Memenuhi Janji yang Tak Harus Ditepati

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Alarm pada ponsel nyaring berdering memenuhi ruangan. Tangan ini sigap mematikan karena sadar pagi ini masih dalam suasana Nyepi. Tentu saja akan terdengar sampai ke jalan raya jika ini dibiarkan.

Hari Minggu Pagi.

Gak terasa, Nyepi sehari sudah terlewati semalam. Tanpa beban, Tanpa cela. Setidaknya hingga saat tulisan ini diPublikasi.
Namun bukan Tanpa Cerita. Karena Cerita kali ini, bisa dikatakan mampu Memenuhi Janji yang secara sepihak dilontarkan sebagai resolusi mengisi waktu luang sepanjang hari. Tanpa makian atau keluhan di dunia maya.
Meski tak sepadan antara kuantitas dengan kualitas per tulisannya. Jadi mohon abaikan apa yang tersampaikan didalamnya. Toh itu tidak termasuk dalam Janji tadi.

Aktifitas akan lanjut sebagaimana biasa. Tugas mebanten pekideh, memandikan anak-anak, atau berolah raga pagi, kelihatannya bakalan jadi agenda hari ini. Yang bertambah agaknya perayaan Ulang Tahun si sulung Mirah yang tak ingin dilakukan meriah, hanya sebatas keluarga kecil, dan juga harapan bisa donor darah lagi.

Selamat Pagi kawan Semua.
Ayo berkemas dan menyiapkan diri untuk berlari lagi.

Jalanan Kota Senin Pagi

Category : tentang KHayaLan

Keringat masih menetes saat kendaraan mulai laju mundur dari halaman rumah. Isak tangis Intan, putri kedua kami masih terdengar seraya meminta Bapaknya untuk mau mengantarkannya main ke alun-alun. Hampir setiap pagi di hari kerja ia sedih ditinggal Bapak, namun akan kembali ceria saat sudah tak melihatnya lagi. Begitulah anak-anak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.51, masih tetap maju dua puluh menit dari yang seharusnya. Jalanan Kota Denpasarpun mulai dilalui satu persatu.

Lantunan suara Bang Iwan yang dikumpulkan minggu lalu satu persatu kalah jauh diterpa angin semilir yang masuk lewat jendela mobil. Sengaja kubuka untuk dapat menghirup sejuknya pagi dan nikmati panasnya sinar matahari. Namun awan di beberapa tempat sempat halangi kesenanganku disela lalu lalang ramainya arus.

Banyak hal penting yang terlintas di benakku, namun kuabaikan demi hari-hariku nanti. Biarlah waktu yang akan mengingatkannya kembali. Penat jika kuladeni itu semua dalam sempitnya waktu yang dimiliki.

Wajah manis Gek Ara mulai membayang

Anak cantik ini kelihatannya senang saat kudendangkan kisah Bang Iwan sampai tertidur dalam pangkuan, sempat kewalahan juga semalam akibat panasnya hawa yang tak tertahankan.

Kotaku tak sejuk lagi

Gerbang Puspem Badung mulai tampak dari kejauhan. Rutinitas pun mulai menanti untuk diselesaikan. Dan aku harus siap menghadapinya.