(kalau bisa) Gunakan Hak Pilihmu kali ini

13

Category : tentang Opini

Gak terasa ya, masa pemilihan kepala daerah sudah dalam hitungan hari. Setahun lalu ketika Negara ini melakukan hal yang sama, sayapun tak ketinggalan ikut serta mensukseskan pemilihan baik dengan berpartisipasi mencontreng juga sebagai seorang BLogger tentu saja melahirkan tulisan terkait. Demikian pula kali ini.

Lantaran memiliki dua latar belakang hal yang berbeda, untuk kali ini saya mengalami masa-masa kampanye dua calon kepala daerah yang berbeda pula. Berdasarkan Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, mau tidak mau saya musti ikut serta dalam beberapa event kampanye dari yang terselubung hingga yang nyata. Sebaliknya berdasarkan domisili atau tempat tinggal di Pusat Kota Denpasar, mau tidak mau ya berhadapan juga dengan kampanye kedua kandidat yang sama-sama memiliki keterkaitan.

Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, kakak beradik ini Selasa besok bakalan secara bersama-sama melakukan pemilihan kepala daerahnya yang kebetulan sama-sama mempertaruhkan Incumbent dan penantangnya. Melibas Incumbent (begitu istilah orang), rupanya bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Karena biasanya sang Incumbent ini akan menggunakan cara-cara pengerahan massa jajaran staf yang ada dibawahnya meskipun secara formal mereka mengatakan ‘bagaimana kami bisa melarangnya lha wong mereka juga yang mau…’ tapi kalo mereka gak mau ya siap-siap saja di-mutasikan. Hehehe…

Menjadi Incumbent ada untungnya juga, akan terlihat saat masa kampanye dimulai. Dari kata-kata yang digunakan baik sebagai jargon maupun program adalah keberhasilan pembangunan yang sebelumnya mereka lakukan sebagai kepala daerah tentu saja. ‘Kami sudah membuktikannya…’ atau ‘Bukan sekedar Janji-janji…’ lha wong kalo sudah gitu, gimana bisa para penantang mereka itu bisa ngomong ? ya ‘gak ica ngomong…’ :p (kata-kata dari Upin & Ipin)

Tapi salut juga dengan kandidat yang menantang sang Incumbent. ‘Kami sudah siap kalah…’ ungkap mereka, walaupun tujuan utama ya tetap ‘harus bisa memenangkan pertarungan. Maka segala carapun lantas digunakan untuk meraih simpati dari masyarakat. Dari merangkul mereka yang selama ini terpinggirkan, mencari celah kelemahan lawan hingga berusaha mencuri suara dengan ‘serangan rupiah’ dimana-mana. Tak lupa mencomot tembang rakyat ataupun dari Top 10 Indonesia yang kemudian disesuaikan liriknya agar pas saat dilantunkan sebagai Mars Kampanye.

Momen ini tentu saja dimanfaatkan betul oleh masyarakat. Mereka berlomba-lomba mengajukan proposal memohon sumbangan, pengaspalan jalan, sembahyang bersama dan sebagainya dengan satu tujuan, mengeruk keuntungan dari sang kandidat. Kapan lagi coba ?

Terlepas dari kampanye dan pernak perniknya, apabila saya berpaling jauh kebelakang, melihat kenyataan yang ada saat pemilihan Calon Legislatif ataupun Pemimpin Bangsa, masih banyak masyarakat yang bersikap ‘tidak mau tahu’ dengan urusan pemilihan ini dan memilih untuk ‘tidak memilih’. Alasannya karena tidak ada yang ‘saje sujati –benar-benar murni membela suara rakyat saat mereka sudah menduduki kursi yang diidam-idamkan, ada juga yang beralasan ‘toh hidup dan kesejahteraan saya tak jua berubah, kendati siapapun pemimpinnya. Yah, itu semua memang benar, tapi bukankah wajar jika pada kandidat yang maju nanti tetap kita bebankan ‘perubahan tersebut’ ketimbang berdiam diri ?

Kali ini saya yakin masyarakat sudah tidak kesulitan lagi dalam memilih siapa kandidat yang nantinya bakalan memimpin masing-masing daerahnya, baik itu Kota Denpasar maupun Kabupaten Badung. Karena toh kandidatnya masing-masing Cuma dua paket saja. Kalo tidak si A ya si B. bakalan makin susah kalo kita tetap pada pendirian yaitu Golput alias ‘tidak memilih’. Seperti banyolannya sang Dalang CenkBlonk, ‘yen sing milih ya sing dadi ikut memiliki… artinne sing dadi protes yen seumpama ade kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan pemikiran. Kurang lebih begitu kira-kira.

Maka ya (kalo boleh), saya pinta sih mbok ya gunakan Hak Pilih Anda kali ini, karena bagaimanapun juga satu suara sangat penting artinya bagi kedua kandidat. Lumayan buat nambah-nambahin biar bisa beda-beda tipis antara kalah menangnya… kata para Tim Suksesnya. Kalopun masih tetap milih Golput ya apa boleh buat… Terserah Anda deh mau bagaimana besok. Hehehe…

Kalo tidak salah bukan mencontreng lagi loh… tapi mencoblos !

“inga inga…”

Menanti HasiL PiLPres 2009

2

Category : tentang Opini

Untuk kali kedua dalam tahun yang sama, ujung jari kelingking saya berwarna gelap, sebagai tanda sudah ikut serta dalam menentukan nasib bangsa ini dalam lima tahun kedepan. Kendatipun saya memahami perbedaan pendapat beberapa rekan yang lebih memilih ‘untuk tidak memilih’ alias golput dengan berbagai alasan dan pembenaran secara sepihak. Whatever lah…
gag GOLPUT
Yang pasti, begitu memasuki hari pertama pasca pilpres saya yakin jutaan orang masih bertanya-tanya, siapakah yang akan tampil sebagai pemimpin bangsa ini dalam jangka waktu lima tahun kedepan.

Terlepas dari segala tetek bengek kampanye, janji-janji manis dan saling klaim ‘bahwa kami adalah yang terbaik’, secara pribadi saya mendukung iklan kampanye yang kabarnya ilegal itu… PilPres satu putaran. Siapapun itu yang bakalan tampil di urutan teratas.

Bukan… Bukan karena saya mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres, tapi lantaran saya bosan dan jenuh mendengar iklan kampanye, janji-janji manis dan saling klaim tadi, baik di media televisi, via sms hingga merusak mata dan pandangan saya di setiap ujung jalan. Rasanya indah jika kita tidak lagi menyaksikan dan mendengar itu semua…
who's next
Hanya saja, ada satu kekhawatiran yang begitu kuat terlintas dipikiran yakni apakah dua kubu yang lain akan bersedia menerima kekalahan seperti yang kita harapkan selama ini ?

Karena seperti biasanya, kekalahan dalam pilkada bakalan berimbas pada bentrok antar pendukung, saling gugat bahkan salah satu jejak dimasa lampau kita, bakar membakar fasilitas pemerintahan bisa jadi bakalan menjadi episode berikutnya.

Segala macam tudingan siap dilontarkan, mulai kecurangan, penggembosan dan penggembungan suara, dimanipulasi dsb bukan tidak mungkin akan menjadi santapan kita dan media selama beberapa minggu kedepan.

Semoga saja itu semua tidak terjadi…

Sebaliknya jika apa yang saya khawatirkan bakalan terjadi ? Fiuh… entah kapan kita akan bisa dewasa dalam berpolitik ?

TenTukan PResiDen PiLihanmu dan SeLamat menConTReng

2

Category : tentang Opini

Hari ini, Bangsa Indonesia akan dihadapkan pada peristiwa bersejarah yang akan menentukan nasib rakyat dalam 5 tahun mendatang.

Ada 3 pilihan yang akan bertarung memenangkan hati sekian puluh juta masyarakat Bangsa ini… Semoga saja tak lantas membuat angka “para pemilih yang memilih untuk tidak memilih” makin tinggi dibanding PiLeg lalu… Jika itu sampe terjadi, ya bisa dikatakan ketiga pilihan yang ada belum mampu mengeluarkan dan memberikan terobosan terbaik mereka pada rakyat. Sekalipun saya yakin, ketiganya saling berlomba mengatakan diri mereka pro rakyat, berjuang demi rakyat dan hanya untuk rakyatlah mereka berbuat…

Siapapun calon Presiden dan calon Wakil Presiden pilihanmu hari ini, secara pribadi saya harapkan jangan sampe pilihan itu diambil hanya lantaran satu lembar uang plastik merah yang sengaja diedarkan di pagi hari atau menjelang pemilihan… Jangan sampai menggadaikan nasibmu selama 5 tahun kedepan hanya demi 20 kg beras yang barangkali cukup untuk makan selama sebulan…
PiLPReS
Siapapun Presiden dan Wakil Presiden yang kelak akan terpilih, lagi-lagi saya berharap jangan sampe kita mengorbankan teman, tetangga atau saudara kita yang berseberangan… menghasut, memfitnah dan menghancurkan mereka hanya karena kita tidak mampu menerima kenyataan yang ada… kita masih dalam satu bangsa, Kawan…

Malu pada diri sendiri dan Bangsa ini…

APA KATA DUNIA ?