Liburannya Masih (terasa) Kurang

Category : tentang Opini

Alarm berdering keras sedang mata masih merasakan kantuk, pagi sekitar pukul 4.45 wita. Masih kebingungan dengan suara notifikasi yang berubah-ubah pada pengaturan ponsel Hisense yang kini mulai menggantikan keberadaan ponsel Note 3 secara permanen.

Liburan sudah habis.

Meskipun masa Cuti Lebaran yang diberikan cukup lama, seminggu tepatnya, namun rasa-rasanya Liburan ini masih (terasa) kurang. Gegara dipenuhi kegiatan adat dari pernikahan sepupu hingga rahinan Tumpek Landep. Baru hari Minggu kemarin saja saya dan istri juga anak-anak bisa melewatkan waktu di luar rumah. Capeknya luar binasa.

Tapi ada juga sisi positifnya. Kami jadi ndak perlu mengajukan ijin atau permisi di hari kerja. Meskipun ijin atau permisi di hari kerja bagi sebagian besar PNS sangat nikmat. Berleha-leha di luar kantor tapi tetap terima gaji. Ups…

Biarpun begitu, hari ini jadi agak berbeda. Lantaran Intan putri kedua kami, mulai masuk sekolah PG di hari pertama. Rencananya sih bakalan disekolahin dua hari sekali. Biar dia ndak bosan dengan rutinitas baru, selain ndak merepotkan kakek neneknya yang berencana mengantarkannya pulang pergi ke TK banjar Tainsiat. Maka itu pagi-pagi tadi ia dibangunkan untuk mandi dan sarapan lebih awal. Nanti deh cerita tentang dia dilanjutkan.

Jalanan Kota Denpasar masih terasa lengang. Saya pribadi ndak ada mengingatkan kawan-kawan seruangan untuk ngantor tepat waktu. Sepertinya sih masih nuansa liburan. Jadi santai sehari rasanya boleh-boleh saja. Meski gaji tetap saja berjalan penuh. Hehehe…

Nulisin cerita hari inipun dilakukan di meja kerja. Mumpung belum ada kerjaan yang bisa diambil, atau sedikit menunda pekerjaan yang dibawa kerumah kemarin. Ingin menikmati liburan sedikit lebih panjang. Karena yang kemarin itu masih saja (terasa) kurang.

Intermezzo 26 Juni

Category : tentang DiRi SenDiri

Pada akhirnya saya tidak merasa heran, saat menemukan kenyataan bahwa kawan satu ini kemudian bermasalah dengan sang istri, yang notabene seharusnya menjadi pendamping hidup.
Hanya karena persoalan komunikasi.

Saya paham, kami sama sama anak Teknik.
Dimana sebagian besar membentuk karakter yang kaku dan lurus.
Hanya bisa dibilang, saya sedikit lebih beruntung.
Karena dianugerahi gaya yang sedikit dinamis berkat jalan hidup yang tak biasa, dan dianggap mampu untuk mengkomunikasikan isi hati. Baik pada sesama, keluarga, istri, atasan ataupun masyarakat.
Kelihatannya tidak demikian halnya dengan kawan saya satu ini.

Susah memang…

Saya pun kemudian tidak pula merasa heran. Saat menemukan fakta curhatan sejumlah kawan lainnya, yang mengganggap saya pilih kasih pada bawahan, tidak pernah menegur yang bersangkutan secara langsung, bahkan memberi sanksi atas kelalaiannya meninggalkan tugas.
Dilema, ungkap saya pada mereka.

Wong saya ini apa sih ?
Atasan yang bisa memiliki kewenangan memecat juga bukan. Memberi hukuman ? Punishment ? Sejauh apa ?
Saya hanya berusaha memakluminya. Berusaha kompromi pada diri sendiri.
Yang meskipun merasa geregetan, tapi kalo kemudian dijadikan beban, bakalan merusak kesehatan diri sendiri.
Maka itu saya tak lagi mempedulikannya.

Saat saya sudah berupaya menawarkan persahabatan, dan ditolak, maka sayapun akan mengambilnya kembali dan mungkin menawarkannya pada yang lain.
Saya yakin, ada yang masih mau mendengar apa yang diharapkan.
Tapi kalopun semua menolak,
Mungkin ini saatnya saya untuk bersiap pergi dari lingkungan ini.

Bersyukurlah bahwa semua itu hanya Mimpi

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan

Mimpi, atau bunga tidur.
Kata orang bisa merupakan keinginan keinginan yang tak tersampaikan dalam dunia nyata, bisa juga merupakan pertanda hal yang akan terjadi di masa depan atau yang akan datang.
Sehingga terkadang Mimpi dijadikan sebagai rambu atau pengingat jalan yang akan dilalui kelak oleh masing masing orang dan bergantung pada interpretasi masing masing. Apakah menganggapnya serius atau cenderung mengabaikannya.
Saya sendiri, jika kemudian menimbulkan kegelisahan, biasanya saya catatkan disini.

Ada empat hal yang saya alami dalam Mimpi semalam.

Satu, bertemu langsung (ingat, dalam mimpi loh ya) dengan orang yang sesungguhnya sudah meninggal. Kejadiannya kurang lebih, mendapati hal yang di masa kini sesungguhnya sudah tak ada, namun saat saya alami rupanya masih ada. Mirip sebuah cerita komik yang mengisahkan perjalanan waktu dalam sehari. Menjadi mengkhawatirkan karena orang orang yang sudah meninggal tersebut bisa saya ajak berkomunikasi dan ada di sekeliling kita. Hiyyy…
Dalam bentuk manusia biasa tapinya.

Yang keDua, menggendong putri kecil pimpinan di kantor. Jadi spesial karena pimpinan ini sudah divonis sulit mendapatkan keturunan langsung, entah karena kesibukannya yang overkuota, atau kondisi kesehatannya yang kurang baik. Entah pula faktor suami atau apalah itu.
Maka saat saya mendapati pimpinan menggendong seorang putri kecil yang berwajah mirip dengannya, saya pun mencoba menggendongnya sebagaimana mengajak Ara atau Intan saat kecil dahulu.
Entah mimpi kedua ini memiliki makna kangen akan momongan baru yang lama dinanti, atau apa, agak kaget juga saat bangun dari tidur.

Ketiga tentang Jalan Lingkungan. Duh !
Kerjaan kok masuk Mimpi.
Pemavingan yang dikerjakan di wilayah Badung Selatan kalo ndak salah ingat, dengan kontur tanah yang menanjak sekitar 8an derajat sehingga dianggap sangat berbahaya dan sulit dilalui dengan kendaraan.
Tetap nekat melaluinya dan berhasil, dua kali malah, namun ada kekhawatiran bakalan terjatuh lantaran gravitasi.
Mih… masih sempatnya mikirin gravitasi dalam mimpi.
Yang pada akhirnya menjadi sedikit lega karena seorang pimpinan cowok (yang memang ndak ada dalam struktur pimpinan di kantor, memutuskan untuk membatalkan pekerjaan karena dianggap sangat berbahaya.
Pening.
Meski tetap optimis untuk dilewati, tapi kepala sudah pening duluan memikirkannya.
Apa ini ada kaitannya dengan cobaan di kantor ?

Dan terakhir soal percobaan tindak kejahatan.
Saya ternyata bukanlah tipe orang yang begitu mulus menjalankan percobaan tindak kejahatan. Buktinya saat bangun dari tidur, saya masih merasakan kebingungan dan kekhawatiran akan hal hal yang kelak merusak reputasi pribadi dan keluarga. Meskipun sebenarnya sangat ingin dilakukan, pembersihan dan pembuktian aksi kecurangan yang dilakukan orang orang sekitar berdasar petunjuk yang dibuang secara tidak sengaja di depan gerbang, dan saya dapati secara tak sengaja pula.
Entah apa artinya yang satu ini.

Dari semua ‘kejadian’ yang saya syukuri bahwa itu hanyalah sebuah mimpi atau bunga tidur, namun rasa pening kepala, mual dan bingung, masih menjangkiti hingga terbangun dari tidur.
Entah apakah ini merupakan sebuah reaksi rendahnya Tekanan Darah atau rendahnya kadar Gula Darah.

Jadi penasaran…

Intermezzo 25 Juni

Category : tentang DiRi SenDiri

“You baru Sehat…”

Sapa Bapak yang masih tampak enerjik berjalan cepat salip menyalip dengan langkahku pagi ini di lapangan Puputan Badung.
Ini sudah putaran keenam, ungkapnya.
Wiii… saya sendiri baru keempat. Masih kalah jauh.

“Tinggal dimana ?”
Lanjutnya tanpa mengurangi gegasnya ayunan kaki.
“Dekat sini Pak…” jawabku.
“Dulu saya tinggal di Gajah Mada, tapi saat situasi mulai ramai, saya pindah ke Gatsu I…” timpalnya tanpa menunggu aku bertanya lebih lanjut.

Bapak ini umurnya hampur dua kali lipatku. Sementara tubuhnya sudah mulai tampak membungkuk. Namun soal langkah kaki, wiii jangan ditanya.
Aku yang sedari tadi mohon ijin untuk mempercepat langkah, sesaat kemudian si Bapak sudah tampak melintas di belakangku.
Ini orang pasti punya elmu kanuragan.
Hehehe…

Masih bersama Sepultura album Roots (1996), aku menyelesaikan langkah putaran kelima dengan menyusuri trotoar depan Kodam 147. Mencari kendaraan yang kuparkir di deret pertama PU Provinsi.
Sedikit peregangan, dan akupun mulai mengetikkan pikiranku pagi ini.

‘Ingatan itu pendek. Tulisanlah yang membuatnya abadi.’

Begitu cuitan akun Bli Wayan @aguslenyot yang kini tembus menjadi Wartawan Tempo, disela cerita Ahok pagi tadi.
Dan aku rasa ia benar.

Maka menulislah aku kali ini.

Jalanan sudah mulai ramai oleh umat Hindu yang tangkil ke Pura Jagadnatha. Beberapa kendaraan roda empat nampak memenuhi pelataran parkir Museum Bali. Akupun beranjak pergi menjauh, kembali pada aktifitas yang sudah menanti.

Donor Darah #50

Category : tentang DiRi SenDiri

Akhirnya kesampean juga cita-citanya.
Donor Darah 50 kali dengan kondisi kesehatan yang jauh lebih baik.

Donor Darah PanDe Baik 50

Sabtu 18 Juni, PMI RS Sanglah. Sekitar pukul 8 pagi usai berolah raga ringan di lapangan puputan alun alun Kota Denpasar.
Terpantau tekanan darah 110/70 dengan kepekatan darah atau Hb 14,8 serta Gula Darah puasa dibawah 125 mg/dl membuat harapan yang begitu besar untuk bisa selalu berbagi pada sesama akhirnya dikabulkan oleh-NYA.
Tentu pula atas berkat perawatan Istri serta dukungan keluarga dan kawan kawan semua.

Kali ke-50 kemudian hanyalah menjadi sebuah angka pada a?hirnya. Apalagi untuk kedepannya ada keinginan untuk bisa mencapai yang lebih banyak lagi. Selagi masih bisa.

Seorang rekan kantor sempat berkata, salut bos, saat bisa melalukan donor darah melebihi usia kita, jarang jarang bisa kalo ndak telaten mengingat dan menjaga kesehatan.
Ya, mendonorkan darah selain bisa menolong orang yang membutuhkan, juga menuntut kita untuk selalu menjaga kesehatan. Minimal dengan donor, bisa check up ringan dengan gratis, plus informasinya bisa mendeteksi penyakit lain saat pemeriksaan darah di lab.
Disamping itu, untuk kita para pria, dengan melakukan donor darah minimal setiap tiga bulannya bisa memperbaharui darah yang ada dalam tubuh, sebagaimana halnya para wanita di setiap bulannya. Hahaha… Tentu saja ini bercanda.

Jadi, kenapa musti takut atau khawatir ?
Ayo luangkan sedikit waktumu untuk berbagi sekantong darah yang kita miliki ke PMI terdekat. Jangan segan untuk menolong orang, siapa tahu kelak IA lah yang akan menolongmu jika kalian dalam kesulitan.