Rutinitas Dua Minggu

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Waktu sudah menunjukkan jam besuk ruang NICU, kamipun bersiap menuju kendaraan dan berangkat menyusuri jalan Nangka, Patimura, Suli, Sarigading, lalu Gatsu IV menuju Rumah Sakit Puri Bunda.
Pulangnya, kalo gak kearah timur melewati Hotel Nikki, kearah barat melewati kantor PU Kota Denpasar, pilihan lainnya ya kearah Utara kembali pada rute awal. Begitu terus. Dua kali sehari, pagi dan malam. Selama dua minggu terakhir.

Sesampainya di parkiran, istri biasanya naik duluan ke lantai 3 sementara saya bersiap mebanten, ngaturang canang lan mebakti di Padmasana rumah sakit, untuk memohon kesehatan dan kepulihan putri cantik ketiga yang saya miliki ini.
Sambil melantunkan doa, kadang jika rasa itu tak kuat ditahan pasti ada saja air mata yang dijatuhkan.
Kami begitu cengeng dua minggu ini.

Rutinitas 8

Ruang yang biasa dijadikan tempat untuk menunggu jika keadaan sepi adalah Konsultasi. Meskipun disitu sudah ada larangan agar tidak menjadikannya tempat menunggu.
Namun jika kondisi ramai oleh keberadaan para orang tua bayi yang dirawat di ruang Intensif, kami akan menunggu di areal depan, dekat void lantai 3.
Sebelum pulang, biasanya kami mengobrol sebentar menceritakan pengalaman menengok baby didalam untuk kemudian pulang melalui lift pengunjung. Begitu terus dua minggu ini.

Saat menunggu giliran, biasanya kami akan bercakap antar orang tua mengisahkan sakit bayi masing masing sembari bertukar keluh kesah lantaran merasa senasib. Jika tidak, saya akan mengirimkan hasil foto dan video jepretan diam-diam ke ponsel Istri dan beberapa akun saudara lainnya untuk berkabar.

Ah, rutinitas…

Semoga tidak berlanjut terlalu lama

Kangen Gek Ara di Malam Minggu Kelabu

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Saat kusentuh kulitnya yang halus dengan tangan kasarku, ia sempat membuka matanya lalu tidur kembali.
Jemarinya yang dahulu tampak keriput, kini sudah sedikit lebih baik kondisinya.
Tangisan terakhir yang kudengar sudah sekitar dua hari lalu, tepatnya saat kami mulai menapak jalur pengobatan secara niskala.
Kini ia lebih banyak kulihat tidur dalam ketenangannya. Tak tampak lagi ada rasa sakit disitu.

Siku kanannya masih lebam, mungkin akibat suntikan transfusi yang diberikan terakhir.
Oksigen yang diberikan lewat selangnya pun sudah mulai dikurangi.
Kata Dokter Dharma, dokter spesialis anak yang merawatnya, kondisi Gek Ara sudah mulai stabil. Jika sampai malam ini kondisinya tetap tanpa pembengkakan lagi, kemungkinan puasanya akan berakhir, dan besok ia sudah diperbolehkan untuk mimik susu.

Mutiara Pande Nyoman 5

Sehat ya Cantik… Baik baik ya Sayang… Jangan segan untuk menangis jika kangen pada kami, karena kami pun selalu menangis saat kangen padamu…

Malam Minggu ini memang jadi Kelabu. Ini kali kedua kami jalani tanpa tawa dan canda keluarga. Inginnya bergembira tapi pikiran selalu menerawang ke Puri Bunda. Tapi kalo kami selalu bersedih ya kasihan juga dua anak nakal yang ada di rumah.
Jadi ya kami hanya bisa Ngapeli anak Cantik ini tanpa mampu berkata apa-apa. Hanya doa dan usapan sayang yang bisa diberikan mengingat hanya tangan saja yang mampu menyentuhnya dalam inkubator.
Meskipun ia selalu meresponnya dengan tangis dan tatapan mata.

Trombositnya per pagi tadi sudah naik di 70an, tapi karena transfusi masih diberikan, ya belum bisa dikatakan baik.
Hasil Infeksi dan keberadaan Kuman, infonya juga sudah mulai berkurang.
Yang jadi masalah kini adalah soal gumpalan berwarna kecokelatan yang keluar dari mulutnya kemarin malam. Ditenggarai merupakan efek dari pembengkakan tempo hari. Namun dari hasil pemeriksaan, infonya ada pembekuan darah disitu. Sehingga per pagi tadi ia mendapat Tranfusi dan obat tambahan kembali.

Belum lagi soal beberapa catatan penting yang ingin dibicarakan Dokter besok pagi.
Duuuhhh, Bapak makin gak tenang nih Gek…

Kami hanya berharap bahwa semua itu adalah penyakit yang dikeluarkan. Sehingga harapannya masih sama, kesembuhan untuk Gek Ara. Tapi sampai kapan ?

Perkembangan Gek Ara sejauh ini

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Sejak ia lahir, ia belum pernah mendapatkan pelukan hangat ibunya.
Sejak ia lahir, ia hanya dapat terbaring dalam boks inkubator di ruang Resti Rumah Sakit Puri Bunda.
Sejak ia lahir, ia sudah menemui banyak jarum suntik untuk memasukkan infus, mengambil darah bahkan transfusi demi menaikkan trombositnya.
dan Sejak ia lahir, ia belum pernah bertemu kakak kakaknya yang nakal.

Pande Nyoman Mutiara AnnikaDewi

Saat ini hanya nama tersebut yang kerap terbayang dan mulai rajin dilafalkan dalam setiap doa.
Gek Ara, demikian kami memanggilnya dalam setiap pertemuan, kunjungan bahkan cerita.

Mutiara adalah salah satu nama terusan yang kami berikan pada adiknya Mirah dan Intan. Tidak ada nama lain lagi yang mampu kami adopsi untuk menyamakan arti ketiga putri cantik ini. Tidak pula Akik sebagaimana dugaan salah satu om-nya yang jahil dari Pedungan sana. dan Ara adalah penggalan suku kata dari Mutiara.

Annika adalah nama pemberian ibunya. Artinya Kuat, Anggun, Mulia. Sesuai saran Ibu Merlyn, istrinda sepupu kami Putu Yadnya bahwa alangkah baiknya nama pemberian Ibu, bisa digunakan sebagai nama anaknya. Maka Annika pun jadi nama terusan bagi adiknya Gayatri dan Pradnyani.
Meski dilain waktu sempat pula ibunya mencetuskan nama Wikandari dari asal kata Wikan atau Pintar.
Tapi Kuat, memang sangat kami harapkan dari putri ketiga ini. Berharap ia akan memiliki fisik yang kuat, jiwa yang kuat dan hati yang kuat.

Selebihnya masih sama. Nama Pande untuk menguatkan bahwa ia merupakan sentana Warga Pande, Nama Nyoman sebagai tanda putri ketiga dan Nama Dewi untuk menguatkan unsur wanitanya. Selain merupakan putri dari ibunya, Alit Ayu Kusumadewi.

Mutiara PanDe Nyoman Ara

Pagi ini ia mendapatkan kesempatan untuk melihat dunia luar walaupun sebentar. Dekat Puri Bunda hanya untuk diRontgen, diantar Ambulance. Namun hal terbaik yang bisa kami dapatkan dari Mutiara adalah peluk dan cium sang Ibu pada putrinya ini meskipun hanya sesaat.
Disela proses Rontgen, boks inkubator dibuka. Gek Ara pun bisa bertemu Ibunya dengan leluasa. Meski tak sempat menggendongnya karena banyaknya selang yang menempel pada tubuh Ara, namun si Ibu sudah tampak sedemikian bahagia bisa memberikan peluk, cium dan sentuhan kasih sayangnya selama seminggu ini tertahan. Sementara saya hanya bisa memandangnya dari luar boks, karena hanya satu orang yang bisa mendampinginya.

Gek Ara di rontgen pagi tadi utk mengetahui penyebab bengkaknya perut dari semalam. Ada juga cairan berwarna hijau keluar dari mulutnya. Diagnosa sementara ada gangguan pada saluran ususnya.
Dari hasil rontgen nanti ada 2 alternatif yang kemungkinan diambil.
Meneruskan dengan obat kalau hanya terjadi pembengkakan pada usus…
atau Bedah jika terjadi kebocoran pada usus.
Siang ini rencananya akan dikonsulkan dgn dokter bedah anak yang kini masih bertugas di RS Sanglah.

Kami memang diharuskan belajar tabah kelihatannya.

Semua Harap untuk Ara

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Sedikit demi sedikit rejeki yang telah kami kumpulkan sejak awal pernikahan, diberikan untuk pengobatan Ara, putri ketiga kami. Biaya perawatannya cukup tinggi untuk pegawai ukuran kami. Hingga malam ini, total yang harus kami bayarkan mencapai 30 juta rupiah. Dan bisa jadi kedepannya bakalan lebih banyak lagi yang dibutuhkan.

Tapi bukan soal biaya yang menjadi keluhan cerita kali ini. Karena kami yakin, baik Ara, Intan maupun Mirah, tiga putri kami yang cantik ini, masing-masing sudah membawa Rejekinya sendiri untuk disimpan orang tuanya. Hanya saja saya merasa sangat bersyukur ketika Rejeki itu tetap kami upayakan simpan hingga hari ini. Sehingga bisa dimanfaatkan secara optimal saat kami butuhkan.

Tapi ada dua pola yang menjadi pikiran saya selama ini soal rejeki.
Pertama bahwa Rejeki itu sudah dipersiapkan atau diberikan lebih dulu oleh-Nya melalui anak-anak kita, dan saat dibutuhkan, akan ada pemanfaatannya sehingga kita bisa sedikit lebih ringan dalam menghadapi cobaannya, minimal tidak lagi memikirkan soal biaya. Atau istilah ekstreemnya, akan ada penghabisannya entah melalui jalur yang mana. Bisa hura-hura, sakit ataupun gaya hidup.
Kedua bahwa Rejeki itu akan datang ketika kita membutuhkannya. Awalnya kita akan kebingungan, diberi pertanyaan berapa yang akan dihabiskan, berapa kebutuhan total dan lainnya. Tapi kelak Tuhan akan memberikannya sesuai dengan jumlah yang kita butuhkan dengan beragam cara pula.
Terserah kalian mempercayainya yang mana yang benar.

Sedangkan bagi saya, dua duanya benar. Sehingga sekali lagi, sangat bersyukur saya diberikan rejeki di awal untuk dimanfaatkan bagi mereka kembali. Sedangkan hura-hura dan gaya hidup, rasanya memang belum sempat kami cicipi hingga hari ini.

Akan tetapi tingginya biaya juga tak lepas dari Ego yang saya tanamkan sejak awal. Bahwa pikiran ekstreem saya rupanya sudah mengakar ketika mendapati bahwa ada perbedaan perilaku atau pengambilan tindakan antara pemanfaatan biaya melalui Asuransi Kesehatan atau yang kini disebut dengan istilah BPJS dengan masuk melalui Jalur Umum. Bahwa kami kemudian memilih jalan kedua, untuk mendapatkan pelayanan terbaik bagi anak kami kelak. Mengingat jalur asuransi swasta, tidak mengcover kebutuhan ini.

Jadi ya, ini sudah menjadi Resiko kami kemudian. Bahwa kami sudah bertekad memberikan perawatan dan pengobatan yang terbaik bagi putri kami ini. Tinggal doa dan harapan yang menggebu untuk kesembuhan bagi Ara, Mutiara ketiga keluarga kami.

Menjaga Asa pada Ara

3

Category : Cinta, tentang Buah Hati

Jari kecil itu masih berupaya memegang telunjukku yang kuberikan padanya.
Ditengah sakit yang ia derita tampak wajahnya sedikit lebih baik dari malam kemarin.
Tak kulihat ia menangis saat kuajak bicara ditengah kegalauan yang kurasakan.
Ia tidur memejamkan matanya sembari kuelus keningnya yang bersih sambil mendendangkan gumaman tembang anak Bali yang kusukai.
Hatiku tetap berusaha tabah melihatnya pagi ini.

Mutiara Gek Ara 1

Perkembangan Ara per malam tadi, Trombositnya naik menjadi 10, dengan ambang normal diatas 150.
Tapi karena naiknya akibat transfusi, secara medis belum bisa dianggap baik. Lagipula untuk sekali transfusi minimal menaikkan 10-25 sel/mm, tapi ini sudah 2 kali transfusi baru naik 6 saja.

Disamping itu hasil CPR (test Kuman), hasilnya jauh tinggi sebesar 132 dengan ambang Normal 5-10. Kemungkinan Kuman ini yang menyebabkan Trombosit sulit naiknya.
Terkait ini, Dokter masih mengupayakan untuk mengetahui Kuman jenis apa yang dimaksud.

dan Terakhir, hasil test daya tahan, terpantau menurun. Sehingga Ara kini mulai diberikan infus pengganti utk meningkatkan daya tahan yang harganya sekitar 4 juta per botol untuk 2 kali input ke tubuh bayi.

Terkait pemberian Infus, Tim Dokter kesulitan menemukan pembuluh darah kecil yang ada di tangan dan kaki adik, mengingat minimnya Trombosit itu. Sehingga kini adik disuntikkan infus melalui pembuluh darah (vena) besar yang ada di kepala, leher atau pangkal paha. Utk Kepala sudah dicoba, tapi gagal karena terjadi bengkak. Maka kini yang disuntikkan adalah pangkal paha. ????

Sedih melihat kondisinya kemarin malam. Tubuhnya penuh luka suntikan dan membiru. Ara menangis saja dari pertama ibunya berkunjung. Padahal sebelumnya anteng…

Per tadi malam, adik dipindah ke ruangan NICU untuk lebih intensifnya pengawasan. Dengan harga kamar 1 juta per harinya. Disamping itu, dokter yang menanganinya pun terjadi penggantian ke Dokter Darma, salah satu dokter senior di Puri Bunda.

Kami saat ini tetap berupaya menyiapkan biaya pengobatan. Tidak ada satupun terdapat keinginan untuk menghentikan upaya perawatan, meskipun per hari ini biaya yang dihabiskan Gek Ara sedari awal sudah sebesar 26 Juta.
Pokoknya kami tetap berusaha yang terbaik untuk Ara.
Mahal memang biaya yang dibutuhkan kedepannya, tapi ya memang sudah resiko yg harus dihadapi…

Tabah, Pasrah dan Berserah

1

Category : tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Dadaku selalu berdegup kencang tatkala mendengarkan suara telepon berdering baik rumah maupun ponsel. Bilapun terdengar diseberang sana suara perawat dari Puri Bunda, hati ini selalu pilu dan berharap ada kabar baik yang bisa kudengar. Dan kepalaku pun mulai merasa sakit, perih lantaran Gek Ara, putri kami masih harus menjalani perawatan yang begitu menyakitkan.

Aku dituntut selalu dan harus mampu untuk tabah. Apalagi kini aku sudah menjadi seorang Ayah. Bapak dari tiga putri yang seyogyanya bisa menjaga perasaan mereka semua agar tak ikut larut dalam kesedihan. Tapi ketabahan itu aku yakin pasti ada batasnya.

Jikapun kemudian dipikirkan, bahwa memang benar apa yang dikatakan orangtua, energi bisa habis saat kita larut dalam tangis dan kesedihan. Sementara diluar itu aku masih punya tanggung jawab akan dua putri, kakak kakaknya Ara yang pula membutuhkan perhatian besar. Berada pada dua sisi yang bertentangan rupanya.

Jadi bisa ditebak…

Tidurpun aku tak pernah nyenyak. Mata ingin sekali tak dipejamkan, agar semua perkembangan dapat kurasakan detik demi detiknya. Namun yang namanya manusia tetaplah membutuhkan istirahat.

Kini aku sedang belajar Pasrah. Manusia sudah berupaya semaksimal mungkin, maka sisanya yang tak mampu dilakukan harus pula diserahkan pada-NYA. Sulit memang, karena bagaimanapun juga manusia menginginkan hal terbaik baginya dan bisa didapatkan dalam waktu yang cepat. Manusia tidak tahan untuk menderita, atau dalam kasus ini tidak tahan melihat anaknya menderita.

Untuk putri kami, Gek Ara yang kini harus disuntik pada pembuluh darah besarnya, kami akui terlalu lemah untuk bisa melihatmu menjalani semua perawatan ini. Kasihan pada tubuh kecilmu dan rasa sakit yang kau derita demi sebuah keinginan untuk berkumpul bersama keluarga. Namun kami selaku orangtua, sudah bertekad untuk total memberikan yang Terbaik padamu. Jadi berjuanglah yang Terbaik untukmu Cantik, karena kami selalu ada untuk Mencintaimu.

22 Februari 9.18 pagi

Malam Minggu Kelabu

1

Category : tentang Buah Hati

Shock…

Malam ini kami Shock begitu mendengar penjelasan awal dari perawat perihal hasil cek lab darah putri kami yang diambil pagi tadi. Tindakan ini sebagai langkah lanjut dari Transfusi Trombosit yang telah dilakukan sebanyak 3×24 jam sejak kamis pagi lalu. Trombositnya terus menurun hingga menunjukkan hasil 4.000 sel/mm3. Artinya dengan segera dibutuhkan Transfusi kembali secepatnya.

Kami sama sekali tak menduga jika cek darah yang dilakukan pasca transfusi kemarin malah menunjukkan hasil yang sebaliknya. Informasi dari evaluasi sementara, terdapat kuman dalam tubuh bayi kami yang jauh lebih kuat melawan kenaikan Trombosit yang semestinya terjadi.

Kami pulang dengan perasaan galau…

… … … …

Pukul 10.20 malam, telepon rumah berdering. Pihak Rumah Sakit meminta kami datang untuk memberikan persetujuan atas pengambilan tindakan pemasangan CVP di vena pembuluh darah besar pada tubuh bayi. Jika memang itu Urgent dilakukan, kami sampaikan persetujuan lewat telepon, sementara kami masih berada dalam perjalanan.

Sayangnya hingga berkas telah ditandatangan pukul 10.50 malam, dokter Anestesi yang rencananya akan melakukan pemasangan CVP ini belum jua datang. Kami mulai merasa was-was…
Yang makin membuat kami prihatin adalah, dokter Anestesi diinfokan masih dalam perjalanan ke RS dari rumah, yang tidak diketahui dimana tinggalnya. Lalu sampai kapankah bayi kami akan menunggu ?

Malam Minggu ini begitu kelabu.

Padahal tadi sore kami masih begitu optimis melihat perkembangan adik yang sangat menakjubkan.

Doakan putri kami ya kawan-kawan…

Campur Aduk

2

Category : tentang Buah Hati

Ada rasa pedih saat melihatmu terbaring disitu dengan dua selang yang menusuk tangan dan kaki kecilmu. Ada rasa sesak didada ini saat melihatmu terpejam sendiri dalam inkubator meski sudah dijaga oleh tante tante perawat yang mengawasimu dengan baik. Ada air mata yang menetes saat kusentuh lembut tubuh terbungkus selimut, saat kunjungan singkatku selasa malam lalu.

Ada rasa iba saat Intan menangis minta ikut menengok adik meskipun ia tak mungkin diijinkan masuk ruang Resti, tempat dimana adiknya dirawat. Ada rasa kebingungan saat Mirah pula minta ikut meski sudah berjanji tidak akan meminta dibelikan macam macam ataupun bermain pasca rencana menengok adik nanti. Ada rasa tak rela saat neneknya melarang kedua anak ini untuk ikut bapak ibunya padahal mereka sudah berganti baju dan bersiap berangkat. Ada rasa kangen untuk bisa mempertemukan ketiga anak cantik ini dan berkumpul bersama Ibunya, tapi bagaimana mungkin bisa dilakukan ?

Ada harap yang terlalu besar untuk bisa mengambil gambar dan videonya saat pertemuan singkat itu. Ada keinginan untuk bisa menyanyikan tembang nina bobo untuknya sambil menepuk punggung si cantik dan menenangkannya dari malam dan kesendirian. Ada hasrat untuk bisa mendekapnya dalam pelukan serta melindunginya dari semua bahaya.

Ada rasa Campur Aduk malam ini di kepala, di pikiran, di dada, di hati, dalam diri ini…

Tangis Bayi yang Kami Nanti

1

Category : tentang Buah Hati

Percakapan tadi sangat berarti bagi kami, meskipun lawan yang diajak bicara adalah tiga perawat di ruang Resti, Rumah Sakit Puri Bunda. Dari pagi Hingga tadi, Kami belum bertemu dengan Dokter Rini, spesialis Anak yang merawat putri keTiga kami sejak awal. Minimal perkembangan tentang perawatan putri kami ini.

Sebetulnya sih kemarin malam saya sudah dijelaskan banyak oleh Beliau. Namun lantaran pikiran masih Galau dengan kondisi adik bayi ditambah capeknya bolak balik mengurus administrasi kamar sejak sore, penjelasan Beliau tidak banyak yang nyampai ke otak untuk diingat. Jadi ya sekedar memastikan saja.

Mutiara Pande Nyoman 3

Per Malam kemarin, beberapa saat pasca si adik ditempatkan dalam inkubator, sebenarnya ia sudah menangis kencang. Ini saya dengar dari perawat yang memeriksa kondisi istri semalam, juga Dokter Astrie, istri pak Yande Putrawan sepupu saya, yang berkunjung ke kamar 210 pagi tadi. Dan Kini, sayapun menyaksikan langsung tangis bayi keTiga kami yang tampaknya sangat kehausan.

Sesuai penjelasan baik dari Dokter Rini semalam dan juga tiga perawat, bahwa Mutiara, demikian ancer ancer nama yang ingin kami berikan untuknya, masih menjalankan puasa 2×24 jam akibat kondisi yang terjadi padanya dari awal. Meski begitu, asupan makanan tetap diberikan lewat infus. Namun jangankan ia, rasanya kami saja yang sudah dewasa begini, meski diinfus rasanya belum lengkap tanpa minum saat dirawat. Kering… tapi karena ini memang sudah prosedurnya, ya dipercayakan saja.

Adik bayi sementara ditempatkan dalam inkubator sebetulnya untuk melihat perkembangan si adik, yang tadi itu sudah gak lagi mendapatkan asupan oksigen lewat selang di hidungnya. Jika kondisinya stabil, kemungkinan besok akan ditempatkan dalam boks bayi di luar alat. Selanjutnya, apabila perkembangannya bagus, bisa jadi adik bayi akan dipulangkan pada orang tuanya. Jadi bukan mengejar berat badan bayi sebagaimana tulisan saya sebelumnya.

Si Ibu masih menangis diluar, sedih melihat anaknya yang terbaring dalam inkubator. Ia kaget saat saya ceritakan kalo Gek Ara, ini nama panggilan yang kami rencanakan berdua, menangis kencang didalam. Padahal saat ditengok tadi, Gek Ara masih anteng dalam tidurnya. Bisa jadi Gek Ara menangis saat mendengar suara bapaknya yang memanggil namanya diluar boks inkubator, sambil menyanyikan tembang Putri Cening Ayu dalam lirih.

Gambar video yang diam-diam saya rekam di saku baju sepertinya lumayan banyak menyimpan gambar si kecil dalam diam dan tangisan. Saya tetap nekat lakukan meski sudah dilarang. Untuk memberikan kabar pada kakek neneknya juga dua kakaknya yang cantik dan lucu, juga suka bikin ribut itu. Hasilnya lumayan, meski tidak utuh terlihat, namun bisa memberikan senyuman pada siapapun yang menontonnya.

Waktu sudah semakin larut. Aku masih belum mampu pejamkan mata dalam keremangan ini, dan memilih untuk menuangkan semuanya dalam tulisan sebagai kenangan nanti.

Kangen ini benar benar terasa, kasihan pada Gek Ara, Mutiara kami yang baru dilahirkan, harus terpisah jarak demi kesehatannya yang terbaik. Kami selalu menunggumu disini ya Cantik, jaga kesehatanmu disana Nak… We Love You.

Cerita tentang Putri keTiga kami

1

Category : tentang Buah Hati

…Detak Jantungnya tidak mampu dideteksi oleh alat yang dipegang perawat saat Ibunya tiba di Rumah Sakit Puri Bunda sekitar pukul 4 sore hari Minggu kemarin, kamipun panik…

Hingga ia saat telah berada di luar pun, kami tak mendengar sedikitpun suara tangisnya… dan kami berdua memanjatkan doa pada-NYA untuk yang Terbaik bagi putri keTiga kami.

Bersyukur ada dokter Anestesi yang baru saja usai mengoperasi pasien. Juga Dokter Anak yang sedang tugas jaga sore itu. Adik bayi dengan segera mendapatkan penanganan.

Berselang beberapa menit, ditengah isak tangis sang Ibu, aku melihat adik bayi berangsur pulih. Kulitnya memerah, gerakannya mulai terlihat dan denyut jantungnya pun mulai terasa. Mata kecilnya pun masih terlihat lemah.

Mutiara Pande Nyoman

Putri keTiga kami lahir dengan selamat. Lewat Persalinan Normal.

Beruntung…
Sangat Beruntung kami bisa menjalankan kelahiran di Puri Bunda hari ini. 15 Februari 2015, sehari setelah hari Valentine. Ini adalah hadiah yang indah dari Tuhan untuk kami semua.

dan kamipun belum punya alternatif Nama untuknya.

Nyoman atau Komang Pande. Begitu kami memanggilnya sementara ini.

Diagnosa sementara, ada kemungkinan Oksigen belum sempurna masuk ke seluruh tubuh saat bayi dikeluarkan dari rahim sang Ibu. Sehingga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sejak awal Oksigen segera diberikan untuknya. Dan untuk 2×24 jam, akan diobservasi hingga kondisi bayi mulai stabil.

Bayi kami tidak lahir Prematur kata Dokter. Karena dari fungsi organ, sudah sempurna. Hanya saja karena berat badan kelahiran berada dibawah standar bayi normal, 1,9 kg maka sesuai saran Dokter, bayi dirawat di inkubator beberapa hari kedepan.

Disamping itu, bayi kami lahir dalam kondisi stress, ini kata kerabat yang mempelajari dunia kesehatan. Setelah dikabarkan bahwa air ketuban yang ada berwarna hijau. Bercampur dengan feses bayi didalam kandungan, yang menyebabkan ia memaksakan diri untuk keluar. Kemungkinan besar karena faktor sang ibu yang terlalu capek saat hamil.

Mutiara Pande Nyoman 2

Dari awal persalinan, kami sudah sampaikan pada dokter yang perawat disana, bahwa yang Terbaik kami minta untuk putri keTiga kami ini. Sehingga apapun keputusan yang nantinya akan diambil, kami percayakan pada mereka, ahlinya. Meskipun kedepannya akan banyak biaya yang dibutuhkan.

Sedih sebetulnya, putri ketiga kami tidak bisa ikut pulang Senin sore tadi. Kami diminta menitipkannya untuk dirawat di ruang Resti Puri Bunda, dengan waktu jenguk dua kali sehari. Harapannya adik bayi mampu pulih dengan baik, sehingga siap mendapatkan ASI dari ibunya. Ya, kami memang harus tegar kali ini.

Doakan adik Komang kami ya kawan-kawan…

Merampingkan Jejak Penggunaan Android

Category : tentang TeKnoLoGi

Di awal perkenalan dahulu dengan perangkat Android, Samsung Galaxy Ace S5830 bisa dikatakan hasrat untuk mencoba dan menjajal beragam aplikasi serta games yang tersedia di Google Apps Store begitu tinggi. Namun karena keterbatasan memory RAM yang dimiliki, hasrat tersebut terpaksa dipendam hingga tercapainya impian memiliki perangkat Android ber-memory 1 GB. Ya, Samsung Galaxy Tab 7+.

Berbagai aplikasi dari beragam kategori dicoba. Dari yang penting hingga iseng. Dari yang berkapasitas besar hingga minim storage. Dari yang berwajah jadul hingga unik. Pula dari yang menghabiskan resources RAM besar hingga efisien. Satu persatu dicobain.

Makin kesini, semua itu makin berkurang kadarnya.

Jaman pake Samsung Galaxy Ace itu bisa dikatakan eranya oprek. Hard Reset, Custom ROM hingga Root dijabani semua tanpa cela. Proses dilewati dengan mulus hingga satu persatu menjadi bahan cerita di blog pribadi ini. Nekat begitu lantaran gag puas dengan spek dan kemampuannya yang masih terbatas. Lebih banyak dipake buat mendukung kerjaan bidang ITnya LPSE Badung.

Jaman beralih ke tabletPC Tab 7+, yang dicoba hanya yang sekiranya berguna bagi banyak orang dan menarik untuk diceritakan. Wajar karena saat itu tulisan saya mulai dilirik Koran Tokoh untuk dipublikasi secara periodik di halaman terakhir tiap edisinya. Materi pun gag melulu soal Aplikasi, tapi juga Tips dan cara menggunakan. Tablet ini lebih banyak difungsikan untuk mendukung kerjaan yang berkaitan dengan peta jalan dan dokumennya.

Masuk ke Jaman Samsung Galaxy Note 3, semua perlahan sirna. Disamping kesibukan, rasanya sayang membuang waktu banyak untuk belajar aplikasi dan games lagi, lebih banyak ke soal kerjaan, blogging dan Hiburan. Trus luangnya waktu kini lebih banyak diarahkan untuk menemani kedua putri cantik nan nakal itu. Maka gag heran kalo secara isi, perangkat Android terakhir yang saya pegang ini cukup ramping dari penggunaan aplikasi maupun games. Mau tahu apa saja ?

Nanti deh saya ceritakan lagi. Hehehe…