Katanya ProFesionaL ?

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Seorang rekan kantor yang sejak dulu saya curigai memiliki kelainan pada otaknya kerap mengatakan pada kami, “Semestinya kita ini bekerja dan diperlakukan secara Profesional…” Begitu terus sedari pertama saya menginjakkan kaki di kantor ini. Ya, bisa dikatakan sudah hampir lima tahun saya mengabdi sebagai pegawai negeri yang artinya selama lima tahun pula pikiran saya dicekoki oleh kata-kata mutiara yang gak jelas alasan dan penerapannya itu.

Mau tahu kenapa rekan saya selalu berusaha menekankan kata ‘Profesional’ dalam setiap usahanya ? karena ia menuntut bahwa setiap pekerjaan yang ia lakukan dihargai dengan lembaran kertas merah, entah oleh sesama rekan, atasan hingga rekanan.

Padahal kami ini pegawai negeri loh. Yang notabene sudah mendapatkan gaji setiap bulannya plus insentif sebagai sumber dana tambahan agar kami bekerja lebih giat, diluar dana-dana lain yang tak resmi macam amplop misalnya. Ups… Kelepasan. Sori, yang amplop tadi mbok ya jangan dipercaya gituh…

Eh, kira-kira apa maksudnya sih kata ‘Profesional’ itu sebenarnya ? apa si rekan sudah mengetahuinya sebelum ia mengatakannya setiap kali diberikan atau dilimpahkan pekerjaan ?

Iseng saya nyari arti kata ‘Profesional’ pada mbah Google, ada dua yang paling menarik saya dapatkan. Berikut intinya :

Untuk kategori tenaga PNS, ‘Profesional’ itu bisa diartikan sebagai tenaga yang memiliki technical dan manager skill yang mampu mendukung kinerja dan etos kerja PNS sebagai abdi negara dan masysarakat. PNS itu dituntut dapat melaksanakan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik mungkin.

Adapun ciri-ciri PNS yang ‘Profesional’ adalah PNS yang mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan manejerial dasar sesuai dengan kedudukannya.

Kedua adalah resume dari sebuah buku yang kebetulan memiliki arti mirip dengan kerja ‘Profesional’ yaitu 8 Etos kerja unggulan :
1. Kerja adalah Rahmat; bekerja tulus penuh syukur
2. Kerja adalah Amanah; bekerja benar penuh tanggung jawab
3. Kerja adalah Panggilan; bekerja tuntas penuh integritas
4. Kerja adalah Aktualisasi; bekerja keras penuh semangat
5. Kerja adalah Ibadah; bekerja serius penuh kecintaan
6. Kerja adalah Seni; bekerja cerdas penuh kreativitas
7. Kerja adalah Kehormatan; bekerja unggul penuh ketekunan
8. Kerja adalah Pelayanan; bekerja paripurna penuh kerendahan hati

Nah, bercermin dari kedua hasil diatas, dalam hati kecil saya pribadi, hingga kinipun saya masih bertanya-tanya, apakah rekan saya tadi itu sudah melaksanakan ‘Profesionalisme’nya sebagai PNS minimal dengan memberlakukan 8 Etos kerja tadi ? Trus apakah pantas kalo rekan saya itu menuntut agar lingkungan menghargainya secara ‘Profesional’ sedangkan ia sendiri belum mampu memberikan ‘Profesionalisme’nya secara baik dan utuh ?

Apalagi kalo saya membaca tambahan pada awal resume buku tersebut perihal Etos Kerja Bangsa kita saat ini :
1. Suka mengeluh, banyak menuntut, egois
2. Bekerja seenaknya, kepedulian kurang, gemar mencari kambing hitam
3. Kerja serba tanggung, suka menunda-nunda, manipulatif
4. Malas, disiplin buruk, dan stamina kerja rendah
5. Pengabdian minim, sense of belonging tipis, gairah kerja kurang
6. Terjebak rutinitas, menolak perubahan, kurang inisiatif, kurang kreatif
7. Mutu pekerjaan rendah, bekerja asal-asalan, cepat merasa puas
8. Jiwa melayani rendah, merasa diri sudah hebat, arogan dan sok

Jujur saja, secara pribadi saya tak menutup mata bahwa bisa jadi saya adalah salah satu oknum yang masih menjunjung tinggi etos kerja suka mengeluh dengan mutu pekerjaan yang rendah, mustinya ditambah satu point lagi, yaitu ‘lebih suka mojok untuk nge-BLoG saat jam kerja…’. Nah kalo beneran ditambahkan, maka inilah saya yang sebenarnya. Huahahaha…..

Balik ke rekan saya tadi, hingga kinipun saya masih merasa geli sendiri tiap kali ia menekankan kata ‘Profesional’ dan berusaha menuntut imbalan dalam setiap pekerjaan yang dilimpahkan padanya dengan cara apapun.

Sebenarnya sih bisa saja begitu, tapi dengan syarat ya duit gaji bulanan dan insentifnya ya dikembalikan pada negara. Jadi ia dibayar sesuai dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Mau Mau Mau ?

Pemikiran ini sempat saya lontarkan pada rekan saya tersebut. Hasilnya ? ia memilih ngeloyor pergi dan memusuhi saya hingga kini. Wuahahahaha….

> selama ini PanDe Baik memang selalu berusaha untuk melawan arus sedikit demi sedikit, agar yang namanya idealisme itu tetap terjaga. Walaupun ada kalanya kita musti ikut arus agar tak hancur dihantam gelombang maha besar… contohnya ya menghabiskan jam kerja dikantor cuman untuk nge-BLoG. Huahahaha…. Dibanding saya kabur pulang ato nyari kamar short time serta membuat rekaman video 3gp ? <

Mau Mau Mau ?

Tim Pengendalian Intern ; Tantangan dan Penyimpangan

6

Category : tentang PeKerJaan

Tiga bulan terakhir, aku kembali menjadi bagian dari satu tim yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan pada kegiatan-kegiatan fisik baik sedang berjalan hingga akhir penyelesaiannya. Istilah kerennya, jadi anggota dari Tim Monitoring atau Pengendalian Intern.

Tugasnya dari melakukan monitoring pada sisi administrasi, kelengkapan dokumen, Tetek bengek yang berkaitan dengan pelaksanaan fisik proyek seperti gambar rencana, as built (setelah dilaksanakan), struktur organisasi di lapangan, foto, laporan-laporan maupun buku direksi dan lain sebagainya. Jauh lebih penting daripada itu, tugas dari Tim, tentu menilai dan memantau kemajuan pekerjaan sesuai dengan prosentase yang diajukan, apakah sudah sesuai spesifikasi perencanaan dan pelaksanaan atau tidak.

Untuk memantau kemajuan pekerjaanpun tak hanya dari volume pekerjaan atau prosentase dari pekerjaan keseluruhan, tapi juga mutu pekerjaan terutama pada item penting dalam sebuah proyek konstruksi, meliputi kualitas beton, mortar hingga permukaan jalan. Yang paling gampang dari semua itu adalah menilai secara Visual, penampilan dari masing-masing item pekerjaan tersebut.

Apabila kemudian ditemukan suatu penyimpangan baik secara volume atau dimensi pekerjaan, ini patut ditindaklanjuti dengan pencarian solusi kemana dibawa selisih volume atau dimensi tersebut, karena tolok ukur tetap berpegang teguh pada volume Perencanaan. Kalaupun memang dalam kondisi terpaksa, harus ada alasan yang logis dan jelas, misalkan saja faktor kondisi lapangan yang tidak memungkinkan.

Sejauh ini, penyimpangan secara visual yang paling sering kami temui. Untuk dapat mengetahui bahwa satu pekerjaan menyimpang secara visual atau tidak, diperlukan pemahaman terhadap item pekerjaan tersebut baik dari cara pengerjaan hingga finishingnya. Hal inilah yang kerap menjadi bahan topik pada media cetak, yang menyebutkan beberapa kerusakan dengan istilah berbeda dengan pemahaman secara teknis yang kami miliki.

Balik pada Tim, tahun ini beranggotakan 9 orang terbagi menjadi 3 grup. Peningkatan dari tahun lalu yang hanya memiliki anggota 3 orang saja. Saya hanyalah salah satu diantaranya yang masih dipercaya hingga kini. Dalam pelaksanaannya, hanya 6 orang saja yang efektif bergerak secara aktif, sehingga Tim dirombak menjadi hanya 2 grup yang menjalankan tugas secara bergiliran.

Wewenang utama Tim yang turun tiap kali pengajuan kemajuan pekerjaan adalah menentukan apakah Berita Acara Pemeriksaan dapat dikeluarkan secara cepat atau tidak. Ini kembali bergantung pada pihak Rekanan maupun Direksi Pengawas Proyek bersangkutan, menindaklanjuti catatan atau temuan yang direkomendasikan oleh Tim setelah pemeriksaan. Semakin cepat tanggapannya, semakin cepat proses keluarnya BAP tersebut.

BAP inilah yang kemudian akan menjadi dasar pengajuan biaya Konstruksi yang telah dikerjakan oleh Rekanan sesuai volume yang diajukan dan dikerjakan. Istilahnya pengajuan Termyn.

Sayang, yang namanya nafsu manusia tak pernah puas adanya. Padahal untuk menurunkan Tim, sudah dibekali dengan uang makan dan premium sesuai jumlah anggota. Namun tetap saja yang namanya ketidakpuasan, apalagi Tim memiliki wewenang untuk menghambat sesuatu yang sebetulnya tak menjadi masalah, maka jadilah ada pungli-pungli yang dilancarkan untuk mendapatkan istilah ‘win win solution’. Satu pembenaran sepihak bagi mereka yang menganggap bahwa tak ada artinya memperbaiki citra PNS yang sudah rusak.

Sungguh sangat mengecewakan. Rasanya percuma membangun image sejak setahun lalu, namun dirusak oleh oknum yang tak bertanggung jawab hanya demi memuaskan keinginan mereka dan mengorbankan Tim keseluruhan.

Kenapa sih BLoG ini gak pernah Kritis lagi ?

7

Category : tentang DiRi SenDiri

Pertanyaan diatas sempat dilontarkan oleh seorang rekan yang begitu rajin berkunjung ke BLoG ini via sms. Dia sempat pula mengungkapkan kekangenannya perihal tulisan posting saya yang kadang nyelekit dengan gaya yang tentu jauh beda dengan tulisan di media cetak. Sambil mendorong dengan semangatnya untuk gak terlalu peduli dengan orang lain yang kebakaran jenggot akibat ketusuk tulisan saya. ‘So what gitu loh..;

Saya sih ngejawabnya simpel aja. Belajar dari Pengalaman. Karena Pengalaman itu kata orang bijak adalah pelajaran yang sangat berharga. Pengalaman itu pula yang mengajarkan pada saya, betapa sulitnya jika kita ingin bersikap kritis. Oke, saya ingin terbuka pada beberapa respon atas tulisan saya sebelumnya.

Peringkat pertama ya Polemik dengan Radar Bali tempo hari, perihal pembelaan proyek Dewi Sri yang dikatakan mangkrak dan Wartawan yang dateng minta duit. Itu asalnya dari nurani saya berdasarkan pada fakta dilapangan yang benar adanya. Hanya saja karena kalimat penyampaian yang barangkali terlalu menusuk bagi orang lain, maka berujung pada ancaman yang akan meng-UU ITE-kan saya lantaran posting tersebut. Dan efeknya tak hanya itu saja…

Saat membaca Radar Bali 9 Oktober lalu, berita dan foto Dewi Sri menempati porsi halaman pertama. Lengkap dengan kata-kata yang menggambarkan kejadian ini sangat memalukan dilakoni Pemda Badung akibat dana anggaran yang terbatas. Coba tebak apa tanggapan saya ? Ketawa sendiri. Huahahaha…

Sebegitu besarnya respon Radar Bali atas tulisan saya kemaren rupanya.

Kedua saat saya menulis tentang PNS dan ToGeL. Entah bagaimana pula para ToGeLer yang sering beraksi merumuskan hitungan matematika diruang kerja kantor pada memilih pindah lokasi dalam menjalankan aksinya ke Bale Bengong (bukan BloGne Om AnTon lho ya) didekat kantin, sambil meminta para rekan lain untuk hati-hati pada saya. Kikikikik…

Ketiga itu tulisan saya perihal kebobrokan PNS dan perilakunya. Ada yang sampe berkomentar ‘ah ini sih menjelek-jelekkan dirimu sendiri’. Lho, ya memang begitu maksudnya kok. Istilah saya malahan ‘seperti menepuk air di dulang’ atau ‘makecuh marep menek’. Tetep aja ada rekan yang gak terima kalo kelakuan suka mbolos, dan baru hadir kalo hari gajian aja diungkap di BLoG ini.

Keempat ada juga saran meminta saya untuk menghapus posting-posting yang berkaitan dengan kegiatan rutin saya usai ngecek proyek yang sedang berjalan. Jelas maksudnya agar bobrok pekerjaan yang dicuri-curi tak terekspose, khawatir malahan bisa mengundang KPK. Wah…

Belajar dari pengalaman diatas, akhirnya saya memutuskan untuk gak nulis yang kritis-kritis lagi deh. Susah. Apalagi kalo sampe mengundang respon rekan lain yang agak berlebihan menurut saya. Toh juga itu benar adanya.

Makanya posting-posting saya belakangan ini ya kalo ndak tentang hobi, ya kuliah dan keluarga. Begitu pula pada blog saya yang lain. Cukup bercerita tentang putri kami Mirah Gayatridewi yang kecil dan lucu, hobi gadget dan juga koleksi lirik lagu. Yakin banget semua itu gak bakalan mengundang masalah bagi rekan lain. Ambil langkah fun aja deh.

Tentu aja ada resiko dari itu semua. Pembaca BLoG ini juga makin turun, mungkin lantaran bosen ngebaca posting saya yang terlalu menikmati diri sendiri ini. Tapi memang itu kok yang saya harapkan sejak awal mulai ngebikin BLoG ini. Gak ada traffic pembaca yang tinggi dan malah jadi beban, gak ada keberatan atas tulisan saya yang keseringan onani, gak muncul di halaman pertama Mbah GoogLe saat ngetik Keyword tertentu, gak pake iklan komersial. It’s just me. Sorry. He…

Menjadi PNS yang tak berotak saja deh…

8

Category : tentang Opini

Huuh… dua minggu ini helaan nafas berat rasa-rasanya seringkali aku rasakan, lantaran efek dari tulisan guoblokku tentang pemberitaan di media Radar Bali, Februari lalu, ternyata direspon dengan amarah oleh Wartawan-wartawan Radar Bali, per awal September kemaren.

Tulisan itu lahir dengan segera setelah artikel yang naik di media cetak Radar Bali perihal Drainase Kuta jalan Dewi Sri dikatakan mangkrak dan terbengkalai, karena tidak tampak ada aktifitas pekerja dilokasi yang tampak pada gambar.

Efek pertama yang aku rasakan waktu itu adalah teguran atasan berkaitan dengan ‘tidak tampaknya aktifitas pekerja dilokasi proyek’, ‘Memangnya kamu kemana saja selaku pengawas pelaksana dilapangan, Nde ?’. Sempat pula memunculkan ketidakpercayaan atasan pada kinerja stafnya ini…

Namun seiring waktu berjalan, toh dibuktikan juga kalau ternyata pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai rencana. ‘Sesuai rencana’disini ya seperti yang terlihat dilapangan per hari ini, lantaran alokasi dana yang didapat untuk pekerjaan ini sangat minim, ya mampunya hanya segitu.

Yang paling membuat para Wartawan itu tidak terima ya, perihal kata-kata dalam tulisan yang mengatakan bahwa ‘ada wartawan Radar Bali yang minta uang pada atasan dengan ancaman bakalan menaikkan berita negatif ke media cetaknya. Ada tiga orang yang ngasi komen keberatan di BLoG, Bli Gupta, Bli Sudarsana Putu dan Bli Feri selaku penulis berita di koran tersebut.

Tapi itu benar adanya kok. Hanya saja aku gak punya bukti lebih mendetail tentang siapa yang datang, karena satu-satunya bukti ya ID Card Radar Bali aja. Mungkin kalo waktu itu bisa didetail lagi dengan nama dan ciri-cirinya barangkali saja posting yang dahulu itu bakalan dianggap berkualitas sama dengan media cetak koran. Yah, namanya juga PNS. Gak tau banyak etika penulisan. He…

Hanya saja belakangan ini baru terpikirkan, bagaimana kalo ternyata itu bukan Wartawan Radar Bali asli, dalam arti ya Gadungan dengan membawa ID palsu. Seperti sindikat yang mengaku anggota KPK yang ditangkap beberapa waktu lalu ? alur ceritanya sama kan ? pejabat diancam untuk mendapatkan sejumlah uang. Yah, barangkali aja PNS-nya gak berotak’. He…

Kalo itu benar, berarti tulisan yang aku posting bisa dianggap memfitnah orang, dan itu berarti hukum yang bakalan berjalan. So, daripada masalahnya jadi panjang ya, kuhapus saja posting tersebut.

Rupanya masalah gak berhenti disitu. Untunglah Om Anton berinisiatif menjadi mediator dan langsung ngobrol via YM hari Senin siang lalu, mengkonfirmasi pertanyaan Bapak Hari Puspita tentang siapa sih Bli Pande itu ? PNS Guoblok yang nekat nulis dan memfitnah wartawan Radar Bali. He… Barangkali karena melihat saya ikut serta jadi kontribusi Bale Bengong, makanya Om Anton lah yang paling pertama ditanyakan.

Agak gak enak juga dengan Om Anton, berhubung Beliau itu kan mantan Ketua AJI, tempat ngumpulnya Jurnalis ? apalagi yang ngajak gabung di BBC kan Beliau juga. Khawatir kalo Beliau dikait-kaitkan. Padahal kalo mau dirunut kebelakang, Februari itu aku blom masuk secara resmi di BBC. Dan media nulisnya waktu itu juga blom pake Domain sendiri. Masih iseng-iseng, toh gak ada yang baca.

Menuliskan unek-unek akan ketidakpuasan media dan Wartawan agaknya menjadi pelajaran bagiku pribadi. Seperti bom waktu, tinggal nunggu meledak aja. Sebaliknya dengan media sebegitu bebasnya mereka menulis perihal kebobrokan Pemerintah yang sayangnya merupakan mimpi terburuk negeri ini. Kebebasan berbicara dan berpendapat kata mereka. Jadi sah-sah aja kalo ngritik Pemerintah yang memang beneran bobrok.

Memang, satu-satunya harapan pada media cetak dan para Wartawannya hari ini adalah, mereka mau menuliskan sesuatu hal/berita di media setelah mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Narasumber. Misalkan saja dalam konteks Drainase diatas ya Pelaksana dilapangan. Bener gak sih gak ada aktifitas ? tapi berhubung waktu dari para wartawan itu serba cepat seperti kata si Richard Gere dalam film Runaway Bride, mungkin menganggap mubazir kalo sampe membuang waktu menanyakan hal tersebut. Toh apa yang ditulis jauh lebih menjual.

Jangan sampe kebablasan kayak berita entah tanggal berapa, saya juga lupa, bahwa si Wartawan udah mengkonfirm perihal proyek ke Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Ir. I Ketut Suwandi dan mengeluarkan statemen bla bla bla… Tapi kalo dicermati, Kepala Dinas Bina Marga waktu itu kan sudah diganti oleh Ir. IB Soerya sejak setahun sebelumnya ? sedang Ir. Ketut Suwandi malah memimpin Cipta Karya. Apa ini tidak menggelikan ? Tentu yang jauh lebih menggelikan lagi, ternyata si atasan tidak pernah mengeluarkan kata-kata tersebut pada siapapun. Nah, kalo sudah begini bagemana dong ?

Mungkin penulis memang baiknya banting setir aja.Percuma berusaha bersikap jujur dan disiplin dalam bekerja, toh image PNS takkan berubah dimata media. Tetap negatif. Jadi apapun yang dilakukan ya gak pernah dapet tempat dihati mereka. Tapi itulah resikonya. Ngapain juga mau jadi PNS yang imagenya udah sangat bobrok dimasyarakat ?

Banting setir jadi PNS yang tidak berotak.

Yang ngantor siang, yang kerjanya ngobrol dan maen gim Poke juga Bola-bola atau Bounce, hahahaha… Yang ngitungin Togel pas jam kerja, yang suka mbolos usai jam makan, atau yang malah sering absen tapi rajin ngambil gaji pas tanggal satu.

Isi postingpun barangkali ya kisaran hobi dan keseharian saja, hal-hal yang gak penting. Barangkali bersenda gurau dengan malaikat kecilku, yang begitu lucu dan menggemaskan, daripada pusing mikirin orang lain. Toh amplop proyek jauh lebih nikmat…

Barangkali itu pilihan terbaik yang saya bisa lakukan. Semoga Radar Bali dan para Wartawannya gak bosan mengkritik PNS-PNS yang tak berotak seperti saya ini. Salam Damai. Piss…

I don’t Like Monday

3

Category : tentang KeseHaRian

Ada yang unik hari senin pagi berkeliling Kota Denpasar, sembari membeli beberapa keperluan untuk persiapan upacara si kecil, di beberapa kantor pemerintahan masih terlihat lengang walopun jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ada apa gerangan ?

Hmm.. mungkinkah para pegawe terjangkit virus I Don’t Like Monday hingga menurunkan minat kerja mereka ? Hmm.. tentu tidak. Karena setelah membaca koran pagi ternyata Final Euro antara Spanyol melawan Jerman dilangsungkan dini hari tadi. Benarkah ?

Hmm.. baru yakin setelah mencoba menghubungi beberapa rekan yang emang maniak bola dan sepertinya sempat taruhan unggulan tempo lalu. Hmm.. Euro nun jauh di Austria-Swiss pun mampu mempengaruhi kinerja pegawai di Indonesia sini rupanya. J

Gaji ke-13 ? why not ?

3

Category : tentang Opini

10 Juni 2008 ; 14.30 siang…

gaji-13-1.jpg

‘wih, tomben jam mone kantor nu bek penghunine… > ‘biase nto, nak ngantosang gaji ke-13 dumange…

‘ye, kaden nak mare neken ? > ‘nak sube palsuange busan malu apang enggalang nyidang pesu…

‘men, ane tekenanne mepalsu nawang ?’ > ‘ne penting yen batek neken, sing kenken malsuang tandatangan. Disubane pipis pesu mare ye ane ngelahang apang nyemak langsung, tusing dadi ngewakilang…

‘be positip jani kel maan ?’ > ‘keto je dingeh san, anak ane ngurusang sube berangkat ke BPD Kuta, nyemak pipis uli semengan…

‘beh, pantesan be pegawene anteng kanti jam mone nu ngoyong di kantor… > ‘nah maklum na’. buin mani anak makejang merainan Pagerwesi. Apang ade beliange buah lan jaje anggon banten…’

‘men, ane nyemak pis sube teke ne ceritane ?’ > ‘tonden, kwale yen payu medum jani, jeg kanti lime sanje bani keantosang…

‘wake ngadenang mulih be malu, apang nyidang ngempu Putu… > ‘nah sua kemis be…

* * * * *

12 Juni 2008 ; 07.55 pagi

-klingang klingeng ngajak pak atasan-

gaji-13-2.jpg

‘dadi sampun jam amuniki dereng wenten timpale rawuh, Pak ?’ > ‘men biasane ken-ken ?’

‘jam mone biasane anak sampun wenten beberapa ne rawuh. Nanging mulai mekarye ne ya jam 9 wawu efektif’ > ‘yeh saje, De sube nyemak Gaji ke 13 ne ?’

‘Dereng Pak. Sampun kebagiang nggih ? > ‘Sube selasa sore, Pak kanti jam lime ngantosang mare mebagi…

‘men jinah napi manten sane medum ?’ > ‘Gaji ke-13 sekalian Insentip…

Beh sing jeg meliah Pak nerima mangkin ? kaden nak ten mepotong utang BPD yen polih Gaji ke-13 Pak ? > ‘jeg sing merase neked dije De. Meh timpale sing teke kali jani, nu bingung mikirang jumahne kel nganggon gene pipise nto.

‘beh, Pak ade-ade manten ne. Men yen saje ne timpale ten wenten ne rawuh ngantor, sire kel jagi berangkat Rapat ne malih jebos ?’ > ‘Nah, De gen sube berangkat keme wakilang jep. Orahang anak sing ade nyen di kantor. Nu menikmati Gaji ke-13 ne…

‘badah, dadi ben keto Pak ?’

Semengan Bapak’e sube nyidang Metek Pis…

1

Category : tentang KHayaLan

pipis-nyen-kaden.jpg

Tusing perlu nyemak gae kantor buin, ha ?

Tanggal 1 jeg pasti teke…

6

Category : tentang KHayaLan

Pegawe Negeri absen ngantor ? itu mah sudah biasa…

Pegawe Negeri ngerumus Togel ? itu juga sudah biasa.

Kalo pegawe negeri mendadak rajin ngantor ? ah, itu sih pas tanggal muda ajah. Ngambil gaji dan jatah beras bulanan.

Kalo udah diambil ? ya absen lagi.

Trus kapan ngantornya lagi ? pas uang Insentif dibagi dong.

Kapan itu ? biasanya sih akhir minggu pertama.

Sudah itu ? berharap uang PB1 dibagi cepat.

Kalo masyarakat perlu ngurus apa-apa, gimana dong ?Dateng aja pas tanggal muda, hari pertama kerja bulan terkait. Jangan sampe keduluan jam bagi-bagi gaji.

Kalo kadung lewat ? ya dateng lagi bulan depan. Yen sube tanggal nampi gajih, jeg pasti ade pegawene nto…

Huahahaha… Gak ada rasa malunya sama sekali !

NB : Pegawe Negeri nge-Blog ? ini mah kurang kerjaan. J