Galau Tugas Dinas Keluar Kota

1

Category : tentang KHayaLan

Perasaan macam ini memang selalu ada setiap kali saya ditugaskan untuk dinas keluar kota. Baik yang sifatnya menghadiri rapat kerja atau berkonsultasi ke tingkat Kementrian dan setara itu.

Galau karena akan meninggalkan keluarga selama beberapa hari.
Galau karena khawatir perjalanan nanti hasil kerjanya tak sesuai harapan yang disandang.
Padahal jika PNS lain yang ditugaskan, ada saja yang gembira bahkan meminta.

Entah karena sejauh ini masih merasa belum mampu untuk mengemban kepercayaan pimpinan, atau memang karena tak menguasai materi yang kelak akan dibahas atau disampaikan.
Tapi kalo ndak belajar untuk mandiri, ya kapan lagi ?

Mohon doanya ya kawan kawan…

’64 Persen PNS Kemampuannya hanya Juru Ketik ?’

3

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Video yang diunggah oleh akun Instagram @punapibali rabu malam (26/10) kemarin, sempat menggelitik pikiran saya sedari awal menontonnya. Bagaimana tidak ?

Bahwa dari 4,7 Juta, 64 persen PNS kemampuannya hanya Juru Ketik ?

Emejing…

Dan kalimat berikut yang tampil adalah ‘dengan kemampuan terbatas itu… mereka bingung mengerjakan apa di kantor…’

Sangat Emejing…
Tapi kenapa baru nyadar sekarang ya ?
Padahal kalo menurut pandangan saya pribadi, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Dari jaman saya berstatus baru jadi PNS, semua pertanyaan itu sudah berkeliaran di kepala.
‘Serius nih, kemampuan kawan-kawan seruangan hanya segini ?’
Sementara saya masih ingat, seminggu sebelum diminta ngantor pertama kali, saya sudah menyiapkan diri untuk tidak gugup bekerja sebagai abdi negara. Jika saja Blog dan Sosial Media sudah menjadi Trend saat itu, saya yakin status atau postingan keresahan saya sebelum menghadapi hari jadi tersebut akan bisa dibaca kembali hari ini.
Ya, saya kecele…
Ini terjadi gegara saya terbiasa bekerja disiplin dengan orang di sejumlah perusahaan konsultan lepas materi kuliah hingga dinyatakan diterima sebagai PNS tahun 2003 lalu.

Owh enggak. Tulisan ini bukan untuk membangga-banggakan bagaimana perjalanan saya menjadi seorang PNS yang saya sendiri meyakini, tidak masuk dalam prosentase 64 diatas. Meskipun jika boleh dikatakan, kemampuan saya sejauh ini pun masih sangat terbatas, jika disandingkan dengan sejumlah kawan yang kini kerap saya ajak berinteraksi di komunitas ataupun sosial media.
Saya akui kok.

pns-pande-baik

Tapi apa yang disampaikan oleh Menpan RB Asman Abnur itu memang benar adanya.

Katakanlah di posisi saya saat ini.
Memiliki sejumlah staf yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, seperempatnya bisa dikatakan ya memang secara kemampuan hanya juru ketik. Tidak mampu menganalisa, membuat konsep surat ataupun notulen rapat sekalipun, bahkan seperempatnya lagi tidak bisa mengetik.
Emejing kan ?

Sementara saat saya masuk ke ruangan besar di pojokan barat lantai dua gedung lama, sebagian diantara kami seingat saya malah punya rutinitas membaca koran pagi, membolakbalikkan semua halaman hingga siang, lalu ngeloyor entah kemana. Dan itu fakta.
Maka ya ndak heran kalo diantara kami yang dijejali berbagai macam pekerjaan, tugas dan lainnya oleh pimpinan, sempat merasakan bahwa ‘mereka yang berusaha rajin bekerja ya akan terus diberikan pekerjaan, sementara yang malas ya dibiarkan. Tidak ada upaya meningkatkan kompetensi atau kemampuan, baik dari atasan apalagi dari dirinya sendiri… Nyaris tidak ada Sanksi atau ancaman pemecatan karena secara aturan terkait disiplin pegawai ya memang tergolong masih longgar.’

Akan tetapi belajar dari pengalaman semenjak jadi PNS, membuat saya selalu berupaya untuk memanage mereka yang terpantau memiliki keterbatasan kemampuan sebagaimana cerita diatas.
Meski tak sempurna, minimal staf yang saya miliki tak sampai duduk diam dari pagi hingga sore, apalagi sampai berhari-hari.
Untuk mereka yang tak mampu mengoperasikan komputer, saya berikan tugas pengawasan lapangan secara rutin, dan melaporkan hal-hal yang sekiranya dianggap penting atau tidak dapat diselesaikan permasalahannya dilapangan melalui akun BBM atau Whatsapp, ada juga yang ditugaskan untuk pencatatan administrasi manual yang hingga kini masih digunakan dalam alur kerja birokrasi. Sementara bagi mereka yang kemampuannya hanya sebatas juru ketik, saya tinggal memberikan konsep dokumen, menugaskan mereka bekerja dan selalu melakukan koreksi saat selesai dikerjakan.
Agak repot sih sebenarnya.

‘ada PNS jago gosok batu akik tapi tak bisa ngetik…’ kata Pak Ahok, masih dalam video yang sama.
Ya memang ndak heran, sebagaimana yang seringkali saya ungkapkan dalam postingan blog terkait kinerja kami, para PNS yang posisinya diidam-idamkan banyak orang.
Justru itu baru satu tipe yang spesifik.
Jika saja kalian menyadari ada banyak ragam tipe PNS di luar itu, mungkin ndak hanya caci maki yang saya dapatkan secara pribadi hanya lantaran kalian mengeneralisir bahwa keberadaan kami sama semua.
Dari tipe yang ngulik rumus matematika ‘Togel’, baca koran seharian tadi, omong doang tapi ndak mau bantuin kerja, hingga calo perijinan. Dan ada juga tipe yang nyambi jualan, entah kain kebaya, cincin hingga ponsel kawe. Ah, itu mah biasa.
Hanya saja memang tak terlihat secara kasat mata saat kalian mengunjungi kami ke ruangan. Percaya deh.

‘Dia (Menpan) mengakui Kompetensi PNS masih rendah…’

Ya begitulah adanya.
Dan saya lihat, itu lebih banyak menjangkiti mereka yang kini sudah berusia 40-an tahun keatas, dimana sudah mulai merasakan bahwa otak tak mampu lagi mengimbangi kemajuan teknologi yang kini makin berkembang. Tapi kalo sebatas urusan nge-FaceBook atau nonton YouTube ya masih diupayakan lah.
Hei, ini fakta Kawan.

Tapi ya… kenapa nyadarnya baru sekarang ?

Mau Pilih Rajin Absen atau Rajin Kerja ?

1

Category : tentang KHayaLan

Gak semuanya kok yang namanya PNS itu malas ngantor dan malas kerja, apalagi kalo hanya berpatokan ke soal absensi pagi dan sore. Ada juga oknum oknum yang merasa total saat berada di lapangan, sementara merasa gak ada gunanya berada di balik meja. Disamping ya memang ada juga yang memilih rajin absensi pagi sore tapi sepanjang pengamatan ndak ada masuk ke ruangannya.
Ada.
dan memang gak semuanya.
Tapi Ada.

Aturan yang dibuat belakangan sepertinya kelak akan membuat oknum oknum yang sebagaimana kalimat terakhir diatas bakalan makin berkibar. Karena patokannya ya absensi tepat waktu pagi dan sore. Kalo telat ya siap-siap aja dipotong, bahkan katanya sih ada hitungan per menit telatnya.
Wah, selamat deh.
Macet Macet deh sampe siang.

Lha sekarang era nya jadi tinggal milih. Mau Rajin Absen atau Rajin Kerja ?
It’s all yours. Terserah kaliannya.
dan dibalik keputusan itu tentu ada banyak konsekuensi yang hadir didalamnya.
Para PNS yang berstatus orang tua dengan anak yang berstatus murid sd sekolahan, mau gak mau harus bangun lebih pagi agar bisa mengantarkan si anak lebih pagi dan tiba di kantor tepat waktu. Atau mencarikan gojek alias tukang antar bolak balik rumah dan sekolah setiap pagi. Itu konsekuensi. Terserah bagaimana caranya.

Para PNS yang tempat tinggalnya di ujung Utara atau Selatan wilayah kerja pun harus rela kembali ke ruangan absensi meskipun saat mendekati jam pulang masih berada di lokasi dekat situ untuk mengawasi kegiatan. Diberkatilah kalian hai orang lapangan. Nanti akan saya ajukan saja bagi yang tinggal di Petang akan ditugaskan di Kuta Selatan, pun sebaliknya. Agar saat sore ndak begitu terbebani harus balik kantor lagi hanya untuk absensi sidik jari.

Efektif ? Ya harus.
Karena Itulah aturan. Dan Aturan memang harus ditaati. Kalo ndak ya siap siap dipotong.
Harus siap loh ya…

Nah trus ya belum kejawab, Mau Rajin Absen atau Rajin Kerja ?

Aturan Potong Insentif Pegawai Badung ?

4

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Menjadi PNS itu nikmat. Sudah ngantor siang, pulangnya mendahului, gaji dan tambahan penghasilan ya tetep aja full diterima. Ndak heran, banyak yang berusaha nyogok ataupun mbayar agar bisa lolos tes CPNS.
Begitu pendapat beberapa kawan saya baik masa sekolah maupun kuliah. Pun ada juga masyarakat yang saya temui di sela pemeriksaan lapangan.
Maka ndak heran kalo kemudian banyak yang kritis menghakimi, lantas menganggap semuanya ya sama saja. Lalu aturan baru pun dibuat.

Khusus pegawai negeri di lingkungan Kabupaten Badung, kini sedang diujicobakan aturan pemotongan insentif apabila pegawai jarang ngantor. Lalu apa dong tolok ukur yang dipake untuk kemudian memotong besaran insentif kalo si oknum terpantau ndak ngantor ? Ya absensi pagi dan sore.

Tapi apa iya hanya butuh peninjauan sesederhana itu ?

He… saya lagi membayangkan. Satu dua minggu nanti bakalan dicoba, absen pagi tepat waktu, trus balik pulang, kelayapan, ngobyek di luar dan akhirnya absen sore pun berusaha tepat waktu. Apa ini artinya saya bisa mendapatkan besaran insentif yang utuh selama bulan-bulan terkait ?
Bisa jadi. Karena logikanya begitu.

Nah trus kalo kemudian kasus-kasus khusus dimana tugas pokok dan fungsi kami sebagai tenaga lapangan, kebetulan ditugaskan di wilayah Kuta Selatan, dengan jarak akses 1-2 jam satu arah, sementara tempat tinggal berada dekat lokasi survey, apakah diwajibkan balik kantor hanya untuk absensi lalu pulang ? Widih… bisa jadi. Aturannya begitu.

Lalu apa yang harus dilakukan ?
Ya pasrah aja deh. Toh aturan dibuat memang untuk memberangus pembelotan jam kerja. Termasuk dan sekalian juga untuk orang-orang yang selama ini berdedikasi di lapangan.
Bagaimana menurut kalian ?

Jadi PNS yang (tidak) Baik

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Waktu pada dashboard mobil sudah menunjukkan pukul 8.33. Lewat satu jam dari biasanya.
Meskipun pengaturannya sudah disadari lebih cepat sekitar 20-30 menitan, tetap saja ini terlalu siang untuk bisa berangkat kantor bagi seorang PNS.
Rutinitas sebulan terakhir.

Saat tiba, Ruangan sudah mulai ramai dengan kehadiran rekan kerja. Baik sejawat maupun pelaksana dan konsultan. Padahal biasanya ruangan ini masih sepi tanpa ada seorangpun yang mendahului.

Siang dilalui dengan penat. Kantuk yang menyerang, seakan mengingatkan perjuangan semalam. Mengeloni dua bayi. Mutiara dan kakaknya, Intan. Ara tidur di kasur atas bersama Ibu, Intan di kasur bawah bersama Bapak. Sesekali Intan tersadar dari tidurnya untuk meminta kehadiran Ibu. Kelihatan sekali ia kangen pada Ibunya kini.

Pikiran mencoba konsen pada permintaan di pekatnya malam. Mana botol susu adiknya, mana milik kakaknya. Agar tidak sampai tertukar. Belum lagi menenangkan Intan agar tak lama tersadar dari tidurnya.
Capek namun menyenangkan.

Kesibukan kerja sedikit melupakan semuanya. Banyaknya permintaan seakan menenggelamkan rasa penat yang ada. Hingga sore tiba dan badanpun meluncur pulang.

Namun jika tak mampu dan dikalahkan, terpaksa juga mendahului atau memilih tertidur di jok depan mobil untuk beberapa menit.

Rasanya memang sudah gak layak lagi menyandang nama ‘Baik’ kini…

Rutinitas Pagi seorang Abdi Negeri

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Alarm pertama terdengar berirama, cukup mengingatkanku pada waktu yang telah menunjukkan pukul 4.45 pagi. Tak Peduli… dan kulanjutkan tidurku kembali.

Alarm kedua menghentak. Menyadarkanku bahwa kini jarum telah bergerak menunjuk waktu pukul 5 pagi. Aku harus bangun, merapihkan tempat tidur dorongku, dan bersiap untuk mandi. Waktu akan bergerak dengan cepat jika aku membuangnya dengan berpindah tidur. Demi hal itu, aku pun akan menyeduh setengah gelas kopi dan menyeruputnya sedikit untuk menumbuhkan semangat. dan aku siap melakukannya.

Alarm ketiga berbunyi lagi. Waktu pun sudah beranjak lima belas menit lamanya. Aku pun mulai beraktifitas dan minimal lima belas menit kedua, sudah siap mengambil rutinitas pagi sebagaimana biasa.

Kusapa malaikatku yang cantik dan menciumnya, serta mengingatkannya untuk bangun pagi dan merapihkan tempat tidur sambil memintanya untuk menjaga sang adik sembari bersiap memulai hari,

Kukenakan selendang dan menghaturkan banten pagi di kemara dan ari ari kedua putriku. Sambil memohon keselamatan bagi mereka dan kami semua, kupanjatkan pula doa bagi kedua saudaraku dan keluarganya dimanapun mereka berada.

Sembari menanti bidadariku bersiap untuk mandi, tak lupa kusiapkan pula semua untuk prosesi yang sama bagi kedua cantik kecilku. Lalu menghampiri dan menggendong mereka berdua dengan senyum, tawa dan canda. Terkadang si kecil masih agak malas untuk mengiyakanku. Jadi butuh sedikit rayuan extra demi meluluhkan hatinya.

Waktu tak terasa menunjukkan pukul 6.15… saatnya memanaskan semua kendaraan, membersihkannya dan sembahyang pagi. Jika sudah, sarapan pagi pun menanti. Walau sedikit, tapi sangat mengenyangkan perut. Si merahpun siap untuk ditunggangi.

Jarum panjang mulai mendekati angka sembilan, akupun mulai mengemas pakaian, sepatu, jaket dan helm. Untuk mengantarkan si murid SD hadir di sekolahnya dengan senyum yang mengembang. dan saat tiba dirumah, semua rutinitaspun kembali dilakoni.

Berulang dan berulang.

Setiap hari tanpa henti.

Rutinitas pagi seorang abdi negeri.