Merayakan Galungan dan Bangga jerih payah sendiri

Category : tentang KeseHaRian

Awalnya benar-benar ndak kepikiran dengan hasil yang begitu nyata, karena yang terlintas dibenak adalah bagaimana caranya agar rejeki yang diterima tak lantas terbuang percuma begitu saja. Minimal bisa dinikmati bersama-sama. Maka keputusan pun diambil, menyisihkan sebagian untuk membuat wastra atau penganggo sejumlah pelinggih di rumah, dan sebagian lagi memperbaiki perkerasan jalan masuk yang sepuluh tahun terakhir tampak mengenaskan.

Kini setelah semuanya selesai, tampilan rumah kami yang jauh dari kata mewah ini terlihat sedikit lebih bersih ketimbang sebelumnya. Utamanya saat perayaan Galungan yang jatuh dalam hitungan hari kedepan.

PanDe Baik wastra

PanDe Baik Paving 5

Eh, sekarang anak anak dah bisa naik sepeda sampe depan loh…

PanDe Baik Paving

Ada rasa senang saat melihatnya. Jadi makin bangga ketika teringat bahwa penggantian penganggo wastra dan juga perkerasan paving khas pekerjaan kantor tahun 2013 silam merupakan pemanfaatan rejeki hasil jerih payah sendiri. Ya, berusaha sendiri.

Bagaimana menurut kalian ?

Menikmati Hujan di Pantai Pandawa

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Mendung di langit selatan sebenarnya sudah terbayangkan sejak roda kendaraan memasuki jalur tol dipintu masuk Benoa menuju Nusa Dua, namun hasrat tetap menggebu ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri, kondisi beberapa kegiatan fisik pemavingan di kaki pulau Bali jelang akhir tahun anggaran 2013. Tarikan nafas panjang kuhirup untuk memenuhi dada dengan semangat…

Kecepatan motor 50 km/jam kulalui tanpa henti. Ini pertama kali kujelajahi jalan tol diatas perairan dengan roda dua. Satu pengalaman baru tentu saja.

Memasuki akhir perjalanan, satu dua tetes air hujan mulai membasahi jaket mengiringi keraguanku untuk melanjutkan perjalanan, ada sedikit penyesalan mengapa tak menggunakan kendaraan roda empat saja tadi. Namun keinginan sepertinya mengalahkan segalanya. Hujan yang perlahan mulai deras menyambutku di perbatasan Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan sedikit demi sedikit membasahi jaket dan celana jeans yang kupakai. Ah, memang harus membuka jas hujan bathinku pelan.

Air yang membasahi kaca helm lumayan membuat kabur pandangan sepanjang jalan yang kulalui, masih bersyukur lalu lintas tampak sepi dari biasanya. Mungkin karena hujan, mungkin juga karena ini Sabtu, hari dimana sebagian pekerja libur dari rutinitas mereka.

Dari informasi yang kuterima, salah satu ruas yang dipaving tahun ini berada di jalan dekat Pantai Pandawa. Maka ku terobos saja semua demi hasrat dan tujuan tadi. Dan jadilah siang ditengah hujan, aku berada di tepi Pantai Pandawa yang kerap menjadi cerita itu. Indah… dan kunikmati saja semua perjalanan ini…

Demi RI1 dan CR7

2

Category : tentang PeKerJaan

Bukan tanpa alasan mengapa kami ditugaskan untuk menuntaskan pekerjaan pemavingan di jalan Telagawaja, Kelurahan Tanjung Benoa sedari turunnya perintah Sabtu malam lalu, dimana waktu efektif mulai kerja Minggu siang hingga Rabu dini hari. Hal ini terkait dengan kegiatan penanaman Mangrove yang sedianya dilakukan oleh Bapak Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono bersama duta Mangrove Cristiano Ronaldo CR7, sehari pasca peresmian jalan Tol diatas perairan.

Kegiatan yang bertajuk Save the Mangrove, Save the Earth ini tampaknya digagas oleh investor Artha Graha yang secara kebetulan kalau tidak salah sedang membangun fasilitas perhotelan dekat perairan dan lokasi dimaksud.

CR7 RI1 Save the Mangrove

Jalan Telagawaja Kelurahan Tanjung Benoa ini merupakan akses utama menuju pantai, lokasi kegiatan penanaman Mangrove 26 Juni 2013, dimana kondisi awal merupakan perkerasan aspal lapen yang kondisinya sudah lumayan rusak.

Berdasarkan rencana kegiatan Peningkatan Jalan Lingkungan Permukiman di Kelurahan Tanjung Benoa yang memanfaatkan dana APBD anggaran Induk tahun 2013, jalan akses merupakan salah satu lokasi penanganan yang kini diambil oleh rekanan dari Metra Giri Karya. Yang dari panjang total sekitar 500an meter panjang, hanya mendapatkan penanganan sepanjang 226 meter saja, terhitung dari ujung jalan dekat pantai.

Lantas mengapa sisa panjang jalan tidak ditangani secara tuntas dalam anggaran yang sama, mengingat informasi awal yang kami terima selama ini, bahwa status jalan masih bermasalah dengan pihak investor, dimana merupakan lahan hak milik dari satu keluarga puri di lingkungan Kota Denpasar. Lantaran hal inilah, hingga hari Sabtu Siang, jalan Telagawaja masih dibiarkan begitu saja sisa panjangnya, tanpa dilakukan penanganan tambahan. Disamping, isu awal bahwa Pak SBY kabarnya bakalan turun ke lokasi melalui HeliPad yang sudah disiapkan oleh panitia penyambutan.

Hanya saja, pasca kunjungan pimpinan kami ke lokasi, informasi terkait lahan yang masih bermasalah, dimentahkan oleh pimpinan setempat sehingga inilah yang menjadi dasar turunnya perintah dadakan untuk menuntaskan PKS (Pemavingan Kebut Semalam).

Terhitung pada akhirnya sekitar tiga hari tiga malam, kami bekerja di lokasi kegiatan hanya untuk menyediakan akses jalan menuju lokasi kegiatan bagi RI 1, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bersama sang bintang sepak bola, Cristiano Ronaldo CR7.

Dari lemburnya kegiatan yang kami lakukan dalam waktu singkat ini, sempat dicandai pula oleh masyarakat sekitar dan juga Babinsa berbaju loreng, dengan sebutan Badung Bondowoso…

Sayangnya dalam proses penanganan infrastruktur yang kami lakukan sejak hari Minggu siang kemarin, bertemu banyak kendala yang rata-rata sebenarnya berbasiskan kesadaran pada diri sendiri dan lingkungan, yang jujur memang minim dimiliki oleh para pelintas jalan.

Misalkan arogansi aparat yang berlalu lalang dari jalan besar ke lokasi dengan menggunakan Bus kecil, namun dipacu dengan kecepatan tinggi. Padahal lebar badan jalan, hanya berkisar 3-4 meter. Belum lagi palang penghalang yang kami pasang dikedua ujung jalan, ditabrak begitu saja, melintasi pekerjaan paving yang baru saja dipasang. Dan ini terjadi berulang kali baik siang maupun malam. Dan rata-rata alasan yang diungkap pas bertemu dengan kami ditengah jalan (yang tentu gag bisa dilewati), mereka bilangnya ‘maaf, gag liat pak…’ *rasain deh lu mundurnya jauh, gag ada area buat muter balik soalnya…

Belum lagi jenis pertanyaan yang sama kerap dilontarkan oleh warga dan para pelintas… ‘yakin nih bisa selesai, pak ? Pasti kualitasnya jelek dan cepet ancur…’ -kalo saya gag yakin ya ngapain juga saya kerjakan ? Minimal diusahakan semampunya dulu, toh dunia juga tahu bahwa ini kerjaan PKS (Pavingisasi Kebut Semalam)… hanya pangeran yang ngebet dengan Loro Jongrang lah yang bisa melakukannya, itupun dengan bantuan jin dan makhluk halus…

Dan soal jelek dan cepet ancur, saya sih udah tau lebih dulu… bagaimana gag pesimis ? Wong ketersediaan paving aja baru didapat senin sore, itupun umurnya belum mateng untuk dipasang dan dilewati… apalagi oleh beban kendaraan roda empat yang secara teorinya musti dijemur dulu dalam waktu tertentu, baru dipasang…

Tapi ya sudahlah. Semua sudah selesai kami laksanakan tadi pagi.

Jika selama dua hari kemarin, para pekerja beraktifitas hingga pk.5 pagi lalu lanjut pk.9 namun apa yang kami lakukan tetap diragukan, ya wajar… wong mereka gag ikut turun langsung merasakan bagaimana bekerja dibawah tekanan. Apalagi hari terakhir ini, kami pun menuntaskannya hingga pagi buta… bisa selesai saja sudah bersyukur, soal kualitas, nanti usai kegiatan akan kami service kembali. Jikapun kalian masih belum puas, saya sudah siap kok menerima sanksinya…

NgTim 2 : Paving Pecah

Category : tentang PeKerJaan

Kalo yang ini lain lagi.
Pemasangan paving sebagai sarana lintasan kendaraan didalam unit instansi pemerintah yang dananya juga dari APBD.
Yang membuat kecewa tentu dari kualitas saat pertama kali dilihat. Beberapa tempat tampak paving (yang katanya kualitas K.300  untuk dilintasi truk pun seharusnya gak pa2) pecah dan tak diganti baru, padahal baru aja diselesaikan.

Apa ini lantaran setoran pada atasan yang terlalu besar lantas kualitas pekerjaan dikorbankan ? ini pula yang sering menjadi ganjalan.
Bagaimana bisa mewujudkan pembangunan yang berkualitas jika dana yang diberikan dipotong sana sini demi kepentingan pihak tertentu.

Sama halnya seperti saat perbaikan rumah dinas lalu, dimana dana perbaikan yang cuman dapet 25 juta, malah dipotong 10 juta (katanya) untuk kelancaran administrasi lainnya.
Wah…
Bagemana mau berkualitas pekerjaannya jika begini ?