Mimpi Sedih itupun datang lagi

1

Category : tentang DiRi SenDiri

entah karena terlalu memikirkan akan rasa kehilangan yang teramat sangat, atau kebetulan saja sedang melakukan aktifitas yang mengingatkanku pada sosok almarhum kakak kandung, mimpi sedih itupun datang lagi di malam hari, hadir dan menjadi bunga tidur yang cukup membuatku gelisah saat terbangun.

Ini adalah kali kedua aku memimpikannya kembali…

Pertama, saat aku menyusun dokumentasi foto almarhum sedari ia kecil, masa sehat hingga sakit dan akhirnya meninggalkan kami, kakak seolah datang menghampiriku dalam mimpi dan mengingatkanku agar secepatnya menyelesaikan pekerjaan tersebut. Entah apa maksudnya. akan tetapi dalam dunia nyata, dokumentasi tersebut memang jeda sehari kususun akibat waktu luang yang kumiliki, tak banyak setiap harinya kini. Bisa jadi ini hanyalah sebuah bunga tidur dari ‘beban tambahan’ yang kuciptakan sendiri, bisa juga sebagai satu kenangan akan kebiasaannya yang memang memintaku agar secepatnya menyelesaikan pekerjaan saat ia masih ada dahulu…

Kini mimpi itu datang lagi. Setelah sekian lama aku berusaha untuk melupakannya agar tak larut dalam kesedihan hingga mengganggu rutinitas kerja yang kini lebih diutamakan, ia datang mengingatkanku agar tak melupakannya.

Ia pun hadir kembali dalam tidur malamku lengkap dengan prosesi kematian yang katanya tak dapat kusaksikan secara langsung akibat kesibukan adat di lingkungan rumah. Cerita yang kudapat hanyalah di saat-saat terakhir ia pergi, kakak bertanya dimanakah aku berada, dan kenapa aku melupakannya begitu cepat ?

Jujur, hal-hal ini kadang membuatku harus tertegun dahulu saat terbangun dalam gelap dan pada akhirnya berusaha untuk melupakannya kembali dengan menuliskannya. Satu hal yang sulit namun harus dialami dan dijalankan mengingat hidup akan tetap berjalan terus dan kita akan tergilas jika sampai terdiam ditengah jalannya.

Ya, aku memang berusaha untuk melupakannya kini. Hingga sore sebelumnya, sang suami, kakak iparku datang meminta tolong untuk dibuatkan Surat Ahli Waris untuk pengajuan klaim Asuransi dan lain sebagainya, yang memang pula sempat mengingatkanku untuk beberapa saat, ketika mengetikkan namanya pada lembar keterangan yang dimaksud.

Ah kakak, kenapa juga aku harus mengalami hal ini ?

Mengenang Kakak, Pande Made Hartiasih

2

Category : Cinta

Saat awal aku terdeteksi menderita Diabetes, balkon kantor di Bidang Pengendalian dan Evaluasi Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, merupakan salah satu tempat nongkrong favorit di pagi hari sesaat setiba di ruangan sebelum mulai bekerja. Tujuan utamanya hanyalah untuk berjemur, menikmati hangatnya matahari pagi yang hingga kini masih dengan gratis dan bebas kita nikmati…

Disinilah banyak ide tulisan lahir dan diselesaikan lantaran tempatnya yang terbuka dan leluasa, dengan pemandangan yang suka bikin kangen setiap harinya. Demikian halnya dengan pagi ini.

Hari ini, hari kelima kami kehilangan kakak, orang yang aku sayangi sejak kecil meski tak pernah diungkap secara lugas padanya. Namun apa yang aku lalui selama ini baik sebelum dan sesudah pernikahan dan berkeluarga, cukup membekas. Lantaran hanya dia, kakak yang mampu aku miliki selama ini secara dekat. Meski kami terpaut 8 tahun, namun kehadirannya selama ini kerap menjadi teman bicara kalo aku sedang dalam masalah.

mbok mami Hartiasih-PanDe Baik

Hari ini merupakan hari kelima pula, ia terbaring kaku dalam balutan kain kafan diatas tempat tidur ruang jenasah Rumah Sakit Wangaya. Diluar fasilitas pendingin yang kabarnya hanya dapat digunakan dua unit saja. Masih berada disana karena dari pihak keluarga suaminya, baru dapat memutuskan rencana kepulangannya siang ini. Berhubung terbentur kendala beberapa upacara yang telah lama pula dipersiapkan.

Kadang aku masih suka kangen pada kehadirannya yang begitu kunanti setiap akhir pekan. Karena disitulah kami bisa berkumpul bersama anak-anak dan orang tua kami, serta mengajak mereka untuk sekedar menikmati waktu di warung makan yang kami inginkan. Lalu bertukar cerita dan bersenda gurau.

Pemandangan biasa yang selalu aku lihat dan nikmati adalah saat ia marah lantaran sang suami yang memang malas bangun pagi, sehingga kerap beberapa kegiatan yang sudah kami rencanakan berangkat lebih awal jadi molor beberapa jam. Demikian halnya dengan kemanjaan si anak, Prasta, keponakanku yang kadang suka meminta hal-hal aneh secara dadakan. Jika sudah demikian, kakak akan menggerutu meski dalam amarahnya, sebenarnya ia memiliki rasa sayang yang besar pada kedua laki-lakinya tersebut. Setidaknya itu yang aku ketahui saat membaca satu persatu kalimat yang ia buat dalam Surat Wasiat yang kami temukan dalam tas, minggu sore pasca kepergiannya.

Demikian pula untuk bekal bagi kedua orang yang disayanginya itu, sudah dipersiapkan sejak awal dalam bentuk jaminan hari tua, asuransi dan tabungan. Satu hal yang barangkali kemudian melecut perasaanku untuk minimal bisa berbuat hal yang sama kelak.

Balkon ruangan sudah mulai terasa panasnya. Matahari pun mulai beranjak naik, dan aku masih terpekur sendiri ditemani segelas kopi yang sudah mulai dingin.

Pagi ini jelas menjadi sedikit berbeda dari biasanya. Karena kini suasana hati sepertinya sudah tak dapat ditawar lagi. Kutumpahkan saja semua.

MiRah putri pertama kami adalah yang paling ia sukai untuk diajak bercanda. Mungkin lantaran keinginannya untuk bisa memiliki seorang putri, tak jua terkabul. Pun demikian saat kehamilan terakhir yang ia miliki, saat positif mengidap kanker tempo hari, harus rela gugur lantaran janin tak berkembang.

Sama halnya saat kehadiran InTan, putri kedua kami, Di sela rasa sakit yang ia derita, kakak masih menyempatkan diri untuk menggendong keponakannya selama beberapa saat di sabtu atau minggu pagi, bahkan terkadang ia tetap bersikeras ingin mengajaknya dalam waktu yang lama.

Hampir semua urusan rumah tangga rupanya ia handle tanpa peran suami. Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat sang suami menangisi kepergian istrinya, dan mulai merasa pesimis dengan hidupnya kelak. Bagaimana cara mendidik dan menjaga sang anak, menyekolahkan hingga minimal bisa membelikannya baju dari hasil keringat sendiiri. Ya, ternyata jangankan untuk si anak, untuk istripun ia mengaku belum pernah membelikan apa-apa sejak pernikahannya dahulu. Yang akhirnya baru aku sadari bahwa ini merupakan satu resiko kealpaan kerja sang suami dalam hidup berumah tangga.

Kalau tidak salah ingat, topik pembicaraan kami yang terakhir adalah terkait keterlibatannya dalam tim Panitia Pengadaan Barang/Jasa di kantornya, PDAM Kota Denpasar. Yang dilakoninya dalam posisi menjabat sebagai salah satu Kasubag disana. Ia bercerita banyak tentang kondisi Pengadaan yang terjadi di PDAM Kota, yang notabene masih diselenggarakan secara konvensional. Ia banyak bertanya tentang LPSE yang selama ini aku ceritakan. Pun dengan pembaharuan beberapa peraturan yang terkait dan kegiatan sosialisasi perubahannya. Saat itu, ia masih dalam kondisi sehat tentu saja.

Namun sejak ia positif dinyatakan menderita Kanker Lidah, hampir tak ada hal serius yang pernah kami diskusikan lagi. Lantaran ia lebih banyak diam dan menahan sakit yang dirasakan, dan aku hanya bisa merasa kasihan melihatnya.

Beberapa bulan sebelum kepergiannya, ia sempat meminta padaku untuk mengcopykan games Magic Lines (yang biasanya dikenal dengan nama Bola Bola dikalangan Pegawai Negeri Sipil) pada perangkat ponsel yang baru ia beli, menggantikan Nexian Berry terdahulu yang telah mulai kadaluwarsa. Sayangnya, ponsel yang ia beli tak dapat melakukan instalasi games yang dimaksud. Maka akupun memberikan perangkat NetBook HP Mini yang sudah lama tak kupakai untuknya. Kebetulan di perangkat tersebut, games Bola Bola masih tertanam dengan baik, lantaran Istri dahulu juga sempat keranjingan memainkannya. Sayang, ia tak mampu menggunakannya lebih lama, lantaran kondisi kesehatannya yang tak lagi memungkinkan.

Yang kini kupikirkan hanya satu. Prasta, putranya.

Aku bisa membayangkan betapa pedihnya ia ditinggal sang Ibu, meskipun mungkin sudah lama ia rasakan demikian. Namun kini, sosok sang ibu sudah tak ada lagi secara fisik didepannya. dan aku hanya bisa terdiam melihatnya tertidur dalam kesendiriannya tanpa adanya sang ibu disisinya. Yang aku tahu, hingga kini ia belum juga mau tidur di rumah bersama sang Bapak. Entah karena takut teringat pada sang Ibu ataukah ada alasan lain.

Esok pagi, kami akan memulai prosesi upacara Pengabenan sesuai rencana. Aku hanya berharap bahwa prosesi dapat berjalan dengan lancar dan sesuai harapan, meski hingga kini aku masih belum rela dengan kelihangan ini. Entah hingga kapan aku bisa menerimanya dengan lapang dada, malahan bisa jadi hingga aku bisa menumpahkan semua uneg unegku di media ini, meski dengan resiko penurunan tingkat kunjungan. Karena hanya di media ini saja yang masih bisa aku miliki untuk bersuara lebih lepas tanpa beban.

Pande Made Hartiasih, 16 Agustus 1970… 12 Mei 2013…

Ia pergi tepat saat hari kelahiranku, Minggu Umanis wuku Merakih. Mungkin itu diambilnya agar lebih mudah mengingatkanku kelak.

Ah, aku akan tetap merindukan masa-masa ini, pun halnya dengan kehadiran kakakku…

Akhirnya, kakakku berpulang pada-NYA

10

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Telpon berdering pagi hari, sesaat usai aku bangun dari tidurku, masih mengajak Intan bercanda di sofa usang, dan bathinku telah bisa menebaknya…

Tanpa menunggu banyak waktu, aku bersiap dan memanggil Bapak untuk meluncur ke Rumah Sakit Wangaya secepatnya. Kakak sudah dalam kondisi kritis.

Setiba di kamar 307, aku bergegas menuju ruang jaga perawat dan meminta informasi selengkapnya agar bisa mengabarkannya pada suaminya dan ibu dirumah. Kakak masih dalam kondisi koma, tekanan darahnya drop 40/60… Hasil pemeriksaan gula terakhir sekitar 147…

Perawat datang membawa alat untuk memeriksa denyut, dokter pun hadir untuk memastikannya…

Kakakku telah berpulang pada-NYA…

Masih lekat di ingatan, permintaan terakhirnya untuk pulang kerumah… Yang ia sampaikan pada suaminya kemarin… Mungkin itu sudah merupakan satu tanda darinya pada kami… Dan akupun telah menyadarinya sejak awal…

Pande Made Hartiasih, seorang kakak yang lahir 42 tahun yang lalu kini telah pergi… Meninggalkan kami yang masih terpekur disini…
I LOVE YOU mbok Mami…