Merapal eBook, Membunuh Waktu

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Tempo lalu saya sempat menulis beberapa posting terkait eBook, terkait apa bagaimananya, pula cara mencarinya. Entah itu lewat jalur resmi ataukah ilegal atau Torrents. Kini, jauh setelahnya ingin rasanya membagi lagi koleksi eBook yang kini sedang dan senang saya baca, di perangkat tabletpc sebagai pembunuh waktu.

eBook pertama, ada miliknya detik. Tepatnya, Mingguan Detik. Sesuai namanya, edisi ini biasanya turun setiap sabtu siang/sore, yang dirilis hanya dalam format digital saja, mengingat edisi cetak kini tampaknya kurang diminati. Kabarnya sih, perilisan Mingguan Detik ini, terinspirasi dari koran cetak versinya Harry Potter, yang meski hadir dalam versi print Out, namun gambar yang hadir dapat bergerak layaknya video, sehingga jika boleh disebutkan, Mingguan Detik ini sudah layaknya terbitan Multimedia, dimana pembacanya dapat menikmati sajian berita jauh lebih baik dan lebih berwarna dari edisi cetak/digital biasa. Terkait edisi mingguan ini, selalu saya ikuti dengan mengunduhnya langsung lewat tablet, atau lewat pc yang kemudian dibaca lewat tablet. Kontennya cukup beragam, mirip-mirip Intisari lah…

Masih dari Detik, eBook berikutnya yang wajib ada setiap minggunya adalah Male Magazine. Sesuai namanya, majalah digital ini lebih difokuskan pada kebutuhan Pria, dimana isinya mirip majalah Popular, namun dibalut lebih modern dan trendy. Lengkap dengan fashion, hobby dan dunia pria metropolitan. Saya pribadi sih biasanya mengikuti liputan khususnya yang memang menurun kan topik yang tidak biasa, panas, syur dan tentu menghebohkan. Dilengkapi dengan edisi wawancara khusus dengan beberapa wanita idaman pria dibalut pose seksi yang saya yakin, walaupun belum sevulgar PentHouse ataupun seEksotik PlayBoy, setidaknya bisa bikin mata para anggota FPI mendelik serta mampu menuntut si Tim Redaksi untuk menutup edisi mendatang. Hehehe…

eBook PanDe Baik

eBook ketiga, adalah komik. Ya, komik… Kalian tidak salah baca tentu saja. Untuk source-nya ada beragam, salah satu yang saya favoritkan adalah Zona Djadoel yang siap menghadiahkan pengunjungnya dengan barisan komik tempo doeloe sesuai namanya, dari Tintin, Trigan, Storm, Arad Maya, Agen Polisi 212, Steven Sterk, Deni Manusia Ikan, Pak Janggut, Boy Action dan masih banyak lagi. Tentu ini bakalan pas banget bagi kalian yang seumuran saya dimana dibesarkan pada jaman komik-komik tersebut membumi.

Masih dari masa Djadoel, eBook berikutnya adalah Novel. Ya, Novel. Saya dapatkan beberapa diantaranya dari halaman pupuyaya dimana tersedia berbagai novel jaman doeloe, seperti miliknya NH Dini, Mira W, Gola Gong hingga Hilman yang beken itu. Saya pribadi sangat tertarik dengan serial Balada si Roy yang kerap hadir tiap minggu di halaman tengah majalah Hai saat remaja, hingga hadirnya Cafe Blue milik Hilman, Bapaknya Lupus. :p

Terakhir adalah eBook… Android tentu saja.

Untuk yang satu ini, source-nya cukup banyak, namun rata-rata berasal dari Torrents, gudangnya majalah luar negeri. Yup, eBook yang terakhir ini bergenre majalah, bukan buku. Jadi isinya tentu saja soal liputan terkini, review, tips hingga pendalaman materi yang jujur saja banyak yang tidak saya dapatkan dari majalah lokal. So… Sangat menarik tentu. Dan itu semua menjadi modal utama bagi saya untuk belajar dan tau lebih jauh soal Android dan teknologi yang dibenamkan padanya, terutama dalam berbagi pengetahuan di Twitter maupun blog. Tidak ada salahnya bukan ?

Semua eBook tadi kerap dirapal sebagai barisan mantra yang seandainya bisa diingat ya syukur, terlupakan pun tak masalah, toh semua masih tersimpan rapi didalam memory Galaxy Tab, teman setia pembunuh waktu. Ada yang mau ikutan ?

Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang Penthouse

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Playboy lagi, Playboy lagi. Tapi yakin deh, ini tulisan terakhir saya yang menceritakan tentang aksi heboh www.pandebaik.com selama bergelut dengan Torrentz, Playboy Magazine hingga PentHouse.

PentHouse ?

Kata terakhir yang saya sebutkan diatas, bagi yang masih belum familiar, kurang lebih bermakna sama dengan halnya Playboy Magazine. Sebuah majalah yang kabarnya dianggap sebagai kategori Pornografi dan katanya mampu merusak pikiran generasi muda bangsa Indonesia hingga sampai sel terkecil sekalipun sehingga dirasa perlu untuk dibabat habis dengan ancaman Undang-Undang.  Sayapun baru teringat dengan PentHouse ketika edisi Playboy yang terdownload sudah mencapai space 3 GB.

Dibandingkan dengan Playboy Magazine baik itu yang merupakan edisi rilis resmi USA, Argentina, Cheko, Greece, Philipina, Mexico hingga Slovenia ataupun edisi bonus tahunannya, ternyata PentHouse jauh lebih vulgar baik dari tema, isi tulisan, data pendukung hingga pose wanita telanjangnya. Hingga jujur saja saya malah jadi enegh saat berusaha menikmatinya halaman demi halaman. Bikin panas dingin…

Aura vulgarnya bahkan sudah terasa ketika pembaca membuka halaman demi halaman sedari awal. Makin menjadi ketika halaman makin dalam. Meski Tema yang diangkat beragam, namun gambar ataupun foto pendukungnya jauh lebih menantang bahkan sudah mengarah pada (maaf) hubungan seks. Berbeda jauh dengan apa yang disajikan dengan Playboy.

Kartun atau gambar sket khas majalah luarpun tergolong banyak tertampil di Playboy Magazine, lengkap dengan satu kalimat di bagian bawah gambar, yang lumayan membuat pembaca tersenyum simpul. Tidak demikian halnya dengan PentHouse. Nyaris 75 persen gambar ataupun foto yang terpampang, mampu membuat para pria normal yang membacanya (termasuk saya tentu saja) menelan ludah dan cepat-cepat membuka halaman berikutnya. Bukan bagaimana, tapi khawatir jika pikiran malah mulai keterusan mengarah ke aksi Pornografi.

Tidak hanya pada liputan utama, tapi juga tulisan pendukung dan iklan tentu saja. Lay outnya sendiri mengingatkan saya pada sebuah majalah gadget local yang kerap menurunkan liputan hal-hal konyol di seputaran kita, hanya sekedar mengingatkan betapa bodohnya manusia percaya pada hal-hal yang bisa dikatakan fenomenal. Begitu pula dengan PentHouse.

Menjual gambar atau pose wanita sexy telanjang dan terekam dalam satu eksemplar majalah barangkali tergolong ‘menarik’ untuk ukuran pria normal di Indonesia yang dikungkung oleh Undang-Undang dan Peraturan serta norma Agama. Sayangnya sepengetahuan saya, larangan itu hanya diperuntukkan bagi Playboy Indonesia saja. Barangkali jikapun kelak PentHouse berkeinginan sama dengan Playboy, ingin melebarkan sayap ke Indonesia, saya yakin bakalan bernasib sama. Dikepruk sebelum diterbitkan. Apalagi seumpama masih mempertahankan gaya liputan mereka seperti yang saya gambarkan diatas.

Padahal kalo Pemerintah dan juga para pembela Norma itu mau jeli, banyak kok tabloid esek-esek yang dijual walau secara sembunyi-sembunyi tak kalah menyajikan pose syur, cerita mesum atau bahkan iklan yang mampu menaikkan syahwat pembacanya. Tapi terlepas dari itu, Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang PentHouse. Gag percaya ? Donlot aja via Torrentz. Hehehe…

Playboy Magazine, antara Porno atau Nilai Seni ?

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Apa yang terlintas di benak Anda ketika saya menyebutkan dua kata kunci yang kabarnya mampu menurunkan sekompi pasukan Front Pembela Islam beberapa waktu lalu ?

“ Playboy Magazine “

Sebutan yang kurang lebih bermakna sama dengan Majalah Playboy (versi Indonesia) ini, benar-benar diidentikkan dengan majalah porno, mesum hingga tak sejalan dengan norma agama bangsa kita Indonesia. Walaupun ada sebagian kecil pendapat yang menyatakan bahwa ‘itu adalah sebuah karya seni yang diakui Dunia’. Wah, mana yang benar nih ?

Bagi saya sih ya bergantung pada pola pikir si pembaca saja kok. Kalo sedari awal memang sudah meyakini bahwa Playboy Magazine atau Majalah Playboy ini isinya full porno, buka-bukaan vulgar, atau gambar wanita telanjang ya saya yakin otakpun bakalan langsung terlintas adegan mesum kendati halaman yang pertama dibuka menyajikan iklan sebuah kendaraan keluaran terkini atau bahkan gambar sebuah botol minuman, sambil tak sabar terus membuka halaman satu persatu secara cepat hingga menemukan apa yang terpikirkan. ‘nah, benar kan apa yang saya katakan ?’ ujar si otak. Hehehe…

Menyimak perkembangannya dari beberapa tahun edisi yang saya dapatkan, terlihat jelas perbedaan kualitas gambar, penampilan majalah hingga penampilan wanitanya tentu saja. Bayangkan, dari tahun 1978 hingga tahun 2011 saya nikmati satu persatu meski tidak semua.

Memang saya akui bahwa dalam beberapa halaman di setiap edisi Playboy Magazine ini, jelas terdapat pose ataupun gambar telanjang para wanita yang mengundang jatuh air liur setiap pria normal di belahan dunia manapun. Namun informasi yang tertuang dalam sekian banyak halaman lainnya tak melulu soal pornografi dan seisinya. Seperti juga majalah dewasa lainnya, informasi seputar hobby ataupun kemaniakan para pria normal terhadap benda diluar wanitapun ada tertampil dalam layout yang memikat. Mencirikan  khas majalah luar, bathin saya. Jika masih bingung dengan bagaimana tampilannya tanpa ingin melihatnya langsung, bayangkan saja majalah lokal seperti Popular, Tempo ataupun RollingStones.

Benda yang saya maksudkan disini berupa mobil mewah gres keluaran brand ternama, motor besar, gadget, ponsel hingga asesoris seperti kacamata ataupun Tuxedo. Bagi yang belum masuk terlalu dalam ke seisi majalah, barangkali malah berpendapat sebaliknya ‘masa sih majalah Playboy edisi USA isinya hanya kaya’gini ?’ saya berani Taruhan loh.

Maka, seperti halnya puluhan majalah bertema khusus lainnya seperti M2 atau Cinemagz yang menjual informasi tentang film, Hai tentang Remaja atau bahkan Tempo yang menjual soal Politik, Hukum dan sebagainya, PlayBoy Magazine pun demikian. Hanya saja memang topic atau bahkan gambar pendukung yang berupa pose wanita telanjang bisa dikatakan sangat jarang kita saksikan di negeri sendiri secara langsung atau bahkan dianggap melanggar norma-norma kesusilaan. Meski sedari tampilan gambar dan halaman bagi saya malahan mampu mengundang decak kagum atas cara pengambilan angle, obyek hingga rasanya sayang jika isi majalah langsung habis ditelan dalam hitungan menit. Musti dicermati dan dinikmati dulu.

Seperti kalimat saya diatas, ya kembali pada pikiran si pembaca saja kok. Kalo memang sedari awal sudah beranggapan bahwa majalah Playboy atau diluar dikenal dengan sebutan Playboy Magazine merupakan majalah yang biasa-biasa saja seperti tag blog saya diatas, ya gag banyak emosi kok yang terasa. Kalopun kemudian mata disuguhkan pose wanita sexy nan menantang ya anggap saja itu semua sebagai Bonus atas kebosanan yang ada dari halaman pertama. Itu saja.

XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Sejak resmi bercerai dengan koneksi cdma milik Indosat, StarOne Unlimited, praktis hari-hari saya saat berinteraksi di dunia maya ditemani oleh dua koneksi gsm Indosat IM2 dan XL Unimited. Sayangnya, meski biaya bulanan IM2 Indosat jauh lebih besar ketimbang XL Unlimited, dari segi kecepatan baik saat masih dalam batas Kuota ataupun saat penurunan kecepatan, XL nampaknya lebih mampu menunjukkan taringnya dengan lebih baik. Padahal Indosat itu dimiliki orang luar loh. Mungkin itu sebabnya saya lebih kerap menggunakan koneksi XL ketimbang IM2 untuk semua aktifitas internetan.

Seperti halnya pertama kali menggunakan koneksi StarOne ataupun IM2 Indosat, sudah bisa ditebak sayapun kesetanan dalam memanfaatkan kecepatan koneksi XL Unlimited dan praktis Kuota pun terlampaui dalam waktu singkat. Terbanyak saya manfaatkan untuk mengunduh aplikasi Emulator system operasi ponsel (Symbian 5th Edition dan Symbian ^3) termasuk simulator iPhone dan juga iPad. Disamping itu, sayapun membongkar gudang milik 4Shared, meluapkan hasrat untuk memiliki konten illegal dari album music artis kenamaan era 80 atau 90an. Hasilnya lumayan. Tak kurang dari 70 album soundtrack film, aliran rock hingga punk saya dapatkan dengan sukses termasuk beberapa diantaranya memang sangat ingin saya miliki sejak remaja dulu.

Puas mengubek-ubek halaman 4Shared, sayapun berpindah ke Torrentz. Hal ini saya lakukan ketika koneksi mulai diturunkan seiring penghabisan jatah Kuota bulanan lantaran aksi sedot 4Shared itu. Torrentz  saya jadikan pelampiasan mengingat aksi sedot via p2p itu bisa berjalan hingga selesai tanpa aksi putus atau mengulang proses. Maksudnya, ketika laptop dimatikan tanpa memutuskan koneksi, aplikasi pengunduh Torrentz ini secara otomatis akan menyimpan proses tanpa membatalkannya. Lantas, ketika laptop dinyalakan dan koneksi tersambung, proses pengunduhan akan secara otomatis dilanjutkan hingga selesai tanpa perlu di-Resume. Bagi yang belum familiar dengan istilah Torrentz, silahkan mampir ditulisan saya terdahulu ya.

Trus, kenapa bisa sampai “XL Unlimited + Torrentz = Playboy Magazine ? “

Ini gara-gara keisengan saya seperti halnya saat mencoba 4Shared. Hanya karena kehabisan ide untuk mencari konten download, dari album music, soundtrack film, live concert, akustik hingga Tribute, pilihanpun beralih pada majalah, buku ataupun e-Book gratisan yang ada dalam database mereka. Hingga akhirnya tercetus jua dua kata kunci paling fenomenal sepanjang karir aksi download dunia maya secara pribadi. ‘Playboy Magazine’.

Hasilnya Maknyus. Hanya dalam waktu tiga hari, Torrentz mampu menyedot 142 edisi majalah Playboy dari tahun 1978 (ini tahun kelahiran saya) hingga terbitan gres 2011. Itupun tidak terurut dengan baik, bercampur dengan edisi Lingerie, Nudes dan juga PentHouse. Total space yang dihabiskan sekitar 3,7 GB. Rencananya aksi ini bakalan terus saya lanjutkan hingga genap seukuran satu keping dvd-r atau 4,40 GB. Do’akan saja. Hehehe…

‘Ada Rahasia di balik Rahasia” kurang lebih begitu kata Bang Ali di sinetron Islam KTP yang belakangan menjadi tontotan favorit putri kami, MiRah GayatriDewi. Bukan PanDe Baik pula jika aksi yang saya lakukan ini tanpa tujuan selain maksiat, bakar syahwat dan sejenisnya. Lagi-lagi atas dasar penasaran, ingin tahu dan pada akhirnya malah menjadi pembelajaran untuk bahan BLoG www.pandebaik.com. Setidaknya mampu memberikan warna lain sejauh perjalanan yang telah saya lakoni sejak Mei 2006 lalu. Tidak hanya soal FaceBook, FourSquare ataupun MiRah putri kami, tapi juga ingin mencoba yang jauh lebih panas dan menggelinjang. Hihihi…

‘Bali Pulau Porno’ Mendukung RUU APP ???

Category : tentang KeseHaRian

Mungkin belum banyak teman yang tau, kalo tulisanku tempo hari, tentang ‘Bali Pulau Porno’, dicomot begitu saja tanpa permisi, walaupun mereka tetap mencantumkan darimana tulisan itu berasal.
Bagi yang belum tau, bisa liat disini.Jujur saja, tulisan itu terwujud saat gencarnya penolakan pindahnya kantor majalah Playboy ke Bali, dan sama sekali bukan dalam rangka mendukung ataupun menolak RUU APP.

Namun bukan salahku juga jika tulisan itu kemudian disalahartikan malah mendukung rancangan tadi, karena dari dalam hati ini, rasanya undang-undang pornografi bila disahkan, malah akan membuat negara ini tambah kacau.
Karena sebagian besar menentang, dan sebagian lainnya meminta disahkan.

Jika saja yang mengelola blog ruu app tadi meminta ijin dariku, bisa dikatakan, aku tidak akan mengijinkan tulisanku dimuat bila itu berkaitan dengan hal-hal yang berbau politis. Karena bagaimanapun tulisanku bukanlah pendapat banyak orang atau mewakili suara sebagian kalangan tertentu, tapi hanya uneg-uneg dalam hati saja.

Kembali berbicara tentang antipornografi tadi, bagiku itu terlontar hanya karena sebuah ketidakpuasan dari seorang raja dangdut di negeri kita, yang merasa terancam jika lahannya direbut oleh artis lain yang secara kebetulan mengambil lahan dengan cara yang kemudian dianggap tabu.

Aku yakin, saat pemunculan pertama Inul dengan Goyang Ngebor-nya, sebagian masyarakat Indonesia, pasti membeli satu dua keping vcd bajakannya, yang lantas membuat Inul jadi secantik sekarang.
Padahal sang raja sendiri, seperti yang kita tau, gak luput dari syahwatnya yang sampe memiliki istri lebih dari satu. Bahkan Angel yang terakhir beredar, hanya kawin siri dengan sang raja.

Kemunafikan Sang Raja ?

Lantas terlontarlah ide cemerlang sang raja, untuk membungkam pesaingnya yang memilih jalan Ngebor ketimbang banyak gaya yang sama dengan personil lainnya.

So, aku gak mendukung RUU APP disahkan, jika itu hanya untuk kepentingan kalangan tertentu saja, mempertahankan ladang uang atau bahkan membungkam budaya serta ke-Bhinekaan Indonesia.
Karena sebagian tarian Bali yang bertujuan Seni, memang memperlihatkan bagian tubuh tertentu seperti pundak yang disesuaikan dengan pakaian tari, atau dada seperti tari Kecak.

Namun jika isi daripada RUU APP memang benar hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mempertunjukkan bagian tubuh secara porno-jorok lantas dibungkus dengan arti Seni, seperti Striptease di tempat-tempat Dugem, atau Joged Porno, tentu saja…
Aku mendukung RUU APP disahkan.
Karena budaya yang ada di Indonesia, bukanlah Seni yang diekploitasi dengan mengumbar nafsu.

Tapi apakah draft yang sudah disusun untuk RUU APP ini akan mau merangkum seperti dua hal diatas, atau tidak ?
Entahlah.

Yang jelas, aku enggan untuk ikut masuk ke bidang yang berbau Politis.
That’s it.

Bali : Pulau Porno ???

Category : tentang KeseHaRian

Bali, selama aku hidup, sudah banyak permasalahan yang terjadi disini. Dari sebutan Bali Pulau Seribu Pura, berubah menjadi Bali Pulau Seribu Ruko, atau Bali Pulau Beton, atau bahkan yang Ekstrim, Bali Pulau Sari Laut, huehehe….Bali Terkini, bisa jadi Bali disebut sebagai Pulau Porno.

Mungkin ada yang masih ingat dengan Joged Porno ? atau Pelawak Bali, yang tiap malam minggu mengadakan acara di Art Centre namun Banyolan yang dibawakan malah nyerempet bau-bau porno ?

Ini semua didukung pula dengan kondisi lapangan, dimana turis bule yang berjemur di pesisir pantai dengan sangat terbuka, padahal tidak jauh dari tempat tersebut Umat Hindu sedang mengadakan ritual keagamaan.

Bukan hal rahasia lagi jika tempat-tempat dugem, diskotik di seputar Kuta, bahkan mulai berani menyuguhkan penari-penari eksotis yang siap membuka pakaian hingga telanjang.

Siswi SMU kinipun sudah berani mempertontonkan adegan yang memperlihatkan (maaf) payudaranya dan bagian-bagian syur melalui fasilitas video pada ponsel, dan disebarkan pada teman-temannya hinga satu dua nyampe juga pada ponsel saya.

Penolakan RUU APP juga jadi berita hangat di Bali, karena itu semua bisa memberangus budaya Bali yang barangkali tidak akan bisa menarik wisatawan lagi jika busana penarinya ditutup seperti wanita-wanita muslim Afganistan misalnya. atau para penari Cak, yang berbusana lengkap layaknya ke mall saat pentas di panggung.

Playboy diterbitkan dan berkantor di Bali, menambah semarak citra Bali, yang saat ini mungkin saja, bisa saja Bali sudah mendukung sebutan Pulau Porno.

Ah, akankah Rumahku ini hancur begitu saja saat orang-orang sudah mulai mengekploitasi Bali hanya untuk kepentingan Dompet mereka ? Mungkin karena kami makin terbuai dengan sebutan orang luar yang mengatakan Orang Bali, begitu ramah dan terbuka pada setiap orang…

Playboy di Bali

Category : tentang KeseHaRian

Koran hari ini, Senin 12 Juni 2006, cerita seputar penerbitan majalah Playboy, yang saat ini berkantor di Bali, masih marak, bahkan kini ada 17 tokoh yang ikut menolak kehadiran kantor Playboy di Bali. Ngurah Harta, tempo hari menyarankan agar Playboy berkantordi Bali, lebih karena Erwin sang Pimpinan majalah adalah salah satu muridnya yang sudah menjadi bagian dari Keluarganya, dan mendapat restu untuk memindahkan kantor Playboy yang sempat diusak oleh FPI di Jakarta.

Menurutku, keputusan itu satu hal yang Bodoh. Lebih mengedepankan hubungan masa lalu dibandingkan dengan citra Pulau Bali saat ini. Tindakan yang kalo boleh dikatakan sebagai Tindakan yang Mencari Muka di mata masyarakat penggemar Playboy.

Walaupun isinya memang tidak sevulgar yang dibayangkan, namun tetaplah image Playboy dimata awam, adalah majalah Porno. Sama seperti Aqua yang bagi orang awam adalah minuman mineral, walaupun mereka memproduksi minuman dengan rasa buah-buahan, tetap saja awam lebih mengenal Aqua sebagai minuman mineral.

Sebagus apapun isi majalah Playboy, bagiku tetap saja image awam tetap Porno. Jadi menurutku, jika Erwin tetap ingin memproduksi majalah yang aman, pake nama lain saja. Beres urusan.

Tapi Bisnis adalah Bisnis. Dengan memakai label Playboy, diharapkan majalah inipun laku keras di masyarakat karena mengudang kontroversial. Namun apakah isinya akan tetap dijamin tidak vulgar ? Apakah sang pemilik majalah dipusatnya akan diam saja, jika mengetahui Playboy Indonesia isinya malah jauh dari pakem utama majalah tersebut ?

Mungkin akan sangat lucu jika misalkan saja, membaca Tempo versi Luar Negeri yang isinya cergam anak-anak, jika Tempo di daerah tersebut dilarang memuat berita Politik.

Bagiku, ini hanya sebuah dagelan yang tidak lucu…