Menanti Absensi Sidik Jari

10

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

Sudah bukan rahasia lagi kalo yang namanya Pegawai Negeri Sipil memiliki budaya kerja yang agak-agak nyeleneh ‘datang siang pulang lebih awal’. Budaya ini jelas jauh berbeda dengan budaya kerja lembaga swasta seperti yang pernah saya alami selama tiga tahun sebelum ikut terjun menjadi seorang abdi negara. Bisa jadi lantaran kepincut budaya nyeleneh itulah, menjadi salah satu alasan saya mengapa nekat ikut-ikutan mendaftar tahun 2003 lalu.

Sayangnya, budaya nyeleneh ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja tempat saya bernaung, tapi hampir diseluruh negeri ini, dari Sabang sampai Merauke. :p Baca saja media, hampir setiap hari ada saja yang mengeluhkan kinerja para abdi negara, dari yang kedapatan jalan-jalan di supermarker saat jam kerja, jarang ngantor hingga yang agak-agak bikin miris, ketangkep berada di pondok wisata yang menyediakan fasilitas short time.

Setidaknya ada dua hal yang menurut saya menjadi akar masalahnya. Pertama yaitu soal pembagian pekerjaan yang tidak merata. Memang secara diatas kertas “katanya” jumlah PNS negeri ini kurang banyak, sehingga yang namanya pelayanan publik tidak maksimal. Padahal dalam kenyataannya ‘yang rajin ngantor dan mengambil kerjaan melulu itu-itu saja’ sedang yang sudah terlanjur enak-enakan jarang ngantor dan tidak mau mengambil bagian pekerjaan ya keterusan. Kenapa bisa begitu ? terkait dengan hal yang Kedua yaitu soal ketiadaan sanksi atau hukuman yang ‘setimpal’.

Minimnya pemberlakuan sanksi atau hukuman yang seharusnya dijatuhkan pada mereka yang tidak mampu menunaikan tugasnya sebagai abdi negara lebih disebabkan oleh ‘ewuh pakewuh’ terkait ‘siapa yang berada dibelakang oknum tersebut. Hal ini berkaitan lagi dengan sistem perekrutan tenaga calon Pegawai Negeri Sipil yang tidak Profesional atau lebih mengutamakan faktor kerabat dan sejumlah uang untuk memuluskan jalan.

Blunder masalah ini tampaknya meski sudah diketahui banyak orang, namun belum mampu mengubah pola pikir kebijakan yang sudah seharusnya dipikirkan untuk dapat memberikan pelayanan publik secara maksimal pada masyarakat. Kendati demikian, satu berita bagus yang saya dengar beberapa minggu terakhir, bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Badung bakalan menerapkan sistem absensi sidik jari atau yang dikenal dengan istilah fingerprint, mulai tahun 2011 nanti. Satu harapan yang paling mudah ditebak adalah untuk meminimalisir budaya ‘datang siang pulang lebih awal’ tadi. Dengan menggunakan sistem sidik jari ini, hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada lagi istilah titip absen.

Salah satu pelayanan publik yang sudah mengadopsi sistem absensi sidik jari ini yang saya ketahui adalah Rumah Sakit Sanglah yang kabarnya kini sudah bertaraf Internasional. Sepanjang pengetahuan saya, sistem ini sangat efektif digunakan untuk memantau keberadaan tenaga kerja pada saat ia seharusnya bertugas, namun sayangnya setelah melakukan absensi sidik jari, yang bersangkutan masih memiliki kemungkinan untuk pulang dan menghilang dari kantor karena tidak ada sistem absensi pada jam pulang. Apa bedanya ya ? :p

Untuk dapat menggunakan sistem absensi sidik jari ini dengan baik, sudah barang tentu akan memerlukan banyak faktor pendukung lainnya yang tidak kalah pentingnya. Sistem yang terkomputerisasi biasanya memerlukan aktor atau sumber daya manusia yang minimal mampu mengoperasikan dan memantau apakah sistem sudah berjalan dengan baik. Selain itu tentu saja, mampu untuk melakukan pemeriksaan dan maintenance ringan secara berkala agar sistem tetap dapat berjalan sebagaimana fungsinya. Yang tak kalah penting adalah pemantau jaringan sistem untuk mengetahui adanya sabotase terhadap alat baik yang dilakukan secara fisik maupun secara jaringan. Hal-hal inilah yang patut menjadi pemikiran selanjutnya apabila sistem absensi sidik jari jadi diterapkan. Jangan sampai, absensinya sudah menggunakan teknologi canggih, namun tidak ada sumber daya yang mampu menggunakan, memantau dan memelihara.

Kembali pada dua hal yang tadi saya katakan sebagai akar masalah, selama kedua hal tersebut belum diterapkan secara profesional dan secara sadar, barangkali sistem absensi dengan cara apapun yang nantinya diterapkan saya rasa bakalan mubazir. Tapi ya, kita lihat saja nanti. :p

Gaji Jenderal tapi Kerjaannya Kopral

4

Category : tentang Opini

Udah hampir seminggu waktu berjalan usai keputusan Mutasi Eselon tempo hari, masih jua menyisakan kesemrawutan situasi maupun suasana kerja ditingkat staf. Ini lantaran adanya perubahan total susunan Eselon yang mengakibatkan kekisruhan kecil saat para pejabat kecil ini pindahan dari ruangan awal ke ruang tujuan.

0805-000.jpg

Masih bersyukur kalo Beliau-beliau ini bersedia pindah tanpa banyak basa basi, mungkin cukup dengan sedikit kata pembuka ‘maaf, saya atasan baru kalian dan tergolong baru dibidang ini. Jadi mohon bimbingan dan bantuannya untuk dapat mengefisiensikan waktu dan juga tenaga kita bersama ini’. Namun yang terjadi malah lebih dari yang dibayangkan, ‘Maaf saya tau ada beberapa yang gak menyukai kehadiran saya disini, tapi saya gak khawatir karena ada si anu dan si itu yang siap membantu saya‘. Beberapa Eselon yang dipindahkan ke tempat tugas yang tidak mereka kuasai (sepertinya sih rata-rata begitu), malah nekat membawa staf mereka yang loyal (baca :mengikutsertakan staf dengan paksa tanpa persetujuan kepala unit kerja) di bagian yang mereka tempati sebelumnya.

Kalo tenaga yang dibawa ini pas dalam hal kemampuan dan bidang yang dikuasainya, untuk ditempatkan pada bagian Teknis, mungkin ya gak pa-pa. tapi kalo sehari-harinya mereka itu gak becus ngurusin pegawai, dari memacu absen kehadiran, mengalihkan uang suka duka pegawai untuk dibagikan pada stafnya, atau malah naik golongan para pegawai yang gak pernah mereka pedulikan, malah cenderung menjatuhkan orang-orang yang gak mereka sukai, dan kini dipaksa masuk untuk menjadi staf Teknis yang kerjanya Survey, ngurusin Jalan dan juga berpanas-panas dijalan, apa mereka masih mau ?

Keheranan ini blom jua berakhir saat surat-surat untuk menghadiri rapat yang masuk, selalu di disposisikan kepada para staf, padahal para staf tak punya kewenangan mengambil kebijakan saat rapat tersebut. Alasannya cuman satu, ‘toh saya enam bulan lagi sudah pensiun, gak pantes buat ikut menangani hal-hal kayak gini, biarlah ini dianggap sebagai pengkaderan’ dan itu alasan selalu saja dipakai saat berbagai surat datang meminta kehadiran sang Eselon.

Shit ! mungkin apa kata seorang rekan bener adanya. Ni pejabat Eselon ‘Gajinya Jenderal, tapi kerjaan yang dia maui cuman setingkat Kopral’. Apa masih pantas tu orang didapuk sebagai seorang pimpinan ?

SEHARI NGE-TIM (1)

Category : tentang PeKerJaan

Berkesempatan mengikuti Peninjauan Lokasi beberapa kegiatan yang dilakukan Pemda Badung di tahun ini, lumayan banyak yang bisa diabadikan lewat kamera pribadi Konica, bukan milik kantor seperti yang banyak dipertanyakan teman sekantor. Karena hampir setiap hari aku bawa di saku kanan baju dinasku, untuk keperluan dokumentasi proyek yang aku awasi di Kubu Gunung, Dalung.Jadi, sambil menjalankan tugas, memeriksa jalannya proyek lain yang sedang dijalankan maupun yang telah selesai, kamera aku bawapun akan sangat berguna bila menemukan sesuatu yang unik dilingkungan sekitar kita.

Aku tulis per Obyek Foto.
Here We Are…

Part 1 : Rumah Dinas Calon Sekretaris Dewan Badung

Menengok kondisi yang telah direhab selama kurang lebih sebulan, sungguh disayangkan bila beberapa bagian darirumah tersebut tidak ikut diperbaiki dan tetap ditelantarkan. Ini terjadi, mungkin karena dana Rehab yang diturunkan, tidak mencakup keseluruhan item yang ingin diperbaiki, sehingga hanya sedikit yang bisa kembali seperti awal mula dibangun.

Ini Rumah Dinas Calon Sekretaris Dewan Badung lho. Kondisi awalnya gak jauh beda dengan rumah-rumah dinas lain yang ada disekitarnya, rusak karena lama tidak ditempati, dan sebagian besar komponennya telah dicuri oleh orang-orang yang kelaparan. Huehehe…

Gak terhitung, dari pintu panil, gagang pintu, engsel, meteran listrik juga air, kran air, dan yang lain yang sekiranya bisa digondol untuk nambah-nambah kekurangan dirumah, ato malah diloakkan ?
Who Knows ?
Yang pasti, ini salah satu foto yang aku ambil, dimana merupakan tempat suci diareal rumah dinas calon Sekwan kita, dengan kondisi retak, dan nyaris ambruk, mungkin karena :
faktor tanah yang labil berhubung dulunya ini adalah areal sawah,
bisa juga karena faktor pemadatan tanah dasar yang kurang, karena ketinggian lahan rumah ini jauh tinggi dibanding sawah disebelahnya,
bisa juga karena faktor X, dimana pada tembok dan beberapa bagian yang seharusnya diisi dengan balok beton, namun kenyataannya setelah rusak, baru terlihat boroknya pekerjaan yang dilakukan, tidak terdapat sloof maupun kolom beton yang seharusnya bisa dijadikan pengaku tembok…