Bolos yuk Pak Dewan ?

4

Category : tentang Opini

“…Mau tau gak mafia di senayan.. kerjanya tukang buat peraturan.. bikin UUD.. ujung2nya duit..” penggalan Gossip Jalanan milik SLank yang tempo hari sempat memantik amarah para anggota Dewan kita yang terhormat itu agaknya masih relevan untuk didendangkan kembali oleh seluruh rakyat Indonesia seminggu terakhir ini. Apalagi kalo bukan menyoal kelakuan para wakil rakyat yang ketahuan mbolos sidang berkali-kali.

Bolos ternyata bukan hanya ‘milik’ anak sekolahan saja, punya kedudukan penting sebagai anggota dewan juga bukan jaminan para wakil rakyat mampu menunjukkan sikap disiplin. Begitu berita yang dikabarkan ViVanews Selasa 27 Juli kemarin. Harus ada tekanan seperti sanksi, teguran atau hukuman yang diberikan seperti halnya siswa sekolahan atau karyawan kantor ketika sang oknum mangkir dari tugasnya, kata media yang lain. Malah ada juga yang kemudian menganjurkan pemotongan gaji bulanan dan tunjangan atau bahkan absensi sidik jari yang diperkirakan mampu memperkecil kemungkinan aksi mbolos rame-rame ini.

Antisipasi pertama yang dilakukan untuk menanggapi aksi ini tentu saja mengumumkan siapa-siapa saja yang masuk dalam kategori pembolos tingkat wahid di kalangan wakil rakyat ini. Hasilnya cukup mencengangkan. Rata-rata oknum yang masuk daftar tersebut berusaha membela diri dengan segudang alasan pembenaran.

Ngomongin soal aksi mbolos, sebetulnya para anggota dewan kita yang terhormat itu gak jauh beda kok dengan aksi mbolos yang dilakukan puluhan oknum pegawai negeri sipil. Bahkan dari segi alasan serta kuantitas mbolos, para pegawai ini jauh lebih kreatif loh. Hehehe…

Bisa jadi uenaknya aksi mbolos ini lantaran ancaman sanksi yang dijatuhkan tidak berat-berat banget mengingat ada kuota (baca:batas waktu maksimal) yang diberikan untuk melakukan aksi bolos sebelum menjatuhkan putusan. Kalo ndak salah sebulan mbolos ya ? atau malah tiga bulan ? hehehe… lupa tuh.

Seorang teman berpendapat, adanya kelonggaran kuota ini malahan membuka peluang oknum untuk mbolos jauh lebih sering. Tinggal ngantor begitu kuota yang diberikan nyaris berakhir. Seyogyanya ya sanksi gak jadi dijatuhkan mengingat syarat sanksi yang mengatur aksi mbolos dilakukan secara berturut-turut.

Andai saja, ini andai loh ya. Andai para wakil rakyat itu (termasuk pegawai negeri sipil) diberikan ancaman seperti halnya yang diberlakukan untuk para anak sekolahan atau karyawan kantoran, dimana absen tanpa keterangan dua hari saja, langsung kena teguran. Kalo berlanjut sampe seminggu, yang namanya nilai kedisiplinan (bagi anak sekolah) atau gaji ya dipotong sesuai jumlah absen.

Sayangnya wacana pemotongan gaji ini ditolak mentah-mentah oleh beberapa anggota dewan. Begitu pula dengan saran untuk menggunakan absensi sidik jari. Itu pelecehan katanya. “Jangan hanya kami yang dipermasalahkan hanya karena tidak absen. Anggota DPR itu bukan pegawai kantoran yang masuk jam 08.00 pulang jam 16.00 sore.” Kata Mbak Puan Maharani (ViVanews 29 Juli). “(bisa jadi) anggota dewan juga mempunyai tugas-tugas kepartaian yang menuntut mereka berada di lapangan (luar gedung DPR),” tambahnya. Waaahh… memang sulit ya ternyata ?

Kalo sudah ngomongin soal “tugas-tugas yang menuntut keberadaan di lapangan” saya pikir sepertinya ada juga yang berlaku dikalangan pegawai negeri sipil yang kebetulan ditunjuk sebagai pengawas kegiatan atau pengamat jalan misalnya. Begitu pula dengan pendapat “tidak harus datang jam 08.00 dan pulang jam 16.00”, karena bisa jadi ada aktifitas-aktifitas yang menuntut kondisi tertentu misalnya baru dimulai pada pukul 21.00. Pengaspalan jalan menunggu penurunan tingkat keramaian lalu lintas. Bahkan bisa jadi inspeksi dadakan ke satu wilayah banjir di pagi buta, masa’harus balik kantor buat ngabsen trus kembali lagi ke lokasi banjir ? begitu misalnya. Iya sih, ada benarnya juga.

Mumpung dibenarkan, yah ada juga loh yang kemudian beraksi mbolos dengan menggunakan alasan-alasan tadi. Nah trus gimana dong ?

Ealah, kok malah ngelantur kemana-mana ? ketimbang mikir ruwet saya pilih ikutan aja lah… “Bolos yuk Pak Dewan ?”

Jadi PNS itu Serba Salah

32

Category : tentang DiRi SenDiri

…minat masyarakat untuk mengadu peruntungan pada test CPNS masih tinggi… kurang lebih begitu isi berita di media cetak beberapa saat lalu. Tidak salah apabila banyak masyarakat saling berebut mengadu nasib untuk bisa lolos menjadi seorang PNS atau Pegawai Negeri Sipil, karena image yang sudah kadung terbentuk selama ini cenderung “menguntungkan”.

Coba pikir, dengan kinerja yang dikenal kurang memuaskan berbagai pihak yang namanya penghasilan tetap didapatkan untuk setiap bulannya. Besarnya boleh dikatakan cukup apabila disandingkan dengan penghasilan masyarakat kebanyakan yang rata-rata masih berada dibawah garis kemiskinan. Sebaliknya jika disandingkan dengan swasta dalam hal ini perhotelan, bank dan lainnya, malah sangat jauh dibawah. Satu-satunya nilai lebih adalah ‘dimana lagi tempat kerja yang bisa mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya kendati yang namanya kinerja atau absen bolehlah dinomorduakan. Coba bandingkan kalo dengan perilaku sama Anda bekerja dalam sebuah perusahaan ternama.

Meski demikian, jangan anggap enteng loh PNS itu. Karena bagi sebagian kecil dari mereka terkadang ‘terlanjur’ menjadi seorang PNS ternyata bisa jadi malah ‘serba salah’. Saya berikan sedikit ilustrasinya.

PNS

Terkait jam kerja misalnya. Apabila seorang PNS kedapatan berada diluar kantor pada jam kerja, apalagi terlihat sedang menjemput putra/putrinya disebuah sekolah atau kelayapan disebuah pusat perbelanjaan, secara otomatis bakalan memicu sebuah pertanyaan atau bahkan langsung naik cetak di media, lengkap dengan fotonya. Dari sudut pandang pribadi, berhubung dalam budaya PNS itu tidak terdapat jam khusus seperti halnya swasta untuk istirahat makan (selama kurang lebih satu jam), maka jam tersebut dilakukan sesempatnya. Bisa jadi pasca pekerjaan selesai atau saat anak pulang sekolah. Untuk lokasi istirahat makan siang tidak harus di warteg kan ? bisa jadi dekat-dekat pusat perbelanjaan itu.

Demikian pula terkait jam masuk kantor. Secara resminya, aktifitas mulai berlangsung pukul 7.30 pagi, namun dalam kenyataannya  ada yang ngantor lebih siang (dengan alasan mengantar anak atau malah hanya ikut arus), ada juga yang barangkali merasa tidak ada hal penting dirumah memilih berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan. Apa kata publik ? bagi yang berangkat agak siang saya rasa semua tahu apa terpikirkan, tapi lucunya selentingan miring juga berlaku bagi yang berangkat pagi. Bisa jadi malah dicurigai mampir dulu buat SII (Selingkuh Itu Indah), bisa juga agar dapat waktu untuk baca koran, main games dsb. Hehehe… ini pengalaman Pribadi loh ya.

Terkait jam pulang, resminya sih sekitar 3.30 sore namun dalam prakteknya rata-rata oknum PNS sudah pada rame berada dijalanan sekitar pukul 2 atau 2.30. Huahahaha… lagi-lagi pengalaman pribadi. Apa kata publik ? ‘Wah, kalo begini bisa rugi Negara membayar gaji kamu kalo pulangnya lebih awal…’ Sebaliknya ketika ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan lantaran satu tuntutan tertentu yang mengakibatkan lembur, publik malah berkata ‘Apa saja kerjaan yang kamu ambil sedari pagi sampe-sampe musti lembur segala ?’ Waaaahhh… ‘dikira main Game apa ?’ Hehehe…

Yang parah, ketika kami harus menengok seorang teman di sebuah Rumah Sakit disatu siang, kuping ini makin merah ketika beberapa orang kedapatan ngomong ‘tuh lihat, jam segini PNS sudah jalan-jalan, bagaimana negara mau maju ?’ Huehehehe… ‘jalan-jalan ? emangnya lagi di Bedugul ?’ bathin kami.

Jauh lebih parah lagi ketika akibat lembur kerja beberapa rekan akhirnya pulang malam, sempat mampir dulu kesebuah mini market setelah dihubungi sang anak yang minta dibelikan kue. Apa kata orang ? ‘ni PNS keluyuran ja kerjanya, main kemana aja dari tadi sih Pak ?’ Huahahaha… Untung si Teman gak’balik memaki orang tersebut.

Lain lagi dengan cerita ‘Amplop’. Sudah lumrah diketahui publik kalo oknum PNS itu sangat menyukai yang namanya ‘Amplop’, kecuali yang kosong. Hehehe… Tapi kebanyakan ‘amplop’ itu bakalan bersliweran ketika satu dua pihak mulai ada maunya. ‘Amplop’ itu digunakan untuk memperlancar urusan yang terkadang bisa dihambat oleh ulah oknum, bisa pula karena apa yang diharapkan melanggar peraturan yang berlaku. Apa kata publik ketika ‘Amplop ini diterima ? ‘Selipkan ‘amplop’ maka semua urusan ‘Beres….’ Ungkapan ini makin membuat terpuruknya image yang sudah terlanjur jelek. Tapi Apa kata publik ketika ‘Amplop ini ditolak ? ‘Bah, Kamu kok disodorkan uang malah gak mau nerima ? Nolak Rejeki tuh…’

Ohya, pernah memergoki PNS main Games ? saya yakin sering. Tapi pernah gak terpikirkan bahwa mereka itu bermain games (yang memang sengaja diisi dalam setiap PC) setelah semua pekerjaan telah selesai dikerjakan, sembari menunggu jam pulang ketimbang pulang lebih awal mendahului ? Pernah pula terpikirkan bahwa jauh lebih baik melewatkan waktu luang dengan bermain Games ketimbang nyari kamar short time ? Tidak jauh beda dengan ‘seorang PNS yang asyik nge-BLoG atau nge-FaceBook dipojokan bukan ? Huahahaha…

Sorry bagi yang kurang berkenan, ini hanyalah satu pembenaran dari sudut pandang kami saja, para PNS yang kurang kerjaan. Huehehehe…

Apa sih pekerjaan PNS itu sebenarnya ?

20

Category : tentang Opini

Lagi-lagi PNS, entah sudah berapa kali BLoG ini menulis tentang satu sosok yang begitu didewakan oleh sebagian besar masyarakat negeri ini hingga rela berdesak-desakan ketika bukaan lowongan itu dibuka. Bahkan boleh dikatakan rasio kemungkinan untuk memperoleh peluang itu bisa sampai 1:10, tapi tetap saja setiap tahunnya peminat makin membludak.

Secara pribadi fenomena kayak gini sebenarnya masih bisa dimaklumi kok. Profesi apa sih di negeri ini yang paling diperhatikan oleh Pemerintah diluar PNS ? Buruh ? petani ? nelayan ? tukang jaga toko ? ato…. pengusaha ? Profesi apa yang gajinya bisa naik setiap tahunnya secara berkala walopun yang namanya tunjangan dan tetek bengek lainnya bisa dikatakan naik juga. Bila dibandingkan dengan gaji seorang CEO saya yakin gaji seorang pejabat berstatus PNS itu bukan apa-apa. Tapi seandainya dibandingkan dalam hal absen, profesi mana yang tetap menerima gajinya setiap bulan kendati gak ngantor selama sebulan penuh ?

Apalagi yang namanya peraturan begitu longgar. Kalo gak salah terakhir ada perubahan aturan lagi berkaitan dengan Pemecatan seorang PNS bahwa seorang PNS baru dapat dipecat apabila tidak masuk kantor selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan. Coba bayangkan kalo seandainya seorang oknum yang hanya masuk kantor pas tanggal muda untuk ambil gaji saja, secara peraturan tentu tidak dapat dipecat namun bagaimana dengan tuntutan kinerjanya ?

Tapi ngomong-ngomong… Apa sih pekerjaan dari PNS itu sebenarnya ?

Secara teori kalo sudah menyinggung soal pekerjaan ya minimal seorang PNS itu mampu menjalankan kewajiban-kewajibannya terkait tugas dalam jabatan, dan terkait kedudukannya sebagai unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat. Seorang PNS diharapkan selalu bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara. Selengkapnya main aja ke Situs Informasi Pengolahan Data Kepegawaian ya. Hihihi…

Namun bagaimana dalam kenyataannya ? hehehe… saya yakin ada beragam pendapat tentang ini yang datang dari mereka yang secara kebetulan memergoki oknum-oknum berstatus PNS baik diruangan kantor, dilingkungan kantor hingga diluaran kantor. Kalopun saya sebutkan rasanya tidak akan ada habisnya. He…

Dari yang hanya duduk-duduk baca koran seharian, main games, kongkow bareng rekannya atau malah keluyuran di Supermarket. Waaaahhh… kalo sudah begini jelas saja kalo sebagian besar masyarakat kita pada ngiler pengen jadi PNS. Gak peduli harus nyogok atw menyerahkan sejumlah uang kepada sang calo.

Tapi ingat, gak semua PNS kayak gitu. Masih ada kok yang berusaha berdedikasi dalam bidang dan pekerjaannya. Masih ada yang mau bekerja secara jujur, tertib, cermat dan bersemangat setiap harinya, bahkan hari liburpun mereka siap untuk lembur. Yakin deh…

Hanya saja sayangnya mereka itu gak terekspose ke media massa. Blom pernah kan ada sebuah kegiatan yang memberikan penghargaan kepada mereka yang berdedikasi dalam pekerjaannya ? paling-paling penghargaan setelah masa pengabdian 10 tahun keatas, dan itupun setahu saya diberikan sama rata, entah yang bersangkutan jarang ngantor atau tidak kalo masa pengabdian dah layak untuk dapat penghargaan ya pasti dapat.

Sayangnya lagi rata-rata mereka yang sudah berusaha untuk selalu berada pada rel-nya malah tidak dihargai oleh lingkungannya. Lantaran kebanyakan yang dijadikan ukuran satu keberhasilan adalah Materi. Begitu seseorang bisa punya mobil mewah, gak peduli status sang PNS masih berada pada tingkat Staf, orang cenderung bangga dan hormat padanya. Padahal dengan gaji plus tetek bengek penghasilan yang didapat, secara akal sehat apakah hal kayak gitu logis diterima ? Tapi yah, itulah tuntutan lingkungan. Demi Gengsi seorang PNS yang diharapkan selalu jujur, tertib, cermat dan bersemangat pun mampu menjadi sosok lain.

Mungkin itu sebabnya ada yang dahulunya begitu berdedikasi kini malah keseringan menggerutu ketika sebuah pekerjaan dilimpahkan padanya. ”Semua Ini kan pekerjaan Konsultan (Rekanan) ? Bukan kita ?”

“Lah terus ? Kalo itu bukan pekerjaan kita, Gaji bulanan itu dibayar untuk apa dong ?”

PanDe Baik menyayangkan aksi Buaya pongah menginjak cicak

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Satu bulan terakhir media cetak maupun televisi tak ketinggalan dunia maya dipenuhi cerita heroik perlawanan cicak melawan buaya, satu perumpamaan yang dicetuskan oleh seorang petinggi negeri ini ketika merasa posisinya tersudutkan (atas dasar  tindakan penyadapan telepon si buaya) oleh anak didiknya sendiri dalam hal ini adalah si cicak.  Saya pribadi memang tidak terlalu mengikuti alur cerita yang dilakoni hingga lembaga dimana si petinggi yang mengatakan diri mereka adalah buaya telah menetapkan orang-orang yang berada di pihak cicak sebagai tersangka atas tindakannya yang menyalahi wewenang. Hmm… saya kok sepertinya mencium satu ketidakberesan dari keputusan itu…

Sebagai seorang oknum Pegawai Negeri Sipil yang kerap dicurigai oleh masyarakat sekitar, jangankan melongok pada lembaga sekelas dan sebesar itu… di kelas saya sebagai staf saja perseteruan dan konflik seperti diatas kerap terjadi kok. Yah, tulisan saya kali ini cukup sebagai perumpamaan sajalah.

Dalam skala besar, cicak dan buaya adalah dua pihak yang memiliki kewenangan berbeda berupaya saling mengontrol namun satu tujuan berada dalam satu payung negara. Dalam skala kecil bisa saya gambarkan bahwa ada dua peran yang berbeda pula dalam melakukan pemeriksaan hasil kemajuan pekerjaan fisik pada satu payung dinas atau instansi, berdasarkan kebijakan terakhir. Satunya bernama Tim Penilai atau Pengendali, satunya lagi Direksi teknis selaku pengawas Kegiatan secara langsung.

Konflik antara dua peran tersebut seharusnya tidak terjadi berhubung masih berada dalam satu payung kedinasan dan memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan pekerjaan fisik yang berkualitas. Sayangnya tidak semua oknum yang terlibat didalamnya memiliki visi dan misi yang sama untuk mewujudkan tujuan yang saya katakan tadi.

Katakanlah jika oknum tersebut berada di pihak Tim Penilai atau Pengendali, merasa dirinya memiliki wewenang dalam mengambil keputusan apakah kemajuan satu pekerjaan fisik bisa diterima atau tidak untuk ditindaklanjuti ketahap pembayaran, si oknum lantas memanfaatkan atau menyalahgunakan wewenang yang ia miliki untuk meminta sejumlah materi kepada Rekanan jika tidak ingin dihambat.

Berangkat dari tudingan diatas yang kerap diarahkan pada seluruh anggota Tim Penilai atau Pengendali, saya sebagai salah satunya merasa tidak keberatan apabila telepon yang kami gunakan disadap oleh lembaga lain (dan baru belakangan diketahui) untuk membuktikan apakah tudingan tersebut benar atau tidak. Mengapa ? Jika saya merasa bahwa saya memang tidak pernah melakukan satu hal yang menyimpang dari wewenang, mengapa harus takut dan marah ? Justru momen seperti ini akan saya gunakan untuk membuktikan apakah saya merupakan salah satu oknum yang menyalahgunakan wewenang yang diberikan atau tidak.

Sayangnya ya lagi-lagi gak semua oknum memiliki pemikiran yang sama, ada juga yang marah-marah dan balik menuding yang bukan-bukan kearah pihak lain hanya untuk sekedar mengatakan kepada publik ‘saya ini bersih loh…

Tinggallah kini publik yang kebingungan… bagaimana mungkin negeri ini akan terbebas dari korupsi jika para petingginya (yang berwenang untuk itu) masih saling menjatuhkan satu sama lain dan melepas ‘tersangka’ yang sebenarnya…

Gaji PNS Naik 15%

9

Category : tentang PeKerJaan

Kira-kira begitu ‘Headline News’ yang saya dengar awal April ini.

Satu berita yang menggembirakan bagi saya pribadi. Menggembirakan karena dari sisa gaji yang saya terima selama hampir dua tahun ini, bisa dikatakan sangat-sangat tipis kemungkinannya untuk bisa meningkatkan taraf hidup keluarga.

Maklum, dari sejumlah gaji yang seharusnya saya terima untuk setiap bulannya, harus dipotong sepertiganya untuk membayar cicilan tiap bulan atas pinjaman uang sebesar 20 Juta di Bank Pembangunan Daerah. Uang ini saya pinjam sekitar pertengahan tahun 2007 lalu, untuk membiayai kuliah lanjutan saya di tingkat Pasca Sarjana…

Dalam perjalanannya ternyata harus dibagi pula dengan biaya persalinan, upacara untuk putri kami dan biaya Rumah Sakit saat Istri terkena Demam Berdarah setahun lalu. Bisa ditebak, uang pinjaman ini tak cukup lagi untuk membayar SPP perkuliahan saya…

Bila boleh dibagi ceritanya, sisa dua pertiga gaji yang saya terima, musti dibagi lagi untuk biaya air, listrik dan telepon, biaya Dapur (patungan dengan Istri), Asuransi untuk sekolah putri kami kelak, koneksi internet (untuk menyalurkan penat dan hobi), serta sedikit simpanan berupa Arisan keluarga dan tabungan berjangka, yang saya jatah jatuh tempo dalam waktu satu tahun.

Hasil akhir inilah yang kemudian akan dibagi lagi untuk keperluan sehari-hari, terutama putri kami. Susu, bubur, pampers dan hal-hal yang datangnya diluar rencana, seperti sakit dan berobat serta menyame-beraye (kehidupan sosial masyarakat).

Bersyukur sekali dalam setap bulannya, PNS dijatah lagi dengan uang makan yang disebut dengan Insentif yang jumlahnya kurang lebih sepertiga gaji… Dari uang inilah saya dan Istri baru bisa merasakan indahnya hidup berumah tangga. Sekedar untuk jalan-jalan bareng si kecil atau bahkan terkadang bareng dengan kakek neneknya. Tentu saja jalan-jalan model begini memerlukan tambahan uang extra untuk makan bareng minimal dua kali setiap bulannya…

Maka ‘Headline News’ diatas boleh dikatakan sangatlah berarti bagi saya pribadi, walaupun jumlahnya tak seberapa dibandingkan gaji pekerjaan swasta kini. Tapi minimal, jikapun seorang PNS itu ingin bermalas-malasan, tidak ngantor selama sebulan, yang namanya gaji ya tetap penuh diterima. Mungkin hanya itu kelebihannya dibanding kerja swasta. He….

> PanDe Baik memohon maaf jika ada yang kurang berkenan dalam tulisan diatas, mungkin menyinggung perasaan mereka yang terkena PHK dsb. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri, tapi hanya sekedar berbagi. Bahwa tak selamanya jadi profesi sebagai PNS itu adalah kenikmatan tingkat tinggi seperti yang diagung-agungkan sebagian besar orang… <

Dengan sedikit gambaran tentang gaji seorang Pegawai Negeri Sipil diatas, bolehkan jika kita berhitung, apakah masuk akal apabila dalam jangka pendek, seorang oknum mampu membeli sebuah mobil baru atau motor baru hanya dengan mengandalkan gaji mereka ? He… silahkan menebak, kira-kira dari mana asal uang untuk segala hal tersebut…

Katanya ProFesionaL ?

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Seorang rekan kantor yang sejak dulu saya curigai memiliki kelainan pada otaknya kerap mengatakan pada kami, “Semestinya kita ini bekerja dan diperlakukan secara Profesional…” Begitu terus sedari pertama saya menginjakkan kaki di kantor ini. Ya, bisa dikatakan sudah hampir lima tahun saya mengabdi sebagai pegawai negeri yang artinya selama lima tahun pula pikiran saya dicekoki oleh kata-kata mutiara yang gak jelas alasan dan penerapannya itu.

Mau tahu kenapa rekan saya selalu berusaha menekankan kata ‘Profesional’ dalam setiap usahanya ? karena ia menuntut bahwa setiap pekerjaan yang ia lakukan dihargai dengan lembaran kertas merah, entah oleh sesama rekan, atasan hingga rekanan.

Padahal kami ini pegawai negeri loh. Yang notabene sudah mendapatkan gaji setiap bulannya plus insentif sebagai sumber dana tambahan agar kami bekerja lebih giat, diluar dana-dana lain yang tak resmi macam amplop misalnya. Ups… Kelepasan. Sori, yang amplop tadi mbok ya jangan dipercaya gituh…

Eh, kira-kira apa maksudnya sih kata ‘Profesional’ itu sebenarnya ? apa si rekan sudah mengetahuinya sebelum ia mengatakannya setiap kali diberikan atau dilimpahkan pekerjaan ?

Iseng saya nyari arti kata ‘Profesional’ pada mbah Google, ada dua yang paling menarik saya dapatkan. Berikut intinya :

Untuk kategori tenaga PNS, ‘Profesional’ itu bisa diartikan sebagai tenaga yang memiliki technical dan manager skill yang mampu mendukung kinerja dan etos kerja PNS sebagai abdi negara dan masysarakat. PNS itu dituntut dapat melaksanakan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat dengan sebaik mungkin.

Adapun ciri-ciri PNS yang ‘Profesional’ adalah PNS yang mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan manejerial dasar sesuai dengan kedudukannya.

Kedua adalah resume dari sebuah buku yang kebetulan memiliki arti mirip dengan kerja ‘Profesional’ yaitu 8 Etos kerja unggulan :
1. Kerja adalah Rahmat; bekerja tulus penuh syukur
2. Kerja adalah Amanah; bekerja benar penuh tanggung jawab
3. Kerja adalah Panggilan; bekerja tuntas penuh integritas
4. Kerja adalah Aktualisasi; bekerja keras penuh semangat
5. Kerja adalah Ibadah; bekerja serius penuh kecintaan
6. Kerja adalah Seni; bekerja cerdas penuh kreativitas
7. Kerja adalah Kehormatan; bekerja unggul penuh ketekunan
8. Kerja adalah Pelayanan; bekerja paripurna penuh kerendahan hati

Nah, bercermin dari kedua hasil diatas, dalam hati kecil saya pribadi, hingga kinipun saya masih bertanya-tanya, apakah rekan saya tadi itu sudah melaksanakan ‘Profesionalisme’nya sebagai PNS minimal dengan memberlakukan 8 Etos kerja tadi ? Trus apakah pantas kalo rekan saya itu menuntut agar lingkungan menghargainya secara ‘Profesional’ sedangkan ia sendiri belum mampu memberikan ‘Profesionalisme’nya secara baik dan utuh ?

Apalagi kalo saya membaca tambahan pada awal resume buku tersebut perihal Etos Kerja Bangsa kita saat ini :
1. Suka mengeluh, banyak menuntut, egois
2. Bekerja seenaknya, kepedulian kurang, gemar mencari kambing hitam
3. Kerja serba tanggung, suka menunda-nunda, manipulatif
4. Malas, disiplin buruk, dan stamina kerja rendah
5. Pengabdian minim, sense of belonging tipis, gairah kerja kurang
6. Terjebak rutinitas, menolak perubahan, kurang inisiatif, kurang kreatif
7. Mutu pekerjaan rendah, bekerja asal-asalan, cepat merasa puas
8. Jiwa melayani rendah, merasa diri sudah hebat, arogan dan sok

Jujur saja, secara pribadi saya tak menutup mata bahwa bisa jadi saya adalah salah satu oknum yang masih menjunjung tinggi etos kerja suka mengeluh dengan mutu pekerjaan yang rendah, mustinya ditambah satu point lagi, yaitu ‘lebih suka mojok untuk nge-BLoG saat jam kerja…’. Nah kalo beneran ditambahkan, maka inilah saya yang sebenarnya. Huahahaha…..

Balik ke rekan saya tadi, hingga kinipun saya masih merasa geli sendiri tiap kali ia menekankan kata ‘Profesional’ dan berusaha menuntut imbalan dalam setiap pekerjaan yang dilimpahkan padanya dengan cara apapun.

Sebenarnya sih bisa saja begitu, tapi dengan syarat ya duit gaji bulanan dan insentifnya ya dikembalikan pada negara. Jadi ia dibayar sesuai dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Mau Mau Mau ?

Pemikiran ini sempat saya lontarkan pada rekan saya tersebut. Hasilnya ? ia memilih ngeloyor pergi dan memusuhi saya hingga kini. Wuahahahaha….

> selama ini PanDe Baik memang selalu berusaha untuk melawan arus sedikit demi sedikit, agar yang namanya idealisme itu tetap terjaga. Walaupun ada kalanya kita musti ikut arus agar tak hancur dihantam gelombang maha besar… contohnya ya menghabiskan jam kerja dikantor cuman untuk nge-BLoG. Huahahaha…. Dibanding saya kabur pulang ato nyari kamar short time serta membuat rekaman video 3gp ? <

Mau Mau Mau ?

Tim Pengendalian Intern ; Tantangan dan Penyimpangan

6

Category : tentang PeKerJaan

Tiga bulan terakhir, aku kembali menjadi bagian dari satu tim yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan pada kegiatan-kegiatan fisik baik sedang berjalan hingga akhir penyelesaiannya. Istilah kerennya, jadi anggota dari Tim Monitoring atau Pengendalian Intern.

Tugasnya dari melakukan monitoring pada sisi administrasi, kelengkapan dokumen, Tetek bengek yang berkaitan dengan pelaksanaan fisik proyek seperti gambar rencana, as built (setelah dilaksanakan), struktur organisasi di lapangan, foto, laporan-laporan maupun buku direksi dan lain sebagainya. Jauh lebih penting daripada itu, tugas dari Tim, tentu menilai dan memantau kemajuan pekerjaan sesuai dengan prosentase yang diajukan, apakah sudah sesuai spesifikasi perencanaan dan pelaksanaan atau tidak.

Untuk memantau kemajuan pekerjaanpun tak hanya dari volume pekerjaan atau prosentase dari pekerjaan keseluruhan, tapi juga mutu pekerjaan terutama pada item penting dalam sebuah proyek konstruksi, meliputi kualitas beton, mortar hingga permukaan jalan. Yang paling gampang dari semua itu adalah menilai secara Visual, penampilan dari masing-masing item pekerjaan tersebut.

Apabila kemudian ditemukan suatu penyimpangan baik secara volume atau dimensi pekerjaan, ini patut ditindaklanjuti dengan pencarian solusi kemana dibawa selisih volume atau dimensi tersebut, karena tolok ukur tetap berpegang teguh pada volume Perencanaan. Kalaupun memang dalam kondisi terpaksa, harus ada alasan yang logis dan jelas, misalkan saja faktor kondisi lapangan yang tidak memungkinkan.

Sejauh ini, penyimpangan secara visual yang paling sering kami temui. Untuk dapat mengetahui bahwa satu pekerjaan menyimpang secara visual atau tidak, diperlukan pemahaman terhadap item pekerjaan tersebut baik dari cara pengerjaan hingga finishingnya. Hal inilah yang kerap menjadi bahan topik pada media cetak, yang menyebutkan beberapa kerusakan dengan istilah berbeda dengan pemahaman secara teknis yang kami miliki.

Balik pada Tim, tahun ini beranggotakan 9 orang terbagi menjadi 3 grup. Peningkatan dari tahun lalu yang hanya memiliki anggota 3 orang saja. Saya hanyalah salah satu diantaranya yang masih dipercaya hingga kini. Dalam pelaksanaannya, hanya 6 orang saja yang efektif bergerak secara aktif, sehingga Tim dirombak menjadi hanya 2 grup yang menjalankan tugas secara bergiliran.

Wewenang utama Tim yang turun tiap kali pengajuan kemajuan pekerjaan adalah menentukan apakah Berita Acara Pemeriksaan dapat dikeluarkan secara cepat atau tidak. Ini kembali bergantung pada pihak Rekanan maupun Direksi Pengawas Proyek bersangkutan, menindaklanjuti catatan atau temuan yang direkomendasikan oleh Tim setelah pemeriksaan. Semakin cepat tanggapannya, semakin cepat proses keluarnya BAP tersebut.

BAP inilah yang kemudian akan menjadi dasar pengajuan biaya Konstruksi yang telah dikerjakan oleh Rekanan sesuai volume yang diajukan dan dikerjakan. Istilahnya pengajuan Termyn.

Sayang, yang namanya nafsu manusia tak pernah puas adanya. Padahal untuk menurunkan Tim, sudah dibekali dengan uang makan dan premium sesuai jumlah anggota. Namun tetap saja yang namanya ketidakpuasan, apalagi Tim memiliki wewenang untuk menghambat sesuatu yang sebetulnya tak menjadi masalah, maka jadilah ada pungli-pungli yang dilancarkan untuk mendapatkan istilah ‘win win solution’. Satu pembenaran sepihak bagi mereka yang menganggap bahwa tak ada artinya memperbaiki citra PNS yang sudah rusak.

Sungguh sangat mengecewakan. Rasanya percuma membangun image sejak setahun lalu, namun dirusak oleh oknum yang tak bertanggung jawab hanya demi memuaskan keinginan mereka dan mengorbankan Tim keseluruhan.

Kenapa sih BLoG ini gak pernah Kritis lagi ?

7

Category : tentang DiRi SenDiri

Pertanyaan diatas sempat dilontarkan oleh seorang rekan yang begitu rajin berkunjung ke BLoG ini via sms. Dia sempat pula mengungkapkan kekangenannya perihal tulisan posting saya yang kadang nyelekit dengan gaya yang tentu jauh beda dengan tulisan di media cetak. Sambil mendorong dengan semangatnya untuk gak terlalu peduli dengan orang lain yang kebakaran jenggot akibat ketusuk tulisan saya. ‘So what gitu loh..;

Saya sih ngejawabnya simpel aja. Belajar dari Pengalaman. Karena Pengalaman itu kata orang bijak adalah pelajaran yang sangat berharga. Pengalaman itu pula yang mengajarkan pada saya, betapa sulitnya jika kita ingin bersikap kritis. Oke, saya ingin terbuka pada beberapa respon atas tulisan saya sebelumnya.

Peringkat pertama ya Polemik dengan Radar Bali tempo hari, perihal pembelaan proyek Dewi Sri yang dikatakan mangkrak dan Wartawan yang dateng minta duit. Itu asalnya dari nurani saya berdasarkan pada fakta dilapangan yang benar adanya. Hanya saja karena kalimat penyampaian yang barangkali terlalu menusuk bagi orang lain, maka berujung pada ancaman yang akan meng-UU ITE-kan saya lantaran posting tersebut. Dan efeknya tak hanya itu saja…

Saat membaca Radar Bali 9 Oktober lalu, berita dan foto Dewi Sri menempati porsi halaman pertama. Lengkap dengan kata-kata yang menggambarkan kejadian ini sangat memalukan dilakoni Pemda Badung akibat dana anggaran yang terbatas. Coba tebak apa tanggapan saya ? Ketawa sendiri. Huahahaha…

Sebegitu besarnya respon Radar Bali atas tulisan saya kemaren rupanya.

Kedua saat saya menulis tentang PNS dan ToGeL. Entah bagaimana pula para ToGeLer yang sering beraksi merumuskan hitungan matematika diruang kerja kantor pada memilih pindah lokasi dalam menjalankan aksinya ke Bale Bengong (bukan BloGne Om AnTon lho ya) didekat kantin, sambil meminta para rekan lain untuk hati-hati pada saya. Kikikikik…

Ketiga itu tulisan saya perihal kebobrokan PNS dan perilakunya. Ada yang sampe berkomentar ‘ah ini sih menjelek-jelekkan dirimu sendiri’. Lho, ya memang begitu maksudnya kok. Istilah saya malahan ‘seperti menepuk air di dulang’ atau ‘makecuh marep menek’. Tetep aja ada rekan yang gak terima kalo kelakuan suka mbolos, dan baru hadir kalo hari gajian aja diungkap di BLoG ini.

Keempat ada juga saran meminta saya untuk menghapus posting-posting yang berkaitan dengan kegiatan rutin saya usai ngecek proyek yang sedang berjalan. Jelas maksudnya agar bobrok pekerjaan yang dicuri-curi tak terekspose, khawatir malahan bisa mengundang KPK. Wah…

Belajar dari pengalaman diatas, akhirnya saya memutuskan untuk gak nulis yang kritis-kritis lagi deh. Susah. Apalagi kalo sampe mengundang respon rekan lain yang agak berlebihan menurut saya. Toh juga itu benar adanya.

Makanya posting-posting saya belakangan ini ya kalo ndak tentang hobi, ya kuliah dan keluarga. Begitu pula pada blog saya yang lain. Cukup bercerita tentang putri kami Mirah Gayatridewi yang kecil dan lucu, hobi gadget dan juga koleksi lirik lagu. Yakin banget semua itu gak bakalan mengundang masalah bagi rekan lain. Ambil langkah fun aja deh.

Tentu aja ada resiko dari itu semua. Pembaca BLoG ini juga makin turun, mungkin lantaran bosen ngebaca posting saya yang terlalu menikmati diri sendiri ini. Tapi memang itu kok yang saya harapkan sejak awal mulai ngebikin BLoG ini. Gak ada traffic pembaca yang tinggi dan malah jadi beban, gak ada keberatan atas tulisan saya yang keseringan onani, gak muncul di halaman pertama Mbah GoogLe saat ngetik Keyword tertentu, gak pake iklan komersial. It’s just me. Sorry. He…

Menjadi PNS yang tak berotak saja deh…

8

Category : tentang Opini

Huuh… dua minggu ini helaan nafas berat rasa-rasanya seringkali aku rasakan, lantaran efek dari tulisan guoblokku tentang pemberitaan di media Radar Bali, Februari lalu, ternyata direspon dengan amarah oleh Wartawan-wartawan Radar Bali, per awal September kemaren.

Tulisan itu lahir dengan segera setelah artikel yang naik di media cetak Radar Bali perihal Drainase Kuta jalan Dewi Sri dikatakan mangkrak dan terbengkalai, karena tidak tampak ada aktifitas pekerja dilokasi yang tampak pada gambar.

Efek pertama yang aku rasakan waktu itu adalah teguran atasan berkaitan dengan ‘tidak tampaknya aktifitas pekerja dilokasi proyek’, ‘Memangnya kamu kemana saja selaku pengawas pelaksana dilapangan, Nde ?’. Sempat pula memunculkan ketidakpercayaan atasan pada kinerja stafnya ini…

Namun seiring waktu berjalan, toh dibuktikan juga kalau ternyata pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai rencana. ‘Sesuai rencana’disini ya seperti yang terlihat dilapangan per hari ini, lantaran alokasi dana yang didapat untuk pekerjaan ini sangat minim, ya mampunya hanya segitu.

Yang paling membuat para Wartawan itu tidak terima ya, perihal kata-kata dalam tulisan yang mengatakan bahwa ‘ada wartawan Radar Bali yang minta uang pada atasan dengan ancaman bakalan menaikkan berita negatif ke media cetaknya. Ada tiga orang yang ngasi komen keberatan di BLoG, Bli Gupta, Bli Sudarsana Putu dan Bli Feri selaku penulis berita di koran tersebut.

Tapi itu benar adanya kok. Hanya saja aku gak punya bukti lebih mendetail tentang siapa yang datang, karena satu-satunya bukti ya ID Card Radar Bali aja. Mungkin kalo waktu itu bisa didetail lagi dengan nama dan ciri-cirinya barangkali saja posting yang dahulu itu bakalan dianggap berkualitas sama dengan media cetak koran. Yah, namanya juga PNS. Gak tau banyak etika penulisan. He…

Hanya saja belakangan ini baru terpikirkan, bagaimana kalo ternyata itu bukan Wartawan Radar Bali asli, dalam arti ya Gadungan dengan membawa ID palsu. Seperti sindikat yang mengaku anggota KPK yang ditangkap beberapa waktu lalu ? alur ceritanya sama kan ? pejabat diancam untuk mendapatkan sejumlah uang. Yah, barangkali aja PNS-nya gak berotak’. He…

Kalo itu benar, berarti tulisan yang aku posting bisa dianggap memfitnah orang, dan itu berarti hukum yang bakalan berjalan. So, daripada masalahnya jadi panjang ya, kuhapus saja posting tersebut.

Rupanya masalah gak berhenti disitu. Untunglah Om Anton berinisiatif menjadi mediator dan langsung ngobrol via YM hari Senin siang lalu, mengkonfirmasi pertanyaan Bapak Hari Puspita tentang siapa sih Bli Pande itu ? PNS Guoblok yang nekat nulis dan memfitnah wartawan Radar Bali. He… Barangkali karena melihat saya ikut serta jadi kontribusi Bale Bengong, makanya Om Anton lah yang paling pertama ditanyakan.

Agak gak enak juga dengan Om Anton, berhubung Beliau itu kan mantan Ketua AJI, tempat ngumpulnya Jurnalis ? apalagi yang ngajak gabung di BBC kan Beliau juga. Khawatir kalo Beliau dikait-kaitkan. Padahal kalo mau dirunut kebelakang, Februari itu aku blom masuk secara resmi di BBC. Dan media nulisnya waktu itu juga blom pake Domain sendiri. Masih iseng-iseng, toh gak ada yang baca.

Menuliskan unek-unek akan ketidakpuasan media dan Wartawan agaknya menjadi pelajaran bagiku pribadi. Seperti bom waktu, tinggal nunggu meledak aja. Sebaliknya dengan media sebegitu bebasnya mereka menulis perihal kebobrokan Pemerintah yang sayangnya merupakan mimpi terburuk negeri ini. Kebebasan berbicara dan berpendapat kata mereka. Jadi sah-sah aja kalo ngritik Pemerintah yang memang beneran bobrok.

Memang, satu-satunya harapan pada media cetak dan para Wartawannya hari ini adalah, mereka mau menuliskan sesuatu hal/berita di media setelah mengkonfirmasi terlebih dahulu ke Narasumber. Misalkan saja dalam konteks Drainase diatas ya Pelaksana dilapangan. Bener gak sih gak ada aktifitas ? tapi berhubung waktu dari para wartawan itu serba cepat seperti kata si Richard Gere dalam film Runaway Bride, mungkin menganggap mubazir kalo sampe membuang waktu menanyakan hal tersebut. Toh apa yang ditulis jauh lebih menjual.

Jangan sampe kebablasan kayak berita entah tanggal berapa, saya juga lupa, bahwa si Wartawan udah mengkonfirm perihal proyek ke Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Ir. I Ketut Suwandi dan mengeluarkan statemen bla bla bla… Tapi kalo dicermati, Kepala Dinas Bina Marga waktu itu kan sudah diganti oleh Ir. IB Soerya sejak setahun sebelumnya ? sedang Ir. Ketut Suwandi malah memimpin Cipta Karya. Apa ini tidak menggelikan ? Tentu yang jauh lebih menggelikan lagi, ternyata si atasan tidak pernah mengeluarkan kata-kata tersebut pada siapapun. Nah, kalo sudah begini bagemana dong ?

Mungkin penulis memang baiknya banting setir aja.Percuma berusaha bersikap jujur dan disiplin dalam bekerja, toh image PNS takkan berubah dimata media. Tetap negatif. Jadi apapun yang dilakukan ya gak pernah dapet tempat dihati mereka. Tapi itulah resikonya. Ngapain juga mau jadi PNS yang imagenya udah sangat bobrok dimasyarakat ?

Banting setir jadi PNS yang tidak berotak.

Yang ngantor siang, yang kerjanya ngobrol dan maen gim Poke juga Bola-bola atau Bounce, hahahaha… Yang ngitungin Togel pas jam kerja, yang suka mbolos usai jam makan, atau yang malah sering absen tapi rajin ngambil gaji pas tanggal satu.

Isi postingpun barangkali ya kisaran hobi dan keseharian saja, hal-hal yang gak penting. Barangkali bersenda gurau dengan malaikat kecilku, yang begitu lucu dan menggemaskan, daripada pusing mikirin orang lain. Toh amplop proyek jauh lebih nikmat…

Barangkali itu pilihan terbaik yang saya bisa lakukan. Semoga Radar Bali dan para Wartawannya gak bosan mengkritik PNS-PNS yang tak berotak seperti saya ini. Salam Damai. Piss…

I don’t Like Monday

3

Category : tentang KeseHaRian

Ada yang unik hari senin pagi berkeliling Kota Denpasar, sembari membeli beberapa keperluan untuk persiapan upacara si kecil, di beberapa kantor pemerintahan masih terlihat lengang walopun jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ada apa gerangan ?

Hmm.. mungkinkah para pegawe terjangkit virus I Don’t Like Monday hingga menurunkan minat kerja mereka ? Hmm.. tentu tidak. Karena setelah membaca koran pagi ternyata Final Euro antara Spanyol melawan Jerman dilangsungkan dini hari tadi. Benarkah ?

Hmm.. baru yakin setelah mencoba menghubungi beberapa rekan yang emang maniak bola dan sepertinya sempat taruhan unggulan tempo lalu. Hmm.. Euro nun jauh di Austria-Swiss pun mampu mempengaruhi kinerja pegawai di Indonesia sini rupanya. J

Gaji ke-13 ? why not ?

3

Category : tentang Opini

10 Juni 2008 ; 14.30 siang…

gaji-13-1.jpg

‘wih, tomben jam mone kantor nu bek penghunine… > ‘biase nto, nak ngantosang gaji ke-13 dumange…

‘ye, kaden nak mare neken ? > ‘nak sube palsuange busan malu apang enggalang nyidang pesu…

‘men, ane tekenanne mepalsu nawang ?’ > ‘ne penting yen batek neken, sing kenken malsuang tandatangan. Disubane pipis pesu mare ye ane ngelahang apang nyemak langsung, tusing dadi ngewakilang…

‘be positip jani kel maan ?’ > ‘keto je dingeh san, anak ane ngurusang sube berangkat ke BPD Kuta, nyemak pipis uli semengan…

‘beh, pantesan be pegawene anteng kanti jam mone nu ngoyong di kantor… > ‘nah maklum na’. buin mani anak makejang merainan Pagerwesi. Apang ade beliange buah lan jaje anggon banten…’

‘men, ane nyemak pis sube teke ne ceritane ?’ > ‘tonden, kwale yen payu medum jani, jeg kanti lime sanje bani keantosang…

‘wake ngadenang mulih be malu, apang nyidang ngempu Putu… > ‘nah sua kemis be…

* * * * *

12 Juni 2008 ; 07.55 pagi

-klingang klingeng ngajak pak atasan-

gaji-13-2.jpg

‘dadi sampun jam amuniki dereng wenten timpale rawuh, Pak ?’ > ‘men biasane ken-ken ?’

‘jam mone biasane anak sampun wenten beberapa ne rawuh. Nanging mulai mekarye ne ya jam 9 wawu efektif’ > ‘yeh saje, De sube nyemak Gaji ke 13 ne ?’

‘Dereng Pak. Sampun kebagiang nggih ? > ‘Sube selasa sore, Pak kanti jam lime ngantosang mare mebagi…

‘men jinah napi manten sane medum ?’ > ‘Gaji ke-13 sekalian Insentip…

Beh sing jeg meliah Pak nerima mangkin ? kaden nak ten mepotong utang BPD yen polih Gaji ke-13 Pak ? > ‘jeg sing merase neked dije De. Meh timpale sing teke kali jani, nu bingung mikirang jumahne kel nganggon gene pipise nto.

‘beh, Pak ade-ade manten ne. Men yen saje ne timpale ten wenten ne rawuh ngantor, sire kel jagi berangkat Rapat ne malih jebos ?’ > ‘Nah, De gen sube berangkat keme wakilang jep. Orahang anak sing ade nyen di kantor. Nu menikmati Gaji ke-13 ne…

‘badah, dadi ben keto Pak ?’