PERAKIT BOM

Category : tentang KeseHaRian

Menyiasati waktu antre saat mengantarkan Bapak periksa ke Klinik Karsuneka, di jl. Suli, sempat membaca 3 majalah yang bobotnya lebih berkualitas dibanding jika membaca majalah teknologi, yang ringan dan menggembirakan hati, tapi tidak untuk kantong dan dompet. Hehehe…Majalah Gatra, edisi awal 2005.
Mengambil tema ‘Catatan Harian Seorang Perakit Bom’, yang kali ini bukanlah membahasan sang Imam Samudra yang katanya dihukum mati, tapi masih hidup hingga hari ini, ato si Amrozy yang masih suka cengar-cengir seakan tidak pernah terbebani akan penderitaan yang dialami oleh korban bom Bali I.

Seorang Jabir alias Gempur banyak menuturkan hari-hari yang dilaluinya lewat sebuah buku harian, ditulis degan gaya dan bahasa anak muda. Secara keseluruhan bertema perenungannya terhadap makna Jihad.
Sebagai seorang umat agama yang percaya bahwa Jihad dapat memberikan jaminan untuk masuk surga dan dikelilingi bidadari, tentunya dipastikan menutup mata akan pedihnya kehilangan keluarga dan itu semua dapat menimbulkan amarah juga dendam yang berkepanjangan bagi umat tertentu lainnya yang mungkin saja tak sepaham dengan sang Perakit Bom.

Ini tentu akan menimbulkan satu ketegangan massa, seperti halnya Poso dan Ambon.
Saling membalas perbuatan musuh.

Api bersyukur umat Hindu di Bali, masih meyakini bahwa Keadilan Tertinggi terletak pada-Nya. Jika memang sang Perakit Bom menghancurkan tidak saja satu dua nyawa korban ledakan, tapi juga seluruh perekonomian daerah, yang menimbulkan banyaknya pengangguran.
Tentu kami lebih menginginkan agar sang Perakit Bom mendapatkan amal ibadahnya dikurangi dengan perbuatan kejamnya pada umat lain, plus derita yang dialami keluarga korban, juga masyarakat setempat.

Sang Perakit Bom boleh berbangga, karena sang maestro, Dr.Azahari, masih sempat menurunkan ilmunya pada kader-kader muda, dengan segudang ilmu yang tertuang dalam buku manual, video maupun tersimpan rapi berbentuk file komp, yang mana hal ini tentunya dapat membuat keadaan Indonesia makin terpuruk dimata dunia, apalagi setelah komentar dari seorang tokoh politik, dimana secara meyakinkan berkata bahwa ‘Indonesia bukanlah sarang teroris’.
Kenyataannya sekarang ?

Mungkin pemerintah bisa lebih tanggap akan hal ini, mungkin saja dengan mencoba strategi lama yang diterapkan Pemimpin 32 tahun Indonesia, ‘Petrus’. Penembakan Misterius bagi rang-orang yang dianggap makar dan memiliki kredibilitas untuk menghancurkan bangsa Indonesia, serta untuk orang-orang yang masih saja berkeinginan menyamaratakan budaya Indonesia, plek sama dengan budaya Arab.

Silahkan dipikirkan