Intermezo Sore

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan, tentang PeKerJaan

Terkadang saya suka heran… dan bingung…
akan kekuatan, ketabahan dan kecerdasan seorang Pimpinan ditengah tekanan dan Intervensi seperti ini.

Saya yang notabene seorang laki laki saja sempat merasa lelah dan penat akan situasi kerja yang hadir dalam dua tahun terakhir. Situasi yang penuh dengan masalah sosial, kepentingan dan caci maki. Juga Ancaman.
Bahkan sempat pula terlintas untuk mundur dari tugas yang dibebankan dan memilih untuk bersikap EGP pada pekerjaan. Jelas hati kecil gak bakalan bisa melakukannya. Meski sebentar…

Tapi Bandingkan dengan Beliau yang sudah bertahun-tahun mengalami dan melewati tantangan, juga cobaan dan masalah baik yang datang dari luar, maupun bawahan.
Rasanya tiap kali masalah itu muncul, selalu saja Beliau hadir memberikan pencerahan dan semangat. Lewat telepon, pesan sms hingga secara langsung.

Jika kondisinya sudah seperti ini, biasanya saya akan berbaring sambil bercanda dengan si putri nakal, sedikit bisa melupakan semua beban yang ada. Namun Apakah Beliau juga melakukan hal serupa ? Atau ada hal-hal lain yang bisa ditiru sebagai bekal hidup nanti ?

Meski banyak yang mencibir…
Tapi saya Bangga punya Pimpinan seperti Ibu Kadis…

Bersua ‘Nic & Mar’

Category : tentang Opini

Kisah pertemuan dua insan yang telah berstatus mantan, dengan ‘terpaksa’ terjalin kembali di Eropa Paris, berkat Line.
Sounds familiar ?

Kisah serupa pernah digulirkan tahun 2014 lalu menyambung epic lama di blantika film remaja Indonesia. Salah satu aktor yang terlibat masih sama dengan kedua kisah diatas. Nicholas Saputra.

Pemeran tokoh Gie yang sampai sekarang masih saya sukai penampilannya ini, melalui debut awal tahun 2002an lalu lewat ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang beradu akting dengan aktris beken Dian Sastro.
Cerita ini kemudian berlanjut dua belas tahun kemudian dalam bentuk mini drama besutan Line, aplikasi mobile messenger yang mengandalkan nomor ponsel macam Whatsapp, bukan PIN macam BBM. Namun didalamnya memiliki fitur pencarian berdasarkan Nama pengguna sehingga dimungkinkan untuk menemukan dan berbicara dengan seseorang, mantan sekalipun.
Selama lawan bicara menggunakan aplikasi yang sama.
Yang sayangnya, bagi pengguna yang pernah menggunakan Line lalu berstatus mantan karena tidak lagi menggunakan Line, daftar nama yang bersangkutan tetap muncul dalam pencarian, namun tidak akan mendapatkan respon apa-apa ketika dikontak melalui jalur aplikasi yang sama. Kasian banget bagi yang berharap banyak. *he-em

Balik pada kisah ‘Nic & Mar’, saya menemukannya secara tidak sengaja di halaman berbagi video, YouTube pertengahan Maret lalu. Inginnya sih mengunduh beberapa film Indonesia lama yang disajikan full durasi, tapi nyasarnya malah ke serial mini drama ini yang di-update setiap hari Kamis dan Jumat malam.

Nic & Mar PanDe Baik Line

Konsep jualannya mungkin mirip dengan kisah mini drama ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang dirilis tahun 2014 lalu, atau kisah ‘Malam Minggu Miko’ nya Raditya Dika yang memang hanya edar dalam versi YouTube, namun bisa dikatakan alur cerita, permainan musik latar dan pengambilan gambarnya, sesuai dengan harapan banyak penggemar film Indonesia yang sudah familiar dengan sosok Nicholas Saputra.

Adapun lawan main Nicholas Saputra yang berperan sebagai Nic dalam kisah ini adalah Mariana Renata yang berperan sebagai Mar.

Kisah ini dimulai dari perjalanan Nic di Paris yang kebingungan mencari referensi terkait kota yang ia kunjungi, dengan bertanya pada kawan dalam group Line. Salah satu alternatif solusi yang ditawarkan adalah menjumpai Mar, sang mantan kekasih yang telah sepuluh tahunan berpisah dan secara kebetulan bekerja di Paris. Pertemuan yang dijalani sebagai teman lama ini kemudian berkembang lagi menjadi satu hubungan yang berbeda dari sebelumnya.

Nic & Mar PanDe Baik Line 1

Hingga malam ini, ada empat episode yang bisa dinikmati dari cerita ‘Nic & Mar’ melalui channel Line Indonesia di halaman YouTube. Ditambah dua video musik yang melatarbelakangi kisah dengan tajuk ‘Far Away’ dan ‘When You Are Near’, sangat cocok dinikmati bagi kalian yang sudah mulai gerah dengan kehadiran Shitnetron dan sejenisnya di layar televisi.
agar bisa menontonnya secara berulang, saran saya video diatas bisa diunduh dengan menggunakan aplikasi TubeMate pada ponsel Android atau YouTube Downloader pada perangkat PC.

Saya yakin kalian bakal menyukai dan menunggu episode kelanjutan dari kisah ‘Nic & Mar’ ini, yang tentu bisa dikunjungi lagi Jumat malam nanti. Apalagi kisah ini diturunkan hanya dalam durasi yang singkat. Sekitar 6-7 menitan setiap episodenya.

Penasaran ? Mampir aja di halaman Line Indonesia, playlist ‘Nic & Mar’.

Amor ring Acintya bli Komang Pande Gus Jun

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Mih… kaget mendapat berita bli Komang Gus Jun meninggal di Jakarta tadi pagi karena serangan jantung…
ini salah satu alumni Teknik Udayana sekaligus saudara mindoan semeton Pande yang mengenalkan saya pada musik Thrashmetal era Morbid Angel, Suffocation dan tentu saja Sepultura…

Amor ring Acintya bli Mang…

(FaceBook profile Mar.18 at 11.38 pm)

bli Komang Pande Gus Jun 2

Entah kenapa, saya memimpikan bli Komang barusan.

Tersadar pada pukul 1.38 am 19 Maret, sayapun mulai mengingat kembali apa yang ada dalam benak tadi.

Alkisah saya mengikuti lomba yang diikuti hanya oleh tiga peserta. Lomba tersebut adalah berjalan, berlari dan terakhir mencoba segala upaya yang ada untuk tiba dan sampai di garis akhir yang telah dijaga oleh orang tua penglingsir sebagai satu pendidik kami, semacam rektor atau sejenisnya. Entah…

Untuk mengenali Lokasi lomba, saya diantar Istri yang mengingatkan untuk berkabar melalui ponsel Nokia 6275i lawas yang saya miliki. *oke, mohon jangan tanyakan kenapa harus ponsel Nokia, karena saat tersadar dan mengingat, saya pun bingung kenapa harus menggunakan ponsel tersebut dengan format simcard microchip macam iPhone pula. Namanya juga mimpi, jadi memang dapat dipastikan ya gak bakalan nyambung dengan Logika.

Lomba pun dimulai.

Saya harus melewati orang per orang yang lalu lalang dengan setting jalan setapak mirip di jalur Besakih yang mengambil jalan ke kanan di pertigaan pos polisi itu. Namun orang per orang ini adalah sekumpulan orang yang siap menjatuhkan mental saya dengan kalimat dan kata-kata yang mengejek dan menghina. Tapi karena sudah tahu dan paham saat diberitahu ‘clue’nya oleh istri saya barusan, semua itu saya lalui dengan cuek. Jalan terus…

Rintangan mulai hadir saat saya diharuskan melewati jalan dengan merangkak, sementara tangan harus menghapus dan melafalkan mantra yang *maaf saya sama sekali tidak ingat, namun di ujung jalan, saya diminta meneriakkan satu kalimat semacam yel yang tentu saja masih berupa mantra, yang akan secara otomatis terlintas di pikiran saat saya berkonsentrasi penuh dengan maksud tertentu. Ajaib… saya berhasil mengucapkan mantra tersebut dengan keras dan dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan… dengan apa ya ? Kok bisa lupa…

Perjalanan terakhir, saya lupa mengapa diminta untuk mengayuh sepeda dengan track lurus ke arah utara, hingga mentok di pertigaan, belok kiri dengan turunan tajam dan kondisi jalan yang rusak setengahnya. Yang unik, sembari mengayuh, saya melihat bli Komang Pande Gus Jun, menyalip saya dengan santai, diatas sepeda tuanya.
Disaat melewati jalan rusak, sayapun terjatuh dan dengan berteriak, saya diminta istri untuk boncengan di sepeda bli Komang dengan harapan bisa mengantarkan saya pulang menyelesaikan lomba hingga garis akhir.

Entah bagaimana ceritanya, kok malah saya yang mengambil alih sepeda, ngebut sesuai ‘ilmu pengetahuan’ yang didapat bahwa dengan memacu sepeda dalam arus air di selokan/lubang jalan raya, akan mempercepat laju bak rollercoaster diatas sadel sepeda. Dan entah bagaimana logikanya, sayapun di jelang garis finish yang dihadapkan pada satu area penuh air layaknya danau, disalip oleh dua peserta lainnya dengan menggunakan sepeda motor berkecepatan tinggi.

Saya dinyatakan kalah atau menempati tempat ketiga oleh sang orang tua tadi yang melewati genangan air diatas Truck Wheel Loader yang mirip dengan milik Dinas Bina Marga Badung saat pematangan lahan tahun 2005 silam.

Setiba dirumah, sayapun bercerita pada kedua orang tua perihal perjalanan lomba tadi yang dialami dalam mimpi itu. *Mimpi dalam mimpi, mimpi bertingkat mungkin namanya…
Sembari mengingatkan bahwa tanpa bantuan bli Komang Pande Gus Jun, tentu saya tidak akan bisa sampai di garis akhir, juga dirumah tepat waktu. Maka itu saya mengajak Bapak untuk menengoknya di rumah duka sore ini.

dan semua mimpi itu baru disadari saat terbangun pukul 1.38 tadi…

Ah, mimpi memang gak perlu dinalar pakai logika, masuk akal atau tidak. Apalagi yang diingat juga gak runut jelas dari awal, mengingatkan saya akan pendapat seorang kawan lama, bahwa Mimpi itu gak akan Logis dan Ingat tercerna alur ceritanya. Jadi ya buat apa dipertanyakan lagi.

Yang terpenting bahwa sosok bli Komang ikut hadir didalamnya, yang bisa jadi merupakan bunga tidur dalam ingatan yang tadinya sempat terlintas saat membaca Mantram Gayatri dengan genitri sesaat sebelum tidur. Artinya, pagi nanti saya harus menghaturkan sodha di pelinggih Bethara Hyang Guru atau dimana ya tepatnya ? Mengingat yang bersangkutan belum diupacarai hingga hari ini.
Mohon bantuan para suhu, para guru yang sudah berkenan membaca tulisan yang dilahirkan dini hari pukul 2.09 ini, lantaran gak bisa memaksa mata untuk terpejam lagi.
Baik arti mimpi jika sekiranya itu bermakna, atau soal keterkaitan dengan bli Komang Pande Gus Jun tadi.

Ditunggu yah…

Tentang Dokter Wayan Sudana

Category : tentang Opini

Tumben saya diserang batuk dan flu parah, padahal biasanya begitu gejala datang langsung dihantam Kangen Water. Tapi kali ini gak mempan lagi rupanya.
Terpaksa kalo gini urusannya, harus mencari dokter senior pujaan saya, Wayan Sudana di jalan Meduri. Kira-kira masih praktek gak yah ?

Sakit yang Beliau derita mungkin sudah cukup parah. Tubuhnya yang dahulu tambun, kini sudah jauh lebih kurus.
Baju kemeja bergaris tipis dan celana panjang hitamnya tampak longgar dan besar. Wajahnya pun tak segarang dahulu yang saya kenal.
Setahun lebih sudah saya tak pernah bersua Beliau. Padahal jika dahulu sedikit saja diserang batuk dan pilek, tangan dokter selalu ampuh mengobati.

Sebenarnya saya kasihan melihat Beliau. Reaksinya sangat lambat untuk ukuran dokter yang masih aktif praktek, namun kelihatannya sakit yang mendera masih dipaksakan demi melayani pasien. Dan kini, si pasien pun kelihatannya jauh lebih aktif menyorongkan anggota badannya untuk diperiksa satu persatu. Mulut, kedua telinga dan dada juga denyut nadi. Bahkan stetoskopnya pun tidak ditempatkan di posisi yang benar.
Jika saja sugesti akan keampuhan obat dan penanganan Beliau tidak merasuki pikiran terlalu dalam, mungkin saya tak akan mau mengganggu waktu istirahatnya sabtu pagi kemarin.

Saya mengenal dokter Wayan Sudana ini sudah lama. Sejak kecil. Sejak Beliau masih praktek di Apotek Anugerah jalan Patimura.
Dokter spesialis THT ini menjadi langganan apabila kami mengalami sakit ringan hingga yang berkaitan dengan anggota tubuh yang menjadi spesialis Beliau. Telinga Hidung dan Tenggorokan. Batuk dan Pilek tentu pilihan utamanya.

Pernah sekali waktu telinga saya merasa berdengung, tak nyaman selama berhari-berhari. Saat ditangani, ternyata Beliau menemukan kapas yang digulung kecil, membusuk di dalam telinga. Mungkin lipatan cotton buds yang tertinggal didalam menyebabkannya demikian.

Pernah juga dalam durasi satu minggu, saya terpaksa berobat dua kali. Tepatnya sebelum Ujian Akhir Skripsi dan setelahnya. Mungkin karena tegang, panas badan menyerang saya beruntun. Tapi beruntung saat ujian berlangsung, saya bisa fit menjalaninya. Apalagi kalo bukan atas jasa Beliau.

Bapak, menemukan sakit Diabetesnya pula atas jasa Beliau. Yang menganjurkan test darah sesaat setelah menjalani pemeriksaan rutin tahun 2003 lalu. Dan entah berapa kali saya, istri dan anak pertama, memanfaatkan jasa Beliau saat mengalami penurunan kondisi.
Tentu saja Beliau sangat berjasa.

Saya masih ingat, sekali waktu rekan sesama blogger Bali mengeluhkan soal minim bicaranya Beliau saat melakukan pemeriksaan. Ini memang ciri khasnya. Pelit bicara.
Namun ketika usianya makin senja, ia tak segan tertawa ketika kami berobat padanya. Mencandai putri kami, bahkan mentraktir makan siang di satu tempat makan dekat kantor saya terdahulu.

Kini disela geraknya yang melambat, Beliau masih mampu dan berusaha mengingatkan saya akan kalimat yang biasanya akan disampaikan setelah kantong obat diberikan.

‘Minum obat sampai habis, jangan konsumsi yang dingin, kancang ndak boleh, gorengan juga ndak boleh’

Meski kalimatnya terputus putus dan lemah, namun saya yakin setia pasien langganan Beliau, pasti paham maksudnya.

Pagi ini, hari kedua saya mengkonsumsi Obat yang Beliau berikan. Empat macam yang sudah dikemas rapi, lengkap dengan tulisan dosis dan tersimpan rapi dalam laci mejanya. Kelihatannya semua sakit yang dikeluhkan punya jenis obat yang sama. Mungkin jika Beliau masih mampu membedakan, salah satu diantaranya akan ditukar. Meski demikian, efeknya sudah sangat terasa. Batuk yang sempat menyakitkan dada saat dikeluarkan, kini tak lagi ada. Hanya menyisakan pilek dan ingus yang masih meler hingga kini. Hal biasa yang saya yakin akan sembuh saat obat ini habis nanti.

Dokter Wayan Sudana, tentu kenangan ini akan selalu kami ingat. Namun jika melihat kondisi Beliau seperti yang ada saat ini, mungkin sudah saatnya kami mencari alternatif dokter THT lainnya, dan memberikan kesempatan pada Beliau untuk istirahat dan menikmati masa pensiunnya.

Liburan Panjang edisi Januari

Category : tentang KeseHaRian

Hujan deras mengguyur Kota Denpasar Selasa pagi 20 Januari 2015 sejak dini hari tadi, membatalkan semua rencana yang sudah kami susun rapi sejak kemarin. Efeknya, Mirah putri pertama kami memilih untuk tetap berada di balik selimutnya meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kosong sembilan. Sementara Intan putri kedua kami, meskipun sejak pagi sudah mandi dan wangi, iapun memilih leyeh leyeh bersama Bapaknya di tempat tidur sambil mimik susu.

Liburan Panjang edisi Januari

Empat hari sejak sabtu kemarin semua PNS *kalo tidak salah* mendapatkan edaran cuti bersama dalam rangka kaitannya dengan Rahinan gumi Siwaratri yang jatuh pada hari senin kemarin. Selasa jadi ikutan libur karena ada anggapan bakalan begadang pada hari Senin malamnya sehingga Selasa masih dapat beristirahat dengan baik.
Namun bagi kami, liburan panjang macam begini tentu gag akan dilalui begitu saja tanpa rencana. Meski sudah ada yang bisa berjalan, namun khusus hari ini semuanya buyar.

Olahraga bersama

Ini kali pertama saya bisa melakukan olahraga bersama anak-anak. Tujuannya sih sederhana, mengajak anak-anak refreshing di sore hari, meninggalkan semua rutinitas harian yang dilakoni nenek dan ibu mereka, sehingga dengan hilangnya kami dari rumah, mereka (nenek dan ibunya Mirah dan Intan) bisa meluangkan waktunya untuk beristirahat.
Rutenya hanya mengitari alun-alun Kota Denpasar sambil menengok puluhan ikan dan kolam tengah. Atau Lapangan Renon yang luasnya dua kali lipat, sambil nyariin siomay atau jagung bakar. Untuk yang terakhir ini, sayangnya belum kesampaian.

Melupakan Tugas

Sebenarnya liburan ini awalnya saya rencanakan untuk menghandle kerjaan yang terbengkalai, menarasikan 9 buku sejarah Puspem Badung yang dirangkum dari semua Notulen Rapat oleh Tim Koordinasi Pembangunan Puspem saat itu. Namun belum usai buku keempat, rasa bosan melanda hingga akhirnya saya memilih untuk bersantai bersama anak-anak, yang secara bergiliran mengganggu kerjaan saya dan pada akhirnya si Bapak pun terpengaruh. Ya sudahlah… kasian juga mereka dicuekin sejak awal kemarin.

Jalan-Jalan

Belum puas dengan sekedar ngempu anak-anak, saya memilih outing keluar rumah bersama keluarga. Baik yang skala kecil maupun besar. Tapi ya gag jauh-jauh sih, masih seputaran Denpasar dan sekitarnya. Makanya tempo hari sempat minta saran kawan seantero sosial media, buat mengetahui tempat makan favorit mereka biar bisa kami kunjungi. Rata-rata masih sejalan sih.
Akibatnya persoalan duit jadi sedikit boros, untuk makan, jajan hingga merembet ke hal-hal yang agak serius, persiapan kelahiran turunan ketiga. Dari beli rak bajunya, pakaian harian hingga bantal gulingnya. Biar gag rebutan dengan dua kakaknya nanti.

Belanja Online

Malas nyariin Tongsis ke tempat jualannya di seputaran Gatot Subroto Barat hasil hunting di OLX mantan Toko Bagus, atau kartu perdana Tri yang katanya bisa dobel pulsa, saya memilih Lazada untuk tempat belanja Online yang walopun sedikit mahal *meskipun sudah dapat diskon* tapi disitu barangnya bisa beragam, bisa lihat gambar fisiknya, dan yang terpenting ya Diantar ke rumah. Jadi ya bisa sambil leyeh leyeh nungguinnya seminggu kedepan.
Ini sudah transaksi keenam kalo gag salah dengan Lazada. Kali ini saya lagi iseng nyariin Tongsis yang pake Bluetooth hasil pendalaman saya dengan seorang kawan di akun Whatsapp, juga kantong pouch kecil untuk diselipkan di pinggang saat malas membawa tas hanya untuk menyimpan barang-barang ukuran mini macam flash disk atau penganan *eh
Selengkapnya nanti deh saya cerita lagi

Melupakan BPK

Hari senin kemarin sedianya BPK bakalan turun di Pemkab Badung, kaitan pemeriksaan kegiatan tahun 2014. Tapi lantaran libur panjang begini, semua seakan terlupakan. Dan sayapun memang lagi belajar untuk EGP ‘Emang Gue Pikirin’, mengingat semua kerjaan itu sebenarnya sudah bikin pusing selama dua tahun ini dan memilih untuk melupakannya demi kesehatan. Telepon semua di AirPlane mode-kan dan mengkoneksikannya dengan Wifi Rumah biar bisa internetan. Tapi sekalinya diaktifkan, telepon dari dua anggota Dewan langsung masuk dan merangsek minta tambahan jatah ruas jalan lingkungan. Weleh…

Liburan Panjang sudah hampir usai. Kira-kira kapan lagi yah ada yang beginian ?

Umur Kita ada pada-NYA

Category : tentang KeseHaRian

Cerita Istriku kali ini, sangat menyedihkan. Hanya karena mencret dan muntah, seorang anak dari Cleaning Service di kantornya meninggal dunia. Padahal ia baru kelas satu SMP. Dehidrasi pikirku.

Musibah yang menimpa saudaraku Dego di Gulingan Tengah pun tak kalah membuat dadaku sesak. Istrinya meninggal awal Januari lalu. Diagnosanya adalah Tumor Kelenjar Getah Bening, dimana masa ia dirawat hanya satu setengah bulan saja di rumah sakit. Padahal ia baru saja menjadi Ibu. Putra Pertama. Belum setahun mereka menikah.

Salah seorang staf di kantor pun memiliki cerita serupa. Kematian suaminya hanya karena panas badan yang tinggi, datang silih berganti. Tidak lama, namun membuatku menarik nafas.

Membaca berita di media terkait kecelakaan Air Asia beberapa waktu lalu, mengingatkanku pada gadis yang kini ditinggal mati ayah ibunya, juga kakak dan adiknya. Meskipun nilai asuransi yang kelak ia terima sangat besar, namun jika pilihan itu masih ada, siapapun akan mengambil pilihan yang sama.

Aku hanya bisa terdiam dan memejamkan mata. Sambil berupaya menempatkan diri pada posisi itu. Bagaimana jika aku yang divonis Tuhan untuk menghadapi cobaan itu ? Apa yang harus dilakukan sejak kini ? Menyayangi mereka yang masih ada ?

Entahlah…

Umur Manusia memang ada di Tangan Tuhan, dan aku yakin satu saat nanti pasti kan datang. Entah apakah aku yang akan ditinggalkan, atau aku yang akan meninggalkan. Tapi jikapun boleh aku memohon pada-NYA, berikan aku kesempatan lebih panjang untuk bisa membahagiakan orang orang yang aku sayangi, juga yang menyayangi aku.

Tahap Akhir persoalan Saya, Asuransi Prudential dan RS Bhakti Rahayu

Category : tentang Opini

Akhirnya ada respon juga dari Agen saya setelah menunggu selama dua mingguan lebih, yang sayangnya sms terakhir per tanggal 2 Januari lalu pun hingga hari ini belum dibalas.
Mengingat fitur sms belum bisa memberi tahu pengirimnya apakah pesan sudah sampai pada tujuan dan dibaca, saya sih udah gag peduli aja mainnya.

Kasus terakhir soal pembayaran klaim Rumah Sakit, saya sengaja tidak mengabarkan lebih lanjut di halaman blog ini, menunggu reaksi Agen dulu. Maka setelah tadi yang bersangkutan sudah meminta maaf secara pribadi, maka kasus saya buka kembali.

Pembayaran (tepatnya pengembalian dana atas DP yang dibayarkan senilai Total biaya Perawatan) sudah dilakukan. Tepatnya di Minggu ketiga semenjak putri kami keluar RS Desember lalu. Nilainya sama, jadi tidak ada penambahan dana yang harus saya bayarkan atas kenaikan kelas kamar yang saya minta saat perawatan. Hal ini sesuai dengan informasi yang saya terima dari agen terdahulu, bahwa dengan nilai pertanggungan tiap tahunnya, semua biaya perawatan yang Hanya sebesar 4 juta rupiah lebih itu ditanggung full.

Meskipun Agen meminta saya memeriksa Polis kembali untuk melihat apakah ada klausul tambahan dimana saya bisa mengklaim tambahan dana, entah hanya untuk menyenangkan nasabahnya atau benar begitu, tidak saya lakukan lantaran hingga pengembalian kemarin, saya tidak menerima Nota apapun dari pihak Rumah Sakit. Kecuali Nota pembayaran DP yang diambil kembali saat Pengembalian. Jadi untuk mengajukan klaim tambahan, saya yakin bakalan sulit. Gak mungkin sih kayaknya.

Nilai 4 juta sebenarnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan beratnya sakit yang dialami putri saya kemarin, di usia 2 tahun. Sehingga sebetulnya yang saya permasalahkan disini bukanlah Nilainya, namun Proses Klaim dan penyelesaiannya.
Nah, seandainya saja Biaya yang dibebankan kepada Pasien adalah sebesar 100 juta rupiah, dan Pasien tidak dapat menyiapkan DP sebesar Nilai Total biaya tersebut sebagaimana penjelasan pihak Rumah Sakit, lantas hal apa yang bisa diterima pasien dalam kondisi tersebut ?
Mencari pinjaman kanan kiri untuk melunasi DP atay jaminan yang besarannya sama dengan Nilai Total ? *DP atau Jaminan kok besarannya bisa sama dengan Nilai Total itu ilmunya dari mana coba ? atau opsi kedua,
Menunggu kepastian dari Pihak Prudential Pusat perihal pembayaran atau pertanggungan hingga Minggu ketiga sebagaimana yang saya alami diatas ? *lalu ngapain aja Pasien dan Keluarga Pasien di RS selama itu ? *masih ingat pendapat pihak RS di posting sebelumnya kan ?

Saya yakin, atas dasar hal seperti diataslah merupakan salah satu alasan kita semua sebagai calon nasabah maupun calon pasien mengajukan permohonan menjadi nasabah Asuransi Kesehatan dan membayarkan preminya setiap bulan dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab.
Jikapun diminta untuk menanggung semua biayanya didepan (rembes), apakah kalian yakin kita sanggup membayarkannya ? Gag semudah itu kan ?

Dalam kasus begini, Saran dan Masukan saya sederhana saja.
Pertama, Berikan kepastian waktu menunggu kepada Pasien jika memang pihak Rumah Sakit optimis proses penyelesaian administrasinya bisa terselesaikan sesuai aturan. 1 jam, atau 3 jam misalkan. Yang penting selesai, saya yakin pasien tidak akan mempermasalahkan waktu menunggu tersebut.
Tapi kalo sudah diminta menunggu 1 jam, 3 jam, 3 hari, 1 minggu, 2 minggu namun baru minggu ketiga bisa diselesaikan, coba saja hitung berapa kali keluarga pasien harus meluangkan waktunya menghubungi pihak Rumah Sakit baik secara komunikasi telepon maupun datang langsung ?

Namun jika memang pihak Rumah Sakit tidak bisa memastikan jangka waktu penyelesaian sesuai harapan awal, ya berikan penjelasan kepada keluarga Pasien bahwa Pasien dapat meninggalkan RS (jika perlu tanpa Jaminan), mengingat proses Administrasi itu adalah kewenangan RS yang Notabene melakukan perikatan Kontrak dengan Prudential.
Mengapa saya katakan tanpa jaminan ? Karena berapapun besaran nilai Perawatan, sudah dapat dihitung dari besaran pertanggungan oleh pihak Asuransi. Jika masih berada dalam coverage pertanggungan, bisa jadi tidak masalah, Jikapun kurang, pihak Asuransi atau RS bisa menagihkannya kepada Nasabah. Bukankah tidak sulit untuk menghubungi Nasabah jika pembayaran Asuransi setiap bulannya tidak menjadi persoalan ?
*kalopun Nasabah kesulitan dalam pembayaran Premi bulanan, bukannya kena Teguran ?

Yang sedikit saya sesalkan disini adalah soal keterlibatan Agen.
Membaca komentar beberapa kawan yang dihandle oleh Agen Asuransinya lebih dahulu sehingga saat kepulangan dari RS, mereka tak lagi menemui kesulitan, malah membuat saya ingin bertanya balik.
Jikapun saya sebagai Nasabah sudah melaksanakan kewajiban pembayaran setiap bulannya tanpa masalah, dan pihak RS memang benar sudah berKontrak dengan Asuransi, haruskah saya melakukan kontak dengan Agen kembali saat mengklaim pertanggungjawaban biaya asuransi ? Apakah dari pihak Rumah Sakit tidak memiliki kewenangan kontak dengan Asuransi (baca : profesionalisme) saat Pasien sudah menyerahkan Kartu Asuransi kepada pihak RS di awal Pendaftaran ?
Bukankah jauh lebih baik jika pihak RS memeriksa catatan si Pasien lebih awal ke Asuransi sekaligus mengabarkan mereka ‘hey ini ada Nasabahmu yang Rawat Inap di RS kami, dan membutuhkan pertanggungjawaban biaya, agar diproses dari sekarang…’ bukan Baru dilakukan saat proses perawatan Selesai.

Namun jika memang keterlibatan Agen adalah Hal yang Mutlak dipersyaratkan baik oleh pihak asuransi maupun Rumah Sakit, saya jadi pengen bertanya lagi, opsi apa yang bisa ditawarkan ketika kemudian si Nasabah atau Pasien mengalami hal kesulitan kontak dengan Agen Asuransinya sendiri ?
Apakah pihak Asuransi akan menetapkan sistem Reward and Punishment atas Kinerja Agen berdasarkan laporan Nasabah ? Lantas bagaimana trik pihak Asuransi untuk meyakinkan tingkat keberhasilan Kontak antara Nasabah dengan Agennya saat berada dalam situasi Emergency, terutama saat berada dalam kondisi susah sinyal, jam malam dsb.
Ini sih sekedar Saran atau Masukan yah.

Soal kelak Curhatan seri bersambung saya terkait Pembayaran Asuransi dan pihak RS Bhakti Rahayu yang berpotensi kena pasal Pencemaran Nama Baik dari UU ITE misalkan sebagaimana Kasus Prita Mulyasari tempo hari, saya sampaikan sekarang bahwa hingga posting terakhir saya tidak ada menjelek-jelekkan pihak Rumah Sakit maupun asuransi Prudential tanpa bukti pengalaman nyata, karena demikianlah hal yang saya alami. Lagipula semua postingan diatas, tidak ada kalimat yang menyatakan bahwa saya mengajak kalian, pengunjung halaman blog www.pandebaik.com ini untuk tidak memanfaatkan Jasa layanan kesehatan di Rumah Sakit Bhakti Rahayu ataupun pindah asuransi Kesehatan.
Bahkan jika jeli, saya malah memberikan opsi Saran dan Masukan kepada pihak terkait soal penyelesaian kasus apabila kelak kembali terjadi hal yang sama. Bukankah tidak ada salahnya jika kita berbenah demi tujuan yang lebih baik ?

Catatan dari Tragedi AirAsia QZ8501

1

Category : tentang Opini

Mata Indonesia seakan terpaku pada satu tema seminggu terakhir ini. Berita hilangnya kontak pesawat AirAsia setelah tinggal landas dari bandar udara Surabaya dengan tujuan Singapura. Yang pada akhirnya ditemukan sudah menjadi pecahan di Selat Karimata dekat Kalimantan. Semua Berduka.

Terdapat 162 nyawa yang diperkirakan meninggal didalamnya. Beberapa memang sudah diketemukan terapung di lautan yang luas, sisanya masih dalam tahap pencarian. Air matapun tertumpah.

Presiden beserta Wakilnya tanggap menyikapi. Demikian halnya dengan Walikota Surabaya Ibu Risma bersinersi dengan semua pihak termasuk Basarnas makin meyakinkan kami akan sosok impian seorang pemimpin yang begitu didambakan.

Kisah heroik beberapa tokoh yang terlibat didalamnya pun mencuat ke publik. Hanya butuh waktu tiga hari untuk bisa menemukan satu persatu petunjuk yang diharapkan banyak orang. Tidak demikian halnya dengan Wakil Rakyat kita yang Terhormat.

Mereka seakan dibutakan oleh masa lalu. Dimana semua tokoh yang terlibat diatas dituntut agar mampu menyelesaikannya dalam waktu singkat. Tidak hanya itu, mereka juga berkehendak membentuk Panja untuk mengusut penyebab hilangnya pesawat AirAsia, tentu hanya satu dalih kacangan karena bagaimana mungkin jika pesawatnya saja belum ditemukan saat itu. Tapi sudahlah, bersyukur juga jika mereka memperlihatkan kebodohan dan kemunafikan tingkah laku yang seharusnya menjadi panutan. Kelak merekapun akan merasakan akibatnya.

Belum puas dengan Wakil Rakyat, banyak orang yang mendadak pintar menjadi pengamat. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Pesawat disembunyikan Jin. What The Hell… dan Sialnya lagi, beberapa stasiun televisi begitu teganya menayangkan hal-hal yang tak sepantasnya dilihat, pula mengulik cerita dan kisah yang terlalu absurd. Maka wajar jika kemudian saya juluki mereka Kampret of the Year.

Namun seKampret Kampretnya mereka, jauh lebih Kampret lagi Kita. Ya… Kita. Aku dan Kamu…

Karena kita sudah melakukan pembiaran pada semua itu, sehingga yang namanya Wakil Rakyat, Pengamat dan Stasiun Televisi makin menjadi, sementara KPI sejauh ini hanya mampu melarang penayangan Tom and Jerry yang mengandung unsur kekerasan bagi anak-anak kita.

Syukurnya Tuhan masih mendengar keluh kesah orang orang yang merasa teraniaya, sehingga satu persatu serpihan pesawat AirAsia QZ 8501 bisa ditemukan dan menjadikannya Titik Terang atas semua harapan yang dipanjatkan setiap harinya.

Turut berduka atas semua itu Kawan

Antrean Mengular, Berdiri pula

Category : tentang Opini

Beberapa kali menunaikan kewajiban sebagai nasabah Bank rasanya hanya Mandiri Veteran ini saja yang masih mengadopsi model lama untuk kategori Antrean. Kalo gag salah dulu BCA masih sempat saya kritisi hal yang sama, namun kini sudah mulai berbenah demi memberikan kenyamanan bagi para nasabahnya. Tapi yang jelas bukan karena kritikan saya pastinya.

Menunggu Antrean dengan berdiri, berbaris dan mengular. Biarpun diklaim lebih sehat, tapi pegal juga sebetulnya terutama kalo lagi berada dalam kondisi Teller terbatas, dan sudah itu mengurus transaksi yang lama pula. Bikin mangkel dan terheran-heran. Maklumlah, Bank yang saya kritisi kali ini sebagaimana disebutkan diawal tadi adalah Bank Mandiri yang lokasinya berada di ujung selatan jalan Veteran. Padahal kelas bank itu secara interiornya jauh lebih baik ketimbang Bank Pembangunan Daerah yang ada di sisi baratnya. Tapi kalo bicara soal kenyamanan Antre, rasanya BPD masih jauh lebih baik. Biarpun dalam skala kecil sekalipun, tempat duduk dan nomor antrean itu tetap diberikan.

Nasabah bisa duduk nyaman sembari menunggu nomor antrean dipanggil, mengerjakan aktifitasnya dalam ponsel ataupun laptop jika nomor antrean masih cukup lama. Lha jika berdiri, apa masih bisa merasakan nyaman melakukan aktifitas tersebut ? Begitu juga saat menonton televisi di sekitar ruang tunggu.

Tapi ah sudahlah, bank bank gue kok, begitu mungkin bathin pemilik Mandiri, biarpun antrean berdiri dan mengular toh tetap dicari.