Yang tercecer dari Yudisium Bersama Fakultas Teknik

19

Category : tentang KuLiah

Jumat pagi… seminggu sebelum perhelatan, telepon dirumah berdering dengan nyaringnya… Orang diseberang sana mengatakan…

“Mohon kesediaan Bapak untuk memberikan Kesan dan Pesan mewakili seluruh rekan lulusan pada Yudisium Bersama Fakultas Teknik, 5 November 2009 di Gedung Undagi Graha Fakultas Teknik Kampus Universitas Udayana di Bukit Jimbaran…”

Sejenak tak percaya, sayapun mulai mencecar banyak pertanyaan kepada si penelepon ‘kenapa saya ?’ ‘atas dasar apa’ dan ‘apa yang harus saya katakan ?’. Seakan tak puas dengan jawaban yang diberikan, Sabtu pagi sayapun mempertanyakan hal yang sama kepada staf di kantor Pasca Sarjana Teknik Sipil, kampus Sudirman. Jawabannya cukup mencengangkan.

Dua kali Yudisium ?

Yudisium pertama, dilakukan pada tanggal 4 November 2009, di gedung Rektorat Kampus Sudirman lantai 4. Diikuti oleh seluruh lulusan pada tingkat Pasca Sarjana dan Doktor se-Universitas Udayana. Yudisium kedua, dilakukan pada tanggal 5 November 2009, di gedung Undagi Graha Fakultas Teknik Kampus Universitas Udayana di Bukit Jimbaran. Terkait telepon tersebut, berlaku pada Yudisium kedua yang notabene tak wajib diikuti oleh lulusan. Sudah kepalang basah, saya menyetujuinya dan mulai menyusun beberapa kalimat yang nantinya akan saya sampaikan pada acara Yudisium bersama Fakultas Teknik.

Tak dipungkiri, sama halnya dengan desakan untuk menjadi narasumber saat Siaran bersama BBC di stasiun radio BaliFM beberapa waktu lalu, ketegangan sempat pula hinggap dan kendati sudah ditemani dan didukung istri, cukup membuat saya sedikit grogi ketika berada dipodium, didepan puluhan lulusan sarjana, para orang tua dan tentu saja anggota Senat Fakultas Teknik.

Ketegangan ini langsung luntur ketika saya disodorkan beberapa foto ukuran postcard dan jumbo oleh para fotografer yang saat kedatangan tadi sempat mengambil gambar kami berdua. Dari belasan foto yang diberikan, foto saya hanya ada dua biji, itupun ukuran postcard, sisanya foto Istri yang kebetulan saat itu berpenampilan layaknya seorang wisudawati. Ada ukuran jumbonya pula. Huahahaha… tawa saya meledak ditengah keramaian orang bubaran pasca acara.

yudisium ALit

‘yang ikutan Yudisium itu saya Pak, bukan Istri saya…’ hihihi…

Dua kali Yudisium bagi lulusan Pasca Sarjana Teknik ?

14

Category : tentang KuLiah

Sudah sewajarnya bagi setiap calon wisudawan wisudawati mengalami dua event penting sebelum dianggap benar-benar selesai menempuh studi tingkat perguruan tinggi. Pelepasan atau dikenal dengan istilah Yudisium dan Pengukuhan atau Wisuda. Demikian pula saya. Namun sedikit dibuat heran, Yudisium untuk jenjang pendidikan Pasca Sarjana dilakukan dua kali. Satu kali Yudisium untuk lulusan Pasca Sarjana (seluruh bidang studi) dan program Doktor, satunya lagi Yudisium bersama dilingkungan Fakultas Teknik. Yudisium bersama ini diikuti pula oleh lulusan dari tingkat Sarjana.

Secara de facto, lulusan Pasca Sarjana sedari awal perkuliahan tidak pernah berhubungan langsung dengan Fakultas Teknik reguler maupun ekstensi. Kami hanya berurusan dengan pihak Pasca. Itu sebabnya, secara pribadi agak heran juga kalau kami diminta untuk mengikuti Yudisium bersama sehari setelah Yudisium Pasca Sarjana.

Awalnya memang kami tidak disarankan untuk mengikuti Yudisium bersama ini, toh untuk Transkrip Nilai sudah diberikan pada saat Yudisium Pasca Sarjana dan Ijazah akan diberikan saat Wisuda nanti. Artinya untuk Yudisium bersama ini, lulusan Pasca Sarjana hanya akan mendapatkan plakat yang biasanya berbentuk batu nisan (istilah seorang teman kuliah) dengan nama kita tertera diatasnya bersama sejumlah lulusan lainnya. Singkatnya, tidak mempengaruhi kelulusan.

Saran ini kemudian berubah secara sepihak, mahasiswa dibebaskan mau ikut Yudisium bersama ini atau tidak. Saya pribadi yang memang tidak memiliki acara khusus pada tanggal yang ditetapkan, memilih tetap ikut apalagi uang untuk mengikuti Yudisium bersama ini sudah terlanjur dibayar. Maka dari 13 orang lulusan Pasca Sarjana yang sehari sebelumnya hadir dalam Yudisium Pasca Sarjana, hanya 7 orang saja yang ikut serta dalam Yudisium bersama Fakultas Teknik ini.

Keheranan ini sempat saya perbincangkan dengan salah seorang staf di lingkungan Pasca Sarjana Teknik, yang kemudian menyatakan keheranannya akan dua kali pegelaran Yudisium ini bagi lulusan Pasca Sarjana. Beliau ini kelupaan menitipkan aspirasi mereka kepada saya yang saat Yudisium bersama, dipinta oleh pihak Panitia untuk memberikan Kesan dan Pesan mewakili lulusan. Untuk mempertanyakan dua kali Yudisium ini… tapi ya sudahlah, semua sudah saya lewati, dengan baik pula. Biarlah keheranan ini terjawab dengan sendirinya sesuai saran saya kepada pihak Pasca Sarjana Teknik, agar bisa diselesaikan secara intern dan tidak melibatkan mahasiswa.

Semoga kelak bagi rekan-rekan yang lulus dari tingkat Pasca Sarjana Teknik tak lagi mengalami hal yang sama… Semoga saja.

Untukmu Indonesiaku

2

Category : tentang KuLiah

Yudisium Pasca Sarjana

Yudisium Teknik

WisuDa

Terima Kasih untuk Anda Semua

10

Category : tentang KuLiah

Menyambung tulisan saya sebelumnya, kali ini saya ingin mempublikasikan salah satu halaman yang terdapat pada dokumen penulisan Tesis sebagai bentuk apresiasi serta rasa Terima Kasih saya kepada orang-orang yang terlibat penuh dan ikut berperan dalam menyelesaikan studi Pasca Sarjana selama dua tahun terakhir. Apa yang tertera dibawah ini adalah apa yang tertera dalam dokumen yang telah ditandatangani baik oleh kedua Pembimbing, juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Udayana.

Ucapan Terima Kasih untuk Anda Semua…

Yudisium Teknik

“…mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

  1. Bapak Dr. Ir. IGA. Adnyana Putera, DEA dan Bapak Ir. I  Gusti Putu Suparsa, MT  sebagai dosen pembimbing I (satu) dan II (dua) yang dengan sabar dan teliti memberikan dorongan, semangat dan saran selama membimbing penulis dari awal hingga Tesis ini dapat diselesaikan.
  2. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar Bidang Keahlian Manajemen Proyek Konstruksi pada Program Magister Program Studi Teknik Sipil Program Pascasarjana Universitas Udayana di Denpasar atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan.
  3. Dosen penguji Bapak Dewa Made Priyantha Wedagama, ST, MT, MSc, Ph.D,  Ir. I Wayan Yansen, MT, beserta  Putu Alit Suthanaya, ST, M.Eng.Sc, Ph.D yang telah memberikan koreksi yang cermat dan detail  demi terwujudnya Tesis ini.
  4. Kedua orang tua, mertua beserta Istri dan anak, Alit Ayu Kusumadewi, SH dan Pande Putu Mirah Gayatridewi yang dengan penuh pengorbanan telah memberikan dukungan moril serta kesempatan berkonsentrasi sejak mulai kuliah sampai dengan selesainya Tesis ini.
  5. Teman-teman  di lingkungan  Pemerintah  Kabupaten Badung diantaranya Ir. Ida Bagoes Soerya (Kadis Bina Marga dan Pengairan), Ir. Ni Luh Putu Dessy Dharmayanthi, MT (Kabag Pembangunan), I G.A.Suryaningsih, ST (Kasi Penyusunan Program), Ir. I G.A.M.Aries Sujati (Kasi Pengendalian dan Pelaporan) dan S.N.Oka Parmana, ST (Kasi Pemeliharaan Jalan) yang telah memberikan semangat, dorongan dan bantuan berupa data, informasi serta pendapat.
  6. Rekan-rekan kuliah dan karyawan Program Studi Teknik Sipil atas dukungan, bantuan dan kerjasamanya.
  7. Rekan-rekan di Bali Orange Communications, Hendra W.Saputro, Arip Yulianto dan Viar S.Kusuma yang telah banyak memberikan bantuan ilmu, dorongan serta semangat sampai dengan selesainya Tesis ini.
  8. Rekan-rekan Bali Blogger Community dan Facebook yang ikut serta memberikan masukan, kritik serta saran dan semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu atas bantuan dan dukungannya.

Semoga Ida Sang hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak serta penulis sekeluarga yang telah membantu pelaksanaan dan penyelesaian Tesis ini.

…dan semua itu berakhir sudah…

16

Category : tentang KuLiah

Melanjutkan studi ke jenjang Pasca Sarjana sebenarnya sama sekali tidak pernah terpikirkan, jika bukan karena desakan seorang teman kantor yang sudah terlanjur mendaftarkan dirinya di Magister Teknik Sipil pertengahan tahun 2007 lalu. Bisa jadi karena saat itu pikiran masih terfokus pada usaha untuk mendapatkan momongan. Kebuntuan jalan yang saya temui akhirnya membelokkan pikiran untuk kembali ke bangku kuliah ketimbang bengong termenung setiap pulang kerja.

Banyak hal yang menjadi kendala sebenarnya. Hal terbesar adalah masalah biaya. Seluruh tabungan saya habis digunakan untuk pengobatan diri sendiri yang kala itu diduga Oligoasthenoteratozoospermia oleh Dr.Wimpie. Sebuah istilah ilmiah yang intinya mengatakan bahwa sperma yang saya miliki tidak normal hingga menyulitkan proses pembuahan. Disamping itu, orang tua sudah tidak lagi seproduktif dulu. Apalagi Bapak yang diketahui mengidap Diabetes sejak tahun 2003 lalu. Saya pun akhirnya mengikuti saran dari rekan-rekan kantor, memanfaatkan SK PNS yang saya miliki, untuk dijadikan jaminan pinjaman pada Bank Pembangunan Daerah setempat.

Bidang Ilmu yang saya pilih sama sekali baru. Bisa dikatakan saya mengalami kesulitan saat ujian masuk, kuliah awal hingga tengah semester. Lagi-lagi dari teman jua saya mendapatkan banyak bantuan berupa buku serta petunjuk praktis untuk mengerti lebih jauh satu persatu mata kuliah yang diajarkan. Masa inilah yang saya sebut masa perubahan. Masa dimana saya mulai menggunakan waktu luang saya sepulang kerja untuk belajar dan mengerjakan tugas agar tak tertinggal rekan lain. Masa dimana saya mulai berkenalan dengan scientific calculator yang memiliki tiga baris digital pada display layarnya, demikian pula pc mobile alias Notebook dan juga usb modem.

Untuk memudahkan proses pengerjaan tugas, saya kerap memutar otak mencari jalan terbaik dan termudah untuk dapat menyelesaikannya. Mengingat impian saya untuk mendapatkan momongan sudah didengar Tuhan, yang artinya saya harus meluangkan waktu lagi untuk membantu Istri dalam mengerjakan kewajiban rumah tangga. Bersyukur sekali, apapun kesulitan yang saya hadapi, ada seorang Istri yang dapat diajak bertukar pikiran dan ada rekan kantor juga rekan kuliah yang mendorong dan memberikan bimbingan, hingga masa transisi perkuliahan bisa saya lewati dengan baik.

Hobi nge-BLoG saya katakan adalah hal paling positif dalam sejarah hidup dan sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran perkuliahan kali ini. Tugas yang berbentuk laporan bisa saya selesaikan dalam hitungan hari. Kebiasaan untuk mencari ide, bahan-bahan yang diperlukan, hingga mencoba menuangkannya satu persatu dalam bahasa yang mudah dimengerti menjadi amat sangat berharga dan mengundang keheranan beberapa teman lain, mengingat latar belakang pekerjaan saya kini bukanlah bidang yang tepat untuk menghasilkan tulisan atau laporan.

BLoG pada akhirnya menjadi hal terpenting yang saya miliki, karena tugas terakhir yang harus saya selesaikan (baca:Tesis) hampir sembilan puluh persen dipengaruhi oleh spririt nge-BLoG. Percaya gak ?

Dua tahun dua bulan. Masa yang tercatat untuk bisa menyelesaikan studi Pasca Sarjana, bukanlah waktu yang cepat saya kira. Walaupun rasanya baru kemarin saya ikut test TPA yang mirip dengan test psikologi CPNS, dan rasanya baru kemarin saya meledek rekan-rekan diruang kuliah dengan gambar-gambar jahil, bikin nyengir dan tentu saja semua kisah itu terekam dengan baik pada BLoG saya ini. Tercatat pada kategori ‘tentang Kuliah’.

Yudisium Pasca Sarjana

Terima Kasih rekan-rekan, Terima Kasih semuanya. Tanpa kalian tentu saja saya takkan bisa menyelesaikan perjalanan panjang ini dengan baik.

…dan kini sebuah tanggung jawab besar telah menunggu didepan mata. Mau tidak mau saya harus menghadapinya…

…yang tersisa dari sebuah perjalanan panjang…

3

Category : tentang KuLiah

Catatan hari demi hari jelang akhir dari sebuah perjalanan…

  • jilid hard cover warna biru benhur… target selesai tanggal 7 Oktober
  • hunting tanda tangan kedua pembimbing Tesis, Kajur serta Direktur Pascasarjana Unud… target secepatnya
  • penyelesaian administrasi di Teknik Pasca Sarjana… target secepatnya juga…
  • pendaftaran Yudisium Teknik untuk tanggal 5 November 2009… target terakhir tanggal 19 Oktober 2009
  • Yudisium dan Widuda wisuda… apa yang harus dipersiapkan ya ? ? ?

Sedikit Lagi, Merengkuh Gelar Pasca Sarjana

2

Category : tentang KuLiah

Aaahhh…. Perasaan sedikit lega hari ini agaknya sudah bisa saya ungkapkan. Sebagai rasa syukur atas segala hal yang sudah saya jalani selama dua bulan belakangan menjelang detik-detik terakhir perkuliahan di semester 3. Ya, ternyata bisa juga saya tiba disini. Padahal rasanya baru kemarin saya menjalani ujian TPA (mirip test psikologi) dan matrikulasi (pengenalan materi awal sekaligus penyegaran). Rasanya baru kemarin saya memiliki beberapa teman baru yang beragam usia dan aktivitasnya.

Terkait dengan awal mula kenekatan saya mengikuti kuliah Pasca Sarjana ini, barangkali ada beberapa rekan blogger Bali yang masih ingat tulisan saya terdahulu tentang ‘Gelar yang tak lagi membanggakan’. Sempat diculik untuk Bale Bengong miliknya Om Anton kalo ndak salah. Waktu itu saya masih belum punya rumah sendiri seperti sekarang. Masih numpang di Blogspot.

Jika saya membaca tulisan lama tersebut, barangkali bisa dikatakan apa yang saya yakini masih sama. Seandainyapun kelak gelar dari perkuliahan Pasca Sarjana ini dapat saya raih, gak ada tuh yang namanya ‘bakalan selalu saya pampang dan gunakan dalam setiap momen atau event, termasuk pencalegan barangkali. He…

Jujur saja, kadang untuk menyandang sebuah gelar bagi saya pribadi adalah sesuatu yang memberatkan. Walaupun saya tidak menutup mata, bahwa gelar bagi sebagian orang itu sangat keren jika sampai diketahui oleh sebagian yang lain. Dianggap lebih berpendidikan, dianggap lebih mampu, dianggap lebih layak menjadi pimpinan barangkali ? Bagi saya, TIDAK.

Kata orang bijak, diatas langit masih ada langit. Tak selamanya orang yang menyandang gelas Pasca Sarjana itu akan jauh lebih mampu dari pada orang yang hanya tamatan sarjana ataupun sma misalnya. Barangkali pada pengetahuan beberapa ilmu dan teori, bisa dikatakan sedikit lebih tinggi. Buin a setrip. Tapi pada pengalaman tertentu ? hohoho…. Jangan salah.

Jangan jauh-jauh. Ambil contoh ya saya sendiri.
Dari sekian banyak ilmu yang diberikan dimana masing-masing bidang ilmu hanya diberikan waktu untuk pemahaman hanya satu semester, yang kalo dihitung barangkali hanya sekitar enam belas kali pertemuan kisaran 4 bulanan, belum tentu kesemua ilmu yang didapat itu bisa nyantol dikepala. Walaupun yah saya yakin, ada satu dua yang masih bisa diingat saat akhir semester 3 tiba didepan mata. Coba bandingkan dengan mereka yang hanya tamatan sarjana, tapi lebih banyak memiliki pengalaman di salah satu bidang yang saya pelajari. Berani bersaing ? Saya yakin, jika itu pake taruhan nyawa misalnya, saya bakalan mundur. Tapi kalo sebatas saling mengisi, okelah, saya mau.

Satu lagi yang dapat dikatakan paling riskan.
Nilai pada mata kuliah tertentu. Saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa kemampuan seseorang pada suatu mata kuliah, tidak dapat diukur hanya dari nilai ujian saja. Atau nilai akhir yang dikeluarkan oleh sang pengajar. it’s just my lucky…. Secara kebetulan dari delapan mata kuliah yang sudah dikeluarkan nilainya, ada enam yang saya dapatkan dengan nilai sangat memuaskan. Kenapa saya katakan sangat memuaskan ? dan bagi siapa ?

Ya tentu saja bagi saya sendiri, dimana merupakan salah satu dari sekian mahasiswa yang keluar jalur mengambil bidang di jenjang Pasca Sarjana. Saya lulusan Arsitektur yang lebih banyak berkutat pada konsep ataupun desain. Loncat pagar ke bidang Sipil, dimana bidang Statistik, Finansial, dan hal-hal yang sama sekali belum pernah saya dapatkan pada jenjang sebelumnya, dipaksa melahap semuanya dalam waktu satu semester. Can You imagine that ?

Padahal pada awal semester dimulai, saya sempat merasakan frustasi pada pilihan yang saya ambil secara nekat. Sempat pula saya ungkapkan pada tulisan dengan topik kuliah, maupun corat coret gak karuan selama jam perkuliahan. Kini setelah apa yang saya jalani, dengan nilai yang saya dapatkan, apakah sudah bisa mencerminkan bahwa saya mampu dan menguasai semuanya dalam waktu singkat ? Bagaimana pula saya bisa mempertanggungjawabkan nilai tersebut kelak pada setiap orang yang begitu berharap banyak lantaran mereka melihat pada gelar dan nilai yang saya dapatkan ?

Secara kebetulan saya bersua dengan beberapa orang alumnus jenjang Pasca Sarjana. Ternyata kegelisahan saya ini juga dirasakan oleh mereka dahulu. Menjalani masa perkuliahan Pasca Sarjana hanya untuk sekedar lewat dulu. Tak peduli dengan nilai yang didapatkan. Jangan berharap banyak pada keakuratan tata cara penulisan dalam setiap tugas yang dibuat, ataupun sedalam apa analisa yang dilakukan saat penelitian Tesis sebagai kewajiban akhir masa studi mereka.

Waktu yang akan menjawab itu semua.

Pelan tapi pasti. Saya yakin, apa yang saya jalani selama tiga semester ini, plus waktu untuk menyelesaikan Thesis tahap akhir masa studi saya kelak, bakalan bisa saya ambil satu persatu ilmunya, jauh setelah gelar itu bisa direngkuh. Dengan catatan, ilmu yang ditawarkan itu memang menarik minat saya untuk mempelajarinya lebih dalam lagi.

Saya yakin, beberapa bidang ilmu yang dilahap selama satu setengah tahun ini bakalan berguna satu saat nanti. Tentu saja tidak Hap ! langsung usai wisuda, atau usai gelar tersebut disandang. Katakanlah mata kuliah Finansial misalnya. Dari ilmu ini, saya bisa tahu proses suatu keluar masuknya uang secara sederhana, ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Bahkan dari salah satu bagian perkulaiahn ABC system misalnya, saya bisa mendapatkan gambaran tentang apa saja yang harus diperhitungkan untuk mendapatkan harga jual suatu produk.

Ini tentu melengkapi kegamangan saya sebelumnya, perihal berapa harga yang harus saya patok atau tetapkan untuk sebuah jasa atau produk gambar rencana kerja sebuah bangunan misalnya. Padahal selama ini saya hanya mengandalkan ‘oh, biasanya sih dibayar segini….’ Atau ‘oh, standarnya sih sekian rupiah per meter persegi atau sekian rupiah per lembar gambar’.

Kembali pada pertanggungjawaban saya akan gelar maupun nilai yang kelak saya dapatkan, barangkali hanyalah sebuah perjalanan yang harus saya lalui, untuk mendapatkan sedikit gambaran tentang hal-hal diluar pengetahuan saya selama ini. Ditambah sedikit bumbu pertemanan baru yang saya dapatkan, suasana kuliah yang jauh lebih bersahabat, dan juga keinginan untuk belajar dan terus belajar timbul dengan sendirinya.

Yah, perkuliahan Pasca Sarjana yang tinggal sedikit lagi, bagi saya pribadi bukanlah sebagai satu pembuktian bahwa saya mampu dan layak menyandang gelar tersebut nantinya. Atau malah hanya untuk mendapatkan pengakuan ditengah masyarakat, atau barangkali hanya untuk syarat agar cepat naik pangkat/golongan hingga jabatan misalnya. He….

> PanDe Baik tumben-tumbenan bisa melahirkan tulisan terkait aktivitas mengikuti perkuliahan lagi. Yah, sudah lama gak menyinggungnya di BLoG, seperti harapan seorang rekan kuliah yang secara mendadak pamit meninggalkan perkuliahan diakhir semester satu, berkumpul kembali bersama keluarga (suami dan anak-anak) di Jakarta sana…. Bahkan, hingga akhir semester tigapun, saya belum mampu melahirkan satu tulisan yang khusus mengenai sobat saya sejak kecil ini. Ya, Kusuma Dewi. “Apa Kabarnya D ?” <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar…

13 Orang Ganjil

1

Category : tentang KuLiah

Mistik angka 13 boleh dibilang agak tabu dan sedikit menakutkan apabila diceritakan apalagi lewat nuansa seram horor. Ditambah orang-orang Ganjil yang mungkin agak berbeda dari orang biasa umumnya.

Tapi 13 Orang Ganjil disini bukan malah berbicara masalah mistis atau horor. Tapi hanya satu cerita kebetulan belaka, dimana dalam satu ruang kuliah pasca sarjana terdapat 13 orang peserta dengan pengompokkan kelas sebagai kelas ganjil dimana angka yang dimaksud berasal dari nomor induk masing-masing.
Hehehe…

Diurutkan dari si penulis menerus ke orang-orang Ganjil lainnya.

Orang Ganjil pertama posturnya tinggi besar tapi berkacamata plus perut yang tambun, seringkali membuat berdesir dada orang yang dilewati, bukan apa-apa, lantaran ketinggian orang ini membuat ujung kepala hanya selisih 5 centimeter dari balok beton yang terpampang didekat ruang kuliah kampus.
Hari ini lagi rada brewokan dan gondrong, karena faktor kehamilan istri juga biar kliatan lebih serem kalo lagi berhadapan dengan Pemborong gila.
Hobinya bikin sketsa temen disebelahnya ato malah bengong tak karuan lantaran bosen dengan teori-teori diatas awan. > Pb

Orang Ganjil kedua posturnya sedikit lebih kecil walopun kalo sudah dirumah malah dianggap tinggi besar oleh keluarganya.
Serius tapi demen nyeletuk dan gape ngapalin SK Perda maupun Peraturan Pemerintah lainnya. Ngomongnya gak jauh dari kegiatan kantor lantaran sebentar-sebentar selalu dihubungi oleh atasan.
Punya laptop yang pegen banget dijual dengan harga tinggi hanya sayangnya hingga hari ini gak ada yang berani beli sesuai harga yang ditentukan. Suka nawar laptop temen lain dengan harga penawaran kisaran 1-2 juta. Hehehe…
> SNOP
> emang Snoppy ?

Orang Ganjil ketiga menyukai Gadget, Freak malah. Masih rela ngejomblo demi cita-cita yang digantung setinggi langit. Eh enggak ya ?
Tongkrongannya masih sering bikin pangling lantaran dikira masih umur duapuluhan awal, punya tampang culun tapi kabarnya waktu masih kuliah ngganteng banget. Hehehe…
Fujitsu berlayar sentuh kerap menjadi senjata andalan apabila kejenuhan menerpa sebagian makhluk yang berderet dibarisan belakang. namun tak hanya itu, Nokia commie 9300pun tak pernah lepas dan akan sangat berguna saat ujian ataupun pembahasan yang merkaitan dengan rumus dan angka.
ah ni orang bikin ngiri aja deh.
Yang tak pernah lepas ya senyumnya yang ramah dan tata bahasa yang Bali banget. > EG

Orang Ganjil keempat berambut lurus gondrong dengan alasan sama dan mesti bersiap-siap menjadi Bapak SIAGA sebulan terakhir. Semoga lahir dengan selamat ya.
Oke dibidang IT dan klop banget kalo udah duduk berdampingan dengan si EG. Obrolannya kalo ndak Core Duo ya Pentium 4. hehehe… becanda Bos !
> NU
Orang Ganjil kelima ada bapak dosen yang ideal. Udah pinter tajir banget lagi.
Denger-denger punya banyak sampingan dari bisnis garmen, sekolahan sampe restoran. Kalo senyum sangat menyejukkan hati. Maklum udah jadi Pendeta ya Pak ?
Paling serius kalo lagi belajar, bisa dimaklumi lantaran yang ngajar ya masih temen sendiri. Jadi kalo sekalinya ngelucu, he… mantan mahasiswanya takut-takut untuk ketawa. Hahahaha…
> BS

Orang ganjil keenam bapak dosen ganteng cool dan punya senyum ramah. Kabarnya dalam waktu dekat juga bakalan menjadi orang yang menjadi panutan. Tapi walo dosen, hobinya gak jauh beda dengan mahasiswa, paling suka kalo dosen telat ngajar dan pulang lebih awal. Hehehe…
> PW

Orang Ganjil ketujuh pula seorang dosen, hanya saja dari universitas swasta yang terkenal akan biaya tinggi. Humoris dan mengerti akan keinginan teman seruangannya mungkin lantaran udah bau tanah. Hehehe…
Punya hobi gak jauh beda dengan rekan setempat kerjanya, yaitu ngoleksi video syur apalagi kalo yang lokal, wah dengan bangganya dipamerkan dan ditonton rame-rame. Hehehe…
> RB

Orang Ganjil kedelapan merupakan rekan setempat kerjanya pak RB, namun dengan nasib dan takdir yang jauh beda. Walopun punya hobi yang sama, namun kalo si Bapak sudah mulai menonton dan memamerkan video syur lewat PDA Ipaqnya membuat mahasiswa muda lainnya pada mencibir dan berharap sang ayah tak seperti pak dosen teladan ini.
Punya kebiasaan yang dikhawatirkan oleh teman kuliah lain, yaitu bertanya dan mulai berdiskusi saat kejenuhan belajar mencapai titik puncak. Apalagi kalo yang namanya jam pulang sudah didepan mata, bisa mundur jadi tepat waktu bahkan molor. Huahahaha…
Tapi begini-begini jadi mahasiswa terfavorit loh.
Karena apabila Bapak ni sudah mulai bicara, dapat dipastikan semua mahasiswa lain akan menoleh dan memberikan reaksi yang berbeda-beda. Dijamin. hehehe….
> An

Orang Ganjil kesembilan agak jarang kuliah lantaran kesibukannya sebagai pengabdi diwilayah Propinsi. Punya kebiasaan menyalin tugas teman lantaran gak sempat ngebikin tugas lagi.
Tapi tetep asik diajak nonton video yang bikin gak enak duduk ya Pak ?
Karena jarangnya gaul, sampe-sampe ada temen yang surprais saat bertemu bapak ini, kirain dah mengundurkan diri pak. Hehehe….
> WS
> bukan WS Rendra lo.

Orang Ganjil kesepuluh sudah berstatus Ibu satu anak, tapi masih cantik dan seksi layaknya masih lajang. Duh, jangan sampe kedengeran suaminya loh.
Suka senyum kalo lagi nawarin permen biar gak ngantuk dan selalu siap dengan sekotak Teh Sosro setiap kali kuliah.
Kabarnya sempet bawa proposal ke perusahaan Sosro agar mau disponsorin teh kotak setiap kali kuliah. Hehehe…
Pinter banget. Maklum aja, kan dosen…
Tapi lantaran wilayah kerjanya jauh dari suami, yang ada dalam pikirannya sekarang bagaimana agar bisa mencetak anak 3 biji lagi mumpung punya ijin tugas belajar dan bisa deket suami. Hehehe…
> IL

Orang Ganjil kesebelas, wajahnya mirip-mirip tokoh komik. Tapi memang pantes mirip lantaran hasil goresannya oke banget loh. Pinter pula.
Kabarnya masih lajang tapi gak banyak suara, kalem gitu loh.
Walo pinter tapi sempet ngantuk juga kalo lagi denger teori mengambang diawan, beda jauh kalo sudah berhadapan dengan rumus dan angka. Selalu selesai lebih dulu dengan cara yang jauh lebih pendek dan efisien. Salut Mbak…
> SI

Orang Ganjil keduabelas punya bodi tinggi dan hampir selalu dikawal bodiguardnya yang dengan setia menunggu diparkiran saban pulang kuliah. Ni anak gak kalah pinter ditunjang dengan kecepatan tata bahasanya bak sepur super ekspress (kereta api maksudnya), seakan tsunami datang esok hari. Hehehe… Gak rela ngebuang waktu dikit buat narik nafas ya Mbak ?
> SS
> bukan Sabhu Sabhu loh.

Orang Ganjil terakhir termasuk favorit diantara bapak-bapak dosen sehingga dijadikan setrum bagi mereka yang selalu mengantuk saat perkuliahan berjalan. Masih muda cantik dan lajang.
Berpenampilan layaknya gaya anak muda masa kini dengan setelan baju hamil dan tangan yang mahir memencet tuts untuk ber-sms seakan tak lepas dari Nokia seri N70 miliknya.
Punya kebiasaan buruk, merayu teman dengan senyum manisnya untuk membuat tugas lebih dulu agar gampang di copy paste dengan membedakan font, hehehe…
Oh ya, gadis ini pula yang menjadi rebutan dua dosen bersodara tadi yang berhobi sama ditambah selalu bersemangat apabila melirik dan membandingkan sang gadis dengan istri mereka (yang katanya sama cantiknya, hehe…) > Yk

Namun ketigabelas orang Ganjil tadi takkan memiliki cerita ini apabila seorang teman kuliah yang berstatus ibu muda dua anak tak memilih mengundurkan diri dari perkuliahan dan sekarang tinggal di deket-deket kota Jakarta. > DK
Padahal awalnya seneng banget bisa ktemuan lagi dengan ibu ini, bukan lantaran parasnya yang cantik, bukan juga karena ni orang udah jadi temen sejak es de hingga kuliah bareng dan lima tahun belakangan tinggal di New Zea seberang laut ikut suami…
Tapi lantaran merasa senasib sama-sama nyasar kebidang kuliah yang sama sekali gak dimengerti. Hehehe…

Gelar tak lagi membanggakan

1

Category : tentang KuLiah

Menjalani proses kuliah tingkat pasca sarjana memiliki banyak sudut pandang jika dilihat dari bermacamnya motivasi dan tujuan dari masing-masing mahasiswa untuk melanjutkan studi.

Ada yang memang ingin serius menjajal kemampuan apalagi jika sudah masuk dalam satu perguruan tinggi negeri yang memiliki pengajar kebanyakan full teori. Ada juga yang ingin sekedar lewat, mendapatkan gelar hanya karena tuntutan pekerjaan didominasi oleh para pegawe negri yang sudah menjabat atopun dosen yang sudah harus mengantongi gelar di akhir tahun 2010 nanti.
Tak sedikit pula yang melanjutkan studi karena mendapat sokongan penuh dari sang orang tua sehingga tugasnya pribadi hanyalah belajar dan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.

Jika dilihat lagi dari sumber dana yang dipake, ada yang mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi yang menaunginya tentu kebanyakan yang menerima beasiswa ini ya dari kalangan dosen pengajar tingkat Sarjana. Ada juga yang make uang tabungan bertahun-tahun hasil simpanannya selama bekerja sampingan, dan terakhir ya golongan mengutang pada bank dan dicicil setiap bulan potong gaji. Aduh !

Namun tak semua merasakan enjoy tuk menjalani hari-hari kuliah maupun untuk mengerjakan tugas, lantaran rata-rata sudah bekerja dengan jam kerja padat, tapi ada juga yang tipikal murid sekolahan, padahal dia itu dosen tingkat Sarjana lho.
Tipikal murid sekolahan maksudnya, lebih berandai-andai dosen pengajar gak dateng n gak ngajar tapi ngasi nilai A, juga pengennya libur terus. Hehe…
Gak sedikit pula yang nyontek tugas mahasiswa lain pas hari pengumpulan. Hmmm… budaya sekolah. Hehe…

Hari gini punya gelar pascasarjana tak selalu membuat dada membusung. Ada type mahasiswa yang merendah, bahwa gelar sarjana aja masih ngerasa malu untuk disandang lantaran pengalaman praktek tak seoke yang dibayangkan orang, ini mau nyandang gelas pasca. Wah, apa kata dunia ?

Bukan apa-apa sih, tapi karena masyarakat sudah tau dan memaklumi bahwa gelar itu bukan lagi menjadi tolok ukur tingkat intelegensia seseorang, namun lebih dilihat dari kemampuan finansial dan juga kedudukan seseorang.

Ini diperkuat dengan banyaknya pejabat yang berlomba-lomba memasang gelar pascasarjana mereka padahal mungkin gelar itu tak sepenuhnya ditempuh. Alias dibeli 20 juta per gelar. Mau gelar apa saja juga ada.
Unsur politis juga tak kalah banyak, dengan membeli gelar yang biasanya dianugerahkan kepada politisi sukses dalam bidangnya. Honoris Causa rame diberikan biasanya menjelang pilkada atopun kampanye. Nama nongol di koran dengan kesuksesannya di bidang ini itu.

Tak sedikit pula para pejabat tinggi negeri ini maupun orkay lokal dan nasional yang menyandang gelas Doktor hingga Profesor.
Pengalaman menarik dialami ketika mengenal sosok famili yang dahulunya begitu sederhana, bahkan SMApun tak diselesaikan karena faktor biaya, eh saat anak yang ke-2 mantu, mendadak nama sang famili berisi embel-embel Prof. DR.
Wah, kapan sekolahnya nih ?

Tapi jangan berharap banyak kalo yang namanya gelar di belakang nama itu kemampuannya bakalan sama dengan gelar jaman presiden Indonesia pertama masih mimpin. Ya itu dah, gelar masih bisa dibeli biar sedikit lebih keren kalo namanya terpampang di koran pas lagi ngomong.

Satu lagi, gak menjamin pula kalo gelar yang panjang bakalan bikin orang yang menyandangnya berpikir untuk realistis dan down to earth. Malah kecenderungan orang-orang kayak gini, malah full teori tanpa ada prakteknya. NATO-No Action Talk Only.
Trus yang namanya pergaulan udah gak bisa gabung lagi dengan rakyat kelas bawah, dan kalo lagi diganggu waktunya, golongan ini malah lebih sayang membuang waktu hanya untuk ngobrol panjang lebar lepas kangen.

Kembali ke famili tadi, pemasangan embel-embel itu gak lama kok.
Saat anak ke-3 sekaligus terakhir mantu, embel-embel gelar tadi tak dipampang lagi di kartu undangan.

Entah karena merasa malu diketahui banyak orang gelar itu dari membeli ato malah baru menyadari kalo gelar bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan dipampang pada selebaran, kartu undangan maupun stiker kampanye- mengingatkan pada seorang tokoh membagi-bagikan stiker pada yang mudik untuk milih sang bakal calon huh ?

Anyway terakhir ada juga gelar yang asik disandang tanpa perlu mikirin beban. Gelar tiker trus bobo. Huehehe….