Intermezzo Banyak Alasan

Category : tentang DiRi SenDiri

Seminggu lebih ya ?
Tumben sampe hitungan sepuluh harian saya nda ngeBlog, update tulisan rutin yang dulu pernah dilakoni. Nyaris terlupakan.

Banyak Alasan atau pembenaran sepihak yang bisa diajukan kenapa sampai lama segitunya.
Mood bisa jadi yang utama.

Awalnya memang sempat memperkirakan kalo saat bertugas di tempat baru, aktifitas bakalan bisa sedikit lebih santai dari tahun sebelumnya. Mengingat sebagian besar tugas sudah diambil alih pimpinan dan persoalan-persoalan yang dulu kerap dihadapi awal tahun rasanya nda ada lagi. Tapi nyatanya beda.

Kesibukan kalo nda salah sih malah bertambah. Jadi bingung.

Hal yang sama juga berlaku dengan lingkungan kerja. Banyak Alasan yang disampaikan untuk bisa menghindari pekerjaan kantor. Untuk soal yang ini, ya ‘You Know Who’ lah. Saya juga lagi males ngomonginnya.
Yang kek gini juga yang menyebabkan sebagian besar tugas yang harusnya mereka selesaikan, berpindah beban ke meja saya. Meski pimpinan punya kewenangan untuk memberikan penugasan, tapi ndak fair juga mengingat secara reward ya pendapatannya sama.
Pokoknya ya ada saja lah ini itunya.

Tapi ya sudahlah… ayo kita lanjut dulu hidupnya, Kawan…

Catatan Pagi Ini, 24 Februari 2017

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari yang cerah…

Tapi aku lebih memilih untuk bangun agak siang dari biasanya.
Capek…

Selama empat hari terakhir, ditugaskan mendampingi BPK untuk turun ke lapangan memeriksa apakah paket kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan uang rakyat Badung anggaran tahun lalu, tergolong fiktif atau tidak.
Secara visual, tentu ini bisa dijawab. Namun belum mencapai persoalan kualitas atau lainnya.
Tinggal tunggu waktu.

Sekurangnya ada 18 paket yang diambil secara acak oleh Pak Agung Kusuma, anggota tim BPK Perwakilan Bali, dari enam kecamatan yang ada.
Sungguh melelahkan, tapi jauh lebih melelahkan jika melihat dari sudut pandang BPK. Kami hanya mengantarkan Beliaunya saja.

Ada beberapa catatan yang diinfo selama perjalanan kemarin. Dari kerusakan minor yang terpantau oleh mata hingga kemungkinan adanya teguran atas perencanaan lantaran satu dua objek dikerjakan masuk ke ranah pribadi. Satu hal yang sudah kerap diingatkan, namun rasanya belum ada perubahan.

Tapi syukur, semua itu telah dilewati dalam 3,5 tahun terakhir. Saat ini tugas yang diemban bisa dikatakan jauh dari fisik yang dulu penuh aroma politisasi.
Meski belum bisa dinikmati, namun setidaknya ada harapan bisa lebih tenang menjalani hari.

Jumat hari pendek.
Tapi tampaknya aku memilih untuk ngantor agak siang.
Dua hari kemarin, pemeriksaan tembus hingga jam 7 malam. Gegara jarak yang jauh dari kantor Puspem.
Nyampe rumah sudah nda sempat lagi untuk bercengkrama dengan anak dan istri. Langsung tepar, mandi dan boboin si bungsu. Sekalinya terbangun, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Sementara kualitas tidur selalu kurang lantaran Ara lebih sering terbangun di malam hari, menangis, menendang-nendang atau minta garuk punggung.
Anak nakal… tapi bikin gemas.

Meski sudah tiba di area Puspem sejak tadi, mobil kuparkirkan didekat kantor LPSE yang dikelilingi puing bangunan lama.
Aku ingin diam sejenak.

Masih Terbawa Mimpi

Category : tentang PeKerJaan

Antara sadar atau tidak, semua kerjaan itu seakan hadir menyeruak diantara aktifitas yang ada dalam mimpi. Mengingatkanku untuk selalu waspada dalam setiap langkah seakan enggan menyia-nyiakan waktu luang yang ada di awal tahun 2017 ini.
Satu hal yang buruk terasa sekali dalam pikiran.
Satu ekspresi antara keengganan untuk beranjak atau mungkin belum siapnya untuk berpindah pekerjaan.
Entahlah…

Tiga setengah tahun menangani Jalan Lingkungan, bisa jadi hanyalah sebuah waktu yang sekejap mata baru saja terlewatkan.
Namun bisa juga merupakan perjalanan panjang yang melelahkan jika kalian mengalami semua tantangan yang ada didalamnya.
Termasuk semua hiasan baik dan buruknya.

Maka ya wajar saja apabila semua rutinitas itu selalu hadir dalam mimpi tidur panjangku.
Baik pemeriksaan lapangan, ataupun koordinasi untuk mengingatkan semua staf agar bergegas mengumpulkan pekerjaan di hari Senin nanti, dan bisa dieksekusi lebih lanjut bersama-sama.

Jadi terhenyak saat mata terbuka.
Pikiran seakan berusaha meyakinkan dunia nyata.
Fakta yang ada.
Bahwa aku telah masuk masa pensiun dari Jalan Lingkungan.
Semuanya.

Ada rasa kecewa, kangen, dan juga gembira.
Bahwa aku telah melewati semuanya.
Entah dengan kesan baik ataupun buruk.
dan kini harus bersiap diri mengahadapi tantangan baru yang memiliki tensi lebih rendah dari pendahulunya.

Tuhan Punya Rencana Sendiri

Category : tentang DiRi SenDiri

Saya masih bisa mengingat di awal Januari lalu, saat sebagian besar orang di luaran termasuk kawan dan rekan kerja masih riang terbawa suasana Tahun Baru, saya terduduk lemas di kursi ini, usai rapat terbatas dengan pimpinan di gedung paling barat, membahas proses Pemutusan Kontrak pada salah satu kegiatan kami di tahun 2016 lalu.
Hanya menangis yang saya bisa.
Karena tau bahwa nyaris tak ada satupun langkah nyata yang bisa dilakukan untuk memutarbalikkan waktu ke masa sebelum keputusan itu disampaikan.

Perjalanan panjang pun dimulai.

Nyaris tak ada semangat lagi yang saya rasakan sejak itu. Hari demi hari, terlalu berat untuk saya lalui. Bahkan sempat saya merasa sakit melihat layar ponsel yang baru usai diinstalasi aplikasi maskapai penerbangan, sebagai bentuk persiapan keberangkatan saya ke Surabaya dan Jakarta, menindaklanjuti dan menyelesaikan semuanya.

Tuhan Memang Punya Rencana Sendiri.
Istri saya berkali-kali mengingatkan, agar tetap berserah pada-Nya, sambil tetap memohon agar semua jalan bisa dipermudah dan dilancarkan.
Tidak lupa saya mengingat nasehat pimpinan tentang ‘Reaksi dan Respon’.

Saya bersyukur semua bisa berjalan tanpa diduga sebelumnya. Tak pernah terbayangkan jika hari ini akan datang.

Kini ketika upaya sudah sedikit membuahkan hasil, saya rupanya kembali terduduk di kursi yang sama. Masih dengan masalah yang sama, namun berbeda suasana.
dan Saya kembali menangis namun hanya di dalam hati.
Merasa bahagia bisa melewati semuanya tanpa harus marah-marah, atau menyalurkan energi negatif pada orang lain.
Inilah ‘Respon’ yang pernah pimpinan ceritakan sebelumnya.
Berat memang, tapi bisa bikin bangga diri sendiri.
Nda nyangka saja saya bisa melakukannya…

Lantai 2 Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, depan ruang Kepala Dinas sisi selatan…
Untuk semua yang pernah terlibat dalam proses ini.
Terima Kasih.

OPD Baru, Semangat pun Harus Baru

2

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Di Akhir tahun 2016 lalu, beberapa Organisasi Perangkat Daerah baru Pemerintah Kabupaten Badung dibentuk dan disahkan oleh Bupati Giri Prasta. Salah satu yang saya ketahui pasti adalah adanya Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman atau yang kelak disebut sebagai PRKP.
Dinas ini merupakan pengembangan dari Seksi Permukiman dimana saya bertugas dahulu, yang dipecah tugasnya menjadi 2 Bidang yaitu Bidang Perumahan dan Bidang Kawasan Permukiman.
Dua hal yang dalam setiap aturan maupun kebijakan selalu menjadi satu kesatuan atau yang kalau disingkat menjadi PKP.

Saya sendiri ditugaskan pada Seksi Peningkatan Kualitas Perumahan yang berada dibawah Bidang Perumahan dengan tugas pertama yang paling jelas terlihat adalah mengawal Program Bedah Rumah baik Rumah Sehat yang diperuntukkan bagi Rumah Tangga Miskin atau Masyarakat penerima Beras Miskin yang dulunya ditangani oleh Dinas Sosial, dan Rumah Layak Huni bagi mereka yang masuk dalam Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang memiliki Rumah Tidak Layak Huni. Khusus RTLH terakhir ini ditangani oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang menjadi induk kebijakan Dinas PRKP Badung.

Meski demikian, info sementara saya diberikan tugas tambahan untuk menangani sebagian paket kegiatan Peningkatan Jalan Lingkungan Perumahan dan Permukiman, berbagi dengan Bidang Kawasan Permukiman mengingat banyaknya jumlah paket yang harus diselesaikan.
Ditambah lagi Program Kotaku atau Kota Tanpa Kumuh, plus Ranperda Kebijakan terkait PKP, RP3KP dan Database Perumahan.
Ampun deh…

Padahal rencana awal, dengan adanya kepindahan ini saya bisa jauh lebih santai menghadapi rutinitas tapi keknya ya sama saja. Bahkan bertambah lagi dengan kegiatan yang dulunya ditangani Ibu Kabid.
Yang kalo kata pimpinan cemnya ‘Ngelidin Setra Nepukin Sema’ ya sama saja. Duh !

Tapi dengan adanya perubahan OPD baru ini, saya berharap semua semangat yang dahulu pernah hilang, bisa terbaharukan kembali. Minimal ya untuk mencoba beradaptasi dengan pekerjaan baru, kawan-kawan baru dan pimpinan yang baru.
Namun begitu, hutang saya pun sebenarnya masih sisa satu dari pekerjaan tahun lalu yaitu terkait Pemutusan Kontrak yang saya harap bisa selesai dalam minggu-minggu ini.
Karena bagaimanapun juga, OPD baru sudah siap untuk mengeksekusi sejumlah kebijakan yang diturunkan oleh Bupati Terpilih.
Mau tidak mau ya kita harus siap menghadapi dan menyelesaikannya dengan Baik.

Kira-kira Begitu.
Jadi yuk ah, kita semangat lagi Kawan…
Jangan menggalau terus bawaannya…

Penyesalan dan Pengalaman, yang Harus dibayar Mahal

Category : tentang DiRi SenDiri

Semestinya hari ini saya bisa merasa lebih bersyukur dibanding hari sebelumnya.
Mengingat secara pelan tapi pasti, semua jalan kelihatannya mulai dibukakan oleh-Nya.
Melalui tangan sejumlah pimpinan, kawan, bahkan bisa jadi dari orang-orang tak sedari awal tak pernah saya harapkan.
Meskipun pahit, tapi saya merasa bahwa ini memanglah sebuah Ujian dari-Nya yang harus saya tempuh untuk menjadikan semua pengalaman hidup yang lebih baik.

Penyesalan selalu datang belakangan.
dan itu baru terasa ketika sadar bahwa semua sudah terlambat.
Semua sudah menjadi satu masalah besar, dimana orang lain akan berupaya menyelamatkan dirinya masing-masing dan menimpakan semuanya di satu tempat.
Hanya menangis yang saya bisa.
dan Saya tak lagi malu untuk mengakuinya.

Ada harga yang harus saya korbankan demi sebuah pengetahuan. Yang mungkin tak bisa saya dapatkan dari membaca.
Bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Jadi berharap saja bahwa kelak tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Mengabdi rupanya tak cukup hanya dengan mengorbankan pikiran dan waktu. Tapi juga tenaga, biaya, keluarga bahkan pula kesenangan.
Semua kejadian ini sepertinya memang harus ditebus dengan mahal.

Ada banyak pelajaran baru yang akhirnya saya dapatkan.
Terutama bagaimana merespon, bukan bereaksi.
Bagaimana memikirkan jalan keluar dalam ketenangan pikiran.
Bagaimana bersikap ketika berada dalam kondisi tertekan.
dan Bagaimana berserah pada-Nya ketika nyaris tak ada lagi yang bisa dilakukan.

Untuk Istri dan Anak-anakku…
Maafkan Bapak hari ini.