Menikmati Kota Solo di Malam Hari

Category : tentang PLeSiran

Oke, meski faktanya gak semua bisa kami lalui, tapi tetep aja yang namanya Kota Solo bisa dinikmati lewat jendela Angkasa Taxi nomor lambung 021, dengan pengemudinya seorang pemuda berusia 21 tahun, pengagum Naruto bernama Bayu. Ia lah tour guide kami malam ini, 7 Mei 2015, pasca desk RKTL di sesi terakhir tadi.

Menikmati Kota Solo tentu belum afdol jika belum mampir untuk membeli oleh oleh batik buat keluarga, atau mencicipi Nasi Liwet khas Kota Solo.

Untuk batik, saya lupa tadi diantar ke mana. Yang pasti, berhubung pasar Klewer sudah dinyatakan tutup maka si Naruto eh si Bayu itu mengantarkan kami ke gerai Oleh Oleh yang lokasinya gak jauh dari Hotel Lorin tempat kami menginap.
Saya pun membeli beberapa baju kaos anak bergambar Kota Solo, dan tak lupa buat diri sendiri dengan ukuran besar. He…

Sedang Nasi Liwet, kami diantar ke Bu Wongso 99 yang saat itu masih dalam situasi sepi. Maka santapan khas Kota Solo itupun ditandas tuntaskan dalam waktu singkat. Berhubung secara porsi juga pas banget, gak banyak macam porsi makan los emperan.

Suguhan Nasi Liwet itu mirip nasi campur kuwah bakso, namun ada rasa santannya disitu. Untuk lauknya, saya minta daging ayam disuwir plus setengah butir telor dan tahu bacem. Bertiga, menghabiskan budget 60ribu saja sudah termasuk minum. Lumayan kok…

Muter muter Kota Solo sebenarnya sih gak jauh beda dengan Kota Denpasar, rumah tinggal saya. Hanya secara lingkungannya yang ada sepertinya sih ya, kurang terawat utamanya saat kami melewati Keraton Surakarta. Tembok luar yang sebetulnya bisa dinikmati para wisatawan kebetulan mentas, tampak kotor oleh lumut dan lembab. Kalo di Bali sih, mungkin sudah mendapat bantuan dana dari pemda setempat dan dijadikan semacam kawasan Heritage begitu. Tapi ya sudahlah, masing masing pemimpin daerahnya pastilah sudah punya masterplan sendiri untuk itu.

Yang agak mengagetkan adalah, kami agak kesulitan mencari minimarket di seputaran Kota Solo. Infonya sih Walikota terdahulu agak menyulitkan soal perijinan mereka dan mendahulukan kebutuhan masyarakat akan pasar tradisionalnya. Dan baru nemu di daerah Purwosari, selatan jauh dari hotel kami menginap.

Yang jauh lebih mengagetkan lagi ya soal alun alun keraton yang dipenuhi dengan berbagai hiburan anak dan jajanan rakyat. Beda banget dengan alun alun Kota Denpasar dimana pedagangnya ngomplek menjauh di pojokan persimpangan jalan, lantaran ngeper melihat batang hidung para jajaran Satpol PP yang siap mengangkut barang dagangan mereka jika sampai menyentuh pinggiran maupun area lapangan. Wih… Surga banget dah pokoknya kalo mau ngajak anak-anak kesini. Gak lupa ngeliatin langsung Odong-Odong yang diperuntukkan bagi semua kalangan umur, berupa sepeda kayuh beroda empat, dengan hiasan lampu khas Odong Odong namun dibentuk unik menjadi sebuah Helikopter, Angsa hingga Suzuki Splash. He…

Gak terasa argo taksi yang dikemudikan pemuda jomblo Bayu Naruto ini sudah menunjukkan angka seratus ribuan lebih saat roda kendaraan masuk ke pelataran parkir samping Hotel Lorin. Kamipun bubaran menuju kamar masing masing untuk nanti berupaya menikmati lagi malam sepinya Kota Solo.

Lorin Hotel, 13.14 PM

Category : tentang PLeSiran

Suasana Kota Solo tak ubahnya Batam, kota terakhir yang saya kunjungi tahun lalu. Lalu lintasnya tak begitu ramai. Kanan kiri pandangannya pun sepintas tampak sama. Yang membedakan hanya tanah merahnya saja.

Pengemudi taksi Golden Bird yang kusewa sejak mendarat di Bandara Adi Sumarmo pun bercerita, bahwa lokasi hotel yang nanti dituju sebetulnya gak begitu jauh dari bandara. Sekitar 10 menitan saja dengan melalui dua daerah, Boyolali dan Karanganyar, lalu belok kiri, nyampe dah.

Solo kota kecil. Kata si Bapak yang asli Solo itu, gak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi kalo disandingkan dengan Bali. Saran Beliaunya, saya diminta mampir ke jalan Slamet Riyadi, tempat mangkalnya Bus berTingkat dan kereta api Uap yang bakalan mengajak kita keliling kota Solo. Bisa gak ya ambil waktu disela kesibukan nanti ?

Peserta sudah banyak yang menanti di depan hotel. Ini karena jadwal check in belum bisa diakses mengingat panitia kegiatan masih jalan jalan keluar. Harus menunggu sekitar dua jam-an lagi. Yo wis… harus jalan dulu kalo mau selamet.

Perut sudah mulai lapar. Snack Time yang diberikan awak pesawat barusan sepertinya belum bisa mengganjal. Usai menitipkan tas ransel di lobby, kakipun mulai gatal menyusuri trotoar jalan seputaran hotel, dan mata menangkap tulisan ‘Soto 100 Meter lagi’ nun jauh disana. Aha, gak jauh jauh rupanya.

Di jalanan Solo ternyata masih bisa menyeberang jalan secara sembarangan seperti di jalanan rumah. Belum diatur dalam satu jembatan penyeberangan layaknya Jakarta atau serempak di persimpangan layaknya Singapura. Jadi makin keenakan deh.

Kawan kawan rombongan Satker dari Provinsi Bali baru saja tiba. Suasana jadi sedikit cair berkat candaan mereka yang menyapa akrab sejak berpapasan di jalan tadi. Ternyata mereka mengirimkan Tim lengkap tanpa kehadiran sang PPK, pak Kadek Sutika. Kawan sekamar saat Rakor di Manado tahun lalu. Rencananya sih kali ini saya bakalan sekamar dengan Bapak Agus Yudi, Satker dari Bangli itu.

Lobby depan Lorin Hotel gak jauh beda dengan suasana Sanur Paradise yang ada di persimpangan Hangtuah, lagi lagi gak berasa berada di luar kota.
Jadi ya semoga saja waktu bisa berlalu cepat selama beraktifitas disini.
Sudah gak sabar menunggu waktu pulang.

Intermezo diatas Awan

Category : tentang KHayaLan

Pesawat masih berada di ketinggian menuju Jakarta, tapi rasa kangen ini sudah mulai menyerang jiwa.

Kangen pada ketiga putri kecilku. Kangen pada keluh kesah istriku.

Sementara satu dua film yang kutonton pada layar sandaran kursi pesawat, tak mampu lupakan semua senyum manis yang ada.

Ah, aku kangen rumah…

Secara pribadi, aku memang tak menginginkan perjalanan ini…

Saat saat seperti ini, jadi mengingatkanku pada persoalan keluarga yang ada. Dari rencana perceraian seorang kawan, atau konflik rumah tangga kerabat yang kini berujung pada pisah ranjang bahkan pisah rumah. Sementara anak anak mereka jadi terlupakan.

Masih syukur, istriku hanya bisa melampiaskan kemarahannya akibat kelakuanku yang belum juga mampu menampakkan kedewasaan seorang Kepala Keluarga. Aku amini kali ini.

Aku hanya pintar di dunia kerjaku. Tapi di rumah ? Aku belum mampu memberikan kenyamanan berpikir dan bersikap bagi semua anggota keluarga yang ada dalam hidupku. Aku Egois. dan Malas.

Barisan awan tampak jauh ada dibawah pesawat. Cuaca lagi cerah hari ini.

Kemarin, istri masih sempat curhat. Menodong waktuku untuk bisa bicara lebih serius. Sepertinya aku paham yang ia inginkan. Termasuk soal rasa letihku pasca pulang kerja atau kembali dari bepergian. Seenaknya. Lantaran sok tahu inilah yang membuatku masih menunda harapan itu. Sama seperti undangan rekan kerjaku, pak Wayan Adi di Bappeda, yang meminta waktu untuk membahas usulan jalan lingkungan tahun depan. Namun karena mood belum jua datang, hingga kini aku belum mau hadir di ruangan itu. Egois bukan ?

Dan terkadang aku merasa penat dan jenuh dengan pekerjaan dan rutinitasku selama dua tahun ini. Banyaknya tekanan dan permintaan, tak diimbangi dengan waktu dan kewenangan untuk menyelesaikannya, membuat hari hari kerja yang ada cenderung membosankan. Entah apakah semua staf yang ada di ruangan itu merasakan hal yang sama atau tidak. Jadi bisa dikatakan, secara sudut pandangku sebagai pegawai, perjalanan ini memang kuharapkan kehadirannya untuk berlibur, menjauhi semua beban dalam tiga hari kedepan.

Seorang anak laki laki tampak senang dipandu pramugari di lorong pesawat. Apa kabarnya putri putri kecilku yang lucu hari ini ?

Tiga penumpang lain yang ada di deretan bangku nomor 35 ini, masih tampak nikmat dalam tidur lelapnya. Sementara aku, masih bingung mau apa setibanya di tujuan.

Intermezo Sore

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan, tentang PeKerJaan

Terkadang saya suka heran… dan bingung…
akan kekuatan, ketabahan dan kecerdasan seorang Pimpinan ditengah tekanan dan Intervensi seperti ini.

Saya yang notabene seorang laki laki saja sempat merasa lelah dan penat akan situasi kerja yang hadir dalam dua tahun terakhir. Situasi yang penuh dengan masalah sosial, kepentingan dan caci maki. Juga Ancaman.
Bahkan sempat pula terlintas untuk mundur dari tugas yang dibebankan dan memilih untuk bersikap EGP pada pekerjaan. Jelas hati kecil gak bakalan bisa melakukannya. Meski sebentar…

Tapi Bandingkan dengan Beliau yang sudah bertahun-tahun mengalami dan melewati tantangan, juga cobaan dan masalah baik yang datang dari luar, maupun bawahan.
Rasanya tiap kali masalah itu muncul, selalu saja Beliau hadir memberikan pencerahan dan semangat. Lewat telepon, pesan sms hingga secara langsung.

Jika kondisinya sudah seperti ini, biasanya saya akan berbaring sambil bercanda dengan si putri nakal, sedikit bisa melupakan semua beban yang ada. Namun Apakah Beliau juga melakukan hal serupa ? Atau ada hal-hal lain yang bisa ditiru sebagai bekal hidup nanti ?

Meski banyak yang mencibir…
Tapi saya Bangga punya Pimpinan seperti Ibu Kadis…

Bersua ‘Nic & Mar’

Category : tentang Opini

Kisah pertemuan dua insan yang telah berstatus mantan, dengan ‘terpaksa’ terjalin kembali di Eropa Paris, berkat Line.
Sounds familiar ?

Kisah serupa pernah digulirkan tahun 2014 lalu menyambung epic lama di blantika film remaja Indonesia. Salah satu aktor yang terlibat masih sama dengan kedua kisah diatas. Nicholas Saputra.

Pemeran tokoh Gie yang sampai sekarang masih saya sukai penampilannya ini, melalui debut awal tahun 2002an lalu lewat ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang beradu akting dengan aktris beken Dian Sastro.
Cerita ini kemudian berlanjut dua belas tahun kemudian dalam bentuk mini drama besutan Line, aplikasi mobile messenger yang mengandalkan nomor ponsel macam Whatsapp, bukan PIN macam BBM. Namun didalamnya memiliki fitur pencarian berdasarkan Nama pengguna sehingga dimungkinkan untuk menemukan dan berbicara dengan seseorang, mantan sekalipun.
Selama lawan bicara menggunakan aplikasi yang sama.
Yang sayangnya, bagi pengguna yang pernah menggunakan Line lalu berstatus mantan karena tidak lagi menggunakan Line, daftar nama yang bersangkutan tetap muncul dalam pencarian, namun tidak akan mendapatkan respon apa-apa ketika dikontak melalui jalur aplikasi yang sama. Kasian banget bagi yang berharap banyak. *he-em

Balik pada kisah ‘Nic & Mar’, saya menemukannya secara tidak sengaja di halaman berbagi video, YouTube pertengahan Maret lalu. Inginnya sih mengunduh beberapa film Indonesia lama yang disajikan full durasi, tapi nyasarnya malah ke serial mini drama ini yang di-update setiap hari Kamis dan Jumat malam.

Nic & Mar PanDe Baik Line

Konsep jualannya mungkin mirip dengan kisah mini drama ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang dirilis tahun 2014 lalu, atau kisah ‘Malam Minggu Miko’ nya Raditya Dika yang memang hanya edar dalam versi YouTube, namun bisa dikatakan alur cerita, permainan musik latar dan pengambilan gambarnya, sesuai dengan harapan banyak penggemar film Indonesia yang sudah familiar dengan sosok Nicholas Saputra.

Adapun lawan main Nicholas Saputra yang berperan sebagai Nic dalam kisah ini adalah Mariana Renata yang berperan sebagai Mar.

Kisah ini dimulai dari perjalanan Nic di Paris yang kebingungan mencari referensi terkait kota yang ia kunjungi, dengan bertanya pada kawan dalam group Line. Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan adalah menjumpai Mar, sang mantan kekasih yang telah sepuluh tahunan berpisah dan secara kebetulan bekerja di Paris. Pertemuan yang dijalani sebagai teman lama ini kemudian berkembang lagi menjadi satu hubungan yang berbeda dari sebelumnya.

Nic & Mar PanDe Baik Line 1

Hingga malam ini, ada empat episode yang bisa dinikmati dari cerita ‘Nic & Mar’ melalui channel Line Indonesia di halaman YouTube. Ditambah dua video musik yang melatarbelakangi kisah dengan tajuk ‘Far Away’ dan ‘When You Are Near’, sangat cocok dinikmati bagi kalian yang sudah mulai gerah dengan kehadiran Shitnetron dan sejenisnya di layar televisi.
agar bisa menontonnya secara berulang, saran saya video diatas bisa diunduh dengan menggunakan aplikasi TubeMate pada ponsel Android atau YouTube Downloader pada perangkat PC.

Saya yakin kalian bakal menyukai dan menunggu episode kelanjutan dari kisah ‘Nic & Mar’ ini, yang tentu bisa dikunjungi lagi Jumat malam nanti. Apalagi kisah ini diturunkan hanya dalam durasi yang singkat. Sekitar 6-7 menitan setiap episodenya.

Penasaran ? Mampir aja di halaman Line Indonesia, playlist ‘Nic & Mar’.

Amor ring Acintya bli Komang Pande Gus Jun

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Mih… kaget mendapat berita bli Komang Gus Jun meninggal di Jakarta tadi pagi karena serangan jantung…
ini salah satu alumni Teknik Udayana sekaligus saudara mindoan semeton Pande yang mengenalkan saya pada musik Thrashmetal era Morbid Angel, Suffocation dan tentu saja Sepultura…

Amor ring Acintya bli Mang…

(FaceBook profile Mar.18 at 11.38 pm)

bli Komang Pande Gus Jun 2

Entah kenapa, saya memimpikan bli Komang barusan.

Tersadar pada pukul 1.38 am 19 Maret, sayapun mulai mengingat kembali apa yang ada dalam benak tadi.

Alkisah saya mengikuti lomba yang diikuti hanya oleh tiga peserta. Lomba tersebut adalah berjalan, berlari dan terakhir mencoba segala upaya yang ada untuk tiba dan sampai di garis akhir yang telah dijaga oleh orang tua penglingsir sebagai satu pendidik kami, semacam rektor atau sejenisnya. Entah…

Untuk mengenali Lokasi lomba, saya diantar Istri yang mengingatkan untuk berkabar melalui ponsel Nokia 6275i lawas yang saya miliki. *oke, mohon jangan tanyakan kenapa harus ponsel Nokia, karena saat tersadar dan mengingat, saya pun bingung kenapa harus menggunakan ponsel tersebut dengan format simcard microchip macam iPhone pula. Namanya juga mimpi, jadi memang dapat dipastikan ya gak bakalan nyambung dengan Logika.

Lomba pun dimulai.

Saya harus melewati orang per orang yang lalu lalang dengan setting jalan setapak mirip di jalur Besakih yang mengambil jalan ke kanan di pertigaan pos polisi itu. Namun orang per orang ini adalah sekumpulan orang yang siap menjatuhkan mental saya dengan kalimat dan kata-kata yang mengejek dan menghina. Tapi karena sudah tahu dan paham saat diberitahu ‘clue’nya oleh istri saya barusan, semua itu saya lalui dengan cuek. Jalan terus…

Rintangan mulai hadir saat saya diharuskan melewati jalan dengan merangkak, sementara tangan harus menghapus dan melafalkan mantra yang *maaf saya sama sekali tidak ingat, namun di ujung jalan, saya diminta meneriakkan satu kalimat semacam yel yang tentu saja masih berupa mantra, yang akan secara otomatis terlintas di pikiran saat saya berkonsentrasi penuh dengan maksud tertentu. Ajaib… saya berhasil mengucapkan mantra tersebut dengan keras dan dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan… dengan apa ya ? Kok bisa lupa…

Perjalanan terakhir, saya lupa mengapa diminta untuk mengayuh sepeda dengan track lurus ke arah utara, hingga mentok di pertigaan, belok kiri dengan turunan tajam dan kondisi jalan yang rusak setengahnya. Yang unik, sembari mengayuh, saya melihat bli Komang Pande Gus Jun, menyalip saya dengan santai, diatas sepeda tuanya.
Disaat melewati jalan rusak, sayapun terjatuh dan dengan berteriak, saya diminta istri untuk boncengan di sepeda bli Komang dengan harapan bisa mengantarkan saya pulang menyelesaikan lomba hingga garis akhir.

Entah bagaimana ceritanya, kok malah saya yang mengambil alih sepeda, ngebut sesuai ‘ilmu pengetahuan’ yang didapat bahwa dengan memacu sepeda dalam arus air di selokan/lubang jalan raya, akan mempercepat laju bak rollercoaster diatas sadel sepeda. Dan entah bagaimana logikanya, sayapun di jelang garis finish yang dihadapkan pada satu area penuh air layaknya danau, disalip oleh dua peserta lainnya dengan menggunakan sepeda motor berkecepatan tinggi.

Saya dinyatakan kalah atau menempati tempat ketiga oleh sang orang tua tadi yang melewati genangan air diatas Truck Wheel Loader yang mirip dengan milik Dinas Bina Marga Badung saat pematangan lahan tahun 2005 silam.

Setiba dirumah, sayapun bercerita pada kedua orang tua perihal perjalanan lomba tadi yang dialami dalam mimpi itu. *Mimpi dalam mimpi, mimpi bertingkat mungkin namanya…
Sembari mengingatkan bahwa tanpa bantuan bli Komang Pande Gus Jun, tentu saya tidak akan bisa sampai di garis akhir, juga dirumah tepat waktu. Maka itu saya mengajak Bapak untuk menengoknya di rumah duka sore ini.

dan semua mimpi itu baru disadari saat terbangun pukul 1.38 tadi…

Ah, mimpi memang gak perlu dinalar pakai logika, masuk akal atau tidak. Apalagi yang diingat juga gak runut jelas dari awal, mengingatkan saya akan pendapat seorang kawan lama, bahwa Mimpi itu gak akan Logis dan Ingat tercerna alur ceritanya. Jadi ya buat apa dipertanyakan lagi.

Yang terpenting bahwa sosok bli Komang ikut hadir didalamnya, yang bisa jadi merupakan bunga tidur dalam ingatan yang tadinya sempat terlintas saat membaca Mantram Gayatri dengan genitri sesaat sebelum tidur. Artinya, pagi nanti saya harus menghaturkan sodha di pelinggih Bethara Hyang Guru atau dimana ya tepatnya ? Mengingat yang bersangkutan belum diupacarai hingga hari ini.
Mohon bantuan para suhu, para guru yang sudah berkenan membaca tulisan yang dilahirkan dini hari pukul 2.09 ini, lantaran gak bisa memaksa mata untuk terpejam lagi.
Baik arti mimpi jika sekiranya itu bermakna, atau soal keterkaitan dengan bli Komang Pande Gus Jun tadi.

Ditunggu yah…

Tentang Dokter Wayan Sudana

Category : tentang Opini

Tumben saya diserang batuk dan flu parah, padahal biasanya begitu gejala datang langsung dihantam Kangen Water. Tapi kali ini gak mempan lagi rupanya.
Terpaksa kalo gini urusannya, harus mencari dokter senior pujaan saya, Wayan Sudana di jalan Meduri. Kira-kira masih praktek gak yah ?

Sakit yang Beliau derita mungkin sudah cukup parah. Tubuhnya yang dahulu tambun, kini sudah jauh lebih kurus.
Baju kemeja bergaris tipis dan celana panjang hitamnya tampak longgar dan besar. Wajahnya pun tak segarang dahulu yang saya kenal.
Setahun lebih sudah saya tak pernah bersua Beliau. Padahal jika dahulu sedikit saja diserang batuk dan pilek, tangan dokter selalu ampuh mengobati.

Sebenarnya saya kasihan melihat Beliau. Reaksinya sangat lambat untuk ukuran dokter yang masih aktif praktek, namun kelihatannya sakit yang mendera masih dipaksakan demi melayani pasien. Dan kini, si pasien pun kelihatannya jauh lebih aktif menyorongkan anggota badannya untuk diperiksa satu persatu. Mulut, kedua telinga dan dada juga denyut nadi. Bahkan stetoskopnya pun tidak ditempatkan di posisi yang benar.
Jika saja sugesti akan keampuhan obat dan penanganan Beliau tidak merasuki pikiran terlalu dalam, mungkin saya tak akan mau mengganggu waktu istirahatnya sabtu pagi kemarin.

Saya mengenal dokter Wayan Sudana ini sudah lama. Sejak kecil. Sejak Beliau masih praktek di Apotek Anugerah jalan Patimura.
Dokter spesialis THT ini menjadi langganan apabila kami mengalami sakit ringan hingga yang berkaitan dengan anggota tubuh yang menjadi spesialis Beliau. Telinga Hidung dan Tenggorokan. Batuk dan Pilek tentu pilihan utamanya.

Pernah sekali waktu telinga saya merasa berdengung, tak nyaman selama berhari-berhari. Saat ditangani, ternyata Beliau menemukan kapas yang digulung kecil, membusuk di dalam telinga. Mungkin lipatan cotton buds yang tertinggal didalam menyebabkannya demikian.

Pernah juga dalam durasi satu minggu, saya terpaksa berobat dua kali. Tepatnya sebelum Ujian Akhir Skripsi dan setelahnya. Mungkin karena tegang, panas badan menyerang saya beruntun. Tapi beruntung saat ujian berlangsung, saya bisa fit menjalaninya. Apalagi kalo bukan atas jasa Beliau.

Bapak, menemukan sakit Diabetesnya pula atas jasa Beliau. Yang menganjurkan test darah sesaat setelah menjalani pemeriksaan rutin tahun 2003 lalu. Dan entah berapa kali saya, istri dan anak pertama, memanfaatkan jasa Beliau saat mengalami penurunan kondisi.
Tentu saja Beliau sangat berjasa.

Saya masih ingat, sekali waktu rekan sesama blogger Bali mengeluhkan soal minim bicaranya Beliau saat melakukan pemeriksaan. Ini memang ciri khasnya. Pelit bicara.
Namun ketika usianya makin senja, ia tak segan tertawa ketika kami berobat padanya. Mencandai putri kami, bahkan mentraktir makan siang di satu tempat makan dekat kantor saya terdahulu.

Kini disela geraknya yang melambat, Beliau masih mampu dan berusaha mengingatkan saya akan kalimat yang biasanya akan disampaikan setelah kantong obat diberikan.

‘Minum obat sampai habis, jangan konsumsi yang dingin, kancang ndak boleh, gorengan juga ndak boleh’

Meski kalimatnya terputus putus dan lemah, namun saya yakin setia pasien langganan Beliau, pasti paham maksudnya.

Pagi ini, hari kedua saya mengkonsumsi Obat yang Beliau berikan. Empat macam yang sudah dikemas rapi, lengkap dengan tulisan dosis dan tersimpan rapi dalam laci mejanya. Kelihatannya semua sakit yang dikeluhkan punya jenis obat yang sama. Mungkin jika Beliau masih mampu membedakan, salah satu diantaranya akan ditukar. Meski demikian, efeknya sudah sangat terasa. Batuk yang sempat menyakitkan dada saat dikeluarkan, kini tak lagi ada. Hanya menyisakan pilek dan ingus yang masih meler hingga kini. Hal biasa yang saya yakin akan sembuh saat obat ini habis nanti.

Dokter Wayan Sudana, tentu kenangan ini akan selalu kami ingat. Namun jika melihat kondisi Beliau seperti yang ada saat ini, mungkin sudah saatnya kami mencari alternatif dokter THT lainnya, dan memberikan kesempatan pada Beliau untuk istirahat dan menikmati masa pensiunnya.

Liburan Panjang edisi Januari

Category : tentang KeseHaRian

Hujan deras mengguyur Kota Denpasar Selasa pagi 20 Januari 2015 sejak dini hari tadi, membatalkan semua rencana yang sudah kami susun rapi sejak kemarin. Efeknya, Mirah putri pertama kami memilih untuk tetap berada di balik selimutnya meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kosong sembilan. Sementara Intan putri kedua kami, meskipun sejak pagi sudah mandi dan wangi, iapun memilih leyeh leyeh bersama Bapaknya di tempat tidur sambil mimik susu.

Liburan Panjang edisi Januari

Empat hari sejak sabtu kemarin semua PNS *kalo tidak salah* mendapatkan edaran cuti bersama dalam rangka kaitannya dengan Rahinan gumi Siwaratri yang jatuh pada hari senin kemarin. Selasa jadi ikutan libur karena ada anggapan bakalan begadang pada hari Senin malamnya sehingga Selasa masih dapat beristirahat dengan baik.
Namun bagi kami, liburan panjang macam begini tentu gag akan dilalui begitu saja tanpa rencana. Meski sudah ada yang bisa berjalan, namun khusus hari ini semuanya buyar.

Olahraga bersama

Ini kali pertama saya bisa melakukan olahraga bersama anak-anak. Tujuannya sih sederhana, mengajak anak-anak refreshing di sore hari, meninggalkan semua rutinitas harian yang dilakoni nenek dan ibu mereka, sehingga dengan hilangnya kami dari rumah, mereka (nenek dan ibunya Mirah dan Intan) bisa meluangkan waktunya untuk beristirahat.
Rutenya hanya mengitari alun-alun Kota Denpasar sambil menengok puluhan ikan dan kolam tengah. Atau Lapangan Renon yang luasnya dua kali lipat, sambil nyariin siomay atau jagung bakar. Untuk yang terakhir ini, sayangnya belum kesampaian.

Melupakan Tugas

Sebenarnya liburan ini awalnya saya rencanakan untuk menghandle kerjaan yang terbengkalai, menarasikan 9 buku sejarah Puspem Badung yang dirangkum dari semua Notulen Rapat oleh Tim Koordinasi Pembangunan Puspem saat itu. Namun belum usai buku keempat, rasa bosan melanda hingga akhirnya saya memilih untuk bersantai bersama anak-anak, yang secara bergiliran mengganggu kerjaan saya dan pada akhirnya si Bapak pun terpengaruh. Ya sudahlah… kasian juga mereka dicuekin sejak awal kemarin.

Jalan-Jalan

Belum puas dengan sekedar ngempu anak-anak, saya memilih outing keluar rumah bersama keluarga. Baik yang skala kecil maupun besar. Tapi ya gag jauh-jauh sih, masih seputaran Denpasar dan sekitarnya. Makanya tempo hari sempat minta saran kawan seantero sosial media, buat mengetahui tempat makan favorit mereka biar bisa kami kunjungi. Rata-rata masih sejalan sih.
Akibatnya persoalan duit jadi sedikit boros, untuk makan, jajan hingga merembet ke hal-hal yang agak serius, persiapan kelahiran turunan ketiga. Dari beli rak bajunya, pakaian harian hingga bantal gulingnya. Biar gag rebutan dengan dua kakaknya nanti.

Belanja Online

Malas nyariin Tongsis ke tempat jualannya di seputaran Gatot Subroto Barat hasil hunting di OLX mantan Toko Bagus, atau kartu perdana Tri yang katanya bisa dobel pulsa, saya memilih Lazada untuk tempat belanja Online yang walopun sedikit mahal *meskipun sudah dapat diskon* tapi disitu barangnya bisa beragam, bisa lihat gambar fisiknya, dan yang terpenting ya Diantar ke rumah. Jadi ya bisa sambil leyeh leyeh nungguinnya seminggu kedepan.
Ini sudah transaksi keenam kalo gag salah dengan Lazada. Kali ini saya lagi iseng nyariin Tongsis yang pake Bluetooth hasil pendalaman saya dengan seorang kawan di akun Whatsapp, juga kantong pouch kecil untuk diselipkan di pinggang saat malas membawa tas hanya untuk menyimpan barang-barang ukuran mini macam flash disk atau penganan *eh
Selengkapnya nanti deh saya cerita lagi

Melupakan BPK

Hari senin kemarin sedianya BPK bakalan turun di Pemkab Badung, kaitan pemeriksaan kegiatan tahun 2014. Tapi lantaran libur panjang begini, semua seakan terlupakan. Dan sayapun memang lagi belajar untuk EGP ‘Emang Gue Pikirin’, mengingat semua kerjaan itu sebenarnya sudah bikin pusing selama dua tahun ini dan memilih untuk melupakannya demi kesehatan. Telepon semua di AirPlane mode-kan dan mengkoneksikannya dengan Wifi Rumah biar bisa internetan. Tapi sekalinya diaktifkan, telepon dari dua anggota Dewan langsung masuk dan merangsek minta tambahan jatah ruas jalan lingkungan. Weleh…

Liburan Panjang sudah hampir usai. Kira-kira kapan lagi yah ada yang beginian ?

Umur Kita ada pada-NYA

Category : tentang KeseHaRian

Cerita Istriku kali ini, sangat menyedihkan. Hanya karena mencret dan muntah, seorang anak dari Cleaning Service di kantornya meninggal dunia. Padahal ia baru kelas satu SMP. Dehidrasi pikirku.

Musibah yang menimpa saudaraku Dego di Gulingan Tengah pun tak kalah membuat dadaku sesak. Istrinya meninggal awal Januari lalu. Diagnosanya adalah Tumor Kelenjar Getah Bening, dimana masa ia dirawat hanya satu setengah bulan saja di rumah sakit. Padahal ia baru saja menjadi Ibu. Putra Pertama. Belum setahun mereka menikah.

Salah seorang staf di kantor pun memiliki cerita serupa. Kematian suaminya hanya karena panas badan yang tinggi, datang silih berganti. Tidak lama, namun membuatku menarik nafas.

Membaca berita di media terkait kecelakaan Air Asia beberapa waktu lalu, mengingatkanku pada gadis yang kini ditinggal mati ayah ibunya, juga kakak dan adiknya. Meskipun nilai asuransi yang kelak ia terima sangat besar, namun jika pilihan itu masih ada, siapapun akan mengambil pilihan yang sama.

Aku hanya bisa terdiam dan memejamkan mata. Sambil berupaya menempatkan diri pada posisi itu. Bagaimana jika aku yang divonis Tuhan untuk menghadapi cobaan itu ? Apa yang harus dilakukan sejak kini ? Menyayangi mereka yang masih ada ?

Entahlah…

Umur Manusia memang ada di Tangan Tuhan, dan aku yakin satu saat nanti pasti kan datang. Entah apakah aku yang akan ditinggalkan, atau aku yang akan meninggalkan. Tapi jikapun boleh aku memohon pada-NYA, berikan aku kesempatan lebih panjang untuk bisa membahagiakan orang orang yang aku sayangi, juga yang menyayangi aku.