Masih Terbawa Mimpi

Category : tentang PeKerJaan

Antara sadar atau tidak, semua kerjaan itu seakan hadir menyeruak diantara aktifitas yang ada dalam mimpi. Mengingatkanku untuk selalu waspada dalam setiap langkah seakan enggan menyia-nyiakan waktu luang yang ada di awal tahun 2017 ini.
Satu hal yang buruk terasa sekali dalam pikiran.
Satu ekspresi antara keengganan untuk beranjak atau mungkin belum siapnya untuk berpindah pekerjaan.
Entahlah…

Tiga setengah tahun menangani Jalan Lingkungan, bisa jadi hanyalah sebuah waktu yang sekejap mata baru saja terlewatkan.
Namun bisa juga merupakan perjalanan panjang yang melelahkan jika kalian mengalami semua tantangan yang ada didalamnya.
Termasuk semua hiasan baik dan buruknya.

Maka ya wajar saja apabila semua rutinitas itu selalu hadir dalam mimpi tidur panjangku.
Baik pemeriksaan lapangan, ataupun koordinasi untuk mengingatkan semua staf agar bergegas mengumpulkan pekerjaan di hari Senin nanti, dan bisa dieksekusi lebih lanjut bersama-sama.

Jadi terhenyak saat mata terbuka.
Pikiran seakan berusaha meyakinkan dunia nyata.
Fakta yang ada.
Bahwa aku telah masuk masa pensiun dari Jalan Lingkungan.
Semuanya.

Ada rasa kecewa, kangen, dan juga gembira.
Bahwa aku telah melewati semuanya.
Entah dengan kesan baik ataupun buruk.
dan kini harus bersiap diri mengahadapi tantangan baru yang memiliki tensi lebih rendah dari pendahulunya.

Menanti Putusan Rotasi Staf

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Weekend kali ini rasanya memang sedikit lebih lama dari biasanya.
dan Hal ini nda hanya saya sendiri yang merasakan. Tapi juga beberapa kawan yang deg deg an menanti putusan pimpinan terkait rotasi staf di lingkungan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Badung.

Sedianya dilakukan mulai 2 Januari lalu.
Hari pertama ngantor pasca perpindahan seluruh eselon, baik yang tetap berada di tempat tugasnya semula, pindah ke skpd lain ataupun bertugas di skpd baru sesuai usulan OPD tempo hari.
Yang sayangnya harus molor seminggu lantaran kesibukan dan juga pemindahan ruangan dan arsip, berhubung dengan adanya OPD baru ini, bidang termasuk semua dokumen yang mengikutinya musti menyesuaikan dengan penempatan tugas baru nantinya.

Saya sendiri kini menempati ruangan yang dahulu digunakan oleh kawan kawan Bidang Pertambangan. Cukup luas untuk menampung tiga Kepala Seksi beserta staf yang kelak ditugaskan, beserta Kepala
Bidangnya, plus sebagian Arsip yang dipandang perlu.
Ruangan ini berada di lantai 2 sisi utara, masih di gedung yang sama.

Meja kerja, saya memilih yang ada di pojokan timur. Meja yang dahulunya ditempati senior semasa prajabatan cpns tahun 2004 lalu, memiliki pandangan yang searah ke seluruh ruangan.
Semacam meja pemantauan di ruangan tersebut.
Mirip dengan posisi meja kerja di ruangan saya terdahulu, bedanya suasana yang tercipta jadi sedikit lebih gelap lantaran minimnya bukaan cahaya di dinding sekitarnya.

Ada 12 orang staf yang membantu saya melaksanakan tugas dan aktifitas harian selama tiga setengah tahun terakhir ini. Dua diantaranya berstatus diperbantukan dari Seksi lain, yang sudah saya anggap sebagai Staf sendiri baik dari segi pembagian tugas maupun hak masing masing.
Tiga diantaranya berusia lebih muda dari saya. Sisanya jauh lebih tua.
Menjadi beban tersendiri untuk bisa bekerja sama dengan mereka semenjak tiba di ruang Permukiman, bulan Mei tahun 2013 lalu.
Berusaha menjadikan hubungan Atasan dengan Staf selayaknya Teman Kerja setara, sepertinya ampuh meleburkan semua kepentingan yang ada, bahu membahu meski masih ada cerita suka dukanya, juga mangkel mangkelnya.
Tak lupa bersikap adil dengan semua tanpa mengedepankan ego pribadi sebagai atasan.

Esok, semua kelihatannya akan berakhir sementara.
Menanti putusan rotasi yang kabarnya khusus ruangan kami akan dipecah menyebar mengingat secara tugas, dahulunya kamilah yang mengeksekusi kegiatan yang kini dikelola PRKP. Mungkin sebagai bentuk reward atas hasil kerja selama ini, atau mungkin juga semacam bentuk hukuman karena kami tergolong Staf yang terbandel sejauh ini.
He…

Dukung Pencegahan Kumuh Kotaku, Badung Gelontorkan 235 M Tahun 2017

Category : tentang Buah Hati, tentang PeKerJaan

Dalam upaya mengentaskan salah satu dari 7 indikator persoalan terkait permukiman kumuh, Kabupaten Badung melalui skpd teknis Dinas Cipta Karya tampaknya ingin bahu membahu dengan program kegiatan Kotaku yang dicanangkan oleh Dirjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menurunkan sejumlah paket kegiatan yang akan dilaksanakan dengan menggunakan dana APBD tahun Anggaran 2017 sebesar 235 Milyar rupiah untuk 55 desa/kelurahan di kabupaten Badung.
Hal ini merupakan satu wujud komitmen Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Badung kedepannya, terutama yang mendukung peningkatan perekonomian secara langsung.

Adapun bentuk kegiatan yang telah dianggarkan sedemikian besar adalah berupa paket peningkatan jalan lingkungan permukiman dan perumahan, yang menjadi akses utama masyarakat di Kabupaten Badung dengan menggunakan bahan perkerasan paving natural berkekuatan K.225. Ini dipastikan oleh Kepala Seksi Permukiman Dinas Cipta Karya, Pande Nyoman Artawibawa yang ditemui di ruang kerjanya, berdasarkan pembahasan RAPBD bulan November lalu dengan kisaran nilai pagu sekitar 250 juta hingga 16 Milyar rupiah per paket kegiatannya.

Sementara Kepala Dinas Cipta Karya, Putu Dessy Dharmayanthy menyatakan bahwa proses pelaksanaan anggaran yang telah diplot sebesar 235 Milyar rupiah tersebut nantinya akan dilakukan oleh Bidang terkait sesuai dengan perubahan Organisasi Perangkat Daerah yang sedianya dilakukan pada awal tahun 2017 mendatang. Harapannya adalah bahwa dengan dianggarkannya upaya perbaikan dan peningkatan jalan serta gang di lingkungan perumahan serta kawasan permukiman, dapat mengubah kondisi infrastruktur di sejumlah desa dan kelurahan di lingkungan kabupaten badung menjadi lebih baik demi mendukung program kegiatan pencegahan lingkungan kumuh Kotaku.

* * *

Masih menyinggung soal bahan NewsLetter program kegiatan Kotaku, postingan diatas pun saya siapkan untuk edisi #3 sebetulnya. Cuma bisa aja diturunkan lebih awal di edisi #2 apabila wacana menambah jumlah halaman sesuai permintaan Pusat jadi diakomodir oleh Askot kami. Semoga tidak. Hehehe…

Lumayan bingung juga soale kalo itu benar, wong mengurusi halaman blog ini aja, ngisinya dah mulai kembang kempis, apalagi jadi kontributor sekaligus editornya NewsLetter Kotaku ? Bisa kacau nantinya…

QG 153, Harris 523 dan 804

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Tadinya saya berencana bisa melawat ke Jakarta untuk bisa melihat semua kemajuan yang sudah dihasilkan pada masa kepemimpinan Gubernur ‘Penista Agama’ Ahok dengan cara liburan bersama, dengan harapan bisa lebih santai dan menikmatinya.
Terakhir dinas terkait Kotaku, keknya aksi tersebut ndak maksimal bisa saya lakukan. Kalo ndak salah waktu itu proses pembahasan materi berlangsung hingga sesi malam. Jadi, ndak sempat kemana-mana.

Pagi ini saya sudah nongkrong di depan counter check-ins pesawat Citilink, kode penerbangan QG 153. Agenda berangkat berkaitan dengan upaya pemanfaatan dana DAK Bidang Perumahan dan pembahasan Draft Ranperda RP3KP Kabupaten Badung, mendampingi dua pimpinan.

Dari beberapa barang bawaan, rupanya saya kelupaan kacamata item minus yang biasanya saya selipkan untuk be’gaya saat luang di tujuan, dan sendal big size yang lupa dimasukkan saat mengganti tas ransel agar lebih ringan digendong. Ya sudahlah… Toh ini perjalanan hanya sehari. Harapan saya tadinya bisa membawa ‘bekal’ sedikit lebih ringan lagi.

Waktu menunjukkan pukul 8.45 WIB saat pesawat mendarat di bandara Halim Perdanakusuma. Meleset sekitar 25 menitan dari jadwal yang tertera pada boarding pass. Ini karena saat keberangkatan tadi, maskapai menyatakan penundaan lantaran agenda terbang terlampau ramai.

Setelah sarapan pagi di Soto Kudus Blok M, kamipun tiba di Kementrian PUPR dan diterima oleh Bapak Budiono, Koordinator Bidang Permukiman yang memandu proses diskusi terkait rancangan Peraturan Daerah RP3KP Kabupaten Badung yang menurut Beliau, merupakan generasi pertama yang berupaya menyusun pasca amanat undang-undang. Sementara Kementrian PUPR sendiri baru akan memprioritaskan bimbingan terkait penyusunan RP3KP pada Tahun 2017 mendatang. Ealah…
Meski demikian, agenda yang sedianya kami bagi menjadi dua sesi, akhirnya terjawab pula pada sesi yang sama dengan mendatangkan narasumber tambahan dari lantai 5 Kementrian, berkaitan dana DAK Bidang Perumahan.

Untuk menginap, awalnya pimpinan menjatuhkan pilihan di Harris Hotel Tebet, dan sudah melakukan proses booking. Entah bagaimana ceritanya selama 1,5 jam, Beliau berupaya mencari alternatif hotel lain dan hasilnya rata-rata menyatakan fullybooked. Maka ya kembali ke pasal 1. He…

Pengalaman Pertama sekaligus lucu campur kaget, saya alami ketika mendapati Kamar 523 sudah terisi orang, lengkap dengan barang bawaan dan interior yang masih berantakan. Eits… Untung ada mas CS yang lagi bersihin kamar sebelah. Setelah dijelaskan permasalahannya, saya dirujuk ke kamar King’s Size disertai permintaan maaf dari pihak Hotel.
Kamar ini jauh lebih besar ketimbang kamar di awal tadi.

Maka disinilah saya melewati malam penatnya Ibu Kota Jakarta, pasca mual dan pening yang dialami sepanjang perjalanan tadi. Setelah menelan sebutir promaag dan Neuralgin, keknya saya masih perlu pijat refleksi malam ini…

RTLH MBR RTM

Category : tentang PeKerJaan

Semua berawal dari program Sejuta Rumah yang dicanangkan pak Jokowi saat Beliau dipercaya memegang jabatan tertinggi di negara ini, melalui tangan Kementrian Perumahan Rakyat yang kini telah bergabung dengan Pekerjaan Umum. Satu amanat besar utamanya bagi kami yang bertugas di daerah untuk bisa mengawal kebijakan tersebut dengan baik.
Begitu garis besarnya.

Lalu apabila kalian kemudian kebingungan membaca judul postingan kali, ya wajar. Karena kalian bukan merupakan bagian yang mengurusi atau menindaklanjuti itu semua.
Saya pribadi baru ngeh setahun terakhir.

Adalah Provinsi Bali, yang intens mengundang kami dalam pertemuan berskala kecil maupun besar di Hotel Grand Santhi, demi membahas satu demi satu agenda kerja dalam upaya mewujudkan sebagian kuota yang diberikan terkait Program Sejuta Rumah.
Sebagaimana halnya pagi ini.

pande-baik-rtlh

RTLH atau Rumah Tidak Layak Huni, adalah sasaran utama yang harus kami rangkum dan catat di masing-masing daerah, serta dituntut sudah BNBA atau ‘by name by address‘ untuk mencegah kesalahan pemberian bantuan kedepannya.
Adapun Kriteria yang ditentukan untuk menemukan data RTLH ini adalah dengan melakukan verifikasi MBR atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah, yang salah satu item penentunya adalah jumlah penghasilan perbulannya. Berada dalam rentang 600ribuan hingga UMK Nasional atau sebesar 4,5 juta.
Ha ? Kalian masuk dalam kelompok ini ?
Sama.
Kita sama kok. He…

Pendataan dan Pencatatan RTLH ini kelak akan menjadi basis data pemberian bantuan Program Sejuta Rumah, khusus yang ditangani oleh Kementrian PU PERA, dimana Kabupaten Badung hanya mengajukan usulan BSPS atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya pada jenis Peningkatan Kualitas saja. Bahasa sederhananya, mengusulkan Bedah Rumah.
Hal ini diputuskan mengingat usulan bantuan rumah sebagaimana disampaikan dalam peraturan terkait, rata-rata mewajibkan Pemerintah Daerah menyediakan lahan baru bagi calon masyarakat penerima bantuan.
Sementara bisa dikatakan harga jual tanah atau lahan di Kabupaten Badung amat sangat tinggi jika dibanding kabupaten lainnya.

Sayangnya, belum semua pemerintah daerah Kabupaten di Provinsi Bali ini, siap dengan data RTLH yang BNBA. Sejauh ini baru Karangasem, Buleleng dan Tabanan saja yang sudah menyampaikan usulannya sehingga menjadi prioritas penanganan tahun 2016 ini dengan memanfaatkan dana APBN.
Kabupaten Badung sendiri hingga hari ini masih berstatus On Progress.

Dari 2009 data Rumah Tangga tersisa dalam daftar RTM atau Rumah Tangga Miskin, yang dirilis oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung, terpantau sekitar 497 Rumah Tangga yang sudah diverifikasi lebih lanjut, masuk dalam daftar calon penerima bantuan BSPS diatas atau tercatat sebagai RTLH Tahun 2016 ini.
Dimana daftar RTM sebagaimana disebutkan diatas, biasanya digunakan sebagai data awal pendataan RTLH lantaran sudah pasti dimiliki oleh masing-masing daerah/Kabupaten. Daftar ini sedianya digunakan untuk menyalurkan bantuan Beras untuk Masyarakat Miskin serta bantuan BSPS atau Peningkatan Kualitas atau Bedah Rumah yang ditangani oleh Kementrian Sosial tentu dengan bantuan Dinas Sosial.

Nah, berdasarkan data sebanyak 497 RTLH inilah tugas kami selanjutnya adalah melakukan input kedalam sistem database RTLH milik Pemerintah Pusat, serta memilahnya lebih jauh untuk bisa diajukan penanganannya dengan memanfaatkan dana APBN (minimal 30 RTLH per Desa), DAK (dibawah 30 RTLH per Desa) atau APBD (masih dikaji lebih lanjut terkait besaran bantuan per RTLH penerima bantuan).
dan Agenda kerja hari ini, salah satu fokus pembahasan kelihatannya ya berkaitan dengan tugas diatas.
Bagaimana kelanjutannya, nanti akan dikabarkan kembali.

Dari Kamar 560 Grand Sahid Jakarta

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Damn ! Saya bangun kesiangan hari ini.

Tapi errr… enggak juga sih sebenernya.
Karena meski jam menunjukkan angka 6.35, sesungguhnya dikonversi ke waktu Indonesia bagian Barat alias Jakarta, ini artinya masih di pukul 5.35… masih pagi. Masih ada banyak waktu hingga pukul 8, di Puri Agung Sahid guna melanjutkan sesi kedua Sosialisasi Nasional Kotaku, Kota Tanpa Kumuh.

Pemindahan lokasi ke Grand Sahid sementara jadwal dalam surat tertera Hotel Ambhara, kelihatannya diakibatkan oleh melonjaknya jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan Dirjen Cipta Karya kali ini sehingga memaksa Panitia musti extra keras menangani. Baik secara penginapan maupun hal lain yang melingkupinya.

Namun keseluruhan kelihatannya fine fine aja kok pelaksanaan Diskusi Kelompok yang punya pola mirip Diklat PIM IV tempo hari. Termasuk persoalan makan siang yang turun derajat. Hehehe… tapi ndak apa, semua bisa disesuaikan kok.

Hanya berhubung suhu ruangan akibat AC sentral dalam meeting room tergolong duingin, saya sempat mengalami sakit kepala jelang makan siang, yang langsung dihantam dengan sebutir Nueralgin plus istirahat setengah jam sebelum kembali bergabung dan melanjutkan sesi diskusi.

Proses hari ini selesai lebih awal. Namun karena ndak ada agenda jalan-jalan, waktu luang yang tersisa dimanfaatkan untul beristirahat di kamar 560. Plus memesan layanan Room Service terkait makan malam, lantaran Dinner bagi peserta #SosnasKOTAKU ini ndak masuk dalam agenda hotel. serta membatalkan rencana untuk ikutan Pijat Bersih Sehatnya Grand Sahid di lantai 3 yang kemarin dah sempat dicobain sekali.

Jujur aja, secara pikiran malam ini, saya jauh lebih capek ketimbang sebelumnya. Karena beban akan pekerjaan kantor serta ‘ancaman’ akan pemeriksaan Tipikor sepertinya akan kembali menghiasi hari demi hari saya kedepannya.

Well, kelihatannya saya memang membutuhkan lebih banyak istirahat hari ini. dan kelihatannya pula, Gula Darah saya bakalan naik dalam waktu dekat.
Doakan agar bisa balik ke Bali dalam kondisi sehat ya.

*

Eh iya, untuk kalian yang pengen tau bahasan seharian tadi terkait apa saja, bisa pantau di akun twitter @pandebaik atau di tagar #SosnasKOTAKU
dan doakan pula agar besok bisa Tweet Live lagi agar bisa tuntas laporan notulen ke pimpinan nanti pas balik ngantor. Hehehe…