Mengingat Whistle Blower, jadi Saksi Kunci, serius ?

1

Category : tentang Opini

Sesaat ketika mengetahui adanya fitur Whistle Blower di aplikasi LPSE, Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik beberapa tahun yang lalu, istilah yang saat itu menjadi Trend atas kasus apa gitu, saya lupa, maaf… sempat terpikirkan ‘seberapa beranikah kalian mencoba menerapkannya atas penyimpangan-penyimpangan yang kelak ataupun sudah terjadi pada birokrasi negeri ini ?’
Karena kalau melihat dari sisi positif atau reward yang diberikan, saya meyakini tak seberapa positifnya jika dibandingkan tekanan atau teror yang berpotensi diakibatkan karenanya, terutama apabila adanya ketidaksengajaan atau bisa jadi kesengajaan kebocoran informasi yang terjadi selama proses tersebut berlangsung.

Berselang sekian tahun, apa yang menjadi pertanyaan tadi, terjawab sudah.

Johannes Marliem, Saksi Kunci KPK atas kasus e-KTP yang kabarnya bakalan menjerat banyak pihak, tewas di Los Angeles Amerika. Ditengarai akibat bunuh diri, yang kalo secara logika pribadi, masih banyak kejanggalan didalamnya. Entahlah…

Ditambah teori konspirasi sebagaimana film epik JFK (1991), saya kok jadi semakin yakin, tentang kekhawatiran, seberapa kuatnya kita akan menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi ketika memilih tampil ke depan podium mendeklarasikan sebagai Abdi Negara yang Baik ?

Itulah yang terjadi pada sosok PakDe Jokowi, Presiden Indonesia keTujuh, dibully habis ketika sudah berupaya bekerja dengan benar, masih tetap Salah di mata banyak orang, atau Pak Ahok yang akhirnya terpeleset ucapan dan dipenjara, serta terbaru, Johannes Marliem yang tak mampu berbuat banyak, tewas mengenaskan.

Pada akhirnya, saya sendiri hanya bisa menuangkannya dalam sebuah status di akun sosial media FaceBook yang selama ini saya hindari.
‘Kematian Saksi Kunci KPK kasus e-KTP, Johannes Marliem di LA, menguatkan Pertanyaan yang selama ini bersliweran di Kepala.’
“Seberapa Kuat dan Seberapa Berani kah kalian menjadi seorang Saksi Kunci atau mungkin Whistle Blower pada kasus-kasus yang terjadi di Birokrasi negeri ini ?”

    Sambil menenggelamkan semua harapan dan keinginan yang sejak awal begitu menggebu, serta memilih jalan diam meski tak sesuai dengan hati nurani. Namun setidaknya ini merupakan keputusan terbaik bagi Keluarga nantinya.

Run Boy, Run…

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada banyak hal yang dilakukan orang untuk melarikan diri dari satu masalah.
Minum alkohol, merokok, hangout atau bolos saat jam kantor.
Hal terakhir adalah yang paling sering saya lakukan saat sudah mumet dan menyerah pada satu keadaan.
Namun biasanya perjalanan waktu tak akan bisa setenang sesunyi yang diharapkan.
Ada rasa bersalah. Ada rasa bingung saat melakoninya.

Lingkungan kerja kerap menjadi sumber masalah. Sangat jarang hadirnya dari keluarga.
Bisa jadi situasi yang berbeda terjadi pada kalian.

Berusaha tenang dan melupakannya, nyaris tak mampu dilakukan. Apalagi jika sudah tak sesuai dengan hati nurani.
Maka Pasrah pun dilakukan di hadapan-Nya. Berserah dan Mohon Petunjuk.

dan Petunjuk biasanya akan datang begitu kita meminta.
Sesederhana itu.

Maka sudah tidak seharusnya lagi saya memilih untuk lari dari masalah.
Lebih baik diselesaikan, semampunya.
Tentu atas Petunjuk dari Beliau.

Tuhan itu Maha Jahil.
Kalian Ingat ?

Tentang Tuhan dan Minggu ini

Category : tentang DiRi SenDiri

Tuhan itu Maha Jahil.
Serius…

Ketika Senin kemarin saya berada pada titik jenuh dan bosan hingga malas ngapa-ngapain, tiba-tiba saja pagi ini saya dikaruniai kesibukan dadakan yang cukup ampuh mengembalikan semangat kerja saya kembali meski belum sepenuhnya.
dan Sore tadi, saya memilih untuk berolahraga sejenak di lapangan puputan sepulang kerja.
It works…
Aneh memang.

Begitu juga di waktu lalu, ketika saya berada dalam situasi yang menyenangkan, sehari setelahnya, Intan putri kedua kami harus dirawat di RS karena gejala Typhus. Praktis hari-hari berikut yang kami lalui penuh kesibukan menemani si nakal di kamar vip RS Bhakti Rahayu hingga minggu sore. Siapa sangka bisa berubah secepat itu.

Pasca Vonis 2 tahun Pak Ahok, banyak yang bersedih. Termasuk kalian dan saya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Tuhan sepertinya menunjukkan sisi lain dari hukuman itu, dari berTerimaKasihnya puluhan ribu warga Jakarta lewat kiriman bunga dan balon ke balai kota, ataupun buku ke tempat pak Ahok dipenjara.
Bahkan tidak hanya itu saja.
Tuhan dengan caranya sendiri menunjukkan jati diri mereka yang selama ini sok suci mengklaim diri membela agama, namun di balik itu memiliki agenda yang berseberangan.
Unik…

Tuhan memang Maha Segalanya. Jadi ya ndak heran kalo saya sendiri menyebut-Nya sebagai Maha Jahil.
Begitu mudahnya Beliau membalikkan keadaan dari yang tadinya sedih menjadi gembira, gembira menjadi sedih, sepi kemudian ramai, dan ramai lalu sepi.
Seperti kunjungan ke Blog ini.
He…

Libur Panjang Kawan, Mau Kemana Kali Ini ?

2

Category : tentang PLeSiran

Hari Minggu kemarin, disela kelonan dengan Mutiara, bungsu kami yang galaknya minta ampun, sempat share beberapa postingan lama tentang Liburan. Yang dilakukan katakanlah dua tahun terakhir.
dan Malah baru menyadari kalo Liburan terakhir malah belum ada berselang enam bulan lalu. Ealah…

Tapi ya wajar saja. Karena dengan begitu banyaknya beban dan tekanan selama beraktifitas di Permukiman, saya membutuhkan tingkat refresh yang tinggi pula. Agar stress tak jadi berlanjut. Minimal selain menyegarkan pikiran, keluarga pun bisa berimbas nantinya.

Ada beberapa rencana lokasi tujuan yang tadinya atau malah sedari awal terdahulu ingin dijelajahi. Amed atau Kintamani misalnya. Dari yang berlokasi di pinggir pantai, hingga pinggiran danau, dipantau semua.
Namun kendala tetap saja ada.

Syarat utama kalo mau mengajak anak-anak Liburan, kolam private jadi pertimbangan. Cuma sayangnya ndak banyak venue menarik di dua lokasi tersebut menyediakan fasilitas itu.
Sementara ketika menemukan kolam private dengan fasilitas air panasnya, eh lokasi istirahat di bawah tenda camping. Aduh… Padahal sudah ngebet banget nyobain air panasnya Toya Bungkah.

Akan tetapi khawatirnya sih anak-anak belum sehat betul minggu ini.
Gek Ara yang paling pertama kena demam dan radang tenggorokan hari Minggu lalu. Berlanjut ke Gek Intan hari Kamisnya, saya kebagian hari Sabtu dan terakhir Gek Mirah hari minggu terakhir. Duuuhhh… penyakit keluarga memang ndak ada matinya. Ha…

Cuma kalo ndak dipaksa, kasian juga mereka libur panjang kok malah ngetem dirumah ? Minimal ngajak main kemana gitu, biar ada rame ramenya.

Nah kalian sendiri ada rencana kemana Liburan kali ini ?

America’s Got Talent #GoldenBuzzer

Category : tentang Opini

Wow… Amazing…

Terkaget-kaget saya menyaksikan satu persatu peserta audisi America’s Got Talent yang diganjar #GoldenBuzzer oleh para juri atau host yang mendampingi ketika penampilan mereka mampu memukau penonton.

Yeah…
Ini pertama kalinya saya antusias menonton kemasan audisi yang menampilkan puluhan manusia berkemampuan mengagumkan, baik yang mengambil jalur tarik suara, magician atau pesulap hingga komedian. Benar-benar asyik.

Saat tertarik untuk menonton video seorang anak perempuan yang ‘mendampingi boneka kelincinya bernyanyi, share seorang kawan di akun FaceBook, saya langsung membuka aplikasi TubeMate dan mencari channel video America’s Got Talent dengan menambahkan hastag #GoldenBuzzer untuk mendapatkan hasil penampilan mereka yang dianggap paling mengangumkan.
Jadilah begadang di malam hari saat semua sudah pada tertidur lelap dan esoknya bangun sedikit lewat dari alarm. Ealah…

Tapi jelas keren.
Saya sampai menitikkan air mata senang ketika menyaksikan sosok anak belasan tahun yang mahir bersuara perut melalui boneka bunny yang merupakan hadiah ulang tahun dari ibunya, atau yang bernyanyi seriosa laiknya filem Godfather, atau bahkan masih terkagum-kagum dengan permainan kartu yang muncul dalam notebook bahkan empat koin nya Will Thai.
Amazing…

Dan dari Indonesia ada bang Demian Aditya lewat sulap pasir yang menghebohkan netizen beberapa hari ini.

Kalian apa ndak penasaran ?

Cerita Masa Kecil

2

Category : tentang KHayaLan

Ngikut trend cerita generasi 90-an, rasanya saya adalah salah satu diantaranya. Bisa dikatakan hari ini usia dah di kepala tiga, cukup tua kalo ikut-ikutan cerita soal masa kecil.

Tapi asyik juga. Sekali-sekali pengen nginget apa yang dahulu pernah dilakuin.
Cerita masa kecil, masa dimana saya tumbuh besar tanpa gangguan perangkat berlayar sentuh sebagaimana anak-anak saya alami saat ini.

Saya sendiri tumbuh di tengah kota denpasar, dimana tepatnya jalan nangka masih berlalu lintas dua arah.
Bemo roda tiga adalah kendaraan yang lumrah wara wiri namun kini tiada lagi. Kadang diisi penumpang, kadang juga ngiklanin film yang tayang di bioskop sambil melempar lembaran film yang dilipat lipat persegi empat. Satu hal yang saya dambakan saat itu adalah mencicipi es krim yang lewat dengan menggunakan mobil saat duduk nongkrong di warung kerja milik Bapak. Sayangnya kami bukan keluarga berada yang mampu membeli es krim setiap mereka lewat.

Snack atau makanan ringan yang saya sukai ada Mami. Semacam mie goreng yang dikeringkan dan dibungkus dalam kemasan mini. Harganya masih 25 rupiah saja. Kalo ndak salah ingat.
Ada juga permen susu, atau yang berhadiah piring dan lainnya, didapat dengan mencoblos kotak kotak yang ada. Tentu tak pernah terjadi ada pembeli yang memenangkan piring, karena kabarnya itu bonus bagi pedagangnya. Hehehe…

Saya suka main kembungan. Balon yang ditiup berasal dari cairan dalam tube kecil, melalui sedotan seukurannya yang berwarna kuning. Kembungan ini akan kami terbangkan ke langit dan dipukul naik tiap kali turun ke tanah. Sayang, lupa namanya.

Kecil-kecil sudah bisa merokok. Ya, jaman itu sudah ada yang namanya permen manis berbentuk batangan rokok. Kalo diselipkan di mulut bakalan terasa sepet lantaran ada kertasnya. Musti dibukain lalu dikunyah.

Ada juga permen karet Yosan, yang tiap kali beli musti beneran yakin melihat huruf yang tertera dibalik pembungkus permen. Karena kalo kita bisa lengkap memiliki bungkus dengan huruf Y-O-S-A-N itu, bakalan dapat hadiah. dan ngomongin hadiah, satu-satunya hadiah yang pernah saya terima di masa kecil adalah perlengkapan sekolah dari Chiki. Lantaran bisa mengumpulkan lembar bertuliskan C-H-I-K-I dan mengirimkannya ke Jakarta.

Salah satu permainan yang saya gemari waktu kecil dulu ada Guli atau kelereng. Jenisnya banyak, dari yang biasa, putih susu, mini, hingga jumbo. Selain itu ada Tak Til, permainan memukul ranting kayu. Benteng diantara dua tiang rumah atau sekolah. Mengkeb-mengkeban atau petak umpet diantara bangunan pelinggih merajan rumah. Gala atau permainan yang saling menjaga lawan agar tak lewat batas. Atau mobil-mobilan yang diimajinasi dari bahan dan barang bekas di sekitar tempat bermain. Termasuk dari kulit jeruk bali tiap kali ibu membelah buah untuk kami makan bersama.

Bermain tanah, meguyang, hingga baju dan telapak tangan kotor rasanya hampir tiap hari dilakoni. Beda dengan anak jaman sekarang yang kotor sedikit, langsung dicuci pengempunya.
Menggetok kepala sepupu hingga berdarah pun salah satu kenakalan saya saat itu. Entah apa alasannya.

Super hero yang saya gemari di masa itu ada Megaloman. Pahlawan dari negeri sakura ini selalu membunuh dan meledakkan monster musuhnya dengan rambut api miliknya. Ada 9 kaset video yang dirilis untuk satu seri Megaloman. Dan yang paling keren bagi kami adalah kaset ke 8. Kalo ndak salah episode Megaloman yang direbut banyak monster.

Saking sukanya, koleksi gambaran yang dijual sebanyak 36 aksi kalo ndak salah dalam satu lembar besar, yang dipotong dan dipamerkan, menjadi hal yang paling membanggakan diantara kawan. Seri kwartet, empat seri dengan satu tema, kemudian menjadi permainan mengasyikkan sepulang sekolah.

Selain Megaloman, saya menyukai tokoh Lion Man yang berubah menjadi singa. Ya namanya juga Lion. Hehehe… juga Zaabogar yang saya miliki kaset serinya.

Meski lebih sering diantar jemput oleh Bapak saat masih bersekolah di SD 1 Saraswati, sesekali saya berjalan kaki atau bonceng sepeda teman. Namun lantaran dasar saya suka melali sepulang sekolah, sempat satu hari saya disangkakan kena penculikan karena saat itu memang lagi rame-ramenya. Padahal saya jalan kaki main ke rumah orang tua angkat di jalan Suli. Kedua orang tua marah besar ketika saya pulang diantar sopirnya Uwak Odantara.

Saya termasuk anak yang bodoh. dan Cengeng.
Bodoh karena dari SD hingga bangku SMP, tak pernah sekalipun mendapatkan rangking. Apalagi kalo dibandingkan kedua kakak yang begitu dibanggakan orang tua. Kalo mau dicompare dengan Mirah putri saya, yakin dia bakalan jumawa kalo tau bapaknya ini bukan anak yang istimewa di mata guru sekolah. Meski begitu, saya gak pernah mencontek. Seingat saya sih ya. Mungkin karena sukar berbohong karena begitu melakukannya, jadi seperti tersiksa lahir bathin.
Cengeng, lantaran suka menangis tiap kali diejek oleh kawan sekolah dan juga saudara sepupu.

Saya juga tergolong anak yang lemah. Kalo istilah balinya itu, Lempe. Seringkali jatuh dan terluka pada kaki. Ndak heran banyak koreng dan dakinya disitu. Olahraga dijamin dapat urutan akhir kalo soal aerobik. Pula yang mengandalkan kecepatan gerak.
Nyaris tidak punya hobby saat itu. Baru terlihat menginjak smp dengan megambelnya dan menulis mading saat sma.

Anak yang kuper. Kurang pergaulan. Utamanya dengan teman sekolah. Ndak heran tidak banyak kawan sd yang ingat dengan saya. Bahkan ketika bertemu di sanggar tari anak, kawan perempuan yang dulu saya kagumi pun bingung menebak nama saya. Baru ingat pas dikasi clue ‘anak yang paling cengeng di kelas’. Hehehe… sosok saya baru mulai diingat saat masuk smp dan sma gegara tinggi badan yang nyaris setara dengan Cok bersaudara. Itupun diingat lengkap dengan cara berjalan yang lebih banyak menunduk ke bawah lantaran minder, dan kali diajak bicara suka memandang ke arah mana. Aduh…

Kalo diingat-ingat, ada banyak kejadian memalukan yang saya alami atau lakukan di masa kecil. Dari menyebut Kenny G dengan terompetnya, menggunakan dompet hello kitty di bangku smp, hingga banting meja kalo seisi kelas pada ribut. Sementara sd, sering nangis meski gak jelas alasannya.
Maka itu berapa kali diajakin reuni sekolah, saya malas datang. Karena masa kecil saya itu gak asyik banget.

Mencuri.
Saya sering mencuri saat kecil dulu.
Hanya karena tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkan, maka itu saya mencuri.
Dari uang milik Bapak yang ditaruh diatas lemari, untuk jajan sepulang sekolah. Atau majalah di agency dekat rumah hanya karena ingin membacanya. Parah memang…
Baru jera ketika ketahuan.
Dimarah Bapak dan Ibu.
Jadi jangan heran, ketika saya mulai bisa menghasilkan uang sendiri, nyaris semua yang dulu saya ingin miliki, dibeli demi kepuasan sesaat. Misalkan ya pergantian ponsel selama ini. Hehehe…

Berhubung saya banyak minusnya, dan juga gak punya gaya gaul lantaran bukan berasal dari keluarga berada, saya pun merasa minder dan malu saat berhadapan dengan lawan jenis. Ditolak berkali-kali sih sudah biasa. Jadi jangan heran juga kalo pacaran pertama baru terwujud di akhir masa kuliah. Sebelumnya itu musti puas naik sepeda/motor tanpa gandengan.

dan terakhir, saya tidak memiliki kawan bicara sejak kecil. Bisa jadi karena dari segi umur antara saya dengan kedua kakak, terpaut jauh. Sehingga banyak istilah yang miss understanding terlontar jaman itu. Seperti misalkan mengatai ‘Perek’ ke kakak perempuan yang kini telah almarhum, hanya karena tidak mau meminjamkan buku seri Lupus saat ingin membacanya. Pas tau artinya, saya langsung mengunci diri di kamar sampai malam.
Bisa juga lantaran saudara sepantaran hanya ada 3 saja, dan dua diantaranya melewatkan masa kecil jauh dari rumah. Satu sisanya, jarang diberi ijin bermain dengan saya oleh kakak-kakaknya. dan ia meninggal saat kami beranjak remaja.
Itu sebabnya saya menikah di umur 26. Karena tidak ada yang saya ajal bicara sepulang kerja. dan kini memiliki 3 anak dengan jarak umur yang agak berdekatan agar mereka nantinya tak mengalami apa yang saya alami dulu.

Ah, cerita masa kecil…
Sedih dan harus kuat untuk bisa mengakuinya…

Menghapus Semua Kenangan Masa Lalu di Permukiman

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Empat bulan sudah saya meninggalkan kursi panas di Permukiman. Gak nyangka juga pada akhirnya bisa pindah.
Kini saya bertugas di Bidang Perumahan, memfokuskan diri pada penanganan Bantuan Rumah bagi masyarakat miskin di Kabupaten Badung.
Meski menurut atasan, sebenarnya sama saja kesibukannya, namun untuk saat ini, terasa betul penurunan tensi dan tekanan DPRD yang dulu pernah ada. Jadì jauh lebih menikmati pekerjaan, meski situasinya tidak pernah berubah.

Satu persatu kenangan masa lalu itu saya hapus dari ingatan.
Pesan sms dari sejumlah kawan, anggota DPRD hingga aparat Desa, saya baca kembali, dirunut dan diyakinkan sudah tak lagi berguna, lalu dihapus dari daftar. Demikian halnya pesan bbm dan whatsapp.
Kalaupun ada hal yang penting untuk disimpan seperti kontak personal ataupun usulan ruas jalan lingkungan, sejauh ini masih tetap dipertahankan untuk selanjutnya saya teruskan dulu pada yang berwenang baru kemudian dihapus permanen.
Catatan kecil dalam aplikasi Evernotes pun tak luput dari perhatian. 200an draft yang pernah dicatatkan, kini hanya tinggal sepersepuluhnya. Menyisakan hal-hal penting atau draft postingan blog yang dahulu sempat mandeg. Salah satunya ya tulisan ini.

Nyaris tidak ada kenangan masa lalu di Permukiman yang bakalan saya pertahankan dalam 1-2 bulan kedepan. Apalagi kalo sampai pemeriksaan BPK nantinya bisa selesai. Group bbm yang dulu pernah digagas sebagai media berbagi informasi kami pun, yakin akan saya tinggalkan segera. Mengingat kini, ponsel blackberry rata-rata sudah berganti menjadi Android. Hal lama yang pernah menjadi lucu saat diingat.

Persoalan penanganan jalan lingkungan, kini sudah dipegang pejabat baru yang fresh from the oven. Didukung oleh jajaran mantan staf yang berdinamika, saya yakin mereka bisa menjalaninya jauh lebih baik ketimbang saya terdahulu. Harapannya sederhana, kawan-kawan yang belum mampu saya bahagiakan lahir dan bathin, bisa mendapatkannya kini bersama pimpinan yang baru.
Sedangkan saya, kelihatannya memang tak banyak mimpi yang ingin diraih, karena istirahat bagi beban pikiran dan fisik, jauh lebih penting dari segalanya.

Dari dua ratusan kontak yang saya miliki terdahulu, kini sudah berkembang menjadi tujuh ratusan. Sisi positif selama berada di Permukiman. Jadi makin banyak kawan yang dimiliki.

Atau harus dihapuskan juga ?

DKI Jakarta Punya Gubernur Baru, Selamat ya…

1

Category : tentang Opini

Wiii…
Selamat ya pa Anies dan pa Sandi…
Akhirnya lolos lubang jarum juga ke kursi Gubernur DKI… Ini adalah kemenangan kita semua, bahkan termasuk saya yang bukan Warga DKI Jakarta, makanya ndak mencoblos pa Ahok. Hehehe…

Lebih dari 51 % hasil Quick Count nya kalo ndak salah.
Itu artinya ya Mayoritas Penghuni Jakarta memang sudah bosan memiliki Gubernur yang punya mulut comberan, tukang gusur, gak se-Iman dan Penista Agama…
atau Bisa juga ya Mayoritas Penduduk Muslim di Jakarta memang Takut Masuk Neraka…

dan ketika pa Anies yang dulu katanya dipecat pa Jokowi gegara nda becus mimpin Kementrian Pendidikan padahal tingkat serapan anggarannya terbesar, malah bisa jadi memang sengaja dilengserkan agar bisa punya kesempatan duduk di kursi Gubernur DKI. Ya siapa tahu kan ?

Jadi, kedepannya Jakarta bakalan jadi Role Model lagi bagi daerah lainnya. Baik dari segi tata pengelolaan pemerintahnya, kualitas pelayanan birokrasi hingga ke persoalan toleransi umat beragamanya. Serta titik akhir dari semua itu adalah tingkat korupsi yang hadir ditengah-tengah kepemimpinan, apakah memang bertujuan mensejahterakan masyarakat Jakarta dan membangun kepercayaan atau apalah ? He…

Saya harap siy PilGub Bali tahun depan bisa lebih adem ketimbang DKI Jakarta…

Tapi ah, Saya jadi ingat cerita pendek di halaman akhir Intisari beberapa waktu lalu. Dimana seorang lelaki di sebuah desa berada dalam posisi terancam banjir bandang yang akan menghantam rumahnya…
Ketika Pak eRWe datang dan memintanya pergi meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri, si lelaki berkata ‘akan ku tunggu Tuhanku, aku yakin Dia akan menolongku…’
Pak eRWe pun pergi meninggalkannya…
Tidak lama ketika air sudah naik ke lantai 2 rumah si lelaki, pasukan SAR yang membawa perahu karet pun datang menghampiri dan meminta si lelaki untuk naik menyelamatkan diri, namun lagi lagi si lelaki berkata ‘akan ku tunggu Tuhanku, aku yakin Dia akan menolongku…’
dan Pasukan SAR pun beranjak Pergi untuk menolong warga yang lainnya.
Saat banjir sudah setinggi atap dan si lelaki mulai tampak kebingungan di atas genteng rumahnya, sebuah Helikopter polisi datang mendekati dan berteriak agak si lelaki menjangkau tali temali yang diturunkannya, dan lagi lagi si lelaki berkata ‘akan ku tunggu Tuhanku, aku yakin Dia akan menolongku…’
dan Helikopter itupun berlalu mencari warga desa yang tersisa…

Tak berapa lama, banjir bandangpun akhirnya menghanyutkan rumah serta menewaskan si lelaki tersebut.
Saat bertemu dengan Tuhan, ia pun melayangkan protes sambil marah-marah. “Tuhan, aku menyembahmu setiap hari, tapi ketika aku butuh pertolongan dariMu, tak kudapatkan itu…”

Tuhanpun menjawab…
“Aku sudah mengirimkan pak eRWe kepadamu, tapi kau tolak… Aku kirimkan pasukan SAR, kau tolak juga… bahkan ketika Helikopter kudekatkan, kau tolak lagi… lalu Pertolongan apa lagi yang kau harap dariku ?”