan alias tak banyak kemajuan dibandingkan tiga empat tahun lalu, tampaknya masih saja ada peminat baru yang mencoba peruntungannya untuk mencuri pangsa pasar di Indonesia yang sudah sedemikian padat, melebarkan sayap dari negeri China.

Hisense adalah sebuah perusahaan multinasional yang didirikan di kota Qingdao, di pesisir timur China pada tahun 1969. Demikian kalimat pertama yang saya kutip dari halaman resmi Hisense Indonesia. Diceritakan lebih lanjut, bahwa Awalnya Hisense hanya memproduksi radio. (dan) Dengan mengutamakan 4 elemen yaitu: Teknologi, Kualitas, Integritas dan Tanggung Jawab, kini Hisense adalah salah satu Top 5 Perusahaan Elektonik Dunia yang produknya sudah merambah ke Amerika, Eropa, Australia, dan Asia. Tahun 2015 Hisense telah mengakuisisi Sharp di Amerika.

Hisense Android PanDe Baik

Tahun 2009 Hisense tercatat memasuki pasar Indonesia dan memulai kesuksesan bersama operator CDMA. Sejak 2012 Hisense adalah supplier utama produk Andromax – Smartfren dan mencapai penjualan sebanyak 4 juta handset. Kesuksesan ini pun diikuti dengan komitmen dalam menyediakan layanan After Sales yang baik di 13 kota se-Indonesia, yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Semarang, Bali, Makassar, Palembang dan Medan serta akan menyusul kota besar lainnya.

Menyimak pemaparan singkat Hisense, saya jadi teringat dengan perusahaan serupa dari Taiwan sana, yang awalnya merupakan supplier utama barisan nama besar pengusung perangkat pocketpc berbasis sisstem operasi Windows Mobile maupun Palm yang kemudian dengan sangat ppercaya diri tampil menggunakan namanya sendiri hingga kini masih eksis bersaing di pasar Android.

Nama Hisense sendiri, jujur saya baru tahu. Bisa jadi karena sejak dua tahun terakhir sudah tidak lagi aktif dalam dunia teknologi perponselan. Makanya tadi itu sempat kaget saat mengetahui seorang konsumen di gerai selular ternama di jalan Teuku Umar, menyampaikan kekagumannya pada produk ini. Kebetulan yang ia beli versi Mini dari yang saya pegang saat ini. Banyak bocoran yang ia sampaikan terkait teknologi yang menjadi jualan Hisense. Tapi nanti deh, saya cerita lebih banyak.

Balik ke Hinsense, Tahun 2015 melalui pasar terbuka Indonesia, mereka menghadirkan smartphone canggih dengan teknologi terbarunya 4G LTE. Mau tahu lebih jauh ? Tunggu di tulisan berikut.