22 Juli… nah trus sekarang ngapain ?

Category : tentang Opini

Ah… pada akhirnya keputusan akhir hasil rekap suara KPU menyatakan sejalan dengan hasil sebagian besar quick count sesaat setelah coblosan selesai ya ? Jadi ya Selamat sekali lagi untuk pasangan capres cawapres pak Jokowi – pak Jusuf Kalla atas kemenangannya, yang tentu saja ini merupakan hasil kemenangan rakyat ya pak ? Mengingat sejak awal kami memang total mendukung perjuangan hingga rekapitulasi suara selesai.

Disandingkan dengan uang bisa jadi apa yang sudah dilakukan oleh semua relawan (yang tentunya tidak dibayar alias ikhlas membantu) rasanya gag ternilai lagi di akhir cerita. Jadi ya silahkan pak, naik ke kursi yang lebih tinggi sementara kami sambil menunggu pelantikan tentu kembali pada aktifitas dan rutinitas kami sebagaimana biasa. dan seperti kata pak Anies Baswedan saat ditanya mbak Najwa Sihab, mendukung pasangan Jokowi-JK bisa dikatakan gag ada beban yang harus dipikul dan diemban. Jadi ya ringan saja menyikapinya.

Totalitas. Memang begitu seharusnya. Saya sih masih ingat saat memutuskan untuk memberikan sedikit rejeki saya ke rekening bersama Jokowi-JK tempo hari, beberapa kawan sempat mencibir dan mengejek, bahwa kok mau-maunya jebolan S2 bisa dibohongi oleh seorang Jokowi, lebih baik itu duit disumbang ke anak yatim. Sah-sah saja sih sebenarnya, tapi ya inilah yang dinamakan totalitas. Gak tanggung-tanggung tapi masih dalam batas kemampuan dan kewajaran. Bukankah itu lebih baik bagi Capres yang kami dukung menggunakan dana kampanye dari rakyatnya untuk memberikan efek tanggung jawab akan semua perjalanan sebagai Presiden ketimbang menggunakan dana pribadi yang biasanya sih bakalan menuntut pengembalian lewat jalur yang gag berpihak pada rakyat.

Uniknya lagi, meskipun terkadang kami mengabarkan tentang kekurangan lawan, akan tetapi sisi positif pak Jokowi kerap pula dipostingkan di media sosial baik Facebook maupun Twitter. Yang kemudian memicu pihak kawan yang berseberangan dukungan untuk menghujat atau menghakimi dengan gaya mereka atau keyakinan yang dipahami, ujung-ujungnya mengatakan ‘anda Tertipu oleh Pencitraan Jokowi…’ atau ‘blunder…’ atau banyak lagi kalimat penjatuhan mental lainnya. Pokoke Nomor Satu itu bagai Dewa… yang semua nilai minus dipositifkan, namun saat ditanya balik sisi yang patut dibanggakan malah minta ‘goggling aja, pasti nemu…’

Ternyata Tuhan memang tidak tidur ya Pak. dan sebagaimana keyakinan saya sejak awal, bahwa kebenaran itu akan mulai terungkap sendirinya. Pelan dan lama tapinya. Bahkan di saat rasa percaya diri untuk bangga pada pilihan itu mulai sirna lalu bergeser pada kata pasrah dan ikhlaskan. Namun… Sore ini pun semua terbukti…

Capres Nomor Satu menyatakan mundur (menarik diri) dari kancah PilPres. Yang jujur saja tudingan ‘Blunder…’ kini malah lebih pantas untuk diarahkan pada dirinya sendiri atau pada Capres yang didukung kawan saya itu. Blunder karena sejak awal sudah mengklaim kemenangan, sujud syukur, perayaan, tapi menuduh KPU Curang, berencana menuntut lalu mengundurkan diri. Lha, ini maksudnya apa ? dan tak pelak pula tudingan ‘Anda Tertipu Pencitraan…’ memang pantasnya ditujukan juga. Mengingat selama masa kampanye kita disuguhi tayangan tokoh negarawan yang patriotik, tegas dan berwibawa. Siap Menang dan Siap Kalah. Tapi nyatanya hanya Siap Menang saja…

Entah harus bilang apa sesungguhnya kini. Karena apa yang sudah disajikan hari ini, sungguh sangat mengecewakan, utamanya tentu bagi mereka yang dahulu mati-matian mendukung dengan mulut berbusa, menutup mata dengan kenyataan yang ada, menuduh saudara sebangsanya sendiri sebagai PKI, memutarbalikkan fakta, hingga melegalkan kampanye hitam. Semua hanya demi ambisi. dan kini semuanya sudah terbuka lebar.

Yang jelas, dalam pemilu kali ini sebagian besar tokoh masyarakat Indonesia (termasuk kawan sendiri) berhasil menunjukkan sifat dan karakter aslinya. Bisa ditebak sejak awal kemana arah perjuangannya serta pola pikir, akal sehat serta logika yang dimiliki. Bahkan saat last minute sekalipun.

Kemenangan hari ini adalah kemenangan rakyat yang sudah sedemikian gigih memberikan suara dan dukungan, mengawal proses penghitungan suara hingga akhir penetapan tiba. Bahkan ada juga yang mewujudkannya dengan inovasi berbasis IT kawalpemilu.org *bukan – dot orang – yah. :p

Keputusan sudah final. 22 Juli pun sudah akan berlalu. Nah trus, selanjutnya mau ngapain ?

Mungkin… Sebagaimana tekad kami saat mendukung bapak Jokowi-JK sebelumnya, kini saatnya kami memilih untuk berdiri diseberang, siap menagih janji dan mengawasi kinerja. Tapi sebelumnya yuk kita berpeluk erat terlebih dulu. Itupun jika kalian ikhlas dan mau menerima dan mengakui hasil Pemilu kali ini apa adanya.

Ya Sudahlah

Category : tentang Opini

Fiuh… akhirnya berakhir juga tugas itu dilaksanakan. Setelah memantau hasil Quick Count dari 7 (tujuh) lembaga Survey, beberapa diantaranya bisa dipercaya kredibilitasnya, tampaknya usaha dan dukungan yang selama ini diyakini Berhasil, sudah tampak bentuk dan rupanya. Minimal untuk ukuran lokal Bali, formasi 70-30 sangat lumayan mengingat target yang pernah ingin dicapai kawan sebelah adalah 60-40 untuk kemenangan Capres nomor urut 1.

Peran Sosial Media

Bagi sebagian kalangan, Sosial Media tampaknya masih diacuhkan kepentingannya. Mengingat pemilik hak suara diyakini jauh lebih besar jumlahnya berasal dari luar kaum Netizen. Tapi apa daya, kekuatan dunia maya seakan dilupakan padahal pengaruh satu orang pengguna dapat melakukan klarifikasi pada dua tiga bahkan lima pemilik suara lainnya yang awam soal internet. Hal inilah yang secara pribadi saya coba ingat, lakukan dan terapkan juga pada yang lain. Kalo gag salah sih, muasal idenya dari akun twitter miliknya @kurawa aka Rudi Valinka, akun yang ngakunya punya basic seorang Forensic Auditor. Terlepas asli anonimnya akun tersebut, tapi idenya masuk akal juga kok.

Sayangnya memang gag semua bisa dipengaruhi. Bahkan sampai H-1 hari pencoblosan, seorang rekan kantor masih juga belum terima dengan klarifikasi dan tularan informasi fakta yang saya postingkan di akun sosial media. Bahkan ia tetap kukuh pada pilihannya meski hingga kini, saya belum melihat Totalitasnya sebagai pendukung Capres nomor urut 1. Tapi sudahlah… itu sudah berlalu, dan formasi akhir 70-30 untuk ukuran Bali rasanya sudah cukup memberikan gambar pasti hari ini.

Terlalu Dini untuk mengKlaim Kemenangan

Benar kata pak BeYe usai penghitungan Quick Count sembari menunggu penghitungan hasil akhir Real Count 22 Juli nanti. Hari yang akan dinantikan kedua kubu dimana keduanya sama-sama mengklaim kemenangan beda tipis dengan cara mereka sendiri. Saya setuju itu. Apalagi untuk kasus pengawalan Surat Suara yang ada baiknya diabadikan pula dengan gambar digital sesaat setelah hasil di sahkan.

Soal Klaim, biarlah Tuhan nanti yang akan membantu mencerahkan semuanya. Toh saat ini Bulan Ramadhan hadir di tengah bangsa kita tercinta. Akan sangat disayangkan jika kejujuran berpikir, berkata dan bersikap dinodai demi kepentingan partai semata. Kita memang sedang di uji olehnya.

Tapi ngomong-ngomong diluar sub judul tadi, saya pribadi merasa agak kasihan dengan pak Presiden kita saat ini, pak BeYe. Sudah sedemikian susahnya Beliau memberikan dukungan pada sang Calon Presiden nomor urut 1, tapi kok masih diam saja saat kebijakan dan juga gerbong yang Beliau pimpin, direndahkan dalam setiap debat pula ajang kemenangan malam ini, dimana seorang mantan militer mengatakan ketidakamanan negeri ini pasca reformasi termasuk kini. Tapi ya sudahlah… jangan terlalu dipikirkan. Serahkan saja semuanya pada pak BeYe.

Kembali Bekerja

Dan begitu semuanya usai, selain masih memiliki hutang kewajiban untuk mengawal Suara hingga pengumuman hasil akhir 22 Juli kedepannya, saya pribadi sih beranggapan bahwa esok, kita harus kembali bekerja dan mengesampingkan semua caci maki dan posting negatif para Capres yang sudah melaksanakan tugas serta kewajibannya dengan Baik. Setidaknya kembali menjalankan tugas serta kewajiban masing-masing atau bahkan mengakui kekalahan dengan legowo lebih awal. Sehingga kelak tidak banyak hal yang harus disesali hanya karena ambisi.

Ya sudahlah… menyitir lirik lagunya Bondan Prakoso… ‘Ketika mimpimu yg begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah…
Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah…
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu…
Janganlah kau bersedih… coz everything’s gonna be okay…’

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi

Category : tentang Opini

Terharu… saya membaca timeline akun sosial media malam ini. Baik kawan yang mendukung bapak Prabowo sebagai Capres nomor urut 1 maupun kawan yang mendukung bapak Jokowi sebagai Capres nomor urut 2. Mereka sama… sama-sama menganjurkan untuk menggunakan suara atau hak pilih dengan bijak, tanpa Golput.

Tanpa Golput…

Itu penekanannya.

Karena kalau tidak salah, dalam pemilihan calon legislatif beberapa waktu lalu, sebagian besar kawan yang saya miliki, secara terang-terangan menyatakan Golput lantaran sudah tidak memiliki kepercayaan lagi pada calon pemimpinnya. Sehingga tidak heran jika angka Golput lalu menjadi sedemikian besar saat pemilihan berlangsung.

Semoga kini, tidak lagi. Itu harapan saya. Orang-orang yang dahulu begiti bangga dengan pilihannya untuk Tidak Memilih, kini beramai-ramai turun gunung dan menyatakan dukungannya dengan jelas. Bahkan tokoh-tokoh yang saya kagumi sejak dulu, menyatakan dukungannya meski lewat jalur yang lain. Mereka Hebat. Semuanya Hebat. Kalianpun Hebat…

Besok adalah Pesta Demokrasi. Untuk kesekian kalinya kita akan menghadapi, namun saya yakin ini bukanlah perang sebagaimana kata seorang Tokoh Reformasi, atau bahkan pertempuran yang selama ini berusaha menghalalkan segala cara untuk satu kata. Menang…

Namun mereka lupa, bahwa fitnah yang dilancarkan sesungguhnya disampaikan pada saudara yang sudah seharusnya dikasihi sebagaimana kalimat dalam Pancasila, hal yang begitu dibanggakan sejak kecil dahulu. Mereka lupa bahwa perhelatan seperti ini bukanlah hal untuk mengkafirkan tetangga yang berbeda agama, berbeda aliran bahkan berbeda pilihan Capres.

Ini adalah sebuah pembelajaran Demokrasi. dan kita diwajibkan belajar untuk secara dewasa untuk menghadapinya.

Kalah atau Menang bagi saya bukan lagi menjadi satu masalah atau Hal yang patut ditakutkan, sehingga malam ini atau besok tidak harus menyiapkan bedil dan amunisi demi menumbangkan lawan. Kita semua bersaudara, dan kita patut berbangga karenanya.

Detik-detik menuju Pesta Demokrasi sudah sedemikian dekat, dan semoga Tuhan selalu menyertai Bangsa ini mencapai kehidupan bernegara yang lebih Baik dari sebelumnya.

Selamat menggunakan Hak Pilih kalian besok… dan jangan terprovokasi untuk menghancurkan negeri ini saat pilihan telah usai untuk ditetapkan. Saya percaya kita pasti Bisa.

Dua Pilihan dan makan siang

3

Category : tentang Opini

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wita. Siang yang terik sebetulnya jika kami masih berada di area Denpasar.

Sesuai arahan dari panitia, sejak pagi tadi kami tidak diijinkan membawa dompet dan ponsel selama mengikuti Outbound. Praktis saat hari sudah sesiang ini, satu satunya pilihan yang kami nanti tentu saja makan siang yang telah disiapkan oleh Panitia. Apalagi outbound yang ditujukan untuk menguji fisik, mental dan pola berpikir sejak awal tadi lumayan menguras tenaga, mengurai tawa canda bahkan sedikit duka lantaran kekalahan di beberapa permainan.

Tapi santai, yang saya ingin bahas disini bukanlah bagaimana jalannya outbound atau kelanjutannya. Hanya berandai-andai saja. Tingkat keakuratan sebelum paragraf ini tentu bisa dipercaya, namun setelah ini ya jadikan saja sebagai bahan perenungan.

Ketika berada dalam kondisi diatas, Panitia memberi kami dua pilihan makan siang. Masing-masing paket makan tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dari segi kualitas makanan, kadar gizi dan semacamnya. Dengan adanya dua pilihan tersebut jika kami menikmati salah satunya, maka dijamin kami memiliki tenaga untuk bisa menyelesaikan permainan berikutnya. Yang barangkali dari jumlah tersisa sekitar lima, tiga atau empat jenis masih bisa dilakoni dengan baik. Bergantung dari pengolahan makanan oleh tubuh dan cara kita mengatur tenaga yang dihasilkan nantinya.

Sayangnya diantara dua pilihan yang ada, beberapa kawan sempat berpikir untuk tidak menikmati keduanya. Hal ini terlintas lantaran dari kedua jenis makanan yang ada tidak sesuai dengan selera atau harapan yang diinginkan. Jika kalian berada dalam kondisi kami, kira-kira apa yang akan kalian lakukan ? Menikmati salah satu meskipun jenis makanannya tidak sesuai harapan, namun jika itu dinikmati kita diberikan tenaga untuk melanjutkan permainan, atau memilih untuk tidak makan siang ?

Ingat, situasi disini hanya ada Dua Pilihan. Tidak ada uang di kantong, pun tidak ada ponsel. Sedangkan saat waktu makan siang habis, ada lima jenis permainan lagi yang harus diselesaikan.

Jika kalian memilih untuk tidak menikmati makan siang yang ada, apakah kalian siap untuk tidak menyelesaikan kewajiban yang tersisa, capek dan pingsan karena tidak ada asupan tenaga yang bisa dicerna, dan membiarkannya sementara kawan yang lain, berpikir sebaliknya dan sudah siap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya ?

Bagi yang cermat dengan kondisi bangsa kita saat ini, saya yakin kalian paham dengan gambaran diatas. Bisa saja kita bercanda saat menjawabnya. Tapi jika saya boleh ingatkan bahwa terkadang pilihan yang ada musti ditanggapi dengan keseriusan karena ini menyangkut bangsa. Saya tentu tidak akan memaksa atau mengarahkan pilihan kalian pada salah satu dari keduanya. Karena itu semua merupakan area private.

Balik ke cerita makan siang diatas yang tentu saja fiksi atau andai-andai dari saya pribadi.

Akan berbeda kondisinya apabila disaat yang sama, kita memiliki kesempatan untuk membeli makan siang sendiri, dengan jenis makanan yang sesuai harapan dan keinginan. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa seandainya paket yang telah kita pesan tersebut, kemudian digandakan dan disodorkan kepada beberapa kawan yang ada ?

Apakah mereka akan merasakan kepuasan yang sama dengan yang kalian rasakan ? Atau malah menolak dan memilih untuk tidak menikmatinya dengan alasan yang sama dengan kalian tadi ?

Itulah bedanya.

Pilihan yang ada, saya yakin tidak akan pernah bisa memuaskan satu dua pihak. Karena pilihan tersebut lahir berdasarkan pemikiran sejumlah kepala yang notabene memiliki argumentasi berbeda-beda.

Jadi apakah kalian akan menunggu ada orang yang akan membawakan makan siang yang sesuai harapan ataukah menikmati salah satu pilihan yang ada dengan harapan bisa melanjutkan proses kegiatan selanjutnya meski tidak tuntas ?

Semua kewenangan telah diberikan. Tinggal kalian yang memutuskan.

Errr… cerita outbound dan makan siangnya sekali lagi bukan berdasarkan kejadian fakta yang ada hari sabtu lalu. Jadi yah…

Masih Mau Golput lagi ?

1

Category : tentang Opini

Dalam hidup saya yakin, kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan yang berseberangan arah untuk diputuskan segera. Dimana masing-masing pilihan akan mengantarkan kita pada arah, tujuan dan konsekuensinya masing-masing. Ada jalan yang terjal namun memiliki tawaran yang menggiurkan di awal, begitupun sebaliknya. Ada jalur yang salah, ada pula yang benar namun penuh rintangan. Andai pun kita kurang berkenan dengan pilihan tersebut, biasanya kita tak akan mengambil langkah apapun dan diam di tempat tanpa satupun kemajuan yang didapat. Apapun resikonya, untuk maju kita memang harus berani menghadapi dan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Demikian pula dengan bangsa ini.

Pertengahan tahun 2014 nanti, kita semua rakyat Indonesia akan dihadapkan pula pada dua pilihan, calon pemimpin bangsa, yang jujur saja sangat sulit untuk ditentukan kelebihan dan kekurangannya secara akurat mengingat antara berita maupun fakta yang disampaikan oleh media, masih simpang siur kebenarannya. Sehingga mau tidak mau masyarakat musti lebih pintar dan arif untuk memilah informasi yang diterima sebagai modal pemilihan nantinya.

Layaknya pilihan dalam hidup tadi, kita rakyat Indonesia benar-benar dihadapkan pada dua pilihan saja oleh-Nya. Padahal sebetulnya jika saja ada satu partai politik lagi yang mampu melakukan koalisi terpisah, bakalan ada satu pilihan lain meskipun agak sulit untuk tampil sebagai pemenang. Meski demikian, bersyukur juga sih bahwa kita sebagai rakyat Indonesia gag jadi dihadapkan pada pilihan calon pemimpin yang salah. Contoh yang beginian, saya yakin kalian pasti tahu siapa yang dimaksudkan.

Dua pilihan itu adalah pasangan Jokowi – Jusuf Kalla dan Prabowo – Hatta Radjasa.

Masing-masing calon pemimpin alias Presiden tentu punya kelebihan dan kekurangan. Demikian halnya dengan para wakil mereka yang ditetapkan menjelang akhir pendaftaran calon. Dimana kini baik kekurangan maupun kelebihan itu dieksplorasi makin dalam yang lama kelamaan malah cenderung memuakkan lantaran saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

Makin lebarnya jurang perpecahan antara dua partai pengusung yang dahulu sempat bergandengan mesra di Pilkada DKI atau bahkan kesalahan mengambil keputusan saat menggandeng calon wakil dan kawan koalisi kemudian menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia lainnya merasa enggan untuk menjatuhkan pilihan diantara dua yang ada kini. Padahal inilah tantangan terbesarnya, serupa dengan ilustrasi diatas.

Saya yakin Tuhan ataupun bahkan siapapun yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, takkan mampu memberikan pilihan yang sesuai dengan harapan dan keinginan kita baik dalam kapasitas sebagai rakyat Indonesia maupun sebagai manusia dalam dunia-Nya. Karena inilah yang namanya tantangan dalam hidup. Malah bisa jadi, jikapun pilihan yang ada sudah sesuai dengan harapan dan keinginan kita, di lain pihak malah tidak memuaskan mengingat bukan itu harapannya. Jadi wajar saja jika ada kemudian yang merasa tidak puas dengan kenyataan yang ada.

Lalu apa pilihan kita saat dihadapkan pada situasi serupa ? Lari dari kenyataan ? Diam dan tidak mengambil langkah ? Atau mencoba peruntungan serta berdoa untuk mencari pilihan lain yang saya yakin gag akan terakomodir selama kita masih menginjakkan kaki di bumi yang sama. Atau dengan kata lain… Masih Mau Golput lagi ?

Saya jadi ingat dengan cerita yang pernah saya baca di sebuah media cetak, tentang seorang Bapak yang begitu taat berdoa pada Tuhan, berharap Beliau akan mengirimkan bantuan untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya banjir yang kian mengancam. Yang dalam akhir cerita disebutkan bahwa saat sang Bapak mempertanyakan kebesaran dan kemurahan hati Tuhan yang ternyata tidak menyelamatkan nyawanya, Tuhan malah balik bertanya, pilihan seperti apakah yang engkau harapkan padaku padahal aku telah berkali kali memberikan pilihan padamu namun selalu kau tolak ?

Kita semua sudah berkali-kali dihadapkan pada pilihan untuk memilih Calon Pemimpin Bangsa yang kita cintai ini. Dan sudah terbukti pula, saat pilihan yang salah telah kita sepakati bersama untuk dilakoni selama lima tahun kedepannya, kita seakan dihadapkan pada gerbang kehancuran dan kekecewaan atas perilaku para pemimpin negeri hingga kroni kroni yang ada dibawahnya.

Kini pilihan itupun hadir kembali. Apakah kelak akan jatuh pada sang Gubernur yang tidak amanah menjalankan tugasnya, begitu ambisi pada kekuasaan yang lebih besar serta perilaku pencitraan lewat media, ataukah pada sang mantan Jenderal yang dipecat lantaran tersandung kasus HAM pada Mei 1998 lalu, yang hanya bisa meniru tokoh proklamator bangsa, serta dikelilingi armada perang yang penuh masalah ? Tentu semuanya ada di tangan kalian.

Jikapun masih bersikeras untuk Tidak Memilih karena Tidak Memilih adalah merupakan sebuah pilihan juga, maka persiapkan diri pula untuk merasakan kecewa, siapapun nantinya yang akan terpilih. Malah bisa jadi, kekosongan suara yang kalian ciptakan akan memperbesar perbedaan perolehan suara bagi pilihan lainnya. Dan itu semua bisa menjadi bumerang bagi bangsa ini selama 5 tahun kedepan.

Tuhan sudah memutuskan, ada 2 pilihan yang bisa kalian tentukan. Nasib Bangsa tentu akan berada di tangan kalian.

Bagaimana ? Masih Mau Golput lagi ?

Saatnya Generasi Muda Tidak Golput (lagi)

Category : tentang Opini

Masing-masing partai saya yakin pasti punya sisi negatif selama track record mereka dijalankan sedari awal berdiri hingga memimpin. Dan sisi inilah yang kerap menjadi bahan kampanye partai lain yang merasa tersaingi atau bahkan simpatisan yang mem blow up ke media sosial untuk mengingatkan Publik ataupun kawan sejawat dengan tambahan hastag #MenolakLupa

Hal seperti ini ramai bermunculan menjelang pilcaleg yang sedianya dilaksanakan hari ini, 9 April 2014 mengingat bakat ingatan masyarakat dan pejabat Pemerintah di Indonesia, begitu mudah melupakan Sejarah dan memaafkan. Padahal kisah yang telah berlangsung dari satu dekade ke dekade berikutnya bisa dikatakan sebagai Aib para partai maupun Calon yang diusungnya baik dalam perhelatan Pilcaleg maupun Pilpres nanti.

Saya pribadi setuju, jika kini Generasi Muda terutamanya Pemilih dalam kesempatan pertama sesuai jenjang Umur atau bahkan yang sudah masuk tahap kedua kali dan seterusnya, tidak ikut-ikutan masuk dalam Lubang Golput sebagaimana marak dalam setiap Pemilu dan Pemilukada. Lantaran jika didiamkan dan tidak menggunakan hak pilih, berarti kita juga menjadi bagian dalam skenario pembusukan aspirasi yang nantinya bakalan berdampak pada masa depan kita sendiri.

Memang, alasan klise yang kerap saya dengar dan baca adalah minimnya kemampuan para Calon yang maju dalam setiap pemilu tingkatan apapun itu. Namun ingat, bahwa di era kekinian yang namanya Generasi Muda tidak lagi berdiam diri duduk menunggu hingga sang Satrio Piningit tiba dan mencalonkan diri. Manfaatkan saja Media Sosial yang kita punya untuk mencari tahu siapa yang pantas  dititipkan suara dan siapa yang pantas untuk dieleminir dari daftar.

Kriterianya ?

Untuk Pilcaleg, minimal datang dari Generasi yang sama, dengan catatan perjalanan yang jelas dan terarah. Misalkan yang sedari awal Pro untuk Menolak Reklamasi, atau memiliki Misi yang secara logika dapat diwujudkan. Mengingat sebagian pendatang baru dalam bursa pilcaleg lebih banyak mengandalkan historis sang ayah atau tokoh masyarakat yang sudah sukses terlebih dulu atau bahkan ormas yang dimiliki. Lakukan survey di berbagai akun media sosial dari orang atau kawan yang kalian percayai integritasnya. Kalopun kelak apa yang diperjuangkan tidak sesuai janji, kan bisa diBully di Media Sosial ? *hehehe… Jangan anggap remeh lho kekuatan Media Sosial sebagai sarana komunikasi alternatif. Jika sudah, lakukan pendekatan lewat Media Sosial ataupun secara langsung. Diskusi atau sekedar tukar pikiran jika mampu.

Sedangkan untuk Pilpres nantinya ya tentu saran saya lebih pada figur atau sosok, bukan Partai. Karena rupanya ranah politik yang diantipati oleh sebagian Generasi Muda ya memang benar adanya. Dan soal ini, saya yakin pilihan yang ada sudah makin mengerucut dan terbatas. Tinggal tunggu waktu, kampanye hitam mana yang kemudian terbukti kebenarannya.

Jangan sampe Golput. Karena jika kita Golput dan tidak menggunakan Hak Pilih, ada 2 opsi yang bisa menjadi akibat dari langkah apa yang sudah diambil tadi. Satu, penyalahgunaan Hak Pilih atau Surat Suara… dan Dua, Terpilihnya oknum Caleg yang tidak sesuai harapan minimal, dan yakin banget… penyesalan bakalan datang belakangan. *kalo datang didepan, bukan nyesel sih namanya :p

Tapi ya sudahlah. Setiap orang memang berhak menentukan pilihannya masing-masing, bahkan pilihan untuk tidak memilih sekalipun. Jangan sampe usai kalian membaca opini saya kali ini, malah adu pendapat soal benar atau tidaknya pilihan tersebut. Ini hanya sekedar saran. Selamat menggunakan Hak Pilih kalian.

(kalau bisa) Gunakan Hak Pilihmu kali ini

13

Category : tentang Opini

Gak terasa ya, masa pemilihan kepala daerah sudah dalam hitungan hari. Setahun lalu ketika Negara ini melakukan hal yang sama, sayapun tak ketinggalan ikut serta mensukseskan pemilihan baik dengan berpartisipasi mencontreng juga sebagai seorang BLogger tentu saja melahirkan tulisan terkait. Demikian pula kali ini.

Lantaran memiliki dua latar belakang hal yang berbeda, untuk kali ini saya mengalami masa-masa kampanye dua calon kepala daerah yang berbeda pula. Berdasarkan Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, mau tidak mau saya musti ikut serta dalam beberapa event kampanye dari yang terselubung hingga yang nyata. Sebaliknya berdasarkan domisili atau tempat tinggal di Pusat Kota Denpasar, mau tidak mau ya berhadapan juga dengan kampanye kedua kandidat yang sama-sama memiliki keterkaitan.

Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, kakak beradik ini Selasa besok bakalan secara bersama-sama melakukan pemilihan kepala daerahnya yang kebetulan sama-sama mempertaruhkan Incumbent dan penantangnya. Melibas Incumbent (begitu istilah orang), rupanya bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Karena biasanya sang Incumbent ini akan menggunakan cara-cara pengerahan massa jajaran staf yang ada dibawahnya meskipun secara formal mereka mengatakan ‘bagaimana kami bisa melarangnya lha wong mereka juga yang mau…’ tapi kalo mereka gak mau ya siap-siap saja di-mutasikan. Hehehe…

Menjadi Incumbent ada untungnya juga, akan terlihat saat masa kampanye dimulai. Dari kata-kata yang digunakan baik sebagai jargon maupun program adalah keberhasilan pembangunan yang sebelumnya mereka lakukan sebagai kepala daerah tentu saja. ‘Kami sudah membuktikannya…’ atau ‘Bukan sekedar Janji-janji…’ lha wong kalo sudah gitu, gimana bisa para penantang mereka itu bisa ngomong ? ya ‘gak ica ngomong…’ :p (kata-kata dari Upin & Ipin)

Tapi salut juga dengan kandidat yang menantang sang Incumbent. ‘Kami sudah siap kalah…’ ungkap mereka, walaupun tujuan utama ya tetap ‘harus bisa memenangkan pertarungan. Maka segala carapun lantas digunakan untuk meraih simpati dari masyarakat. Dari merangkul mereka yang selama ini terpinggirkan, mencari celah kelemahan lawan hingga berusaha mencuri suara dengan ‘serangan rupiah’ dimana-mana. Tak lupa mencomot tembang rakyat ataupun dari Top 10 Indonesia yang kemudian disesuaikan liriknya agar pas saat dilantunkan sebagai Mars Kampanye.

Momen ini tentu saja dimanfaatkan betul oleh masyarakat. Mereka berlomba-lomba mengajukan proposal memohon sumbangan, pengaspalan jalan, sembahyang bersama dan sebagainya dengan satu tujuan, mengeruk keuntungan dari sang kandidat. Kapan lagi coba ?

Terlepas dari kampanye dan pernak perniknya, apabila saya berpaling jauh kebelakang, melihat kenyataan yang ada saat pemilihan Calon Legislatif ataupun Pemimpin Bangsa, masih banyak masyarakat yang bersikap ‘tidak mau tahu’ dengan urusan pemilihan ini dan memilih untuk ‘tidak memilih’. Alasannya karena tidak ada yang ‘saje sujati –benar-benar murni membela suara rakyat saat mereka sudah menduduki kursi yang diidam-idamkan, ada juga yang beralasan ‘toh hidup dan kesejahteraan saya tak jua berubah, kendati siapapun pemimpinnya. Yah, itu semua memang benar, tapi bukankah wajar jika pada kandidat yang maju nanti tetap kita bebankan ‘perubahan tersebut’ ketimbang berdiam diri ?

Kali ini saya yakin masyarakat sudah tidak kesulitan lagi dalam memilih siapa kandidat yang nantinya bakalan memimpin masing-masing daerahnya, baik itu Kota Denpasar maupun Kabupaten Badung. Karena toh kandidatnya masing-masing Cuma dua paket saja. Kalo tidak si A ya si B. bakalan makin susah kalo kita tetap pada pendirian yaitu Golput alias ‘tidak memilih’. Seperti banyolannya sang Dalang CenkBlonk, ‘yen sing milih ya sing dadi ikut memiliki… artinne sing dadi protes yen seumpama ade kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan pemikiran. Kurang lebih begitu kira-kira.

Maka ya (kalo boleh), saya pinta sih mbok ya gunakan Hak Pilih Anda kali ini, karena bagaimanapun juga satu suara sangat penting artinya bagi kedua kandidat. Lumayan buat nambah-nambahin biar bisa beda-beda tipis antara kalah menangnya… kata para Tim Suksesnya. Kalopun masih tetap milih Golput ya apa boleh buat… Terserah Anda deh mau bagaimana besok. Hehehe…

Kalo tidak salah bukan mencontreng lagi loh… tapi mencoblos !

“inga inga…”

Menanti HasiL PiLPres 2009

2

Category : tentang Opini

Untuk kali kedua dalam tahun yang sama, ujung jari kelingking saya berwarna gelap, sebagai tanda sudah ikut serta dalam menentukan nasib bangsa ini dalam lima tahun kedepan. Kendatipun saya memahami perbedaan pendapat beberapa rekan yang lebih memilih ‘untuk tidak memilih’ alias golput dengan berbagai alasan dan pembenaran secara sepihak. Whatever lah…
gag GOLPUT
Yang pasti, begitu memasuki hari pertama pasca pilpres saya yakin jutaan orang masih bertanya-tanya, siapakah yang akan tampil sebagai pemimpin bangsa ini dalam jangka waktu lima tahun kedepan.

Terlepas dari segala tetek bengek kampanye, janji-janji manis dan saling klaim ‘bahwa kami adalah yang terbaik’, secara pribadi saya mendukung iklan kampanye yang kabarnya ilegal itu… PilPres satu putaran. Siapapun itu yang bakalan tampil di urutan teratas.

Bukan… Bukan karena saya mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres, tapi lantaran saya bosan dan jenuh mendengar iklan kampanye, janji-janji manis dan saling klaim tadi, baik di media televisi, via sms hingga merusak mata dan pandangan saya di setiap ujung jalan. Rasanya indah jika kita tidak lagi menyaksikan dan mendengar itu semua…
who's next
Hanya saja, ada satu kekhawatiran yang begitu kuat terlintas dipikiran yakni apakah dua kubu yang lain akan bersedia menerima kekalahan seperti yang kita harapkan selama ini ?

Karena seperti biasanya, kekalahan dalam pilkada bakalan berimbas pada bentrok antar pendukung, saling gugat bahkan salah satu jejak dimasa lampau kita, bakar membakar fasilitas pemerintahan bisa jadi bakalan menjadi episode berikutnya.

Segala macam tudingan siap dilontarkan, mulai kecurangan, penggembosan dan penggembungan suara, dimanipulasi dsb bukan tidak mungkin akan menjadi santapan kita dan media selama beberapa minggu kedepan.

Semoga saja itu semua tidak terjadi…

Sebaliknya jika apa yang saya khawatirkan bakalan terjadi ? Fiuh… entah kapan kita akan bisa dewasa dalam berpolitik ?

TenTukan PResiDen PiLihanmu dan SeLamat menConTReng

2

Category : tentang Opini

Hari ini, Bangsa Indonesia akan dihadapkan pada peristiwa bersejarah yang akan menentukan nasib rakyat dalam 5 tahun mendatang.

Ada 3 pilihan yang akan bertarung memenangkan hati sekian puluh juta masyarakat Bangsa ini… Semoga saja tak lantas membuat angka “para pemilih yang memilih untuk tidak memilih” makin tinggi dibanding PiLeg lalu… Jika itu sampe terjadi, ya bisa dikatakan ketiga pilihan yang ada belum mampu mengeluarkan dan memberikan terobosan terbaik mereka pada rakyat. Sekalipun saya yakin, ketiganya saling berlomba mengatakan diri mereka pro rakyat, berjuang demi rakyat dan hanya untuk rakyatlah mereka berbuat…

Siapapun calon Presiden dan calon Wakil Presiden pilihanmu hari ini, secara pribadi saya harapkan jangan sampe pilihan itu diambil hanya lantaran satu lembar uang plastik merah yang sengaja diedarkan di pagi hari atau menjelang pemilihan… Jangan sampai menggadaikan nasibmu selama 5 tahun kedepan hanya demi 20 kg beras yang barangkali cukup untuk makan selama sebulan…
PiLPReS
Siapapun Presiden dan Wakil Presiden yang kelak akan terpilih, lagi-lagi saya berharap jangan sampe kita mengorbankan teman, tetangga atau saudara kita yang berseberangan… menghasut, memfitnah dan menghancurkan mereka hanya karena kita tidak mampu menerima kenyataan yang ada… kita masih dalam satu bangsa, Kawan…

Malu pada diri sendiri dan Bangsa ini…

APA KATA DUNIA ?

One BLoG Wonder ; BLoG CaLeG

8

Category : tentang Opini

Masa kampanye sudah lewat…. Hasil Pemilu guna memilih para Wakil Rakyat yang bakalan duduk di kursi empukpun sudah bisa diketahui. Tampaknya apa yang diramalkan banyak orang terjadi sudah.

Dari ribuan CaLeG yang tidak lolos mulai menampakkan sifat asli mereka. Ambisius dan mau menang sendiri, mudah putus asa atau malahan gak peduli lagi. Entah sudah berapa kali media baik televisi, koran hingga BLoG mengungkap dan mengulas masalah ini. Cerita tentang para CaLeG yang stress gara-gara tidak terpilih menjadi Wakil Rakyat, padahal entah berapa uang dikeluarkan untuk me-dharmasuaka, menyumbang hingga serangan fajar.

Memang sih, hare gene kaya’nya udah basi banget kalo masih saja ngomongin mereka (para CaLeG yang gak lolos ke kursi empuk), jadi saya coba mengulasnya dari sudut pandang lain, yaitu keberadaan BLoG para CaLeG yang dahulu barangkali begitu gencar digunakan sebagai salah satu alternatif kampanye via dunia maya.

Keberadaan BLoG yang dibuat oleh para CaLeG maupun pendukungnya ini ada yang masih memakai account gratisan alias numpang baik di WordPress maupun BloGspot, ada juga yang sudah berdiri sendiri alias memakai jasa Hosting.

Setelah hunting ke beberapa web site resmi parpolpun, ternyata ada juga CaLeG yang mengklaim sudah memiliki alamat sebagai web resmi mereka, padahal itu merupakan account email. Huhuhuhu…. Sepertinya mereka harus mengoreksi lagi alamat tersebut deh….

Mengapa saya begitu ingin mencari tahu, berhubung rata-rata BLoG yang mereka (CaLeg) buat itu digunakan sebagai sarana kampanye, mengiklankan diri sendiri, memperkenalkan visi dan misi juga memohon dukungan, dengan menyertakan beberapa ‘jasa’ mereka pada lingkungan masyarakatnya. Tak lupa deretan gelar yang entah didapat dengan benar atau hanya dengan membayar.

Tentu saja gambaran yang disajikan pada BLoG mereka ini hanya yang baik-baik saja, terkait kegiatan mereka, sambutan masyarakat akan kunjungan mereka atau pendapat dari orang-orang tertentu, entah itu kerabat ataukah orang yang dibayar. He…

Sayangnya, begitu pemilu usai dan hasilnya sudah dapat diterka, beberapa BLoG yang dahulunya sempat aktif menampung aspirasi dan dukungan, kini malahan terkatung-katung gak jelas nasibnya. Rata-rata posting terakhir yang saya lihat adalah akhir tahun 2008 lalu atau per bulan Januari kmaren.

Mandegnya isi BLoG mereka ini bisa disebabkan oleh minimnya ide maupun konsep yang bisa diceritakan atau diungkap dalam BLoG, malasnya melakukan update lantaran gak ada yang berkunjung, atau malah sudah merasa cukup membuat satu dua tulisan dan membiarkannya berkembang sendiri. He….

Untuk yang terakhir diatas kok malah mengingatkan saya dengan BLoG sang Caddy Rani Juliani. Hanya saja, untuk kasus ini BLoG sang Caddy walaupun hanya menyajikan dua buah tulisan, namun mampu mengeruk kunjungan hingga angka 370ribu dan komentar hingga seribuan pertulisannya. Barangkali para CaLeg bisa meniru SEO yang dilakukan Rani Juliani jika menginginkan BLoG mereka mengalami hal yang sama. He….

Bagi yang numpang account gratisan mungkin masih mending, kalopun mereka mau ya tinggal menghapusnya saja. Sebaliknya bagi yang menumpang jasa hosting tentu saja bisa dikatakan mubazir dan membuang uang, apalagi jika hasil yang diharapkan tidak tercapai.

Lagi-lagi Sayangnya Perilaku para CaLeG ini ya sama saja dengan sikap mereka terhadap baliho ataupun selebaran yang ditempel sembarangan. Dibiarkan saja tak terurus. Jadilah BLoG mereka ini sampah di dunia maya yang oleh pemilik resminya (WordPress atau BloGSpot) pula dibiarkan begitu saja. Ah, seandainya saja ada cara untuk memantau/sweeping alamat BLoG yang lama tak terurus, barangkali akan menemukan banyak ‘one BLoG Wonder’ (meminjam istilah ‘One HIT Wonder’ –sebutan bagi artis/grup musik yang hanya mampu melahirkan satu buah hit lagu sepanjang karirnya-).

Berikut daftar beberapa BLoG yang termasuk dalam kategori ‘One BLoG Wonder’ ala para CaLeG negeri ini…. :
> http://calegbali2009.wordpress.com/about/ ; ini masih adek kelas SMA loh. :p
> http://eddymarsono.blogspot.com/
> http://pg-watch.blogspot.com/
> http://restianrick.wordpress.com/
> http://faizalforsumsel.wordpress.com/
> http://yo-h-nes.com/index.php
> http://fransiscakuntagpandi.blogspot.com/
> http://www.sumandiwidjaja-pib.com/
> http://rakiangafur.blogspot.com/
> http://www.japtocenter.org/portal/index.php
> http://rachbini.com/

Sedangkan yang berikut ini adalah seorang CaLeG yang mengklaim sebuah alamat (email) sebagai alamat Web Site Resminya, silahkan lihat pada halaman account Facebook  http://www.facebook.com/profile.php?id=1247225219
Ibu ini mencantumkan alamat berikut sebagai alamat web :  http://[email protected]

Yah, terlepas dari segala macam alasan yang barangkali membuat BloG-BLoG para CaLeG tersebut tak lagi ter-update, saya tak menutup kemungkinan hal yang sama juga terjadi pada account Facebook yang mereka miliki. Saya sendiri tak menceritakannya disini, lantaran pra-pemilu lalu saya melakukan bersih-bersih daftar teman, yang membuat beberapa teman harus out dari daftar yang saya miliki. Termasuk para CaLeG….

Terima Kasih sudah menggunakan Hak Pilih Anda dengan Baik

9

Category : tentang Opini

Akhirnya jadi juga saya ikut serta dalam Pemilu 9 April yang sedianya digunakan sebagai ajang pemilihan para Wakil Rakyat, wakil yang diharapkan mampu menyuarakan aspirasi pula memperjuangkan nasib kita sebagai rakyat kecil. Begitu kira-kira Teorinya.


Padahal, kalo diingat-ingat, beberapa waktu lalu saya masih memutuskan untuk memilih semuanya, alias GoLput. Atas dasar pemikiran bahwa yang maju dalam PilCaLeg kali ini rata-rata adalah orang yang saya kenal sebagai saudara dan mereka semua datang memohon dukungan. Trus yang mana dong harus saya pilih kalo gitu ?

Setelah dipikir matang-matang, ‘mengapa pula saya harus ikutan GoLput ?’ Padahal saya telah diberikan mandat dan kewenangan untuk ikut serta dalam menentukan nasib Bangsa ini kelak ? Saya katakan begitu, karena nama saya dan keluarga telah tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap tanpa ada keluhan apa-apa. Lantas siapa lagi yang bakalan dipercaya untuk menentukannya kalau bukan Kita ?

Kamis pagi 9 April, pada TPS (Tempat Pemungutan Suara) dimana kami mendapatkan kesempatan itu, tampak antusiasme warga untuk berpartisipasi dan ikut dalam Pesta Demokrasi kali ini. Ohya, untuk daerah kami, ada 5 TPS yang disediakan untuk menampung ratusan jumlah warga yang ada. Antusiasme itu bisa dilihat dari berbondong-bondongnya warga menuju tempat TPS masing-masing sesuai DPT, bahkan hingga jelang jam penutupan tibapun warga masih ada yang datang dan ikut antre menunggu giliran.

Bersyukur kebijakan dari Ketua KPPS untuk memperpanjang waktu ‘pencontrengan’ disetujui oleh para Saksi yang hadir, dengan alasan bahwa warga atau Peserta yang datang memang berasal dari Daftar yang ada dan belum menggunakan hak pilihnya.

Bersyukur pula bahwa hingga penutupan waktu pencontrengan, tidak ada kejadian atau insiden yang berarti, baik itu perkelahian hingga bentrok antar warga seperti yang diberitakan pada media televisi beberapa saat lalu. Hanya ada sedikit aura persaingan sebagai konsekuensi dari pencalonan 3-4 warga untuk memperebutkan ‘kursi’ yang sama.

Terlepas dari hasil akhir yang baru akan diketahui nanti malam atau besok pagi, sebagian besar alasan Warga untuk tidak ikutan GoLput seperti halnya isu yang santer terdengar adalah, berusaha memilih orang (CaLeg) yang kelak dianggap (minimal) mampu membantu warga saat dilanda kesulitan. Menghindari agar nantinya orang (CaLeg) yang tidak dikehendaki bisa tampil naik dan mengobok-obok ‘kursi’ yang diharapkan.


Sebagian lainnya yang merasa pesimis dengan daftar CaLeg yang ada, lebih memilih untuk mencontreng Partai ketimbang nama CaLeg dan menyerahkan kebijakan penggunaan suara yang didapatkan kepada para pimpinan ParPoL.

Walau begitu, ada juga beberapa Warga yang punya alasan unik untuk tetap ikut serta berpartisipasi dalam ‘pencontrengan’ ini. Seperti bentuk syukur atas pengangkatan status dirinya sebagai PNS pada periode kepempinan Presiden kali ini, ada juga yang merasa optimis dengan tiga kalinya penurunan harga BBM. (bukannya sebelum itu naik tiga kali juga ? He…)

Ada juga Warga yang mengutip kata-kata Dalang CenkBLonk dalam salah satu video cd-nya, bahwa ‘kalo kita memutuskan untuk GoLput, kita gak boleh ikutan protes seandainya terjadi apa-apa kelak dalam kebijakan yang diambil oleh petinggi negeri ini. Wong kita gak mau ikutan memilih, jadi tidak bisa ikutan memiliki hasil yang didapatkan nanti’. Kira-kira begitu maknanya.

Yah, apapun alasan Warga untuk berusaha ikut hadir dan menggunakan hak pilihnya hari ini, setidaknya saya secara pribadi merasa bersyukur dan berterima kasih untuk tidak ikut serta menaikkan angka GoLput di negeri ini. Minimal ada perubahan yang bisa diharapkan untuk lima tahun kedepan.

> Seorang teman bertanya pada saya atas status yang saya ambil untuk hari ini, bahwa “Orang yang memilih untuk GOLPUT adalah PENGECUT”. Bagaimana seandainya jika keinginan memilihnya tinggi, tapi gak terdaftar dalam DPT ? apakah GoLput kategori ini adalah seorang Pengecut juga ? <

Tentu saja tidak. Gak Mau Ikut Memilih itu BERBEDA dengan Gak Bisa Ikut Memilih. Bedanya, ya pencantuman nama pada Daftar Pemilih Tetap itu. Orang yang sudah diberikan hak pilih, orang yang diberikan kesempatan untuk ikut memilih oleh Negara, tapi gak mau ikut serta untuk menetapkan pilihannya dengan sejuta alasan klise tapi tetap menuntut perubahan dan menganggap dirinyalah yang paling benar, tentu saja berbeda dengan apa yang dialami oleh teman saya tersebut.

Trus, biar mereka itu ndak memilih untuk GoLput (istilah kerennya : ‘Memilih Untuk Tidak Memilih’), maunya apalagi coba ? He….

Mencomot kata-kata Dalang CenkBLonk…. “Napi Kirang ? Napi Tuna ? Pang Ken Ken Buin ?”

Mohon Maaf bagi mereka yang tidak berkenan.