Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

Merenungi Hidup

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Untuk kesekiankalinya saya teringat akan nasehat seorang mantan atasan kantor yang memilih resign dari abdi negara ketika usianya telah melewati batas wajar pensiun dini.

Agar jangan sampai mengorbankan Kesehatan dan Keluarga hanya demi Karir dan Pekerjaan. Meskipun itu saling terkait dan ketergantungan satu sama lain.

Karena ketika kita sakit atau tidak mampu untuk bekerja lagi, maka perusahaan akan langsung mencari pengganti dan melanjutkan hari tanpa kita. Mereka tidak akan menunggu.
Yang ada hanya ucapan Turut Berduka Cita ditambah beberapa amplop dengan jumlah yang seberapa jika disandingkan dengan beban yang kita tinggalkan pada pundak keluarga.

Kepergian staf saya kemarin, jadi pelajaran berharga.
Itu sebabnya saya kembali tersadar akan sakit yang diderita selama ini, dan berharap kesehatan bisa sedikit pulih agar keluarga tak sampai terlantar.

Hanya saja, apa iya bisa mengurangi beban pekerjaan begitu saja dalam fakta lapangannya ?
Saya masih ragu.

Apalagi dengan kinerja dan kepercayaan yang diberikan atasan, sepertinya itu makin sulit dilakukan.
Saat menghindarpun saya yakin tetap akan dicari.
Terkecuali mampu menurunkan idealisme dan pemikiran yang selama ini dijaga. Cuma apa mau ?

Pilihannya ya hanya itu.

Jadi kangen pada Bapak tiga anak itu, yang tak lupa berpesan agar mulai belajar mengingat-ingat batasan pekerjaan dan batasan keluarga, berhubung usia saya masih tergolong muda.

Cerita di Awal Tahun

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari Baik menyambut tanah Bali pagi ini.
Awal Tahun 2018 yang diharapkan dapat memberikan kesempatan untuk hidup dan berkarya bagi setiap orang utamanya mereka yang berstatus sebagai kepala keluarga.
Menghidupi anggotanya demi kebahagiaan dan kesejahteraan.

Mari memulainya dengan hal yang positif.

Jalanan yang dilalui masih saja tampak lengang. Bisa jadi karena sebagian besar orang masih lelah dengan aktifitasnya semalam suntuk.
Saya yang semalam menghabiskan Tuak nyaris sepertiga botol besar, langsung tewas tertidur dengan nyaman. Apalagi dicampur obat batuk hitam lima belas menit setelahnya, sukses membuat saya tepar hingga pagi tanpa terbangun lagi malam harinya.
Pagi ini agendanya kami meluncur ke Pura Penataran Puncak Mangu Desa Pelaga Petang, untuk melunasi hutang janji seorang anak manusia yang ingin memperkenalkan jodoh yang ia dapatkan bertahun lalu, dan setelah dua belas tahun lamanya baru bisa terwujud.
Ingin sekali bisa lebih banyak meluangkan waktu sebenarnya untuk mendekatkan diri pada-Nya. Yang setahun lalu jarang kami lakukan lantaran kebiasaan keluarga.

Sementara itu sakit akibat cuaca yang tak menentu pun masih bercokol di badan. Ditambah nanah pada telinga yang cukup membuat tuli sebelah selama beraktifitas. Meski masih bisa dijalankan namun tetap saja tak nyaman.
Berat badan tampaknya makin menurun. Kini mulai terlihat perbedaannya. Kehilangan berat sebanyak 6 kg selama 6 bulan, lumayan membuat banyak perubahan. Ukuran celana turun 2 size, dan baju ukuran XL pun kini sudah bisa digunakan lagi.
Istri yang semakin khawatir akan semua ini kerap mengingatkan agar tetap menjaga kesehatan demi anak dan istri.

Beban pekerjaan masih berat dipikul. Berharap bisa berkurang lagi tahun ini.

Perjalanan Dinas Tutup Tahun 2017

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Ini kali pertama tugas luar kota bersama staf yang diemban selama menjabat di Pemkab Badung. Ya, ini kali yang pertama.
Biasanya kalo bukan mendampingi pimpinan, perjalanan yang dilakukan selalu sendirian. Mungkin karena akomodasi yang ditanggu selama dinas ya memang hanya 1 orang. Tapi hari ini, saya didampingi 3 orang staf yang bernaung pada seksi dimana saya bertugas, serta satu kolega sesama Kepala Seksi.

Tujuan kali ini ke Jakarta, untuk mendiskusikan kebijakan Bupati terkait pemberian dana Bantuan Rumah Layak Huni bagi masyarakat Kabupaten Badung, pula penanganan Prasarana Sarana dan Utilitas Perumahan yang dibangun oleh Pengembang. Menyasar dua tempat, dibawah Dirjen Penyediaan Perumahan, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Secara pribadi sebenarnya sudah tidak tertarik lagi untuk melakoni perjalanan dinas luar kota begini. Karena kalo mau hitung-hitungan, tahun ini sudah ada 6 kali melawat ke luar pulau. Bosan dan jenuh berhadapan dengan proses di bandara. Masih lebih enak leyeh-leyeh dengan anak-anak sambil becandain mereka.
Tapi ya ini sudah penugasan. Musti dijalani.

Mengingat keberangkatan kali ini saya didaulat untuk memimpin, ya kagok juga jadinya. Gimana nggak, ini kali pertama mengajak staf turut serta. Meski demikian, patut disyukuri juga karena ketiganya cukup mapan dalam urusan pengalaman ke luar daerah. Jadi ndak banyak yang harus disiapkan kesana-kemari berhubung mereka sudah menyiapkannya lebih dulu. Yang kurang hanya soal komunikasinya saja.

Oke deh, menjelang pukul 9 pagi. Saatnya berbenah dan pesan Grab. Sampai jumpa di Jakarta siang nanti.

Megending yuk Kita Megending

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

‘ngiring je sikiang manahe, sekadi i bungan…’

Liriknya sudah pasti hafal, meski sempat jua agak lupa ingatan pada saat pentas Rabu jelang siang tadi. Tapi yang sulit adalah menghafal gerak tangannya di sela sorak sorai penonton dan gemerlapnya lampu sorot atas panggung. Baru kali ini saya merasakan grogi yang minta ampun. Padahal kalo soal membuka rapat dan memimpinnya sepanjang acara, sudah mulai terbiasa. Tapi untuk yang satu ini ? Heladalah…

Jujur, saya suka dengan aransemen lirik yang dikemas Gung Mayun Narindra, pelatih kami yang masih unyu-unyu itu. Ndak ramai saat dinyanyikan, dan begitu dikombinasikan dengan koreografi dadakan dua hari sebelumnya, sesi Megending ini jadi lebih mengasyikkan untuk dinikmati.

Kegiatan Megending Bali yang kami ikuti ini merupakan bagian dari Lomba Lagu Antar Pegawai dan Perangkat Daerah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung, serangkaian Perayaan Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-46 dan perayaan HUT Ibukota Kabupaten Badung Mangupura ke-8. Infonya diikuti oleh 10 kelompok pejabat atau pimpinan perangkat daerah dan 40 kelompok pegawai yang berasal dari masing-masing perangkat daerah dilingkungan Pemkab Badung.

Untuk dinas dimana kami bernaung, audisi eh perekrutan (paksa) peserta paduan suaranya dilakukan kalo ndak salah ingat, akhir September kemarin. Saya sendiri sepertinya dicomot gegara dianggap ndak punya banyak pekerjaan saat jam kantor. Atau bisa juga gegara kerap nyanyi-nyanyi menggumam lewat earpiece bluetooth saban hari jelang apel pagi.
Meski agak berat karena meyakini suara sendiri hanya bagus terdengar saat nyanyi di kamar mandi, namun demi melihat antusiasme 11 calon peserta lainnya yang merupakan orang-orang penuh dedikasi dalam bekerja, sayapun menyetujui bergabung dengan squad Megending DPKP. dan bersikeras menjadi stok cadangan, lantaran tim inti yang dipersyaratkan oleh panitia hanya 10 orang saja, 5 pria dan wanita.

Proses latihan bisa dikatakan berjalan dengan baik, meski amat sangat jarang bisa menghadirkan full team 12 orang peserta dalam sekali waktu, mengingat kesibukan masing-masing yang tak bisa diabaikan.
Saya sendiri baru merasa kewalahan untuk mengatur waktu, pasca ditunjuk kembali mengambil beban tanggung jawab pimpinan yang ditinggalkan awal Oktober kemarin. Sempat bingung juga, mau mengutamakan kepentingan yang mana. Syukurnya kedua pihak bisa memahami, atau bisa jadi terpaksa memahami semua aktifitas tambahan saya.
Eh, gimana maksudnya ?

Sementara itu, proses penguasaan aransemen bisa dikatakan cukup sulit. Mengingat secara pengalaman, sepertinya tak satupun dari kami, 12 peserta yang dilibatkan untuk menanggalkan rasa malunya, pernah melakukan hal yang sama apalagi diatas panggung. Koreksi kali kalo salah. He…
Bahkan hingga hari terakhir latihan, saya sendiri masih suka kelupaan kapan masuknya nada yang ditugaskan oleh pelatih unyu-unyu itu.
Begitu juga dengan koreografinya yang serius, ini beneran hasil kolaborasi si pelatih vokal yang sama, dan peserta. Tanpa ada campur ide dari pelatih koreografi khusus, yang sejatinya memang tidak kami miliki. Ups…
Jadi ya, dimaklumi saja, kalo lantas ada beberapa ide nyeleneh yang masuk dalam cerita dadakan, seperti penggunaan kacamata hitam, pose ngerayu saat lafu kedua atau bahkan lantunan kidung yang kemudian tidak jadi diterapkan hanya karena dianggap bertentangan dengan hasil technical meeting sebelumnya.

Lain lagi dengan dukungan, yang bisa dikatakan ‘ya begitulah…’
Mengingat untuk kebutuhan konsumsi dasar seperti air mineral dan snack ringan, rupanya sebagian besar ditalangi secara pribadi, oleh mereka yang ditugaskan untuk menghandel tim Megending ini.
Sampai-sampai ndak enak hati saat mengetahui fakta tersembunyi ini. Jadinya ya pas sempat, kami pun berupaya menyisihkan sedikit rejeki dari-Nya untuk nambah-nambahin konsumsi harian saban latihan.

Tapi so far so good lah.
Bagi saya pastinya.
Ya mau gimana lagi ?
Memang harus diakui bahwa kami tidak mampu sepenuhnya berkonsentrasi dengan kegiatan Megending ini mengingat tugas dan kewajiban kerja yang tak bisa diabaikan. Saya sendiri pagi tadi, pikiran sempat awut-awutan lantaran ada panggilan pemeriksaan lapangan dari Inspektorat Provinsi terkait kegiatan fisik yang sedang berjalan, secara dadakan pula, tanpa konfirmasi sehari sebelumnya. Edan bener… padahal jelas sudah menyampaikan alasan mau tampil Megending dua nomor urut lagi, tetep saja tim pemeriksa ngotot minta didampingi. Ealah… Syukur ada kolega yang bisa menemani mereka turun ke lapangan pagi tadi. Kalo ndak, bisa macem macem deh nantinya.

Hasil, sebenarnya sudah bisa ditebak. Dari Tiga nominasi Utama, Tiga nominasi Harapan dan Empat nominasi Favorit, tak satupun yang bisa digondol pulang. Widih… kasian banget. Hahaha…

Tapi terlepas dari itu semua, ada banyak kenangan yang bisa disimpan saat kami semua berproses didalamnya. Dari suasana latihan yang penuh tawa canda, hal yang jarang didapatkan dari lintas bidang selama ini, juga official pelatih yang unyu-unyu menjadi hiburan di kala penat mulai melanda.
Yang ndak kalah seru, ya aksi foto-foto candid juga gaya sosialita ibu-ibu, nyaris menghabiskan memory ponsel dengan berbagai aksi terkini. Termasuk ‘boomerang’ yang sering dibuat putri pertama saya di rumah.

Ternyata semua itu bisa cepat berlalu.
Dan besok, kami sudah harus kembali lagi berkutat dengan pekerjaan masing-masing, memasang wajah serius demi menyelesaikan tugas dan kewajiban awal hingga akhir tahun nanti.

Terima Kasih ya kawan-kawan yang sudah mengajak saya serta Megending tahun ini. Semoga semua cerita yang ada bisa menjadi kenangan bagi kita semua.
Tetap semangat !!!

Butuh Udara Segar

Category : tentang DiRi SenDiri

Usai menuntaskan proses verifikasi usulan bedah rumah tempo hari, rasanya perjalanan saya kali ini sudah mulai menemukan jalan buntu. Segala kejenuhan dalam rentang nyaris setahun ini, benar-benar menghilangkan semua kreatifitas dan pola pikir pembaharuan yang saya punya.
Mentok tanpa daya.

Ini memang penyakit rutin dalam gaya saya dalam bekerja. Ketika merasa semua berjalan stagnan tanpa adanya perkembangan berarti, biasanya itu merupakan sinyal untuk mengubah haluan, pindah ke tempat kerja yang baru.
Di masa lalu, dalam setahun saya bisa resign tiga kali hanya lantaran merasa tak lagi mampu mengembangkan diri.
Tapi kini saat menjadi pegawai negeri ?
Tentu tak semudah itu.

Saya memang lagi butuh udara segar tampaknya.
Perlu darah baru untuk bisa memulihkan semangat kerja yang mulai luntur.
Pembaharuan pola kerja, pembagian tugas tim, atau bisa juga Liburan. Ah, untuk yang terakhir ini, rasanya ndak mungkin bisa dilakoni saat ini.

Masuk akal, pembaharuan pola kerja dan tim inilah yang menurut saya paling masuk akal. Mengingat disebelah masih ada dua tim yang harus dibimbing agar bisa menyelesaikan pekerjaan dalam 2 bulan terakhir ini. Penuh resiko dan tantangan.
Meski beberapa hari terakhir sudah mulai masuk di ranah ini, namun upaya untuk bergabung kembali, belum lugas dilakoni. Rasanya masih ada beberapa hal yang mengganjal.

Liburan panjang yang tidak bakalan dapat menikmati liburan ini, sepertinya menjadi kesempatan terakhir saya untuk me-recharge ulang pikiran dan tentu saja suasana kerja di ruangan. Jika tidak, maka akibatnya bisa fatal.
Semoga saja saya bisa melewatinya kelak.

Jalan Panjang menuju Pencairan 34 M Dana Bantuan Rumah Layak Huni Badung

Category : tentang PeKerJaan

Ndak nyangka.
Serius… saya ndak nyangka sama sekali.
Bahwa per Senin kemarin, usaha keras kami di Bidang Perumahan bersama tujuh tenaga kontrak yang banyak membantu proses verifikasi bantuan rumah layak huni di Kabupaten Badung, akhirnya bisa terwujud jua.
Padahal dalam tiga minggu terakhir ini, saya kelihatannya agak otoriter memaksa mereka lembur siang malam untuk bisa menyelesaikan proses ini tepat waktu. Apa daya molor seminggu.

Tapi ini prestasi buat kami.
Apalagi setelah mendapat kabar bahwa pimpinan masuk sel jeruji senin 2 oktober lalu, sempat membuat drop semua semangat yang ada. Namun keinginan besar untuk bisa menyelesaikan semuanya, jadi makin membara saat didukung oleh kepala dinas dan sekretaris utamanya terkait komunikasi antar pimpinan instansi. Yang tadinya dihandel penuh pak Kabid kami.

Proses pencairan atau tepatnya seremonial kemarin, berlangsung singkat. Gak ada yang namanya makan siang dan diskusi tanya jawab. Hanya menyampaikan kepedulian Pemerintah Kabupaten Badung serta komitmen membangun kepada masyarakatnya, sudah gitu aja.

Selain tujuh tenaga baru yang ramenya minta ampun dan direkrut awal tahun 2017 ini, saya juga mendapatkan banyak bantuan kawan pindahan dari Klungkung, yang secara pengetahuan banyak tau soal pemanfaatan dana ini. Ilmu kanuragannya tergolong mumpuni, jadi ndak heran kalo progres yang tercapai begitu pesat di awal tahun. Termasuk dua mahmud yang tergolong gencang bantuin saya untuk penugasan yang ndak mampu saya selesaikan. Pula bantuan rekan seruangan yang ndak kalah pentingnya.

Banyak cerita dan pengalaman baru yang saya dapatkan sejauh ini. Tentu melengkapi semua keluh kesah yang menghiasi 3 tahun masa pengabdian di jalan lingkungan. Baik dari sisi positifnya maupun maki-makinya. Bahkan malam pasca pencairan kemarin, masih ada kok yang marah-marah karena merasa tidak dianggap lantaran persoalan internal desa disangkutpautkan dengan hasil keputusan tim kami di Dinas.

Namun demikian, perjalanan panjang menuju pencairan dana bantuan ini masih banyak bolong-bolongnya. Saya pribadi satu dua hari ini masih terfokus ke bagaimana nanti kami bisa tampil lebih baik lagi dihadapan masyarakat dan aparat Desa. Pula proses melengkapi persyaratan administrasi dan lainnya. Lumayan berat. Tapi begitu semua ini selesai, waktu luang dan kualitas tidur jadi lebih nikmat. Saya pun kini mulai leyeh leyeh lagi saat senggang di basement kantor.

Bimbang di Persimpangan Jalan

Category : tentang Opini

Hari ini tiba-tiba saya teringat dengan nasehat senior saya, yang sudah resign setahun lalu, meninggalkan tugas sebagai abdi negara dan memilih menjadi warga biasa. Keputusan itu diambil saat ia berada pada posisi yang sama dengan kondisi saya hari ini.

Pikiran saya pun jauh melayang disela kesibukan yang makin terasa selama dua minggu terakhir. Dengan adanya tambahan tugas baru dari pimpinan, jadi makin jauh dari keluarga. Utamanya anak-anak dan ‘me time’. Meski lelahnya belum separah tahun lalu, namun perubahan itu mulai agak mengganggu waktu luang yang biasanya ada.

Saya juga jadi teringat pimpinan yang kini berada di balik jeruji. Hanya karena luput menjalankan tugasnya, ia harus meninggalkan keluarga dan melupakan karir yang telah dibangun selama ini. Sepertinya bantuan hukum yang diharapkan tak jua kunjung tiba di depan mata. Semua terkesan meninggalkannya sendirian saat bersua masalah di tengah jalan.
Saya sendiri belum sempat menjenguknya kembali pasca kehilangan kata-kata Kamis lalu.

Bimbang di persimpangan jalan.
Rasanya jika diperbolehkan memilih, lebih baik memiliki waktu luang yang banyak untuk keluarga dan anak-anak ketimbang disibukkan oleh pekerjaan yang meskipun dijalankan dengan benar saja, masih ada celah salah yang dilihat dan dimanfaatkan orang lain untuk menjatuhkan semua usaha dan pengorbanan yang dilakukan. Apalagi dengan sengaja berbuat salah ?

Namun sepertinya pilihan itu tak akan pernah ada ketika jalan belum mapan terbentang untuk masa depan keluarga. Jalan terus.

Lalu mau bertahan sampai kapan ?

Liburannya Sudah Usai, Ndan

Category : tentang PeKerJaan

Tiba-tiba saja selera makan saya menguap entah kemana. Sementara nasi dan lauk yang pesan sudah dihidangkan di meja.
Fuck…
Stress pekerjaan di awal bulan Oktober ini rupanya sudah mulai melanda pikiran.

Sembilan bulan menikmati liburan tanpa beban dan tanggung jawab, banyak memberikan kesan bermakna pada keluarga. Kami jadi memiliki banyak waktu bersama sejauh ini, utamanya jika hari Jumat siang sudah menjelang, hingga minggu malam.
Tanpa gangguan telepon, keluhan hingga makian orang per orang. Juga tugas dadakan dari pimpinan maupun kawan di skpd lain.

Akan tetapi minggu ini, hingga bulan-bulan mendatang, sepertinya masa-masa indah Liburan bersama Keluarga bakalan Berakhir.
Ya, dan sudah dapat dipastikan Berakhir.
Mengingat pimpinan dimana saya bertugas, per Senin 2 Oktober lalu dititiptempatkan di lapas LP Kerobokan. Kaitan dengan kasus Senderan Tukad Mati yang ramai di media beberapa waktu lalu.

Mau tidak mau, suka tidak suka, konsekuensi dari semua itu, seluruh penugasan Beliau sebagai PPK dan Kepala Bidang Perumahan Rakyat dilimpahkan turun ke saya.
De Ja Vu..
Mirip kejadian tahun 2013 lalu. Namun bagusnya, saat ini saya dalam kondisi siap untuk menghadapi tantangan meskipun sedikit menyesali keadaan yang terjadi.

Jadi PPK lagi ?
OH NO !!!

Menyandang Status Tersangka

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan, tentang Opini

Saya yakin gak satupun dari kita, kamu, juga saya… menginginkan hal diatas terjadi.
Akan tetapi demikianlah kondisi beberapa senior saya di pemkab Badung saat ini.

Tersandung paket kegiatan konstruksi di Tukad Mati Kuta, dua kepala bidang yang saat pekerjaan dilaksanakan ditunjuk sebagai Pejabat Pembuat Komitmen atau PPK atau bahasa awamnya terdahulu dikenal sebagai Pimpro, dan satunya lagi bertugas sebagai Pembantu Pelaksana Teknis Kegiatan atau PPTK.
Yang satu masih tetap bertugas di tempat kerja terdahulu, satunya lagi dipromosikan ke tempat dimana saya kini bertugas.

Tak ada yang menyangka sebetulnya. Mengingat kedua sosok abdi negara ini saya kenal begitu ulet dalam bekerja.
Informasinya hanya karena lalai dalam menjalankan tupoksinya masing-masing, mereka berdua kini telah naik status menjadi Tersangka dalam paket kegiatan tersebut.

Siapapun saya yakin bakalan kaget, dan lantas kehilangan semangat kerja. Apalagi status Tersangka yang disandang, bakalan mengancam karir dan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Demikian pula terkait harga diri di mata sanak saudara maupun masyarakat sekitar tempat tinggal. Juga secara luas dalam pergaulan. Sayapun yakin akan demikian adanya apabila berada dalam posisi yang sama.

Jangankan menyandang status Tersangka.
Baru hanya dipanggil dan diperiksa saja, image kita sudah jatuh didepan banyak orang, ketika hal itu diketahui publik. Bukan apa-apa, tapi yang namanya awam biasanya sudah memandang negatif ketika itu terjadi. Terlepas proses berlanjut atau berhenti.
Saya pun pernah mengalaminya.

Yang paling kasihan, tentu saja keluarga. Istri, anak-anak, dan orang tua.
Itu sebabnya ketika status belum meningkat menjadi Tersangka, biasanya kami akan berupaya menutupi fakta pada mereka, agar tak menjadi khawatir secara berlebihan. Menganggap bahwa semua ini semacam aktifitas kerja biasa lengkap dengan segala resikonya. Sehingga ketika ini bisa diselesaikan, maka semua akan berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Namun ketika kejadian, naik status menyandang sebagai Tersangka ? Disinilah semua tantangan yang sebenarnya bakalan dimulai.

Itu sebabnya, ketika panggilan dan pemeriksaan dilakukan, Saya berupaya kooperatif dan mengikuti alur normatif serta optimal dalam membuktikan semua pekerjaan yang selama ini berusaha dilakukan dengan benar.
Bahwa dengan bekerja secara benar saja, sebetulnya masih ada celah yang bisa dianggap salah oleh orang lain, apalagi bekerja sengaja secara salah ?
Bisa habis kita di tengah jalan.

Bahwa kemudian ada hal-hal yang luput untuk diingat, bisa jadi wajar ketika pekerjaan tergolong overload sebagaimana pengalaman di tahun sebelumnya.
PC laptop atau Ponsel pun bisa mengalami hang saat semua beban dipaksakan untuk dikerjakan, apalagi otak manusia ?

Itu sebabnya tak sekalipun terlintas keinginan atau bayangan masa depan bakalan menyandang status Tersangka seperti halnya diatas. dan semoga tak akan pernah terjadi.

Menikmati Jam Kerja Tanpa Tekanan

Category : tentang PeKerJaan

Menjadi Pejabat Pembuat Komitmen atau yang dulunya dikenal dengan istilah PimPro untuk 90an Paket Kegiatan itu sudah menjadi masa lalu.
Ya, sudah hampir Enam Bulan berjalan.
dan Tampaknya saya sangat menikmati masa-masa ini.

Saya bertugas, dan di pelantikan 74 pejabat baru hari jumat kemarin, saya masih tetap bertugas di Bidang Perumahan Rakyat Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman sebagai Kepala Seksi Peningkatan Kualitas Perumahan, malih rupa dari Dinas Cipta Karya yang pernah membesarkan dan melindungi saya selama 3 tahun lamanya.
Adapun Tugas yang saya emban kali ini adalah berkaitan dengan Bantuan Rumah bagi masyarakat miskin di Kabupaten Badung.
Urusan Jalan Lingkungan ?
Jauh jauh dulu deh…

Menjalani rutinitas kerja di tempat baru sepertinya memang benar-benar memberikan suasana dan gairah baru dalam menghadapi hari.
Setelah penat dan lelah dihantam tekanan selama tiga tahun lamanya mengurusi Jalan Lingkungan serta pernak pernik suka duka didalamnya, saya rasa amat sangat wajar apabila kemudian membutuhkan masa-masa tenang, agar kelak bisa menikmati hidup dan waktu bersama keluarga dengan lebih baik. Minimal ya setahun kedepan ini.
Dan doa saya dikabulkan olehNYA, juga oleh atasan terdahulu.
Resign dari jabatan PPK dan semua yang terlibat didalamnya.

Namun meski demikian, saya tentu belum boleh melepas semuanya langsung, serta merta begitu saja. Mengingat pejabat baru yang menduduki posisi saya terdahulu, baik pada kursi Kepala Seksi yang menangani Jalan Lingkungan ataupun tugas sebagai PPK, dirasa bel├╣m mampu menggantikan sepenuhnya, utamanya terkait pe er di masa lalu tentang e-Katalog Daerah dan juga titipan aspirasi para anggota Dewan DPRD Badung serta yang berkepentingan. Itu sebabnya pada kunjungan kerja ke LKPP kemarin atau saat beberapa pejabat dan anggota DPRD lainnya yang tidak puas dengan tanggapan pejabat baru, saya pun masih ikut dilibatkan didalamnya.
Akan tetapi tentu saja tidak diikuti dengan beban, tanggungjawab dan tekanan tadi.
Jauh lebih ringan lah kini.

Menikmati Jam Kerja tanpa Tekanan

Minimal sekarang saya sudah bisa jalan-jalan ke desa atau kelurahan saat jam kerja. Berbagi informasi dengan para Kades, Perbekel atau Lurah, Kaur Kesra dan Kelihan Dinas, juga masyarakat yang layak mendapatkan bantuan. Atau sekedar menikmati makan siang bersama staf di pinggir jalan desa yang sedang kami kunjungi.

Tanpa gangguan dering telepon, nada komplain atau marah-marah dari mereka yang keinginannya belum mampu saya penuhi lantaran aturan atau waktu yang tak memungkinkan.
Tanpa gangguan masalah yang datang hanya karena kepentingan dan kepentingan pihak tertentu, dan kerap tidak memperdulikan bagaimana kelak saya akan menghadapi akibatnya.
Tanpa gangguan lambung yang datang di pagi hari, lengkap dengan muntah dan lupa ingatan, hanya gara-gara telat makan atau bahkan tak sempat lagi menyentuh cemilan yang sejak pagi sudah disediakan staf di ruangan.
Itu semua Nikmatnya tiada tara…

Saya maklum, apabila yang tampak dari luar, bisa jadi ada yang salah, hingga ‘hukuman’ diberikan oleh pimpinan.
Tapi santai saja dan jalani semua.

Mari menikmati jam kerja harian tanpa ada lagi tekanan…