Mundur dari (group FB) Suara Badung ?

Category : tentang Opini

Leave Group

Tombol itu ditekan juga akhirnya…
Tengah malam menuju pergantian hari, disela istirahat pasca selesainya proses Verifikasi Bantuan Rumah di Kabupaten Lombok Utara, keputusan pun diambil.
Makin yakin untuk mundur dari group FaceBook Suara Badung.

Salah satu motivasi mulia yang tersirat di kepala saat berkeinginan untuk bergabung di Suara Badung setahun lalu, adalah untuk memberikan tanggapan atau reaksi cepat, akan hal-hal yang dikeluhkan oleh masyarakat Badung pada kinerja kami selaku pelayan di Kabupaten Badung. Tapi kenyataan memang tak semudah cocot mario bros.

Riuhnya caci maki dan bully terhadap orang-orang yang sesungguh tidak bersalah, baik sebagai aparat desa yang selama ini sudah berusaha mengayomi masyarakatnya, atau sebagai asn yang selalu berusaha sabar dalam menanggapi semua keluh kesah yang ada, harus dikalahkan oleh berbagai kepentingan yang kerap menutup mata dan nurani mereka yang sudah terlanjur membenci atau antipati sejak awal. Padahal jika ditelusuri, banyak fakta yang terkuak, bahwa apa yang sudah dibagi kepada 50 ribu peembaca Suara Badung sesungguhnya tidak akurat. Bahkan ada yang ketika diminta untuk menyampaikan data otentik terkait apa yang diomongkan, hingga pembicaraan dari jalur gajah mada ketelingsut ke arah gianyar, lalu negara, tak jua mau menunjukkan itikad baik menjelaskan duduk masalahnya.

Analoginya, Hantam duluan, urusan minta maaf boleh belakangan. Atau bahkan balik kanan dan menghilang.
Sementara yang diHantam sudah babak belur, dikeroyok banyak orang, namun ketika fakta berbicara, tak ada kata maaf yang dilontarkan. Karena sosial media FaceBook lebih suka menutup deretan komentar atau tanggapan serta penyelesaian sebelumnya, membuat orang tetap memberi pernyataan negatif seraya mendukung isi postingan sejak awal.
Entah karena tidak tahu, tidak mau tahu, atau tahu tapi pura-pura tidak tahu, semua bergulir begitu cepat. Menjadi viral, karena banyak dukungan serupa ikut-ikutan menyalahkan tanpa peduli hal yang sesungguhnya.

Capek juga…

Maka Mundur dari Group Suara Badung di akun sosial media FaceBook akan menjadi satu keputusan terBaik yang pernah diambil selama aktif kembali, dan memilih menikmati riuhnya FaceBook hanya bersama teman-teman yang benar-benar dikenal secara fisik.

So ?

Leave Group yuk…

Perjalanan Pertama menuju Lombok

Category : tentang PeKerJaan, tentang PLeSiran

Tepat jam 7 pagi, saya menginjakkan kaki di terminal keberangkatan domestik. Masih ada jeda dua jam hingga jadwal keberangkatan pesawat penerbangan Lion Air menuju Lombok. Saya memilih berjalan kaki sebentar di seputaran mencari segelas kopi cokelat dan cemilan Roti’O di dekat terminal kedatangan.
Lalu berjalan santai sambil melihat lihat pemandangan sekitar.

Ini perjalanan pertama saya ke Lombok.

Banyak persiapan yang dilakukan sejak seminggu lalu. Kaitan tugas, perintah dari Bupati Badung untuk melakukan verifikasi usulan bantuan rumah penanganan pasca gempa di Kabupaten Lombok Utara. Infonya Pak Bupati membantu sekitar 69 rumah sesuai proposal pengajuan yang disampaikan semeton Umat Hindu disana.

Ada 6 orang yang ikut dalam perjalananan ini. Saya selaku Kepala Seksi yang membidangi urusan Bantuan Rumah, didampingi 5 dari 11 staf yang dimiliki, sementara sisanya masih berjibaku menyelesaikan proses pencairan dana bantuan rumah untuk 565 kepala keluarga di Kabupaten Badung.

Rencananya kami akan stay selama 4 hari 3 malam, untuk berkoordinasi ke BNPB dan Satker Perumahan di Provinsi NTB, lalu bergerak ke Kabupaten Lombok Utara untuk verifikasi 69 kepala keluarga, dan balik pulang pada hari Sabtu mendatang. Dengan formasi 6 orang, rencananya dipecah menjadi 3 tim kerja, yang nantinya akan melakukan verifikasi usulan selama 2 hari di Senaru.

Dengan menggunakan seragam semi resmi, macam Pak Presiden Jokowi lengkap dengan sepatu kets, kami berharap bisa menyelesaikan tugas dinas ini dengan baik. Demi membantu semeton Umat Hindu di Dusun Kebaloan Bawah, juga mensukseskan pemberian bantuan rumah dari Bupati Badung.

Feelin Nervous

Category : tentang DiRi SenDiri

Seperti biasanya. Beberapa hari terakhir saya kembali merasa nervous. Gugup dan bingung. Berhubung dalam waktu dekat bakalan menjalani tugas perjalanan dinas ke luar kota. Menuju daerah yang sebelumnya belum pernah sekalipun menjejakkan kaki disana. Dalam rangka pemberian bantuan Bedah Rumah dari Bupati Badung untuk para korban gempa di Lombok Utara.

Ada banyak hal yang sejauh ini sudah diupayakan persiapannya. Dibantu banyak pihak. Baik dari teman masa sekolah yang kini menjadi pengurus komunitas adat di lokasi gempa, pula menyiapkan akomodasi lapangan, staf yang memahami situasi saat ini di tujuan, juga memberikan beberapa kontak personil pejabat yang berwenang, pun atasan untuk petunjuk serta jalan lebih lanjut nantinya.

Yang menjadi beban selain bagaimana teknis kami bertugas disana nantinya adalah, bahwa saya akan menjadi leader dari 5 kawan lainnya. Termasuk urusan koordinasi dengan pejabat setempat, atau mengatur pola kerja dan operasional disana. Mengingat sejauh ini cukup sulit untuk bisa memuaskan banyak orang dalam satu perjalanan panjang.

Agendanya kami akan melawat selama 4 hari kedepan. Untuk koordinasi dengan pemerintah setempat, melakukan cek lapangan bagi 69 nama korban gempa hingga selesai dan balik pulang untuk membuat laporan dan kelengkapan lainnya. Satu tugas yang cukup berat mengingat ini kali pertama saya menghadapai situasi seperti ini.

Berharap apa yang nantinya kami lalui di lokasi, bisa memberikan pengalaman baru bagi saya dan tim kerja, disela rutinitas kami yang cukup padat saat ini.

Badung Pasti Bisa Manfaatkan Lahan Tidur Milik Negara

Category : tentang Opini

Daripada nganggur, lebih baik lahan milik negara digunakan untuk hal lain.

Saya terdiam saat mata masih saja mengagumi bangunan tradisional Bali berukuran raksasa yang kini hanya tinggal kerangka. Padahal, ini kali kesekian saya menginjakkan kaki di pantai Padang Galak, melewati puluhan meter luas lahan Taman Festival Bali (TFB).

Taman ini pernah menjadi salah satu ikon wisata di Kota Denpasar zaman old. Masa di mana saya masih suka berayun dan tertawa lepas pada salah satu permainan yang ada di sisi timur dekat pantai.

Infonya lahan seluas 8 hektar ini adalah salah satu dari ratusan aset tanah negara yang teronggok begitu saja. Tak ada perhatian dari pemerintah daerah. Informasi itu melengkapi cerita mistis dan misteri yang menyertainya.

Sangat disayangkan sebenarnya. Jika aset tanah sebanyak itu belum bisa dikelola dengan baik dan berubah fungsi menjadi sebuah lahan tidur.

Taman Bali Festival, salah satu lahan tidur milik negara. Foto traveltodayindonesia.com

Lahan tidur sendiri sebenarnya memiliki pemahaman sebagai tanah (pertanian) terbuka yang tidak dimanfaatkan atau digunakan oleh pemiliknya secara ekonomis. Bahkan ada juga yang memberikan tenggat batas waktu, lebih dari dua tahun.

Jika kita mau melihat ke sekeliling, keberadaan lahan tidur yang status kepemilikannya dikuasai negara tampaknya tidak hanya ada di seputaran Kota Denpasar di mana saya tinggal. Masing-masing pemerintah daerah baik tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota pasti memiliki hak kepemilikan lahan termasuk pengelolaannya.

Cukup banyak penelitian soal bagaimana cara ataupun tantangan yang kelak dihadapi dalam upaya untuk memanfaatkan lahan tidur sebagai sebuah lahan produktif yang bisa memberikan hasil. Apakah itu hasil secara ekonomis, daya guna sosial budaya bagi masyarakat setempat atau sekitarnya, atau barangkali untuk masa depan kita dan anak cucu nanti.

Hal terakhir inilah yang sempat terlintas dalam pikiran selama ini.

Pemanfaatan dan Persoalan –

Kabupaten Badung memiliki pemimpin dengan komitmen begitu tinggi pada masyarakatnya. Pendapatan asli daerah (PAD)-nya juga sangat menggiurkan banyak pihak.

Dengan kondisi tersebut saya yakin Badung memiliki cadangan dana yang mungkin saja bisa digunakan untuk memanfaatkan keberadaan lahan tidur ini. Utamanya lahan-lahan yang status kewilayahannya berada dalam lingkup kewenangan Bupati Badung.

Ilustrasinya kira-kira begini.

Lahan-lahan tidur dimanfaatkan untuk area peresapan yang belakangan ini dikabarkan sudah makin banyak berkurang. Yang tidak heran, kerap menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kabupaten Badung, meski bisa ditangani dalam hitungan hari.

Pemanfaatan lahan seperti ini bisa dikombinasikan dengan penyediaan kantong-kantong parkir yang sudah semakin langka. Atau bahkan semacam Taman Kota, area terbuka untuk ruang interaksi bersama. Baik sarana berolahraga maupun rekreasi masyarakat.

Bukankah persoalan air, baik resapan ataupun ketersediaannya merupakan salah satu yang dikhawatirkan banyak pihak, bakalan menjadi kendala bagi masa depan kita semua?

Untuk bisa mewujudkannya, Pemerintah Kabupaten Badung tentu akan dihadapkan dengan beberapa persoalan ke depannya.

Misalnya, berapa biaya yang dibutuhkan, yang tentu saja jika Bapak Bupati mau, semua bakalan SSCGT ‘Sangat Super Cenik Gae To’, tetapi tetap harus berpatokan pada nilai jual objek pajak (NJOP) agar tidak sampai menyalahi aturan.

Atau apabila proses negosiasi dengan pemilik lahan (yang tentu saja dikuasai lintas pemerintah daerah) tidak mencapai kesepakatan pemindahan hak, opsi sewa atau kontrak dalam jangka sekian tahun kedepan pun, saya yakin masih bisa dilakukan.

Begitu juga persoalan pemanfaatan aset dan kelayakannya tentu saja.

Akan tetapi jika kelak pemanfaatan lahan tidur semacam ini bisa berguna bagi orang banyak, masyarakat Badung secara luas, dan juga dampak jangka panjang, saya yakin upaya ini bisa dipikirkan lebih lanjut.

Yah, ketimbang lahan-lahan tidur milik negara tersebut digunakan kepentingan komersial perorangan atau oknum pejabat yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi, lebih baik mana hayooo? [b]

Sumber : Bale Bengong

Dipublikasi juga pada Group FB Suara Badung

Editor : om Anton Muhajir

Jangan Asal klik Share dan Emosi

Category : tentang Opini

Menggunakan akun Sosial Media pada masa-masa transisi PilPres macam Jaman Now sudah sewajarnya kita sebagai bagian dari Netijen yang punya kuasa paling powerful, mulai berbenah dan mengurangi intensitas keseriusan kita dalam menanggapi semua informasi yang bersliweran di linimasa. Bahkan ada juga beberapa kawan yang memutuskan hubungan mesra mereka dengan beberapa akun sosial media agar tetap bisa berpikir dengan waras. Tidak salah memang.

Salah satu Etika Penting yang belakangan makin disadari oleh banyak pihak dalam kaitan penggunaan Sosial Media ini adalah ‘Jangan Asal Klik (tombol) Share’. Tepatnya, pikirkan dahulu apakah dengan membagi tautan atau informasi yang didapat pada akun teman atau keluarga bakalan bisa berguna bagi mereka atau tidak ?
Demikian halnya dengan Emosi dalam memberikan tanggapan atau komentar, sehingga cenderung mengundang orang untuk membalasnya dengan istilah ‘Asal Bacot’.

Terlepas dari benar tidaknya atau baik buruknya keputusan Share atau Emosi menanggapi, kadangkala dalam waktu yang sedemikian sempit sangat jarang bisa berpikir ‘eh ini serius ? Bukan satire kan ?’
Maka ketika kalian salah langkah dalam menanggapi, cenderung mengedepankan ego dan emosi, apa yang terjadi hari ini di linimasa akun Twitter bisa jadi contoh.

Adalah akun @bngpy Menteri Keunangan yang sebetulnya sudah lama saya follow, menaikkan informasi soal ‘Harga BBM di Timika Papua ternyata Rp.200.000, sedangkan di Palopo Sulsel harganya Rp.20.000.’ Lalu ada tambahan satu kalimat lagi ‘Lho katanya harga BBM sudah sama?’

Kalian yang membaca Informasi macam ini bakalan berbuat apa coba ?

Yang Pro Prabowo sudah hampir dapat dipastikan, bakalan jauh lebih mudah menekan tombol ‘Share’ disertai narasi tambahan ‘na ini…’ ‘rejim Jokowi Pembohong, Pencitraan saja bisanya…’
Sementara kalian yang Pro Jokowi, langsung Emosi dalam menanggapi.
Padahal kalau saja mau dicermati dulu dengan tenang, kalian bakalan menemukan sesuatu yang indah disitu. Hehehe…

Harga BBM di Timika Papua bisa Rp.200.000 karena yang dibeli sebanyak 25 L dan harga per liter Pertalite adalah 8.000. Jadi wajar kalo Totalnya Rp.200.000.
Begitu juga di Palopo Sulsel, yang dibeli adalah 2,5 liter sehingga totalnya memang wajar Rp.20.000.
Tidak ada yang salah dalam penulisan akun @bngpy bukan ?
Tidak ada menyebutkan Harga per Liter. Hehehe…

Maka ramailah linimasa Twitter sejak informasi satire diatas diluncurkan pada jam 11 siang tadi.
Cukup banyak yang terjebak dalam pemahaman konten. Cukup banyak pula yang memaki setelah menyadari maksud dari Menteri Keunangan satu ini.
Karena bagi mereka para follower yang paham, siapa sebenarnya agen penting dirjen pajak kenamaan ini, hanyalah seorang pengguna akun Twitter yang penuh dinamika, tidak akan mudah dalam membagi tautan, Share info yang bersangkutan, apalagi menanggapinya dengan penuh emosi.
Palingan yang kerap didapat itu ya ‘Jancuuuk’ atau ‘uwasuuu’. Hehehe…

Mengurangi Nyinyir soal PilPres di akun Media Sosial

1

Category : tentang Opini

Entah sudah kali keberapa saya mendapat teguran soal share materi di akun media sosial FaceBook saat perhelatan PilPres dilaksanakan periode lalu. Baik oleh sesama rekan ASN maupun kawan-kawan baik disekitar, yang masih masih mau mengingatkan.
Kala itu PakDe Jokowi lagi bertarung untuk pertama kalinya dengan Om Prabowo. Saya sampai kehilangan beberapa kawan bahkan memblokir mereka saking kesalnya lantaran berbeda pandangan politik.

Demikian pula halnya saat PilGub Bali tempo hari. Beberapa kawan yang berada dalam satu lingkup domisili pun mengingatkan saya soal pilihan yang nantinya akan dijatuhkan. Akibat berbeda pandangan, kerap kali postingan yang tadinya ditujukan untuk sebuah topik yang sederhana, bisa dikaitkan kemana-mana dan melebar luar ke persoalan yang sama.
Lama-lama membosankan sebenarnya.

Itu sebabnya pada perhelatan kedua, tarung PakDe Jokowi dengan kubu Kardus, saya memutuskan untuk mengurangi nyinyir soal PilPres di dua akun Sosial Media. FaceBook dan Instagram. Kelihatan akan jauh lebih baik jika saya memilih untuk share materi yang tidak penting bagi kawan-kawan. Dari soal #HPjadul, aktifitas jalan cepat untuk mengejar langkah #Samsung #Challenge atau aktifitas pribadi dan keluarga.
Cukup di akun Twitter saja.

Hahaha…

Membaca Buku (lagi)

Category : tentang Opini

Sudah lama saya tak melakoni aktifitas sederhana jaman old di jaman now ini. Bisa jadi karena kesibukan, atau bisa juga karena sudah tak jamannya lagi. Berganti era paperless dimana Buku bacaan sudah beralih ke layar ponsel, dengan segala kemudahan yang ada, menjadikannya tak lagi familiar bagi sebagian generasi milenial di sekitar kami.

Ada Tiga Buku yang saya beli seminggu terakhir melalui lapak jual beli online Tokopedia. Tiga Buku yang berbeda Tema.
Fakta, Fiksi dan sharing Pengalaman.

Untuk Fakta, ada buku eh majalah edisi khusus terbitan Tempo tahun 2016 silam. Mengulas tentang Soe Hok Gie dan surat-suratnya yang belum pernah dipublikasi ke media. Liputan dan gambaran sosoknya begitu menginspirasi saya untuk terus menulis.

Untuk Fiksi, ada buku novel karya Gola Gong. Terbitan tahun 2004 kalo ndak salah lihat. Penulis cerbung – cerita bersambung- yang pernah beken lewat halaman majalah Hai edisi jaman old ini, saya sukai dengan seri Tom yang diterbitkan dalam beberapa buku lainnya. Juga sangat menginspirasi lewat kata-kata dan kisah-kisah petualangannya.

Sementara untuk Sharing Pengalaman, ada buku karya Mas Pramono, dokter gigi yang rajin ngeTweet itu. Nemunya gak sengaja, pas ybs ngejawab pertanyaan salah satu followernya, dan lanjut browsing ke Tokopedia, ditemukanlah buku apik ini.
Kayaknya seru kalo dibaca bareng anak-anak terkait kesehatan gigi kami.

Sayangnya, lantaran keterbatasan tempat simpan, dimana rak buku sudut tak lagi mampu menampung puluhan buku koleksi yang sengaja dibeli dari berbagai topik ringan, menyebabkan kesempatan untuk membaca kerap turun drastis padahal yang namanya hasrat ya lagi tinggi-tingginya.
Sehingga satu Impian saya di jaman new nanti adalah, bisa memiliki satu ruang terbuka yang kelak bakalan dimanfaatkan sebagai area baca, lengkap dengan rak buku berbagai koleksi yang saya miliki hingga hari ini. Entah nanti adanya dibawah tangga memanfaatkan ruang sisa yang ada, atau ruangan menyendiri sambil menyepi dari hiruk pikuk keseharian.

Tapi yang pasti, saya lagi berupaya menumbuhkan kembali aktifitas membaca buku di jaman now ini. Biarpun era majalah digital sudah sedemikian masifnya merasuki jutaan layar ponsel dan tablet, keasyikan membaca buku, apalagi di tempat umum dan keramaian, tampaknya masih mampu memberi arti dan keseruan tersendiri dalam hidup.

Web Server BoC Down, ngeBlog pun Ikutan Down

Category : tentang Opini

Sesaat usai membaca pesan yang dikirimkan seorang kawan di Whatsapp Group yang menanyakan soal pilihan Asuransi Kesehatan diluar BPJS, sayapun berkeinginan membagi tautan postingan dalam blog www.pandebaik.com yang pernah mengulas topik serupa, kali aja bisa menjadi sebuah referensi tambahan.
Sayangnya halaman Blog www.pandebaik.com mengalami gangguan, yang kalau tidak salah menyampaikan bahwa web server dimana Blog ini bernaung mendapat gangguan. Maka keinginan itupun batal dan saya dengan segera melaporkan keluhan ini ke Tim Supporting Bali Orange Communication via email.
Ini disampaikan sekitar pukul 10 pagi, disela aktifitas kantor Selasa 3 Juli yang lalu.

Seperti biasa, tanpa menunggu hitungan menit, email jawaban pun datang.
Benar adanya. Web Server dinyatakan mengalami hard disk failure yang menyebabkan layanan website dan juga email menjadi down. Tim BoC pun berjanji akan menyelesaikan permasalahannya secepat mungkin.
Yang sayangnya, hingga pukul setengah sepuluh malam sepertinya belum ada tanda-tanda progress dari BoC.
Sayapun mengurungkan niat untuk membuat draft postingan baru melalui aplikasi Evernote di layar ponsel, lalu asyik melanjutkan tantangan baru dari permainan Plants vs Zombie 2.

Keesokan harinya, Rabù 4 Juli saya mendapatkan email pemberitahuan dari Tim BoC terkait proses peningkatan performa server, dimana halaman Blog sudah bisa diakses lagi namun mengubah setting terakhir ke tanggal 1 Juli.
Saya bisa tahu, karena postingan per tanggal 2 Juli malam tentang Gunung Agung Meletus, tidak ada dalam postingan Blog, berganti dengan postingan soal kendurnya semangat olah raga, yang per malam itu saya ubah tanggal publikasinya dari 3 Juli ke 5 Juli. Tujuannya ya agar halaman Blog tetap terlihat Update. Hehehe…

Demi melihat halaman Blog sudah bisa diakses, sayapun mencoba melakukan posting kembali khusus untuk topik Gunung Agung dan mengembalikan pengaturan link dan lainnya sesuai yang dibagikan tempo hari di akun sosial media maupun Whatsapp Group. Nyatanya postingan itu hilang lagi dan setting Blog kembali ke 1 Juli tadi.
Ini terjadi hingga 3 kali pengulangan.
Kelihatannya proses pengembalian HDD failure oleh Tim BoC belum sepenuhnya selesai.

Hal ini sempat menurunkan semangat ngeBlog yang belakangan lagi menggebu-gebu.
Satu hal yang saya yakinkan adalah tingkat kunjungan sudah dipastikan menurun. Wong sebelum hdd down saja sebulannya hanya seribuan pengunjung, apalagi kini.
Namun demikian, semangat menuliskan Draft Blog tetap ada. Bahkan dalam mengisi waktu senggang pemecahan masalah Tim BoC pun, beberapa draft postingan Blog saya simpan dulu dalam aplikasi Evernote. Siapa tahu kelak pas sudah oke lagi web servernya, barulah Blog ini akan Update kembali seperti biasa.

Anggap saja semacam hiatus sementara atau semangat ngeBlog lagi Down.

Sedikit Lagi, Ayo Coblos Rame Rame

Category : tentang Opini

Cuaca pagi ini tampaknya cukup bersahabat. Tak lagi dingin seperti sebelumnya. Hujan pun masih enggan turun lagi, memberikan kesempatan pada khalayak untuk merayakan hari pemilihan kepala daerah.

PilGub Bali saya pantau tergolong aman aman saja di dunia nyata. Setidaknya untuk ukuran Kota Denpasar.
Berbeda dengan dunia maya alias media sosial yang riuhnya minta ampun. Bahkan sampai masa tenang sekalipun, orang masih tak segan untuk saling menjatuhkan lawan dengan beragam tuduhan dan hoax. Tak ada lagi peduli apakah itu dibenarkan atau tidak, yang penting sore ini bisa menang.

Dari hati nurani sebenarnya ingin bersuara. Namun tuntutan sebagai seorang ASN melarang itu semua. Maka pendapat hanya bisa dipendam di hati, tanpa bisa ditumpahkan lagi.

Bali identik dengan Sarang Banteng. Suara PDIP saat pilpres lalu kalau tidak salah memberi andil hingga 70%. Gegara sosok Jokowi saya yakini.
Denpasar sendiri saya meyakini menjadi basis paslon Rai Mantra, mengingat selama Beliau menjabat sebagai Wali Kota, tidak banyak gesekan yang terjadi, dan meski mendapat banyak penghargaan di bidang clean government, tidak banyak pula perubahan pembangunan kota serta kebijakan yang bisa dirasakan.
Infonya salah satu dari dua fakta diatas akan dibalikkan posisinya hari ini. Namun bisa jadi juga kedua fakta akan tetap bertahan atau terbantahkan. Siapa yang tahu…

Beragam agenda lanjutan ada di balik kemenangan salah satu dari dua paslon dalam upaya merebut suara masyarakat Bali hari ini.
Dari yang lagi hangat-hangatnya soal dukungan Tolak Reklamasi, atau tagar 2019 Ganti Presiden pun menjadi target berikutnya. Sedikit mengkhawatirkan.
Mengingat tiga puluh persen sisa suara saat pilpres, menginginkan hal itu terjadi.
Terlihat sekali bahwa masyarakat di Bali sedang menjalani ujian, laiknya DKI Jakarta tahun lalu. Apakah kelak bakalan bisa melalui lubang jarum dengan baik atau sebaliknya ?

Tinggal menghitung jam saja.

Sedikit Lagi Bli, Ayo kita Coblos Rame Rame

PilGub Bali, seberapa menarik di mata kami ?

Category : tentang Opini

Media Sosial, utamanya FaceBook, group Suara Badung, yang saya ikuti sejak menjabat sebagai kepala seksi di skpd teknis Kabupaten Badung jadi riuh rendah dengan adanya PilGub Bali sebagai bagian dari Pilkada Serentak 27 Juni 2018 nanti.
Group Suara Badung ini kentara sekali jadi makin panas dengan naiknya tensi politik jelang hari pencoklitan rabu mendatang.
Beberapa Black Campaign mulai disodorkan oleh mereka yang sedari awal sudah terang-terangan mendukung salah satu paslon hingga mereka yang sedari awal ngotot mengaku Netral, kini sudah mulai beralih dan mengakui pilihan politiknya. Sah sah saja…

Sebaliknya di akun Twitter tampaknya masih belum seramai FB lantaran tidak banyak orang atau netizen dari pulau Bali ini yang aktif bersuara utamanya terkait PilGub Bali. Timeline saya sendiri masih disibukkan dengan pertarungan Cebong dan Kampret, para pendukung Calon Presiden terdahulu dan besok, yang hingga hari belum bisa Move On dari topik utama. Bisa dikatakan, topik PilGub Bali tak begitu menarik untuk dibahas di akun Twitter. Tenggelam oleh aksi #recehkantwitter atau #twitwor yang memang begitu menghibur dan mengundang tawa.

Generasi Milenial ataupun Anak Muda seperti kami saat ini sebenarnya dianggap sebagai satu potensi yang lumayan menggoda untuk bisa menambah pundi-pundi suara dan juga dukungan.
Swing Voter, begitu istilah yang mereka berikan.
Jadi tidak heran bila pola kampanye dua paslon PilGub Bali saat ini, ada juga yang berusaha untuk meraup pangsa remaja lewat konser musik yang diadakan secara berkala dari satu kota ke kabupaten lainnya. Tidak jarang, banyaknya massa yang hadir dalam pertunjukan konser musik tersebut, diklaim sebagai bentuk dukungan masyarakat pada paslon penyelenggara.

Demikian halnya dengan isu Bali Tolak Reklamasi yang diperjuangkan oleh For Bali selama lima tahun ini, dimana last minute beredar Surat Permohonan Reklamasi dari salah satu paslon saat yang bersangkutan masih menjabat di posisi yang berbeda, atau Surat Rekomendasi dari pendukung paslon lainnya yang juga tak kalah ributnya, mengundang pro dan kontra, pula tentu saja Black Campaign antar keduanya.

Belum lagi soal sangkaan Korupsi atau tuntutan hukum yang mampu menciderai kedua paslon saat sudah dilantik menjadi Gubernur Bali nantinya.
dan ada banyak hal lain yang menambah riuh masa kampanye di akun media sosial belakangan ini.

Maka itu menarik juga ketika menyimak hasil polling online yang dibesut admin akun Twitter @BaleBengong yang hanya menyajikan hasil sebanyak 306 Votes dari 101K follower yang menyatakan ‘tidak peduli’ akan pilihan PilGub Bali yang diambil nanti saat hari pencoklitan tiba. Miris ?
Demikianlah.

Kedua Paslon PilGub Bali merupakan Generasi Tua yang tampaknya belum mampu menghapus dahaga generasi Jaman Now akan sosok cerdas pemimpin daerah seperti pak Ahok atau pak Jokowi. Sehingga apa yang dipaparkan sebagai program kerja mereka nantinya saat terpilih hingga 5 tahun kedepan, belum mampu mengubah rasa pesimis masyarakat Bali umumnya menjadi lebih optimis. Kerja Nyata yang benar-benar bisa dirasakan.

Keduanya masih tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu, bayang-bayang dosa yang pernah dilakukan saat menjabat di posisi sebelumnya, bahkan bisa dikatakan, keduanya tidak memiliki banyak rekam jejak akan pembangunan fisik saat jabatan dipercayakan kepada mereka.
Bisa jadi itu menjadi sebab bahwa masih banyak Generasi Muda Jaman Now yang bingung menentukan pilihan bahkan jadi Tak Peduli pada perhelatan PilGub Bali tahun ini.

Ini opini saya sih…
CMIIW

PilGub Bali sudah dekat, Kamu pilih siapa ?

Category : tentang Opini

Entah karena saya yang kuper, atau malah sudah aware duluan dengan mengUnfollow beberapa kawan di akun sosmed, gaung PilGub Provinsi Bali rasanya kurang greget. Timbul tenggelam dengan isu-isu yang tak jauh dari perhelatan pilkada lainnya.
Korupsi, penyelewengan, prestasi yang dicapai hingga khususnya di Bali, dukungan atas perjuangan aksi Tolak Reklamasi. Sayangnya tak satupun yang mampu memunculkan dukungan sedahsyat Jokowi-Ahok pada PilGub DKI Jakarta lima tahun lalu.

Yeah, kemungkinan besar itu juga penyebab utamanya. Gegara seorang Ahok yang cina kafir itu jua menyebabkan standar baku seorang calon kepala daerah sudah terpatri sejak awal. Nyaris tidak ada yang memiliki kemampuan segarang dan setajam pimikiran Beliau, terlepas dari tuduhan Penista Agama yang dialamatkan setahun terakhir.
dan di Bali khususnya, semua calon juga calon yang tak jadi maju ke kancah kontestasi, hanya bisa mencatut dan mengekor nama Beliau. Tidak ada hal baru yang bisa dilakukan sejauh ini.
Baik untuk Calon yang sebelumnya sudah pernah menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Denpasar untuk lingkup wilayah yang Beliau pimpin selama ini, maupun calon yang dulunya terpilih menjadi Anggota DPR RI pusat.
Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, termasuk urusan hukum dan lainnya.

Hari pencoblosan sudah tinggal menghitung hari saja. Calon yang bertarung pun sudah melewati debat yang (sorry to say) kurang menarik untuk dinikmati.
Saya sendiri sebagai seorang ASN dilarang memberikan dukungan secara nyata pada salah satu calon termasuk urusan Like maupun foto bersama lalu diUpload ke Sosial Media. Jadi jangan tanyakan pilihan saya disini ya.

Nah, kamu sendiri, yang bukan ASN, mau pilih siapa ?