Bersua ‘Nic & Mar’

Category : tentang Opini

Kisah pertemuan dua insan yang telah berstatus mantan, dengan ‘terpaksa’ terjalin kembali di Eropa Paris, berkat Line.
Sounds familiar ?

Kisah serupa pernah digulirkan tahun 2014 lalu menyambung epic lama di blantika film remaja Indonesia. Salah satu aktor yang terlibat masih sama dengan kedua kisah diatas. Nicholas Saputra.

Pemeran tokoh Gie yang sampai sekarang masih saya sukai penampilannya ini, melalui debut awal tahun 2002an lalu lewat ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang beradu akting dengan aktris beken Dian Sastro.
Cerita ini kemudian berlanjut dua belas tahun kemudian dalam bentuk mini drama besutan Line, aplikasi mobile messenger yang mengandalkan nomor ponsel macam Whatsapp, bukan PIN macam BBM. Namun didalamnya memiliki fitur pencarian berdasarkan Nama pengguna sehingga dimungkinkan untuk menemukan dan berbicara dengan seseorang, mantan sekalipun.
Selama lawan bicara menggunakan aplikasi yang sama.
Yang sayangnya, bagi pengguna yang pernah menggunakan Line lalu berstatus mantan karena tidak lagi menggunakan Line, daftar nama yang bersangkutan tetap muncul dalam pencarian, namun tidak akan mendapatkan respon apa-apa ketika dikontak melalui jalur aplikasi yang sama. Kasian banget bagi yang berharap banyak. *he-em

Balik pada kisah ‘Nic & Mar’, saya menemukannya secara tidak sengaja di halaman berbagi video, YouTube pertengahan Maret lalu. Inginnya sih mengunduh beberapa film Indonesia lama yang disajikan full durasi, tapi nyasarnya malah ke serial mini drama ini yang di-update setiap hari Kamis dan Jumat malam.

Nic & Mar PanDe Baik Line

Konsep jualannya mungkin mirip dengan kisah mini drama ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang dirilis tahun 2014 lalu, atau kisah ‘Malam Minggu Miko’ nya Raditya Dika yang memang hanya edar dalam versi YouTube, namun bisa dikatakan alur cerita, permainan musik latar dan pengambilan gambarnya, sesuai dengan harapan banyak penggemar film Indonesia yang sudah familiar dengan sosok Nicholas Saputra.

Adapun lawan main Nicholas Saputra yang berperan sebagai Nic dalam kisah ini adalah Mariana Renata yang berperan sebagai Mar.

Kisah ini dimulai dari perjalanan Nic di Paris yang kebingungan mencari referensi terkait kota yang ia kunjungi, dengan bertanya pada kawan dalam group Line. Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan adalah menjumpai Mar, sang mantan kekasih yang telah sepuluh tahunan berpisah dan secara kebetulan bekerja di Paris. Pertemuan yang dijalani sebagai teman lama ini kemudian berkembang lagi menjadi satu hubungan yang berbeda dari sebelumnya.

Nic & Mar PanDe Baik Line 1

Hingga malam ini, ada empat episode yang bisa dinikmati dari cerita ‘Nic & Mar’ melalui channel Line Indonesia di halaman YouTube. Ditambah dua video musik yang melatarbelakangi kisah dengan tajuk ‘Far Away’ dan ‘When You Are Near’, sangat cocok dinikmati bagi kalian yang sudah mulai gerah dengan kehadiran Shitnetron dan sejenisnya di layar televisi.
agar bisa menontonnya secara berulang, saran saya video diatas bisa diunduh dengan menggunakan aplikasi TubeMate pada ponsel Android atau YouTube Downloader pada perangkat PC.

Saya yakin kalian bakal menyukai dan menunggu episode kelanjutan dari kisah ‘Nic & Mar’ ini, yang tentu bisa dikunjungi lagi Jumat malam nanti. Apalagi kisah ini diturunkan hanya dalam durasi yang singkat. Sekitar 6-7 menitan setiap episodenya.

Penasaran ? Mampir aja di halaman Line Indonesia, playlist ‘Nic & Mar’.

Amor ring Acintya bli Komang Pande Gus Jun

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Mih… kaget mendapat berita bli Komang Gus Jun meninggal di Jakarta tadi pagi karena serangan jantung…
ini salah satu alumni Teknik Udayana sekaligus saudara mindoan semeton Pande yang mengenalkan saya pada musik Thrashmetal era Morbid Angel, Suffocation dan tentu saja Sepultura…

Amor ring Acintya bli Mang…

(FaceBook profile Mar.18 at 11.38 pm)

bli Komang Pande Gus Jun 2

Entah kenapa, saya memimpikan bli Komang barusan.

Tersadar pada pukul 1.38 am 19 Maret, sayapun mulai mengingat kembali apa yang ada dalam benak tadi.

Alkisah saya mengikuti lomba yang diikuti hanya oleh tiga peserta. Lomba tersebut adalah berjalan, berlari dan terakhir mencoba segala upaya yang ada untuk tiba dan sampai di garis akhir yang telah dijaga oleh orang tua penglingsir sebagai satu pendidik kami, semacam rektor atau sejenisnya. Entah…

Untuk mengenali Lokasi lomba, saya diantar Istri yang mengingatkan untuk berkabar melalui ponsel Nokia 6275i lawas yang saya miliki. *oke, mohon jangan tanyakan kenapa harus ponsel Nokia, karena saat tersadar dan mengingat, saya pun bingung kenapa harus menggunakan ponsel tersebut dengan format simcard microchip macam iPhone pula. Namanya juga mimpi, jadi memang dapat dipastikan ya gak bakalan nyambung dengan Logika.

Lomba pun dimulai.

Saya harus melewati orang per orang yang lalu lalang dengan setting jalan setapak mirip di jalur Besakih yang mengambil jalan ke kanan di pertigaan pos polisi itu. Namun orang per orang ini adalah sekumpulan orang yang siap menjatuhkan mental saya dengan kalimat dan kata-kata yang mengejek dan menghina. Tapi karena sudah tahu dan paham saat diberitahu ‘clue’nya oleh istri saya barusan, semua itu saya lalui dengan cuek. Jalan terus…

Rintangan mulai hadir saat saya diharuskan melewati jalan dengan merangkak, sementara tangan harus menghapus dan melafalkan mantra yang *maaf saya sama sekali tidak ingat, namun di ujung jalan, saya diminta meneriakkan satu kalimat semacam yel yang tentu saja masih berupa mantra, yang akan secara otomatis terlintas di pikiran saat saya berkonsentrasi penuh dengan maksud tertentu. Ajaib… saya berhasil mengucapkan mantra tersebut dengan keras dan dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan… dengan apa ya ? Kok bisa lupa…

Perjalanan terakhir, saya lupa mengapa diminta untuk mengayuh sepeda dengan track lurus ke arah utara, hingga mentok di pertigaan, belok kiri dengan turunan tajam dan kondisi jalan yang rusak setengahnya. Yang unik, sembari mengayuh, saya melihat bli Komang Pande Gus Jun, menyalip saya dengan santai, diatas sepeda tuanya.
Disaat melewati jalan rusak, sayapun terjatuh dan dengan berteriak, saya diminta istri untuk boncengan di sepeda bli Komang dengan harapan bisa mengantarkan saya pulang menyelesaikan lomba hingga garis akhir.

Entah bagaimana ceritanya, kok malah saya yang mengambil alih sepeda, ngebut sesuai ‘ilmu pengetahuan’ yang didapat bahwa dengan memacu sepeda dalam arus air di selokan/lubang jalan raya, akan mempercepat laju bak rollercoaster diatas sadel sepeda. Dan entah bagaimana logikanya, sayapun di jelang garis finish yang dihadapkan pada satu area penuh air layaknya danau, disalip oleh dua peserta lainnya dengan menggunakan sepeda motor berkecepatan tinggi.

Saya dinyatakan kalah atau menempati tempat ketiga oleh sang orang tua tadi yang melewati genangan air diatas Truck Wheel Loader yang mirip dengan milik Dinas Bina Marga Badung saat pematangan lahan tahun 2005 silam.

Setiba dirumah, sayapun bercerita pada kedua orang tua perihal perjalanan lomba tadi yang dialami dalam mimpi itu. *Mimpi dalam mimpi, mimpi bertingkat mungkin namanya…
Sembari mengingatkan bahwa tanpa bantuan bli Komang Pande Gus Jun, tentu saya tidak akan bisa sampai di garis akhir, juga dirumah tepat waktu. Maka itu saya mengajak Bapak untuk menengoknya di rumah duka sore ini.

dan semua mimpi itu baru disadari saat terbangun pukul 1.38 tadi…

Ah, mimpi memang gak perlu dinalar pakai logika, masuk akal atau tidak. Apalagi yang diingat juga gak runut jelas dari awal, mengingatkan saya akan pendapat seorang kawan lama, bahwa Mimpi itu gak akan Logis dan Ingat tercerna alur ceritanya. Jadi ya buat apa dipertanyakan lagi.

Yang terpenting bahwa sosok bli Komang ikut hadir didalamnya, yang bisa jadi merupakan bunga tidur dalam ingatan yang tadinya sempat terlintas saat membaca Mantram Gayatri dengan genitri sesaat sebelum tidur. Artinya, pagi nanti saya harus menghaturkan sodha di pelinggih Bethara Hyang Guru atau dimana ya tepatnya ? Mengingat yang bersangkutan belum diupacarai hingga hari ini.
Mohon bantuan para suhu, para guru yang sudah berkenan membaca tulisan yang dilahirkan dini hari pukul 2.09 ini, lantaran gak bisa memaksa mata untuk terpejam lagi.
Baik arti mimpi jika sekiranya itu bermakna, atau soal keterkaitan dengan bli Komang Pande Gus Jun tadi.

Ditunggu yah…

Tentang Dokter Wayan Sudana

Category : tentang Opini

Tumben saya diserang batuk dan flu parah, padahal biasanya begitu gejala datang langsung dihantam Kangen Water. Tapi kali ini gak mempan lagi rupanya.
Terpaksa kalo gini urusannya, harus mencari dokter senior pujaan saya, Wayan Sudana di jalan Meduri. Kira-kira masih praktek gak yah ?

Sakit yang Beliau derita mungkin sudah cukup parah. Tubuhnya yang dahulu tambun, kini sudah jauh lebih kurus.
Baju kemeja bergaris tipis dan celana panjang hitamnya tampak longgar dan besar. Wajahnya pun tak segarang dahulu yang saya kenal.
Setahun lebih sudah saya tak pernah bersua Beliau. Padahal jika dahulu sedikit saja diserang batuk dan pilek, tangan dokter selalu ampuh mengobati.

Sebenarnya saya kasihan melihat Beliau. Reaksinya sangat lambat untuk ukuran dokter yang masih aktif praktek, namun kelihatannya sakit yang mendera masih dipaksakan demi melayani pasien. Dan kini, si pasien pun kelihatannya jauh lebih aktif menyorongkan anggota badannya untuk diperiksa satu persatu. Mulut, kedua telinga dan dada juga denyut nadi. Bahkan stetoskopnya pun tidak ditempatkan di posisi yang benar.
Jika saja sugesti akan keampuhan obat dan penanganan Beliau tidak merasuki pikiran terlalu dalam, mungkin saya tak akan mau mengganggu waktu istirahatnya sabtu pagi kemarin.

Saya mengenal dokter Wayan Sudana ini sudah lama. Sejak kecil. Sejak Beliau masih praktek di Apotek Anugerah jalan Patimura.
Dokter spesialis THT ini menjadi langganan apabila kami mengalami sakit ringan hingga yang berkaitan dengan anggota tubuh yang menjadi spesialis Beliau. Telinga Hidung dan Tenggorokan. Batuk dan Pilek tentu pilihan utamanya.

Pernah sekali waktu telinga saya merasa berdengung, tak nyaman selama berhari-berhari. Saat ditangani, ternyata Beliau menemukan kapas yang digulung kecil, membusuk di dalam telinga. Mungkin lipatan cotton buds yang tertinggal didalam menyebabkannya demikian.

Pernah juga dalam durasi satu minggu, saya terpaksa berobat dua kali. Tepatnya sebelum Ujian Akhir Skripsi dan setelahnya. Mungkin karena tegang, panas badan menyerang saya beruntun. Tapi beruntung saat ujian berlangsung, saya bisa fit menjalaninya. Apalagi kalo bukan atas jasa Beliau.

Bapak, menemukan sakit Diabetesnya pula atas jasa Beliau. Yang menganjurkan test darah sesaat setelah menjalani pemeriksaan rutin tahun 2003 lalu. Dan entah berapa kali saya, istri dan anak pertama, memanfaatkan jasa Beliau saat mengalami penurunan kondisi.
Tentu saja Beliau sangat berjasa.

Saya masih ingat, sekali waktu rekan sesama blogger Bali mengeluhkan soal minim bicaranya Beliau saat melakukan pemeriksaan. Ini memang ciri khasnya. Pelit bicara.
Namun ketika usianya makin senja, ia tak segan tertawa ketika kami berobat padanya. Mencandai putri kami, bahkan mentraktir makan siang di satu tempat makan dekat kantor saya terdahulu.

Kini disela geraknya yang melambat, Beliau masih mampu dan berusaha mengingatkan saya akan kalimat yang biasanya akan disampaikan setelah kantong obat diberikan.

‘Minum obat sampai habis, jangan konsumsi yang dingin, kancang ndak boleh, gorengan juga ndak boleh’

Meski kalimatnya terputus putus dan lemah, namun saya yakin setia pasien langganan Beliau, pasti paham maksudnya.

Pagi ini, hari kedua saya mengkonsumsi Obat yang Beliau berikan. Empat macam yang sudah dikemas rapi, lengkap dengan tulisan dosis dan tersimpan rapi dalam laci mejanya. Kelihatannya semua sakit yang dikeluhkan punya jenis obat yang sama. Mungkin jika Beliau masih mampu membedakan, salah satu diantaranya akan ditukar. Meski demikian, efeknya sudah sangat terasa. Batuk yang sempat menyakitkan dada saat dikeluarkan, kini tak lagi ada. Hanya menyisakan pilek dan ingus yang masih meler hingga kini. Hal biasa yang saya yakin akan sembuh saat obat ini habis nanti.

Dokter Wayan Sudana, tentu kenangan ini akan selalu kami ingat. Namun jika melihat kondisi Beliau seperti yang ada saat ini, mungkin sudah saatnya kami mencari alternatif dokter THT lainnya, dan memberikan kesempatan pada Beliau untuk istirahat dan menikmati masa pensiunnya.