SeLesai sudah… Upacara pengabenan PanDe KeTut NaDHi

5

Category : Cinta

Pande Ketut Nadhi
kami memanggilnya Pekak (kakek) Titih.
Telah meninggalkan kami, tanggal 3 Februari 2009 pukul 03.30 dini hari di ruang ICU Rumah Sakit Wangaya Denpasar, dengan meninggalkan seorang Istri, tujuh (dari sembilan) orang anak, sembilan belas (dari dua puluh) orang cucu dan dua puluh orang cicit.
> PanDe Baik merupakan cucu nomor sepuluh dari anak kedua Beliau, apabila diurutkan berdasarkan tanggal kelahiran <
> Mirah Gayatridewi, putri kami merupakan cicit paling bungsu yang lahir pada tanggal 18 Maret 2008 lalu <

untuk menghormati BeLiau disaat terakhirnya, saya lampirkan beberapa foto Beliau yang sempat saya ambil gambarnya dengan kamera digital Konica Minolta X31 3,2 MP dan juga Nokia CDMA 6275i 2,0 MP. Sebagai berikut :

29 Januari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dirawat di paviliun Praja Rumah Sakit Wangaya Denpasar, kamar 108

3 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dinyatakan meninggal pukul 03.30 dini hari di ruang ICU, dan dibawa kerumah duka di Jalan Sumatra gg.III no.3 Denpasar untuk dimandikan oleh keluarga

5 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, dimandikan kembali oleh krama banjar Titih beserta seluruh kerabat dan keluarga besar. Upacara ini dinamakan ngeRingkes

9 Februari 2009, kami melaksanakan upacara mejauman untuk Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi. Upacara ini dikenal dengan ngaJum.

10 Februari 2009, upacara pengabenan Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, ke setra Badung di jalan Imam Bonjol. Diantar bersama-sama dengan pengabenan almarhum (pemilik Hotel Suranadhi) rekan sesama Kelihan pada periode yang sama, yang juga meninggal pada tanggal yang sama

10 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, nganyut ke Segara pada pukul 18.30 sore

10 Februari 2009, upacara ngeLanus / meMukur Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, pukul 21.00 malam, yang dilanjutkan dengan nganyut ke Segara pada pukul 01.30 dini hari 11 Februari 2009

10 Februari 2009, Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, merupakan salah satu anggota LeGiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) untuk wilayah Kota Denpasar. Untuk itu pula, peti jenazah BeLiau diselimuti oleh bendera merah putih, dikawal oleh bendera merah putih pula pada saat pengantaran jenazah ke Setra Badung, dan mendapatkan penghormatan terakhir dari rekan-rekan BeLiau. Sebelum diberangkatkan dari rumah duka (penyerahan jenazah dari keluarga kepada LVRI) dan sebelum dibakar (penyerahan jenazah kembali dari LVRI kepada pihak keluarga).

Mei 1937, foto kenangan Pekak Titih, PanDe Ketut NaDHi, di Banjar Tainsiat. Tempat asal BeLiau sebelum akhirnya menikah / nyentana ke Titih. Sebuah foto yang menjadi pe-er bagi PanDe Baik, agar dapat dicetak dalam ukuran besar sebelum BeLiau meninggal. Syukurlah tugas ini bisa tercapai dengan baik pada tanggal 23 Oktober 2008 lalu, saya selesaikan tepat pada saat ulang tahun Ibu (anak kedua BeLiau) yang ke-60.

Semoga saja kami yang ditinggalkan, dapat melanjutkan perjuangan BeLiau sesuai kemampuan bidang kami masing-masing.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Mengenang Pekak Titih Pande Ketut Nadhi

Category : tentang KeseHaRian

Jika saya melihat jauh kebelakang, sebenarnya Pekak Titih bukanlah orang jauh keluarga kami dari pihak Bapak. Beliau lahir dan besar disebelah rumah kami, sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Beliau meninggal pada usia 85-an tahun, selisih sedikit dengan kakak perempuannya yang meninggal pada akhir tahun 2008 lalu. Beliau sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan Bli Tut Nadi oleh generasi Bapak dan saudara-saudaranya.

Status pernikahan Beliau dengan Istrinya (Nenek saya) adalah Nyentana. Jadi, rumah yang Beliau tempati sekarang sebenarnya merupakan hak waris yang dimiliki oleh Nenek. Tak heran, barangkali itu sebabnya Pekak sering mengalah pada Nini (sebutan kami pada Nenek) jika terjadi pertengkaran. Perkawinan Beliau dikaruniai sembilan orang anak, dimana dua anaknya meninggal mendahuluinya. dan Ibu saya merupakan anak kedua dari mereka.

Pekak dan Nini sebetulnya pada jaman saya kecil dahulu, dikenal orang sebagai pasangan guru Modes (kursus menjahit) dimana keahlian itu menurun dengan baik pada Ibu saya. Nama usaha itu adalah Modes Ratnadi. Berasal dari gabungan nama mereka berdua. Ratna adalah nama Nini dan Nadhi adalah nama Pekak. Modes ini sangat terkenal pada masanya, dan salah satu murid asuhnya waktu itu adalah Bapak saya. Bapak sudah ikut dengan mereka berdua sejak ia meninggalkan bangku sekolah SMP, usai kematian Pekak dari pihak Bapak.

Selain membuka sekolah Modes, Pekak juga membuka usaha menjahit di Gajah Mada. Tepatnya pada gedung yang tempo hari dilanda kebakaran. Bapak dan Ibu pasca perkawinan mereka, juga termasuk yang melanjutkan menempati los tersebut sebagai mata pencaharian utama. Saat saya kecil, seringkali diajak mampir ke tempat tersebut.

Satu-satunya ingatan saya akan masa kecil dahulu bersama Pekak, adalah saat saya untuk pertama kalinya diajak jalan-jalan mengitari areal gedung Gajah Mada tersebut. Bersama seorang sepupu yang usianya tak jauh beda, Donny dan saya diajak bermain menaiki kuda-kudaan yang dapat bergerak setelah dimasukkan koin kedalam kotak mesinnya.

Lantaran saya tak pernah menaikinya, saya berteriak ketakutan dan menangis saat diminta untuk tetap duduk diatas mainan tersebut. Huahahaha…. Untuk menenangkan saya, Kakek lantas membelikan susu kotak Ultra Milk rasa Coklat, yang ternyata hingga kinipun masih saya sukai. Rupanya kejadian tersebut tk jauh berbeda dengan Putri saya tempo hari, saat kami ajak bermain di arena mainan Tiara Dewata. Kenangan ini sangat berbekas hingga kini saya beranjak dewasa.

Seingat saya, Pekak dan Nini dikaruniai oleh anak-anaknya total 20 orang cucu dan delapan cucu diantaranya yang telah menikah, memberikan tak kurang 20 orang cicit. Putri kami adalah cicitnya paling terakhir saat ini.

Bersyukur pada saat ulang tahun Bapak (Pekaknya MiRah) 19 Oktober 2008, Putri kami, MiRah GayatriDewi sempat foto bareng Pekak Nini (Kompyang/Kumpinya MiRah) yang memang spesial saya ambil saat kami memutuskan untuk bersama-sama menengok Pekak di Titih. Waktu itu Pekak dikabarkan mengalami sesak nafas dan feeling saya mengatakan, saya harus bisa mendapatkan beberapa foto kenangan bersama Beliau. Mumpung Pekak masih ada bersama kami.


Maka jadilah salah satu foto mesra mereka saya edit dan cetak dalam ukuran 4R. Barangkali kelak, foto tersebut bakal menjadi kenangan paling berharga bagi MiRah Putri kami.

Bahkan, saat saya mencari dan membuka arsip foto pernikahan saya akhir tahun 2005 lalu, Pekak masih mampu ikut serta dalam tiga upacara pokok sebagai rentetan acara saat itu. Berikut adalah foto Pekak yang mendampingi saya saat ‘Tukar Cincin’ dirumah Istri, sebagai awal dari keseluruhan kenangan akan sebuah pernikahan saya…..


Dua hari menjelang Pekak mengalami sesak nafas dan harus dirawat di rumah sakit, Pekak sempat memberikan kenangan terindah pada Nini. Ini diceritakan oleh Nini kepada Istri saya, malam usai Pekak meninggal.

Pekak sempat membelikan makanan kesukaan Nini, saat ia kembali dari mengantarkan rekannya yang meninggal -sesama Veteran- ke Setra / kuburan. Bahkan Nini ditemani dengan sepenuh hati, mengambilkan air minum sekaligus memberikan pesan-pesan terakhirnya. Nini memang tidak menyadari jika itu adalah pemberian terakhir dari suaminya yang telah sekian tahun diajak hidup miskin dan menderita.

Kini Pekak sudah terbaring di Bale Dauh dengan tenang, sambil menunggu dewasa ayu untuk upacara pengabenannya. Sedianya akan dilaksanakan pada tanggal 10 Februari besok langsung dilanjutkan dengan upacara NgeLanus / Memukur hingga pagi esoknya.

Yah, berharap banget Pekak bisa tenang disana bersama tiga saudaranya yang barangkali telah menanti, dan biarlah cerita kenangan ini akan tetap kami simpan untuk mengingatnya.

We LoVe You Pekak…..

……paling tidak, semua cerita yang saya ungkap dalam BLoG ini barangkali akan menjadi kenangan pula bagi Anak Istri saya dan rekan-rekan kelak, jika satu saat saya dikehendaki pula oleh-Nya…..

so… KEEP BLoGGING…..

Upacara Ngeringkes PanDe Ketut Nadhi

4

Category : tentang KeseHaRian

Hujan yang turun tak menentu, menjadi harap bagi kami agar tak sampai terjadi saat upacara NgeRingkes digelar.

Ya, hari kamis kemarin tepat pukul tiga sore, segenap keluarga besar hadir dan sudah bersiap untuk satu upacara NgeRingkes, yaitu upacara memandikan jenasah Pekak, yang ditangani oleh krama Banjar Titih, disaksikan oleh kerabat sanak saudara dari jauh.

Tak banyak yang bisa saya lakukan selain berusaha mengabadikan momen ini dalam sebuah gambar diam kamera digital jadul, yang tak mampu menangkap suara sedikitpun jika saya memaksa untuk mengambil gambar bergerak dengan kamera yang sama. Seperti biasa, selain kamera jadul yang masih bagus digunakan hingga hari ini, untuk menangkap gambar bergerak, saya mengalihkannya pada Nokia cdma 6275i, dengan modal nekat lantaran tahu seberapa hasil pergerakan yang mampu dihasilkan oleh ponsel ini.

Eh, ternyata seorang sepupu membawa serta kamera Casio baru gres miliknya, yang lantas saya pinta menggantikan ponsel saya untuk merekam khusus pada gambar bergeraknya.

Ini memang inisiatif saya sendiri, apabila salah satu kerabat mengalami duka. Bukan apa-apa sih, hanya untuk sekedar yang bisa saya berikan pada almarhum. Karena biasanya pihak keluarga seakan melupakan kegiatan pengabadian momen paling berharga ini. Pikirannya malah lebih terfokus pada kegiatan utama, seperti halnya yang dilakukan oleh anak-anak Pekak.

Upacara NgeRingkes ini berlangsung cepat, secepat Pekak kalo mengambil pekerjaan rumah. Ya, kata orang sih, biasanya jalannya suatu upacara pengabenan merupakan cerminan sifat si almarhum. Silahkan dipercaya atau tidak.

Saya takkan bicara panjang lebar perihal jalannya Upacara hingga makna yang terkandung didalamnya. Yang pasti saat Jenasah Pekak dimandikan kembali oleh seluruh anak cucunya, tubuh Pekak terlihat putih bersih. Sebersih hati dan perjuangannya akan sebuah kehidupan….. Sungguh, Pekak terlihat seperti hanya memejamkan matanya dan tidur ditengah-tengah kami. Ketampanan Beliau masih terlihat di hari terakhirnya ini. Yang sayangnya tak menurun pada saya. He….

Beberapa saat usai upacara, para cucu Pekak berinisiatif mengumpulkan uang masing-masing dua puluh ribu rupiah, yang sedianya bakalan dibuatkan satu karangan bunga hasil karya para desainer muda para cucunya ini. Pengumpulan uang ini sempat bikin heboh, karena baru saja beberapa diantara kami menangis saat pemandian jenasah Pekak. Eh, saat kami semua berkumpul, yang namanya tawa canda akhirnya meledak jua.

Saat beberapa kerabat hendak pamit dari rumah Pekak, kami berempat ‘Gerombolan si Berat’ (meminjam istilah sindikat penjahat lucu di serial Donal Bebek), langsung meluncur ke Setra (Kuburan) Badung, untuk membakar sarana yang dipakai saat upacara tadi. Dari pakaian Pekak sebelum dimandikan kembali, hingga sarana upacaranya. Keempat ‘Gerombolan si Berat’ ini adalah Ade Jenggo selaku PimPro kegiatan ini, memimpin ketiga adiknya, Mank Chiko, Donny dan juga saya selaku tukang foto keliling, yang sebaya seusia dan seberajat tinggi juga besarnya…..

Yakin semua pakaian, kain kemben dan juga kasa putih terbakar hancur, kami kembali ke rumah Pekak untuk berkumpul kembali sebelum akhirnya satu persatu berpamitan lantaran saking capeknya….

fiyuuuhhh….

Dudonan Karya Pengabenan Pande Ketut Nadhi

1

Category : tentang KeseHaRian

Kamis, 5 Februari 2009, pukul 15.00 Wita, Upacara NgeRingkes (upacara memandikan jenasah) oleh krama Banjar Titih dan keluarga besar

Senin, 9 Februari 2009, pukul 14.00 Wita, Upacara Ngajum oleh segenap keluarga besar sekaligus persiapan

Selasa, 10 Februari 2009, pukul 12.30 Wita, Upacara Pengabenan menuju Setra (Kuburan) Badung, dilanjutkan dengan Nganyut ke Pasih dan Ngelanus (Upacara Memukur) hingga Rabu dini hari.

Demikian disampaikan oleh keluarga Pande Ketut Nadhi

In memoriam Pande Ketut Nadhi

3

Category : tentang KeseHaRian

Kami semua memanggilnya Pekak Titih.


Satu-satunya pekak yang saya tahu dan miliki sejak kecil dari pertalian darah pihak Ibu. Beliau salah satu anggota Legiun Veteran, dan sebulan terakhir masih aktif ikut mengantarkan rekannya yang mendahului menghadap pada-NYA. Bahkan Beliau ikut berjalan kaki dari lokasi rumah duku ke Setra (kuburan) adat.

Diusianya yang saya perkirakan kini sekitar angka 85-an lebih, dua – tiga lalu Beliau ternyata masih mampu setiap pagi pergi ke pasar Badung membeli keperluan sehari-hari, dengan sepeda gayungnya ataupun berjalan kaki. Tergantung keinginannya. Seorang kakek yang tak bisa berdiam diri, itu gambaran Beliau dimata saya.

Kesehariannya, Beliau ditemani sang Istri (nenek saya) yang sudah puluhan tahun mendampingi. Pertengkaran kecil kerap terjadi tapi hanya sebatas kata-kata saja. Yang membuat kami selalu salut pada Beliau adalah sifatnya yang kerap mengalah dan memilih diam. Tidak ingin memperpanjang masalah.

Beberapa bulan kemarin, saya mendapatkan tugas yang Beliau harapkan bisa saya wujudkan sebelum Beliau meninggal. Mencari foto lama (diambil sekitar tahun 1937), yang menampilkan teruna-teruni Banjar Tainsiat saat itu plus sekumpulan anak-anak yang duduk dibagian depan. Beliau masih ingat foto tersebut masih ada arsipnya di balai Banjar kami.

Tugas ini makin ditekankan saat Sekaa Teruna Teruni pada bulan November 2008 lalu melakukan teatrikal Puputan Badung di perempatan jalan Nangka – Patimura yang sempat memajang foto tersebut dalam ukuran yang sangat besar. Bahkan dengan penekanan kata-kata ‘sebelum Pekak mati, foto itu harus sudah jadi’. Duuuhh…

Bersyukur, saya bisa mewujudkan keinginan Pekak dengan baik. Atas bantuan seorang famili, foto tersebut yang telah di-scan ulang, dapat saya cetak dalam ukuran 20R kalo ndak salah. 2 biji. Satu untuk Pekak Titih, satu lagi saya berikan pada Bapak. Karena menurut Pekak Titih, dalam foto tersebut ada juga figur Pekak saya pertalian darah dari pihak Bapak, yang masih kecil dan berjambul.


Menurut sepupu saya dan anaknya Pekak, Beliau senang sekali saya bisa mewujudkan apa yang Beliau pinta, bahkan sempat memamerkannya saat senggang. Syukurlah, batin saya. Pada saat yang sama, Pekak sudah terbaring lemah di ruang ICU RS Wangaya akibat sesak nafas dan Diabetes yang belakangan baru diketahui.

Sejak hari kamis pagi dirawat dan jumat pagi masuk ICU, saya sempat berbicara langsung dengan Beliau, walau tak banyak. Karena prioritas kami memang agar Pekak tak banyak bicara, tak banyak menghabiskan energi untuk menarik nafas. Waktu itu saya hanya berharap yang terbaik bisa diberikan pada kami semua. Sekaligus menitipkan senyum manis dari cicitnya yang lahir terakhir, Putu Mirah Gayatridewi. Putri kecil kami.

Sejak kondisi pekak menurun, kami semua sudah diwanti-wanti agar menyiapkan mental untuk bisa menerima apapun keputusan yang diambil kelak oleh-NYA. Maka, malam usai ujian perkuliahan saya sekaligus menjadi hari kuliah yang terakhir, Pekak menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 03.30 dinihari. Sesuatu yang telah kami sadari sebelumnya.

Kini Pekak sudah meninggalkan kami dengan jalan yang tenang dan damai. Hanya lima hari lima malam Beliau meminta pelayanan terakhir dari kami semasa akhir hidupnya. Dimana kami bisa mempersiapkan mental dan fisik untuk mengantisipasi hal terburuk yang akan kami dapatkan.

Selasa pagi, rumah tua dari keluarga Ibu di banjar Titih diguyur hujan. Tak menyurutkan semangat kami anak dan cucunya untuk menyambut dan memandikannya dengan penuh cinta. Ternyata kami memang sudah siap untuk kemungkinan terburuk ini.

…..masih menunggu kapan akan dilakukannya upacara penghormatan pada Beliau sekaligus perpisahan secara duniawi dengan kami.

PanDe Baik berDuka

7

Category : tentang KeseHaRian

Atas meninggalnya Pande Ketut Nadhi, pekak dari pihak Ibu di banjar Titih. Pada hari Selasa, 3 Februari 2009 jam 03.30 dini hari, di ruang ICU RS Wangaya Denpasar. Semoga IDA SANG HYANG WIDHI WASA Selalu berkenan memberikan ketegaran pada kami yang ditinggalkannya.

We Love You GrandPa.

(PanDe Baik dan keluarga)