dari Rest Area lantai 6 Aryaduta Manado

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Aliran listrik sudah dua kali padam seharian ini, cukup bikin kaget untuk hotel sebesar Aryaduta Manado. Akhirnya saya memilih untuk keluar dari ruangan ballroom tempat pertemuan digelar sejak pagi. Masih di acara Sosialisasi Pedoman Audit Interim bersama BPKP.

Agenda malam ini sebenarnya merupakan jadwal besok yang seperti biasanya acara-acara pegawai negeri, dimajukan agar bisa menikmati kota lebih awal, atau sekedar jalan jalan mencari oleh oleh, bisa juga menikmati istirahat pagi lebih panjang. Jadi ceritanya kali ini tahap akhir dari perjalanan sosialisasi audit, yaitu Desk Percepatan Pelaksanaan PPIP yang seharusnya sudah dimulai sejak pukul 18.30 tadi. Akan tetapi hingga waktu menunjukkan pukul 20.05, belum tampak tanda-tanda akan dimulainya acara.

Gag salah juga sih kalo begini kondisinya. Jumlah peserta jadi jauh berkurang, beberapa usai makan malam tampaknya lebih memilih jalan keluar menikmati malam di Manado, sekedar cari oleh-oleh ataupun 3B-nya yang beken itu. He… apalagi ditambah rasa kantuk yang menyerang mata tampaknya makin membuat ruangan ini jadi semakin sepi. Jadi pengen balik kamar dan istirahat… tapi teman sekamar saya kabur kemana ya ?

Penutupan Diklat PIM IV Angkatan V Kabupaten Badung

Category : tentang KuLiah, tentang PeKerJaan

Berakhir sudah seluruh rangkaian Diklat PIM IV Angkatan V Kabupaten Badung yang dilaksanakan per awal Mei 2014 lalu hingga Penutupan 25 September pagi. Lega…

Penutupan 01

Lega karena secara kesibukan, berlalu sudah satu kegiatan yang lumayan menyita waktu dan pikiran selama lima bulan terakhir meskipun tugas yang dibuat gag susah susah banget, lantaran hobi nulis bisa nolong semua itu. Tapi tetep yang namanya perasaan ya sedikit lebih baik lah…

Tapi ngomong-ngomong, sebelum ditutup rupanya ada satu oleh-oleh dari para Widyaiswara yang saya terima sebagai bayaran atas kerja keras dan ketekunan selama lima bulan pembelajaran di Badan Diklat. Yaitu ganjaran Prestasi Istimewa peringkat V, dari 30 peserta yang mengikuti Diklat PIM IV kali ini. Kaget tentu saja…

Penutupan 02

Jadi Terima Kasih saya ucapkan untuk semua Widyaiswara antara lain Pak Sedana Yoga selaku Coach atau Pembimbing selama lima bulan ini, Pak Nyoman Sukamara selaku penguji pada Seminar BT2, Ibu Luh Pani sebagai penguji pada Seminar RPP, Ibu Anny yang mengingatkan saya akan kecerobohan, ketidaktelitian dan keterburu-buruan saya selama ini, sempat nyengir juga kalo inget inget sesi tersebut, dan Bunda Dhamanik yang selalu memberi semangat. Pak Partha, Dokter (duh lupa namanya) almarhum yang mengajarkan saya untuk selalu Romantis pada istri, dan lainnya… Terima Kasih banyak. Tidak lupa untuk jajaran di Badan Diklat atas tempat tidur yang nyaman selama pembelajaran, ibu-ibu di ruang makan yang setia menunggui kami hingga sore dan malam hari, juga Atasan sekaligus Mentor, Ibu Arinda atas masukan dan petunjuknya, Ibu Dessy untuk Semangatnya, Istri dan dua putri atas support penuh dan hiburannya… Terakhir tentu saja Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk anugerah-Nya.

Penutupan 07

dan Sebagai wujud syukur atas semua pemberian itu, usai Penutupan Diklat, sayapun memutuskan untuk membagi sekantong darah pada yang membutuhkan, Donor Darah yang ke-43 kalinya, di PMI RS Sanglah. Semoga semua ini kelak mendatangkan Kebaikan untuk kita semua. Salam Hangat dari Pusat Kota Denpasar.

Ujian Seminar Laboratorium Kepemimpinan Instansional

Category : tentang KuLiah

Akhirnya… sampai juga kami semua di sesi Ujian Seminar Laboratorium Kepemimpinan Instansional, pada hari Selasa 23 September 2014, di ruang belajar Cempaka Badan Diklat Provinsi Bali. Dan berikut beberapa rekaman lensa dari Kelompok 2, yang dikawal oleh Coach Bp. I Made Sedana Yoga, ST., MSi dan Penguji Bapak N Sukamara, CES.

Pertama dari Ibu Rai Sukarini, Kepala Sub Bagian Keuangan Badan Pelayanan dan Perijinan Terpadu.

RPP 01

Kedua, dari Bapak Ida Bagus Caniscahyana, Kepala Sub Bagian Umum locus yang sama.

RPP 02

Ketiga ada Bu Putu Nugraheni, Kepala Sub Bagian Humas Sekretariat DPRD.

RPP 03

Keempat ada Gus Tole atau Adi Wiryantara, Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT Terminal Type A Mengwi, dari Dinas Perhubungan dan Informatika. Disambung oleh Ida Bagus Sudiyadnya, Kepala UPT Lalu Lintas dan Angkutan Badung Selatan, locus yang sama.

RPP 04

Berikutnya Bapak Kadek Prastikanala, Kepala Seksi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana RSUD Badung.

RPP 06

Peserta keTujuh ada Pak Ketut Nadu Kepala Bagian Operasional Dinas Kebakaran. Lanjut Pak Ketut Mudja, Kasubag TU pada UPT Dinas Kebakaran Badung Utara.

RPP-07

Jeda Makan Siang, sesi kedua peserta selanjutnya ada www.pandebaik.com aka Pande Nyoman Artawibawa, Kepala Seksi Permukiman Dinas Cipta Karya dengan Pengendalian Data Teknis Jalan Lingkungan.

RPP 09

Dan Terakhir sebagai penutup sesi Ujian dari Kelompok 2 ada Bapak Wayan Adi Sudiatmika, Kepala Sub Bidang Sarana dan Prasarana Wilayah Bappeda Litbang.

RPP 10

Well, demikian rekaman lensa yang dapat disampaikan untuk hari ini, semoga esok bisa memberikan hasil yang baik.

Noted… 28 Agustus 10.00 PM GA422 Seat 48A

Category : tentang DiRi SenDiri

Terkadang aku berpikir bahwa tak sekalipun aku pernah berharap atau meminta bahkan mengemis akan apa yang aku jalani hingga hari ini. Semua hadir begitu saja, dan bisa jadi inilah jalan yang harus aku lalui…

Maka akan sangat menggelikan sekali jika kemudian mereka menganggapku telah merebut impian yang mereka harapkan¬† sejak dulu…

Semua memang terlihat indah di permukaan. Tapi apakah mereka mampu memahami gejolak yang terjadi didalam ?

Jalan ini takkan pernah mudah untuk dilalui, Teman…

Kegelisahan ini, 28 Agustus 2014 10.00 PM, GA422 Seat 48A

Pagi di Losari Blok M

Category : tentang PLeSiran

Dibandingkan dengan akomodasi yang pernah saya tempati selama berkunjung ke Jakarta baik untuk kepentingan Dinas atau lainnya, ini kali kedua saya mampir dan menginap di Hotel Melati. Kalo gag salah ya…

Losari Blok M merupakan sebuah hotel yang terletak di pinggiran jalan besar. Tepatnya di tikungan jalan, dengan penampilan luar lebih mirip gedung kantir namun dalemannya bersuasana rumah tinggal. Model kamar yang saya tempati inipun lebih mengarah seperti kamar tidur yang saya miliki. Sederhana. Jadi gag banyak penyesuaian yang dilakukan sejak tiba tadi malam. Langsung beranjak tidur setelah merapikan semua bawaan.

Dulu waktu masih belajar di LPSE, pernah juga merasakan suasana ini. Kalo gag salah pas mengantarkan para pemegang kebijakan melihat LPSE Jawa Barat yang kami jadikan acuan sejak awal. Para pemimpin masuk Hotel berbintang, kami sisanya masuk di Hotel Melati. Jauh lebih nikmat sebetulnya jika menginap di kelas hotel begini, gag harus risih dengan aturan gag tertulis di hotel. Biasa aja…

rps20140828_172207

Saya memempati kamar 211, di lantai 2. Mengambil kamar Superior dengan dua single bed, dipesan berhubung kamar Standard penuh fully booked. Dengan biaya sekitar 558 ribu per malam, Losari Blok M akhirnya jadi pilihan saya atas rekomendasi inspirator di LKPP, Bapak Ikak Patriastomo, setelah bertanya pada posting media sosial FaceBook, sesaat setelah duduk beristirahat di ruang tunggu Gate 20 Bandara Ngurah Rai malam kemarin.

Bagaimana situasi Hotel lainnya, bentar saya lanjutkan. Ini masih bertapa sebentar tapi belum jua menghasilkan. *uhuk

Petualangan Pertama Menjejak Jakarta… Sendirian…

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Perlu waktu 36 tahun rupanya untuk bisa melakukan pertualangan ini sendirian. Kali pertama saya meninggalkan keluarga tanpa ditemani seorang kawan, melintasi cakrawala bersama Garuda Indonesia. Kamis, 27 Agustus 2014.

Perjalanan ini sungguh sangat mendadak keputusannya. Pagi tadi Ibu Kepala Dinas menyampaikan informasi terkait undangan dari Kementerian Pekerjaan Umum… dimana disposisi sebagaimana tertera dihalaman terdepan, adalah Hadir, ditujukan kepada Kepala Dinas. Namun karena Beliau berhalangan, maka mau tidak mau harus ada seseorang yang berangkat dan mengikutinya. Demi kepentingan Dinas.

Awalnya sih saya menolak. Alasannya sederhana. Saya belum pernah melakukannya. Terbang ke Jakarta sendirian. Menghadiri acara resmi di tempat yang barangkali lebih pantas diikuti oleh jajaran Eselon II. dan tanpa rencana. Yang saya pikirkan hanya satu. Menginap dimana.

Angan-angan sih berencana Pulang Pergi sehari, pagi sampai, trus numpang kencing di Jakarta, malam balik lagi ke Bali. Langsung buyar pas dapat kepastian kalo tiket pesawat pagi penerbangan pertama, fully booked. Maka alternatif kedua ya terbang malam ini juga. Alamat buruk nih, bathin saya.

Bagaimana tidak, persiapan apapun saya belum punya. Dari Surat Tugas, bahan materi hingga yang paling urgent ya Tiket Pesawat dan Akomodasi. Tapi ya sudahlah. Nekat aja, toh masih di lingkup Bali dan Jakarta. Anggap saja belajar.

Maka jadilah setelah Tiket dikantongi, menggunakan dana pribadi berhubung dana talangan belum siap, kemudian Surat Tugas ditandatangan namun belum berisi stempel, bahan materi abaikan dulu berhubung materi juga tergolong baru, dan Akomodasi, nantilah sambil jalan.

Setelah berkemas dengan membawa satu baju ganti, sisanya apa yang terpakai di badan, ditambah beberapa item perlengkapan wajib menginap, saya meluncur ke Bandara Ngurah Rai memanfaatkan Taxi Bali seperti biasanya. Gag ingin merepotkan banyak orang pokoknya.

Tiba di Gate 20, keberangkatan Domestik pada pukul 20.30 wita, cukup banyak waktu untuk berkabar dan hunting Hotel. Setelah mendapat Rekomendasi dari pak Ikak Patriastomo, inspirator saya yang dahulu bertugas di LKPP, salah satu hotel terdekat Kementerian adalah Losari Blok M. Hotel Melati yang berada di pinggiran jalan besar, sebelahnya M Point. Ya sudah, di Booking saja mengingat jam tiba di Jakarta juga sudah tengah malam. Tanggung kalo mau cari cari lagi.

Yang unik, begitu turun dari Bandara, saya menghampiri konter GoldenBird. Sempat keder juga baca Executive Class and Bussiness Car Rental, mengingat saya bukan masuk golongan itu. Tapi sudah kepalang basah, sisa itu saja yang tampak masih ada petugasnya, sementara belum pede mencoba Taxi luar, ambil porsi kendaraan Innova, termurah dari pilihan yang ada. Begitu Deal dan Bayar, kendaraanpun disiapkan. Tapi berhubung Innova ternyata Kosong di Bandara, maka kendaraan pun di Upgrade menjadi Alphard. Namun tetap dengan harga Innova. Wah… kapan lagi *uhuk

Maka, inilah Petualangan Pertama Menjejakkan Kaki di Jakarta. Sendirian… *berdiri dengan gaya Shincan dan Pahlawan Bertopengnya…

Mungkin Memang Sudah Jalannya

Category : tentang Opini

Gag terasa setahun lewat sudah saya berada di Permukiman. Area yang dahulunya kerap saya keluhkan akibat dari jenis pekerjaan yang sama sekali sulit saya kuasai, pun hingga kini ada juga beberapa hal yang masih terasa terasa bingung untuk dilakoni. Tapi ya bersyukur, selalu ada saja cara untuk bisa memahami itu semua tanpa harus bersimbah darah terlebih dulu.

Saya memang meyakini, bahwa Tuhan gag akan memberikan beban yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Sehingga dalam perjalanan rasanya memang patut disyukuri, hingga semua kesulitan satu persatu kini mulai bisa diatasi.

Ada juga perubahan yang saya rasakan selama setahun ini. Baik secara hati maupun lingkungan. Entah benar atau tidak, minimal ya begitu yang dirasa.
Persoalan komunikasi, awalnya memang sulit. Tapi dengan mengakui dan berusaha mengedepankan kepentingan bersama, komunikasi yang dahulu masih ragu untuk dijalankan, kini perlahan mulai mengalir, meski keraguan itu terkadang masih ada saat semua sudah berjalan. Wajar gag sih ya ?

Memimpin tentu saja tidak mudah. Minimal untuk dapat mewujudkan hal itu, kita juga harus bisa memberi contoh teladan. Tapi ya memang agak susah mengingat secara usia, lingkungan saya jelas jauh lebih matang. demikian halnya jika sudah bicara soal kewajiban.

Soal Rejekipun, saya yakin gag akan kemana kalau itu memang sudah jalannya. Satu persatu lubang rejeki itu hadir, saling menggantikan, jadi gag sampai berlebih. Cukup untuk hari ini dan cukup untuk bulan depan. Bagaimana hari tua pasca pensiun, saya masih saja memikirkan itu sejak kini.

Setahun itu gag terasa ternyata. Dan sudah setahun pula saya merindukan kehadiran kakak almarhum yang tentu saja hanya bisa diingat lewat kenangan, foto dan juga videonya yang masih kami simpan hingga kini. Entah ada rasa menyesal jika saja dulu kami bisa membalikkan waktu dan mencegahnya lebih awal. Tapi siapapun saya yakin tak akan mampu melakukannya. Jadi ya pasrah dan hidupkan kenangannya.

Ingat Rejeki, kadang jadi ingat kakak saya itu. Dulu saat pintu rejeki masih mengintip alias pas-pasan, ada kehadiran kakak yang banyak membantu. Meski sudah ditolak, tapi bantuan itu tetap saja hadir. Mengatasnamakan putri kami biasanya. Dan kini, saat ia sudah tiada, mungkin memang Tuhan membukakannya pada kami sedikit lebih lebar, jadi apa yang dahulu terjadi kini tetap berjalan meski lewat cara lain.

Mungkin memang sudah jalannya… ya pasrah, berserah pada-Nya. Kita tinggal bekerja sesuai tugas dan kewajiban, melewati masa dan waktu, hingga saatnya tiba nanti kan berganti.

‘Satu-satu… daun berguguran… jatuh ke bumi… dimakan usia… tak terdengar tangis… tak terdengar tawa… redalah… reda…’

Siap Siap Karantina

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Dokumen Renstra… sudah. DP3… sudah. SK Jabatan Terakhir… sudah. Pas Foto… sudah. Tinggal Baju putih¬† setelan Celana hitam yang belum… eh iya… dasi hitam… wah… kemana yah ?

Dalam waktu empat hari kedepan, sesuai surat yang disampaikan dari Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Badung akhirnya terpanggil juga untuk mengikuti Diklat PIM IV di Balai Diklat Provinsi Bali jalan Hayam Wuruk Denpasar. Bersyukur dapatnya cepat. Terhitung tepat setahun berada di Dinas Cipta Karya sejak promosi ke kursi Kepala Seksi Permukiman di Dinas Cipta Karya Kabupaten Badung.

Makin bersyukur lagi saat tahu bahwa lokasi Diklat tergolong dekat dari rumah. Jadi kalo lagi kangen anak istri, tinggal kabur sebentar atau minta mereka yang main kesitu. Hehehe…

Infonya pola Diklat PIM IV kali ini masuk yang paling baru, gres… fresh from the oven… atau apalah… yang gosipnya merupakan pola paling lama dan berat.

Kalo dipikir-pikir ya wajar juga sih, wong kerjaan jadi Kepala Seksi itu juga tergolong paling berat karena berada di titik sentral. Antara keberadaan Staf dengan pimpinan diatasnya, juga Antara Wakil Rakyat dan Rakyat yang diWakilkan. *eh ini serius lho pak…

Kisah kenapa kenapa nya sih saya yakin di tulisan terdahulu ada semua. Jadi ya bisa dikatakan setelah berada di lokasi sama selama setahun lebih 2 hari ya mulai terasa iramanya. Tinggal melengkapi langkah terdahulu dan menambahkan inovasinya sedikit demi sedikit.

Terhitung Senin tanggal 5 Mei nanti, saya bakalan masuk kandang. Di-karantina. Semoga nanti gag ada istilah dukung-dukungan SmS untuk menentukan ranking agar tak ter-Eliminasi… bisa-bisa saya pulang narik koper. *uhuk *halah

Masuk Kampus’ begitu sih istilah yang digunakan dalam Surat yang diberi, dan itu berlangsung sebulan lamanya minus hari Minggu, Libur tanggal Merah, Galungan, Kuningan, rahinan *eh kok minta banyak sih… trus diselingi seminggu ‘off campus’ alias balik kantor dan kembali lagi untuk sebulan kedepannya. Kalo gag salah sih bakalan sampe 5 bulan lamanya harus hidup begini… Sampe bulan September. Mimih…

Tapi ya Sudah… SIM tentu harus dimiliki apapun resikonya berhubung selama setahun kemarin saya diminta narik bajaj dengan 12 penumpang tanpa punya Surat Ijin-nya. Jadi ya musti dilakoni mau gag mau…

Jadi ya… tunggu aja bagaimana ceritanya nanti. Semoga bisa diceritain sambil belajar… setidaknya bisa jadi bahan Update Posting Blog di tengah rendahnya daya ingat dan melahirkan ide serta waktu buat menuangkannya. *ngeles *dasar blogger