Menghabiskan Waktu di Thailand

Category : tentang PLeSiran

Dibandingkan dengan kunjungan ke negeri gajah dua tahun lalu, perjalanan kali ini kalo boleh jujur ya, kurang terasa nikmatnya berhubung pikiran justru tersita dan berada di rumah. Maklum, saat keberangkatan kemarin, Intan putri kedua saya harus dibawa ke RS Puri Bunda untuk mendapat pengobatan lantaran tingginya suhu badan yang bersangkutan. Demikian pula kondisi dua lainnya yang terjangkit flu dan batuk. Gak nyaman untuk ditinggal.

Selain itu, berhubung ini perjalanan yang sama untuk kedua kalinya, sayapun melewatkan beberapa pertunjukan yang dihelat di Nongnooch Pattaya, Alcazar Show dan tentu saja opsional lainnya. Sementara yang lain, tetap pada program setelah diberi gambaran bahwa pertunjukan tersebut wajib tonton mengingat bagusnya penampilan para artis kawe didalamnya. Jadi untuk menghabiskan waktu menunggu, sayapun memilih untuk asyik sendiri sembari menikmati hal-hal yang belum saya ketahui di kunjungan terdahulu. Berikut beberapa diantaranya.

Thailand PanDe Baik 6

Kunjungan ke JJMall, saya memilih untuk berkeliling di seputaran luaran Mall sembari mencicipi kuliner yang disajikan dengan harga jual minimal 10 baht. Dari yang mirip martabak telur, sate ayam, cendol hingga cumi. Tentu dibarengi dengan jalan-jalan kaki untuk menurunkan asupan makanan yang dicerna tadi.

Masuk ke area Asiatique, saya memilih untuk menikmati bianglala Mekong yang ditebus dengan biaya 300 baht per orang sendirian, dan diberi kesempatan enam kali putaran melihat pemandangan pinggiran kota Thailand tepi sungai. Sempat selfie pula disini.

Menikmati kota Bangkok di malam hari tak ubahnya berjalan-jalan di kawasan jalan Gajah Mada lengkap dengan pedagang kaki lima yang disini menawarkan buah segar dan sajian kuliner tadi. Untuk dapat menikmati sisi jalan satunya saat balik ke hotel tempat kami menginap, diharuskan melewati jalur penyeberangan atas, sebagaimana halnya kota besar lainnya.

Saat perjalanan menuju Pattaya, mampir bentar ke Tiger Zoo, saya memilih untuk berselfie dengan harimau besar yang sudah dijinakkan dengan biaya 100 baht, dan kamera yang digunakan adalah milik sendiri. Asyik, karena kita gak lagi dibebankan biaya untuk menebus foto hasil jadinya. Begitu pula dengan ‘aktor’ lainnya seperti Buaya dan Gajah.
Disini saya pula melewatkan empat sesi show termasuk PigRace untuk berjalan-jalan mengeluarkan keringat mumpung halaman objek wisata yang cukup luas.

Thailand PanDe Baik 9

Demikian pula saat di Nongnooch, saya memilih mengitari bukit berbunga melalui jalan layang yang menghubungkan antar bukit tadi sembari menuliskan kisah perjalanan yang tempo hari sudah dipublish di halaman ini. Tak ada souvenir yang saya ambil hingga perjalanan hari kedua ini.

Saat semua kawan menikmati sajian artis cantik kawe satu di Alcazar Show, saya memilih berjalan-jalan lagi di sepanjang jalan yang mirip suasana Kuta malam hari. Lengkap dengan pub, cafe, mini market hingga massage spa dan plus plus. Saat mencoba salah satunya, saya dipijat oleh Therapist wanita kawe tiga, yang mengaku masih berusia 27 tahun dan single. He… tapi jangan membayangkan terlalu jauh, karena massage yang saya pilih ini berjendela kaca terang, terlihat jelas dari luar. Komunikasi kami dibantu oleh Google Translate yang mana disebabkan oleh karena yang bersangkutan tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik. Well…

Masuk ke areal Wat Arun yang masih dipugar oleh pemerintah setempat, saya lebih memilih fokus pada pasar oleh-oleh untuk mencarikan anak-anak baju kaos gajah, serta syal untuk para Ibu termasuk tiga diantaranya berada di tampuk pimpinan kantor. Sisanya saya iseng saja memilihkan lima batu akik yang juga berkualitas kawe dengan harga selembar uang merah untuk lima pieces cincin berukuran 21 dan 22mm. Pas di jari tengah kiri.

Thailand PanDe Baik 8

Selepas Wat Arun, masih sempat mampir ke Wah Phoo atau Reclining Budha dimana saya lebih memilih untuk membagikan koin receh di 108 kendi kecil, sebelah kanan Budha tidur untuk memanjatkan doa bagi keluarga dirumah dan perjalanan kami. Bersyukur berkah-NYA ini sangat terasa saat kami terhindar dari ledakan bom yang memecah keramaian Erawan Shrine, kuil Hindu berupa empat wajah Brahma yang kami hapuskan dari daftar kunjungan lantaran hari sudah menjelang malam, sesaat setelah meninggalkan MBK Mall, langsung menuju tempat makan malam dan tentu saja hotel.

Santai dulu sebelum Pulang

Category : tentang PLeSiran

Akhirnya, sampai juga di bandara.

Setelah menanti ketidakjelasan kontak dari Golden Bird, sayapun memesan taxi pada petugas front office dan mendapatkan informasi bahwa jika saya mau menunggu lima belas menit lagi, akan ada kendaraan hotel yang bisa mengantar hingga ke bandara, free, sebagai service atau pelayanan hotel bagi tamu mereka. Wah, siapa yang bisa nolak kalo begini ?

Maka, gak sampai lima belas menit perjalanan, Hyundai milik hotel yang dikendarai oleh mas Sri Soeranto itupun mengantarkan saya tiba di bandara dengan selamat.

Setelah membungkus dua tas dan kardus berisikan oleh oleh di penyediaan jasa dekat pintu masuk dan melakukan check in lebih awal, sayapun memilih untuk keluar lagi mencari makan siang. Perut sudah mulai protes sejak tadi.

Memesan sepiring nasi goreng telor dan tahu bakso di gerai Lana Coffee rasanya memang wajar jika kita gak terlalu berharap akan rasa dan kualitas masakan yang ada di emperan ruang tunggu bandara ini. Jauh dari enak atau memuaskan. Tapi ya, dalam situasi seperti ini saya selalu ingat petuah dosen senior sewaktu kuliah di Arsitektur dulu bahwa ‘makanlah selama tidak masam atau basi’ apapun itu menu dan rasanya. Terpenting perut kenyang dan pikiran pun tenang. (Gusti Bagus Oka – landung)

Usai santap siang, masih menyempatkan diri sebentar untuk membaca tabloid Pulsa terbaru sambil menikmati segelas kopi pahit hingga waktu menunjukkan pukul 13.45 dan sayapun memilih masuk ke ruang tunggu keberangkatan, ketimbang terlambat atau malah ketinggalan pesawat seperti kisah para anggota dewan Jembrana pada posting sebelumnya itu.

Jadwal keberangkatan masih lama. Pukul 15.40 WIB, jadi masih ada sisa satu setengah jam lagi. Maka ketika menginjakkan kaki di ruang tunggu yang tampak sepi calon penumpang ini, sayapun memilih pijat refleksi sebentar dengan mengambil paket durasi satu jam sambil menunggu waktu tiba.

Well, gak ada salahnya memanjakan diri sejenak, menikmati waktu bersantai di Kota Solo ini mumpung masih bisa, karena saat saya kembali lagi pulang nanti, tentu sejumlah aktifitas rutin dan kebutuhan anak sudah siap menanti. Lakoni saja…

Menanti Waktu (Pulang)

Category : tentang PLeSiran

Jadwal yang tercantum dalam lembaran tiket elektronik pergi pulang yang saya pesan lewat telepon selasa lalu adalah sekitar pukul 16.00 WIB. Artinya saya masih punya waktu tiga jam atau dua jam untuk leyeh leyeh menanti di lobi hotel ini, atau jalan jalan lagi mengelilingi Kota Solo atau malah menunggu waktu di seputaran bandara Adisumarmo.

Jauhnya jadwal, sebenarnya saya pilih lantaran berpikir bahwa waktu keliling kota buat nyari oleh oleh ketiga putri saya, baru bisa terlaksana pasca check out dari hotel, atau jumat pagi dengan ancer-ancer waktu memuaskan. Apa daya yang terjadi malah sebaliknya. Waktu untuk menikmati Kota Solo malahan bisa saya lakukan kemarin malam, dan saya anggap tuntas toh bingung juga mau beli oleh oleh apa lagi. Tinggal yang untuk Staf kantor saja yang belum kesampean. Lagian mau dibawakan apa ya mereka ?

Suasana lobi hotel ini cukup panas, tapi gak terlalu mengganggu lantaran ketinggian rangka atap dari lantai cukup tinggi, jadi hawa masih bisa masuk meski gak bisa dibilang leluasa. Tapi cukuplah bagi saya untuk duduk sebentar, menunggu kedatangan taxi yang belum saya pesan. He…

Dalam pertemuan PPIP kali ini, saya menjalani proses bersama teman sekamar pak Agus Yudi dari Kabupaten Bangli yang punya hobi mirip mirip, yaitu gadget. Maka bisa ditebak, kalo topik obrolan dan aktifitas luang di dalam kamar berkisaran soal apa saja. Dari review, kekurangan dan kelebihan hingga Tips menyesatkan yang sepertinya bakalan mampu membuat Beliau itu lupa akan pekerjaannya beberapa waktu. Jadi Good Luck kawan, semoga apa yang dicari di dunia maya bisa didapatkan. Saya cuma nitip kalo lain kali bersua kembali, ajarkan saya soal investasi dananya.

Waktu sudah berlalu setengah jam lamanya. Dan saya pun masih duduk di pojokan sambil berusaha menghubungi nomor telepon Golden Bird yang diberikan petugas mereka di bandara Adisumarmo kemarin. Rupanya nomor itu belum terdaftar katanya. Sementara nomor Flexy yang terdaftar sebagai Counter mereka malah dikatakan tidak aktif lantaran sudah harus diganti ke nomor GSM.
Maka jadilah saya menanti kembali sambil leyeh leyeh menikmati secangkir kopi sendirian.

Menikmati Kota Solo di Malam Hari

Category : tentang PLeSiran

Oke, meski faktanya gak semua bisa kami lalui, tapi tetep aja yang namanya Kota Solo bisa dinikmati lewat jendela Angkasa Taxi nomor lambung 021, dengan pengemudinya seorang pemuda berusia 21 tahun, pengagum Naruto bernama Bayu. Ia lah tour guide kami malam ini, 7 Mei 2015, pasca desk RKTL di sesi terakhir tadi.

Menikmati Kota Solo tentu belum afdol jika belum mampir untuk membeli oleh oleh batik buat keluarga, atau mencicipi Nasi Liwet khas Kota Solo.

Untuk batik, saya lupa tadi diantar ke mana. Yang pasti, berhubung pasar Klewer sudah dinyatakan tutup maka si Naruto eh si Bayu itu mengantarkan kami ke gerai Oleh Oleh yang lokasinya gak jauh dari Hotel Lorin tempat kami menginap.
Saya pun membeli beberapa baju kaos anak bergambar Kota Solo, dan tak lupa buat diri sendiri dengan ukuran besar. He…

Sedang Nasi Liwet, kami diantar ke Bu Wongso 99 yang saat itu masih dalam situasi sepi. Maka santapan khas Kota Solo itupun ditandas tuntaskan dalam waktu singkat. Berhubung secara porsi juga pas banget, gak banyak macam porsi makan los emperan.

Suguhan Nasi Liwet itu mirip nasi campur kuwah bakso, namun ada rasa santannya disitu. Untuk lauknya, saya minta daging ayam disuwir plus setengah butir telor dan tahu bacem. Bertiga, menghabiskan budget 60ribu saja sudah termasuk minum. Lumayan kok…

Muter muter Kota Solo sebenarnya sih gak jauh beda dengan Kota Denpasar, rumah tinggal saya. Hanya secara lingkungannya yang ada sepertinya sih ya, kurang terawat utamanya saat kami melewati Keraton Surakarta. Tembok luar yang sebetulnya bisa dinikmati para wisatawan kebetulan mentas, tampak kotor oleh lumut dan lembab. Kalo di Bali sih, mungkin sudah mendapat bantuan dana dari pemda setempat dan dijadikan semacam kawasan Heritage begitu. Tapi ya sudahlah, masing masing pemimpin daerahnya pastilah sudah punya masterplan sendiri untuk itu.

Yang agak mengagetkan adalah, kami agak kesulitan mencari minimarket di seputaran Kota Solo. Infonya sih Walikota terdahulu agak menyulitkan soal perijinan mereka dan mendahulukan kebutuhan masyarakat akan pasar tradisionalnya. Dan baru nemu di daerah Purwosari, selatan jauh dari hotel kami menginap.

Yang jauh lebih mengagetkan lagi ya soal alun alun keraton yang dipenuhi dengan berbagai hiburan anak dan jajanan rakyat. Beda banget dengan alun alun Kota Denpasar dimana pedagangnya ngomplek menjauh di pojokan persimpangan jalan, lantaran ngeper melihat batang hidung para jajaran Satpol PP yang siap mengangkut barang dagangan mereka jika sampai menyentuh pinggiran maupun area lapangan. Wih… Surga banget dah pokoknya kalo mau ngajak anak-anak kesini. Gak lupa ngeliatin langsung Odong-Odong yang diperuntukkan bagi semua kalangan umur, berupa sepeda kayuh beroda empat, dengan hiasan lampu khas Odong Odong namun dibentuk unik menjadi sebuah Helikopter, Angsa hingga Suzuki Splash. He…

Gak terasa argo taksi yang dikemudikan pemuda jomblo Bayu Naruto ini sudah menunjukkan angka seratus ribuan lebih saat roda kendaraan masuk ke pelataran parkir samping Hotel Lorin. Kamipun bubaran menuju kamar masing masing untuk nanti berupaya menikmati lagi malam sepinya Kota Solo.

Liburan Kami dalam gambar #2

Category : tentang KHayaLan

image

image

image

image

Liburan yang mengasyikkan… semoga nanti bisa diwujudkan lagi di lain lokasi…

Liburan Kami dalam Gambar

2

Category : tentang KHayaLan

Berikut beberapa gambar yang bisa dibagi saat menjalani liburan bersama keluarga di Bedugul… have Fun…

image

image

image

image

gambar yang lain nanti menyusul yah…

Melintasi Perjalanan sepanjang Surabaya – Batu – Malang

5

Category : tentang PLeSiran

Miris… barangkali itulah satu-satunya kata yang ada dalam pikiran sepanjang perjalanan melintasi Surabaya – Batu – Malang saat liburan beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak ? mata seakan disuguhkan tayangan yang menyayat dan secara tidak langsung membuat hati ini merasa bersyukur dengan keadaan dan kehidupan pribadi saat ini.

Ruas jalan sepanjang tanggul penahan lumpur Kota Sidoarjo adalah pemandangan pertama yang kami lewati. Rata-rata menyajikan rasa yang sama… Mirip kota mati. Bangunan-bangunan sekitarnya telah lama ditinggal pergi penghuninya hingga terlihat sangat kumuh dan mengenaskan. Potret yang disebabkan oleh satu dua kepentingan pribadi malahan mengorbankan kepentingan banyak pihak…

Uniknya luapan lumpur ‘Lapindo’ kini berkembang menjadi sebuah obyek wisata bagi para pelancong domestik yang sekedar ingin tau dan melihat seperti apa kondisi banjir lumpur yang melahap beberapa lingkup desa setempat. Terlihat beberapa tempat disulap menjadi lahan  parkir dadakan, lengkap dengan rompok pedagang kecil yang menawarkan minuman pelepas dahaga dan tak lupa tangga darurat untuk mengakses sisi atas tanggul serta beberapa oknum yang berjaga di pintu masuk untuk menarik sejumlah ‘karcis masuk’. Momen ini jelas dimanfaatkan dengan baik mengingat aset luapan lumpur ini sangat fenomenal dan menyerap perhatian pemerintah dan masyarakat luas selama berbulan-bulan.

Menuju kawasan Kota Batu makin terlihat pemandangan yang tak biasa disepanjang jalan yang kami lalui. Banyaknya lahan kosong atau bangunan yang tak terurus menyiratkan ketidakpedulian lingkungan setempat entah untuk membersihkan, mempercantik ataupun memperindah lahan tersebut ketika sudah tidak digunakan lagi. Tak hanya itu, entah lantaran kondisi ekonomi yang rendah atau barangkali memang sudah adat dan budaya setempat, rata-rata rumah yang saya lihat memiliki ketinggian lantai yang nyaris sama dengan halamannya. Entah bagaimana jadinya kalo seumpama hujan mendera area tersebut dan mengakibatkan banjir…

Macetnya lalu lintas disepanjang perjalanan tak luput dari perhatian pula. Beragamnya jenis kendaraan yang melintas, dari mobil keluaran mutakhir hingga yang berkelas jadul dan aneh pun ada. Angkutan Umum rata-rata masih menggunakan Daihatsu dengan dobel kabin plus sedikit ruang di bak belakang mengingatkan saya dengan Ford keluaran terbaru. Hanya saja yang ini jauh lebih mungil bentuknya. Truk gandeng disini adalah hal yang sangat biasa. Gandengannya itu tak hanya berupa tangki premium, tapi juga berbentuk bak bahkan ada juga yang berupa sedikit aneh, mirip punggung binatang. Bahkan ada juga yang nekat menyulap beberapa peralatan yang semestinya digunakan di sawah, diubah menjadi kendaraan tumpangan. Tapi jangan berharap banyak dengan kecepatannya. Hehehe…

Memasuki kawasan jembatan Suramadu pikiran sempat melayang pada perubahan perilaku mata pencaharian penduduk setempat yang dahulunya barangkali lebih memilih transportasi kapal laut untuk menyeberangi lautan, kini beralih cukup dengan kendaraan bermotor. Lantas kemana perginya para pemilik kapal laut dan mereka yang beraktifitas di pelabuhan ? Kondisi ini tak jauh beda dengan reklamasi yang dilakukan Pemerintah Propinsi Bali terhadap akses menuju Pura Sakenan, yang melumpuhkan aktivitas para penduduk yang dahulunya mengandalkan hidup dari transportasi air. Kini perahu kapal yang biasanya digunakan menyeberang dari Tanjung Benoa, hanya digunakan untuk bernostalgia saja bagi yang rindu kenangan lama.

Kereta Api adalah salah satu alternatif transportasi yang kerap ditemui sepanjang perjalanan. Bentangan rel yang sedianya dilalui tampak melintang diberbagai belahan kawasan entah ditengah pemukiman penduduk atau malah dibeberapa ruas jalan raya. Kedatangannya selalui ditandai oleh lonceng yang dibunyikan oleh pos pengawasan jalur Kereta Api setempat. Seperti yang tampak disalah satu sudut Pasar Grosir Surabaya (PGS), bentangan rel melintang menembus ruas jalan hingga melewati areal bawah bangunan. Sekedar informasi bahwa jenis kereta yang diijinkan melintas disini adalah tipe kereta barang.

Sayang, adanya bentangan rel dikawasan ini tidak terlalu dipedulikan oleh lingkungan sekitarnya. Saya bahkan sempat terheran-heran dengan santainya para pedagang berinteraksi disepanjang jalur Kereta Api dengan jarak semeteran atau diparkirnya dua becak diatas rel dan ditinggalkan pemiliknya. Makin tidak percaya ketika hal ini saya tanyakan kepada salah satu petugas yang berada di pos pengawasan, bahwa rel kereta ini masih aktif digunakan dan semua pemandangan yang terlihat ini adalah hal yang sudah biasa. Mungkin itu adalah salah satu faktor tingginya tingkat kecelakaan yang melibatkan kereta api di negeri ini.

Liburan bersama Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung (Hari ketiga)

8

Category : tentang PLeSiran

Ocehan dan tawa kecil MiRah membangunkan saya dari mimpi di pagi itu. Suara si kecil yang beberapa hari sebelumnya sempat direkam ponsel, saya atur sebagai bunyi alarm. Rasanya sudah gak sabar untuk melewati hari terakhir perjalanan kegiatan Liburan yang dilakukan oleh seluruh staf di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung ini.

Jembatan Suramadu adalah prioritas pertama tujuan pagi ini. Jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Pulau Madura itu rupanya sangat diminati oleh sebagian besar anggota Rombongan yang memang bekerja dan berurusan dengan konstruksi satu ini. Saya sendiri sebelumnya sudah sempat ternganga dengan panjangnya jembatan Kusamba Klungkung dan tingginya konstruksi jembatan Tukad Bangkung Plaga Kecamatan Petang jadi makin terkagum-kagum kali ini. Suramadu mengingatkan saya pada sebuah jembatan di San Fransisco yang kerap saya lewati pada permainan pc bergenre balap mobil.

Sayang kami tidak sempat mampir dan turun di Pulau Madura, padahal disepanjang jalan setelah jembatan berakhir tampak deretan pedagang dibawah tenda menjual souvenir baju kaos bergambar jembatan jembatan Suramadu dan tentu saja motif garis merah putih itu. Sangat kental khas Madura.

Perjalanan dilanjutkan ke Pasar Grosir Surabaya yang dahulunya dikenal dengan sebutan Pasar Turi. Sebuah surga bagi para ibu yang gemar berbelanja dan sebaliknya sebuah Neraka bagi para bapak yang diharuskan menunggu para ibu berbelanja untuk sekitar 4 jam lamanya dibawah terik matahari. Namun tampaknya PGS ini bukanlah satu-satunya surga yang menjadi tujuan para ibu, melainkan ada Pasar Atom dan Tunjungan Plaza yang dapat diakses dengan menggunakan taxi setempat.

Soal hobi berbelanja ini tampaknya tidak cukup waktu jika diberikan hanya dengan durasi 4 jam saja. Saya yakin apabila diperpanjang hingga 3 hari kedepan pun rasanya tidak akan cukup. Entah darimana datangnya sejumlah uang yang dibawa ibu-ibu itu. Hihihi…

Untuk membunuh waktu, saya mulai berkeliling diseputaran pasar untuk mencari Soto Ayam Surabaya plus makanan khas daerah ini. Tampak seorang ibu yang membawa sejumlah tusuk sate dengan beragam isi dari kepala, ceker, usus, hati hingga kulit ayam ini menawarkan saya untuk mencobanya dengan kisaran harga 500, 1.000 hingga 2.000an saja. Rasanya enak dan gurih, tapi jangan tanya kalo yang berbentuk kepala dan ceker, saya emoh duluan melihatnya.

Lelah menanti para ibu yang kesetanan dalam berbelanja rupanya hanyalah sebuah awal dari masa menanti jadwal keberangkatan selama 3,5 jam di Bandara Juanda. Mahalnya harga makanan dan minuman disepanjang area tunggu penumpang, membuat saya dan seorang rekan Teddy Widnyana memutuskan untuk berbalik keluar area dan memburu seorang pedagang yang menawarkan nasi bungkus seharga 6.000 saja. Entah karena lapar yang tak tertahankan, nasi hangat yang ditemani oleh sepotong paha ayam dan tahu ini ludes kami lahap disela obrolan ngalor ngidul itu.

Badai angin dan hujan sempat mewarnai masa-masa menanti malam itu. Bahkan untuk melihat pesawat yang parkir di depan area tunggupun nampaknya samar dapat kami lihat. Bersyukurlah mereka yang telah lebih dulu meninggalkan Kota Surabaya pada pukul 3 (tiga) sore tadi.

Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, Pesawat Mandala Airlines meninggalkan Bandara Juanda Surabaya untuk menuju Kota Kelahiran kami, Denpasar Bali. Ada rasa syukur yang saya panjatkan ketika pesawat berhasil mendarat dengan sempurna di landasan pacu Bandara Ngurah Rai. Setidaknya walopun waktu telah menunjukkan pukul 10 malam lebih, minimal kami telah sampai dengan selamat.

Harapan saya untuk dapat bersua kembali dengan Istri dan si malaikat kecil MiRah GayatriDewi akhirnya terkabulkan jua…

Liburan bersama Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung (Hari kedua)

5

Category : tentang PLeSiran

Tersadar tepat pukul 5 (lima) pagi waktu setempat saya langsung bersiap dan menuju warung seberang jalan untuk menikmati makan pagi dan segelas kopi. Dinginnya Kota Batu membuat rasa lapar itu muncul jauh lebih awal dari jadwal yang ditetapkan oleh pihak Hotel dan Indo Sarana Travel. Setidaknya saya tidak perlu berebut layaknya anak SD saat jadwal makan pagi dilakukan.

Diwarung kecil ini pula saya berkenalan dengan Ibu Sulastri yang merupakan salah seorang petani binaan Disperindag setempat, tergabung dalam sebuah paguyuban UKM GRAS (Guyub Rukun Agawe Santoso). Mereka dibina agar mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk yang mampu dijual sebagai makanan dan minuman khas Kota Batu dan biasanya menjadi oleh-oleh wajib bagi para wisatawan. Cerita lengkapnya nanti saja ya.

Agenda hari kedua ini diawali dengan mengitari Kota Malang (Malang City Sight Seeing Tour) dilanjutkan menuju daerah Trowulan yang merupakan areal Wisata Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk bersembahyang di areal Candi Tikus yang berada tak jauh dari Museum. Ditempat ini kami mendapatkan banyak pengetahuan baru perihal sejarah Kerajaan Majapahit dan kemungkinan/perkiraan kehidupan pada masa tersebut.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Surabaya dan melintasi daerah Porong Sidoarjo dimana semburan Lumpur Lapindo itu terjadi. Miris, itu yang saya rasakan secara pribadi. Melihat kondisi bangunan yang ada disepanjang jalan utama tersebut, banyak yang sudah ditinggal pergi pemiliknya hingga kesan yang didapat layaknya kota mati. Uniknya pada beberapa titik terdapat papan yang menunjukkan areal parkir, lengkap dengan warung kecil yang menyediakan minuman pelepas dahaga plus tangga yang dapat menghantarkan ‘Pengunjung’ ke areal ‘obyek wisata dadakan’.

Sayangnya lantaran waktu telah berjalan menjelang sore, rencana kunjungan melihat jembatan Suramadu yang fenomenal itu diundur dan rombongan langsung diarahkan untuk makan malam dan beristirahat di Hotel Singgasana. Molornya waktu dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya lebih banyak disebabkan oleh amburadulnya kegiatan makan siang yang kabarnya sempat memicu emosi salah seorang atasan, lantaran penumpang bus ketiga yang tiba terakhir tidak mendapatkan jatah makan. Yah, ini pengalaman baru yang seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi pihak Tours & Travel, bahwa untuk menangani urusan konsumsi satu rombongan dalam jumlah besar dan beragam latar belakang ya tidak dapat dilakukan dengan cara prasmanan.

Hingar Bingarnya kota metropolitan Surabaya tampaknya dimanfaatkan dengan sangat optimal oleh sebagian besar anggota rombongan untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan seperti Karaoke, Pusat Perbelanjaan hingga sang fenomenal Dolly. Saya pribadi lebih suka berkeliling areal hotel yang nampaknya cukup mampu membangunkan hasrat ‘ke-arsitek-an’ yang telah lama saya tinggalkan. Jadi ingat masa kuliah dulu…

Liburan bersama Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung (Hari pertama)

27

Category : tentang PLeSiran

Melintasi sepinya ruas jalan Kota Denpasar menuju kantor pada tanggal 22 Januari dini hari lalu merupakan awal perjalanan kegiatan Liburan yang dilakukan oleh seluruh staf di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung. Tepat pukul 6 pagi, dua buah bus pariwisata yang disewa oleh Indo Sarana Tours & Travel mengantarkan kami menuju Bandara Ngurah Rai disela hujan yang terlihat semakin deras saja.

Rombongan yang berjumlah sekitar 180-an orang itu dipecah dalam 2 (dua) jadwal penerbangan yaitu 110 orang menggunakan maskapai Mandala diberangkatkan pada pukul 7 pagi dan berselang dua jam kemudian 70 orang sisanya berangkat menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Saya sendiri termasuk dalam rombongan pertama dan mendapatkan posisi disebelah pintu Darurat kiri tepatnya pada kursi deret 14A.

Pada awalnya sempat terbersit keraguan bahwa pesawat akan berangkat pada waktu yang telah ditentukan mengingat tidak bersahabatnya cuaca pagi itu. Gemuruhnya langit bandara ditambah kilatan petir lumayan membuat was-was pikiran ini. Bersyukur Tuhan masih berkenan memberikan keselamatan pada kami semua hingga tiba di Bandara Juanda Surabaya.

Perjalanan ini diawali oleh kunjungan rombongan ke daerah Agro Wisata Kusuma dimana lahan pertanian seluas 60 hektar dipenuhi oleh hijaunya pohon durian, buah naga dan masih banyak lainnya. Di tempat ini pula kami langsung dijamu dengan makan siang, dimana dinginnya cuaca setempat sangat mendukung riuhnya rombongan saling berebut mengambil jatah yang disediakan.

Tepat pukul 5 (lima) sore, rombongan dialihkan menuju arena permainan BNS (Batuan Nite Spectaculer), sedikit melenceng dari jadwal kunjungan sebelumnya. Ditempat ini tersedia beragam permainan uji nyali yang tak jauh berbeda dengan Jatim Park terdahulu. Saya sendiri kurang tertarik lantaran belum jua berhasil mengaktifkan fitur Combo pada nomor ponsel Flexi sementara ponsel GSM IM3 yang saya bawa malah lowbatt dan gak bisa digunakan. Kangen pada suara Istri dan si malaikat kecil MiRah GayatriDewi.

Kendati demikian tidak ada salahnya mencoba Cinema 4D atas permintaan beberapa teman yang penasaran dan telah menanti hingga jumlah minimal penonton terpenuhi. Dengan harga tiket 12.000 rupiah dan durasi tontonan yang tak lebih dari 10 menit, tayangan yang sempat memicu adrenalin kami lantaran tumben menjajal permainan tersebut membuat saya ingin mencobanya sekali lagi, kali ini dengan jumlah rekan yang jauh lebih banyak. Adegan didalam ruangan tersebut bahkan sempat saya abadikan dalam bentuk video. Hehehe…

Untuk tempat beristirahat lagi-lagi rombongan dipecah 2 (dua), sebagian ditempatkan di Hotel Asida seputaran Kota Batu, sebagian lagi di hotel Purnama yang berada tepat disebelahnya. Saya pribadi menempati kamar 209 hotel Purnama yang berada dilantai 2 (dua) sebelah tangga bersama seorang rekan, Bapak Gung Adi Parwata. Sayangnya saya tidak dapat beristirahat dengan nyaman lantaran suasana hotel yang agak aneh, membuat saya sempat terjaga dari tidur berkali-kali. Rasa-rasanya ada orang yang berjalan melewati/membuka pintu kamar menuju kamar mandi. Entahlah…