Ya Sudahlah

Category : tentang Opini

Fiuh… akhirnya berakhir juga tugas itu dilaksanakan. Setelah memantau hasil Quick Count dari 7 (tujuh) lembaga Survey, beberapa diantaranya bisa dipercaya kredibilitasnya, tampaknya usaha dan dukungan yang selama ini diyakini Berhasil, sudah tampak bentuk dan rupanya. Minimal untuk ukuran lokal Bali, formasi 70-30 sangat lumayan mengingat target yang pernah ingin dicapai kawan sebelah adalah 60-40 untuk kemenangan Capres nomor urut 1.

Peran Sosial Media

Bagi sebagian kalangan, Sosial Media tampaknya masih diacuhkan kepentingannya. Mengingat pemilik hak suara diyakini jauh lebih besar jumlahnya berasal dari luar kaum Netizen. Tapi apa daya, kekuatan dunia maya seakan dilupakan padahal pengaruh satu orang pengguna dapat melakukan klarifikasi pada dua tiga bahkan lima pemilik suara lainnya yang awam soal internet. Hal inilah yang secara pribadi saya coba ingat, lakukan dan terapkan juga pada yang lain. Kalo gag salah sih, muasal idenya dari akun twitter miliknya @kurawa aka Rudi Valinka, akun yang ngakunya punya basic seorang Forensic Auditor. Terlepas asli anonimnya akun tersebut, tapi idenya masuk akal juga kok.

Sayangnya memang gag semua bisa dipengaruhi. Bahkan sampai H-1 hari pencoblosan, seorang rekan kantor masih juga belum terima dengan klarifikasi dan tularan informasi fakta yang saya postingkan di akun sosial media. Bahkan ia tetap kukuh pada pilihannya meski hingga kini, saya belum melihat Totalitasnya sebagai pendukung Capres nomor urut 1. Tapi sudahlah… itu sudah berlalu, dan formasi akhir 70-30 untuk ukuran Bali rasanya sudah cukup memberikan gambar pasti hari ini.

Terlalu Dini untuk mengKlaim Kemenangan

Benar kata pak BeYe usai penghitungan Quick Count sembari menunggu penghitungan hasil akhir Real Count 22 Juli nanti. Hari yang akan dinantikan kedua kubu dimana keduanya sama-sama mengklaim kemenangan beda tipis dengan cara mereka sendiri. Saya setuju itu. Apalagi untuk kasus pengawalan Surat Suara yang ada baiknya diabadikan pula dengan gambar digital sesaat setelah hasil di sahkan.

Soal Klaim, biarlah Tuhan nanti yang akan membantu mencerahkan semuanya. Toh saat ini Bulan Ramadhan hadir di tengah bangsa kita tercinta. Akan sangat disayangkan jika kejujuran berpikir, berkata dan bersikap dinodai demi kepentingan partai semata. Kita memang sedang di uji olehnya.

Tapi ngomong-ngomong diluar sub judul tadi, saya pribadi merasa agak kasihan dengan pak Presiden kita saat ini, pak BeYe. Sudah sedemikian susahnya Beliau memberikan dukungan pada sang Calon Presiden nomor urut 1, tapi kok masih diam saja saat kebijakan dan juga gerbong yang Beliau pimpin, direndahkan dalam setiap debat pula ajang kemenangan malam ini, dimana seorang mantan militer mengatakan ketidakamanan negeri ini pasca reformasi termasuk kini. Tapi ya sudahlah… jangan terlalu dipikirkan. Serahkan saja semuanya pada pak BeYe.

Kembali Bekerja

Dan begitu semuanya usai, selain masih memiliki hutang kewajiban untuk mengawal Suara hingga pengumuman hasil akhir 22 Juli kedepannya, saya pribadi sih beranggapan bahwa esok, kita harus kembali bekerja dan mengesampingkan semua caci maki dan posting negatif para Capres yang sudah melaksanakan tugas serta kewajibannya dengan Baik. Setidaknya kembali menjalankan tugas serta kewajiban masing-masing atau bahkan mengakui kekalahan dengan legowo lebih awal. Sehingga kelak tidak banyak hal yang harus disesali hanya karena ambisi.

Ya sudahlah… menyitir lirik lagunya Bondan Prakoso… ‘Ketika mimpimu yg begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah…
Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah…
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu…
Janganlah kau bersedih… coz everything’s gonna be okay…’

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi

Category : tentang Opini

Terharu… saya membaca timeline akun sosial media malam ini. Baik kawan yang mendukung bapak Prabowo sebagai Capres nomor urut 1 maupun kawan yang mendukung bapak Jokowi sebagai Capres nomor urut 2. Mereka sama… sama-sama menganjurkan untuk menggunakan suara atau hak pilih dengan bijak, tanpa Golput.

Tanpa Golput…

Itu penekanannya.

Karena kalau tidak salah, dalam pemilihan calon legislatif beberapa waktu lalu, sebagian besar kawan yang saya miliki, secara terang-terangan menyatakan Golput lantaran sudah tidak memiliki kepercayaan lagi pada calon pemimpinnya. Sehingga tidak heran jika angka Golput lalu menjadi sedemikian besar saat pemilihan berlangsung.

Semoga kini, tidak lagi. Itu harapan saya. Orang-orang yang dahulu begiti bangga dengan pilihannya untuk Tidak Memilih, kini beramai-ramai turun gunung dan menyatakan dukungannya dengan jelas. Bahkan tokoh-tokoh yang saya kagumi sejak dulu, menyatakan dukungannya meski lewat jalur yang lain. Mereka Hebat. Semuanya Hebat. Kalianpun Hebat…

Besok adalah Pesta Demokrasi. Untuk kesekian kalinya kita akan menghadapi, namun saya yakin ini bukanlah perang sebagaimana kata seorang Tokoh Reformasi, atau bahkan pertempuran yang selama ini berusaha menghalalkan segala cara untuk satu kata. Menang…

Namun mereka lupa, bahwa fitnah yang dilancarkan sesungguhnya disampaikan pada saudara yang sudah seharusnya dikasihi sebagaimana kalimat dalam Pancasila, hal yang begitu dibanggakan sejak kecil dahulu. Mereka lupa bahwa perhelatan seperti ini bukanlah hal untuk mengkafirkan tetangga yang berbeda agama, berbeda aliran bahkan berbeda pilihan Capres.

Ini adalah sebuah pembelajaran Demokrasi. dan kita diwajibkan belajar untuk secara dewasa untuk menghadapinya.

Kalah atau Menang bagi saya bukan lagi menjadi satu masalah atau Hal yang patut ditakutkan, sehingga malam ini atau besok tidak harus menyiapkan bedil dan amunisi demi menumbangkan lawan. Kita semua bersaudara, dan kita patut berbangga karenanya.

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi sudah sedemikian dekat, dan semoga Tuhan selalu menyertai Bangsa ini mencapai kehidupan bernegara yang lebih Baik dari sebelumnya.

Selamat menggunakan Hak Pilih kalian besok… dan jangan terprovokasi untuk menghancurkan negeri ini saat pilihan telah usai untuk ditetapkan. Saya percaya kita pasti Bisa.

Yuk kita Jalan Lagi…

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Masa Breakthrough 2 sudah masuk hari ke-3 saat kaki menginjakkan ruang kantor besok pagi. Sementara yang namanya jadwal atau tahapan Milestones, belum dijalankan sesuai rencana. Yang ada baru laporan pada pimpinan saja.

Inginnya sih besok pagi itu mau ngadain rapat internal dulu, untuk menyampaikan maksud dan rencana Proyek Perubahan yang sejatinya memang harus melibatkan staf Teknis maupun Administrasi Permukiman. Tapi selain itu memang ada hal-hal yang  perlu dibicarakan bersama utamanya terkait kegiatan lapangan yang kini sudah masuk di pertengahan proses.

Sekedar Info bahwa proses Diklat Kepemimpinan Tingkat IV yang saya lakoni sedari Mei lalu sebenarnya memang masih belum usai kegiatannya, yang kalau tidak salah baru akan berakhir minggu keempat Bulan September nanti. Dan masa Breakthrough 2 yang disampaikan diatas bisa dikatakan sebagai masa Off Campus, balik kantor namun tetap mengerjakan tugas utama Diklat yaitu mengImplementasikan Proyek Perubahan. Semoga bisa dilalui dengan baik.

Lain Diklat Lain pula Debat. He… masa kampanye kemarin ternyata bisa juga seru seruan dengan kawan kantor saya, pak Gede Eka Surawan yang secara dukungan PilPres kali ini kami memilih berseberangan jalur. Hari-hari yang terlewati kadang terasa panas akibat posting dan komentar yang dikirim lewat akun wall FaceBook, terkadang berjalan adem dan saling maki diluar topik terutama saat foto saya di Bedugul dicomot dan dipublish macamnya tweet mbak Ratna S si aktivis kemarin.

Tapi asyiknya, lewat jalur debat ini pula kami jadi tahu karakter masing-masing. Yang kalo dari versi saya, pak Gede ini kelihatannya punya hobby posting berita Negatif atau ketidakpuasan akan hasil kerja seseorang meskipun ia belum tahu bahwa itu bukanlah fakta di lapangan. Tetep ngotot bahwa itu benar tanpa mau tahu berita tanggapan, malahan mengatakan instsitusi yang menjawab ‘tunduk pada Ibu..’ *hadeeeh… dan kalo yang dari versi Pak Gede… mungkin yah… ini baru mungkin… saya sering Tertipu dengan Pencitraan salah satu Capres, sehingga menyebabkan komentar yang saya posting kebanyakan Blunder bagi Beliau ini. Tapi nanti deh… saya mintakan testimoninya di halaman ini untuk menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya, meskipun di masa Tenang kampanye sekalipun. Biar ada Hak Jawab nya pak Gede juga disini. Jangan lupa dikomentari ya pak…

Meskipun Debat panas bahkan sempat dimediasi oleh Rekan Kantor lainnya, hubungan kami tetap Baik kok. Jumat lalu aja, saya sempat mengingatkan yang bersangkutan untuk jangan ngutik hape saja saat jalan balik dari Krida menuju ruangan. Kasian pak Gede gag bisa melihat pemandangan indah nan cantik yang lewat disebelahnya, hanya gara-gara ingin membalaskan komentar saya di wall FB-nya kemarin malam. Atau juga menasehatinya saat kami menaiki tangga kantor menuju ruang masing-masing, akan kesehatannya jangan sampai kambuh Diabetes dan Darah Tingginya, hanya karena menganggap bahwa blog www.pandebaik.com ini punya kelakuan serupa dengan MetroTV atau Tempo Group yang hanya memberitakan info keberpihakan pada Capres nomor 2… Huehehehehe… Maafkan saya pak Gede, Mohon Ampun deh…

Dan pada akhirnya saya pun mengaku kalah jika nanti saat pencoblosan 9 Juli, pilihan pak Gede bisa sejalan dan senada dengan saya. *duh Maksa deh pokoknya… apalagi setelah insiden Kalpataru di Debat capres terakhir, ini yang real loh yah, bukan debat kusir dokar saya dengan pak Gede, sedikitnya bisa membuka mata bahwa sesungguhnya untuk jadi Pemimpin Negeri ini gag cukup hanya karena persoalan Fisik, Tegas dan Galaknya. Tapi juga konsistensi antara Pikiran, Perkataan maupun Perbuatan yang sejalan (belum tentu benar salahnya).

Di paragraf terakhir sih saya berharap banyak dari perhelatan PilPres 2014 ini. Mengingat setelah berjalan sedemikian jauh, kita jadi tahu karakter masing-masing, baik kawan maupun pendukung capres tetangga, dan tentu saja Timses plus pasangan Capres-Cawapres nya sendiri. Apapun hasilnya nanti, tentu harus didukung penuh karena masing-masing dari kita sudah menentukan pilihan, sehingga berhak untuk menyampaikan Kritik. Terpenting jangan mendengar sambil mengarahkan moncong senapan pada kami tentunya. Dan harapan lainnya tentu soal Fitnah dan Tuduhan bisa diminimalisir di Masa Tenang kampanye ini. Mengingat pasca konser GBK malam tadi, masih juga ada fitnah di akun FB terkait pemukulan seorang Ibu oleh Pendukung Capres nomor 2 hanya gara-gara yang bersangkutan menggunakan baju Capres nomor 1… padahal sejatinya Foto yang diunggah sebagai bukti tersebut adalah korban kecelakaan yang diunggah dan sudah diamini oleh dokter yang menangani. Duuuhhh… segitunya yang pengen banget meraih simpati publik… Semoga si Penebar Fitnah termasuk tuduhan PKI dan Obor Rakyat pun bisa diingatkan oleh-NYA kelak.

Salam 2 Jari… Ayo Kawan, Jangan Golput Lagi.

Yuk kita Jalan Lagi…

Dua Pilihan dan makan siang

3

Category : tentang Opini

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wita. Siang yang terik sebetulnya jika kami masih berada di area Denpasar.

Sesuai arahan dari panitia, sejak pagi tadi kami tidak diijinkan membawa dompet dan ponsel selama mengikuti Outbound. Praktis saat hari sudah sesiang ini, satu satunya pilihan yang kami nanti tentu saja makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia. Apalagi outbound yang ditujukan untuk menguji fisik, mental dan pola berpikir sejak awal tadi lumayan menguras tenaga, mengurai tawa canda bahkan sedikit duka lantaran kekalahan di beberapa permainan.

Tapi santai, yang saya ingin bahas disini bukanlah bagaimana jalannya outbound atau kelanjutannya. Hanya berandai-andai saja. Tingkat keakuratan sebelum paragraf ini tentu bisa dipercaya, namun setelah ini ya jadikan saja sebagai bahan perenungan.

Ketika berada dalam kondisi diatas, Panitia memberi kami dua pilihan makan siang. Masing-masing paket makan tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dari segi kualitas makanan, kadar gizi dan semacamnya. Dengan adanya dua pilihan tersebut jika kami menikmati salah satunya, maka dijamin kami memiliki tenaga untuk bisa menyelesaikan permainan berikutnya. Yang barangkali dari jumlah tersisa sekitar lima, tiga atau empat jenis masih bisa dilakoni dengan baik. Bergantung dari pengolahan makanan oleh tubuh dan cara kita mengatur tenaga yang dihasilkan nantinya.

Sayangnya diantara dua pilihan yang ada, beberapa kawan sempat berpikir untuk tidak menikmati keduanya. Hal ini terlintas lantaran dari kedua jenis makanan yang ada tidak sesuai dengan selera atau harapan yang diinginkan. Jika kalian berada dalam kondisi kami, kira-kira apa yang akan kalian lakukan ? Menikmati salah satu meskipun jenis makanannya tidak sesuai harapan, namun jika itu dinikmati kita diberikan tenaga untuk melanjutkan permainan, atau memilih untuk tidak makan siang ?

Ingat, situasi disini hanya ada Dua Pilihan. Tidak ada uang di kantong, pun tidak ada ponsel. Sedangkan saat waktu makan siang habis, ada lima jenis permainan lagi yang harus diselesaikan.

Jika kalian memilih untuk tidak menikmati makan siang yang ada, apakah kalian siap untuk tidak menyelesaikan kewajiban yang tersisa, capek dan pingsan karena tidak ada asupan tenaga yang bisa dicerna, dan membiarkannya sementara kawan yang lain, berpikir sebaliknya dan sudah siap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya ?

Bagi yang cermat dengan kondisi bangsa kita saat ini, saya yakin kalian paham dengan gambaran diatas. Bisa saja kita bercanda saat menjawabnya. Tapi jika saya boleh ingatkan bahwa terkadang pilihan yang ada musti ditanggapi dengan keseriusan karena ini menyangkut bangsa. Saya tentu tidak akan memaksa atau mengarahkan pilihan kalian pada salah satu dari keduanya. Karena itu semua merupakan area private.

Balik ke cerita makan siang diatas yang tentu saja fiksi atau andai-andai dari saya pribadi.

Akan berbeda kondisinya apabila disaat yang sama, kita memiliki kesempatan untuk membeli makan siang sendiri, dengan jenis makanan yang sesuai harapan dan keinginan. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa seandainya paket yang telah kita pesan tersebut, kemudian digandakan dan disodorkan kepada beberapa kawan yang ada ?

Apakah mereka akan merasakan kepuasan yang sama dengan yang kalian rasakan ? Atau malah menolak dan memilih untuk tidak menikmatinya dengan alasan yang sama dengan kalian tadi ?

Itulah bedanya.

Pilihan yang ada, saya yakin tidak akan pernah bisa memuaskan satu dua pihak. Karena pilihan tersebut lahir berdasarkan pemikiran sejumlah kepala yang notabene memiliki argumentasi berbeda-beda.

Jadi apakah kalian akan menunggu ada orang yang akan membawakan makan siang yang sesuai harapan ataukah menikmati salah satu pilihan yang ada dengan harapan bisa melanjutkan proses kegiatan selanjutnya meski tidak tuntas ?

Semua kewenangan telah diberikan. Tinggal kalian yang memutuskan.

Errr… cerita outbound dan makan siangnya sekali lagi bukan berdasarkan kejadian fakta yang ada hari sabtu lalu. Jadi yah…

Masih Mau Golput lagi ?

1

Category : tentang Opini

Dalam hidup saya yakin, kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan arah untuk diputuskan segera. Dimana masing-masing pilihan akan mengantarkan kita pada arah, tujuan dan konsekuensinya masing-masing. Ada jalan yang terjal namun memiliki tawaran yang menggiurkan di awal, begitupun sebaliknya. Ada jalur yang salah, ada pula yang benar namun penuh rintangan. Andai pun kita kurang berkenan dengan pilihan tersebut, biasanya kita tak akan mengambil langkah apapun dan diam di tempat tanpa satupun kemajuan yang didapat. Apapun resikonya, untuk maju kita memang harus berani menghadapi dan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Demikian pula dengan bangsa ini.

Pertengahan tahun 2014 nanti, kita semua rakyat Indonesia akan dihadapkan pula pada dua pilihan, calon pemimpin bangsa, yang jujur saja sangat sulit untuk ditentukan kelebihan dan kekurangannya secara akurat mengingat antara berita maupun fakta yang disampaikan oleh media, masih simpang siur kebenarannya. Sehingga mau tidak mau masyarakat musti lebih pintar dan arif untuk memilah informasi yang diterima sebagai modal pemilihan nantinya.

Layaknya pilihan dalam hidup tadi, kita rakyat Indonesia benar-benar dihadapkan pada dua pilihan saja oleh-Nya. Padahal sebetulnya jika saja ada satu partai politik lagi yang mampu melakukan koalisi terpisah, bakalan ada satu pilihan lain meskipun agak sulit untuk tampil sebagai pemenang. Meski demikian, bersyukur juga sih bahwa kita sebagai rakyat Indonesia gag jadi dihadapkan pada pilihan calon pemimpin yang salah. Contoh yang beginian, saya yakin kalian pasti tahu siapa yang dimaksudkan.

Dua pilihan itu adalah pasangan Jokowi – Jusuf Kalla dan Prabowo – Hatta Radjasa.

Masing-masing calon pemimpin alias Presiden tentu punya kelebihan dan kekurangan. Demikian halnya dengan para wakil mereka yang ditetapkan menjelang akhir pendaftaran calon. Dimana kini baik kekurangan maupun kelebihan itu dieksplorasi makin dalam yang lama kelamaan malah cenderung memuakkan lantaran saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

Makin lebarnya jurang perpecahan antara dua partai pengusung yang dahulu sempat bergandengan mesra di Pilkada DKI atau bahkan kesalahan mengambil keputusan saat menggandeng calon wakil dan kawan koalisi kemudian menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia lainnya merasa enggan untuk menjatuhkan pilihan diantara dua yang ada kini. Padahal inilah tantangan terbesarnya, serupa dengan ilustrasi diatas.

Saya yakin Tuhan ataupun bahkan siapapun yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, takkan mampu memberikan pilihan yang sesuai dengan harapan dan keinginan kita baik dalam kapasitas sebagai rakyat Indonesia maupun sebagai manusia dalam dunia-Nya. Karena inilah yang namanya tantangan dalam hidup. Malah bisa jadi, jikapun pilihan yang ada sudah sesuai dengan harapan dan keinginan kita, di lain pihak malah tidak memuaskan mengingat bukan itu harapannya. Jadi wajar saja jika ada kemudian yang merasa tidak puas dengan kenyataan yang ada.

Lalu apa pilihan kita saat dihadapkan pada situasi serupa ? Lari dari kenyataan ? Diam dan tidak mengambil langkah ? Atau mencoba peruntungan serta berdoa untuk mencari pilihan lain yang saya yakin gag akan terakomodir selama kita masih menginjakkan kaki di bumi yang sama. Atau dengan kata lain… Masih Mau Golput lagi ?

Saya jadi ingat dengan cerita yang pernah saya baca di sebuah media cetak, tentang seorang Bapak yang begitu taat berdoa pada Tuhan, berharap Beliau akan mengirimkan bantuan untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya banjir yang kian mengancam. Yang dalam akhir cerita disebutkan bahwa saat sang Bapak mempertanyakan kebesaran dan kemurahan hati Tuhan yang ternyata tidak menyelamatkan nyawanya, Tuhan malah balik bertanya, pilihan seperti apakah yang engkau harapkan padaku padahal aku telah berkali kali memberikan pilihan padamu namun selalu kau tolak ?

Kita semua sudah berkali-kali dihadapkan pada pilihan untuk memilih Calon Pemimpin Bangsa yang kita cintai ini. Dan sudah terbukti pula, saat pilihan yang salah telah kita sepakati bersama untuk dilakoni selama lima tahun kedepannya, kita seakan dihadapkan pada gerbang kehancuran dan kekecewaan atas perilaku para pemimpin negeri hingga kroni kroni yang ada dibawahnya.

Kini pilihan itupun hadir kembali. Apakah kelak akan jatuh pada sang Gubernur yang tidak amanah menjalankan tugasnya, begitu ambisi pada kekuasaan yang lebih besar serta perilaku pencitraan lewat media, ataukah pada sang mantan Jenderal yang dipecat lantaran tersandung kasus HAM pada Mei 1998 lalu, yang hanya bisa meniru tokoh proklamator bangsa, serta dikelilingi armada perang yang penuh masalah ? Tentu semuanya ada di tangan kalian.

Jikapun masih bersikeras untuk Tidak Memilih karena Tidak Memilih adalah merupakan sebuah pilihan juga, maka persiapkan diri pula untuk merasakan kecewa, siapapun nantinya yang akan terpilih. Malah bisa jadi, kekosongan suara yang kalian ciptakan akan memperbesar perbedaan perolehan suara bagi pilihan lainnya. Dan itu semua bisa menjadi bumerang bagi bangsa ini selama 5 tahun kedepan.

Tuhan sudah memutuskan, ada 2 pilihan yang bisa kalian tentukan. Nasib Bangsa tentu akan berada di tangan kalian.

Bagaimana ? Masih Mau Golput lagi ?

Menanti HasiL PiLPres 2009

2

Category : tentang Opini

Untuk kali kedua dalam tahun yang sama, ujung jari kelingking saya berwarna gelap, sebagai tanda sudah ikut serta dalam menentukan nasib bangsa ini dalam lima tahun kedepan. Kendatipun saya memahami perbedaan pendapat beberapa rekan yang lebih memilih ‘untuk tidak memilih’ alias golput dengan berbagai alasan dan pembenaran secara sepihak. Whatever lah…
gag GOLPUT
Yang pasti, begitu memasuki hari pertama pasca pilpres saya yakin jutaan orang masih bertanya-tanya, siapakah yang akan tampil sebagai pemimpin bangsa ini dalam jangka waktu lima tahun kedepan.

Terlepas dari segala tetek bengek kampanye, janji-janji manis dan saling klaim ‘bahwa kami adalah yang terbaik’, secara pribadi saya mendukung iklan kampanye yang kabarnya ilegal itu… PilPres satu putaran. Siapapun itu yang bakalan tampil di urutan teratas.

Bukan… Bukan karena saya mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres, tapi lantaran saya bosan dan jenuh mendengar iklan kampanye, janji-janji manis dan saling klaim tadi, baik di media televisi, via sms hingga merusak mata dan pandangan saya di setiap ujung jalan. Rasanya indah jika kita tidak lagi menyaksikan dan mendengar itu semua…
who's next
Hanya saja, ada satu kekhawatiran yang begitu kuat terlintas dipikiran yakni apakah dua kubu yang lain akan bersedia menerima kekalahan seperti yang kita harapkan selama ini ?

Karena seperti biasanya, kekalahan dalam pilkada bakalan berimbas pada bentrok antar pendukung, saling gugat bahkan salah satu jejak dimasa lampau kita, bakar membakar fasilitas pemerintahan bisa jadi bakalan menjadi episode berikutnya.

Segala macam tudingan siap dilontarkan, mulai kecurangan, penggembosan dan penggembungan suara, dimanipulasi dsb bukan tidak mungkin akan menjadi santapan kita dan media selama beberapa minggu kedepan.

Semoga saja itu semua tidak terjadi…

Sebaliknya jika apa yang saya khawatirkan bakalan terjadi ? Fiuh… entah kapan kita akan bisa dewasa dalam berpolitik ?

TenTukan PResiDen PiLihanmu dan SeLamat menConTReng

2

Category : tentang Opini

Hari ini, Bangsa Indonesia akan dihadapkan pada peristiwa bersejarah yang akan menentukan nasib rakyat dalam 5 tahun mendatang.

Ada 3 pilihan yang akan bertarung memenangkan hati sekian puluh juta masyarakat Bangsa ini… Semoga saja tak lantas membuat angka “para pemilih yang memilih untuk tidak memilih” makin tinggi dibanding PiLeg lalu… Jika itu sampe terjadi, ya bisa dikatakan ketiga pilihan yang ada belum mampu mengeluarkan dan memberikan terobosan terbaik mereka pada rakyat. Sekalipun saya yakin, ketiganya saling berlomba mengatakan diri mereka pro rakyat, berjuang demi rakyat dan hanya untuk rakyatlah mereka berbuat…

Siapapun calon Presiden dan calon Wakil Presiden pilihanmu hari ini, secara pribadi saya harapkan jangan sampe pilihan itu diambil hanya lantaran satu lembar uang plastik merah yang sengaja diedarkan di pagi hari atau menjelang pemilihan… Jangan sampai menggadaikan nasibmu selama 5 tahun kedepan hanya demi 20 kg beras yang barangkali cukup untuk makan selama sebulan…
PiLPReS
Siapapun Presiden dan Wakil Presiden yang kelak akan terpilih, lagi-lagi saya berharap jangan sampe kita mengorbankan teman, tetangga atau saudara kita yang berseberangan… menghasut, memfitnah dan menghancurkan mereka hanya karena kita tidak mampu menerima kenyataan yang ada… kita masih dalam satu bangsa, Kawan…

Malu pada diri sendiri dan Bangsa ini…

APA KATA DUNIA ?

DaGeLan PoLitik PiLPres 2009 ; Semua ingin jadi PREsiden

3

Category : tentang Opini

Apa yang terjadi pada bangsa ini seminggu terakhir, bisa jadi sebagai upaya meredam panasnya suhu pro kontra kasus Antasari, baik pro kontra tentang motif pembunuhan Nasrudin maupun pro kontra kelucuan anggota DPR kita yang melarang KPK menangkapi para calon tersangka kasus korupsi pasca penangkapan Antasari. He… Becanda lagie.

Semua ingin menjadi PREsiden.

Begitu kira-kira gambaran yang dapat saya tangkap selaku posisi saya sebagai rakyat yang awam soal politik dan politikusnya. Masih ingat dengan iklan pembentukan opini publik pra pemilu kemaren ? Katakanlah yang paling heboh itu Pak Prabowo, Wiranto, Megawati, Pak Presiden kita SBY, hingga ke orang-orang yang nyatanya tak kterlihat batang hidungnya saat ini, Soetrisno Bachir, si siapa tuh namanya yang mengklaim mendapat dukungan dari kolaborasi pembaharuan ? He… mohon maaf jika saya salah sebut nama maupun lupa nama…

Belakangan belum juga dimulai gong kampanye PiLPres, sang Wakil Presiden kita saat ini malahan sudah mencuri start untuk membentuk opini publik memohon dukungan atas dirinya yang mencalonkan diri sebagai Capres. Sayangnya KPU tak mampu menindak aksi curi start ini lantaran pasangan JK –Wir ini belum diresmikan sebagai pasangan Capres-Cawapres oleh KPU. Satu kelemahan dari UU yang ada katanya.

Di sisi lain, ada juga yang sudah saling melobi untuk berkoalisi namun saling ngotot-ngototan ingin maju sebagai RI 1. Gak ada yang mau jadi nomor 2. Ada juga yang mendeklarasikan cawapresnya dari kalangan non parpol namun tidak direstui oleh parpol yang diajak berkoalisi sebelumnya. Bahkan mereka dan para mahasiswa pendukung parpol menuntut agar paket Cawapres yang diusung tetap orang Parpol. Huuuuuhhh…. Saya jadi bingung dan heran.

Kenapa Semua ingin menjadi PREsiden ?

Apakah jawabannya barangkali bisa saya samakan dengan pertanyaan saya beberapa waktu lalu pra-pemilu PiLCaLeG ? Kenapa Semua ingin menjadi Anggota DPR ? Kenapa Semua ingin menjadi WakiL Rakyat ? Karena kurangnya lapangan kerja yang menjanjikan mereka ‘sedikit bekerja, banyak bicara lalu banyak pemasukan, termasuk plesiran berselubung studi banding ? Padahal tau apa sih mereka tentang suara Rakyat ? Yah, Barangkali tidak sedangkal itu….

Ada yang bisa menjawabnya barangkali ?

He… Sekali lagi PanDe Baik memohon maaf jika ada pihak-pihak yang tak berkenan dengan tulisan saya ini. Bukan saya bermaksud melakukan pencitraan diri mengklaim bahwa saya Pro Reformasi dan kelak bakalan ikutan mencalonkan diri sebagai Presiden negeri ini atau paling tidak Wakil Rakyat lah, tidak tidak. Bukan itu kok… Hanya ingin mencari jawaban atas kebingungan saya saja selama ini, yang barangkali juga dirasakan oleh beberapa orang selaku rakyat dari bangsa ini.

PanDe Baik Menyayangkan aksi SaLing SinDir SBY – JK

5

Category : tentang Opini

Semingguan ini layar televisi seakan berubah menjadi sebuah tayangan infotaiment para tokoh parpol negeri ini. Bagaimana tidak, baru saja Bapak Presiden kita mengumumkan atau mendeklarasikan calon pasangan BeLiau kelak saat tampil pada PiLPres mendatang, itu sebagai respon dari aksi curi start yang dilakukan sang Wakil Presiden kita, telah pula mengumumkan pasangannya kelak dan malahan BeLiau ini bakalan maju mencalonkan diri menjadi RI 1.

Maka terjadilah apa yang kalau boleh saya sebutkan, politik yang sangat kekanak-kanakan. Saling serang, saling sikut, saling sindir, mengklaim bahwa diri merekalah yang memiliki peran paling besar dalam membangun negeri ini. Mereka lupa akan kedudukan dan jabatan yang mereka sandang saat ini, keduanya masih merupakan dua ujung tombak bangsa ini.

Pasangan SBY – JK yang bagi saya adalah duet yang paling fenomenal sepanjang sejarah pemilihan Presiden. Bukan apa-apa, tapi duet mereka ini barangkali tidak mampu diprediksi oleh sebagian besar pemilih bangsa ini lima tahun lalu bakalan mampu naik dan memimpin. Ini karena JK bukan merupakan tokoh yang dijagokan oleh induk parpolnya saat itu. Sayangnya begitu duet SBY-JK tampil sebagai pemenang, sang induk langsung merapat dan mengkalim sang pemenang sebagai bagian dari perjuangan mereka. Buktinya JK langsung didapuk sebagai Ketum partai pada periode tersebut.

Belumlah pantas menurut saya jika saat ini mereka melakukan aksi murahan tersebut. Mungkin dalam politik memang tidak ada lawan maupun kawan yang abadi. Tapi sungguh disayangkan apabila kedua pemimpin bangsa ini malahan saling berseteru disaat bangsa masih membutuhkan hubungan erat kedua pemimpin ini untuk menyelesaikan masa jabatan, sesuai ‘amanah’ rakyat saat PiLPres lalu.

Berangkat dari hal diatas, kini saya malahan menjadi pro mendukung Pak SBY untuk mencari pengganti calon Wakil Presiden kelak dari kalangan non Parpol. Terlepas dari siapa orang tersebut dan bagaimana tipe serta tindak tanduk orang tersebut.

Mungkin keputusan ini timbul gara-gara saya sudah kadung patah arang duluan menyaksikan dagelan politik semingguan ini. Belum usai masa jabatan eh sudah saling serang. Yah, lagi-lagi terlepas dari siapa yang salah atau siapa yang mulai duluan, minimal kelak duet pasangan Pemimpin Bangsa ini diharapkan tetap mampu menunjukkan hubungan yang baik antar keduanya, sedari awal hingga masa jabatan berakhir.

Ohya, PanDe Baik memohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tidak berkenan pada tulisan saya kali ini. Bukan bermaksud mendukung atau malah memprovokasi, tapi hanya sebatas mengungkapkan uneg-uneg pribadi atas dagelan politik jelang PiLPres mendatang.

Ngomong-ngomong, kok kasusnya Antasari menghilang yah ?

PilPres sudah Dekat

Category : tentang Opini

Berhubung tanggal sudah ditetapkan yaitu 5 Juli 2009, maka dari itu dipersilahkan bagi calon-calon Presiden yang ingin ikut dalam pemilihan nanti, segera menyiapkan barisan Tim Suksesnya, plus dukungan uang banyak untuk mendatangkan massa, bagi-bagi baju, kunjungan ke desa-desa ato malah mulai mengeluarkan statemen yang berusaha menjatuhkan calon lainnya maupun Presiden yang masih menjabat hari ini.

pemilu.jpg

Silahkan Silahkan… Mungkin Bu Mega mau maju duluan ?