Tanggal 1 jeg pasti teke…

6

Category : tentang KHayaLan

Pegawe Negeri absen ngantor ? itu mah sudah biasa…

Pegawe Negeri ngerumus Togel ? itu juga sudah biasa.

Kalo pegawe negeri mendadak rajin ngantor ? ah, itu sih pas tanggal muda ajah. Ngambil gaji dan jatah beras bulanan.

Kalo udah diambil ? ya absen lagi.

Trus kapan ngantornya lagi ? pas uang Insentif dibagi dong.

Kapan itu ? biasanya sih akhir minggu pertama.

Sudah itu ? berharap uang PB1 dibagi cepat.

Kalo masyarakat perlu ngurus apa-apa, gimana dong ?Dateng aja pas tanggal muda, hari pertama kerja bulan terkait. Jangan sampe keduluan jam bagi-bagi gaji.

Kalo kadung lewat ? ya dateng lagi bulan depan. Yen sube tanggal nampi gajih, jeg pasti ade pegawene nto…

Huahahaha… Gak ada rasa malunya sama sekali !

NB : Pegawe Negeri nge-Blog ? ini mah kurang kerjaan. J

Pelatihan ‘Operator’ Internet by Pemda Badung

Category : tentang iLMu tamBahan

Sehari sebelum acara tersebut dimulai, berbagai angan dan mimpi berkelebat di benak, apa mungkin pelatihan kali ini bakalan ada kaitannya dengan pemblokiran situs ‘YouTube’ ato mungkin untuk mengawasi browsing internet rekan kantor dari kata-kata yang tak boleh disebutkan namanya.

Angan yang sama pula terlintas saat beberapa orang yang kebetulan mendapatkan tugas sama, yaitu mengikuti pelatihan yang diadakan selama 2 hari di ruang rapat kantor Departemen Agama Sempidi. Narasi yang dipaparkan oleh sang pembuka acara bolehlah menjadi awal, yaitu memimpikan bahwa seluruh instansi yang terkait dengan Pemda Badung bakalan terkoneksi sehingga memudahkan komunikasi serta menghemat baik tenaga, waktu dan biaya.

pelatihan-oi.jpg

Namun apa daya, semua itu kecele rupanya.

Pelatihan yang judulnya ‘Operator’ diatas (sesuai surat tugas yang diterima), nyatanya malahan digunakan sebagai pengenalan ‘bagaimana caranya membuat email gratisan dari yahoo dan gmail’ trus ada ‘bagaimana cara mengirim dan membalas email’ dan ‘bagaimana caranya browsing’. Halah… Kekecewaan tampak jelas pada beberapa raut wajah peserta yang ditugaskan untuk hadir. Sialnya tak mampu ditangkap oleh panitia yang tidak menyediakan fasilitas komputer maupun laptop dengan jumlah yang memadai sesuai dengan jumlah peserta. Hal yang telah dilakukan oleh penyelenggara Pelatihan Internet menyongsong eGov, KPDE Kodya Denpasar 2 tahun lalu.

So, kondisi yang tercipta justru sangat jauh berbeda dengan pelatihan dua tahun lalu yang kebetulan juga menjadi cikal bakal lahirnya blog ini. Satu laptop (dari 4 yang disediakan oleh pihak panitia dan 3-4 yang dibawa oleh peserta) harus rela dipake beramai-ramai yang tentu saja menyebabkan tidak efektifnya pembelajaran yang diberikan. Sialnya lagi tentu perihal koneksi yang digunakan, sangat berbanding terbalik dengan apa yang diselenggarakan oleh kpde Kodya Denpasar. Koneksi hari ini nyatanya sangat ‘parah dan payah’ jika boleh meminjam istilahnya pak Instruktur tadi. Sehingga sangat sangat disayangkan sekali mengapa bisa terjadi seperti itu.

Sekedar membandingkan saja, Pelatihan Internet yang diadakan oleh KPDE Kodya Denpasar dua tahun lalu itu, bekerja sama dengan Stikom Surabaya, yang selain mengetengahkan pelatihan yang sama dengan materi pelatihan hari ini ditambahkan pula dengan workshop yang beragam dan dapat dipilih pula, antara lain kalo ndak salah mencakup pembuatan database, video editing, photo editing dan tentunya pembuatan Blog yang dipandu oleh Pak Erwin Sutomo. Yang asyiknya lagi, seluruh peserta mendapatkan masing-masing 1 komputer desktop yang bisa digunakan sebagai pelatihan apa yang dijelaskan oleh instruktur tanpa harus terganggu oleh peserta lain.

Didukung oleh koneksi yang sangat cepat dan ringkas, tanpa putus-putus seperti halnya koneksi tadi. Mungkin ini bisa menjadi satu masukan bagi pihak penyelenggara maupun pihak yang diajak bekerja sama agar lebih memperhatikan yang namanya tujuan pelatihan, materi apa saja yang diberikan dan juga persyaratan apa yang harus dipenuhi untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut. Minimal semua itu sudah terangkum jelas pada surat undangan yang diedarkan ke masing-masing instansi.

Hanya saja memang blom semua pihak bisa mewujudkan apa yang diharapkan tadi. Boleh saja bermimpi bahwa di masa depan, sebuah kulkas bakalan bisa memesan telor sendiri lantaran didalamnya ada satu perangkat pintar yang mampu melakukan hal itu, namun namanya juga mimpi, entah kapan bisa terwujudkan kalo hal kecil begini saja blom mampu dilakukan.

Bahan Pelajaran bagi calon PNS dimanapun

Category : tentang Opini

Ketika memulai karir PNS dari bawah dengan usia yang relatif muda dibawah 30 tahun, tidak jarang yang namanya idealisme masih ada dalam setiap pengambilan tugas dari atasan. Tak jarang pula bentrokan kecil terjadi dengan mereka yang sudah lama mengabdi dengan berbagai gaya hidup dan budaya kerja masing-masing.

Ketika satu kepercayaan diberikan oleh atasan untuk memeriksa pekerjaan yang dilakukan mereka yang telah lama mengabdi, lantaran faktor idealisme tadi yang masih ada, ternyata bukanlah satu hal yang mudah untuk dijalankan.

Seperti kata mertua. Bekerja sebagai Tim Pemeriksa seperti menggergaji. Disini kena disana pun kena.
Kalo terlalu idealis dan kaku, maka dengan temanlah bentrokan akan terjadi, karena bagi mereka kalo tim pemeriksa sudah turun maka terlihatlah borok pekerjaan yang dilakukan selama ini.
Namun jika terlalu lunak lantas dibodohi pihak pelaksana hingga mengubah idealisme hanya demi seamplop kecil uang makan, maka dengan atasanlah yang akan bermasalah.

Sesungguhnya tim yang diturunkan bukanlah untuk memeriksa namun mengendalikan pekerjaan. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan data baik secara dimensi maupun spesifikasi. Serta untuk berjaga-jaga saat BPKP turun memeriksa di akhir tahun anggaran nanti.

Tak semua mau mengerti hal ini.
Bahkan tak jarang seorang staf yang ditunjuk sebagai Direksi Pengawas pada kegiatan bersangkutan, malah membela pelaksana kegiatan, padahal secara fakta penyimpangan sudah terjadi.

Disini barulah yang namanya pinter-pinteran berargumen dengan teman sekantor serta membuktikan siapa yang salah.

Gambar-gambar yang tampil disini menjadi contoh betapa bobroknya mental sebagian para pengabdi bangsa ini. Mendukung pencurian uang negara melalui volume pekerjaan yang berada dibawah tanah, dengan harapan tak akan diketahui.

Namun ketika disampaikan, lebih banyak Direksi berpihak pada Pelaksana daripada mendukung tim pengendalian yang diturunkan. Mungkin lantaran sudah ada perjanjian pembagian keuntungan ataupun gratifikasi (fasilitas yang berlebihan) bagi anggota Direksi Pengawas dari pihak Pelaksana.

Sialnya kerja keras tim ternyata tak lantas dihargai setinggi harapan.
Terkadang tingkat antar pimpinan lebih banyak bermain untuk menerima pekerjaan tersebut padahal sudah ada catatan penyimpangan volume dan konstruksi.
Malahan ada juga pihak Pelaksana yang begitu pongah mengaku-aku bahwa pekerjaannya sudah beres diperbaiki lantas mencatut nama tim pengendalian maupun atasan langsung, untuk mendapatkan Berita Acara Pemeriksaan sebagai salah satu syarat pencairan uang negara.

Kalo sudah begitu cap yang dikenakan untuk Tim yang diturunkan pun menjadi beraneka ragam. Walopun garangnya tim yang turun meminta Pelaksana untuk melaksanakan pekerjaan sesuai bestek maupun Kontrak agar sesuai dari segi dimensi maupun spesifikasi material dan pengerjaan, toh kalo sudah sampai ditingkat atas pasti disetujui dan uang pun ngalir. Ah, ini jadi ironi bagi mereka yang diturunkan sebagai anggota tim.

Nah, masih mau tetap idealis ato …

Pilihan Bagi Calon PNS Baru

Category : tentang Opini

Oh ya, ini hanyalah satu beban yang numpuk dipikiran selama 2 tahun terakhir, dimana menjadi posisi sebagai staf pada satu sub Dinas yang bertugas memonitoring semua kegiatan lapangan yang sedang berlangsung.
So, mungkin aja tulisan ini bakalan dianggap Basi lagi oleh beberapa orang, namun bisa saja menjadi satu renungan ato pertimbangan bagi yang masih berminat menjajal hidup sebagai seorang PNS.

Selama ini imej yang tertanam dibenak masyarakat awam bahwa menjadi seorang PNS pastilah enak.
Mau ngantor jam berapapun, pulang lebih awal maupun bolos seenaknya toh tetap dapet gaji. Bayangkan kalo kerja di swasta ?

Memang gak menutup mata bahwa sebagian besar memang seperti itu adanya. Makanya sering tertangkap kamera maupun keluhan opini masyarakat berkaitan dengan oknum PNS yang keluyuran ke mall atopun pasar tradisional, hingga tertangkap basah di kamar short time.
Tapi ingat, ada sebagian lagi yang masih berusaha idealis untuk bekerja dan mengabdi pada negara juga lingkungannya. Bentuknya bermacam-macam, mulai tenggelam dalam kesibukan perencanaan, pelaksanaan maupun persiapan-persiapan yang berkaitan dengan administrasi tender dan pelelangan.

Tentu saja yang memilih untuk aktif dalam kewajiban terkadang masih mampu untuk memiliki uang saku lebih, yang sumbernya dari bermacam kategori. Dari uang lelah secara jujur maupun yang mencuri namun masih bisa ditutupi baik dengan kegiatan fiktif maupun saat kegiatan proyek berjalan. Inipun sudah dianggap biasa Bung !

Tapi lagi-lagi sifat idealis yang terbawa dari saat masih ngantor di swasta, membuat hati tak mampu tuk dibohongi jika harus melakukan tindakan tidak jujur tadi, namun hey siapa sih yang gak butuh uang ?

Dua pilihan yang terlintas pada pagi hari sebelum berangkat ngantor, mau jadi orang jujur tapi gak punya duit lebih ‘masih cukup buat makan tapi kalo untuk kemewahan mungkin gak lah’ ato mau ikut arus mencuri kecil-kecilan hingga yang tingkatan besar- korupsi. Yang terakhir tentu memiliki resiko yang jauh lebih besar kalo diliat dari berbagai segi. Yang mudah dilihat tentu saja emosi naik jika sampe ada rekan sejawat yang menanyakan karena merasa baru tahu ato sudah tahu. Lantas ngeles jadi pilihan berikutnya ato malah boong untuk menutupi keboongan lainnya.

Pengalaman ini makin menjadi saat dipercaya untuk menjadi bagian dari Tim Pengendalian yang bertugas melakukan pengecekan lapangan saat pekerjaan baru selesai sebagian, untuk kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Gabungan beberapa Dinas saat pekerjaan tersebut telah selesai dikerjakan keseluruhan.
Melihat kenyataan bahwa gak semua teman bisa diajak jujur dan tak berpihak pada rekanan pemborong (kontraktor) sungguh-sungguh menjadikan satu pelajaran tambahan yang selama ini gak didapat di atas meja kantor.

Cara mencuri yang jauh lebih cantik dan harus memiliki pengetahuan akan bahan mentah maupun jadi dari material yang digunakan dalam masing-masing pekerjaan yang dilakukan. Sehingga jika tak menguasai materi tadi tentu bisa dilihat jelas, kalo dari pihak pelaksana (Pemborong maupun Pengawas Intern yang terlibat) sedikit bohong untuk menutupi sekian banyak kekurangan yang terlihat jelas dilapangan.

Retak, permukaan yang aus, material terlepas hingga kebocoran, bisa jadi makanan empuk bagi anggota Tim Pengendalian yang turun, dan sialnya lebih banyak dari ketidakberesan pekerjaan tadi ditendang dengan kaki hingga ambruk oleh anggota Tim yang turun. Bayangkan, pake kaki aja bisa hancur apalagi kalo dilewati mobil atopun kendaraan berat lainnya ?

Sedang jika anggota Tim Pengendalian yang gak menguasai materi tadi, tentu saja bakalan gampang dibohongi oleh mulut manis yang sudah disumpal uang. Kerjanya tentu ngeliat tok, denger penjelasan Pemborong, Jeprat jepret foto ganteng ‘gak berkaitan dengan kegiatan, tapi yang terlihat malah wajah keren anggota Tim yang turun, trus manggut-manggut sampe menerima amplop ‘sekedar uang makan dan transport’, At last, pekerjaan diterima dan bisa dilanjutkan lagi.

Nah, sampe disini, kira-kira udah terbayang tantangan yang bakalan dihadapi kalo berhasil lolos jadi PNS ?

Jika memiliki jiwa idealis mewujudkan satu sistem yang bener dan menghasilkan pekerjaan yang bertahan hingga jangka waktu yang diinginkan, mungkin harus bersiap untuk makan hati dari sekarang, sebab terkadang orang-orang seperti ini bakalan mentok dalam berbagai hal. Keuangan hingga karir yang disatu tempat selama bertahun-tahun.

Sebaliknya jika memiliki jiwa ikut arus, ato malah sudah terbiasa membohongi kata hati yang lebih manusiawi, maka bisa dikatakan walo gajinya kecil tapi mampu tuk membeli barang mewah dari komputer multimedia lengkap dengan layar tipis, mobil sedan mentereng hingga rumah berlantai.

So, mau pilih yang mana ?

Selamat Datang CPNSD baru

Category : tentang Opini

Ucapan selamat ini dialamatkan kepada teman-teman Tenaga Harian Lepas Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, yang lolos tes memasuki jenjang CPNS berdasarkan umur maupun tahun pengabdian.

Sedang bagi yang masih berada dalam list daftar berikutnya, semoga sabar menunggu dan banyak berdoa semoga pimpinan daerah tak merubah pemikirannya kembali.

Selamat Datang di dunia penuh dedikasi, semoga bisa membuat satu perubahan yang berarti bagi pembangunan dan masyarakat. Semoga pula tak membuat kebiasaan buruk makin bertambah besar.

Jangan ngantor jam 9 kabur jam 11 lagi yaaa…

Tips Kalo Mau Jadi CPNS

3

Category : tentang Opini

  1. Siapkan Koneksi, kalo perlu pejabat atau orang yang bisa mempengaruhi pejabat, misalnya selingkuhannya, istri simpanannya atau malah mertuanya.
  2. Siapkan uang pelicin dalam amplop dengan angka nol minimal 7 digit, dan angka awal minimal 3.
  3. Siapkan mental, khususnya bagi yang dulunya adalah tergolong pekerja dengan dedikasi tinggi, jujur dan taat pada peraturan, karena gak jarang kita harus ikut arus, mbolos, colak-colek, ato malah ikut kondangan untuk menghindari tugas dan kewajiban kerja.
  4. Siapkan Jurus-jurus Jitu, agar bisa siap bersaing, gak kalah awal dengan tenaga-tenaga yang direkrut dengan jalur yang tidak biasa.

Huehehe…

Lika Liku Perekrutan Pegawai Negeri Sipil

3

Category : tentang Opini

Test masuk CPNS Badung beberapa waktu lalu ricuh, karena yang lolos masuk, sebagian besar merupakan keluarga pejabat berpengaruh. Ini sudah bukan rahasia lagi di mana-mana.
Semua sudah maklum, kalo gak punya koneksi, mana bisa masuk ? Aku sendiri, kalo dibilang masuk mulus saat ujian 2003 lalu, gak juga, karena ada satu orang yang kebetulan menantang aku untuk ikut serta dalam testing, yang kalo masuk dalam kategori diatas rata-rata nilai yang diperlukan, Beliau berjanji bakal memperjuangkan aku untuk bener-bener lolos.
Ironisnya, banyak orang yang mencoba menawarkan Beliau, dari buah-buahan segar, paket kebun, sampe amplop ratusan juta, gak ada yang masuk satupun lantaran gak berhasil masuk rate tadi.
Jadi, satu keberuntungan, aku bisa lolos tanpa harus menyiapkan uang yang kata seorang teman yang juga lolos, dia harus bayar uang 75 juta. Duuuuh..
Namun tetap saja ini menjadi satu beban bagiku, untuk membuktikan bahwa aku mampu untuk diterima disini.

Lantas bagaimana yang lainnya ? Masuk lantaran orang besar juga ?
Syukur masih ada satu dua orang yang memang benar-benar berpotensi di bidangnya, mampu untuk memberikan kontribusi yang baik bagi instansi dimana ia ditempatkan.
Tapi ada juga yang mentang-mentang, lalu sok, karena Bapaknya adalah seorang anggota Dewan yang saat ini masih aktif menjabat.

Seperti yang diberitakan di koran tempo lalu, ada seorang CPNS yang agak sakit pikiran, duduk seenaknya di kursi Ketua Dewan, mencolek pantat Sekpri hingga hampir dibogem anggota Dewan karena kelakuan buruknya. Pengalamanku saat ikut Pra Jabatan setahun lalu, memang benar adanya hal-hal seperti kusebut diatas, namun sekali lagi, bagiku itu wajar.

Wong anak pejabat kok.

Lantas diskriminasipun terjadi.
Di masing-masing instansi yang ditempati gak jarang anak-anak pejabat ini didahulukan kepentingannya, sedangkan yang gak jelas asal-usulnya bisa diberikan nomor antrean paling buncit. Atau seperti yang kualami saat menginjakkan kaki di ruang atasan, aku dikenalkan pada orang-orang yang merupakan titipan pejabat saat itu.
Saat aku balik ditanya, aku katakan, No One. Biar deh, mereka tau sendiri siapa yang berperan besar menghadirkanku diantara mereka.

Sialnya, gak semua anak pejabat bisa bekerja dengan baik.
Akhirnya saat meminta tolongpun, harus dipikirkan kembali, ‘kamu itu siapa, aku ini siapa… kok enak-enak minta tolong ?

Sekali lagi, gak semua seperti itu, ada juga yang orang dibelakangnya bahkan jauh lebih besar, karena sudah ditingkat Pusat  Jakarta, tapi orang-orang ini tetap low profile, berdedikasi tinggi pada pekerjaannya, dan masih mau menawari bantuan saat aku sedang kesulitan.
Nah kan.

Arus Teknologi di Pemerintahan

Category : tentang Opini

Keseharianku gak bisa lepas dari yang namanya komputer dan ha pe (kali ini sudah menjelma jadi pda). Sedangkan dalam angan-angan, masih banyak yang diinginkan, tapi karena dana juga cekak, yah cukup segini aja dulu.Pingin juga punya iPod, ato paling gak mp3 player yang murahan, handicam ato laptop yang mumpuni. Itu semua bahkan jadi bahan untuk mengigau dalam tidur, huehehe…
Istri sampe bengong pas nyadar saat aku ngigo, ngomong tentang ha pe juga yang laennya. Huehehe…

Namun sayang, lingkungan gak mendukung. Awal aku bekerja sempat terlintas dalam bayangan, kalo didalam ruang kerja kantor pemerintahan, paling gak sudah seperti ruang kerja swasta yang pernah aku alami.
Rapi, bersih, dingin ber-ac, ga banyak kertas yang numpuk di meja kerja, kabel-kabel ga berserakan, dan juga super power technology.
Bayangan ini muncul lantaran semester akhir kuliah, dibantu sohib Swikhendra, dapet ijin untuk ngeprint Tugas Akhir di kantor KPDE Badung, trus ngeliat beberapa rongsokan komputer canggih yang dibakar masaa saat kerusuhan beberapa tahun lalu.
Dengan ruang kerja kantor yang bersih dan rapi.

Ternyata eh ternyata ruang kerja kami gak ubahnya kapal pecah. Awalnya terasa aneh, sampai-sampai aku nekat ngebersihin kertas yang berserakan, mau itu kepake ato enggak, trus ditumpuk dipojokan, lumayan, bersih cuman sehari, trus berserakan lagi deh.

Yang bikin nelangsa waktu itu adalah komputer yang ada masih Intel Pentium 1 dan 2, itupun ada yang masih 486, dengan printer Epson gede besar bersuara berisik, duuh… Jaman sudah Pentium 4 kok ya masih aja deh menggunakan itu. Cara kerjanya juga aneh, orang per orang, ngebikin nama file, pake nama orang, ato kalo make nama file, yang disingkat-singkat. Mungkin maksudnya biar ga ada yang nyabot kerjaannya.
Jadi kalo mo nyari Surat apa gitu, harus nanya dulu, “woooi… yang bikin Surat ini siapa ?”

Anehnya lagi, gak ada jaringan yang terhubung, padahal ini kantor lho… tapi gak heran juga karena sampe posting ini ditulis, yang namanya jaringan juga masih jadi angan-angan belaka.

Oya, sempet minder awal-awal make pda, karena lingkungan yang paling canggih waktu itu masih make Nokia 6600, dikiranya korup uang negara dari mana lagi. Awal-awal bawa kamera saku juga gitu, jadi bahan pelototan orang, mungkin dalam pikiran mereka mikir, ni orang udah gede tinggi, kantong bajunya yang kiri nongolin ha pe segede batu bata, yang kanan ada kameranya, mo kemana ya ? Padahal di luaran mungkin bisa dibilang aku ini udah ketinggalan jaman.
Orang lain udah pada bawa ha pe canggih dengan kamera built in 2 MP, ya aku masih bawa yang VGA.
Orang lain udah bawa kamera 6 MP, aku masih yang 3 MP.
Orang udah bawa laptop, aku masih bawa map. Huehehe…

Tapi bersyukur juga, setelah 2 tahun merayu lingkungan untuk lebih up to date, apalagi setelah mendapat suntikan komputer Pentium 4, 3 biji, yang dulunya orang-orang masih gambar pake mesin Mutoh, sekarang udah mendingan, nge-Cad walo masih meraba-raba, Mesin Mutoh langsung istirahat deh.
Yang namanya flash disk juga udah mulai familiar dibawa setiap orang. Walopun pada awal-awalnya masih kagok.
Terus, Ha pe juga mulai bervariasi, tapi rata-rata masih megang Nokia.

Ada gunanya juga selama berbulan-bulan, masang wallpaper teknologi di masing-masing komputer, baik itu ponsel, laptop, pda, kamera, de el el, dan juga ngajarin orang-orang untuk familiar dengan AutoCAD, karena ini satu program yang paling penting di instansi kami.
Gak percuma deh.

Yang paling seru, orang-orang udah gak gaptek lagi, sekarang malah pada rebutan make komputer, untuk sekedar gambar ato ngetik. Yang lebih kasian, komputer yang dulunya laris (Pentium 1), sekarang cuman duduk di pojokan, ga kepake. Yang paling sial, aku kini malah bengong, karena gak pernah kebagian make komputer.
Duuuh…

PNS dan Budaya Colak Colek

2

Category : tentang Opini

Rupanya lumayan banyak pengalaman yang aku dapatkan sejak ngantor tetap di pemerintahan, mulai persaingan gak sehat, no technology (nanti aku bikin ceritanya), mbolos sampe colak colek. Nah yang terakhir ini bakal aku ceritakan pada kalian wahai orang-orang yang memiliki niat jadi PNS. Huahahaha… Awalnya sampe di ruangan yang bejibun orang, kepala penuh dengan pertanyaan, bisa gak aku nyatu ma orang-orang disini ya ?
3 bulan pertama langsung shock, karena selama 3 tahun kerja di Swasta, yang namanya ngobrol pas jam kerja, jarang karena waktu dipenuhi dengan pekerjaan, kecuali kalo Bos lagi ga ada. Huehehe… Apalagi yang namanya Colak Colek,duuuh sempat malu sendiri juga ngeliatnya.

Colak colek dilakukan sebagian orang yang mungkin merasa masih haus walopun udah punya istri yang cantik manis dan menggoda hati dirumah, tapi perlu sedikit perbandingan, kalo yang laen gimana rasanya ya ?
Ato mungkin karena Istri dirumah gak secantik temen kantor, karena dulunya nikah karena terpaksa, hamil duluan gara-gara pake sistem random player, mana yang hamil, itu yang dinikahin, ternyata dapet yang jelek, maka temen kantor pun jadi sasaran. Huehehe…
Bisa juga karena latah, diledek oleh yang sudah biasa colak colek, merasa gak mau kalah, akhirnya ikutan.

Sampai-sampai ada istilah STMJ (Somah Timpal Mula Jaen – istri temen memang enak).

Sedangkan aku sendiri, seperti biasa yang dikatakan temen sebaya di lingkungan rumah, aku munafik banget jadi orang.
Tapi itu semua ada alasannya kok. Simpel. Aku gak pengen Istri yang aku dapetin susah payah, diperlakukan gak sewajarnya ato dilecehkan apalagi dihadapan orang banyak, so aku percaya pada KarmaPhala, jadi aku lebih milih diem aja deeeh…

PNS Bisa Mbolos Juga Loh…

Category : tentang Opini

Sudah menjadi rahasia umum, kalo oknum-oknum PNS di instansi Pemerintahan Kabupaten Badung sampai hari ini terkenal dengan Budaya Mbolosnya. Terutama di Dinas-dinas yang berada di luar jangkauan Pusat (Sekretariat Sempidi). Di Bina Marga, tempatku ngantor 2 tahun ini, bener-bener deh, yang namanya Budaya Mbolos kabarnya sudah turun temurun sedari aku belum masuk anggota. Huehehe…

Awalnya memang aku gak terpengaruh ma Budaya ini, lantaran ada yang diincer waktu itu, dan syukur sekarang sudah jadi Istriku… Namun yang namanya Budaya, harus ikut arus juga, huehehe…

Akhirnya setelah Istri sekarang mutasi ke Dinas Sosial, waktu pun berjalan sangat lambat dan siang hari after lunch pun bikin suasana hati males untuk balik lagi ngantor, lebih milih di rumah, toh gak ada yang bisa dikerjakan…
Kecuali sidak tentunya, huehehe…

Tapi aku gak sendiri, di kantor masih banyak pegawai yang kesehariannya gak ada yang bisa dikerjakan, atau malah gak bisa ngerjain apa-apa ? Sangking buanyaknya jumlah pegawai, sedangkan fasilitas yang tersedia sangat berkecukupan, maka ada beberapa orang yang sifatnya Nomaden, pindah dari satu meja ke meja lain yang kosong, karena penghuninya belum datang.

Ada juga yang rajin nongol, namun malah asyik maen gim sedari pagi hingga pulang kantor, contohnya aku. Huehehe…
Inget absen tok deh.

Hasilnya bukan kemajuan yang aku alami, namun kemunduran kemampuan, atau bahkan pesimistis akan masa depan, yang mungkin setahun lalu masih cerah, sekarang udah nyaris setengah lilin.

Dulu sih kabarnya yang males ntu yang berstatus Harian, mungkin karena masa depannya gak jelas kapan diangkat, tapi sekarang, malah yang sudah diangkat jadi adem ayem, kenapa ya ?

Di Bina Marga saat ini boleh dibilang, kembali ke abad lampau, huehehe… karena jam 7.30 pas kantor laen udah pada apel pagi, eh disini malah yang dateng bisa diitung jari, baru klop kalo jam menunjukkan 8 lewat. Itupun apel pagi cuman hari Senin tok.

Jam 11 siang adalah jam pulang paling awal bagi yang gak punya kerjaan seperti aku, ato yang gak bisa kerja, huehehe… Dengan alasan makan siang, keluar kantor n gak balik lagi. Bagi yang punya sampingan, ya asyik ngobyek, bagi yang punya selingkuhan, mungkin nyari tempat aman, bagiku yang bukan kedua-duanya malah milih nge-blog aja di Warnet.
Duuuuhhh…

Image Pegawai Negeri Sipil

Category : tentang Opini

‘Sudah dibayar tinggi dengan uang rakyat, tapi masih sempat keluyuran pada jam dinas ke mall atau malah berselingkuh dengan teman sekantor’

Image Pegawai Negeri di akhir Juni 2004 adalah Pegawai yang…. waktu luangnya banyak, dibayar tetap tiap bulannya, dengan masa depan yang lebih terjamin daripada kerja di swasta yang tergantung pada ada bom atau enggaknya di Kuta, bisa nyambi, ngambil kerja sambilan, atau bahkan pulang lebih awal.

Image Pegawai Negeri di akhir September 2004 adalah Pegawai yang…. ngantor seenaknya sendiri, semaunya sendiri, kalo ada Undangan ke acara-acara Adat, lebih milih ikut, karena bisa bebas dari tugas dan kewajiban kantor, dan hadir paling awal, saat pembagian gaji ataupun uang rapat, konsumsi de el el, tapi langsung kabur pulang, saat uang sudah ditangan.

Image Pegawai Negeri di akhir Februari 2005 adalah Pegawai yang…. lebih memperdebatkan, kemana acara akhir tahun, berapa kira-kira besarnya uang akhir tahun, ketimbang surat-surat keluhan dari masyarakat, yang meminta pengaspalan jalan didaerahnya.Image Pegawai Negeri di akhir Juni 2004 adalah Pegawai yang….’ kalo gak ada duit, ya gak mau dikerjakan’, pengalaman buruk yang aku alami saat meminta bantuan pada orang-orang yang ditempatkan sebagai Pegawai Negeri, karena bantuan Penggede yang dulunya menguasai Pemerintahan.

Image Pegawai Negeri di akhir April 2005 adalah Pegawai yang…. penuh tantangan, apalagi kalo tergolong anak baru, tapi ditugaskan ditempat-tempat yang basah dan banyak diincar oleh Pegawai-pegawai yang lama dan mulai karatan.
Dari Helm hilang dicuri orang, padahal diparkir didepan lobby, standar motor dobel yang rusak dicongkel, sampai jok motor yang robek karena disilet…

Image Pegawai Negeri di akhir Juni 2005 adalah Pegawai yang…. serba salah, apalagi kalo tergolong anak baru, tapi sudah ditugaskan pada proyek-proyek yang angkanya mencapai hutuf M (bukan Makasi ya….). Sempat ngedamprat seorang Kepala Seksi, beradu mulut dengan Pegawai lama, atau mungkin mulai jatuh hati pada teman sekantor yang selama ini jadi idola pegawai lama…

Image Pegawai Negeri di akhir tahun 2005 adalah Pegawai yang…. ceria, karena berhasil melewati sejumlah tantangan, godaan dan akhirnya menikah dengan pujaan hati di satu atap kantor… huahahahaha…