Warga Bangkinang Bisa Kuliah Ke Luar Negeri Berkat Dukungan PT RAPP

Category : tentang KuLiah

Sukanto Tanoto adalah seorang pengusaha yang sangat peduli akan pendidikan. Baginya pendidikan adalah hal mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap individu. Oleh karena itu, ia bekerja sama dengan anak perusahaan untuk memprogramkan beasiswa untuk mereka yang kurang mampu dan untuk mereka memiliki sifat kerja keras yang bekerja di perusahaan tersebut. Salah satunya adalah Sri Wahdini Rahmi, seorang pekerja di PT Riau Andalan Pulp and Paper. Warga asli Bangkinang ini merasa beruntung karena bisa mendapatkan beasiswa sekolah yang diberikan oleh PT RAPP. Karena di PT RAPP la dia menemukan bagaimana industri benar-benar bekerja. Dan yang hingga kini, membuatnya terkesan adalah pada bagian recovery boilernya.

Nani merasa beruntung karena bisa diterima bekerja lewat program Graduate Trainee karena setelah beberapa tahun setelahnya dia ditunjuk atasannya sebagai satu-satunya perempuan dari lima kandidat yang diajukan untuk memperoleh program pendidikan magisternya di Asian Institute of Technology yang dilaksanakan pada tahun 2010 silam dan dia selesaikan masa kuliahnya pada tahun 2012. Baginya, bekerja di RAPP adalah sebuah keberuntungan yang mana memang sebuah perusahaan yang diincar oleh kalangan mahasiswa Riau.

Selama Nani kuliah di luar negeri, dia merasakan banyak ujian mental. Awalnya dia tidak percaya diri karena memang belum pernah menginjak negara tersebut sebelumnya dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Di samping itu, dia juga berpikir apa bisa mengejar target-target pendidikan serta di sisi lain ibunya akan tinggal sendirian. Tetapi segalanya Nani jalani, dan benar, disana dia bisa melihat dunia lain, misalnya pola pikir mereka yang tidak sama dengan orang Indonesia. Namun tetap, banyak orang Indonesia yang memiliki kemampuan lebih bagus dibanding orang-orang dari negara lain.

Kini, Nani bekerja dan berada di divisi yang disebutnya ontinuous improvement. Yang mana dengan kata lain, divisinya berkutat di bidang perbaikan yang bersifat berkelanjutan. Dalam hal ini, dia bekerja bagaimana agar proses produksi bersifat efektif dan efisien seraya meningkatkan kualitas. Dari semua yang diperolehnya ini, Nani melihat bahwa beasiswa dari perusahaan tempatnya bekerja cukup menyeluruh. Sampai sekarang dia tidak menyangka akan mendapatkan beasiswa tersebut karena sejak dulu dia selalu berfikir hanya orang bagian produksi selevel dirinya yang akan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Tidak hanya dirinya, ada dua orang lagi yang dikirim oleh mereka dan dapat di ITB. Dengan adanya hal tersebut, dia merasa terkesan dan perhatiannya terhadap kesetaraan pendidikan membuatnya ingin menitipkan pesan terutama kepada anak-anak yang masih muda untuk meraih level pendidikan setinggi mungkin selagi ada kesempatan. Dan begitulah beberapa cerita tentang warga Bangkinang yang bisa kuliah ke luar negeri berkat dukungan PT RAPP.

Yuk kita Jalan Lagi…

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Masa Breakthrough 2 sudah masuk hari ke-3 saat kaki menginjakkan ruang kantor besok pagi. Sementara yang namanya jadwal atau tahapan Milestones, belum dijalankan sesuai rencana. Yang ada baru laporan pada pimpinan saja.

Inginnya sih besok pagi itu mau ngadain rapat internal dulu, untuk menyampaikan maksud dan rencana Proyek Perubahan yang sejatinya memang harus melibatkan staf Teknis maupun Administrasi Permukiman. Tapi selain itu memang ada hal-hal yang  perlu dibicarakan bersama utamanya terkait kegiatan lapangan yang kini sudah masuk di pertengahan proses.

Sekedar Info bahwa proses Diklat Kepemimpinan Tingkat IV yang saya lakoni sedari Mei lalu sebenarnya memang masih belum usai kegiatannya, yang kalau tidak salah baru akan berakhir minggu keempat Bulan September nanti. Dan masa Breakthrough 2 yang disampaikan diatas bisa dikatakan sebagai masa Off Campus, balik kantor namun tetap mengerjakan tugas utama Diklat yaitu mengImplementasikan Proyek Perubahan. Semoga bisa dilalui dengan baik.

Lain Diklat Lain pula Debat. He… masa kampanye kemarin ternyata bisa juga seru seruan dengan kawan kantor saya, pak Gede Eka Surawan yang secara dukungan PilPres kali ini kami memilih berseberangan jalur. Hari-hari yang terlewati kadang terasa panas akibat posting dan komentar yang dikirim lewat akun wall FaceBook, terkadang berjalan adem dan saling maki diluar topik terutama saat foto saya di Bedugul dicomot dan dipublish macamnya tweet mbak Ratna S si aktivis kemarin.

Tapi asyiknya, lewat jalur debat ini pula kami jadi tahu karakter masing-masing. Yang kalo dari versi saya, pak Gede ini kelihatannya punya hobby posting berita Negatif atau ketidakpuasan akan hasil kerja seseorang meskipun ia belum tahu bahwa itu bukanlah fakta di lapangan. Tetep ngotot bahwa itu benar tanpa mau tahu berita tanggapan, malahan mengatakan instsitusi yang menjawab ‘tunduk pada Ibu..’ *hadeeeh… dan kalo yang dari versi Pak Gede… mungkin yah… ini baru mungkin… saya sering Tertipu dengan Pencitraan salah satu Capres, sehingga menyebabkan komentar yang saya posting kebanyakan Blunder bagi Beliau ini. Tapi nanti deh… saya mintakan testimoninya di halaman ini untuk menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya, meskipun di masa Tenang kampanye sekalipun. Biar ada Hak Jawab nya pak Gede juga disini. Jangan lupa dikomentari ya pak…

Meskipun Debat panas bahkan sempat dimediasi oleh Rekan Kantor lainnya, hubungan kami tetap Baik kok. Jumat lalu aja, saya sempat mengingatkan yang bersangkutan untuk jangan ngutik hape saja saat jalan balik dari Krida menuju ruangan. Kasian pak Gede gag bisa melihat pemandangan indah nan cantik yang lewat disebelahnya, hanya gara-gara ingin membalaskan komentar saya di wall FB-nya kemarin malam. Atau juga menasehatinya saat kami menaiki tangga kantor menuju ruang masing-masing, akan kesehatannya jangan sampai kambuh Diabetes dan Darah Tingginya, hanya karena menganggap bahwa blog www.pandebaik.com ini punya kelakuan serupa dengan MetroTV atau Tempo Group yang hanya memberitakan info keberpihakan pada Capres nomor 2… Huehehehehe… Maafkan saya pak Gede, Mohon Ampun deh…

Dan pada akhirnya saya pun mengaku kalah jika nanti saat pencoblosan 9 Juli, pilihan pak Gede bisa sejalan dan senada dengan saya. *duh Maksa deh pokoknya… apalagi setelah insiden Kalpataru di Debat capres terakhir, ini yang real loh yah, bukan debat kusir dokar saya dengan pak Gede, sedikitnya bisa membuka mata bahwa sesungguhnya untuk jadi Pemimpin Negeri ini gag cukup hanya karena persoalan Fisik, Tegas dan Galaknya. Tapi juga konsistensi antara Pikiran, Perkataan maupun Perbuatan yang sejalan (belum tentu benar salahnya).

Di paragraf terakhir sih saya berharap banyak dari perhelatan PilPres 2014 ini. Mengingat setelah berjalan sedemikian jauh, kita jadi tahu karakter masing-masing, baik kawan maupun pendukung capres tetangga, dan tentu saja Timses plus pasangan Capres-Cawapres nya sendiri. Apapun hasilnya nanti, tentu harus didukung penuh karena masing-masing dari kita sudah menentukan pilihan, sehingga berhak untuk menyampaikan Kritik. Terpenting jangan mendengar sambil mengarahkan moncong senapan pada kami tentunya. Dan harapan lainnya tentu soal Fitnah dan Tuduhan bisa diminimalisir di Masa Tenang kampanye ini. Mengingat pasca konser GBK malam tadi, masih juga ada fitnah di akun FB terkait pemukulan seorang Ibu oleh Pendukung Capres nomor 2 hanya gara-gara yang bersangkutan menggunakan baju Capres nomor 1… padahal sejatinya Foto yang diunggah sebagai bukti tersebut adalah korban kecelakaan yang diunggah dan sudah diamini oleh dokter yang menangani. Duuuhhh… segitunya yang pengen banget meraih simpati publik… Semoga si Penebar Fitnah termasuk tuduhan PKI dan Obor Rakyat pun bisa diingatkan oleh-NYA kelak.

Salam 2 Jari… Ayo Kawan, Jangan Golput Lagi.

Yuk kita Jalan Lagi…

Catatan Malam Minggu

Category : tentang KeseHaRian

Off Campus…

Terhitung kemarin sore, bubaran belajar mata pelajaran Pak Partha, akhirnya kami bisa pulang juga dan berkumpul kembali dengan keluarga, sambil bercerita semua keanehan, kelucuan hingga tragedi bikin malu 3 menitan bimbingannya Bu Anny.

Tapi sudahlah… semua itu toh kelak tetap akan menjadi cerita kami serta kenangan akan masa Diklat PIM IV…

Touring…

Tadi pagi, meluncur sendiri ke beberapa lokasi proyek tanpa mengajak atasan maupun bawahan, menggunakan motor ‘klingon’ plus bekal materi yang sudah disiapkan lengkap dalam gadget. Mulai dari Desa Dalung, Kerobokan Kaja, Kerobokan, menelikung ke Tibubeneng dan Canggu. Diselingi makan siang di pertigaan jalan kantor Camat Kuta Utara, perjalanan berlanjut ke Kerobokan Kelod, Seminyak, Tuban dan Kuta. Semua dilakoni dalam sehari. Fiuh… melelahkan tentu.

Tapi sebenarnya… *eh daritadi saya cerita pake awal huruf T yah ? Ganti deh…

Namun sebenarnya, agenda Touring dadakan ini gag sendirian sendirian amat sih. Tetep didampingi satu Team Leader untuk Pengawasan kegiatan di Kecamatan Kuta Utara plus satu Inspector yang menunjukkan lokasi per lokasi perkerjaan sambil bercerita soal masalah yang mereka hadapi.

Inilah fungsi kehadiran saya di lapangan..demikian bathin berkata.

Bahwa selain pemeriksaan lapangan yang notabene baru bisa saya lakukan di hari Sabtu-Minggu masa off Campus, tujuan lain dari agenda ini tentu saja berdialog (baca : berkoordinasi, khawatirnya di-cap pencitraan mirip pak Jokowi), baik dengan Kepala Lingkungan setempat, rekanan Pengawas serta Pelaksana. Siapa tahu ada permasalahan yang ditemukan namun belum diputuskan. Harapannya tentu ada solusi maupun alternatif yang bisa ditawarkan dengan kehendak win win solutions, dan kegiatan dapat dilanjutkan kembali.

Pelaksanaan adalah pembuktian kata-kata.

Mungkin demikian sederhananya. Bahwa semua tindakan nyata yang dilakukan di lapangan, merupakan konsekuensi dari kalimat yang diucapkan. Eh tapi ini bukan menyimpang ke arah kampanye atau capres meng-capres yah… tapi dalam rangka mengamalkan dan memperkuat ajaran para WidyaIswara di Balai Diklat sedari awal Mei lalu. Meskipun sebenarnya sudah dilakukan sejak setahun lalu. Tapi kini terasa jauh lebih ringan dan tertata.

Bolehkan sejenak melupakan tugas Diklat. Project Charter itu… mumpung lagi Off Campus yah manfaatkan waktu untuk menunaikan kerjaan, melaksanakan tugas dan kewajiban, menikmati waktu kesendirian dan mengajak keluarga menikmati malam…

Untuk tugas, besok deh saya lanjutkan… pasca donor darah, itupun kalo tekanan darah bisa normal :p

Pagi di Balai Diklat Provinsi Bali

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Alarm berdering nyaring dalam dinginnya gelap kamar, membuatku bangun tersentak dan menuju ponsel untuk mematikannya agar tak mengganggu nyenyak tidur kawan lain. Waktu menunjukkan pukul 4.30 pagi. Aku masih berada di gedung Padma 09.

Bersyukur dalam keseharian bisa memiliki pola pencernaan yang cukup lantjar, sehingga meski bangun pagi begini gag perlu menunggu lama untuk bisa menyambar giliran pertama membuang hajat. Satu rutinitas yang belakangan makin sering dilakukan selama masa pendidikan.

Usai mengganti celana dengan training, mengenakan kaos kaki, aku kembali merebahkan diri di kasur empuk berukuran single bed, yang tampaknya jauh lebih baik ketimbang saat prajabatan sepuluh tahun lalu. Jari jemaripun lantjar membuka satu persatu halaman sosial media dan mata mulai membaca satu dua hal yang menarik untuk disimak. Waktu masih menunjukkan pukul 5.00 pagi.

Diluar derit lemari dibuka mulai terdengar. Beberapa kawan tampaknya sudah mulai sadar dari mimpi mereka. Sesuai jadwal, kami harus bersiap untuk olah jasmani. Senam pagi bersama puluhan peserta Diklat PIM IV lainnya.

Ayo, Semangat !!!

Integritas, Profesionalisme dan Akuntabilitas

Category : tentang iLMu tamBahan

Topik diskusi kami hari ini adalah sebagaimana yang tertulis dalam judul posting diatas. Integritas, Profesionalisme dan Akuntabilitas.

Tiga Nilai Utama (yang seharusnya ada dalam setiap) Pejabat Birokrasi Negeri ini. Kira-kira begitu.

Sayangnya dalam praktek dan kisah nyata, jarang ada yang memiliki ketiga Nilai Utama tersebut. Sehingga tidak heran apabila sebagian besar pejabat birokrasi negeri lalu tertangkap KPK atau terjerat kasus hukum baik dalam perjalanan masa jabatan atau malahan di akhir masa jabatan. Studi Kasus ya… Ketua BPK kemarin.

Yang tersulit dari ketiga Nilai Utama tersebut adalah Akuntabilitas atau bertanggungjawab, yang rupanya terbagi atas tiga jenis yaitu Akuntabilitas Politik, Keuangan dan Administrasi atau proses. Semua hal tersebut terkait pada bidang yang dibidani.

Overall, tiga Nilai Utama tersebut akan dapat diwujudkan apabila terdapat kesesuaian antara Pikiran, Perkataan dan Perbuatan yang mengarah pada kebaikan berEtika, yang secara kebetulan pula sama dengan salah satu ajaran agama Hindu yakni Tri Kaya Parisudha…

Diklat PIM IV Angkatan V Kabupaten Badung 2014

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Dalam rangka meningkatkan Kompetensi sumber daya manusia di lingkungan Kabupaten Badung, serta menghasilkan calon pemimpin yang siap menghadapi serta melakukan perubahan di masa yang akan datang, Badan Kepegawaian Kabupaten Badung menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan IV Angkatan V Kabupaten Badung Tahun 2014 di Balai Diklat Provinsi Bali pada tanggal 6 Mei tadi pagi.

Acara yang dibuka oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kabupaten Badung didampingi oleh Kepala Balai Diklat Provinsi Bali serta Kepala Badan Kepegawaian Kabupaten Badung ini, diikuti oleh 30 peserta dari berbagai SKPD di lingkungan kerja Kabupaten Badung dengan menggunakan pola Baru Pendidikan dan Pelatihan yang sedianya akan dilaksanakan selama 98 hari kerja.

Diklat_PIM_4 pandebaik

Adapun pola Baru yang diterapkan kali ini memiliki 5 (lima) tahap pembelajaran dimana perubahan yang terjadi lebih mengarah pada pengurangan jam tatap muka untuk penyampaian teori atau classical.

Menurut Kepala Balai Diklat Provinsi Bali, pola ini masih merupakan masa transisi dimana antara regulasi yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan masih belum didukung oleh sarana prasarana memadai dan sesuai dengan kurikulum serta materi yang diberikan. Sehingga dalam prakteknya nanti akan terdapat beberapa penyesuaian yang bergantung pula pada ketersediaan jumlah tenaga pengajar serta tenaga pendukung yang seharusnya dipersyaratkan.

10.30 malam Satu senin Awal bulan Mei

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Karantina… sedari awal sudah mulai terbayang bagaimana repotnya kelak. Dari menyiapkan berbagai persyaratan, meneruskan dan melimpahkan pekerjaan, hingga perubahan perilaku pun sejak awal sudah terpikirkan.

Kasihan. Hanya itu yang terlintas pada intinya. Kasihan pada istri, anak dan juga rekan-rekan staf dan atasan langsung. Karena akan ada banyak perubahan saat aku tak ada di tempat yang sebenarnya. Tapi ya… mau tidak mau semua harus dijalani. Demi… masa depan kami kelak.

Tepat setahun jabatan itu aku sandang. Namun sayang, modal utama untuk menjalaninya tak kupunya. Ibarat mengendarai motor, SIM belumlah bisa kupegang. Dan inilah saatnya.

Tak banyak harapan yang aku impikan. Bisa melewati hari, menjalani kewajiban, menyelesaikan pekerjaan, dan pulang kembali dengan selamat.

Tapi yang terpenting kini hanya satu. Bisa tidur nyenyak…
Karena sudah tabiat, tidur diluar rumah selalu bawaannya gelisah.

Menanti Tim LPSE Formasi 2012 Siap Beraksi

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

Jika boleh saya ibaratkan, bahwa aktifitas kami Tim Pengelola LPSE yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Bupati Badung Januari lalu sudah mulai menampakkan gigi susunya hari ini. Jujur, apa yang saya harapkan ketika didaulat sebagai Sekretaris LPSE Badung menggantikan Pak Made Sudarsana beberapa waktu agaknya pelan-pelan merangkak sesuai harapan.

Train of Trainer yang kami usulkan untuk delapan orang Tim Pengelola LPSE yang baru, selain menjadi modal awal atau satu pendidikan dasar bagi mereka, pula kami gunakan untuk mengakrabkan suasana kerja yang selama ini masih agak kaku lantaran ada ewuh pakewuhnya. Kini, kami mulai bisa memahami karakter mereka satu demi satu walau belum secara mendalam. Paling tidak yang namanya keakraban untuk berdiskusi sudah mampu diciptakan.

Sedang bagi saya pribadi tentu saja minimal ada keberanian untuk berbicara secara langsung dengan mereka tanpa ada rasa sungkan lagi serta harapan agar semangat belajar dan keingintahuan itu tetap dapat dipupuk sejak dini.

Ngomong-ngomong soal aktifitas kami selama dua hari ini bisa dikatakan hampir didominasi dengan cuci otak terkait pemahaman aplikasi SPSE, agar setidaknya nanti saat kami kembali bertugas di LPSE Badung, mampu mengisi waktu luang untuk memperdalam ilmu bahkan mencoba untuk menularkannya kepada para Rekanan Penyedia yang datang maupun mengatasi kesulitan yang dialami oleh Rekan Panitia ULP selama proses Pengadaan.

Di sela pembelajaran, bersyukur kami masih sempat berbagi cerita dengan LPSE daerah lainnya seperti Sumatera Barat, Halmahera dan juga Trenggalek, sharing informasi terkait bagaimana perjalanan kami terdahulu saat membentuk LPSE Badung, tips dan trik yang kami temukan dalam perjalanan menggunakan aplikasi ataupun hal-hal Teknis yang tidak kami dapatkan saat pendidikan di LKPP Jakarta.

(Foto diambil oleh Wayan Adi Sudiatmika, Kamis 23 Februari 2012 di Ruang 1701, TOT LPSE Badung, LKPP Jakarta)

Fiuh… ternyata menjadi seorang Sekretaris LPSE yang baik dan benar itu melelahkan jua. Pantas saja jika Pak Made Sudarsana, senior kami di LPSE formasi 2010/2011 dahulu kerap tampak berpikir dengan kerasnya disela kegiatan yang kami lakukan. Banyak hal yang harus dipikirkan rupanya.

Berat Badan bahkan sempat Turun hingga 4 Kg selama posisi ini saya emban, namun entah akan naik berapa Kilogram lagi sekembalinya kami ke tanah asal Jumat malam ini, mengingat selama berada di Jakarta bisa dikatakan soal makan jauh lebih teratur ketimbang saat beraktifitas di kantor.

Jelang hari terakhir pendidikan rupanya Tuhan memang berkenan untuk berkehendak sesuai dengan harapan kami. Pertama bahwa tujuan dilakukannya TOT, minimal sudah dipenuhi. Kedua soal keakraban pun sudah mulai mencair meski jadi agak aneh berada dilingkungan anak muda (meski saya pribadi tergolong masih muda juga, hehehe…) dan ketiga, beberapa masukan pula pertanyaan yang kami ajukan di hari pertama pendidikan sudah diakomodir dalam Aplikasi SPSE yang baru dan setidaknya kesulitan yang kami dapatkan dua minggu terakhir kelak akan dapat diatasi sesuai harapan.

…waktu sudah menunjukkan pukul 00.05 Wita… saatnya untuk berkemas dan tidur… sebab malam nanti, kami akan kembali menuju tanah asal dan siap untuk beraksi…

Kembali ke Jakarta

2

Category : tentang KeseHaRian

Jakarta Macet… Kalo gak macet, bukan Jakarta namanya… Canda seorang teman ketika kami berkisah tentang Kota Jakarta yang kami kunjungi awal Maret lalu.

Minggu pagi sekitar pukul 11 siang, kami kembali ke Jakarta untuk mengikuti Kunjungan Kerja bersama beberapa atasan sekaligus berkoordinasi dan mencari pembelajaran lebih lanjut menindaklanuti keinginan untuk membentuk Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kabupaten Badung. Adapun agendanya adalah menuju LPSE Jawa Barat yang pada saat Rapat Koordinasi (Rakor) kemarin didapuk sebagai LPSE terbaik sekaligus menuju Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), tempat kami pendidikan beberapa waktu lalu.

Atas bantuan pengawalan yang diberikan sedari Bandara ke Jakarta hingga ke Kota Bandung dan sebaliknya, kemacetan yang dahulu menjadi momok bagi kami tak lagi ditemui sepanjang perjalanan. Bunyi awal sirene yang menyerupai nada SmS kartun animasi Malaysia Upin dan Ipin mengawal perjalanan seakan tak pernah padam kendati hujan mengguyur hingga Kota Kembang. Sempat miris juga siy sebetulnya, setelah menyaksikan ratusan mata memandang kami disepanjang jalan yang dilewati.

Bandung yang dingin kami lalui hanya semalam saja. Kalau tidak salah kami menginap di Hotel Mutiara. Sebuah hotel kecil yang berada di jalan Kebun Kawung 60 Bandung tak jauh dari Hilton, sebuah hotel berbintang dimana beberapa atasan kami menginap. Kunjungan Kerja menuju kantor LPSE Jawa Barat pada Senin pagi yang berada di daerah Dago Atas kami capai tak sampai setengah jam dari lokasi hotel.

Pengawalan kembali kami rasakan ketika meluncur menuju Ibukota Jakarta yang sedianya menjadi tujuan berikut dari agenda Kunjungan kami. Melintasi ruas tol yang dahulu terasa begitu panjang dan lama, dapat dilalui dengan cepat berkat jalur khusus yang disediakan oleh pihak Jasa Marga. Keiistimewaan yang kami dapatkan ini sempat memicu pikiran nakal saya untuk berkhayal. Apa yang kira-kira bakalan terjadi seandainya dalam waktu yang bersamaan Ibukota Jakarta didatangi oleh rombongan dari daerah yang melakukan kunjungan kerja dan mendapatkan bantuan pengawalan seperti ini. Siapa yang didahulukan ?

Tak perlu menunggu waktu lama, Tuhan menjawab pertanyaan yang terlintas dalam benak saya.

Ketika kami melintas di Jalan Gatot Subroto, dari arah belakang terdengar nada yang sama dengan nada SmS milik Upin & Ipin tersebut. ToT ToooT… ToT ToooT… Rupanya seorang patwal bermotor Harley meminta Bus yang kami tumpangi untuk minggir dan memberi jalan pada kendaraan yang sepertinya milik pejabat militer. Maka pecahlah tawa kami semua ketika menyadari hal itu benar terjadi.

Kemacetan Ibukota Jakarta tak berlaku bagi kami. Tidak demikian halnya dengan orang lain.

e-Procurement Inovasi Pelayanan Publik Sektor Pengadaan berbasis Teknologi Informasi

20

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang InSPiRasi

Pemanfaatan Teknologi Informasi sebenarnya bukan hal baru lagi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini. Banyak perubahan yang terjadi, rata-rata bahkan mampu menghadirkan inovasi-inovasi baru yang berpeluang besar dan berpengaruh diberbagai sektor kehidupan manusia.

Katakanlah pada sektor Telekomunikasi, dimana kini orang tak lagi diharuskan berhadapan atau bahkan membutuhkan sebuah perangkat pc hanya untuk mengakses dunia maya. Demikian pula pada sektor Perbankan, orang tak mesti datang dan antre didepan kasir hanya untuk menarik atau mentransfer sejumlah uang. Tujuannya hanya satu, untuk kemudahan yang dapat dirasakan oleh sebagian besar manusia dalam beraktifitas.

Maka tak heran apabila pemanfaatan Teknologi Informasi ini diharapkan pula mampu menghadirkan inovasi baru di sektor Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah terkait dengan buruknya kualitas pelayanan publik. Bahkan belakangan masyarakat memberikan kritikan pedas dan menciptakan sebuah jargon “kalau bisa dibuat susah mengapa musti dibuat mudah”. Diharapkan inovasi itu nanti dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan.

e-Procurement menurut Wikipedia adalah sebuah model aplikasi elektronik yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, yang berusaha mengatur transaksi bisnis melalui teknologi komputer, di mana proses pengadaan barang dan jasa dilakukan secara online.

Ide untuk menerapkan e-Procurement di Indonesia sebenarnya sudah dimulai saat dikeluarkannya Inpres No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government dimana dalam Lampiran I disebutkan bahwa e-Procurement dapat dimanfaatkan oleh setiap situs pemerintah. Terkait Pelaksanaan e-Procurement ini disebutkan pula dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksaan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah tepatnya pada Lampiran I Bab IV Huruf D. Dalam perkembangannya sebagai penanggung jawab diberikan kepada Kementrian PPN/Bappenas.

LKPP atau Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pada akhirnya dibentuk setelah Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Perpres No. 106 Tahun 2007 yang diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menyusun dan merumuskan strategi serta penentuan kebijakan dan standar prosedur pengadaan barang/jasa pemerintah termasuk pembinaan sumber daya manusia. LKPP juga diberi tugas untuk mengembangkan sistem informasi serta melakukan pengawasan penyelenggaraan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik.

Menindaklanjuti tugas tersebut LKPP kemudian membentuk LPSE atau Lembaga Pengadaan Secara Elektronik, sebuah unit yang melayani proses pengadaan barang/jasa pemerintah  yang dilaksanakan secara elektronik. LPSE ini sedianya akan menggunakan sistem aplikasi e-Procurement, sebuah sistem aplikasi pengadaan yang dikembangkan oleh LKPP yang bersifat terbuka, bebas lisensi dan bebas biaya. Selain sebagai pengelola sistem e-Procurement, LPSE juga berfungsi untuk menyediakan pelatihan, akses internet dan bantuan teknis dalam mengoperasikan sistem e-Procurement kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/Panitia serta penyedia barang/jasa, serta melakukan pendaftaran dan verifikasi terhadap penyedia barang/jasa.

Hingga bulan Desember 2009 tercatat sebanyak 34 LPSE yang tersebar di 19 provinsi dan melayani 47 instansi di Indonesia. Termasuk diantaranya LPSE Provinsi Bali dan LPSE Kota Denpasar. Terkait Pendidikan yang dilakukan beberapa waktu lalu, Pemerintah Daerah Kabupaten Badung mengirimkan 10 orang tenaga yang dianggap mampu menguasai bidang pengadaan barang/jasa pemerintah serta Teknologi Informasi. Salah satu tenaga tersebut adalah pemilik BLoG ini, PanDe Baik.

Sistem aplikasi e-Procurement yang dimaksud dapat diakses melalui alamat resmi milik LPSE yang dalam perkembangannya menggandeng Lembaga Sandi Negara atau Lemsaneg untuk menangani masalah Keamanan Data yang ada didalamnya. Lemsaneg ini menciptakan sebuah aplikasi bernama Apendo (Aplikasi Pengamanan Dokumen) yang terintegrasi dengan server di setiap LPSE.

Berbicara sistem aplikasi saat ini tentunya dalam implementasinya nanti masih banyak kekurangan yang akan ditemukan seperti halnya sistem aplikasi lainnya. Bahkan perusahaan raksasa sekelas Microsoft pun masih banyak menyisakan celah keamanan pada sistem operasi Windows yang mereka ciptakan. Untuk itu merupakan tugas kita bersama untuk menyempurnakannya demi sebuah tujuan mulia.

Dukungan antar komunitas keahlian tertentu diluar lembaga Pemerintah adalah hal yang barangkali memang ditunggu-tunggu. Tidak ada salahnya bukan, apabila kita ingin mengubah jargon yang tercipta dibenak masyarakat saat ini menjadi “kalau bisa dibuat mudah mengapa musti dibuat susah”.

Semoga saja.

* sebagian besar isi tulisan diatas dikutip dari buku Implementasi e-Procurement sebagai Inovasi Pelayanan Publik, LKPP Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

PanDe Baik : bersyukur pada saat Thesis tahun kmaren, sempat pula melahirkan www.binamargabadung.com yang merupakan satu usaha untuk mempublikasikan data jalan raya milik Pemerintah Daerah Kabupaten Badung yang secara kebetulan memiliki nafas yang sama dengan sistem aplikasi e-Procurement diatas.

Hari Terakhir Pendidikan e-Procurement LKPP – LPSE

12

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PLeSiran

Ada cerita unik disela proses penyampaian pembelajaran berlangsung tadi siang. Seorang Rekan dari Ende, Pak Ebby, yang secara kebetulan berada disebelah saya meminta agar saya berkenan memberikannya kontak dan dituliskan di buku Notes pemberian LKPP-LPSE. Secara iseng, saya menuliskan pula informasi tambahan selain nomor ponsel yaitu email, alamat BLoG dan akun profile FaceBook.

Pada saat Pak Ebby membaca alamat BLoG yang saya cantumkan, pelan Beliau mengatakan bahwa ‘rasanya pernah mengakses alamat ini hari kemarin. Kalo gak salah yang tulisannya tentang Hari Pertama Pendidikan e-Procurement LKPP – LPSE yang ada kata-kata ‘meninggalkan istri dan anak’ itu…

Sayapun tertawa ‘wah si Bapak sudah sempat mengakses toh ?’ rupanya oleh mesin pencari alamat di dunia maya memberikan hasil pencarian terkait pengalaman LPSE yang salah satunya ya tulisan saya itu. Beliau makin heran ketika membaca detail tulisan, ada menyebutkan salah satu daerah asal Peserta Pendidikan yaitu dari Ende. ‘wah, jangan-jangan si pemilik BLoG ini masih Peserta juga’ bathinnya. Hehehe…

Setelah letih seharian berhadapan dengan bahasa gaib (meminjam istilah seorang Rekan kerja yang dijejalkan langkah instalasi Linux Debian) yang merupakan materi terakhir dari proses Pendidikan e-Procurement oleh LKPP-LPSE, kami masih dipaksa untuk menunggu kedatangan satu dari dua mobil jemputan hingga waktu menunjukkan pukul 7 malam waktu setempat. Jengkel lantaran itu, kami akhirnya memutuskan untuk meluncur mencari lokasi makan malam.

Rekan kami, Pak Gung Suryanegara yang masa mudanya sempat malang melintang di Kota Jakarta menyarankan menu SeaFood di emperan seputaran Pasar Benhill yang terkenal murah namun memiliki ‘taste’ yang mewah. Maka jadilah kendaraan yang penumpangnya berhimpitan sesak satu sama lain diharuskan berpasrah diri kembali merayap dikemacetan jalan Kota Jakarta. Bersyukur dua senior kami, Pak Made Sudarsana dan juga Pak Gung ‘Bobby’ Rahmadi mampu mencairkan situasi dengan cerita mereka yang sangat menggelikan.

Setelah menanti kurang lebih 15 (lima belas) menit di Santiago SeaFood yang telah dipenuhi banyak orang dan tentu saja lengkap dengan pelayannya, kami disuguhkan menu 4 (empat) paket besar yang sebenarnya diperuntukkan bagi 12 (dua belas) orang untuk disantap dan dihabiskan tentu saja. Lantaran pak sopir tidak mau bergabung makan malam bersama kami, jadilah hamparan makanan yang dihidangkan dirasakan sangat berlebih. Bayangkan saja (perlu fotonya Kawan ? Hehehe… ), terdapat sekurangnya dua piring kerang bakar, empat porsi kepiting besar, udang, ikan laut, cumi tepung, otak-otak dan plecing ditambah 10 (sepuluh) air kobokan. Makan malam yang huebat, bathin saya.

Usai Pembantaian hewan air tersebut, sebenarnya masih ada keinginan untuk ikut bergabung dengan 3 (tiga) Rekan kami yang memutuskan untuk menghabiskan malam terakhir di Kota Jakarta ini, namun lantaran kondisi sudah mulai terasa menurun ditambah nyeri kepala, saya dan rekan lainnya memutuskan untuk tetap tinggal di hotel dan beristirahat.

…aaaahhh… lega rasanya… Selamat Tidur, Kawan…