Menyoal Protokoler pembacaan Sambutan Pejabat

Category : tentang Opini

Dalam setiap agenda rapat ataupun kegiatan yang berskala besar untuk ukuran Kabupaten dimana para Peserta berasal dari lintas SKPD, salah satu tahapan protokoler yang harus dilalui adalah pembacaan Sambutan dari pejabat tinggi yang sedianya menghadiri dan membuka acara, baik oleh dirinya sendiri atau diwakilkan bawahannya. Yang sayangnya cenderung panjang dan membosankan.

Baiknya sih memang para pejabat sudah mulai memikirkan bagaimana cara membaca atau membuat sebuah draft Sambutan atau minimal Laporan panitia agar mampu mencuri perhatian bagi sebagian peserta, dan tidak membiarkan kondisi yang terjadi jadi mirip ngobrol sendiri di depan audiens.

Dibuat dalam bentuk presentasi apabila memungkinkan, disampaikan tanpa teks sehingga mirip improvisasi padahal sebelumnya sempat dihafalkan sedikit, bahkan kalaupun bisa ya interaktif. Tapi gag bakalan deh ya, mengingat ini protokoler resmi yang malah para pejabatnya merasa enggan kalo harus keluar dari pakem yang ada.

Atau kira kira kalian punya pendapat bagaimana tips yang bagus untuk hal macam ini ? Siapa tahu kelak saya bisa mengadopsinya. Hehehe…

Ini pe-er untuk masa depan kali ya…


Selamat Hari Blogger Nasional

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Gag terasa nih udah sewindu saya menyandang status sebagai blogger, status sampingan seorang PNS yang biasa-biasa saja. Hehehe…

dan karena hari ini merupakan Hari Blogger Nasional, sebagai salah satu blogger tentu wajib hukumnya bagi saya untuk ikut-ikutan merilis satu posting yang berkaitan dengan topik tersebut meskipun secara isi sih sepertinya gag penting, hanya nambah-nambahi jumlah posting yang kini baru mencapai angka 2.298. Jadi setelah postingan ini terpublikasi, ya bakalan mengubah angka terakhir jadi 9, itu aja sih.

Akan tetapi, perlu saya sampaikan bahwa menjadi seorang Blogger itu sebetulnya adalah Berkah, satu Anugerah Tuhan yang gag ternilai harganya. Karena dengan adanya status inilah, hobby menulis atau menuangkan isi kepala secara rutin bisa mendatangkan banyak manfaat seperti dokumen Tesis, dokumen tugas Diklat PIM IV atau sekedar Notulen hasil rapat dan penyampaian pendapat secara terstruktur masif dan sistematis. Dimana semua itu gag bakalan bisa saya wujudkan apabila status sebagai seorang Blogger tidak pernah saya sandang selama delapan tahun terakhir. *Sombong itu Perlu, apalagi kalo bisa tamat SMA *uhuk *jadi saran saya mulailah menulis dan sandanglah status sebagai seorang Blogger.

BloGGer

Memang benar apa kata senior saya om Anton Muhajir aka @antonemus bahwa Status Blogger akan disandang begitu ia melahirkan sebuah tulisan, sedangkan soal Update kapan sih ya… terserah, itu urusan masing-masing. Bersyukur sampai tadi pagipun masih sempat nulis satu postingan meskipun secara isi lagi-lagi ya gag penting banget. Curahan hati seorang PNS yang lagi menggalau. Tapi ya gag apa-apa, toh ini media pribadi. Mau jungkir balik pun disini masih sah sah saja.

ditambah apa yang disampaikan seorang Ivan Lanin lewat akunnya @ivanlanin bahwa “Terlalu sering menulis kalimat pendek dapat menumpulkan kemampuan menulis panjang. (maka) Tulislah blog…” ini lagi-lagi benar adanya. Bahwa status Blogger belakangan memang makin berkurang jumlahnya (jika tolok ukur yang digunakan adalah pembaharuan atau interval update tulisan terakhir), seiring lahirnya istilah micro-blogging dimana tulisan yang biasanya sedapat mungkin dipanjang-panjangkan, kini sudah terwakili oleh Update Status yang hanya terdiri dari beberapa kata ataupun satu kalimat singkat.

Tapi sudahlah, di Hari Blogger Nasional ini tentu bukan saatnya kita berdebat sejauh itu. Minimal satu yang perlu diingat bahwa di Indonesia kita masih punya Mas Enda Nasution yang dikenal sebagai Bapak Blogger Indonesia, ditambah halaman MisterKacang nya putra Jokowi, presiden terpilih yang diharapkan bisa membangun kembali semangat para blogger untuk hadir dan eksis di dunia maya. Sedang saya sendiri ya tetap berusaha melahirkan posting tulisan yang ke 2.300, entah kapan.

satu tambahan lagi, sebagai seorang Warga Negara Indonesia yang tempo hari secara terang-terangan memilih Pak Jokowi sebagai Presiden dalam Pemilu lalu, tentu wajib saya mengucapkan Selamat Bekerja bersama Kabinet Kerja bentukan Beliau bersama pak JK, dan berharap meskipun banyak cercaan dan komentar sinis yang mampir, dalam 5 tahun kedepan bisa membalikkan sedikit keadaan bangsa yang kini banyak dipesimiskan generasi muda angkatan saya.

Terakhir, Selamat Hari Blogger Nasional sekali lagi. Semoga gag ada lagi kamus kasus blogger dituntut Media Mainstream hanya karena tulisannya yang menyentil, dan gag ada kamus kasus blogger diamputasi hobby menulisnya oleh Pemerintah berkuasa.

Demikian disampaikan untuk dapat ditindaklanjuti. *eh Maaf, ini kebiasaan saya dalam menyusun surat dinas


Dunia Belum Kiamat

1

Category : tentang PeKerJaan

Terkadang saya ingin tahu apa yang sekiranya ada dalam kepala dan pikiran mereka yang tersangkut kasus korupsi dan memang benar dilakukan. Tetap kukuh meyakinkan diri tidak bersalah sehingga masih bisa mengumbar senyum walau sudah berada dalam tahanan ataukah malah bergemuruh dan berusaha membayar aparat untuk memperingan vonis serta masa hukuman mereka ?

dan Terkadang saya juga ingin tahu bagaimana isi kepala dan pikiran orang-orang yang sudah sedemikian berusaha untuk berlaku jujur dan bekerja, namun akibat tidak mau bekerja sama dalam memelihara aparat ataupun media yang memiliki kepentingan lalu memeras, lalu dijatuhkan sedemikian rupake jurang yang terdalam ? Apakah mereka masih tetap teguh dan tabah bahwa kelak Tuhan akan memberikan jalan yang adil bagi umat-NYA, serta berharap yang namanya Karmapala tidak akan tidur, ataukah harus merasa khawatir akan masa depan juga keluarganya yang telah mati-matian ia jaga martabatnya ?

Ketika kemudian usaha untuk bekerja itu diusik dan disangkakan sama dengan model ‘bekerja’ terdahulu, lalu berharap¬† akan mendapatkan sesuatu dari usaha¬† pemerasan, namun karena tidak mendapat tanggapan, kemudian marah dan makin menjadi, kira kira apakah isi kepala dan pikiran mereka dalam hal ini aparat atau media yang memulai dan terlibat didalamnya ?

Tak habis pikir memang…

Jika saja semua dijalankan sesuai aturan, tidak ada titipan ataupun permintaan hanya karena berbaju aparat lalu bisa memaksa, saya yakin kesadaran untuk berbuat yang terbaik itu muncul dengan sendirinya. Hanya saja sayang, tidak semua bisa sama begitu pemikirannya. Maka ya tidak heran kalau kemudian semua disamaratakan.

Kini, Saya hanya bisa menunggu waktu. Merasa sudah berbuat yang Terbaik, namun karena tidak memuaskan semua pihak (dengan cara dan jalan yang benar), rasanya ya tinggal dipasrahkan saja. Jikapun kemudian hal buruk terjadi, minimal suara saya kali ini bisa membuka mata kalian semua.