150 Bantuan Rumah Layak Huni Kabupaten Badung Siap Dicairkan

Category : tentang PeKerJaan

Ruang Rapat Kantor Camat Mengwi tampak penuh sesak Rabu pagi 18 Juli 2018 kemarin, dengan kehadiran para calon penerima bantuan rumah layak huni yang didampingi oleh sejumlah aparat desa dan jajarannya dalam rangka sosialisasi pemberian bantuan rumah layak huni di Kabupaten Badung.
Agenda ini dipimpin oleh Kepala Bidang Perumahan Rakyat, I Wayan Seraman, didampingi oleh Kepala Seksi Pelayanan Umum Kantor Camat Mengwi.

Dalam pemaparannya, Seraman mengingatkan agar masyarakat yang nantinya akan menerima dana bantuan rumah dalam bentuk hibah bansos sebesar 55 Juta per kepala keluarga, dapat menyelesaikan rumah bantuan sesuai kriteria yang telah ditetapkan oleh Bupati Badung. Hal ini ditekankan, agar nanyinya tidak lagi membebani pendataan di masing-masing desa atau kelurahan, utamanya yang berkaitan dengan upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Badung.

Menyasar 150 nama kepala keluarga yang berasal dari 38 Desa/Kelurahan se-Kabupaten Badung, sesuai hasil verifikasi yang dilaksanakan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dari tahun 2017 lalu. Rencananya hingga akhir tahun 2018 mendatang, akan disusulkan sebanyak 565 nama kepala keluarga sebagai calon penerima bantuan rumah menggunakan dana anggaran Perubahan APBD Kabupaten Badung.

Pada penghujung acara, tidak lupa Seraman menyampaikan bahwa Masyarakat Kabupaten Badung tinggal bersabar dalam menanti turunnya dana bantuan rumah baik pembangunan baru atau bedah rumah maupun rehab atau peningkatan kuakitas, mengingat komitmen Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta yang benar-benar pro rakyat, demi kemajuan Kabupaten Badung hingga akhir masa jabatannya nanti. (*)

Gunung Agung Meletus, #PrayForKarangasem kembali Viral, Tabah bagi Pekerja Konstruksi di Bali

Category : tentang Opini

Ditengah hiruk pikuk Piala Dunia 2018 dan segala kekecewaan para suporternya, netizen di Bali dikejutkan oleh Erupsi Gunung Agung yang sudah mulai memuntahkan lahar panasnya. Beberapa kawan di akun sosial media pun mulai tampak ramai mengabarkan duka.

Semua notifikasi WhatsApp Group mendadak nyaring. Seketika itu pula belasan gambar dan video yang sama, diterima sebagai upaya meneruskan informasi kepada rekan yang lain, secara cepat dan saling mendahului, menganggap bahwa ini adalah hal yang wajib diketahui semua orang. Seakan lupa bahwa sekian group diantaranya memiliki karakter keanggotaan yang sama.

Hastag #PrayForKarangasem sepertinya bakalan kembali Viral. Saya meyakini sebagian besar kawan di sejumlah akun sosial media bahkan WhatsApp Group sekalipun, bakalan menyampaikan hal yang sama. Turut berduka dan saling mengingatkan, baik info akurat dari badan bencana, hingga agenda pengumpulan dana untuk disumbangkan ke pos pengungsian kelak.

Seperti mengalami Mimpi Buruk yang terulang. Cukup membuat saya tak bisa memejamkan mata dengan baik malam ini.
Bukan…
Bukan soal kekhawatiran akan keselamatan saudara kami yang ada disekitaran Gunung Agung. Karena mereka, saya yakini sudah melakukan banyak persiapan dari setahun lalu. Termasuk opsi pengungsian yang sudah pula direncanakan dengan baik oleh pemerintah daerah hingga pusat. Pun soal dana bencana dan bantuan, saudara kami yang lain sudah pasti siap dengan logistik dadakan.

Hanya satu yang saya pikirkan.
Kelangkaan Material bagi para pekerja konstruksi di Bali.

Sebagai seorang tenaga teknis, mimpi buruk inilah yang membuat saya begitu down secara pikiran dan mental setahun lalu. Karena semua berakibat pada naiknya harga akibat minim stok persediaan, molornya pekerjaan akibat bahan material yang susah dicari, dan pengenaan opsi denda akibat absennya keputusan pimpinan soal bencana.
Lumayan pusing dalam mengambil setiap keputusan yang ada, mengingat saat itu secara dadakan pula ditugaskan sebagai PPK atau Pejabat Pembuat Komitmen untuk belasan kegiatan fisik jelang akhir tahun. Jadi makin mangkel ketika sejumlah aparat seakan tak mau tahu kondisi dan fakta lapangan, menganggap para pekerja konstruksi ini teledor dalam melaksanakan tugasnya.

Untuk itulah saya berdoa, agar mereka yang dibebankan kewenangan sebagai PPK kegiatan fisik apapun itu bentuknya saat ini, agar tetap bisa diberi kesehatan dan ketabahan dalam mengambil dan memikirkan setiap opsi keputusan, karena disinilah semua integritas kerja dan kinerja kita diuji.
Saya sudah mengalaminya setahun lalu.

Bersyukur, tahun ini saya tak lagi mendapatkan tugas yang sama. Sehingga beban pikiran, bisa dikatakan sudah jauh lebih ringan.
Namun demikian, tetaplah empati itu ada bagi kalian para pekerja konstruksi di Bali.

FAQ : Hal-hal yang Sering Ditanyakan Masyarakat terkait Bantuan Bedah Rumah

2

Category : tentang PeKerJaan

Dalam upaya menjalankan tugas sebagai Tim Verifikasi dan Monitoring Usulan Bedah Rumah di Kabupaten Badung, ada beberapa hal yang kerap dipertanyakan (Frequently asked questions) oleh masyarakat Badung, baik secara langsung kepada kami atau melalui akun media sosial FaceBook.

Namun sebelum mengetahui apa saja itu, yang Penting dipahami bersama-sama disini adalah Pasal 1 sesuai dengan Kriteria, dan Pasal 2 Koordinasi.

Cukup patuhi 2 Pasal itu saja, saya yakin tidak akan banyak hal yang akan dipertanyakan kembali.

Ohya, bagi kalian yang belum membaca
6 Hal Penting yang Wajib diKetahui tentang Pemberian Bantuan Bedah Rumah dari Pemerintah Kabupaten Badung dalam postingan tempo hari, bisa melihatnya disini.

dan Berikut saya rangkum beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh masyarakat Kabupaten Bafung terkait Pemberian Bantuan Bedah Rumah, simak diantaranya.

1. Hingga hari ini Saya belum juga mendapatkan Bantuan Bedah Rumah. Padahal rumah yang saya miliki sudah rusak dan tidak layak dihuni. Mohon Bapak Bupati bisa memperhatikan masyarakat Badung.

Pertanyaan semacam ini, paling sering ditemukan pada Group Suara Badung akun sosial media FaceBook. Entah dengan maksud menyampaikan keluhan atas nama pribadi, ataupun menyambung lidah keluarga lainnya dengan maksud dan kepentingan tertentu.
Tanggapannya amat sangat Mudah. Bahkan tergolong Mubazir bila sampai meminta Bupati Badung ikut serta turun tangan menangani persoalan kecil begini.

Pahami 2 Pasal tadi.
Sepanjang sesuai dengan Kriteria, silahkan berKoordinasi lebih lanjut.

Laporkan atau sampaikan harapan Bapak/Ibu, kepada Kelihan Dinas/Kelihan Dusun/Kepala Lingkungan sebagai aparat Terdekat, yang kami yakini jauh lebih mengetahui seluk beluk dan latar belakang keluarga di Desa/Kelurahan setempat.
Karena mereka inilah yang menjadi ‘orang tua sesungguhnya bagi masyarakat’

Apakah memang layak dan sesuai Kriteria untuk mendapatkan bantuan dilihat dari segi status Rumah Tangga, kemampuan finansial keluarga, objek rumah yang akan dibantu, atau barangkali histori bantuan yang sudah pernah didapatkan sebelumnya.
Karena untuk Bantuan Bedah Rumah, tidak diperuntukkan bagi mereka yang sudah pernah mendapatkan Bantuan program serupa dari Pemerintah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Mengingat asas keadilan bagi masyarakat yang memang belum pernah mendapatkan bantuan serupa agar didahulukan.

Apabila terdapat ketidakcocokan pandangan dengan Kelihan Dinas/Kelihan Dusun/Kepala Lingkungan terdekat, bisa juga berkoordinasi lebih lanjut dengan Perbekel/Lurah setempat.

2. Saya memiliki Anak 6 orang. Apakah Bantuan Bedah Rumah ini bisa diberikan kepada Anak saya agar mereka tidak tidur berdesakan dengan orang tuanya dalam satu bangunan dengan dua-tiga kamar tidur, sampai-sampai susah berhubungan badan lagi dengan istri ? Eh…

Kembali ke Pasal 1.
Sesuai dengan Kriteria.

Bantuan Bedah Rumah Bisa diberikan kepada semua Masyarakat Badung sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan sesuai Peraturan Bupati terkait pemberian bantuan dimaksud.
Sepanjang Anak yang dimaksud sudah berkeluarga, dan memiliki penghasilan setinggi-tingginya UMK Kabupaten Badung, silahkan mengajukannya kepada Perbekel/Lurah melalui Kelihan Dinas/Kelihan Dusun/Kepala Lingkungan setempat.
Namun apabila Anak dimaksud belum berkeluarga, tentu Bantuan tidak dapat diberikan pada si anak. Semua dikembalikan pada situasi dan kondisi si orang tua.
Bilamana kondisi rumah masih dianggap layak huni, bantuan tetap tidak bisa diberikan.

3. Saya memiliki Rumah dengan kondisi yang sudah layak huni. Luasannya cukup besar sekitar 6×10 meter dengan 3 Kamar Tidur. Mengingat 2 putra saya sudah beranjak remaja dan meminta kamar masing-masing, apakah boleh Bantuan Bedah Rumah dari Kabupaten Badung ini diberikan pada kedua orang tua saya yang sudah renta, mengingat masih ada lahan kosong yang bisa digunakan ?

Salah satu Kriteria Bangunan Rumah Layak Huni adalah memenuhi standar luasan per orang hunian yang mencapai 9 M2. Bila dikalikan dengan jumlah hunian yang ada, hanya membutuhkan luasan 54 M2 saja. Sementara luasan Bangunan Rumah eksisting sudah melampauinya. Jadi secara aturannya Bantuan tidak dapat diberikan meskipun kelak situasi putra yang remaja menginginkan kamar tersendiri.
Namun apabila luasan bangunan berbanding jumlah hunian, lebih kecil dari standar layak huni tadi, maka kedua orang tua dimaksud dapat dibantu dengan pembangunan rumah baru diatas lahan yang siap bangun.

4. Saya memiliki Rumah dengan luasan yang terbatas, hanya 2 kamar tidur saja. Saat ini anak satu-satunya masih bayi namun saat beranjak remaja nanti dapat dipastikan akan meminta kamar yang terpisah dari orang tua.
Sementara itu, saya memiliki orang tua yang karena kebiasaannya kurang nyaman untuk tidur dalam kamar sisa yang ada dan memilih tinggal di bale adat/bale bali/bale delod dimana kondisinya bisa dikatakan tidak layak, apakah boleh Bantuan Bedah Rumah dari Kabupaten Badung ini diberikan pada kedua orang tua saya yang sudah renta, dengan memperbaiki bale adat tadi ?

Bila dilihat dari Kriteria Objek yang akan dibantu, adalah Rumah yang ditinggali, tidak difungsikan hanya untuk dapur, bale adat atau fungsi lainnya yang tidak untuk bernaung/dihuni, maka dengan kondisi diatas, Bantuan Bedah Rumah tidak bisa diberikan untuk memperbaiki Bale Adat sebagaimana harapan. Apalagi sesungguhnya kamar sisa yang ada sebenarnya masih mampu dipergunakan untuk menampung orang tua terlepas ketidaknyamanan yang bersangkutan untuk menempatinya.
Apabila kelak si anak sudah remaja apalagi berumah tangga, orang tua yang bersangkutan dapat dibantu dengan membangun unit rumah baru sepanjang masih ada lahan siap pakai yang bisa digunakan.

Terkait fungsi lainnya seperti Dapur, hal ini banyak terjadi di pedesaan dan kerap dimintakan pula bantuan yang sama untuk memperbaiki kondisinya.

5. Saya tidak bekerja, dan memiliki Rumah yang ditinggali dengan kondisi yang kurang layak huni. Dilihat dari posisi dan konsep pola natah yang ada, berada di sisi barat atau yang lumrah disebut bale dauh. Sementara bale delod sudah difungsikan untuk kamar kos 6 unit untuk menambah penghasilan keluarga.
Apakah bisa juga mendapat Bantuan Bedah Rumah dari Kabupaten Badung ?

Dilihat dari sisi Penghasilan Keluarga secara total, pemasukan yang dihasilkan dari harga sewa kamar kos perbulannya, sudah melebihi dari standar UMK yang berlaku di Kabupaten Badung. Dimana artinya meskipun yang bersangkutan tidak memiliki pekerjaan dan rumah yang kurang layak huni, tetap saja Bantuan tidak dapat diberikan. Hal ini akan dipertimbangkan apabila Bale Delod dalam konsep pola natah memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dengan rumah tinggal yang bersangkutan.
Hal seperti ini sempat kami temui di salah satu Desa bagian utara Kabupaten Badung.

6. Saya tinggal pada rumah yang tidak layak huni. Namun karena memiliki warisan tanah yang cukup luas dari orang tua, hingga saat ini belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari Pemerintah.

Semuanya kembali pada kewenangan Lingkungan setempat, apakah menyetujui yang bersangkutan untuk dapat dibantu oleh pemerintah berdasarkan hasil parum/rapat banjar/desa ?
Ini biasanya akan dilihat ke pola pergaulan dan perilaku yang bersangkutan di banjar/desa.
Sepanjang Kelihan/Perbekel menyetujui bahwa yang bersangkutan tergolong layak dibantu berdasarkan kesepakatan warga, mengingat secara kemampuan dianggap kurang mampu mengolah tanah warisan, kami siap turun untuk memVerifikasi lebih lanjut.

7. Jika nantinya Saya mendapatkan Bantuan Bedah Rumah, apakah boleh membangun sedikit lebih besar dari Gambar Acuan yang diberikan ?

Besarnya dana Bantuan Bedah Rumah yang diberikan adalah 55 Juta Rupiah per KK, dengan perhitungan mampu mewujudkan Rumah Layak Huni sesuai dengan ketentuan dan gambar.

Hal ini bisa dibaca kembali pada postingan sebelumnya, perihal keEmpat hingga keEnam.

Boleh saja Masyarakat membangun sedikit lebih besar dari Gambar Acuan yang diberikan sepanjang :
1. Memiliki Dana Swadaya yang memadai sesuai dengan Kebutuhan Pengembangan Luasan dan Fungsi Bangunan, yang artinya membuat perubahan Gambar dan RAB yang disetujui Dinas Teknis terkait ;
2. Mampu menyelesaikan Bangunan Rumah sesuai dengan Persyaratan Teknis Rumah Layak Huni. Minimal Lantai sudah berkeramik, Dinding sudah plester dan Cat, Atap sudah Genteng dan Plafond.

Hal ini penting mengingat Tujuan Akhir diberikannya Dana Bantuan Bedah Rumah oleh Pemerintah Kabupaten Badung, agar masyarakat tidak lagi membebani Data Desa utamanya terkait Masyarakat yang masih memiliki Rumah Tidak Layak Huni kedepannya.
Akan sangat Mubazir bila bantuan telah diberikan, namun nama yang bersangkutan tetap muncul dalam Data berikutnya.

*postingan ini akan dilengkapi lagi dengan hal lainnya bilamana perlu.
Silahkan diKoreksi, atau bilamana ada pertanyaan lebih lanjut yang berbeda dengan kondisi diatas, silahkan disampaikan.

6 Hal Penting yang Wajib diKetahui tentang Pemberian Bantuan Bedah Rumah dari Pemerintah Kabupaten Badung

3

Category : tentang PeKerJaan

Selamat Pagi Semeton, Saudara tiang semuanya.
Kelihatannya persoalan Pemberian Bantuan Bedah Rumah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Badung menggunakan dana APBD sebesar 55 juta rupiah per Kepala Keluarga sudah mulai menjadi perbincangan hangat bahkan perdebatan di berbagai kalangan, utamanya mereka yang merasa Layak untuk mendapatkan bantuan namun hingga kini belum jua tampak tanda-tanda adanya kesempatan itu akan menghampiri.
Bahkan tidak jarang, saking strategisnya Isu yang berkembang malah melebar ke persoalan lain seperti PilGub Bali, pilih kasih Kelihan Dusun ataupun Perbekel Desa, hingga ke Pejabat atau Pemerintah selaku pelaksana hanya berpihak pada yang memberi pelicin atau hanya ABS Asal Bapak Senang. Padahal pemimpin daerah Jaman Now, sudah ada gender Perempuannya loh…

Komentar yang diberikan oleh para netizen masyarakat pun makin menjadi menarik, lantaran dari segi nilai Bantuan Dana bisa dikatakan cukup menggiurkan. Tidak heran bila menimbulkan kecemburuan tetangga sebelah hingga iri hati. Sejauh fakta yang disampaikan dalam pertanyaan itu benar, saya kira pihak terkait wajib menindaklanjuti hingga tuntas sejumlah pertanyaan yang diposting dalam Group Suara Badung ini. Namun apabila informasi yang didapatkan masih gamang, apakah serta merta akan tetap disampaikan, dengan segala resiko yang ikut dibelakangnya ?

Maka itu, ayo disimak 6 Hal Penting berikut ini, yang wajib Semeton Ketahui dalam pemberian Bantuan Bedah Rumah di Kabupaten Badung.

Pertama tentu, Siapa saja yang berhak mendapatkan Bantuan Bedah Rumah yang dianggarkan dari APBD Kabupaten Badung ?
1. Warga Negara Indonesia yang sudah/pernah berkeluarga, berdomisili dan memiliki Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk Kabupaten Badung;
2. Memiliki atau menguasai tanah secara fisik serta memiliki legalitas, tidak dalam status sengketa, dan sesuai tata ruang. Dengan status Milik Sendiri, Warisan Orang Tua, Duwe Tengah atau Ayahan Desa, dilengkapi dengan Surat Pernyataan/ Keterangan terkait;
3. Belum memiliki rumah (masih menumpang), atau memiliki dan menempati rumah satu-satunya dengan kondisi yang tidak layak huni;
4. Belum pernah memperoleh Bantuan Rumah dari Pemerintah (Pusat atau Daerah) dan Pihak Swasta (CSR) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
5. Berpenghasilan di bawah upah minimum Kabupaten Badung, dilengkapi dengan surat keterangan penghasilan.
6. Membuat surat pernyataan yang antara lain berisi:
a) Bersedia bertanggungjawab dalam pemanfaatan bantuan; dan
b) Bersedia mengikuti ketentuan Bantuan Rumah Layak Huni Kabupaten Badung.
c) Siap berswadaya agar bangunan memenuhi persyaratan layak huni.
Terakhir, masuk dalam daftar hasil Musyawarah Desa/Kelurahan sebagai Usulan Calon Penerima yang layak dan memenuhi kriteria diatas.

Sementara bila dilihat dari Persyaratan Fisik Rumah Yang Layak Mendapat Bantuan, bilamana memenuhi sebagian dan/atau seluruh persyaratan sebagai berikut:
1. Rumah yang ditinggali, tidak difungsikan hanya untuk dapur, bale adat atau fungsi lainnya yang tidak untuk bernaung/dihuni.
2. Tidak permanen atau rusak berat serta belum difinishing sebagaimana kriteria fisik sebagai berikut:
a) Struktur bangunan tidak permanen/ rusak;
b) Atap dari rumbai, ijuk, asbes, genting tua dan rusak;
c) belum di plafon dan difinishing;
d) Dinding tidak permanen (triplek, gedeg, kayu lapuk, tanah) dan belum dicat/ difinishing;
e) Tidak memiliki pencahayaan matahari dan ventilasi udara yang baik;
f) Lantai rumah belum perkerasan dan/ atau dikeramik/ difinishing;
3. Luas lantai tidak memadai atau kurang dari 9 m²/ orang;
4. Sumber air tidak sehat (sumber air minum dari sumur dangkal dan terbuka, mata air tak terlindung/ sungai/ air hujan);
5. Tidak mempunyai akses MCK atau kondisinya masih belum layak;
6. Sumber penerangan rumah tangga bukan listrik.

Kedua, Langkah apa yang harus ditempuh oleh masyarakat yang sekiranya memenuhi Kriteria diatas untuk bisa mendapatkan Bantuan Bedah Rumah dari Pemerintah Kabupaten Badung ?
Lakukan koordinasi dengan aparat Desa/Kelurahan setempat. Minimal Kelihan Dusun atau Kepala Lingkungan, BPD, LPM atau bagian Kesra untuk selanjutnya dapat diusulkan oleh Perbekel atau Lurah di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Mengingat salah satu persyaratan pemberian dana hibah Bantuan Sosial ini adalah adanya usulan/proposal dari calon penerima bantuan, yang terdiri dari :
a. Surat Permohonan Bantuan Rumah Layak Huni kepada Bupati Badung ; (dilengkapi Dokumen Administratif dan Dokumen Teknis)
b. Surat Pernyataan Calon Penerima Bantuan Rumah Layak Huni ;

c. Dokumen Administrasi disiapkan oleh calon penerima Bantuan Rumah Layak Huni dengan difasilitasi oleh Pihak Desa/ Kelurahan yang meliputi:
1) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
2) Fotokopi Kartu Keluarga (KK);
3) Surat keterangan penghasilan berupa:
a) Slip gaji bagi CPB yang berpenghasilan tetap; atau
b) Surat Keterangan Penghasilan dari pihak yang berwenang seperti Kepala Desa/Lurah, bagi CPB yang berpenghasilan tidak tetap.
4) Surat Keterangan Penguasaan Tanah lokasi yang diajukan oleh pemohon dari Kepala Desa/ Perbekel atau Lurah

d. Dokumen Teknis, disiapkan oleh calon penerima Bantuan Rumah Layak Huni difasilitasi oleh Tim Verifikasi Lapangan Bantuan Rumah Layak Huni serta diketahui oleh pihak Desa/Kelurahan, yang meliputi:
1) Foto kondisi awal (0%)
2) Rencana Teknis berupa:
a) Gambar Teknis (denah, potongan, tampak)
b) Rencana Anggaran Biaya (RAB) dimana standar harga yang disampaikan pada RAB menggunakan informasi harga yang tidak melebihi standar harga bahan bangunan yang ditetapkan di Kabupaten Badung.

Yang perlu diketahui sebagai Informasi Penting disini, kewenangan untuk mengajukan Usulan Calon Penerima Bantuan dari Perbekel ataupun Lurah adalah mutlak.

Mengingat mereka ini yang nantinya akan mengetahui semua kebutuhan dan proses administrasi dari pengajuan usulan, penerimaan dana, pencairan hingga pelaksanaan dan pengawasan. Jadi jangan segan untuk bertanya dengan Perbekel atau Lurah setempat.

Langkah berikutnya adalah menunggu penjadwalan Verifikasi Administrasi dan Lapangan, yang nantinya akan dilakukan oleh Tim Verifikasi dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Perumahan, didampingi oleh Kelihan Dusun atau Kepala Lingkungan serta unsur/kepala dari Desa/Kelurahan setempat. Apabila proses ini telah dilaksanakan dan hasil Verifikasi dinyatakan Layak menerima bantuan, proses akan berlanjut ke Penyampaian Usulan Calon Penerima yang nantinya ditetapkan dalam bentuk SK Penerima Bantuan dan disahkan oleh Bupati Badung.

Ketiga, Persyaratan Tambahan apa saja yang harus disiapkan oleh Calon Penerima Bantuan Bedah Rumah sesuai penetapan SK dari Bupati Badung ?
Tentu saja pembukaan Rekening Bank atas nama Calon Penerima Bantuan, sebagai sarana untuk menerima dana bantuan yang akan diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Badung.

Keempat, Bantuan Apa saja yang nantinya akan diterima oleh masyarakat yang dianggap memenuhi kriteria diatas dan ditetapkan sebagai Penerima Bantuan dalam bentuk SK Bupati Badung ?
Dana bantuan sebesar 55 juta rupiah yang akan ditransfer kedalam buku Rekening atas nama penerima, oleh BPKAD Kabupaten Badung untuk dapat diwujudkan menjadi fisik Rumah Layak Huni dalam jangka waktu tertentu.
Adapun gambaran Rumah Layak Huni dimaksud adalah bangunan rumah tinggal dengan 2 Kamar Tidur, 1 Kamar Mandi, 1 Dapur dan Teras. Memiliki Luasan Minimal 36 M2 dengan asumsi memenuhi kriteria luas lantai layak huni untuk 4 anggota keluarga (ayah, ibu dan 2 anak), sebesar 9 M2 per orang.
Dengan hanya mengandalkan besaran dana yang diberikan, tanpa adanya kemampuan dana swadaya tambahan, masyarakat wajib membangun rumah sesuai desain contoh yang diberikan dari dinas teknis terkait. Hal ini dimaksudkan agar mampu mewujudkan Rumah Layak Huni sesuai kriteria yang ditetapkan diatas.
Lantai berkeramik, dinding cat, plafond dan atap genteng.

Pembangunan dianggap telah mencapai progress 100% apabila telah memenuhi persyaratan Rumah layak huni sebagai berikut:
> Memenuhi kaidah kelayakan struktur bangunan sederhana tidak bertingkat (pondasi, dinding, atap)
> Memenuhi syarat luasan bangunan minimal 36 M2
> Mengakomodir kebutuhan ruang minimal terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang berkumpul, 1 kamar mandi/ MCK yang sudah terkoneksi dengan sumber air bersih dan 1 dapur.
> Dalam hal penerima bantuan membangun Kamar mandi/ MCK dan/ atau dapur terpisah dari ruang tidur dan berkumpul, penerima bantuan wajib membangun pada pekarangan yang sama dan tetap memenuhi syarat luasan minimal.
> Rumah yang dibangun sudah finish (tembok beton diplaster-aci dicat/ finishing, diplafon dan dicat/ finishing, lantai perkerasan difinishing / keramik)
> Mengakomodir kebutuhan pencahayaan dan penghawaan ruang.

Kelima, Dokumen Pertanggungjawaban apa saja yang Harus disiapkan oleh Penerima Bantuan Bedah Rumah ?
Sebagai bukti bahwa dana Bantuan Rumah Layak Huni sudah digunakan untuk membeli bahan bangunan dan progress kemajuan fisik sudah mencapai 100%, maka disampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana yang harus disiapkan terdiri dari :
a. Laporan Progres Kemajuan Fisik 100% serta dokumentasi foto, dilengkapi dengan Rekap Laporan Penggunaan Dana;
b. Nota/Bukti Pembayaran Pembelian Bahan Bangunan;
c. Nota/Bukti Pembayaran Upah Tukang;
d. Fotocopi Penarikan Buku Rekening.
Laporan Penggunaan Dana akan diverifikasi oleh pihak Desa/Kelurahan serta disetujui oleh Tim Verifikasi Lapangan Bantuan Rumah Layak Huni dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Badung.

Keenam atau terakhir, Sanksi apa yang nantinya akan diberikan apabila Penerima Dana Bantuan Bedah Rumah tidak mampu mewujudkan Fisik Bangunan Rumah yang Layak Huni dalam jangka waktu yang ditentukan ?
Luasan minimal 36 M2 dengan rincian 2 Kamar Tidur, 1 Kamar Mandi, 1 Dapur dan Teras, serta finishing lantai berkeramik, dinding cat, plafond dan atap genteng ?
Adalah Pengembalian Dana Bantuan ke Kas Daerah yang nantinya akan dipandu oleh SKPD terkait bersama Bank dimana rekening dibuat oleh Penerima, dengan menggunakan form STS atau pengembalian dana bantuan.

Nah, kira-kira itu 6 Hal Penting yang Wajib diKetahui oleh Masyarakat ataupun pihak aparat Desa terkait sebelum nantinya mengajukan Usulan Bantuan Bedah Rumah dari Kabupaten Badung.
Semoga bermanfaat.

Sekiranya ada hal-hal yang kurang jelas, jangan segan untuk mendiskusikannya disini, atau kontak nomor WA penulis di 083 119 540 188.
dan untuk aturan terkait, bisa mengacu kepada Peraturan Bupati Badung nomor 51 Tahun 2017 yang digunakan sebagai Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bantuan Bedah Rumah.

Untuk Tahun 2017 yang lalu, berikut Daftar Nama Penerima Bantuan Rumah Layak Huni sesuai SK Bupati Badung No 5732 Tahun 2017 :
Surat Keputusan dan Lampiran Daftar Nama Penerima Bantuan Rumah Layak Huni

Perjalanan Tiga Kepentingan ; Berhenti Malas, Mulailah Bekerja Keras

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

Matahari belum menampakkan diri saat kaki melangkah santai memasuki Gate 1B Bandara Ngurai Rai Selasa pagi tadi. Sebuah perjalanan yang sudah direncanakan sejak lama untuk membawa tiga misi kepentingan bagi Pemerintah Kabupaten Badung.

Pertama persoalan Rumah Susun. Dimana berdasar hasil PraKonreg yang dihadiri perwakilan SNVT Provinsi Bali di Semarang Februari lalu, infonya Badung mendapat alokasi pembangunan Rumah Susun 3 lantai bagi MBR atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah pada tahun 2019 nanti. Ini menjadi pertanyaan besar, mengingat dari Kabupaten sendiri tidak ada usulan yang disampaikan ke tingkat provinsi ataupun pusat. Kami menyambangi Dirjen Rumah Susun di Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk meyakinkan perihal ini serta memastikan persoalan serta solusi yang nantinya dapat diambil agar kelak usulan diatas dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Berlanjut ke gedung Heritage di areal Kementrian yang sama, kami menyasar Pusat Kebijakan dan Penerapan Teknologi untuk berdiskusi perihal pengujian mortar pada kegiatan konstruksi baik sebelum ataupun sesudah dibangun.
Pejabat yang mendampingi menyarankan kami untuk meluncur ke Bandung apabila menginginkan penjelasan atau paparan yang lebih teknis dari tim ahlinya. Maka itu besok pagi, kami berencana menindaklanjutinya bila tiga kepentingan hari ini bisa diselesaikan.

Agenda terakhir, mampir di Bappenas daerah Menteng, gedung Madiun lantai 4, mencoba memastikan perihal alokasi dana DAK Bidang Perumahan, yang informasinya tahun 2019 nanti akan diberikan kembali, padahal tahun 2017 lalu kami sudah pernah mengembalikannya mengingat secara prioritas penanganan tidak memenuhi aturan Perpres nomor 123 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Dana Alokasi Khusus Fisik. Jangan sampai pengalaman yang sama terulang kembali mengingat akan ada imbasnya di skpd lainnya yang sampai saat ini masih membutuhkan pemanfaatan dana DAK dari pusat.

Berhenti malas, mulailah bekerja keras

Ini pengalaman kali pertama, menyelesaikan kepentingan di tiga tempat dalam waktu sehari diseberang lautan. Itupun sebenarnya waktu lebih banyak terbuang untuk akses transportasi menuju lokasi yang diharapkan.
Akan tetapi, demi kepentingan masyarakat Badung ya memang harus ikhlas dijalankan.

5 Hal Penting yang Wajib diKetahui soal KPR BTN Rumah Subsidi dari Pemerintah

2

Category : tentang PeKerJaan

Tingginya angka kekurangan kepemilikan rumah, masih menjadi pe-er penting bagi pemerintah Indonesia. Tak terkecuali pada era Presiden Jokowi ini.
Hal ini diungkap oleh Pak Ketut Suyasa, perwakilan dari BTN dalam salah satu sesi akhir pemaparan, saat agenda pertemuan di Hotel Grand Santhi Selasa 24 April 2018 kemarin.

Salah satu program pemerintah yang kini digenjot kembali adalah bantuan Rumah Subsidi bagi mereka, masyarakat Indonesia, yang masuk dalam golongan kurang mampu secara finansial, atau memiliki istilah resmi MBR. Masyarakat Berpenghasilan Rendah.

Program Bantuan Rumah Subsidi ini ada yang diberikan dalam bentuk dana stimulan atau pancingan, bagi mereka yang belum memiliki rumah namun memiliki lahan dengan legalitas jelas di tanah kelahiran sendiri, dikenal dengan istilah BSPS Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, atau berupa Kredit Pemilikan Rumah yang kerap disebut KPR, bagi mereka yang ingin membeli rumah hasil karya pengembang.
Nah, ceritanya postingan kali ini bakalan bercerita banyak utamanya 5 Hal Penting yang Wajib Kalian ketahui soal KPR BTN Rumah Subsidi dari Pemerintah, sebagaimana disampaikan oleh Pak Ketut Suyasa tempo hari.

Pertama, soal Siapa yang Berhak mendapat atau mengajukan diri sebagai Calon Penerima Bantuan KPR dari Pemerintah atau yang dalam hal ini, diVerifikasi oleh Kementrian PUPR ?
Adalah mereka, masyarakat Indonesia berusia 21 tahun dan sudah menikah, yang masuk dalam kategori Berpenghasilan Rendah, alias Penghasilan tidak boleh lebih dari 4 Juta Rupiah. Hal ini berlaku bagi masyarakat secara umum, yang dihitung akumulasi alias total penghasilan Keluarga. Bukan Kepala Keluarganya saja. Termasuk Istri.
Sedangkan bagi yang berStatus ASN alias Pegawai Negeri macam saya, persoalan penghasilan tadi diberikan kemudahan, dihitung dari Gaji Pokoknya saja. Jadi meskipun Tambahan Tunjangan Penghasilannya nanti sekitar katakanlah 5 Juta rupiah, selama Gaji Pokok masih dibawah 4 Juta, sepertinya masih bisa lolos dari lubang jarum.

Lalu, persyaratan berikutnya, masih dari Siapa yang berhak adalah, Mendapatkan Surat Rekomendasi atau Pernyataan dari Kepala Desa setempat bahwa memang benar yang bersangkutan Belum Memiliki Rumah. Jadi kalau status rumah masih numpang dengan orang tua, ya sepertinya juga bisa lolos uji seleksi. Hal ini nantinya akan berkaitan erat dengan penghunian rumah yang wajib dihuni oleh penerima bantuan.

Persyaratan terakhir bagi Siapa yang berhak adalah memiliki e-KTP yang nantinya data terkait bakalan dicocokkan melalui Disdukcapil. Jadi harapannya, gak akan ada kebohongan diantara kita yang bakalan terungkap sebelum permohonan KPR disetujui oleh Pemerintah.

Lanjut ke soal Kedua, Rumah Subsidi seperti apa yang bisa dibantu oleh Pemerintah ?
Secara Nilai Bangunan dan Lahan, diatur maksimal sebesar 148,500 Juta rupiah. Diatas itu ya kena pasal Rumah Non Subsidi yang KPRnya bisa diajukan ke Bank atau lembaga perbankan swasta lainnya.
Sehingga, bila dilihat dari fakta lapangannya, bagi kalian yang berharap bisa menemukan Rumah Subsidi di Kota Denpasar atau Kabupaten Badung, lebih baik simpan semua angan-anganmu karena Harga Lahannya saja bisa jadi melebihi batas maksimal tadi diatas.

Lalu secara Luasan lahan, diatur pula minimal 60 M2 dan maksimal 200 M2 alias 2 Are.
Selain itu, ada juga diatur soal progress kemajuan fisik rumah dan seberapa jauh finishing yang sudah dicapai.

Masuk ke soal yang keTiga, seberapa besar Bantuan KPR yang nantinya bisa dibantu oleh Pemerintah atas kedua persyaratan sebelumnya ?
Dana Bantuan Uang Muka diberikan sebesar 4 Juta Rupiah untuk Rumah Tapak dan 7 Juta Rupiah untuk Rumah Susun, serta Bunga pinjaman dengan prosentase 5 % sepanjang Kredit KPR diambil oleh calon penerima.
Kalau tidak salah sih jangka waktu disediakan hingga 20 Tahun. Bebas Premi Asuransi dan PPN pula.
Sangat terjangkau kan ya ?

Soal keEmpat, bagaimana cara mengetahui Rumah Subsidi mana saja yang bisa dibantu oleh Pemerintah ?
Untuk yang ini, bisa dipantau melalui Kementrian PUPR, pengembang mana saja yang sudah bekerja sama dan dinyatakan memenuhi syarat agar nantinya tak merepotkan masyarakat kedepannya.

Terakhir, bicara soal Pengembang Rumah Subsidi, syarat apa saja yang Wajib dipenuhi oleh Pengembang agar bisa menjalin kerja sama dengan Kementrian PUPR dan melayani masyarakat melalui KPR ?
Pengembang Wajib berBadan Usaha. Itu amanat Peraturan yang baru kata pakTut Suyasa. Hal ini mengubah persyaratan pada aturan sebelumnya, yang memperbolehkan Pengembang boleh dari Perseorangan.
Sudah begitu, Pengembang Wajib terdaftar dalam Asosiasi untuk memudahkan pemantauan dan pembinaan. Demi mencegah Pengembang nakal yang biasanya tak memenuhi aturan dan kewajibannya pada masyarakat pembeli rumah.
Lanjut lagi, Pengembang wajib Terdaftar di Kementrian PUPR demi jaminan mutu dan pelayanan dari Pemerintah kepada masyarakat.

Kembali pada Program Bantuan Rumah Subsidi, untuk lingkup Provinsi Bali ada 4 Kabupaten yang sudah mulai membangun dan menawarkan Kredit Pemilikan Rumah kepada masyarakat, tentu saja di luar Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Seingat saya, diantaranya ada Kabupaten Buleleng dan Jembrana.
Hal ini kelihatannya menutup peluang masyarakat ataupun ASN yang saat ini memiliki mata pencaharian di Kota Denpasar ataupun Kabupaten Badung untuk bisa ikut serta berupaya memiliki Rumah Subsidi melalui KPR yang digagas oleh Pemerintah. Mengingat belum rapihnya infrastruktur dan moda transportasi antar daerah yang cenderung mengakibatkan kemacetan saat jam berangkat dan pulang kerja. Akan sangat tidak nyaman jika musti pulang pergi lintas kabupaten setiap pagi dan sore hari.

Itu artinya, bagi kalian ASN ataupun masyarakat yang merasa masuk dalam golongan berPenghasilan Rendah dengan status bekerja di luar Kota Denpasar ataupun Kabupaten Badung, sebenarnya memiliki peluang yang cukup besar mengingat sebagian dari kami kelihatannya tidak layak untuk memanfaatkan KPR Program Bantuan Rumah Subsidi dari Pemerintah.
Apa kalian tidak tertarik memilikinya ?

Peraturan Terkait :
Permen PUPR Nomor 26/PRT/M/2016 tentang Perubahan atas Permen PUPR Nomor 21/PRT/M/2016 tentang Kemudahan dan/atau Bantuan Perolehan Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

Merenungi Hidup

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Untuk kesekiankalinya saya teringat akan nasehat seorang mantan atasan kantor yang memilih resign dari abdi negara ketika usianya telah melewati batas wajar pensiun dini.

Agar jangan sampai mengorbankan Kesehatan dan Keluarga hanya demi Karir dan Pekerjaan. Meskipun itu saling terkait dan ketergantungan satu sama lain.

Karena ketika kita sakit atau tidak mampu untuk bekerja lagi, maka perusahaan akan langsung mencari pengganti dan melanjutkan hari tanpa kita. Mereka tidak akan menunggu.
Yang ada hanya ucapan Turut Berduka Cita ditambah beberapa amplop dengan jumlah yang seberapa jika disandingkan dengan beban yang kita tinggalkan pada pundak keluarga.

Kepergian staf saya kemarin, jadi pelajaran berharga.
Itu sebabnya saya kembali tersadar akan sakit yang diderita selama ini, dan berharap kesehatan bisa sedikit pulih agar keluarga tak sampai terlantar.

Hanya saja, apa iya bisa mengurangi beban pekerjaan begitu saja dalam fakta lapangannya ?
Saya masih ragu.

Apalagi dengan kinerja dan kepercayaan yang diberikan atasan, sepertinya itu makin sulit dilakukan.
Saat menghindarpun saya yakin tetap akan dicari.
Terkecuali mampu menurunkan idealisme dan pemikiran yang selama ini dijaga. Cuma apa mau ?

Pilihannya ya hanya itu.

Jadi kangen pada Bapak tiga anak itu, yang tak lupa berpesan agar mulai belajar mengingat-ingat batasan pekerjaan dan batasan keluarga, berhubung usia saya masih tergolong muda.

Cerita di Awal Tahun

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari Baik menyambut tanah Bali pagi ini.
Awal Tahun 2018 yang diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk hidup dan berkarya bagi setiap orang utamanya mereka yang berstatus sebagai kepala keluarga.
Menghidupi anggotanya demi kebahagiaan dan kesejahteraan.

Mari memulainya dengan hal yang positif.

Jalanan yang dilalui masih saja tampak lengang. Bisa jadi karena sebagian besar orang masih lelah dengan aktifitasnya semalam suntuk.
Saya yang semalam menghabiskan Tuak nyaris sepertiga botol besar, langsung tewas tertidur dengan nyaman. Apalagi dicampur obat batuk hitam lima belas menit setelahnya, sukses membuat saya tepar hingga pagi tanpa terbangun lagi malam harinya.
Pagi ini agendanya kami meluncur ke Pura Penataran Puncak Mangu Desa Pelaga Petang, untuk melunasi hutang janji seorang anak manusia yang ingin memperkenalkan jodoh yang ia dapatkan bertahun lalu, dan setelah dua belas tahun lamanya baru bisa terwujud.
Ingin sekali bisa lebih banyak meluangkan waktu sebenarnya untuk mendekatkan diri pada-Nya. Yang setahun lalu jarang kami lakukan lantaran kebiasaan keluarga.

Sementara itu sakit akibat cuaca yang tak menentu pun masih bercokol di badan. Ditambah nanah pada telinga yang cukup membuat tuli sebelah selama beraktifitas. Meski masih bisa dijalankan namun tetap saja tak nyaman.
Berat badan tampaknya makin menurun. Kini mulai terlihat perbedaannya. Kehilangan berat sebanyak 6 kg selama 6 bulan, lumayan membuat banyak perubahan. Ukuran celana turun 2 size, dan baju ukuran XL pun kini sudah bisa digunakan lagi.
Istri yang semakin khawatir akan semua ini kerap mengingatkan agar tetap menjaga kesehatan demi anak dan istri.

Beban pekerjaan masih berat dipikul. Berharap bisa berkurang lagi tahun ini.

Perjalanan Dinas Tutup Tahun 2017

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Ini kali pertama tugas luar kota bersama staf yang diemban selama menjabat di Pemkab Badung. Ya, ini kali yang pertama.
Biasanya kalo bukan mendampingi pimpinan, perjalanan yang dilakukan selalu sendirian. Mungkin karena akomodasi yang ditanggu selama dinas ya memang hanya 1 orang. Tapi hari ini, saya didampingi 3 orang staf yang bernaung pada seksi dimana saya bertugas, serta satu kolega sesama Kepala Seksi.

Tujuan kali ini ke Jakarta, untuk mendiskusikan kebijakan Bupati terkait pemberian dana Bantuan Rumah Layak Huni bagi masyarakat Kabupaten Badung, pula penanganan Prasarana Sarana dan Utilitas Perumahan yang dibangun oleh Pengembang. Menyasar dua tempat, dibawah Dirjen Penyediaan Perumahan, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Secara pribadi sebenarnya sudah tidak tertarik lagi untuk melakoni perjalanan dinas luar kota begini. Karena kalo mau hitung-hitungan, tahun ini sudah ada 6 kali melawat ke luar pulau. Bosan dan jenuh berhadapan dengan proses di bandara. Masih lebih enak leyeh-leyeh dengan anak-anak sambil becandain mereka.
Tapi ya ini sudah penugasan. Musti dijalani.

Mengingat keberangkatan kali ini saya didaulat untuk memimpin, ya kagok juga jadinya. Gimana nggak, ini kali pertama mengajak staf turut serta. Meski demikian, patut disyukuri juga karena ketiganya cukup mapan dalam urusan pengalaman ke luar daerah. Jadi ndak banyak yang harus disiapkan kesana-kemari berhubung mereka sudah menyiapkannya lebih dulu. Yang kurang hanya soal komunikasinya saja.

Oke deh, menjelang pukul 9 pagi. Saatnya berbenah dan pesan Grab. Sampai jumpa di Jakarta siang nanti.

Megending yuk Kita Megending

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

‘ngiring je sikiang manahe, sekadi i bungan…’

Liriknya sudah pasti hafal, meski sempat jua agak lupa ingatan pada saat pentas Rabu jelang siang tadi. Tapi yang sulit adalah menghafal gerak tangannya di sela sorak sorai penonton dan gemerlapnya lampu sorot atas panggung. Baru kali ini saya merasakan grogi yang minta ampun. Padahal kalo soal membuka rapat dan memimpinnya sepanjang acara, sudah mulai terbiasa. Tapi untuk yang satu ini ? Heladalah…

Jujur, saya suka dengan aransemen lirik yang dikemas Gung Mayun Narindra, pelatih kami yang masih unyu-unyu itu. Ndak ramai saat dinyanyikan, dan begitu dikombinasikan dengan koreografi dadakan dua hari sebelumnya, sesi Megending ini jadi lebih mengasyikkan untuk dinikmati.

Kegiatan Megending Bali yang kami ikuti ini merupakan bagian dari Lomba Lagu Antar Pegawai dan Perangkat Daerah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung, serangkaian Perayaan Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-46 dan perayaan HUT Ibukota Kabupaten Badung Mangupura ke-8. Infonya diikuti oleh 10 kelompok pejabat atau pimpinan perangkat daerah dan 40 kelompok pegawai yang berasal dari masing-masing perangkat daerah dilingkungan Pemkab Badung.

Untuk dinas dimana kami bernaung, audisi eh perekrutan (paksa) peserta paduan suaranya dilakukan kalo ndak salah ingat, akhir September kemarin. Saya sendiri sepertinya dicomot gegara dianggap ndak punya banyak pekerjaan saat jam kantor. Atau bisa juga gegara kerap nyanyi-nyanyi menggumam lewat earpiece bluetooth saban hari jelang apel pagi.
Meski agak berat karena meyakini suara sendiri hanya bagus terdengar saat nyanyi di kamar mandi, namun demi melihat antusiasme 11 calon peserta lainnya yang merupakan orang-orang penuh dedikasi dalam bekerja, sayapun menyetujui bergabung dengan squad Megending DPKP. dan bersikeras menjadi stok cadangan, lantaran tim inti yang dipersyaratkan oleh panitia hanya 10 orang saja, 5 pria dan wanita.

Proses latihan bisa dikatakan berjalan dengan baik, meski amat sangat jarang bisa menghadirkan full team 12 orang peserta dalam sekali waktu, mengingat kesibukan masing-masing yang tak bisa diabaikan.
Saya sendiri baru merasa kewalahan untuk mengatur waktu, pasca ditunjuk kembali mengambil beban tanggung jawab pimpinan yang ditinggalkan awal Oktober kemarin. Sempat bingung juga, mau mengutamakan kepentingan yang mana. Syukurnya kedua pihak bisa memahami, atau bisa jadi terpaksa memahami semua aktifitas tambahan saya.
Eh, gimana maksudnya ?

Sementara itu, proses penguasaan aransemen bisa dikatakan cukup sulit. Mengingat secara pengalaman, sepertinya tak satupun dari kami, 12 peserta yang dilibatkan untuk menanggalkan rasa malunya, pernah melakukan hal yang sama apalagi diatas panggung. Koreksi kali kalo salah. He…
Bahkan hingga hari terakhir latihan, saya sendiri masih suka kelupaan kapan masuknya nada yang ditugaskan oleh pelatih unyu-unyu itu.
Begitu juga dengan koreografinya yang serius, ini beneran hasil kolaborasi si pelatih vokal yang sama, dan peserta. Tanpa ada campur ide dari pelatih koreografi khusus, yang sejatinya memang tidak kami miliki. Ups…
Jadi ya, dimaklumi saja, kalo lantas ada beberapa ide nyeleneh yang masuk dalam cerita dadakan, seperti penggunaan kacamata hitam, pose ngerayu saat lafu kedua atau bahkan lantunan kidung yang kemudian tidak jadi diterapkan hanya karena dianggap bertentangan dengan hasil technical meeting sebelumnya.

Lain lagi dengan dukungan, yang bisa dikatakan ‘ya begitulah…’
Mengingat untuk kebutuhan konsumsi dasar seperti air mineral dan snack ringan, rupanya sebagian besar ditalangi secara pribadi, oleh mereka yang ditugaskan untuk menghandel tim Megending ini.
Sampai-sampai ndak enak hati saat mengetahui fakta tersembunyi ini. Jadinya ya pas sempat, kami pun berupaya menyisihkan sedikit rejeki dari-Nya untuk nambah-nambahin konsumsi harian saban latihan.

Tapi so far so good lah.
Bagi saya pastinya.
Ya mau gimana lagi ?
Memang harus diakui bahwa kami tidak mampu sepenuhnya berkonsentrasi dengan kegiatan Megending ini mengingat tugas dan kewajiban kerja yang tak bisa diabaikan. Saya sendiri pagi tadi, pikiran sempat awut-awutan lantaran ada panggilan pemeriksaan lapangan dari Inspektorat Provinsi terkait kegiatan fisik yang sedang berjalan, secara dadakan pula, tanpa konfirmasi sehari sebelumnya. Edan bener… padahal jelas sudah menyampaikan alasan mau tampil Megending dua nomor urut lagi, tetep saja tim pemeriksa ngotot minta didampingi. Ealah… Syukur ada kolega yang bisa menemani mereka turun ke lapangan pagi tadi. Kalo ndak, bisa macem macem deh nantinya.

Hasil, sebenarnya sudah bisa ditebak. Dari Tiga nominasi Utama, Tiga nominasi Harapan dan Empat nominasi Favorit, tak satupun yang bisa digondol pulang. Widih… kasian banget. Hahaha…

Tapi terlepas dari itu semua, ada banyak kenangan yang bisa disimpan saat kami semua berproses didalamnya. Dari suasana latihan yang penuh tawa canda, hal yang jarang didapatkan dari lintas bidang selama ini, juga official pelatih yang unyu-unyu menjadi hiburan di kala penat mulai melanda.
Yang ndak kalah seru, ya aksi foto-foto candid juga gaya sosialita ibu-ibu, nyaris menghabiskan memory ponsel dengan berbagai aksi terkini. Termasuk ‘boomerang’ yang sering dibuat putri pertama saya di rumah.

Ternyata semua itu bisa cepat berlalu.
Dan besok, kami sudah harus kembali lagi berkutat dengan pekerjaan masing-masing, memasang wajah serius demi menyelesaikan tugas dan kewajiban awal hingga akhir tahun nanti.

Terima Kasih ya kawan-kawan yang sudah mengajak saya serta Megending tahun ini. Semoga semua cerita yang ada bisa menjadi kenangan bagi kita semua.
Tetap semangat !!!