Amor ring Acintya bli Komang Pande Gus Jun

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Mih… kaget mendapat berita bli Komang Gus Jun meninggal di Jakarta tadi pagi karena serangan jantung…
ini salah satu alumni Teknik Udayana sekaligus saudara mindoan semeton Pande yang mengenalkan saya pada musik Thrashmetal era Morbid Angel, Suffocation dan tentu saja Sepultura…

Amor ring Acintya bli Mang…

(FaceBook profile Mar.18 at 11.38 pm)

bli Komang Pande Gus Jun 2

Entah kenapa, saya memimpikan bli Komang barusan.

Tersadar pada pukul 1.38 am 19 Maret, sayapun mulai mengingat kembali apa yang ada dalam benak tadi.

Alkisah saya mengikuti lomba yang diikuti hanya oleh tiga peserta. Lomba tersebut adalah berjalan, berlari dan terakhir mencoba segala upaya yang ada untuk tiba dan sampai di garis akhir yang telah dijaga oleh orang tua penglingsir sebagai satu pendidik kami, semacam rektor atau sejenisnya. Entah…

Untuk mengenali Lokasi lomba, saya diantar Istri yang mengingatkan untuk berkabar melalui ponsel Nokia 6275i lawas yang saya miliki. *oke, mohon jangan tanyakan kenapa harus ponsel Nokia, karena saat tersadar dan mengingat, saya pun bingung kenapa harus menggunakan ponsel tersebut dengan format simcard microchip macam iPhone pula. Namanya juga mimpi, jadi memang dapat dipastikan ya gak bakalan nyambung dengan Logika.

Lomba pun dimulai.

Saya harus melewati orang per orang yang lalu lalang dengan setting jalan setapak mirip di jalur Besakih yang mengambil jalan ke kanan di pertigaan pos polisi itu. Namun orang per orang ini adalah sekumpulan orang yang siap menjatuhkan mental saya dengan kalimat dan kata-kata yang mengejek dan menghina. Tapi karena sudah tahu dan paham saat diberitahu ‘clue’nya oleh istri saya barusan, semua itu saya lalui dengan cuek. Jalan terus…

Rintangan mulai hadir saat saya diharuskan melewati jalan dengan merangkak, sementara tangan harus menghapus dan melafalkan mantra yang *maaf saya sama sekali tidak ingat, namun di ujung jalan, saya diminta meneriakkan satu kalimat semacam yel yang tentu saja masih berupa mantra, yang akan secara otomatis terlintas di pikiran saat saya berkonsentrasi penuh dengan maksud tertentu. Ajaib… saya berhasil mengucapkan mantra tersebut dengan keras dan dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan… dengan apa ya ? Kok bisa lupa…

Perjalanan terakhir, saya lupa mengapa diminta untuk mengayuh sepeda dengan track lurus ke arah utara, hingga mentok di pertigaan, belok kiri dengan turunan tajam dan kondisi jalan yang rusak setengahnya. Yang unik, sembari mengayuh, saya melihat bli Komang Pande Gus Jun, menyalip saya dengan santai, diatas sepeda tuanya.
Disaat melewati jalan rusak, sayapun terjatuh dan dengan berteriak, saya diminta istri untuk boncengan di sepeda bli Komang dengan harapan bisa mengantarkan saya pulang menyelesaikan lomba hingga garis akhir.

Entah bagaimana ceritanya, kok malah saya yang mengambil alih sepeda, ngebut sesuai ‘ilmu pengetahuan’ yang didapat bahwa dengan memacu sepeda dalam arus air di selokan/lubang jalan raya, akan mempercepat laju bak rollercoaster diatas sadel sepeda. Dan entah bagaimana logikanya, sayapun di jelang garis finish yang dihadapkan pada satu area penuh air layaknya danau, disalip oleh dua peserta lainnya dengan menggunakan sepeda motor berkecepatan tinggi.

Saya dinyatakan kalah atau menempati tempat ketiga oleh sang orang tua tadi yang melewati genangan air diatas Truck Wheel Loader yang mirip dengan milik Dinas Bina Marga Badung saat pematangan lahan tahun 2005 silam.

Setiba dirumah, sayapun bercerita pada kedua orang tua perihal perjalanan lomba tadi yang dialami dalam mimpi itu. *Mimpi dalam mimpi, mimpi bertingkat mungkin namanya…
Sembari mengingatkan bahwa tanpa bantuan bli Komang Pande Gus Jun, tentu saya tidak akan bisa sampai di garis akhir, juga dirumah tepat waktu. Maka itu saya mengajak Bapak untuk menengoknya di rumah duka sore ini.

dan semua mimpi itu baru disadari saat terbangun pukul 1.38 tadi…

Ah, mimpi memang gak perlu dinalar pakai logika, masuk akal atau tidak. Apalagi yang diingat juga gak runut jelas dari awal, mengingatkan saya akan pendapat seorang kawan lama, bahwa Mimpi itu gak akan Logis dan Ingat tercerna alur ceritanya. Jadi ya buat apa dipertanyakan lagi.

Yang terpenting bahwa sosok bli Komang ikut hadir didalamnya, yang bisa jadi merupakan bunga tidur dalam ingatan yang tadinya sempat terlintas saat membaca Mantram Gayatri dengan genitri sesaat sebelum tidur. Artinya, pagi nanti saya harus menghaturkan sodha di pelinggih Bethara Hyang Guru atau dimana ya tepatnya ? Mengingat yang bersangkutan belum diupacarai hingga hari ini.
Mohon bantuan para suhu, para guru yang sudah berkenan membaca tulisan yang dilahirkan dini hari pukul 2.09 ini, lantaran gak bisa memaksa mata untuk terpejam lagi.
Baik arti mimpi jika sekiranya itu bermakna, atau soal keterkaitan dengan bli Komang Pande Gus Jun tadi.

Ditunggu yah…

Satu Malam di Puri Bunda

Category : tentang Buah Hati

‘Aku diusir… oleh Perawat…’ celetuk istri sesaat setelah keluar dari ruang Resti, Intensif di RS Puri Bunda jumat malam tadi.

Ha ? Memangnya kenapa ? ‘Kelamaan didalam mungkin…’ jawabnya sambil tersenyum. He… ya pantes saja lah. Wong ruangan Intensif begitu…

Tapi ya wajar juga kalo kita yang namanya orangtua bakalan kangen begitu jenguk anak meski berada di ruangan Intensif sekalipun. Apalagi ini yang sejak lahir belum sempat ditimang.

Saya sendiri, merasakan hal yang sama. Apalagi yang namanya nggendong anak itu sudah seperti obat kuat, semua capek bahkan letih pikiran usai bekerja rasanya hilang entah kemana saat mulai bercanda dengan anak. Jadi ya wajarlah kalo kini kami pengen berlama-lama berada di ruang Intensif tersebut.

Akan tetapi kalo mengingat-ingat bahwa putri kita tidak sendiri di ruangan itu, ya wajar jugalah kalo para Perawat ‘mengusir’ kita dengan halus ketika sudah terlalu lama berada disitu. Bisa jadi ingin memberi kesempatan pada orang tua lainnya yang ingin menjenguk anaknya atau agar semua anak-anak yang dirawat bisa tidur dan istirahat yang cukup.

Maka ketika saya keluar ruangan lebih cepat dari biasanya, istripun kembali nyeletuk. ‘Diusir juga ya Pak ?’

Hehehe… enggak ada tuh. Mana berani mereka ngusir kalo badan saya yang segede gajah begini ? He…
Cuma karena si adik bobok terus daritadi ya saya pamit lebih awal agar tak mengganggu istirahat malamnya. Karena tadi pagi, ia menerima transfusi darah yang kedua.

Gek Ara 1

‘Adik pinter Bu, mimiknya habis…’ ungkap salah seorang perawat pada istri disela jenguk tadi. Kalo gak salah, mimik susu yang diberikan terakhir sudah masuk volume 15 ml, dengan dot pula. Wah… senangnya. Pantas saja jika berat badannya kini sudah mulai naik diatas 2 kilogram. Lebih dikitlah. Tapi itu sudah kemajuan kata mereka.

Besok pagi rencananya Gek Ara, demikian panggilan sementara yang kami beri padanya, akan menerima transfusi ketiga. Sekaligus kemungkinan pengambilan sampel darah untuk memastikan kondisinya. Apapun tindakan yang akan diambil, kami sudah percayakan sepenuhnya pada Tim di Puri Bunda. Tinggal urusan biaya yang hingga pagi tadi sudah menghabiskan dana sekitar 11 juta rupiah, kami tetap upayakan semampunya.

Sebetulnya jika memang memungkinkan, kami ingin sekali tinggal lebih lama di selasar ruang tunggu lantai tiga RS Puri Bunda ini. Akan tetapi di rumah masih ada dua anak yang pula membutuhkan perhatian kami. Jadi ya, dengan terpaksa adik kami tinggal dulu. Hanya bisa berharap ia akan mampu melewati semua tantangan ini, dan segera berkumpul dengan kami.

Baik baik ya Cantik… besok kami kesini lagi. Jenguk Adik Ara yang selalu kami kangeni. Sementara, bobok dulu ditemani panda kecil ya, sebagai tanda sayang Bapak Ibu padamu, serta simbol penjagaan kami selama di ruangan ini. We Love You…

Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013 (dalam Gambar)

2

Category : tentang KeseHaRian

Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang hadir di seputaran Kota Denpasar Tahun 2013 *Bagian ke 3…

image

image

image

image

Tentang Buku Pracasti Pande

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Ide untuk menyalin kembali Buku Pracasti Pande yang disusun semeton bli bagus Gede Saptha Yasa sebetulnya datang saat melihat halaman web WargaPanDe.org yang mulai lama terbengkalai akibat minimnya informasi yang dapat disampaikan. Rencana awalnya, isi keseluruhan buku akan di-scan dan disalin ulang kemudian dipublikasi satu persatu  agar secara content isi web tersebut dapat secara berkala ter-Update.

Buku Pracasti Pande yang kemudian saya dapatkan dari tangan Jero Mangku Wija dari Peraupan ini rupanya merupakan babad atau cerita yang mengisahkan semeton Pande Bratan meski dalam beberapa bagian sempat pula mengisahkan cerita turunnya Bhisama Pande di Pura Indrakila.

Sayangnya sebenarnya ada sebelas bagian yang mampu saya pecah dan publikasikan satu persatu namun mengingat bagian terakhir isinya cukup panjang, maka dengan terpaksa saya pending terlebih dahulu untuk memberi kesempatan tulisan lain hadir lantaran secara waktu dan kepentingannya sudah cukup mendesak.

Namun seperti Janji yang sudah saya sampaikan beberapa waktu lalu bahwa ketika buku ini selesai disalin ulang, kelak akan dipublikasikan dalam format digital untuk memudahkan Semeton lain menyimpan dan membacanya dimanapun berada. Itu sebabnya salah satu tujuan awal salin ulang buku ini adalah untuk menyebarluaskan pustaka yang ada kaitannya dengan Dharma Kepandean, dengan harapan semeton kami yang berada diluar Bali dapat pula menikmati ilmu yang sama dengan yang kami miliki.

Untuk itu, bagi semeton yang ingin mendapatkan Buku Pracasti Pande seperti yang telah kami sajikan bagian per bagian, silahkan mengunduhnya dari alamat berikut. Besar harapan kami, agar buku tersebut dapat disebarluaskan tanpa maksud komersial, untuk menghormati jasa besar bli Gede Saptha Yasa yang sudah bersusah payah menyalinnya sejak awal.

Download Buku Pracasti Pande (Beratan)

Terima Kasih, dan Semoga Buku yang berkaitan dengan Pande berikutnya bisa dengan segera disebarluaskan pula. Ohya, Selamat me-Tumpek Landep yah bersama Keluarga Besar Pande dimanapun Semeton berada.

Denpasar, Desember 2011 – PanDe Baik

Pracasti Pande (Bagian 10 – Turunan Pande Bratan terpencar)

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

TURUNAN PANDE BRATAN TERPENCAR

Pada suatu hari beberapa orang rakyat Ki Pasek Kayu Selem dan Batur menjajakan dagangan melalui desa Bratan. Sesampai disana matahari telah terbenam, hari siang berganti malam, dan mereka menginap di Desa Bratan. Yang menjadi pemimpin desa Bratan ketika itu adalah I Gusti Pande Bratan yang seharusnya bertanggungjawab dengan Keamanan desa dan melindungi orang pendatang yang menginap, supaya desanya tidak ternoda bila penginap itu mendapat bencana didesanya.

Tetapi agaknya mendapat cobaan dari Tuhan dan kutuk dari kawitannya Bhagawan Pandya Bhumi Cakti, maka I Gusti Pande Bratan timbul keangkuhannya, mabuk karena berasa diri kuat, tidak ingat dengan tata susila dan tata tertib adat desa. Maka disambutnya orang-orang niaga yang minta menumpang bermalam disana dan merampas barang-barang perniagaannya. Hal sedermikian itu acap kali dilaksanakan untuk mendapat keuntungan secara mudah.

Ki Pasek Batur tidak tertahan marahnya mendapat laporan berita yang mengecewakan itu, lalu memerintahkan oranmemukul kentongan desa, agar orang desa dan sanak keluarganya bersiap dengan senjata untuk datang ke desa Bratan menghukum orang Bratan yang suka melakukan karma.

Beberapa lama kemudian gemuruhlah orang-orang Batur datang lengkap dengan senjata, diantaranya Ki Pasek Batudingding, Ki Pasek Kayu Selem, Ki Pasek Cempaga, Ki Pasek Celagi Manggis, Ki Pasek Babalangan, Babandem, Poh Tegeh dan Pulasari, semua telah bersiap akan menggempur Pande Bratan. Setelah mendapat perintah mereka serempak berjalan menuju desa Bratan.

Setelah tiba ditempat yang dituju, maka terjadilah perkelahian yang sangat sengit diantara Pasek Batur dengan Pande Bratan. Perkelahian ini berlaku sehari penuh, sama-sama pantang mundur, tombak-menombak, tikam-menikam dengan keris dan pedang.  Disela-sela suara bedil, bangkai bergelimpangan tidak memilih tempat.

Akhirnya tidak kuatlah warga Pande Bratan bertahan, karena musuhnya sangat lebih banyak dan rakyatnva banyak yang  meninggal dunia. Sedang yang luka parah, semua menyesalkan perbuatan Pande Bratan yang tidak mengenal perikemanusiaan itu. Yang masih hidup segera berlari bersama anak isterinya serta membawa kepunyaannya seberapa yang dapat dibawa olehnya tersebar menuju desa lain.

Diantara warga Pande yang masih hidup segera lari pergi ke Taman seraya membawa “Pustaka Bang” yaitu Empu Djanggarosa. Pande Sarwadapindah ke Desa Kapal, Arya Pande Ramaya berasrama di Kawicunya, Empu Tarub pindah ke desa Marga, Arya Pande Danuwangsa pindah ke desa Gadungan, Arya pande Swarna pindah ke Buleleng menghamba kepada Ki Ngurah Panji Alot.

Arya Pande Tonjok pindah ke Panasan Klungkung, ada pula ke Tusan dan ke Badung. Arya Pande Karsana pindah ke Badung, Arya Pande Ruktya pindah ke Bangli, dibawa arca kawitannya dua buah, saudara sepupunya pindah ke Samu. Warga Arya Pande Bratan tidak boleh mengatakan ming tiga (bersaudara tingkat tiga sepupu) atau lebih, sejauh-jauhnya ming dua (mindon). Dinasehatkan tidak boleh lupa terhadap sanak keluarganya, bila lupa akan dikutuk oleh Bhatara di Penataran Arya Ida Wana yang menetap didesa Bajan menjadi undagi.

Tidak diceritakan panjang tentang para warga Pande itu masing-masing, hanva diceritakan di sini Empu Tarub yang berasrama di Marga, melakukan yoga di Penatarannya pada hari Tumpek Kuningan. Sedang hari tanggal (Cuklapaksa), menyembah (ngaturang bakti) pada kawitannya, maka ada  didengarnya sabda Bhatara dernikian.

“Hai puyutku, janganlah engkau bersedih terhadap kemelaratanmu ini, semua adalah kutuk Tuhan menurut karmapalamu sebagal keturunan brahmana yang berlaku jahat membunuh orang (naramangsa). Dan yang kamu bunuh itu adalah sanak saudara sendiri, turunan Pasek Batur, satu kawitan engkau dengan Warga Pasek, sebab mereka itupun keturunan Brahmana dari Empu Ketek kakak dari Empu Brahmaraja Kapandyan.

Kemudian blia engkau membangun yadnya suka atau duka sebaiknya jangan mempergunakan tirta Brahmana, beritahukanlah hal ini kepada  saudara turunanmu,  maksudnya supaya engkau sendiri jangan lupa kepada Dharma Kepandaian, terutama kepada brahmana pencipta alam ini.

Dan apabila engkau bermaksud bakti kepadaku, pada waktu Tumpe­k Kuningan, sembahlah aku dari “Pahibuhan”mu ini dengan hati suci bersih, suatu tanda engkau ingat padaku, aku puyutmu Empu Brahmana Dwala.”

Tidak diceritakan lebih lanjut halnya Empu Tarub di desa Marga telah menurunkan keturunan anak cucunya, dan tidak lupa dengan nasehat kawitannya yaitu tetap bakti kepada Tuhan dan leluhurnva, berkasih-kasihan dengan dengan masyarakat desa, setia kepada perjanjian, sehingga masyarakat desa sangat cinta kepadanya.

Kini diceritakan halnya Arya Pande Ruktya di Bangli tetap setia memegang pekerjaan pandai mas dan perak. Waktu itu yang berkuasa di Bangli ialah I Gusti Praupan dan I Gusti Dauh Pamamoran. Entah berapa tahun lamanya memegang kekuasaan maka saat Bangli digempur oleh I Dewa Tirtarum yang bergelar I Dewa Pamecutan disertai oleh para adik-adik bellau yaitu I Dewa Pring yang pindah di desa Braslka dan I Dewa Pindi yang berpurl di Pagesangan. Dalam pertempuran ini I Gusti Praupan tewas ditikam dengan keris yang bernama Ki Lobar.

I Gusti Dauh Pamamoran lari terus pindah ke Camanggawon dikuti oleh Arya Pande Ruktya dan sanak saudaranya Arya Pande Likuh yaitu turunan Pande Bratan.

Adapun Arya Pande Likub terus lari ke desa Timbul dengan membawa dua buah linggaarca kawitannya suami isteri. Tetapi didesa ini ia tidak mendapat penghormatan oleh orang desa sehingga dalam bahasa pergaulan dipandang sebagai orang biasa.

Arya Pande Ruktya bersimpangan lari dengan adiknya karena terus-menerus dikejar musuh, maka tibalah di desa Belahbatuh minta perlindungan Kryan Anglurah Djlantik dan terus diam disana. Tetapi tidak lama usianya tinggal di Belahbatuh maka akhirnya sakit karena kena racun lalu meninggal dengan tidak meninggalkan turunan, akibat ia lupa sama sekali dengan kawitan.

Setelah beberapa tahun berada dalam keadaan demikian, maka turunan Pande Bratan yang lari dari Bangli sadar akan diri dengan halnya sangat lupa dengan kawltan. Sebab itu diusahakannya membuat perahyangan “Ratu Kapandyan” dan “Dalem” Bangli. Semenjak itu baru mendapat kebahagiaan hidup. Demikian disebutkan dalam prasasti Dharma Kepandean.

Pracasti Pande (Bagian 09 – Pande Bratan dan Pande Sadhaka)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

PANDE BRATAN DAN PANDE SADHAKA

Diceritakan Brahmana Dwala setelah ayahnya Empu Gandring Cakti pulang ke Dewaloka, berkehendak akan madiksa menjadi pendeta, tetapi tidak adayang dipandang patut menjadi guru (nabe) di Madura. Untuk itu lalu dibuatnya Arca pelinggihan Empu Bumi cakti dan isterinya Dyah Amrtatma.

Setelah arcanya siap maka ditempatkan diruangan Padmasarana dalam asrama pemujaan (padewaharan). Tiap  hari tidak lupa memuja kawitannya. Tidak beda halnya dengan Sang Ekalawya anak Nisada, hendak turut bersama Sang Korawa, Pandawa dulu belajar ilmu panah kepada guru Drona. Tetapi oleh karena Ekalawya itu seorang keturunan Sudra, ditampik oleh Dang Hyang Drona. Sebab itu ia pergi ketengah hutan ditempat yang sunyi membuat arca lingga Drona.

Demikian pula Brahmana Dwala selalu memuja ditempat lingga kawitannya, karena taatnya maka kawitannya berkenan menganugerahkan Pustaka Bang kepadanya, yaitu ilmu kebahagiaan hidup dan mati. Sebab hikmah ilmu itu beliau hidup tenang dan suka bekerja asta gina, sehingga mendapat julukan anak Wicwakarma karena ahlinya, dengan gelaran Empu Dwala.

Dalam hidupnya berumah tangga telah mendapat dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Arya Pande Bratan dan adiknya bernama Arya Pande Sadhaka.Pada masa itu raja yang memegang pemerintahan di Bali ialah Cri Aji Batur Enggong dengan gelar Cri Maharaja (Dalem) Kresna Kapakisan. Dalem mengatur pemerintahan dibantu oleh para anglurah semua, para menterinya terkemuka Kyai Anglurah Agung Widhya dan Kyai Anglurah Dauh Baleagung sama ahli dalam pemerintahan negara. Negara Bali aman tenteram dalam perintahan Cri Maharaja (Dalem) Kresna Kapakisan di Gelgel, tidak ada beda dengan Bhatara Kresna disertai oleh Patih Udawa, kebijaksanaannya  mengatur pemerintahan.

Pada suatu ketika Dalem hendak membuat yadnya besar Ang Eka Daca Rudra di Besakih atas nasehat Pedanda Cakti Bawu Rawuh yang menjadi guru agama Dalem dan cudamanti seluruh Bali, karma kebesaran jiwanya seakan-akan penjelmaan Bhatara Pitamaha. Padanda diserahi Dalem memimpin yadnya itu dan mengepalai Para tukang kerja seperti Undagi, Sangging Prabhangkara, para pande Besi, Pujangga, semua cakap dalam pekerjaan. Hanya pande emas perak serta paham menilai serba permata terutama manik-manik. Ia diundang oleh Dalem agar datang ke Gelgel.

Tiada diceritakan halnya ditengah jalan, Empu Sadhaka telah tiba di Istana Gelgel. Sangat heran Sang Empu melihat banyaknya orang yang masing-masing asyik dengan pekerjaannya sendiri-sendiri dan dan cekatan dalam bekerja. Setibanya di istana Sang Empu menyembah dengan sujud kepada raja. Setelah mempersilahkan duduk maka Dalem bersabda.

“Hai Sang Empu,  saya minta tolong kepada Sang Empu, untuk membantu yadnva kami Ang Eka Daca Rudra, buatkanlah upacara yang diperlukan untuk itu.”

Jawab Sang Empu, “Baiklah tuanku. Hamba akan menjunjung sekalian titah Paramecwara untuk membuat segala upacara yadnya tuanku, menurut kekuatan dan pengetahuan hamba.”

Dalem lalu berkenan memberikan emas dan perak kepada Empu Sadhaka untuk dikerjakan. Sang Empu, setelah menerima dengan hormat pemberian raja, lalu mencari tempat yang layak untuk melakukan dharma Kepandaian. Sesudah siap maka Sang Ernpu melakukan yoga mempersatukan kekuatan batinnya terhadap ilmu kepandaian dan mengatur panca bayu serta menghidupkan Pancanyala (api lima) dalam badannya. Tiba-tiba menyalalah api dihadapannya yang keluar dari tapak tangannya, lalu bekerja.

Demikian pula Empu Pande Wesi dan Empu Bangkara masing-masing  mengeluarkan kekuatan batinnya. Dan para pandai kayu (wicwakarma) pun tepat caranya melakukan dharma laksana. Semuanya itu menuruti ajaran Analatatwa. Yang dinamai dengan ajaran Analatatwa ialah ajaran Sang Anala yaitu seorang pandai  pengiring bhatara Rama dulu dalam Utarakanda Carlta. Sang Pande Analagni, pembangun jembatan setubanda yaitu alat untuk menyeberangi lautan. Turunannya yangmasih ada sekarang misalnya Empu Swanangkara, Empu Kapandyan Wesi, Empu Sangging  Prabhangkara, Empu Dharmalaksana yang bergelar Empu Dharmaja, semuanya itu turunan Anala (Analawangsa).

Setelah Yadnya Ang Eka Daca Rudra itu selesai dengan selamat, maka sekalian para Pande diberi anugerah oleh Sri Adji Bali, demikian pula Empu Swarnangkara  puang ke asramanya di Bratan.

Lama kelamaan Empu Swarnangkara di asrama Bratan menurunkan keturunannya diantaranya bernama Arya Danu, Arya Suradnya telah menjadi pendeta (mediksa) bergelar Pande Rsi. Adik-adiknya bernama Pande Tusta dan Pande Tonjok yang bekerja membuat senjata tajam. Yang terbungsu bernama Ida Wana, bekerja menjadi sangging yang  sangat pandai.

Ketika Empu Wulung telah kembali ke alam baka, anak-anaknya semua telah ahli dalam hal Dharma Kepandaian.

Pracasti Pande (Bagian 08 – Batur Kamulan)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BATUR KAMULAN

Empu Gandring Cakti, setelah melalui beberapa kesulitan dan rintangan dengan menggendong anaknya, maka pada suatu hari tibalah juga diasrama Madura dan menghadap ayahnya.

“Anakku Gandring,” kata Empu Bhumi Sakti “betapa hasil pekerjaanmu kusuruh mencari adikmu?”

Empu Gandring Sakti menjawab secara singkat, karena diketahui ayahnya ahli dalam ilmu gaib Duradarsana, dapat melihat alam yang dekat maupun yang jauh, tidak berani ia bercerita yang tidak sebenarnya

“Pekulun ayah pendeta, adik Empu Galuh bermaksud akan mengusahakan kamoksan, meniru Dharmanya seorang Brahmana suci. Ia kini dijadikan sebagai Kili (pelayan perempuan) oleh Hyang Tohlangkir, mengganti dan digelari Sang Kul Putih.”

Sangat sukacita ayahnya mendengar keterangan Empu Gandring Cakti. lalu ia pun berkata.

“Hai anakku Gandring, ayah telah tahu dengan keadaan dan maksud adikmu, kini aku ingin meninjau asrama adikmu Empu Galuh, engkau tinggallah diasrama ini. Kini telah selesal tug as ayah didunia, mengembangkan turunan anak cucu, engkau patut melepaskan ayah pergi ke sorgaloka sekarang.” Demikian kata Empu Bhumi Cakti, tiba-tiba musnah sekejab mata, kembali ke Brahmaloka.

Diceritakan Brahmana Dwala, setelah umurnya meningkat dewasa tamaruna, masyur pandai mengarang syair dengan bahasa Kawi (jawa kuno), pandai dalam pekerjaan tangan terutama ilmu kepandaian, sehingga masyarakat sekitarnya sangat sayang dan hormat padanya.

Pada suatu hari pergilah Brahmana Dwala kegunung Indrakila hendak meninjau hal ayahnya Empu Gandring Cakti yang telah lama bertapa digunung itu  dengan maksud mencipta Hyang Agni, untuk pulang ke Brahmaloka. Setibanya disana, dilihat ayahnya sedang melakukan pranayama, badannya sangat kurus suatu tanda tidak pernah makan dan minum. Bercucuran air matanya melihat keadaan ayahnya, karena tertarik suatu cinta bakti terhadap ayahnya, maka timbul hasratnya untuk mati mengiringkan ayahnya. la duduk disebelah ayahnya melakukan yoga.

Tiba-tiba berhamburan hujan bunga jatuh dari angkasa dengan bau harum yang sangat semerbak disertai dengung suara weda mantram didengar oleh Brahmana Dwala. Tidak berapa lama datang roh suci Empu Shiwa Saguna, tampak berdiri dihadapan Empu Brahmana Dwala, seraya berkata dengan lambat.

“Om, Om, cucuku engkau Dwala, dengarkanlah kataku ini.  Aku  datukmu Empu Shiwa Saguna yaitu adik kedua dari datukmu Bhagawan Pandya Empu Bhurni Cakti. Kini datukmu telah kembali kealam acintya dan acapkali datang ke­Besakih di penataran kepandean. Jangan sekali-kali engkau lupa dengan kawitanmu di Besakih sampai pula kepada anak cucumu dikemudian hari.

Lain dari pada itu, apabila engkau sungguh-sungguh ingin bekerja dalam hal pandai-memandai, harus dipelajari dharma kepandaian. Lihatlah pustaka Kamulan, jika engkau hendak meniru kawitanmu Empu Bhumi Cakti. Sangat sulit orang yang hendak bekerja emas dan perak demikian pula dengan senjata tajam, jika tidak tahu ilmu Batur Kamulan, terutama ajaran Panca Bayu.

Yang dinamai Ajaran Panca Bayu, ialah Prana, Apapa, Samana, Udana dan Byana.

  1. Prana, nafas atau bayu dari paru-paru melalui hidung, merupakan ububan atau penghembusan
  2. Apana, nafas atau bayu yang asalnya dari perut dan tempat kencing, merupakan Jembangan
  3. Samana, nafas atau bayu hati, merupakan api dari badan
  4. Udana, nafas atau bayu dari ubun-ubun, merupakan garam dari badan
  5. Byana, nafas atau bayu dari seluruh sendi tulang, merupakan landasan dipaha

Palunya tangan , sepitnya jari tangan. Demikian banyaknya dharma melakukan ilmu kepandean. Lain dari itu harus melepaskan Asta Candala dari diri pribadi. Yang disebut dengan Asta Candala yaitu :

  1. Lamahat (membuat tuak)
  2. Amalanting (menjadi melandang judian)
  3. Anjagal (menjual daging mentah)
  4. Amande lemah (membuat periuk belanga dari tanah)
  5. Anyulendang (menerima upahan menumbuk padi)
  6. Anapis (makan sisa makanan orang lain)
  7. Tidak boleh makan Kelekatu (Dedalu) dan ikan Pinggulan (Jeleg)
  8. Tidak boleh makan buah Kaluwih (Timbul)

Itulah pandangan-pandangan dari orang yang bekerja ilmu kepandean. Dan nasehatku lebih lanjut, apabila ayahmu Empu Gandring Cakti meninggal nanti, tidak perlu dibuat upacara lagi, karena telah sempurna jiwanya dalam ilmu kepandaian. Dan jangan dimintakan tirta pendeta brahmana lagi, khawatir kalau-kalau pendeta brahmana itu belum sempurna, dapat memberatkan roh ayahmu jatuh ke neraka.

Ini pula patut engkau ketahui, yaitu “Kamandakan Carita”

Dahulu kala adalah seorang brahmana bernama Bhagawan Dharmacwami sedang berada dihutan dengan maksud akan melakukan tirtagamana. Tiba-tiba berjumpa dengan sebuah sumur yang berisi air. Sang Bhagawan bermaksud menimba air. Timba diturunkan kedalam sumur, waktu diangkat berasa berat yang disangka berisi air, akan tetapi berisi manusia yang kurus kering, yaitu Pande Swarnangkara (Pande Emas) dari Madura. Diturunkan pula berturut-turut, sampai tiga kali diangkat berturut-turut berisi binatang kurus-kurus, yaitu harimau, ular berbisa dan kera. Ketika ditanya masing-masing menerangkan sebabnya jatuh kedalam sumur itu. Rupanya disebabkan tiupan angin puting beliung (linus). Setelah diperciki air tirta peneguh jiwa, maka masing-masing menyembah mengucapkan kasih dan mohon diri.

Pada suatu hari harimau itu membunuh seorang raja putera Madura yang sedang berburu, pakaian keemasannya diambil seluruhnya diaturkan kepada Bhagawan Dharmacwami  sebagai pembalasan jasa.

Sekembalinya dari hutan melakukan tirtagamana, Sang Bhagawan berkunjung kerumahnya Pande Swarnangkara membawa pakaian keemasan yang diberikan oleh harimau dihutan, untuk dibuat pakaian kependetaan. Swarnangkara tidak menolak permintaan Bhagawan DharmaCwami karena merasa hutang jiwa.

Setelah Sang pendeta pergi dari rumahnya maka si Swarnangkara memperhatikan pakaian keemasan itu, dan nyata olehnya bahwa pakaian itu adalah pakaian kebesaran raja putera Madura yang diterkam harimau, asal perbuatannya sendiri. Sebab itu ia segera menghadap keistana Madura membawa dan mempersembahkan pakaian itu kepada raja.

Raja Madura sangat heran mendengar keterangan si Swarnangkara, bahwa pakaian raja puteranya yang diterkam harimau itu dibawa oleh Bhagawan Dharmacwami. Timbul dalam pikirannya bahwa kematian puteranya karena dibunuh oleh pendeta tersebut. Sebab itu timbul murkanya lalu memerintahkan tentaranva menangkap Sang Bhagawan.

Tiada lama antaranya maka dijumpai Bhagawan Dharrnacwami, lalu ditangkap dan diikat dengan perkasa serta ditimbuni duri walatung.

Sementara itu tiga ekor binatang yang berhutang jiwa yaitu yaitu harimau, ular berbisa dan kera mendengar Sang Bhagawan menderita, maka tiga ekor binatang itu mengusahakan agar Sang Bhagawan bisa terlepas dari hukuman dan duka cita. Upaya mereka berhasil sehingga Bhagawan berhasil terlepas dari hukuman berat.

Ketika itu Sang Pendeta merasa menyesal terhadap karmapalanya, karena Beliau bersahabat balk dengan penjahat (harimau). Dan ditimbang-timbang, bahwa perbuatan si Swarnangkara demikian itu tidaklah keliru, karena ia memegang Dharma Kepandaian, tidak sewajarnya bersahabat baik dengan Brahmana. Waktu itu Sang Bhagawan bersumpah.

“Ya Sang Hyang Trayodacasakti terutama Sang Hyang Caturlokapala, bhatara yang menjadl saksi seluruh alam. Mulai hari ini Brahmana sebagai sava ini tidak akan bergaul dengan penjahat sebagal tingkah laku harimau yang memberi saya emas manik dahulu. Bila ada turunanku kelak bersahabat dengan penjahat, semoga tidak sempuma segala usahanya didunia. Dan semenjak hari ini saya sebagai brahmana tidak boleh memberikan tirta kepada turunan si Swanangkara,  karena saya merasa kalah dalam hal wiweka terhadap si Swanangkara.”

Demikian sumpahnya Bhagawan Dharmacwami, sebab itu pada waktu menyelesaikan jenazah ayahmu Empu Gandning nanti, jangan sekali-kali minta tirta Brahmana.

Demikian nasehat roh suci Empu Ciwa Saguna kepada Brahmana Dwala, maka maka yang diberi nasehat lalu menyembah, katanya “Ya datuk pendeta, seakan-akan menerima percikan air Amrta hamba sang pendeta, menampung sekalian sabda datuk pendeta. Hamba akan menurut segala amanat datuk.” Setelah memberi ucapan restu, sosok jasmani Empu Ciwa Saguna musnah dari pandangan.

Pracasti Pande (Bagian 07 – Brahmana Dwala)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BRAHMANA DWALA

Sementara itu diceritakan Empu Gandring Sakti disuruh oleh ayahnya untuk mencari adiknya Empu Galuh, sebab telah lama tidak kelihatan di Madura. Demikianlah berbulan-bulan Empu Gandring Cakti mencari adiknya diseluruh desa dan tempat-tempat sunyi  didalam hutan dan tak jua ditemuinya, bahkan kabarnyapun tidak pernah didengar.

Dalam usahanya terakhir, ia melakukan yoga  hingga melepaskan cariranya (badan astral) pergi keseluruh desa  dengan cepat hingga sampailah ia kegunung-gunung di  pulau Bali dengan pandangan yang sangat tajam. Tiba-tiba dilihat adiknya yaitu di kaki Gunung Agung. Setelah nyata dilihatnya maka diselesaikannya yoga dan pergi ke Bali melalui hutan pegunungan.

Pada waktu matahari terbenam berhentilah Gandring Cakti dibawah pohon randu. Saat itu, keluarlah Raksasi yang dasyat dari sebuah gua, karena mencium bau manusia. Setelah terlihat olehnya manusia laki-laki yang tampan lalu berteriaklah Raksasi itu dengan suara keras dan berkata, “Hai engkau manusia apa kerjamu datang kemari? Aku adalah seorang Raksasi yang ingin makan daging manusia.”

Ketika itu Empu Gandring Sakti segera mengucapkan matram WisnuPancara Murti, yang dapat menyebabkan Raksasi itu sabar hati sambil berkata, “Om engkau Raksasi, saya adalah seorang Brahmana dari Madura, anak Bhagawan Padya Bumi Cakti. Saya ergi ke Bali diminta ayahku untuk mencari adikku Empu Galuh.”

Mendengar kata Empu sedemikian itu maka niat Raksasi yang semula ingin memakan daging manusia lalu berubah seketika menjadi cinta mesra dan bangkit nafsu kewanitannya hendak mempersuamikan Empu itu, maka keluarlah kata-kata membujuk minta dikasihi.

“Ya Sang Empu Patik, mohon dengan hormat semoga Sang Empu belas kasihan pada Patik yaitu memberikan seorang anak yang akan melepaskan (menyupat) Sengsara Patik waktu sarnpai ajal akan pulang ke Dewaloka.”

Demikian permohonan dan buiukan Raksasi kepada Empu Gandring Cakti, tidak beda halnya sebagal Dyah Hidimbi berkehendak bersuami kepada Sang Bhimasena. Belas kasihan juga Empu Gandring terhadap Raksasi itu, dan berkata “Hai Raksasi, jika demikian benar kehendakmu , lepaskanlah sifat keraksasaanmu, aku mau menerima engkau sebagai isteri, sebab aku tidak boleh menolak orang yang minta bantuan.”

Raksasi sangat girang mendengar kata Sang Empu demikian, maka seketika itu dengan segera mengubah dirinya dari rupa yang menakutkan menjadi cantik menarik, laksana bidadari turun dari sorga, lalu berkata dengan sopan santun.

“Hai suami, lihatlah sekarang rupaku. Sebagai seorang Raksasi dapat melakukan dirinya sekehendak hatinya. Marilah kita pulang kerumah kita dekat sini karena saya tidak kuat lagi menahan birahi, seakan-akan hangus hati saya dibakar api asmara.” Demikian kata ajakan Raksasi

Mendapat sambutan balk oleh Empu, lalu mereka berdua masuk kedalam goa, menikmati rasa cinta asmara bersuami isteri seperti halnya Hidimbi dengan Sang Bhima.

‘Adikku Dyah Giricewaka,” kata Empu kepada isterinya yang telah diberi nama demikian, “tinggallah adik dirumah, kanda akan melanjutkan perjalanan ke Bali, untuk mencari adik kandungku Empu Galuh. Jagalah anak kita yang masih didalam kandungan.”

Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari Sang Isteri maka Sang Empu berangkat menuju Besaklh. Setibanya disana ditemui adiknya sedang melakukan yoga semadhi. Takjub Empu Gandring melihat adiknya demikian. Setelah selesai yoganya, maka Empu Galuh turun dari tempat duduknya, datang menyongsong kakaknya yang sedang menanti dihalaman asrama, dengan berkata pelan dan hormat.

“Ya kakak Empu yang sangat saya muliakan, Saya menghaturkan sekar Karangkus, Om Nama Ciwa Buddha Ya.”

“Adikku yang tercinta,” jawab Empu, “kakak tahu bahwa adik selalu memuja Tuhan yang disebut Ciwa atau Buddha, yang menjadi jiwaku juga. Kakak diutus ayah mencari adik, kini kakak tahu bahwa adik telah melakukan ajaran Sang Kul Putih untuk menunaikan Bhakti Marga kepada Hyang Widhi, Om Nama Ciwa Buddha Ya. Kakak sangat setuju dengan pelaksanaanmu sebagai  seorang Brahmani taat melakukan samadhi untuk mendalami filsafat hidup dan mati.”

“Lanjutkanlah cita-cita adik ini agar kemudian dapat manunggal kepada Hyang Widhi yang menjadi sangkan paran seluruh alam ini.” Demikian nasehat Empu Gandring Cakti menyebabkan senang hati Dyah Kul Putih.

Tiada diceritakan halnya dalam perjalanan Empu gandring Cakti setelah tiba di rumah Raksasi isterinya, Dyah  Giricewaka yang telah menggendong anak laki-lakinya yang baru beberapa pekan iahir, datang mengelu-elukan suaminya, lalu berkata.

“Ya suamiku Sang Empu, selamat datang, inilah putra Sang Empu laki-laki.” Dengan senang hati Sang Empu sambil menimang anaknya, dan berkata “Adikku Giricewaka, telah lama kakak pergi dari Madura dan kini sudah waktunya kakak menyampaikan kabar baik ini pada ayah, anakku ini akan aku bawa ke Madura.”

“Wahai Sang Empu yang kucinta dan kuhormati,” jawab Giricewaka “apa dayaku, terpaksa aku tidak dapat menyertai Sang Empu, karena keadaan berbeda dengan manusia. Ini anakku sebagai persembahan jiwaku yang patut mengiringkan Sang Empu di dunia kelak. la kunamai Brahmana Dwala, sebagai wala (bhakti) jiwaku.” Demikian kata Dyah Giricewaka dengan air mata berlinang.

Pada saat berangkatnya Empu Gandring Cakti menggendong anaknya, waktu perpisahan Dyah Giricewaka memberi restu kepada anaknya, “Om Abhyayam Sarwa Bhayam, Adurgama Sindhu Wanam, Anakku Brahmana Dwala, Semoga engkau panjang usia, mengemban turunan orang baik-baik, tidak mendapat bahaya engkau didalam hutan rimba belantara, dalam kuburan, dalam kali dan laut, tidak terhalang oleh mahkluk yang berjiwa ganas. Aku ibumu saat ini telah pulang kesorga karena telah dilepaskan papaku oleh ayahmu.”

Demikian akhir kata sang Raksasi, lalu berubah badan jasmaninya menjadi bidadari, kemudian musnah dari pandangan.