Ngobrol Bareng MPR RI, 55 Netizen Bali Siap Gemakan 4 Pilar Kebangsaan

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Bertempat di Bintang Bali Kuta, Sekjen MPR RI Bapak Ma’ruf Cahyono tampak berupaya keras mengalihbahasakan tugas serta kewenangan mereka dalam pola birokrasi pemerintah agar lebih mudah dipahami oleh 55 Netizen Bali yang berasal dari berbagai profesi dunia maya. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah potensi kebosanan yang biasanya timbul dalam benak generasi Jaman Now saat sudah bicara dan berhadapan dengan pemerintah.
Hal ini diakui oleh Mbak Mira Sahid, founding Komunitas Emak Blogger yang selama ini lekat sebagai moderator selama berjalannya agenda Ngobrol Bareng MPR RI sejak tahun 2015 di sejumlah Kota besar Indonesia.

Untuk lingkup Provinsi Bali, menurut Kepala Bagian Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) MPR RI Mas Andrianto, ini adalah kali pertama diadakannya sesi pertemuan MPR RI dengan para warga net, netizen dunia maya mengambil konsep tatap muka kekinian. Bali dipilih lantaran telah menjadi pusat interaksi informasi utama di Indonesia dengan dunia luar mancanegara, yang rentan akan pengaruh dan penyebaran hoax. Selain itu, Bali dikenal pula memiliki tingkat toleransi yang tinggi, selaras dengan nilai kebhinekaan, salah satu makna dari 4 Pilar Kebangsaan yang digagas mantan Ketua MPR Taufik Kiemas.

Perubahan penyebutan istilah 4 Pilar Kebangsaan yang kini lebih condong disebut sebagai 4 Pilar MPR RI, ditegaskan oleh Mbak Rharas Asthining Palupi, mantan Kepala Bagian Pemberitaan dan Humas MPR RI, yang kini bertugas dalam bidang pengawasan. Meliputi Pancasila, UUD 1945 (setelah amandemen), NKRI #hargamati dan Bhineka Tunggal Ika.
Keempat makna diatas menjadi sangat penting untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan bernegara bagi seluruh masyarakat Indonesia utamanya generasi Jaman Now yang bisa dikatakan sangat minim asupan pengetahuan akan budi pekerti dan bela negara.

Sayangnya, eksistensi MPR RI sebagai salah satu lembaga negara dalam penyebaran konten tugas, kewenangan, program serta kebijakan pemerintah lewat pemanfaatan sosial media bisa dikatakan sudah sangat terlambat di era digital masa kini, nyaris ketinggalan kereta. Ini diungkap oleh Mas Casmudi mewakili suara komunitas Blogger Bali. Upaya ini kalah jauh dari riuhnya informasi yang tersebar di dunia maya justru didominasi oleh DPR RI, meskipun berasal dari oknum-oknum dari partai tertentu.
Tidak heran apabila ketika beberapa perwakilan netizen Bali ditanyakan jumlah atau siapa saja nama pimpinan MPR RI, nyaris tidak ada yang mampu menjawab dengan benar. Kurangnya pengetahuan netizen bisa jadi disebabkan pula oleh minimnya literasi yang mampu dipahami atau bahkan diminati, dalam tampilan visual yang menarik atau bahkan penggunaan kalimat sederhana.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemanfaatan sosial media yang dahulu lebih banyak diminati oleh generasi jaman now kini juga sudah mulai merambah generasi jaman old, merupakan satu-satunya cara yang ampuh untuk berbagi informasi positif demi menyaring penyebaran hoax lebih jauh.
Bahkan menurut penuturan Mbak Siti Fauziah Kepala Biro Humas Setjen MPR RI, pengaruh sosial media sudah sampai kepada cara pandang seseorang pada pilihan politik bernegara atau tata perilaku pergaulan dengan sesama. Sehingga satu hal yang diharapkan pasca agenda pertemuan ngobrol bareng MPR ini adalah keterlibatan Netizen Bali dalam menggemakan 4 Pilar Kebangsaan atau yang kini disebut sebagai 4 Pilar MPR RI, beserta manifesto dalam upaya membangkitkan jati diri bangsa melalui bidang atau cara yang telah ditekuni selama ini, bisa dengan menggunakan bahasa dan ajakan yang disesuaikan dengan perilaku kehidupan sehari-hari ataupun menggali dan menggelorakan kembali adat budaya Indonesia atau lokal setempat yang kini sudah mulai dilupakan.

Sebagai penutup, Mbak Mira Sahid selaku moderator of the day hari ini, sempat mengingatkan sejumlah quote yang membangun rasa kebanggaan akan kebangsaan, sebagai implementasi dari 5 Sila dalam Pancasila.
‘Berhenti saling menyakiti, mulailah saling menghargai’
‘Stop marah-marah, mulailah bersikap ramah’
‘Berhenti memaksakan, mulailah berkorban’
‘Berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat’ dan
‘Berhenti malas, mulailah bekerja keras’

Polemik Parkir Mahal Hotel Mulia Nusa Dua

4

Category : tentang Opini

Hari minggu pagi lalu, saya di-mention oleh akun @pekaklonto, kawan di media sosial Twitter, yang meReTweet akun milik @AryaWBPinatih46 dengan caption “Kok hotel mewah bayar parkir? Aturan dr mana ini? Uang parkir nya lari kmana? @pekaklonto @BaleBengong” lengkap dengan gambar print out karcis parkir di Hotel Mulia Nusa Dua sebesar 55 Ribu rupiah untuk parkir selama 10 jam 54 menit bagi kendaraan DK 21** LT.

Lantaran kurang paham dengan aturan terkait, jawaban balasan yang saya sampaikan cukup sederhana. Hanya menyinggung pengalaman parkir di Level 21 Denpasar (yang disanggah bukan parkir hotel/sejenis), dan juga pengalaman order Grab di sebuah hotel bintang tiga area Tebet Jakarta. Dimana parkiran hotel juga dikenakan charge sehingga kesepakatan order dengan sopir Grab, agar saya menunggu diluar area hotel atau jika tetap ngotot nunggu di lobi hotel, biaya parkir saya yang menanggungnya.

Berselang sehari, postingan serupa muncul di grup Suara Badung akun media sosial FaceBook yang diunggah oleh Bli Surya Darmadi. Link postingan terkait bisa dilihat disini.
Yang rupanya sudah mendapat tanggapan, mengecam tindakan penerapan parkir semahal itu hingga mencaci maki pihak Hotel Mulia.

Berbekal sedikit pengetahuan akan pengenaan parkir serupa di dua publik area diatas, saya pun mencoba mengulik lebih jauh dengan bantuan Google. Berikut hasilnya yang saya sampaikan sebagai komentar dalam postingan diatas.

* * *

OSA Semeton Kabupaten Badung…
Mohon Maaf jika ada yang kurang berkenan dengan komentar tiang berikut ini. Bukan bermaksud menggurui, namun tiang harap kita semua bisa sama sama belajar terkait ini. Sehingga apabila Salah, mohon bisa dikoreksi, mengingat tiang bukan berasal dari Bidang/Instansi yang menangani urusan Parkir.

Penetapan Tarif Parkir berdasarkan peraturan dari Perhubungan Darat ditentukan melalui Perda Daerah setempat.

Untuk wilayah Kabupaten Badung, tiang menemukan Perda Kab.Badung Nomor 13 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Fasilitas Parkir. Dimana pada Pasal 26 menyatakan :
(1) Penyelenggara Fasilitas Parkir di luar Rumija (ruang milik jalan) …. dapat memungut biaya terhadap penggunaan fasilitas yang diusahakan.
(2) Satuan Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan :
a. Penggunaan Fasilitas Parkir per Jam, per hari ; atau
b. …

Sementara yang tergolong Fasilitas Parkir di luar Rumija bisa dilihat pada Pasal 14 ayat (1) poin b. Gedung parkir, taman parkir dan/atau tempat sebagai fasilitas penunjang kegiatan pada bangunan utama.

Jadi sementara, untuk Kasus Hotel di Kabupaten Badung berdasarkan Perda diatas, bisa jadi diBenarkan ?
Mohon dikoreksi apabila Salah.
Namun terkait besaran Tarif Parkirnya, mungkin Rekan dari Dinas terkait di Kabupaten Badung bisa menjawabnya ?

Sementara itu, Kota Denpasar sendiri menetapkan Perda nomor 5 Tahun 2013 dimana berdasarkan berita media online Nusa Bali 2 Maret 2018 lalu, informasinya PD Parkir Kota Denpasar mulai menerapkan tarif parkir progresif untuk dua tempat yaitu Ramayana dan Level 21. Alasannya bisa dibaca pada paragraf terakhir berita diatas, dan masuk akal.

> Dengan penerapan tarif progresif juga diharapkan mampu menanggulangi overloadnya parkir karena satu mobil atau motor parkir dikenakan perjam. “Kemarin biasanya satu mobil atau motor bisa berjam-jam bahkan harian parkir di lokasi, kini dengan tarif progresif kendaraan bisa cepat bergeser agar bisa dimanfaatkan pengendara lain.”

Link berita : Nusa Bali

Matur Suksema.

4 Hal Penting yang Wajib Diketahui Sebelum Menjadi Agen Pegadaian

Category : tentang Opini

Siapapun Bisa Jadi Agen Pegadaian.

Begitu penyampaian rekan-rekan dari PT.Pegadaian (Persero) hari sabtu siang kemarin di Istana Taman Jepun dalam agenda Seminar Sosialisasi Fintech #BisnisJamanNow Agen Pegadaian yang bekerja sama dengan IWITA (Indonesia Women IT Awareness).

Pesertanya cukup membludak. Dari sekian banyak kursi yang disiapkan, tim panitia sampai harus menambahkannya lagi plus satu tenda besar di sisi sebelah kiri wantilan untuk menampung antusiasme masyarakat yang hadir di bawah teriknya matahari.
Luar Biasa acara ini.

Seminar ini dipandu oleh Mas Casmudi VB, salah seorang blogger Bali yang piawai laiknya motivator, bersama 5 narasumber lainnya yang sejak awal mencoba memperkenalkan #BisnisJamanNow Agen Pegadaian dalam rangka menyambut hari jadi PT.Pegadaian (Persero) yang ke 117 tahun.

Dari sekian banyak pemaparan dan peluang kerja bagi para wanita khususnya, kelihatannya ada 4 hal penting yang wajib kalian ketahui sebelum memutuskan untuk jadi Agen Pegadaian.

Pertama, ini #BisnisJamanNow.
Yang namanya Bisnis tentu tidak akan bisa dilepaskan dengan yang namanya Untung dan tentu saja, Rugi.
Hal ini sepertinya luput dari perhatian sekian banyak peserta lantaran sejak awal dicekoki akan sisi kelebihan saat memutuskan langkah untuk menjadi Agen Pegadaian. Misalkan saja pada video dua anak muda yang diskusi di warung Ibu Berkah. atau video dua ibu muda yang sudah lama tidak bertemu.
Sehingga sebelum melangkah ke poin berikutnya, ada baiknya pertimbangkan juga akan adanya kemungkinan kerugian yang bisa ditemui diluar penyiapan modal awal, apabila kelak salah mengambil keputusan.
Sarannya, ambil sesi pelatihan atau pendidikan yang memadai dari Pegadaian dahulu sebelum lanjut terjun menjadi Agen Pegadaian.

Kedua, Lokasi.
Salah satu poin yang wajib dipenuhi untuk bisa menjadi seorang Agen Pegadaian adalah Lokasi atau Tempat atau Ruang yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai area Transaksi. Persyaratannya kalau tidak salah, dekat dari salah satu kantor cabang PT.Pegadaian (Persero) atau minimal mudah dijangkau oleh transportasi umum. Bahkan Gojek sekalipun. Hal ini menjadi penting, mengingat seorang Agen Pegadaian akan menjadi kepanjangan tangan dari sebuah BUMN Nasional yang resmi dan legal.
Namun kendalanya, tidak semua orang atau Peserta memiliki peluang ini. Jika beruntung, di depan rumah ada areal tempat yang bisa dimanfaatkan atau paling minim menyulap ruang depan, teras atau ruang tamu sebagai area transaksi sebagai Agen Pegadaian. Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki peluang itu ? Apakah diwajibkan menyewa lahan atau tempat sebagai area transaksi kelak ? Mungkin iya, dan itu kembali ke pertimbangan pertama, agar memasukkan biaya sewa sebagai bagian dari modal awal.

Ketiga, Agen Gadai.
Sebenarnya ada 3 jenis Agen yang dijelaskan oleh rekan-rekan dari PT.Pegadaian (Persero), yaitu Agen Gadai, Agen Pemasaran dan Agen Pembayaran. Namun dari pemaparan awal hingga adanya penyampaian informasi Free Voucher Top Up bagi 4 Pendaftar Pertama hari itu sebagai Agen Pegadaian, sepertinya lebih mengarah pada opsi peluang sebagai Agen Gadai. Padahal, tanpa pengetahuan atau pengalaman awal yang cukup, sangat beresiko bagi peserta baru untuk bisa mengambil keputusan menjadi Agen Gadai. Dimana pola kerjanya setelah diamati jadi mirip Makelar Tanah namun peluang ini bisa dikatakan Legal dan dilindungi payung hukum secara resmi. Mohon Maaf jika Salah.
Kenapa mirip, karena sebagai Agen Pegadaian, diwajibkan menaksir harga atas barang yang akan digadai, sebelum memberikan sejumlah pinjaman uang kepada si penggadai, dimana uang itu akan didapatkan kembali pasca barang diserahkan ke Pegadaian. Permasalahannya, apakah nilai yang ditaksir pada awal peminjaman akan setara atau bahkan lebih rendah dari nilai yang nantinya akan ditaksir oleh Pegadaian ? Kalau tidak, maka Nilai Kerugian sudah ada didepan mata.
Sehingga sarannya ada dua. Memberi taksiran harga atau pinjaman yang sekiranya lebih rendah dari Pegadaian tadi walaupun secara pengalaman pertama, bakalan sangat sulit bisa dicapai atau lagi-lagi pahami semua tips standar harga yang nantinya akan diberikan saat pelatihan atau pendidikan oleh PT.Pegadaian (Persero) sebelum terjun ke kancah perang.

Keempat, Opsi Aman, Pilihan Tepat ?
Bila menjadi Agen Gadai dianggap penuh Resiko, maka pilihan Aman bagi Pemula, yang mana ?
Tentu saja menjadi Agen Pembayaran atau Agen Pemasaran, sebagaimana info dari rekan PT.Pegadaian. Mengapa ? Karena dalam peluang dua opsi inilah sekiranya Modal Awal bisa dikatakan tidak dibutuhkan terlalu besar atau bahkan tidak sama sekali.
Sebagai Agen Pembayaran laiknya jasa pembayaran lainnya, dimana tugasnya adalah mengkolektif pembayaran angsuran atas kredit atas pinjaman atau multi payment lainnya yang memang sudah jelas, dengan nominal fee yang kelak akan didapat ketika nilai pembayaran kolektif itu disampaikan ke PT.Pegadaian (Persero).
Demikian halnya dengan Agen Pemasaran, yang entah apakah memiliki pola kerja seperti agen asuransi, customer get customer, atau sekedar penjualan branding di sosial media ? Tapi sepertinya sih lebih ke kemungkinan CgC tadi.
Nilai Fee atau keuntungan yang didapatkan dari dua jenis Agen Pegadaian ini tentu saja lebih kecil dari besaran Fee atau keuntungan yang bisa didapat dari opsi menjadi Agen Gadai. Tapi kembali ke soal Resiko, ya dimaklumi karena dua jenis Agen diatas, bisa dikatakan memiliki resiko yang tidak seberapa.

Nah kira-kira itu Empat Hal Penting yang Wajib Kalian ketahui sebelum memutuskan langkah untuk menjadi Agen Pegadaian. Sekiranya ada poin yang salah, mohon dapat dikoreksi kembali.

Tetap Semangat.

Siapapun Bisa Jadi Agen.

Ketika Tidak Ada Lagi Cinta Diantara Kita

4

Category : tentang Opini

Menarik sekali ketika bisa menyimak pembicaraan terbatas buk ibuk milenial di kendaraan saat meluncur ke arah Denpasar siang hari kemarin, dimana topik yang lagi hangat-hangatnya bisa diperbincangkan dengan kepala dingin dari sudut pandang orang kelima. Yang artinya, bukan siapa-siapa bahkan host infoTAIment sekalipun.

Namun kisah yang kerap terjadi pada banyak orang ini rupanya dialami juga oleh orang-orang terdekat kita, yang dikasihi atau bahkan yang menjadi panutan dan disegani sekalipun.
Kisah Cinta antar dua manusia yang berbeda kelamin tentu saja, namun seiring berjalannya waktu dan usia, menciptakan situasi ketika tidak ada lagi Cinta diantara Kita.

Berbagai analisa dan alasan yang dikemukakan, sesungguhnya belum mampu menjadi pembenaran diantara kedua pihak. Karena memiliki sisi positif dan negatif secara bersamaan. Sama seperti semua cerita kehidupan yang lain.
Tapi jelas yang paling terpukul dari kasus perceraian jika sampai itu terjadi, tidak hanya jatuh pada sang anak yang kelak bakalan diperebutkan hak asuhnya. Namun berimbas pula pada sang Ibu atau pihak perempuan, utamanya jika pernikahan ini dilakukan dalam adat dan budaya Bali ataupun Hindu.

Pemikiran ini muncul lantaran dalam budaya Bali, pihak perempuan harus menjalani prosesi ‘mepamit’ atau mohon ijin meninggalkan keluarga asal, untuk menjadi bagian di keluarga suami, baik secara sekala kepada orang tua, maupun niskala kepada para leluhur dimana ia lahir dan tinggal. Membayangkan posisi yang bersangkutan pasca perceraian tentu akan menjadi gamang, karena tidak bisa ‘dikembalikan’ begitu saja bak meninggalkan barang bekas di pinggiran jalan.

Akan menjadi lebih sulit lagi ketika perpindahan status si perempuan sampai melibatkan soal kultur dan keyakinan. Katakanlah sampai rela mengubah budaya serta agama yang dianut sebelumnya.
Hal ini amat sangat berbeda jauh ketika proses perkawinan dan perpindahan kultur serta keyakinan terjadi dalam kondisi sebaliknya. Si perempuan cenderung disayang dan dijaga betul sehingga kerap menjadikannya memiliki fanatisme yang jauh lebih besar dan lebih dalam ketimbang sang suami yang sudah sejak awal memeluk agama dan budayanya.
Masuk akal.

Jadi teringat pada cerita dari seorang kawan, saat ia berkunjung ke rumah bersama salah satu putranya yang sudah beranjak dewasa. Perkawinannya kandas di tengah jalan.

Akan ada saat dimana tidak akan ada lagi Cinta diantara kita. Diantara dua manusia yang mengikat janji jauh sebelumnya dan berupaya untuk saling setia dihadapan sanak saudara atau handai taulan.
Dan ketika berada dalam situasi ini, yang tersisa hanyalah sebuah komitmen. Sebuah janji yang sebenarnya wajib dan harus kita tepati hingga ajal dan kematian yang akan memisahkan.

Disinilah dua manusia itu akan diuji oleh-Nya atas semua keputusan yang dahulu pernah diambil.

Apakah akan berpisah dengan alasan sudah tidak ada lagi Cinta diantara kita, dengan alasan tidak ada kecocokan, atau dengan alasan bosan dan telah berpaling ke makhluk-Nya yang lebih menggoda ?
Atau akan meneruskan kapal hingga akhir pertemuan ?

Siapa yang tahu ?

Alternatif Jalan ShortCut Desa Canggu – Desa Tibubeneng Kuta Utara

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Om Swastyastu Semeton ring Desa Canggu,
Terkait Postingan Jalan ShortCut Canggu – Tibubeneng, Nunas Ampura yening ada yang merasa Tersinggung dengan belasan komentar terkait, utamanya komentar sane ngemadakin apang seken nyemplung bagi yang melanggar Rambu dari arah Timur… ?

Namun demikian, bagi Semeton yang berdomisili di sekitaran Canggu, tiang yakin pasti tahu, ada satu dua jalan ShortCut semacam ruas Canggu – Tibubeneng yang bisa digunakan sebagai jalan Alternatif khusus Kendaraan Roda 2, bila akses di jalan utama dirasa cukup memusingkan.

Berikut diantaranya :

1. Jalan Pura Blulang Yeh, Desa Canggu, lingkungan Padang Linjong, Kuta Utara, menuju Desa Pererenan
Medannya kurang lebih sama dengan jalan ShortCut Canggu – Tibubeneng dimana kanan kirinya masih berupa sawah. Jadi mohon berhati-hati.

2. Jalan Bantan Kangin, perbatasan Canggu dengan Desa Tibubeneng, Kuta Utara, menuju Jalan Raya Padonan, Kolibul Kawan Tibubeneng
Status Jalan ini merupakan Aset Kabupaten Badung untuk memecah kemacetan yang terjadi di persimpangan Tibubeneng – Pantai Berawa. Jalan sudah diAspal Hotmix, dan masih bisa dilalui dua kendaraan roda 4, namun tidak begitu leluasa. Jadi tetap berhati-hati…

3. Jalan Subak Daksina, masuk Desa Tibubeneng, terusan dari jalan Bantan Kangin masuk ke Gang Mangga. Menuju Canggu tembusan lingkungan Uma Buluh.
Jalan ini hanya cukup untuk papasan dua sepeda motor bebek, yang menggunakan XMax apalagi Harley, jangan coba-coba nekat kalau ndak mau nyemplung karena sisi kanan dan kiri jalan masih berupa sawah asri.
Baru selesai ditangani dengan perkerasan paving merah.

4. Jalan Babakan Kubu, Canggu, Kuta Utara, tembus ke ruas jalan Kabupaten Jalan Raya Babakan Canggu.
Kondisi jalan masih berupa Tanah, dengan view sawah di kanan kirinya. Namun Badan Jalan sudah ada.
Hingga kini belum ditangani dengan pengaspalan kalau tidak salah terkendala lahan.

Kira-kira itu yang bisa tiang sharing untuk Semeton sane melintas di seputaran Desa Canggu, Nunas Ampura sekali lagi bila mana ada yang kurang berkenan dalam penyampaian.

Matur Suksema, Sukses untuk Kabupaten Badung.

* Sebagaimana diPosting pada akun Sosial Media FaceBook group Suara Badung, 29 April 2018 malam.
Untuk tanggapan, komentar dan masukan dari para netizen Suara Badung bisa dilihat pada link disini.

Polemik Jalan ShortCut Desa Canggu – Tibubeneng

3

Category : tentang Opini

Ruas jalan ini adalah salah satu akses alternatif yang menghubungkan Desa Canggu dengan Desa Tibubeneng dari sisi selatan, yang bisa dicapai melalui jalur jalan Nelayan tepatnya sebelum menuju pantai Batu Bolong.

Jalan ini kerap dikeluhkan Netizen lokal, hingga regional Bali bahkan Nasional. Kalau tidak salah sampai ada julukan Jalur Neraka.
Apa sebabnya ?

Karena hanya di Ruas Jalan ini saja, begitu banyak kendaraan roda 4 yang kedapatan nyemplung ke sisi kanan dan kiri Jalan saat dipaksakan untuk berpapasan dengan kendaraan roda 4 lainnya, padahal secara logika, lebar jalan tidak cukup mampu menampung dua kendaraan roda 4 berjajar.

Lantas siapa yang Salah ?

Pemerintah Kabupaten Badung ? Yang seakan Diam dan Tidak Bertindak padahal memiliki PAD tinggi ?
Atau Pak Polisi yang tidak mau menjaga Lalu Lintas setempat ?

Yang belum pernah melewati Jalan ShortCut Canggu – Tibubeneng ini, yang menurut Google Maps dikenal dengan Jalan Echo Beach, kalau boleh saran, lebih baik jangan ikut-ikutan menyalahkan, karena akan terlihat jelas bahwa sesungguhnya tidak paham fakta di lapangan.

Pertama sudah Jelas, Masyarakat kita artinya Buta Huruf dan Buta Rambu.

Ini saran saya kepada Dinas Pendidikan agar menggalakkan lagi program Membaca dan Memahami Huruf dan Kalimat, dibantu Dinas Perhubungan untuk membaca dan memahami Arti Rambu Lalu Lintas. ? MAAF, saya bercanda.

Karena Sudah jelas itu jalan satu arah, yang kalau tidak salah hanya diijinkan dari arah Canggu ke Tibubeneng, dari arah Barat ke Timur, tidak sebaliknya…

Jadi kalaupun ada yang ngeyel ya jangan menyalahkan orang lain ? salahkan dulu diri sendiri yang tidak paham situasi, atau mereka yang melanggar Rambu lalin dari arah Timur.

Saya yakin, jika semua Patuh pada Rambu setempat, gak akan ada mobil nyemplung lagi atau gambar Jalan Alternatif Jaman Now seperti yang dishare semeton tiang sebelumnya.

Persoalan Kedua adalah Kendala di Lapangan terkait Opsi Pelebaran Jalan. Yaitu proses pembebasan lahan di kanan kiri Jalan ShortCut Canggu – Tibubeneng.
Berhubung informasinya, di awal pelebaran jalan terdahulu, pemilik Lahan sudah merelakan sebagian lahan untuk dimanfaatkan pelebaran tersebut. Masa kini harus merelakannya lagi ? ?

Namun jika masuk ke Proses Pembebasan Lahan, yang menjadi Kendala lagi adalah soal Nilai Jual Tanah yang akan digunakan untuk maksud pelebaran tsb. Apakah Pemilik Lahan rela menjual sebagian kecil lahannya kembali sesuai dengan NJOP yang telah ditetapkan Pemerintah, atau sebaliknya, apakah Pemerintah boleh membeli lahan dengan harga Pasar atau kesepakatan yang rawan mark up dan lainnya ?

Ketiga adalah Dugaan Penundaan dari Pemerintah ataupun Pemilik Lahan di kanan dan kiri jalan dimaksud, dengan alasan kekhawatiran akan perubahan alih fungsi lahan ketika jalan tersebut nantinya akan diperlebar dan diaspal hotmix. Meskipun bisa bernilai jual tinggi, namun bukan tidak mungkin bakalan mengurangi lahan hijau yang kini masih tampak asri dipandang. Masuk akal bukan ?

Matur Suksema

* Sebagaimana diPosting pada akun Sosial Media FaceBook group Suara Badung, 29 April 2018 pagi tadi.
Untuk tanggapan, komentar dan masukan dari para netizen Suara Badung bisa dilihat pada link disini.

Memberi Pelayanan Terbaik bagi Konsumen, atau Mengabaikannya ?

Category : tentang Opini

Terlepas dari kemudahan yang diberikan atas pilihan pengambilan menu bazaar yang kerap dilakukan oleh sejumlah yayasan atau perkumpulan di provinsi Bali ini, secara pribadi sebetulnya kangen juga kalo saat ditodong paksa untuk membeli dua hingga empat lembar sekaligus, menyasar lokasi di lingkungan banjar atau desa setempat. Namun bisa jadi lantaran ribetnya prosedur dan persiapan, pengadaan ba?aar kini sudah malih rupa menjadi menu cepat saji semacam McDonalds atau KFC.

Jika hanya diberi opsi dua pilihan diatas, kalo boleh memilih, mending ambil yang McD ketimbang KFC.
Satu pertimbangan utama adalah pola pengambilannya, yang bilamana sedang tidak punya banyak waktu, untuk McD masih bisa diambil melalui jalur Drive Thru dimana Konsumen tidak lagi perlu antre berdiri.

Kondisi jadi semakin tak nyaman, ketika kejadian hari Jumat 13 April lalu, saat sudah antre untuk sekitaran 5-7 orang dalam satu barisan, rupanya opsi Nasi Putih yang seharusnya ada dalam paket, habis lantaran membludaknya pengunjung. Tentu yang nasibnya tak beruntung seperti saya, musti menunggu lagi di meja depan kasir, dengan estimasi sekitar 15 menitan yang nantinya pesanan akan diantar sendiri oleh petugas.
Begitu kata pramusaji gerai KFC jalan Kebo Iwa/Gatsu Barat Denpasar.

Setelah menunggu sekitar 15 menitan, pesanan tak kunjung datang.
Tumben dalam sejarah mengambil kupon bazaar hingga empat puluh menit lamanya, belum juga selesai. Coba kalo di gerai McD ? Gak sampe nunggu lama, kendaraan langsung cusss meninggalkan lokasi.
Hmmm… langsung ngeTweet ke akun KFC dan baru mendapat tanggapan esok harinya, 14 April pk.10.44 AM.

Memberikan Pelayanan yang Terbaik bagi Konsumen sih, sudah seharusnya dipegang teguh oleh para Produsen jika yang namanya loyalitas kelak diharapkan akan diterima tanpa tedeng aling-aling.

Saya jadi ingat dengan pelayanan Agung Toyota yang ada di ruas jalan Cokroaminoto Denpasar.
Setiap kali mampir secara rutin untuk servis kendaraan, ada saja penambahan fasilitas yang diberikan kepada konsumen saat menunggu proses servis selesai dilakukan. Dari pijat refleksi, pijat elektrik, kantin makan minum hingga makan siang gratis saat konsumen melakukan booking service pada jam makan siang. Kaget tentu saja. Tahu begini kan tiap jam makan siang saja servisnya.

Saat dikonfirmasi ke salah satu staf di bagian kasir, itu adalah bentuk terima kasih mereka pada konsumen yang begitu setia pada brand Toyota, meskipun kini ada brand lain yang mulai masuk pada lini yang sama dan mengambil kue perolehan penjualan setiap bulannya.
Hal yang sama sepertinya berlaku juga untuk layanan cepat saji fast food tadi. Cuma entah apakah mereka memang sengaja mengabaikannya.

Jalan Munduk Catu, Tuntut Pengaspalan Abaikan Persoalan Tanah

Category : tentang PeKerJaan

Sebetulnya sama sekali nggak menyangka bakalan bisa main ke ruas jalan, yang tempo hari jadi perdebatan di media sosial FaceBook, group Suara Badung lantaran hingga kini belum jua diperbaiki atau ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Badung, padahal memiliki PAD yang cukup besar.

Jalan Munduk Catu.
Dilihat dari namanya, kelihatan banget kalo ruas jalan ini ada kaitan dengan fungsi lahan disekitarnya yang kini sudah beralih fungsi menjadi permukiman.
Sawah.
Entah awalnya apakah ini merupakan akses menuju lahan sawah masyarakat dengan lebar terbatas yang diperbesar seiring tambahan fungsi selain sawah oleh masyarakat sekitar ? Siapa yang tahu ?

Akan tetapi ketika bicara kewilayahan, memang akan amat sangat mengundang pertanyaan, mengapa hingga kini jalan yang kondisinya sudah bergelombang dan becek saat musim penghujan tiba ternyata belum diapa-apakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung ?

Rupanya yang menjadi alasan utama adalah persoalan status tanah masyarakat yang diperlebar tanpa adanya pemberian ganti rugi. Ya jelas lah, kalo kemudian jalan Munduk Catu hingga kini belum diAspal Hotmix sebagaimana ruas jalan lain disekitarnya.
Kalaupun kemudian nekat ditangani, kemungkinan besar bakalan menjadi persoalan hukum di kemudian hari.
Gak elok kan kalo Pemerintah Kabupaten sampai digugat oleh masyarakatnya sendiri ?

Perkembangan Pesat Pesisir Kuta Utara

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Menyusuri jalanan pinggiran kota menuju Ecosfera Hotel, Canggu Kecamatan Kuta Utara, serasa berada di area Kuta saja. Hanya disini suasananya cukup lengang, masih ada jeda ruang terbuka untuk sawah diantara club atau cafè atau tempat nongkrong para wisatawan. Belum penuh sesak dengan bikini dan telanjang dada turis mancanegara.

Secara pekerjaan, satu setengah tahun ini rasanya sudah sangat jarang bisa main sampai ke pelosok desa semacam ini. Biasanya hanya sampai kantor Desa/Kelurahan, lalu menyerahkan proses cek lapangannya kepada tim.
Sebaliknya secara pribadi pun, arah main selama memiliki waktu luang sepertinya ndak pernah lewat ke area ini, paling seputaran tempat bermain anak, atau melintasi sejumlah ruas jalan raya untuk mengejar target langkah setiap harinya.

Maka itu kaget juga, saat mengetahui perkembangan pesat yang tumbuh di kampung istri sejauh ini. Bahkan istri yang lahir disini pun tak kalah kagetnya pas mengetahui perubahan fungsi yang terjadi begitu cepat dan meranggas setiap sisi depan lahan dan rumah warga yang kami yakini memiliki nilai jual yang tinggi meski hanya seuprit.

Apalagi saat melihat sendiri aktifitas pagi hari seputaran pantai yang nyaris dipenuhi fasilitas bagi wisatawan mancanegara. Cafè, club hingga penyewaan board surfing.
Sementara orang kita, penduduk asli Bali harus rela menjadi satpam security atau penjaga parkiran, menempati rumah kecil ditengah serbuan villa dan resort.

Sesekali menarik nafas panjang untuk bisa tetap berpikiran waras di tengah pemandangan asing malam ini.

Ada Hikmah di Balik Kurang Kerjaan

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian, tentang Opini, tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Satu triwulan sudah berlalu. Pekerjaan yang diemban makin kesini makin terasa sepi. Waktu luang jadi semakin banyak.

Jabatan tambahan sebagai PPK sudah tidak lagi dipanggulkan ke pundak. Kegiatan yang diwenangkan pun tidak ada rupa fisik maupun konsultansi. Hanya verifikasi dan survey lapangan, lalu menyampaikan draft rekomendasi kepada pimpinan dan bupati. Selesai.

Meski kesibukan saat berhadapan dengan desa dan masyarakatnya cukup menyita waktu dalam kurun tertentu, namun tekanan yang ada jauh berbeda. Tak ada lagi makian dan caci ketidakpuasan, pula sms dengan bahasa tak sopan. Tak ada pula komplain tengah malam atau pemanggilan menghenyakkan pikiran dari aparat. Semua sirna seiring alphanya penugasan itu.

Aktifitas berkurang, rejeki pun berkurang. Minimal hari segi honor yang kali ini rupanya mengadopsi pola yang berbeda. Jika dahulu hanya diberikan untuk 1 paket pekerjaan, sebanyak apapun jumlah yang dibebankan, kini sepertinya lebih manusiawi dan tentu menggiurkan. Dibayar penuh sesuai beban kerja. Layak dan impas dengan semua pengorbanan.
Sepertinya…

Namun jika pikiran mau dibawa ke sisi yang positif, ada banyak hikmah yang bisa diambil di balik kurang kerjaannya saya kali ini.

Pertama, soal waktu luang tadi. Ada aktifitas menulis yang kembali bisa dilakoni secara rutin dan menyenangkan pikiran. Ada senda gurau dengan anak-anak selepas kerja lantaran bisa pulang tepat waktu. Ada juga olah raga yang hampir selalu disempatkan saban hari, pagi saat libur dan sore usai bekerja.

Kedua, soal beban, pikiran dan kesehatan. Hal yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Setidaknya kini tak lagi diganggu dering telepon meski saat perjalanan pulang ke rumah, atau saat leyeh-leyeh memandang langit, bisa dirasakan penuh nikmat atas kuasa-Nya. Utamanya tentu, gula darah bisa lebih stabil meski yang namanya berat badan otomatis naik lagi. Kampret dah.

Ketiga, jalan-jalan.
Dalam arti sebenarnya tapi. Meski harus dibungkus dalam kedok koordinasi ke tingkat Desa/Kelurahan. Dulu, mana sempat. Pagi teng nyampe kantor, telepon ruangan berdering, menghadap pimpinan, lanjut aktifitas lain hingga jam pulang menjelang. Kini ? Ayo kabur…
Istilah lainnya, menikmati pekerjaan laiknya hobby.

Keempat dan terakhir, tentu saja Touring.
Hehehe… sejatinya tak sebanding dengan definisi asli, namun rasanya eman kalo beli motor baru hasil jerih payah ngayah selama 4 tahun di Jalan Lingkungan, kalo tak dibawa touring jauh ke lingkup pekerjaan. Eh…
Meski raungan knalpot XMax tak segarang Scorpio terdahulu, namun bicara soal kenyamanan berkendara, tentu jauh lebih baik.
Yang membedakan hanya soal latar belakang objek foto saja. Jika dulu selalu dijejali paving natural dan juga warna merah, kini lebih natural dan lapang. Jalan raya.

Jadi biarpun kini lebih banyak tampak kurang kerjaan, namun yang namanya hidup, harus tetap bisa kita nikmati. Ya nggak ?

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Category : tentang Opini

Sesaat usai aktifitas rutin Senin Pagi kemarin, kabar menghenyakkan datang dari rumah sebelah.
Bu Kadek, istri dari alm.PakMan Panji meninggal dunia setelah lama dirawat di RS Sanglah.
Saya lupa sakit apa yang ia derita.

Kabar duka ini cukup membuat saya shock, berhubung baru tiga tahun lalu, suami yang bersangkutan meninggal dunia akibat serangan jantung. Keluarga ini meninggalkan empat anak remaja dengan status masih bersekolah.
Seketika mengingatkan saya pada dua buku kecil yang dibeli tempo hari.

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Dua buku dengan tema serupa ini berisikan sejumlah cerita kenangan tentang sosok Ayah dan Ibu saat mereka masih ada. Cukup menyentuh, ketika kita membacanya, mengingatkan pada kedua sosok orang tua yang sudah jauh meninggalkan.
Namun betapa beruntungnya saya ketika dua sosok tadi masih ada dan dalam keadaan sehat.

Kehilangan dua sosok yang selama ini kita kagumi, tentu akan membawa sejuta rasa kepada mereka yang ditinggalkan. Rindu bahkan rela membayar sebesar apapun untuk bisa melihat mereka lagi jika diijinkan. Maka itu, ketika mereka masih ada, saya berusaha membahagiakan keduanya.

Bila Ayah Tiada, Bila Ibu Tiada

Ini pertama kalinya saya merasakan kesedihan luar biasa, dengan kehilangan dua sosok idola bagi empat putra putri mereka. Belum bisa membayangkan jika itu terjadi kelak.