Pasal 73 dan Absensi Sidik Jari Pemkab Badung

8

Category : tentang Opini

Suasana kawasan PusPem Badung jumat pagi lalu, mengingatkan saya pada masa sekolah dahulu. Dimana saat hari masih pagi buta, kami sudah siap berangkat liburan keluar daerah dan menciptakan keramaian yang tidak biasanya terjadi di lingkungan menuju sekolah. Demikian halnya dengan kawasan perkantoran PemKab Badung selama satu minggu terakhir.

Diterapkannya penggunaan absensi Sidik Jari (fingerprint) sejak tanggal 5 Januari 2011 lalu, merupakan pemicu utamanya. Adanya peraturan baru yang ditetapkan khusus pada hari jumat pagi, dimana absensi akan berjalan sedari pukul 5 hingga maksimum 6.30 pagi. Itu artinya, jika pegawai melakukan absen setelah waktu yang ditetapkan, maka yang namanya uang makan sebesar Rp. 20.000,- per hari, tidak akan diberikan.

Begitu pula dengan hari kerja biasa. Rasanya masih tak percaya menyaksikan kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan menuju wilayah PusPPem Badung Sempidi. Baik di pagi hari ataupun sore sekitar pukul 15.45. Padahal hingga akhir tahun lalu, jumlah kendaraan yang melintas di seputaran kawasan PusPem pada jam  yang sama, masih bisa dihitung. Tapi kini, tidak lagi.

Penerapan absensi Sidik Jari ini bukan tanpa alasan. Minimnya disiplin Pegawai Negeri Sipil PemKab Badung kerap disorot media dan masyarakat, walaupun hal yang sama juga ditemukan di daerah lainnya. Tidak ingin terus berlarut, maka per awal Januari 2011 ini, setiap pegawai dituntut profesionalismenya dalam bekerja serta tanggung jawabnya sebagai seorang abdi masyarakat. Kebijakan ini didukung pula dengan dikeluarkannya PP No. 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai.

Maka bisa ditebak. Berbagai keluhan pun muncul. Dari yang kelabakan dengan peraturan baru bahwa ‘absensi tetap berjalan di sore hari, dikeluhkan oleh mereka yang kerap pulang kerja lebih awal. Pilihannya kini ada dua. Tetap berada di kantor tanpa ada sesuatu yang bisa dikerjakan hingga waktu absensi tiba, atau pulang saat makan siang, trus balik lagi saat jam pulang. Hingga yang kebingungan dengan jadwal absensi jumat pagi, ditentukan maksimum sampai pukul 6.30. Wajib Krida. Hehehe…

Saya pribadi jujur saja menyambut baik kebijakan ini, karena memang sudah sebagai konsekuensi  dari apa yang kita pilih. Menjadi seorang PNS. Abdi negara. Abdi Masyarakat. 5 Hari kerja. Jadi mau tidak mau ya musti ikut aturan, start kerja pukul 7.30 dan pulang pukul 15.30.

Hanya saja, yang namanya PNS juga Manusia, ya selalu ada celah yang dicari untuk mangkir dari aturan baku yang ditetapkan. Apalagi kalo bukan pasal 73. :p

Pasal 73 itu kurang lebih isinya ‘datang pagi absen pukul 7 trus pulang atau kelayapan dan balik kantor absen pukul 3’. Hehehe… Soale selama seminggu kemarin, seperti juga dugaan saya jauh sebelumnya, di siang hari yang namanya pegawai bisa dikatakan gag seramai kehadirannya di pagi atau sore hari. Entah pada kemana. Kalo alasannya survey ke lapangan sih, masih bisa diterima, tapi masa sih tiap hari ? Makan siang mungkin ? hehehe…

Lihat saja di seputaran parkiran baik halaman depan ataupun basement gedung, dijamin bisa sliweran bebas pas jam 9 keatas. Sebaliknya bakalan empet setiap masuk basement kisaran pukul 3 sore. Cobain deh.

Seketat apapun aturan yang diterapkan, saya yakin gag bakalan bisa menjamin bahwa yang namanya kinerja PNS bisa meningkat. Apalagi kalo sudah sampe ngomongin soal ‘kedekatan’ atau faktor koneksi ‘siapa yang berada di belakang mereka’. Kerap  yang seharusnya mendapatkan sanksi malah berbalik mendapatkan promosi dan award berlebihan.  Well, kita lihat saja kelanjutannya.

Menanti Absensi Sidik Jari

10

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang PeKerJaan

Sudah bukan rahasia lagi kalo yang namanya Pegawai Negeri Sipil memiliki budaya kerja yang agak-agak nyeleneh ‘datang siang pulang lebih awal’. Budaya ini jelas jauh berbeda dengan budaya kerja lembaga swasta seperti yang pernah saya alami selama tiga tahun sebelum ikut terjun menjadi seorang abdi negara. Bisa jadi lantaran kepincut budaya nyeleneh itulah, menjadi salah satu alasan saya mengapa nekat ikut-ikutan mendaftar tahun 2003 lalu.

Sayangnya, budaya nyeleneh ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja tempat saya bernaung, tapi hampir diseluruh negeri ini, dari Sabang sampai Merauke. :p Baca saja media, hampir setiap hari ada saja yang mengeluhkan kinerja para abdi negara, dari yang kedapatan jalan-jalan di supermarker saat jam kerja, jarang ngantor hingga yang agak-agak bikin miris, ketangkep berada di pondok wisata yang menyediakan fasilitas short time.

Setidaknya ada dua hal yang menurut saya menjadi akar masalahnya. Pertama yaitu soal pembagian pekerjaan yang tidak merata. Memang secara diatas kertas “katanya” jumlah PNS negeri ini kurang banyak, sehingga yang namanya pelayanan publik tidak maksimal. Padahal dalam kenyataannya ‘yang rajin ngantor dan mengambil kerjaan melulu itu-itu saja’ sedang yang sudah terlanjur enak-enakan jarang ngantor dan tidak mau mengambil bagian pekerjaan ya keterusan. Kenapa bisa begitu ? terkait dengan hal yang Kedua yaitu soal ketiadaan sanksi atau hukuman yang ‘setimpal’.

Minimnya pemberlakuan sanksi atau hukuman yang seharusnya dijatuhkan pada mereka yang tidak mampu menunaikan tugasnya sebagai abdi negara lebih disebabkan oleh ‘ewuh pakewuh’ terkait ‘siapa yang berada dibelakang oknum tersebut. Hal ini berkaitan lagi dengan sistem perekrutan tenaga calon Pegawai Negeri Sipil yang tidak Profesional atau lebih mengutamakan faktor kerabat dan sejumlah uang untuk memuluskan jalan.

Blunder masalah ini tampaknya meski sudah diketahui banyak orang, namun belum mampu mengubah pola pikir kebijakan yang sudah seharusnya dipikirkan untuk dapat memberikan pelayanan publik secara maksimal pada masyarakat. Kendati demikian, satu berita bagus yang saya dengar beberapa minggu terakhir, bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Badung bakalan menerapkan sistem absensi sidik jari atau yang dikenal dengan istilah fingerprint, mulai tahun 2011 nanti. Satu harapan yang paling mudah ditebak adalah untuk meminimalisir budaya ‘datang siang pulang lebih awal’ tadi. Dengan menggunakan sistem sidik jari ini, hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada lagi istilah titip absen.

Salah satu pelayanan publik yang sudah mengadopsi sistem absensi sidik jari ini yang saya ketahui adalah Rumah Sakit Sanglah yang kabarnya kini sudah bertaraf Internasional. Sepanjang pengetahuan saya, sistem ini sangat efektif digunakan untuk memantau keberadaan tenaga kerja pada saat ia seharusnya bertugas, namun sayangnya setelah melakukan absensi sidik jari, yang bersangkutan masih memiliki kemungkinan untuk pulang dan menghilang dari kantor karena tidak ada sistem absensi pada jam pulang. Apa bedanya ya ? :p

Untuk dapat menggunakan sistem absensi sidik jari ini dengan baik, sudah barang tentu akan memerlukan banyak faktor pendukung lainnya yang tidak kalah pentingnya. Sistem yang terkomputerisasi biasanya memerlukan aktor atau sumber daya manusia yang minimal mampu mengoperasikan dan memantau apakah sistem sudah berjalan dengan baik. Selain itu tentu saja, mampu untuk melakukan pemeriksaan dan maintenance ringan secara berkala agar sistem tetap dapat berjalan sebagaimana fungsinya. Yang tak kalah penting adalah pemantau jaringan sistem untuk mengetahui adanya sabotase terhadap alat baik yang dilakukan secara fisik maupun secara jaringan. Hal-hal inilah yang patut menjadi pemikiran selanjutnya apabila sistem absensi sidik jari jadi diterapkan. Jangan sampai, absensinya sudah menggunakan teknologi canggih, namun tidak ada sumber daya yang mampu menggunakan, memantau dan memelihara.

Kembali pada dua hal yang tadi saya katakan sebagai akar masalah, selama kedua hal tersebut belum diterapkan secara profesional dan secara sadar, barangkali sistem absensi dengan cara apapun yang nantinya diterapkan saya rasa bakalan mubazir. Tapi ya, kita lihat saja nanti. :p

Bolos yuk Pak Dewan ?

4

Category : tentang Opini

“…Mau tau gak mafia di senayan.. kerjanya tukang buat peraturan.. bikin UUD.. ujung2nya duit..” penggalan Gossip Jalanan milik SLank yang tempo hari sempat memantik amarah para anggota Dewan kita yang terhormat itu agaknya masih relevan untuk didendangkan kembali oleh seluruh rakyat Indonesia seminggu terakhir ini. Apalagi kalo bukan menyoal kelakuan para wakil rakyat yang ketahuan mbolos sidang berkali-kali.

Bolos ternyata bukan hanya ‘milik’ anak sekolahan saja, punya kedudukan penting sebagai anggota dewan juga bukan jaminan para wakil rakyat mampu menunjukkan sikap disiplin. Begitu berita yang dikabarkan ViVanews Selasa 27 Juli kemarin. Harus ada tekanan seperti sanksi, teguran atau hukuman yang diberikan seperti halnya siswa sekolahan atau karyawan kantor ketika sang oknum mangkir dari tugasnya, kata media yang lain. Malah ada juga yang kemudian menganjurkan pemotongan gaji bulanan dan tunjangan atau bahkan absensi sidik jari yang diperkirakan mampu memperkecil kemungkinan aksi mbolos rame-rame ini.

Antisipasi pertama yang dilakukan untuk menanggapi aksi ini tentu saja mengumumkan siapa-siapa saja yang masuk dalam kategori pembolos tingkat wahid di kalangan wakil rakyat ini. Hasilnya cukup mencengangkan. Rata-rata oknum yang masuk daftar tersebut berusaha membela diri dengan segudang alasan pembenaran.

Ngomongin soal aksi mbolos, sebetulnya para anggota dewan kita yang terhormat itu gak jauh beda kok dengan aksi mbolos yang dilakukan puluhan oknum pegawai negeri sipil. Bahkan dari segi alasan serta kuantitas mbolos, para pegawai ini jauh lebih kreatif loh. Hehehe…

Bisa jadi uenaknya aksi mbolos ini lantaran ancaman sanksi yang dijatuhkan tidak berat-berat banget mengingat ada kuota (baca:batas waktu maksimal) yang diberikan untuk melakukan aksi bolos sebelum menjatuhkan putusan. Kalo ndak salah sebulan mbolos ya ? atau malah tiga bulan ? hehehe… lupa tuh.

Seorang teman berpendapat, adanya kelonggaran kuota ini malahan membuka peluang oknum untuk mbolos jauh lebih sering. Tinggal ngantor begitu kuota yang diberikan nyaris berakhir. Seyogyanya ya sanksi gak jadi dijatuhkan mengingat syarat sanksi yang mengatur aksi mbolos dilakukan secara berturut-turut.

Andai saja, ini andai loh ya. Andai para wakil rakyat itu (termasuk pegawai negeri sipil) diberikan ancaman seperti halnya yang diberlakukan untuk para anak sekolahan atau karyawan kantoran, dimana absen tanpa keterangan dua hari saja, langsung kena teguran. Kalo berlanjut sampe seminggu, yang namanya nilai kedisiplinan (bagi anak sekolah) atau gaji ya dipotong sesuai jumlah absen.

Sayangnya wacana pemotongan gaji ini ditolak mentah-mentah oleh beberapa anggota dewan. Begitu pula dengan saran untuk menggunakan absensi sidik jari. Itu pelecehan katanya. “Jangan hanya kami yang dipermasalahkan hanya karena tidak absen. Anggota DPR itu bukan pegawai kantoran yang masuk jam 08.00 pulang jam 16.00 sore.” Kata Mbak Puan Maharani (ViVanews 29 Juli). “(bisa jadi) anggota dewan juga mempunyai tugas-tugas kepartaian yang menuntut mereka berada di lapangan (luar gedung DPR),” tambahnya. Waaahh… memang sulit ya ternyata ?

Kalo sudah ngomongin soal “tugas-tugas yang menuntut keberadaan di lapangan” saya pikir sepertinya ada juga yang berlaku dikalangan pegawai negeri sipil yang kebetulan ditunjuk sebagai pengawas kegiatan atau pengamat jalan misalnya. Begitu pula dengan pendapat “tidak harus datang jam 08.00 dan pulang jam 16.00”, karena bisa jadi ada aktifitas-aktifitas yang menuntut kondisi tertentu misalnya baru dimulai pada pukul 21.00. Pengaspalan jalan menunggu penurunan tingkat keramaian lalu lintas. Bahkan bisa jadi inspeksi dadakan ke satu wilayah banjir di pagi buta, masa’harus balik kantor buat ngabsen trus kembali lagi ke lokasi banjir ? begitu misalnya. Iya sih, ada benarnya juga.

Mumpung dibenarkan, yah ada juga loh yang kemudian beraksi mbolos dengan menggunakan alasan-alasan tadi. Nah trus gimana dong ?

Ealah, kok malah ngelantur kemana-mana ? ketimbang mikir ruwet saya pilih ikutan aja lah… “Bolos yuk Pak Dewan ?”

Menjadi Gayus Tambunan atau Oemar Bakrie ?

6

Category : tentang DiRi SenDiri

Sempat terdiam ketika membaca rincian kekayaan Gayus Tambunan seorang Pegawai Negeri Sipil berusia 30-an tahun yang ditangkap lantaran terlibat dalam kasus Mafia Pajak disebuah media cetak nasional. Bagaimana tidak ? untuk seorang abdi negara yang baru saja terjun (kalo tidak salah tahun 2000-an awal), Gayus sudah mendapatkan gaji sekitar 12 juta perbulannya dengan golongan III/a pula. Yang makin mencengangkan adalah jumlah kekayaannya yang mencapai angka 25 Milyar salah satunya berupa rumah mewah seharga 3 Milyar. Saya benar-benar takjub.

Meski demikian masih sempat tersenyum getir ketika teringat pada sebuah tembang lama milik Iwan Fals, idola saya sejak kecil, yang mengisahkan tentang seorang Pegawai Negeri Sipil yang idealis, dengan bentuk kesederhanaan tunggangan sepeda kumbangnya, mengajar siswa hingga memiliki kepintaran bak seorang Habiebie, Oemar Bakrie. Pahlawan Tanpa Tanda Jasa mendapatkan gaji yang dikebiri. Entah bagaimana kini.

Bagaimana pun juga saya pribadi tak beda dengan dua sosok diatas, sama-sama seorang Pegawai Negeri Sipil, seorang abdi negara yang (seharusnya) mampu dengan cepat dan tangkas melayani kebutuhan masyarakat. Sayangnya diusia yang kini sudah menginjak 32 tahun, jangankan membeli rumah secara tunai, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pasca sarjana saja saya musti berhutang pada sebuah Bank daerah yang masih harus dilunasi cicilannya selama 2 (dua) tahun kedepan. Jujur saja, sempat pula saya berandai-andai jika diberi ‘keberuntungan’ macam Gayus Tambunan oleh Yang Maha Kuasa.

Menjadi seorang Gayus Tambunan yang bergelimang harta bagi seorang Pegawai Negeri Sipil sesungguhnya bisa dikatakan gampang, itu berlaku bagi mereka yang pintar melihat ‘peluang’. Entah peluang untuk nyambi kerjaan diluar profesi atau peluang untuk bersekongkol menimbun harta kepentingan pribadi… dan bahwa apa yang diperbuat oleh Gayus adalah wajar, mencerminkan keberadaan oknum di negeri ini yang berusaha mendapatkan status Pegawai Negeri Sipil dengan mengorbankan sejumlah uang sehingga wajib untuk mencari usaha pengembalian dananya.

Menjadi seorang Oemar Bakrie yang tidak gampang, diperlukan nurani yang sekeras baja ketika menghadapi godaan atau diperlukan perasaan yang kukuh bagai batu padas ketika berhadapan dengan masalah, entah masalah dengan atasan (yang tidak sejalan) atau masalah dengan lingkungan. Potret seorang Oemar Bakrie ini bisa dikatakan sudah sangat jarang ada di negeri ini. Tidak juga dengan saya yang pada akhirnya lebih memilih berada ditengah-tengah.

Kenapa ditengah-tengah ?

Karena untuk menjadi seorang Oemar Bakrie yang idealis di lingkungan abdi negara sangatlah sulit, bisa jadi idealisme itu ketika bebenturan dengan satu dua kepentingan yang lebih tinggi secara otomatis tenggelam dan cenderung menyia-nyiakan semua usaha yang telah dirintis sedari bawah. Demikian pula untuk menjadi seorang Gayus Tambunan dibutuhkan ‘keberanian’ untuk bermuka dua, menjilat atasan dan sekaligus tampak tak bersalah dihadapan publik tanpa mengubah kecepatan denyut jantung. Stay cool…

Jujur saja, saya pernah untuk mencoba sekali-kali menjadi seorang Gayus Tambunan, dalam skala kecil dan terhadap seorang rekan kerja. Hasilnya sangat tidak mengenakkan, ketika saya berusaha untuk membohongi hati nurani, denyut jantung mulai berdetak lebih cepat dari biasanya (karena khawatir ketahuan) dan ada perasaan tidak nyaman ketika bersua rekan kerja tersebut.

Demikian pula ketika saya mencoba untuk menjadi seorang Oemar Bakrie, seperti berhadapan dengan tembok yang tinggi tanpa ada yang memberikan saran atau pembelaan lantaran satu dua kepentingan yang tidak dapat dibantah, pada akhirnya semua itu terlewatkan begitu saja. Kecewa ? jelas.

Langkah untuk tetap berada ditengah-tengah atau istilah ‘ikut arus namun tetap menjaga jarak’ tampaknya lebih suka saya ambil untuk mengambil sebuah keputusan saat ini. Karena bagaimanapun juga berada ditengah-tengah cukup membuat saya nyaman untuk berpikir, bekerja dan bertindak jika satu saat terjadi hal-hal diluar dugaan.

Tidak menjadi seorang Gayus Tambunan yang sudah bergelimang harta di-usia muda, Tidak juga menjadi seorang Oemar Bakrie yang idealis.

Bagaimana dengan Anda ?

Jadi PNS itu Serba Salah

32

Category : tentang DiRi SenDiri

…minat masyarakat untuk mengadu peruntungan pada test CPNS masih tinggi… kurang lebih begitu isi berita di media cetak beberapa saat lalu. Tidak salah apabila banyak masyarakat saling berebut mengadu nasib untuk bisa lolos menjadi seorang PNS atau Pegawai Negeri Sipil, karena image yang sudah kadung terbentuk selama ini cenderung “menguntungkan”.

Coba pikir, dengan kinerja yang dikenal kurang memuaskan berbagai pihak yang namanya penghasilan tetap didapatkan untuk setiap bulannya. Besarnya boleh dikatakan cukup apabila disandingkan dengan penghasilan masyarakat kebanyakan yang rata-rata masih berada dibawah garis kemiskinan. Sebaliknya jika disandingkan dengan swasta dalam hal ini perhotelan, bank dan lainnya, malah sangat jauh dibawah. Satu-satunya nilai lebih adalah ‘dimana lagi tempat kerja yang bisa mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya kendati yang namanya kinerja atau absen bolehlah dinomorduakan. Coba bandingkan kalo dengan perilaku sama Anda bekerja dalam sebuah perusahaan ternama.

Meski demikian, jangan anggap enteng loh PNS itu. Karena bagi sebagian kecil dari mereka terkadang ‘terlanjur’ menjadi seorang PNS ternyata bisa jadi malah ‘serba salah’. Saya berikan sedikit ilustrasinya.

PNS

Terkait jam kerja misalnya. Apabila seorang PNS kedapatan berada diluar kantor pada jam kerja, apalagi terlihat sedang menjemput putra/putrinya disebuah sekolah atau kelayapan disebuah pusat perbelanjaan, secara otomatis bakalan memicu sebuah pertanyaan atau bahkan langsung naik cetak di media, lengkap dengan fotonya. Dari sudut pandang pribadi, berhubung dalam budaya PNS itu tidak terdapat jam khusus seperti halnya swasta untuk istirahat makan (selama kurang lebih satu jam), maka jam tersebut dilakukan sesempatnya. Bisa jadi pasca pekerjaan selesai atau saat anak pulang sekolah. Untuk lokasi istirahat makan siang tidak harus di warteg kan ? bisa jadi dekat-dekat pusat perbelanjaan itu.

Demikian pula terkait jam masuk kantor. Secara resminya, aktifitas mulai berlangsung pukul 7.30 pagi, namun dalam kenyataannya  ada yang ngantor lebih siang (dengan alasan mengantar anak atau malah hanya ikut arus), ada juga yang barangkali merasa tidak ada hal penting dirumah memilih berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan. Apa kata publik ? bagi yang berangkat agak siang saya rasa semua tahu apa terpikirkan, tapi lucunya selentingan miring juga berlaku bagi yang berangkat pagi. Bisa jadi malah dicurigai mampir dulu buat SII (Selingkuh Itu Indah), bisa juga agar dapat waktu untuk baca koran, main games dsb. Hehehe… ini pengalaman Pribadi loh ya.

Terkait jam pulang, resminya sih sekitar 3.30 sore namun dalam prakteknya rata-rata oknum PNS sudah pada rame berada dijalanan sekitar pukul 2 atau 2.30. Huahahaha… lagi-lagi pengalaman pribadi. Apa kata publik ? ‘Wah, kalo begini bisa rugi Negara membayar gaji kamu kalo pulangnya lebih awal…’ Sebaliknya ketika ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan lantaran satu tuntutan tertentu yang mengakibatkan lembur, publik malah berkata ‘Apa saja kerjaan yang kamu ambil sedari pagi sampe-sampe musti lembur segala ?’ Waaaahhh… ‘dikira main Game apa ?’ Hehehe…

Yang parah, ketika kami harus menengok seorang teman di sebuah Rumah Sakit disatu siang, kuping ini makin merah ketika beberapa orang kedapatan ngomong ‘tuh lihat, jam segini PNS sudah jalan-jalan, bagaimana negara mau maju ?’ Huehehehe… ‘jalan-jalan ? emangnya lagi di Bedugul ?’ bathin kami.

Jauh lebih parah lagi ketika akibat lembur kerja beberapa rekan akhirnya pulang malam, sempat mampir dulu kesebuah mini market setelah dihubungi sang anak yang minta dibelikan kue. Apa kata orang ? ‘ni PNS keluyuran ja kerjanya, main kemana aja dari tadi sih Pak ?’ Huahahaha… Untung si Teman gak’balik memaki orang tersebut.

Lain lagi dengan cerita ‘Amplop’. Sudah lumrah diketahui publik kalo oknum PNS itu sangat menyukai yang namanya ‘Amplop’, kecuali yang kosong. Hehehe… Tapi kebanyakan ‘amplop’ itu bakalan bersliweran ketika satu dua pihak mulai ada maunya. ‘Amplop’ itu digunakan untuk memperlancar urusan yang terkadang bisa dihambat oleh ulah oknum, bisa pula karena apa yang diharapkan melanggar peraturan yang berlaku. Apa kata publik ketika ‘Amplop ini diterima ? ‘Selipkan ‘amplop’ maka semua urusan ‘Beres….’ Ungkapan ini makin membuat terpuruknya image yang sudah terlanjur jelek. Tapi Apa kata publik ketika ‘Amplop ini ditolak ? ‘Bah, Kamu kok disodorkan uang malah gak mau nerima ? Nolak Rejeki tuh…’

Ohya, pernah memergoki PNS main Games ? saya yakin sering. Tapi pernah gak terpikirkan bahwa mereka itu bermain games (yang memang sengaja diisi dalam setiap PC) setelah semua pekerjaan telah selesai dikerjakan, sembari menunggu jam pulang ketimbang pulang lebih awal mendahului ? Pernah pula terpikirkan bahwa jauh lebih baik melewatkan waktu luang dengan bermain Games ketimbang nyari kamar short time ? Tidak jauh beda dengan ‘seorang PNS yang asyik nge-BLoG atau nge-FaceBook dipojokan bukan ? Huahahaha…

Sorry bagi yang kurang berkenan, ini hanyalah satu pembenaran dari sudut pandang kami saja, para PNS yang kurang kerjaan. Huehehehe…

Apa sih pekerjaan PNS itu sebenarnya ?

20

Category : tentang Opini

Lagi-lagi PNS, entah sudah berapa kali BLoG ini menulis tentang satu sosok yang begitu didewakan oleh sebagian besar masyarakat negeri ini hingga rela berdesak-desakan ketika bukaan lowongan itu dibuka. Bahkan boleh dikatakan rasio kemungkinan untuk memperoleh peluang itu bisa sampai 1:10, tapi tetap saja setiap tahunnya peminat makin membludak.

Secara pribadi fenomena kayak gini sebenarnya masih bisa dimaklumi kok. Profesi apa sih di negeri ini yang paling diperhatikan oleh Pemerintah diluar PNS ? Buruh ? petani ? nelayan ? tukang jaga toko ? ato…. pengusaha ? Profesi apa yang gajinya bisa naik setiap tahunnya secara berkala walopun yang namanya tunjangan dan tetek bengek lainnya bisa dikatakan naik juga. Bila dibandingkan dengan gaji seorang CEO saya yakin gaji seorang pejabat berstatus PNS itu bukan apa-apa. Tapi seandainya dibandingkan dalam hal absen, profesi mana yang tetap menerima gajinya setiap bulan kendati gak ngantor selama sebulan penuh ?

Apalagi yang namanya peraturan begitu longgar. Kalo gak salah terakhir ada perubahan aturan lagi berkaitan dengan Pemecatan seorang PNS bahwa seorang PNS baru dapat dipecat apabila tidak masuk kantor selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan. Coba bayangkan kalo seandainya seorang oknum yang hanya masuk kantor pas tanggal muda untuk ambil gaji saja, secara peraturan tentu tidak dapat dipecat namun bagaimana dengan tuntutan kinerjanya ?

Tapi ngomong-ngomong… Apa sih pekerjaan dari PNS itu sebenarnya ?

Secara teori kalo sudah menyinggung soal pekerjaan ya minimal seorang PNS itu mampu menjalankan kewajiban-kewajibannya terkait tugas dalam jabatan, dan terkait kedudukannya sebagai unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat. Seorang PNS diharapkan selalu bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara. Selengkapnya main aja ke Situs Informasi Pengolahan Data Kepegawaian ya. Hihihi…

Namun bagaimana dalam kenyataannya ? hehehe… saya yakin ada beragam pendapat tentang ini yang datang dari mereka yang secara kebetulan memergoki oknum-oknum berstatus PNS baik diruangan kantor, dilingkungan kantor hingga diluaran kantor. Kalopun saya sebutkan rasanya tidak akan ada habisnya. He…

Dari yang hanya duduk-duduk baca koran seharian, main games, kongkow bareng rekannya atau malah keluyuran di Supermarket. Waaaahhh… kalo sudah begini jelas saja kalo sebagian besar masyarakat kita pada ngiler pengen jadi PNS. Gak peduli harus nyogok atw menyerahkan sejumlah uang kepada sang calo.

Tapi ingat, gak semua PNS kayak gitu. Masih ada kok yang berusaha berdedikasi dalam bidang dan pekerjaannya. Masih ada yang mau bekerja secara jujur, tertib, cermat dan bersemangat setiap harinya, bahkan hari liburpun mereka siap untuk lembur. Yakin deh…

Hanya saja sayangnya mereka itu gak terekspose ke media massa. Blom pernah kan ada sebuah kegiatan yang memberikan penghargaan kepada mereka yang berdedikasi dalam pekerjaannya ? paling-paling penghargaan setelah masa pengabdian 10 tahun keatas, dan itupun setahu saya diberikan sama rata, entah yang bersangkutan jarang ngantor atau tidak kalo masa pengabdian dah layak untuk dapat penghargaan ya pasti dapat.

Sayangnya lagi rata-rata mereka yang sudah berusaha untuk selalu berada pada rel-nya malah tidak dihargai oleh lingkungannya. Lantaran kebanyakan yang dijadikan ukuran satu keberhasilan adalah Materi. Begitu seseorang bisa punya mobil mewah, gak peduli status sang PNS masih berada pada tingkat Staf, orang cenderung bangga dan hormat padanya. Padahal dengan gaji plus tetek bengek penghasilan yang didapat, secara akal sehat apakah hal kayak gitu logis diterima ? Tapi yah, itulah tuntutan lingkungan. Demi Gengsi seorang PNS yang diharapkan selalu jujur, tertib, cermat dan bersemangat pun mampu menjadi sosok lain.

Mungkin itu sebabnya ada yang dahulunya begitu berdedikasi kini malah keseringan menggerutu ketika sebuah pekerjaan dilimpahkan padanya. ”Semua Ini kan pekerjaan Konsultan (Rekanan) ? Bukan kita ?”

“Lah terus ? Kalo itu bukan pekerjaan kita, Gaji bulanan itu dibayar untuk apa dong ?”

PanDe Baik menyayangkan aksi Buaya pongah menginjak cicak

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Satu bulan terakhir media cetak maupun televisi tak ketinggalan dunia maya dipenuhi cerita heroik perlawanan cicak melawan buaya, satu perumpamaan yang dicetuskan oleh seorang petinggi negeri ini ketika merasa posisinya tersudutkan (atas dasar  tindakan penyadapan telepon si buaya) oleh anak didiknya sendiri dalam hal ini adalah si cicak.  Saya pribadi memang tidak terlalu mengikuti alur cerita yang dilakoni hingga lembaga dimana si petinggi yang mengatakan diri mereka adalah buaya telah menetapkan orang-orang yang berada di pihak cicak sebagai tersangka atas tindakannya yang menyalahi wewenang. Hmm… saya kok sepertinya mencium satu ketidakberesan dari keputusan itu…

Sebagai seorang oknum Pegawai Negeri Sipil yang kerap dicurigai oleh masyarakat sekitar, jangankan melongok pada lembaga sekelas dan sebesar itu… di kelas saya sebagai staf saja perseteruan dan konflik seperti diatas kerap terjadi kok. Yah, tulisan saya kali ini cukup sebagai perumpamaan sajalah.

Dalam skala besar, cicak dan buaya adalah dua pihak yang memiliki kewenangan berbeda berupaya saling mengontrol namun satu tujuan berada dalam satu payung negara. Dalam skala kecil bisa saya gambarkan bahwa ada dua peran yang berbeda pula dalam melakukan pemeriksaan hasil kemajuan pekerjaan fisik pada satu payung dinas atau instansi, berdasarkan kebijakan terakhir. Satunya bernama Tim Penilai atau Pengendali, satunya lagi Direksi teknis selaku pengawas Kegiatan secara langsung.

Konflik antara dua peran tersebut seharusnya tidak terjadi berhubung masih berada dalam satu payung kedinasan dan memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan pekerjaan fisik yang berkualitas. Sayangnya tidak semua oknum yang terlibat didalamnya memiliki visi dan misi yang sama untuk mewujudkan tujuan yang saya katakan tadi.

Katakanlah jika oknum tersebut berada di pihak Tim Penilai atau Pengendali, merasa dirinya memiliki wewenang dalam mengambil keputusan apakah kemajuan satu pekerjaan fisik bisa diterima atau tidak untuk ditindaklanjuti ketahap pembayaran, si oknum lantas memanfaatkan atau menyalahgunakan wewenang yang ia miliki untuk meminta sejumlah materi kepada Rekanan jika tidak ingin dihambat.

Berangkat dari tudingan diatas yang kerap diarahkan pada seluruh anggota Tim Penilai atau Pengendali, saya sebagai salah satunya merasa tidak keberatan apabila telepon yang kami gunakan disadap oleh lembaga lain (dan baru belakangan diketahui) untuk membuktikan apakah tudingan tersebut benar atau tidak. Mengapa ? Jika saya merasa bahwa saya memang tidak pernah melakukan satu hal yang menyimpang dari wewenang, mengapa harus takut dan marah ? Justru momen seperti ini akan saya gunakan untuk membuktikan apakah saya merupakan salah satu oknum yang menyalahgunakan wewenang yang diberikan atau tidak.

Sayangnya ya lagi-lagi gak semua oknum memiliki pemikiran yang sama, ada juga yang marah-marah dan balik menuding yang bukan-bukan kearah pihak lain hanya untuk sekedar mengatakan kepada publik ‘saya ini bersih loh…

Tinggallah kini publik yang kebingungan… bagaimana mungkin negeri ini akan terbebas dari korupsi jika para petingginya (yang berwenang untuk itu) masih saling menjatuhkan satu sama lain dan melepas ‘tersangka’ yang sebenarnya…

Gaji PNS Naik 15%

9

Category : tentang PeKerJaan

Kira-kira begitu ‘Headline News’ yang saya dengar awal April ini.

Satu berita yang menggembirakan bagi saya pribadi. Menggembirakan karena dari sisa gaji yang saya terima selama hampir dua tahun ini, bisa dikatakan sangat-sangat tipis kemungkinannya untuk bisa meningkatkan taraf hidup keluarga.

Maklum, dari sejumlah gaji yang seharusnya saya terima untuk setiap bulannya, harus dipotong sepertiganya untuk membayar cicilan tiap bulan atas pinjaman uang sebesar 20 Juta di Bank Pembangunan Daerah. Uang ini saya pinjam sekitar pertengahan tahun 2007 lalu, untuk membiayai kuliah lanjutan saya di tingkat Pasca Sarjana…

Dalam perjalanannya ternyata harus dibagi pula dengan biaya persalinan, upacara untuk putri kami dan biaya Rumah Sakit saat Istri terkena Demam Berdarah setahun lalu. Bisa ditebak, uang pinjaman ini tak cukup lagi untuk membayar SPP perkuliahan saya…

Bila boleh dibagi ceritanya, sisa dua pertiga gaji yang saya terima, musti dibagi lagi untuk biaya air, listrik dan telepon, biaya Dapur (patungan dengan Istri), Asuransi untuk sekolah putri kami kelak, koneksi internet (untuk menyalurkan penat dan hobi), serta sedikit simpanan berupa Arisan keluarga dan tabungan berjangka, yang saya jatah jatuh tempo dalam waktu satu tahun.

Hasil akhir inilah yang kemudian akan dibagi lagi untuk keperluan sehari-hari, terutama putri kami. Susu, bubur, pampers dan hal-hal yang datangnya diluar rencana, seperti sakit dan berobat serta menyame-beraye (kehidupan sosial masyarakat).

Bersyukur sekali dalam setap bulannya, PNS dijatah lagi dengan uang makan yang disebut dengan Insentif yang jumlahnya kurang lebih sepertiga gaji… Dari uang inilah saya dan Istri baru bisa merasakan indahnya hidup berumah tangga. Sekedar untuk jalan-jalan bareng si kecil atau bahkan terkadang bareng dengan kakek neneknya. Tentu saja jalan-jalan model begini memerlukan tambahan uang extra untuk makan bareng minimal dua kali setiap bulannya…

Maka ‘Headline News’ diatas boleh dikatakan sangatlah berarti bagi saya pribadi, walaupun jumlahnya tak seberapa dibandingkan gaji pekerjaan swasta kini. Tapi minimal, jikapun seorang PNS itu ingin bermalas-malasan, tidak ngantor selama sebulan, yang namanya gaji ya tetap penuh diterima. Mungkin hanya itu kelebihannya dibanding kerja swasta. He….

> PanDe Baik memohon maaf jika ada yang kurang berkenan dalam tulisan diatas, mungkin menyinggung perasaan mereka yang terkena PHK dsb. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri, tapi hanya sekedar berbagi. Bahwa tak selamanya jadi profesi sebagai PNS itu adalah kenikmatan tingkat tinggi seperti yang diagung-agungkan sebagian besar orang… <

Dengan sedikit gambaran tentang gaji seorang Pegawai Negeri Sipil diatas, bolehkan jika kita berhitung, apakah masuk akal apabila dalam jangka pendek, seorang oknum mampu membeli sebuah mobil baru atau motor baru hanya dengan mengandalkan gaji mereka ? He… silahkan menebak, kira-kira dari mana asal uang untuk segala hal tersebut…

Jadi Pegawai Negeri itu Gampang ? Tergantung…

Category : tentang KeseHaRian, tentang PeKerJaan

Rasa-rasanya kalo isi blog udah beralih pada topik Pegawai Negeri Sipil, banyakan ngungkap hal-hal yang negatif dari keseharian dan tingkah laku sang pengabdi bangsa ini. Tapi sekarang, penulis pengen cerita dikit tentang situasi kerja seorang pegawai negeri sipil, satu profesi yang sering menjadi dambaan banyak insan di negeri ini, lantaran bisa jadi satu parameter kesuksesan hidup, gak peduli masih berstatus harian ataupun gaji pokok yang dibawah angka sejuta.

Banyak yang beranggapan kalo sudah jadi pegawai negeri itu kerjanya gampang. Tinggal ngantor, neken absen trus terima gaji. Kalo menurut gambaran penulis secara umum diseantero negeri ini ya memang begitu, plus amplop terselubung setiap proyek berjalan tentunya.

Tapi seperti judul yang penulis tampilkan diatas, gak semua kok kayak gitu. Ya tergantung orangnya, tergantung dimana ia ditempatkan dan tugas kewajibannya, juga tergantung tujuan akhir yang ingin dicapai oleh pegawai tersebut. Namun ya tetap saja tak banyak kok yang seperti itu. Diangkat menjadi pegawai negeri sipil dengan kemampuan dibidang Teknis serta ditempatkan pada urusan yang berkaitan dengan jalan raya, menjadi salah satu faktor tergantung diatas tadi.

Dengan tugas dan kewajiban yang bersentuhan langsung dengan kondisi lapangan tentu berbeda dengan mereka yang bekerja dibalik meja. Harus siap dengan segala resiko yang terjadi di lapangan serta persiapan stamina itu sangat penting, tentu tak akan baik bagi mereka yang terbiasa bekerja dalam ruang ber-AC dan mengerjakan sesuatu sesuai urutan kerja dan perintah.

Salah satu contoh konkritnya ya seperti kegiatan survey ruas jalan terakhir, dimana penulis dan salah satu rekan kantor harus siap dengan cuaca yang akhir-akhir ini berubah mendung dan hujan gerimis padahal saat berangkat dari kantor menuju lokasi, suasana masih terang benderang. Syukur kalo dapet mobil dinas buat jalan, tapi kalo gak ? ya artinya motor pribadipun harus siap sedia berangkat demi tugas terselesaikan.

pkerja-jalan.jpg

Masih blom cukup, untuk satu kegiatan survey jalan raya, gak cukup hanya melihat secara visual trus dicatat dan beres. Tapi harus turun langsung berjalan kaki, mengukur pada titik mana terdapat kerusakan, parameter dan tindakan apa yang harus diambil untuk memperbaiki kerusakan itu. Apabila panjang jalan cuman satu kiloan sih masih mending, tapi kalo empat sampe lima kiloan ? bisa dibayangkan betapa terik matahari, tugas tetap dijalankan, tentu harus disupport dengan minum yang banyak.

Masalahnya, gak selamanya kegiatan survey itu mampu dibekali dengan cukup uang untuk transportasi plus uang makan. Jadi bersyukurlah bagi mereka yang keluar survey selalu mendapatkan motor/mobil dinas, kupon bensin plus uang makan untuk tim. Kalo enggak, maka uang yang dipake untuk semua itu ya asalnya dari dompet masing-masing. Terbayang kan kalo seumpama dalam sebulan ntu kegiatan harus dilakukan lima sampe sepuluh kali ? Duit gaji bisa tekor tuh.

Akan sangat berbeda bagi mereka yang bekerja dibelakang meja, dalam ruangan ber-AC pula. Nyaman dan bisa santai kapanpun mereka mau. Apalagi kalo kerjaannya cuman kunker dan studi banding

Gaji ke-13 ? why not ?

3

Category : tentang Opini

10 Juni 2008 ; 14.30 siang…

gaji-13-1.jpg

‘wih, tomben jam mone kantor nu bek penghunine… > ‘biase nto, nak ngantosang gaji ke-13 dumange…

‘ye, kaden nak mare neken ? > ‘nak sube palsuange busan malu apang enggalang nyidang pesu…

‘men, ane tekenanne mepalsu nawang ?’ > ‘ne penting yen batek neken, sing kenken malsuang tandatangan. Disubane pipis pesu mare ye ane ngelahang apang nyemak langsung, tusing dadi ngewakilang…

‘be positip jani kel maan ?’ > ‘keto je dingeh san, anak ane ngurusang sube berangkat ke BPD Kuta, nyemak pipis uli semengan…

‘beh, pantesan be pegawene anteng kanti jam mone nu ngoyong di kantor… > ‘nah maklum na’. buin mani anak makejang merainan Pagerwesi. Apang ade beliange buah lan jaje anggon banten…’

‘men, ane nyemak pis sube teke ne ceritane ?’ > ‘tonden, kwale yen payu medum jani, jeg kanti lime sanje bani keantosang…

‘wake ngadenang mulih be malu, apang nyidang ngempu Putu… > ‘nah sua kemis be…

* * * * *

12 Juni 2008 ; 07.55 pagi

-klingang klingeng ngajak pak atasan-

gaji-13-2.jpg

‘dadi sampun jam amuniki dereng wenten timpale rawuh, Pak ?’ > ‘men biasane ken-ken ?’

‘jam mone biasane anak sampun wenten beberapa ne rawuh. Nanging mulai mekarye ne ya jam 9 wawu efektif’ > ‘yeh saje, De sube nyemak Gaji ke 13 ne ?’

‘Dereng Pak. Sampun kebagiang nggih ? > ‘Sube selasa sore, Pak kanti jam lime ngantosang mare mebagi…

‘men jinah napi manten sane medum ?’ > ‘Gaji ke-13 sekalian Insentip…

Beh sing jeg meliah Pak nerima mangkin ? kaden nak ten mepotong utang BPD yen polih Gaji ke-13 Pak ? > ‘jeg sing merase neked dije De. Meh timpale sing teke kali jani, nu bingung mikirang jumahne kel nganggon gene pipise nto.

‘beh, Pak ade-ade manten ne. Men yen saje ne timpale ten wenten ne rawuh ngantor, sire kel jagi berangkat Rapat ne malih jebos ?’ > ‘Nah, De gen sube berangkat keme wakilang jep. Orahang anak sing ade nyen di kantor. Nu menikmati Gaji ke-13 ne…

‘badah, dadi ben keto Pak ?’

Semengan Bapak’e sube nyidang Metek Pis…

1

Category : tentang KHayaLan

pipis-nyen-kaden.jpg

Tusing perlu nyemak gae kantor buin, ha ?