Ketika Tidak Ada Lagi Cinta Diantara Kita

3

Category : tentang Opini

Menarik sekali ketika bisa menyimak pembicaraan terbatas buk ibuk milenial di kendaraan saat meluncur ke arah Denpasar siang hari kemarin, dimana topik yang lagi hangat-hangatnya bisa diperbincangkan dengan kepala dingin dari sudut pandang orang kelima. Yang artinya, bukan siapa-siapa bahkan host infoTAIment sekalipun.

Namun kisah yang kerap terjadi pada banyak orang ini rupanya dialami juga oleh orang-orang terdekat kita, yang dikasihi atau bahkan yang menjadi panutan dan disegani sekalipun.
Kisah Cinta antar dua manusia yang berbeda kelamin tentu saja, namun seiring berjalannya waktu dan usia, menciptakan situasi ketika tidak ada lagi Cinta diantara Kita.

Berbagai analisa dan alasan yang dikemukakan, sesungguhnya belum mampu menjadi pembenaran diantara kedua pihak. Karena memiliki sisi positif dan negatif secara bersamaan. Sama seperti semua cerita kehidupan yang lain.
Tapi jelas yang paling terpukul dari kasus perceraian jika sampai itu terjadi, tidak hanya jatuh pada sang anak yang kelak bakalan diperebutkan hak asuhnya. Namun berimbas pula pada sang Ibu atau pihak perempuan, utamanya jika pernikahan ini dilakukan dalam adat dan budaya Bali ataupun Hindu.

Pemikiran ini muncul lantaran dalam budaya Bali, pihak perempuan harus menjalani prosesi ‘mepamit’ atau mohon ijin meninggalkan keluarga asal, untuk menjadi bagian di keluarga suami, baik secara sekala kepada orang tua, maupun niskala kepada para leluhur dimana ia lahir dan tinggal. Membayangkan posisi yang bersangkutan pasca perceraian tentu akan menjadi gamang, karena tidak bisa ‘dikembalikan’ begitu saja bak meninggalkan barang bekas di pinggiran jalan.

Akan menjadi lebih sulit lagi ketika perpindahan status si perempuan sampai melibatkan soal kultur dan keyakinan. Katakanlah sampai rela mengubah budaya serta agama yang dianut sebelumnya.
Hal ini amat sangat berbeda jauh ketika proses perkawinan dan perpindahan kultur serta keyakinan terjadi dalam kondisi sebaliknya. Si perempuan cenderung disayang dan dijaga betul sehingga kerap menjadikannya memiliki fanatisme yang jauh lebih besar dan lebih dalam ketimbang sang suami yang sudah sejak awal memeluk agama dan budayanya.
Masuk akal.

Jadi teringat pada cerita dari seorang kawan, saat ia berkunjung ke rumah bersama salah satu putranya yang sudah beranjak dewasa. Perkawinannya kandas di tengah jalan.

Akan ada saat dimana tidak akan ada lagi Cinta diantara kita. Diantara dua manusia yang mengikat janji jauh sebelumnya dan berupaya untuk saling setia dihadapan sanak saudara atau handai taulan.
Dan ketika berada dalam situasi ini, yang tersisa hanyalah sebuah komitmen. Sebuah janji yang sebenarnya wajib dan harus kita tepati hingga ajal dan kematian yang akan memisahkan.

Disinilah dua manusia itu akan diuji oleh-Nya atas semua keputusan yang dahulu pernah diambil.

Apakah akan berpisah dengan alasan sudah tidak ada lagi Cinta diantara kita, dengan alasan tidak ada kecocokan, atau dengan alasan bosan dan telah berpaling ke makhluk-Nya yang lebih menggoda ?
Atau akan meneruskan kapal hingga akhir pertemuan ?

Siapa yang tahu ?

10 Tahun Pernikahan

2

Category : Cinta

Komplain.
Istri marah-marah lewat akun whatsapp nya saat saya melupakan hari perayaan 10 tahun pernikahan kami, sesaat setelah tiba di ruang kerja masing-masing.
Meski saya yakin ia tak serius, agak kaget juga saat mengingat ‘eh iya ya, kami sudah 10 tahun menikah rupanya… gak nyangka. Hehehe…’
Saya yakin ia tak serius marahannya lantaran ia sejauh ini sudah pada tahap memaklumi kepikunan akan hal-hal yang terjadi di sekitar kami. Ini satu efek samping tekanan pekerjaan, pimpinan hingga masyarakat dan DPRD selama dua tahun terakhir.

Tapi, eh sudah 10 tahun ya ?

Jika boleh saya mengingat, 10 tahun lalu tepatnya 10 Desember 2005 merupakan sesi terakhir dari tiga sesi persiapan pernikahan yang menghadirkan Made Rai sebagai lawakan bondres saat itu.
Semua masih lekat dalam ingatan. Apa yang disampaikan, hingga apa yang dilewati untuk bisa mendapat persetujuan dari calon Mertua. Satu perjuangan penting tentu saja.

Melewati masa 10 tahun tanpa riak yang dalam, tentu menjadi cerita tersendiri. Karena sesungguhnya pernikahan itu bukanlah menyamakan perbedaan namun lebih pada memaklumi perbedaan dan menyamakan visi kami kedepannya. Harus saling bantu dan membahu untuk bisa sampai disini.
Ada banyak konflik tentu didalamnya. Namun tingginya rasa Cinta yang ada, sepertinya telah mengalahkan semuanya. Marahan itu dijamin ada. Tapi gak pernah bisa lama-lama. Apalagi kini saat anak-anak ada.

Satu dasa warsa pernikahan, kami dikaruniai tiga gadis kecil yang cantik dan nakal. Berbeda tabiat pula. Menjadikan suasana rumah kami sedemikian ramai dan heboh setiap harinya. Tapi tetap disyukuri karena ada banyak keluarga kecil di luar sana yang hingga kini belum diberi kesempatan yang sama oleh-NYA.

10th Anniversary Perkawinan PanDeBaik 2

Perayaan 10 tahun pernikahan kami lakukan di salah satu gazebo di sudut Warung Subak peguyangan pada malam harinya. Tak hanya berdua, tapi bertujuh. Lengkap dengan ketiga anak cantik dan nakal serta orang tua. Orang-orang yang kami sayangi.

Tapi ah, 10 Tahun pernikahan bisa jadi satu rentang wakti yang sangat panjang jika mengingat apa yang sudah dicapai sejauh ini, bisa juga satu rentang waktu yang sangat singkat. Rasanya memang baru kemarin pernikahan itu ya ?

Pernak Pernik Upacara Pernikahan Apakah Hanya Ajang Pamer ?

6

Category : tentang Opini

Saya yakin, judul posting diatas disadari dan diyakini sepenuhnya oleh setiap orang terutama bagi mereka yang kerap mendapatkan undangan menghadiri Pernikahan rekan saat sekolah kuliah hingga kantoran.

Pernikahan sebetulnya adalah satu upacara dimana dua insan manusia diikat dengan norma adat dan agama dihadiri oleh sanak saudara maupun rekan-rekan yang dipercaya dengan kapasitas sebagai saksi Pernikahan tersebut.

Kalau pada awalnya pernak-pernik Pernikahan bisa dikatakan sangat sederhana, ada sarana upacara yang diperlukan, pendeta/orang yang disucikan selaku pemberi restu paling utama sekaligus ‘meresmikannya’, sanak saudara maupun rekan selaku saksi dan ucapan Terima Kasih berupa hidangan.

Kini tampaknya banyak pihak yang mampu memanfaatkan situasi sebuah pernikahan menjadi sebuah tradisi yang mutlak dijalani oleh siapapun mereka, tak peduli berlatar belakang apa. Menjadikan upacara pernikahan sebagai ajang pamer antar keluarga yang menyelenggarakannya, terlepas dari kemampuan finansial mereka. Alasannya sih, toh hanya sekali seumur hidup. ( he… bagaimana dengan artis yang demen kawin-cerai yah ? )

Minimal sebuah Pernikahan biasanya diawali dengan Foto Pre Wedding, yang kemudian hasilnya bakalan muncul pada desain kartu undangan, tentu juga pada foto ukuran besar yang dipajang di sudut-sudut strategis lokasi Pernikahan.

Menjelang hari pernikahan tiba, kedua sejoli dihadapkan pada tahap perawatan, yang biasanya dilakukan ala spa. Pembersihan wajah agar tampak cling saat Pernikahan, hingga perawatan kulit sang calon pengantin.

Persiapan lain seperti pemberian souvenir pada para undangan juga merupakan salah satu hal yang dianggap penting sebagai tanda mata yang tentunya bersablonkan kedua nama mempelai hingga foto mereka.

Tak lupa tenda yang berumbai-rumbai dengan warna putih kini seringkali dilakukan pada upacara pernikahan umat Hindu sebagai pengganti Klangsah (pelepah daun kelapa yang dirangkai berfungsi sebagai atap/penutup halaman). Makin mewah Tendanya, makin megah pula image yang mampu diberikan kepada para undangan nantinya.

Ohya, tak kalah pentingnya dalam sebuah prosesi Pernikahan adalah Hiburan. Dalam Upacara Pernikahan Hindu, biasanya selain nanggap satu paket gambelan, biasanya ditambah pula dengan lawakan sebagai pencerah suasana para undangan yang lelah menunggu puncak acara. He… biasanya ini tergantung siapa yang disewa, harga/tarif yang dikenakan untuk seorang pelawak drama gong /arja muani tentu bakalan beda dengan seorang presenter kondang dalam hal ‘kualitas hidup’.

Tak semua upacara Pernikahan yang diadakan bakalan diikuti oleh Resepsi. Karena biasanya Resepsi diadakan langsung di TKP Pernikahan. He…. kayak tindak kejahatan saja. Biasanya langsung pada hari itu, tapi ada juga yang sebelum maupun sesudah Pernikahan. Tetapi ada juga yang demi sebuah nama ‘GENGSI’, ruang pertemuan sebuah Hotel ternama di daerahnya pun disewa sebagai lokasi Resepsi sang Pengantin. Bahkan ada pendapat seorang rekan yang berharap duluan bakalan dapet amplop lebih (kalo bisa balik modal) dengan jalan yang satu ini plus mengundang beberapa nama pejabat yang mereka kenal. Tak jarang mereka yang menempuh jalur ini malahan tekor dan berhutang. Hihihi…..


Yang paling menjadi porsi biaya terbesar dari seluruh rangkaian upacara Pernikahan, saya yakin sekali menduduki peringkat pertama adalah makanan dalam hal ini sering diambil alih oleh Jasa Catering. Bukan apa-apa, besarnya biaya akan makin membengkak apabila jumlah undangan mereka makin banyak. Syukur kalo hitungannya pas, satu kartu undangan mendatangkan dua orang (satu yang diundang satu lagi perannya hanya menemani, tapi tetep ikut makan). Bagaimana jika satu undangan mendatangkan sebuah keluarga yang lengkap dengan anak-anaknya ? Bagaimana pula jika ada tamu tak diundang ? Bisa-bisa untuk stok yang tersedia bakalan habis sebelum waktunya bubar.

Pengalaman ini pernah saya temukan di satu dua upacara Pernikahan, dimana sang penyelenggara ternyata memesan jumlah porsi makan sesuai dengan jumlah kartu undangan yang disebar. Maka sekian undangan yang tak kebagian jatah makan, hanya bisa menelan ludah sambil berharap-harap cemas. He….

Itu baru dari segi jumlah, belum lagi macam menu yang dihidangkan. Makin modern jenis makanannya makin mahal harga perpaket/porsinya. Makanan yang sekelas hotel berbintang misalnya, udang, tuna
plus sup dan juga hidangan penutup tentu beda harga dengan yang menyajikan lawar, jukut ares dan juga plecing. Hanya saja, sangat jarang (walaupun ada) saya temukan hidangan yang disajikan (jika menggunakan Jasa Catering) adalah menu Lokal. Paling minim, yang namanya es krim (es puter) dijamin ada.

Total Jenderal biaya yang dihabiskan untuk itu semua diyakini minimal kisaran 30-40 juta rupiah. Ini pengalaman pribadi loh, seperti dikatakan oleh beberapa rekan yang telah mendahului menjalani upacara pernikahan, belum lagi setelah mendapatkan penyesuaian harga (baca : kenaikan harga). Tak jarang untuk mempersiapkan sebuah upacara pernikahan, ada yang sampe menjual tanah/mobil hingga ternak mereka untuk menutupi biaya yang dikeluarkan, dan rela bersiap untuk kecewa saat menghitung jumlah rupiah dalam amplop yang didapatkannya, ternyata mendapatkan angka minus. Gak balik modal. He….

So, bagi rekan-rekan yang bakal memutuskan untuk menjalani sebuah upacara pernikahan, ada baiknya dari sekarang mulai mempertimbangkan apa saja yang sekiranya layak dilakukan untuk menekan cost, entah itu tahap Pre Weddingnya, desain kartu undangan yang simpel, tenda yang biasa saja, atau malah lokasi yang nyaman waaupun sederhana, plus hidangan yang sesuai dengan lidah para undangan misalnya.

Saya yakin, tak ada yang bakalan mengingat dan kagum pada sebuah upacara yang mampu diadakan di sebuah Hotel berbintang sekalipun, dibandingkan dengan kepuasan dan kenyamanan yang mampu ditawarkan saat menghadiri upacara pernikahan tersebut. Minimal sambutan yang hangat dari keluarga serta kedua mempelai, saya yakin sudah sangat mampu menghargai undangan yang rela mengorbankan waktu mereka untuk datang dan hadir.

> ini hanyalah sedikit pengalaman PanDe Baik saat melangsungkan Pernikahan akhir tahun 2005 lalu, dengan sebuah upacara yang sederhana, tanpa sebuah aksi Pre Wedding, tanpa kartu undangan dengan foto bergaya ala petani ataupun keluarga kerajaan, tanpa acara resepsi dan tanpa hidangan mewah. Setidaknya apa yang dihabiskan tak sampai membuat kami berhutang. Semampunya saja….. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Tahun KeTiga

6

Category : Cinta

Dear Cinta, gak banyak yang bisa aku ungkapkan hari ini. Berhubung kondisi kesehatanku yang kurang mendukung. Begitu pula kesibukan kita masing-masing yang gak memungkinkan terciptanya suasana mesra seperti yang pernah kita harapkan sebelumnya. Walau begitu, aku yakin kau kan tetap selalu setia menantikan waktu dimana kita bisa saling bicara, disela celoteh putri kita yang kian lucu dan menggemaskan.

Hari ini adalah spesial bagi kita berdua. Karena hari ini tiga tahun lalu, menurut agama yang kita anut, men-sah-kan hubungan yang telah dibina dengan penuh kasih. Karena hari ini tiga tahun lalu, kita akhirnya merasakan jua apa yang orang-orang nantikan dalam hidupnya. Bersatunya dua insan dalam ikatan cinta pernikahan.

Aku tahu tak banyak yang bisa aku berikan padamu tiga tahun ini. Tapi aku yakin bahwa kau akan selalu mengerti bahwa Cinta tak selamanya berupa Materi. Cinta itu ada karena kita inginkan. Cinta itu ada karena kita memang berharap banyak padanya. Cinta itu ada dalam diri Putri kita.

Dear Cinta, hari ini Tahun keTiga Pernikahan kita.

”Kita Begitu Berbeda dalam Semua, Kecuali Dalam Cinta”

> PanDe Baik mengutip kalimat terakhir dari GIE yang sempat tampil pula pada kartu undangan pernikahan kami tiga tahun lalu. Kali ini tanpa iringan lantunan musik, hanya rintik air hujan yang turun sambil menunggu Istri pulang kerja di sore hari yang mendung. Akhirnya membatalkan kuliah lantaran kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar