Masih Terbawa Mimpi

Category : tentang PeKerJaan

Antara sadar atau tidak, semua kerjaan itu seakan hadir menyeruak diantara aktifitas yang ada dalam mimpi. Mengingatkanku untuk selalu waspada dalam setiap langkah seakan enggan menyia-nyiakan waktu luang yang ada di awal tahun 2017 ini.
Satu hal yang buruk terasa sekali dalam pikiran.
Satu ekspresi antara keengganan untuk beranjak atau mungkin belum siapnya untuk berpindah pekerjaan.
Entahlah…

Tiga setengah tahun menangani Jalan Lingkungan, bisa jadi hanyalah sebuah waktu yang sekejap mata baru saja terlewatkan.
Namun bisa juga merupakan perjalanan panjang yang melelahkan jika kalian mengalami semua tantangan yang ada didalamnya.
Termasuk semua hiasan baik dan buruknya.

Maka ya wajar saja apabila semua rutinitas itu selalu hadir dalam mimpi tidur panjangku.
Baik pemeriksaan lapangan, ataupun koordinasi untuk mengingatkan semua staf agar bergegas mengumpulkan pekerjaan di hari Senin nanti, dan bisa dieksekusi lebih lanjut bersama-sama.

Jadi terhenyak saat mata terbuka.
Pikiran seakan berusaha meyakinkan dunia nyata.
Fakta yang ada.
Bahwa aku telah masuk masa pensiun dari Jalan Lingkungan.
Semuanya.

Ada rasa kecewa, kangen, dan juga gembira.
Bahwa aku telah melewati semuanya.
Entah dengan kesan baik ataupun buruk.
dan kini harus bersiap diri mengahadapi tantangan baru yang memiliki tensi lebih rendah dari pendahulunya.

Tuhan Punya Rencana Sendiri

Category : tentang DiRi SenDiri

Saya masih bisa mengingat di awal Januari lalu, saat sebagian besar orang di luaran termasuk kawan dan rekan kerja masih riang terbawa suasana Tahun Baru, saya terduduk lemas di kursi ini, usai rapat terbatas dengan pimpinan di gedung paling barat, membahas proses Pemutusan Kontrak pada salah satu kegiatan kami di tahun 2016 lalu.
Hanya menangis yang saya bisa.
Karena tau bahwa nyaris tak ada satupun langkah nyata yang bisa dilakukan untuk memutarbalikkan waktu ke masa sebelum keputusan itu disampaikan.

Perjalanan panjang pun dimulai.

Nyaris tak ada semangat lagi yang saya rasakan sejak itu. Hari demi hari, terlalu berat untuk saya lalui. Bahkan sempat saya merasa sakit melihat layar ponsel yang baru usai diinstalasi aplikasi maskapai penerbangan, sebagai bentuk persiapan keberangkatan saya ke Surabaya dan Jakarta, menindaklanjuti dan menyelesaikan semuanya.

Tuhan Memang Punya Rencana Sendiri.
Istri saya berkali-kali mengingatkan, agar tetap berserah pada-Nya, sambil tetap memohon agar semua jalan bisa dipermudah dan dilancarkan.
Tidak lupa saya mengingat nasehat pimpinan tentang ‘Reaksi dan Respon’.

Saya bersyukur semua bisa berjalan tanpa diduga sebelumnya. Tak pernah terbayangkan jika hari ini akan datang.

Kini ketika upaya sudah sedikit membuahkan hasil, saya rupanya kembali terduduk di kursi yang sama. Masih dengan masalah yang sama, namun berbeda suasana.
dan Saya kembali menangis namun hanya di dalam hati.
Merasa bahagia bisa melewati semuanya tanpa harus marah-marah, atau menyalurkan energi negatif pada orang lain.
Inilah ‘Respon’ yang pernah pimpinan ceritakan sebelumnya.
Berat memang, tapi bisa bikin bangga diri sendiri.
Nda nyangka saja saya bisa melakukannya…

Lantai 2 Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, depan ruang Kepala Dinas sisi selatan…
Untuk semua yang pernah terlibat dalam proses ini.
Terima Kasih.

OPD Baru, Semangat pun Harus Baru

2

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Di Akhir tahun 2016 lalu, beberapa Organisasi Perangkat Daerah baru Pemerintah Kabupaten Badung dibentuk dan disahkan oleh Bupati Giri Prasta. Salah satu yang saya ketahui pasti adalah adanya Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman atau yang kelak disebut sebagai PRKP.
Dinas ini merupakan pengembangan dari Seksi Permukiman dimana saya bertugas dahulu, yang dipecah tugasnya menjadi 2 Bidang yaitu Bidang Perumahan dan Bidang Kawasan Permukiman.
Dua hal yang dalam setiap aturan maupun kebijakan selalu menjadi satu kesatuan atau yang kalau disingkat menjadi PKP.

Saya sendiri ditugaskan pada Seksi Peningkatan Kualitas Perumahan yang berada dibawah Bidang Perumahan dengan tugas pertama yang paling jelas terlihat adalah mengawal Program Bedah Rumah baik Rumah Sehat yang diperuntukkan bagi Rumah Tangga Miskin atau Masyarakat penerima Beras Miskin yang dulunya ditangani oleh Dinas Sosial, dan Rumah Layak Huni bagi mereka yang masuk dalam Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang memiliki Rumah Tidak Layak Huni. Khusus RTLH terakhir ini ditangani oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang menjadi induk kebijakan Dinas PRKP Badung.

Meski demikian, info sementara saya diberikan tugas tambahan untuk menangani sebagian paket kegiatan Peningkatan Jalan Lingkungan Perumahan dan Permukiman, berbagi dengan Bidang Kawasan Permukiman mengingat banyaknya jumlah paket yang harus diselesaikan.
Ditambah lagi Program Kotaku atau Kota Tanpa Kumuh, plus Ranperda Kebijakan terkait PKP, RP3KP dan Database Perumahan.
Ampun deh…

Padahal rencana awal, dengan adanya kepindahan ini saya bisa jauh lebih santai menghadapi rutinitas tapi keknya ya sama saja. Bahkan bertambah lagi dengan kegiatan yang dulunya ditangani Ibu Kabid.
Yang kalo kata pimpinan cemnya ‘Ngelidin Setra Nepukin Sema’ ya sama saja. Duh !

Tapi dengan adanya perubahan OPD baru ini, saya berharap semua semangat yang dahulu pernah hilang, bisa terbaharukan kembali. Minimal ya untuk mencoba beradaptasi dengan pekerjaan baru, kawan-kawan baru dan pimpinan yang baru.
Namun begitu, hutang saya pun sebenarnya masih sisa satu dari pekerjaan tahun lalu yaitu terkait Pemutusan Kontrak yang saya harap bisa selesai dalam minggu-minggu ini.
Karena bagaimanapun juga, OPD baru sudah siap untuk mengeksekusi sejumlah kebijakan yang diturunkan oleh Bupati Terpilih.
Mau tidak mau ya kita harus siap menghadapi dan menyelesaikannya dengan Baik.

Kira-kira Begitu.
Jadi yuk ah, kita semangat lagi Kawan…
Jangan menggalau terus bawaannya…

Penyesalan dan Pengalaman, yang Harus dibayar Mahal

Category : tentang DiRi SenDiri

Semestinya hari ini saya bisa merasa lebih bersyukur dibanding hari sebelumnya.
Mengingat secara pelan tapi pasti, semua jalan kelihatannya mulai dibukakan oleh-Nya.
Melalui tangan sejumlah pimpinan, kawan, bahkan bisa jadi dari orang-orang tak sedari awal tak pernah saya harapkan.
Meskipun pahit, tapi saya merasa bahwa ini memanglah sebuah Ujian dari-Nya yang harus saya tempuh untuk menjadikan semua pengalaman hidup yang lebih baik.

Penyesalan selalu datang belakangan.
dan itu baru terasa ketika sadar bahwa semua sudah terlambat.
Semua sudah menjadi satu masalah besar, dimana orang lain akan berupaya menyelamatkan dirinya masing-masing dan menimpakan semuanya di satu tempat.
Hanya menangis yang saya bisa.
dan Saya tak lagi malu untuk mengakuinya.

Ada harga yang harus saya korbankan demi sebuah pengetahuan. Yang mungkin tak bisa saya dapatkan dari membaca.
Bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Jadi berharap saja bahwa kelak tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Mengabdi rupanya tak cukup hanya dengan mengorbankan pikiran dan waktu. Tapi juga tenaga, biaya, keluarga bahkan pula kesenangan.
Semua kejadian ini sepertinya memang harus ditebus dengan mahal.

Ada banyak pelajaran baru yang akhirnya saya dapatkan.
Terutama bagaimana merespon, bukan bereaksi.
Bagaimana memikirkan jalan keluar dalam ketenangan pikiran.
Bagaimana bersikap ketika berada dalam kondisi tertekan.
dan Bagaimana berserah pada-Nya ketika nyaris tak ada lagi yang bisa dilakukan.

Untuk Istri dan Anak-anakku…
Maafkan Bapak hari ini.

Galau di Awal Tahun

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Akhirnya kena juga sayanya. Sandungan batu selama tiga tahun terakhir berkarya di Seksi Permukiman.
Batunya besar. Bahkan saya menggalau dibuatnya.

Tadinya saya berpikir bahwa Tahun Baru ini akan menjadi ajang balas dendam saya setelah bergulat dengan seratusan proyek Jalan Lingkungan, yang ndak memberikan sedikit pun waktu bersantai. Sayangnya Tuhan berpikiran lain. Saya kembali diuji dengan cara yang lebih keras lagi.

Pemutusan Kontrak di salah satu paket kegiatan yang jujur saja sangat saya sesalkan. Mengingat secara nilai sebetulnya ndak seberapa. Lingkup pekerjaan pun hanya dua ruas jalan lingkungan.
Tapi beban yang diakibatkan, membuat tiga hari liburan ini menjadi sangat hampa.
Dan saya tak lagi bisa berpikir dengan jernih.

Besok saya sudah didaulat pimpinan untuk segera berangkat ke Surabaya dan juga Jakarta. Mengurus semua pencairan Jaminan Pelaksanaan dan Uang Muka paket kegiatan dimaksud. Mengingat secara nilai, sudah ditebuskan lebih dulu menggunakan uang pribadi kami. Yang dipaksakan keluar tanpa ampun.
Ini seperti sebuah hukuman akan sebuah keteledoran sikap di tengah gempuran pekerjaan yang sudah dijalankan. Sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga, masih harus dibayarkan dengan harta pula. Lengkap sudah.

Maka seperti yang sudah sudah, sore inipun galau itu masih terus menghantui.
Akankah semua ujian bisa dilalui dengan baik tanpa hambatan ? Ataukah tebing dan batu terjal itu akan terus menghadang ?

Surabaya…
Jakarta.
Kelak ini akan menjadi satu cerita yang bisa saya kenang. Bahwa satu perjalanan tak lagi menyenangkan seperti sebelumnya.

Akhir Tahun yang dinanti

2

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Tiba jua…
Hari yang paling dinanti dalam setahun terakhir…
Hari dimana kami harus menyiapkan semua pertanggungjawaban kegiatan yang bisa dikatakan terparah dalam sejarah saya menjalani rutinitas di Dinas Cipta Karya.
Hari dimana kami harus berpacu dengan waktu dan degup jantung tanpa henti untuk selalu mengingatkan rekanan pelaksana baik dalam penyelesaian fisik pekerjaan maupun administrasi dan kelengkapannya.
Hari dimana kami menerima banyak komplain, baik dari pimpinan, kolega sejawat hingga masyarakat yang kecewa lantaran jalan masuk ke lingkungan rumah mereka belum mendapatkan prioritas hingga tahun ini berakhir.
Ini memang tahun paling absurd bagi saya secara pribadi.

Tahun ini sepertinya merupakan tahun terbanyak saya mengeluh baik di halaman blog maupun timeline akun Twitter, tentang segala tekanan dan makian yang dialami tentu saja terbesar dari oknum DPRD tentang banyak hal yang pada intinya ya ndak jauh jauh dari urusan perut berbalut atas nama Rakyat. Klise benar…
Mengalami banyak tekanan tentu saja membuat saya nyaris kehilangan semangat. Rasanya memang tak nyaman untuk bekerja dengan baik dan benar lagi, setelah apa yang saya harapkan tak berjalan sesuai rencana.
Bahkan kekalutan perasaan cukup membuat saya emoh untuk dinas keluar kota, atau sekedar melawat ke negeri seberang bersama kawan kawan. Semua sudah tak elok lagi untuk dijalani.
Maka itu tahun ini saya pribadi memutuskan untuk tidak kemana mana lagi. Disamping dalam waktu dekat kami akan mengalami rotasi tempat bekerja, apakah akan berpisah satu sama lain ataukah masih akan tetap seperti ini nantinya.
Cukuplah saya melewatkan waktu pagi di dek lantai paling atas, berteman angin sepoi dan sinar matahari pagi, juga segelas kopi.
Jauh lebih nikmat rasanya bisa menikmati suasana dari sudut pandang yang berbeda.

Jika saja kelak saya diberikan cukup umur untuk menjalani hidup kedepannya, ingin sekali bisa mencapai 75 kali donor darah dimana hingga akhir tahun ini saya hanya bisa menyelesaikan hingga kali ke 52. Satu bentuk pengabdian saya kepada masyarakat dari diri sendiri.
Begitu pula melanjutkan aksi Yoga untuk menggantikan absennya rutinitas olahraga yang makin berkurang saya lakoni pasca musim berganti. Mengingat Gula Darah yang saya dapati melalui alat penguji rumahan, hampir selalu berada diatas angka 200 mg/dl meski asupan makan sudah berganti menjadi beras rendah kalori. Bahkan sempat melonjak hingga 320an mg/dl saat stress melanda yang kemudian membuat saya mencoba mengambil keputusan untuk melaksanakan Yoga.

dan di akhir tahun 2016 ini, saya bisa berharap mengajak liburan anak anak, istri dan orang tua, sekedar menyeberang lautan atau melintasi angkasa, dua tiga hari saja, sekedar menikmati hari bersama keluarga dan melepas anak anak dalam kolam renang yang mereka dambakan tiap harinya.
Entah akan bisa terwujud atau tidak…

Galau Abdi Negara di Akhir Tahun

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Terkadang saya pernah merasa malas.
Untuk berangkat kerja, menjalani rutinitas, berhadapan dengan kesibukan.
Sekali-kali ingin mangkir dari semuanya.
dan Tentu saja itu ndak mungkin.

Tugas sebagai Abdi Negara itu ndak mudah.
Setidaknya begitu menurut saya.
Terkadang kita harus siap membohongi hati nurani.
Terkadang juga kita harus siap mengubur semua idealisme yang pernah ada dalam hidup.
Apalagi jika sudah berbicara soal hak, yang rasanya sangat-sangat sulit didapat.

Kemarin itu merupakan hari yang buruk.
Saat berbagi tugas dan tanggungjawab, orang rata-rata berupaya menghindar. Tidak demikian halnya ketika berbagi hak. Semua ingin keadilan. Sama rata.
Ini sama saja dalam kehidupan yang lainnya.

Terkadang ingin menyepi.
Lari dari semua beban yang menghimpit.
Hanya memang itu ndak mungkin.

Menyibak Isi Kepala

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Ada hal-hal yang tak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata di halaman ini, pula secara langsung pada setiap orang yang saya temui di jalanan. Baik yang saya kenal betul ataupun mereka yang sembari lewat. Demikian halnya kalian yang membaca halaman ini.
Karena meskipun itu sudah menjadi rahasia umum, namun tetap saja jika saya nekat mengungkapkannya, sama saja saya mencoba membunuh diri saya sendiri melalui jerat Undang Undang ITE. Karena bagaimanapun juga orang-orang yang kemudian merasa menjadi oknum yang saya sebutkan, akan menindaklanjutinya dengan pasal pencemaran nama baik dan lainnya.
Maka itu saya membiarkan saja semua hal yang menjadi ganjalan di hati tersimpan liar dalam isi kepala yang belakangan sudah mulai memudar ingatannya.

Perjalanan saya masih panjang, ungkap pimpinan di tempat saya bekerja. Ada banyak hal yang harus saya sesuaikan, siap maupun tidak. Karena yang namanya tugas dan pekerjaan akan tetap ada, menanti demikian banyaknya, dan semua tantangan itu pun akan tetap didapatkan sepanjang kita memutuskan untuk berada di posisi yang sama.
Ini sering diungkapkan, termasuk di halaman ini pula.
Bagai buah simalakama, bathin saya galau.

Sebetulnya saya berharap bisa lepas dari lingkaran ini. Namun amanah yang dibebankan di kedua pundak saya sejak tiga tahun lalu sepertinya memang harus dijalani apapun itu resikonya.
Maka itu, biarkanlah saya menyepi barang sekejap. Melupakan semua amarah dan kekesalan yang tercipta setahun terakhir, sementara tidak banyak yang bisa dilakukan dengan tetap mengedepankan idealis yang kian digerogoti kepentingan dan permintaan orang lain.

Isi kepala kian tak nyaman saja rasanya.
Mungkin sudah saatnya saya mengeluarkan semuanya dengan jalan yang lain.