Hal-hal yang Sebetulnya Perlu diketahui oleh Nasabah Asuransi (bagian 2)

Category : tentang Opini

Masih melanjutkan postingan saya sebelumnya, terkait Kesalahan Terbesar Pola Pikir Nasabah, dalam kasus ini asuransi Prudential saat melakukan Pembelian Polis Jaminan Kesehatan. Berikut Kesalahan Kedua yang dapat disampaikan sebagai bahan topik bahasan postingan kali ini.

Bahwa ketika terjadi klaim kesehatan, seluruh biaya akan ditanggung oleh asuransi. Berapapun besarnya. Apapun jenis keluhan sakit yang diderita.

Ternyata apa yang saya pikirkan sedari awal ikut Asuransi Prudential atau barangkali yang kalian pikirkan jika serupa dengan makna diatas, tidak sepenuhnya Benar.

Akan menjadi benar apabila jenis keluhan sakit yang diderita masuk dalam kategori yang dapat ditanggung penuh oleh Asuransi. Misalkan Demam Berdarah, atau Thypus. Yang notabene jenis obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan pasien bukan tergolong obat mahal dan lebih banyak membutuhkan istirahat saja. Sehingga apabila kalian kebetulan mengalami jenis keluhan ini dan menjalani rawat inap, sepanjang pengalaman saya merawat Mirah dan Intan beberapa tahun lalu, keduanya ditanggung penuh oleh Asuransi Prudential.
Sedang akan menjadi tidak sepenuhnya benar apabila jenis keluhan sakit yang diderita tergolong Kritis, dimana tidak semua jenis obat dapat ditanggung oleh asuransi.
Meskipun, dalam ilustrasi gambaran awal, telah disampaikan bahwa kelak akan dianggarkan sejumlah besar dana dari pihak asuransi sebagai backup pembayaran di setiap tahunnya dengan jumlah yang sama.
Ingat, Setiap Tahun dianggarkan sejumlah besar dana yang sama.

Namun ada hal yang rupanya tidak diketahui oleh Nasabah, bahwa dalam Jumlah dana yang dipersiapkan oleh Asuransi dalam setiap tahunnya untuk klaim yang dilakukan oleh Nasabah tidak serta merta terhitung akumulasi satu item dengan item lainnya.
Informasi yang saya terima, ada pembagian lebih jauh lagi terkait besaran dana yang dipersiapkan seperti dana kamar rawat inap, dana obat, dana operasi, dana tindakan dokter, dan lainnya.
Yang masing masing pos anggaran tersebut akan disandingkan dengan biaya penghabisan pada klaim yang diajukan.

Apabila biaya yang diklaim masuk dalam besaran dana yang dipersiapkan, maka klaim tersebut bisa dibayarkan sepenuhnya.
Apabila biaya yang diklaim melebihi dari besaran dana yang dipersiapkan untuk pos tersebut, maka nasabah akan menggantikan atau membayar selisih yang ada di luar pertanggungan asuransi.
Terkejut ?

Lalu apabila biaya yang diklaim ternyata sama dengan dana yang dipersiapkan untuk pos tersebut, maka biaya akan ditanggung atau dibayarkan sepenuhnya, dengan resiko, apabila pada tahun yang sama, nasabah mengalami keluhan sakit dengan jenis yang sama, maka pada proses rawat inap berikutnya (di tahun yang sama), tidak akan mendapatkan pertanggungan lagi mengingat dana yang disiapkan sudah habis terpakai saat rawat inap yang dijalani sebelumnya.
Bisa dikatakan bahwa dana tersebut meski jumlahnya cukup besar tidak serta merta saling menutupi pengeluaran biaya dari pos yang berbeda.

Jadi jangan heran jika saat kalian mengajukan klaim untuk jenis keluhan yang tergolong kritis, akan ada dana tambahan yang dibayarkan lagi untuk menutupi hal-hal yang tidak ditanggung oleh Prudential.
Cukup Ruwet kan, perhitungannya ?

Kira kira begitu penjelasan untuk Kesalahan Kedua yang dapat saya bagi dalam postingan ini.

Nanti dilanjutkan lagi pada postingan berikutnya.

Hal-hal yang Sebetulnya Perlu diketahui oleh Nasabah Asuransi (bagian 1)

Category : tentang Opini

Melanjutkan postingan saya sebelumnya, terkait Kesalahan Terbesar Pola Pikir Nasabah, dalam kasus ini asuransi Prudential saat melakukan Pembelian Polis Jaminan Kesehatan. Pelan tapi Pasti akan saya coba untuk menyampaikan satu persatu Hal-hal yang Sebetulnya Perlu Diketahui oleh Nasabah Asuransi per Kesalahan tersebut.

Pertama, persoalan ‘bahwa saya tak peduli apa dan bagaimana aturan yang ditetapkan pada Polis Asuransi, yang penting atas dasar kepercayaan pada agency, saya tinggal membayar penuh premi bulanan dan mengajukan klaim saat dibutuhkan. Tentu agenlah orang pertama yang akan saya hubungi dan mintakan tolong mengurusnya ketika hal itu terjadi.
Kalau meminjam istilah di daerah kami, nampi beres gen.

Ini tentu saja Kesalahan Besar menurut saya.

Bahwa seharusnya, atau dengan pemilihan kata yang lebih santun, sebaiknya, Nasabah bisa paham sedari awal, apa saja yang menjadi hak dan detail item perjanjian yang terkandung didalam polis asuransi yang dibeli, sebelum memutuskan untuk melakukan pembayaran premi di bulan pertama. Ini Penting.

Mengingat apa yang akan terjadi saat klaim kesehatan dilakukan, diharapkan tidak menimbulkan kesalahpahaman lebih lanjut, yang mampu menimbulkan potensi pertikaian pada hubungan nasabah dengan agency atau yang lebih parah, nasabah dengan asuransi.
Terpantau isu dan postingan yang muncul di akun sosial media FaceBook tampaknya berawal dari hal-hal sepele begini.

Pahami apa isi Polis Asuransi yang dibeli.Pahami pembagian berapa besaran Premi yang kelak akan dialokasikan untuk Kesehatan, dan berapa yang dialokasikan untuk Investasi, apabila opsi ini yang akan dipilih.
Pahami juga bagaimana detail klaim lebih jauh, seberapa besar nilai manfaat yang akan diterima untuk jenis sakit yang nantinya diderita. Apakah mencakup pula dengan Rawat Jalan ataukah hanya untuk Rawat Inap saja.
Pahami jenis Klaim yang nantinya akan dibayarkan kepada Nasabah.
Karena kalau tidak salah mengerti, untuk kasus Prudential ada dua pola yang saya ketahui yaitu dibayar dengan nilai uang saku harian apabila nasabah sudah memiliki jaminan asuransi lainnya yang menanggung pembayaran kamar rawat inap dan obat seperti misalkan Askes atau kini disebut sebagai BPJS, ataukah pola yang sama dengan BPJS diatas ?
Pahami, Pahami dan Pahami.

Tidak masalah jika kalian sebagai calon Nasabah akan lebih cerewet bertanya tentang banyak hal yang tidak atau belum dipahami sedari awal, ketimbang berdebat saat klaim kesehatan dilakukan. Karena kalian punyak Hak untuk itu.Disamping hasilnya akan mubazir, akal sehat pun biasanya akan dikalahkan oleh emosi karena memiliki keluhan sakit baik pada diri sendiri maupun anggota keluarga yang ditanggung selama ini.Ini saran dari saya loh ya.

Karena apabila saya sebagai agen asuransi, memang kewajiban saya untuk memberikan kejelasan isi polis yang nantinya akan dibeli, namun apabila calon nasabah menyampaikan bahwa yang bersangkutan sudah paham atau bahasa kasarnya tidak terlalu peduli untuk detail dalemannya, ya untuk apa membuang energi menjelaskan lebih jauh ketimbang tidak didengar ?

Namun memang tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga Agen Asuransi yang memang dengan sengaja menutupi hak atau manfaat yang dapat diterima oleh calon nasabah untuk tujuan tertentu. Salah satu diantaranya adalah untuk mendapatkan komisi yang lebih besar dari setiap calon nasabah yang akan direkrut masuk ke perusahaannya.

Mohon masukan dari para Agen ya jika kalian berkeberatan dengan tulisan diatas.
Pula Nasabah baik yang merasa jauh lebih tahu dari apa yang saya ceritakan atau barangkali memiliki pengalaman yang berbeda.
Monggo, kita sama sama Sharing untuk memperjelas posisi Asuransi dalam upayanya menjaga kesehatan masyarakat.

Nanti dilanjutkan lagi pada postingan berikutnya.

Menyegarkan Pikiran

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada kemiripan pola antara suasana hati yang dirasa oleh seorang diabetesi, pegawai negeri dengan tingkat kejenuhan yang tinggi dengan megap megap nya update postingan blog pandebaik.com akhir akhir ini.
Semua bersumber dari pikiran.

Ya, rasanya memang nyaris ndak ada pembaharuan dari rutinitas harian maupun aktifitas yang dilakoni sejauh ini.
Maka bisa jadi, penyegaran pikiran ini sangatlah penting dilakukan.

Ditemani teriakan the Exploited yang menjual album dengan Beat the Bastard bertahun silam, kaki mulai melangkah cepat di trotoar merah pinggiran GOR Lila Bhuana.
Sengaja menyasar panasnya matahari pagi, guna lebih memberi asupan oksigen yang lebih baik hari ini.

Tiga Putaran pun terlampaui. Satu percobaan dimana dari segi jarak tempuh kelihatannya lebih panjang dari Lapangan Puputan yang biasa dilakoni atau Lapangan Lumintang yang baru sekali dua dijajaki.
Banyak kenangan masa lalu yang muncul disini.

Setidaknya tembok pagar yang mengelilingi GOR Ngurah Rai, yang tampak diperbaharui hanyalah sisi barat dan utaranya saja. Sementara sisi timur dan selatan, bagian belakang masih tampak sama dengan apa yang kuingat dua puluh tahunan lalu. Saat jalan ini kulalui dengan langkah santai pulang dan berangkat sekolah ke SMPN 3 di timur sana. Tak banyak yang berubah, bathinku.
Termasuk Tembok GOR yang sudah tampak kusam, rusak meski masih bisa kokoh berdiri. Kelihatannya memang tak ada upaya perawatan lagi sejauh ini.

Aku jadi ingat seorang kawan lama, teman SD. Kalo tidak salah ia siswa pindahan saat menginjak di kelas 5. Namanya Helmi, anak Jakarta. Ia tinggal di bangunan yang tempo hari ditempati Bank Aken, utara jalan Supratman, depan gerbang utara GOR.
Anaknya periang, tapi belakangan aku dengar dia menipu banyak kawan di sekolahnya SMA. Kasian juga…

Melihat asrama polisi Brimob yang kini sedang direnovasi pun memberi ingatan baik dan buruk yang selalu membekas hingga kini.
Baik karena di sisi selatan asrama, kami memiliki kawan saat menginjak kelas 2 SMP, bermana Swi asal Buleleng, yang orang tuanya berdinas di lokasi tersebut. Lalu lalang perwira pun tampak biasa saat itu.
Ingatan Buruk karena dekat situ ada anak anak yang siap ngompasin siapa saja yang kedapatan lewat sendiri, termasuk aku yang saat itu mengorbankan topi diambil oleh salah satu dari mereka gegara tak mau mengikuti ancaman ybs.
Semua masih lekat terbayang.

Tapi ada bagusnya juga.
Bahwa pikiran bisa sedikit disegarkan, minimal selain menambah semangat untuk menjalani hari, terbersit beberapa ide menulis juga tadinya. Tentang banyak hal termasuk keluh kesah ini.

Semoga bisa lebih baik kedepannya.

Kesalahan Terbesar Pola Pikir Nasabah terkait Asuransi

Category : tentang Opini

Sebelum saya bercerita lebih jauh tentang ilmu baru yang saya dapatkan selaku Nasabah Asuransi dalam hal ini Prudential, rasanya saya buka terlebih dahulu Kesalahan Terbesar Pola Pikir Nasabah terkait pembelian Asuransi, utamanya saat mereka di PDKT oleh agen yang biasanya datang dari kawan dekat, saudara atau unsur lainnya yang memiliki kedekatan. Mantan misalnya.

Pertama, bahwa saya tak peduli apa dan bagaimana aturan yang ditetapkan pada Polis Asuransi, yang penting atas dasar kepercayaan pada agency, saya tinggal membayar bulanan dan mengajukan klaim saat dibutuhkan. Tentu agenlah orang pertama yang akan saya hubungi dan mintakan tolong mengurusnya ketika hal itu terjadi.
Kalau meminjam istilah di daerah kami, nampi beres gen.

Kesalahan Kedua, bahwa ketika terjadi klaim kesehatan, seluruh biaya akan ditanggung oleh asuransi. Berapapun besarnya. Apapun jenis keluhan sakit yang diderita.

Kesalahan Ketiga, bahwa ketika saya memutuskan untuk menanamkan investasi dalam Asuransi Kesehatan yang saya beli, besaran uang yang saya terima pada saat jatuh tempo adalah sebesar uang yang dibayarkan, dikali 12 bulan, dikalikan lagi 10 tahun kontrak pembayaran, plus bunga tahunan atau bonus kelebihan dari Asuransi.

Keempat, bahwa Investasi sebagaimana dimaksud diatas dapat ditarik seluruhnya, sewaktu-waktu apabila diperlukan.

Kesalahan Terakhir, bahwa Asuransi hanya akan saya bayarkan sebagaimana kontrak perjanjian selama 10 tahun saja. Sisanya tidak lagi.

Begitu Kura Kura. Menyitir kalimatnya mas Pakar Mantan.

Hmmm… Apa lagi ya ?
Ada yang bisa menambahkan ?

Mempertanyakan Lebih Jauh Polemik Asuransi Prudential untuk Kejelasan Kami, para Nasabah

Category : tentang Opini

Malam ini sepertinya saya secara pribadi mendapat banyak ilmu tambahan dari agen asuransi yang dahulu mengajak Istri bergabung menjadi nasabah Prudential.
Dari hal-hal yang sejak awal kami yakini, beberapa diantaranya dipatahkan dan membuat semuanya makin jelas terbuka.
Rupanya ada fakta-fakta yang tidak atau jika saya boleh ambil sisi positifnya, belum tersampaikan dari agen asuransi yang saya miliki, mengingat saya sebagai seorang calon nasabah terdahulu, tidak mau ambil pusing dengan apa dan bagaimana hak yang didapat ketika memutuskan untuk membeli polis asuransi.

Well, ini sebuah pelajaran berharga saya kira.

Tapi oke, ini sebetulnya berangkat dari berbagai postingan yang diUpload dihalaman sosial pertemanan (yang kini dipenuhi anak alay) FaceBook, dimana menyampaikan keluhan terhadap Asuransi Prudential dari sejumlah nasabah yang rata-rata berkeberatan atas nilai investasi yang dibayarkan selama ini, tidak sesuai dengan harapan atau minimal bayangan yang tertanam di benak masing-masing.
Ini tentu mengusik pemikiran istri yang kemudian disampaikan dan menjadi bahan diskusi kami dalam waktu yang cukup lama.

Asuransi PanDe Baik

Seiring berkembangnya isyu, sayapun mulai mencoba mempelajari Polis Asuransi yang saya beli sejak bulan April 2012 lalu, termasuk ketiga putri kami, dan tentu saja milik istri.
Berbekal pengetahuan ekonomi teknik yang saya dapatkan dari bangku pasca sarjana, saya pun mencoba mengumpulkan bahan diskusi yang kelak akan ditanyakan lebih jauh pada Gathering yang sedianya dilakukan oleh agency Prudential, demi menjelaskan duduk masalah mereka tersebut pada nasabah.
Yang sayangnya, hingga acara dilakukan, baik saya maupun istri tidak dapat hadir di lokasi berhubung satu dan lain hal yang lebih mendesak.

Maka itu, kami mencoba meminta agen asuransi yang kami miliki untuk datang sambil membawakan print out history perkembangan dana asuransi termasuk investasi yang ada didalamnya. Sebagai bahan pendukung diskusi yang kami harap bisa memperjelas semuanya.

Mau tahu seperti apa ?
Ikuti postingan saya selanjutnya

Menikmati sajian Ikan Warung Wan Takur. Enak sih, tapi…

Category : tentang Opini

Mengambil keputusan untuk membangun dan mengelola sebuah rumah eh warung makan, dalam skala kecil sekalipun, hendaknya ya jika bisa yah, musti diseriusi.
Kayaknya sih begitu.

Gak bisa hanya mengandalkan rasa nya saja. Karena soal selera, ya pasti berbeda-beda. Tergantung lidah yang dibawa.
Tapi jaman sekarang sepertinya sih wajib diikuti dengan pemilihan lokasi, perancangan tempat makannya, pula suasana yang dibangun. Disamping soal pemberian nama ya wajib pula musti dipertimbangkan masak-masak.

Bisa ngomong begini ya gegara nonton film Chef dan Burnt kemarin. Hehehe…

Nah, kali ini ceritanya saya lagi nyobain makan sajian ikan di Warung Wan Takur, dekat pertigaan bangsal Kwanji, kearah timur menuju Puspem Badung. Masih dekat kantor, di jam makan siang.
Ini kali kedua saya mampir.

Wan Takur PanDe Baik 8

Secara Nama yang digunakan, jujur aja ndak rekomend banget sebetulnya. Unik sih, tapi menyiratkan hal lain, bukan soal makanan. Namun karena menurut Pak Made Sunarya sang pemilik, sebutan Wan Takur adalah panggilan dirinya dari si anak, dan ini merupakan usaha yang dikembangkan yang bersangkutan, ya memang susah menyangkal. Jadi terima apa adanya.

Secara lokasi, bagi saya ya strategis. Depan sekolah SD, dekat persimpangan dan berada di seputaran Puspem Badung yang mau tidak mau, suka tidak suka memang harus bersaing dengan belasan warung makan lain, yang memiliki nama jauh lebih menarik.
Nah terakhir soal penataan atau perancangan tempat, Warung Wan Takur ini mengingatkan saya pada Bazaar Bale Banjar yang hanya bisa mengandalkan desain wantilan banjar, tanpa hiasan atau halaman sejuk dan ekspose ornamen lainnya.
Bisa dimaklumi lantaran secara luasan memang terbatas, namun soal wantilan, ya hmmm… Agak susah juga kalo mau diubah.
Rangka kap baja ringan yang terbuka, tiang beton tanpa ornamen, dan kesederhanaan suasana, membuat semua jadi serba kurang mendukung.

Memang sih kalo ngomong soal bale banjar, ndak sedikit yang dikenal banyak orang diluaran, mampu menyedot perhatian. Macam Warung Babi Guling banjar Teges Gianyar atau Bu Oka Ubud, pula Sate Kambing banjar Tegal, biarpun penataan gak banget tapi tetep aja dikejar orang. Tapi ini lain kasus loh ya.

Jadi yang tersisa dari persoalan diatas hanyalah soal rasa.
Ya kalo ini sih, selera yang bicara.
Namun kalo boleh saya katakan, enak kok.

Wan Takur PanDe Baik 2

Salah satu yang boleh jadi rekomendasi adalah Sop Ikannya. Mengambil bahan dari ikan tuna, yang diolah tanpa sisik dan tanpa tulang, dibalut basa rajang khas kabupaten Negara, kelahiran sang juru masak, membuatnya nikmat untuk disantap.
Ya lumayanlah kalo boleh dibilang untuk saat ini.
Yang kalo boleh diperbandingkan, serupa sop ikan di depan perumahan puri gading Jimbaran sana.

Disamping itu, ikan gorengnya juga ndak biasa. Bukan seekor, tapi dua potong daging, serupa diatas dengan sambal yang enak juga, ndak terlalu pedas. Setidaknya ini menurut saya pribadi loh ya.

Namun kalo soal Plecing kangkungnya, masih lebih enak warung makan di sisi timur Puspem Badung saya rasa. Begitu juga Dalumannya, masih ada saingan yang lebih baik dekat dekat sini.

Pilihan Menunya ndak banyak. Cuma kalo melihat dari harga, mungkin ndak bisa menyasar pola makan siang harian para PNS Badung yang jatah makannya hanya 25ribu sehari. Tapi kalo sesekali ya bolehlah.

Bagi kalian yang berminat mencoba icip icip masakan Warung Wan Takur, yang kemudian diplesetkan menjadi singkatan dari Takut Rugi, bisa manfaatkan ponsel smartphone-nya dengan menyasar alamat berikut.
http://goo.gl/maps/SmzCnPXJUUr

Berhubung tempat makan ini tergolong baru, berumur sekitaran tiga bulan terakhir, pengunjungnya sih masih bisa dikatakan sepi.
Disamping mungkin ya, disebabkan oleh faktor nama dan penataan tempat sebagaimana gambaran diatas.
Alasan pak Made selaku pemilik ya keterbatasan modal mengakibatkan semua itu dipaksa berjalan dulu. Mencoba keputusan untuk tampil dengan hanya mengandalkan rasa.

Ya sekarang tergantung kalian termasuk saya sebagai konsumen sih ya. Mau sekedar mencoba dulu lalu ndak balik lagi ya terserah. Bukankah pilihan memang ada ditangan pembeli ?
He…

Menunggu GA 412

Category : Cinta, tentang PLeSiran

GA 412 @IndonesiaGaruda jadwal 19.30 WIB akhirnya berangkat sekitar pk. 23.30 WIB. Tiba perkiraan 02.10 Wita dari rencana 22.55 Wita ? 4 jam

Garuda Indonesia PanDe Baik 1

Yup. 4 jam Delay.

Ini kali pertama sepengetahuan saya pengalaman terbang bersama Garuda Indonesia, bisa delay selama itu.
Tapi penundaan penerbangan ini gak sendiri kok. Lion Air, terlepas dari image yang mereka punya, termasuk yang mengalami penundaan sama dengan Garuda. Setidaknya itu yang diungkap bapak sebelah saya berdiri saat memeriksa kembali layar monitor pantauan terbang di terminal Kedatangan Domestik sekitar pukul 01 dini hari tadi.

Informasinya sih penundaan diakibatkan karena perubahan cuaca di tujuan alias Bali. Memang benar, sedari tiba di Bandara Ngurah Rai tadi, angin terasa lebih kencang bertiup, bahkan pepohonan pun bergerak tak biasanya.

Saya belum kebayang bagaimana ekspresi Mirah, putri pertama saya yang ikut dalam penerbangan GA 412 mengingat ini kali pertama pengalamannya terbang di angkasa.

Garuda Indonesia PanDe Baik 0

Capek ya ?
Jelas.

Tapi rasa capek yang ada rasanya langsung hilang begitu istri menghubungi sekitar pukul 02.20 tadi. Masih menunggu bagasi katanya.
Ya sudah… Tinggal pulang aja berarti.

Hmmm… Sepertinya ada yang bakalan terlambat ngantor hari ini.
Hanya dapat tidur selama sejam saja. Itupun ndak nyenyak dan ndak nyaman…

Menunggu

Category : Cinta

Ini kali pertama saya melintasi Tol Bali Mandara di gelapnya malam. Sendirian dalam kendaraan roda empat, cuss meluncur ke Bandara Ngurah Rai untuk menjemput istri dan Mirah, putri pertama kami yang diajak serta liburan di akhir pekan ke Jakarta.
Sementara waktu baru menunjukkan pukul 20.50an. Masih lama dari perkiraan waktu yang dikabarkan. Jadi santai saja selama di perjalanan.

Ternyata ada gunanya juga saya berkeliling sebentar saat mengantar keberangkatan tempo hari. Jadi tahu tempat parkir mobil terdekat yang sekiranya bisa dicapai saat menjemput nanti. Bukan di parkiran kedatangan domestik yang jauhnya minta ampun dari gate keluar, mana musti melewati banyak tempat kuliner bandara pula, tapi di parkiran samping keberangkatan domestik. Malahan kini sengaja berkeliling lagi agar dapat tempat dekat pintu keluar. Biar lebih dekat lagi. Hehehe…
Sudah sempat di survey tadi.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 wita. Saat tulisan ini dibuat pada aplikasi Evernote ponsel Hisense PureShot+, pengganti Samsung Galaxy Note 3 yang rencananya mau dijual via OLX.
Masih sangat lama kelihatannya meski di layar monitor tertera kemungkinan mendarat sekitar pukul 22.55 wita. Sejam lagi. Tapi gak bakalan mungkin.
Karena baru aja istri menelepon, mengatakan bahwa pesawat yang sedianya mereka tumpangi, GA 412 musti delay setengah jam dan diperpanjang, berhubung cuaca di Bali kelihatannya kurang bersahabat.
Memang sih ya, angin di luaran terdengar agak kencang ketimbang biasanya. Malahan sore tadi dirumah sempat hujan sebentar.

Tapi ya ndak apa apa sih.
Jadilah saya Menunggu kini.
Menunggu dua cantik saya hadir kembali mengisi hari yang sempat sepi, dan tertawa lagi bersama dua baby yang lucu dan mungil.
Ndak sabar rasanya.

Sambil menunggu, ndak ada salahnya saya jalan-jalan dulu sambil nongkrong di salah satu gerai kuliner bandara yang rutin jualan kopi instant di manapun mereka berada.

EGP Sejenak menyeberang Laut

Category : tentang KeseHaRian

Saya langsung mewajibkan semua kawan untuk ikut serta saat pimpinan melontarkan ide tangkil ke Pura Agung Blambangan dan Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang akhir pekan ini. Meski tak semua menyambut, minimal sebagian dari mereka menyatakan bersedia ikut. Itupun setelah disampaikan bahwa bisa jadi ini adalah momen perpisahan bagi kami, karena sebentar lagi akan ada reStrukturisasi organisasi tempat kami bekerja.

Maka untuk pertama kalinya dalam jangka waktu lima tahun terakhir, saya pribadi melakoni perjalanan waktu tempuh yang demikian jauh dan lama bersama empat puluhan rekan kantor yang dibagi dalam dua kendaraan bus ukuran besar.
Dibandingkan dengan pesawat ya tentu saja kurang nyaman. Namun kapan lagi kami, khususnya saya bisa melewatkan waktu panjang bersama staf kalo bukan sekarang ? He…
Meski ternyata ndak semua tingkat pimpinan berkenan ikut lantaran faktor penggunaan bus itu tadi. Ealah…

Kami berangkat lebih awal. Malah mengawali dari rekan kantor di dinas lainnya. Semata-mata agar mendapatkan waktu istirahat yang lebih panjang mengingat jauhnya perjalanan yang harus ditempuh.
Nyaris tak ada aral melintang sepanjang jalan yang dilalui. Macet di satu dua titik tidaklah lama untuk dilewati. Lancar, malah terlalu ngebut kalo menurut saya. Hehehe… Sopir busnya tergolong bernyali besar tampaknya.

Tiba tengah malam di Pura Agung Blambangan, bayangan saya agak sedikit meleset berkaitan dengan ganti pakaian yang sudah direncanakan dari rumah. Hanya melipat celana panjang, mengenakan kemben dan udeng plus selendang. Cukup.
Bunga pun saya petik di dalam areal pura agar tak merepotkan kawan lainnya.
Sederhana.

Begitu halnya saat meninggalkan Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang, kami pun jauh mendahului rekan lain untuk menuju destinasi berikutnya.

Cerita perjalanan ya kanggoin lah segitu dulu. Karena inti postingan kali ini sebetulnya sih pengen cerita EGP yang kesampean. Minimal jauh dari gangguan DPRD yang notabene beberapa nomor mereka dengan terpaksa diBlokir sementara, dan pimpinan tampaknya juga paham kalo ikutnya saya dalam keberangkatan kali ini ya hanya sebuah pelarian dari rutinitas kerja yang kerap menjengkelkan. He… Terserah deh kalian mau bilang apa.

Pastinya saya pribadi sangat menikmati perjalanan ini, dengan menyiapkan dua Power Bank bertenaga besar untuk membackup daya ponsel agar nyaman memainkan dua games terakhir yang digandrungi, Criminal Case dan tentu saja Pokemon Go. He… Meski pak Menteri PAN sudah melarang PNS memainkannya saat berdinas. Ya toh, perjalanan ini bukan lagi berdinas kan ya ?

Ada banyak cerita yang didapat. Dari prihatin macamnya pak Mantan lantaran salah satu kawan kami sehari sebelum keberangkatan, terjatuh di tangga dan mengalami patah tulang tangan di lima titik,  trus ada saling balas ejekan melalui pengambilan foto candid yang di share melalui akun group BBM dan Whatsapp atau bahkan perburuan makhluk astral Pokemon Go yang panen dari pelabuhan Gilimanuk hingga jalan menuju dan areal Pura. Ndak heran kalo jumlah ternak yang saya koleksi kini sudah jadi tiga digit awal. Hehehe…

Selainnya itu ya bahan candaan antar rekan kantor yang tampaknya jadi sedikit lebih akrab lantaran merasa senasib dalam bus. Ha…

dan Seperti biasa saat dinas keluar kota, saya pribadi lebih memilih untuk melewatkan malam usai berkeliling seharian dengan pijat tradisional fasilitas hotel ketimbang jalan jalan keluar. Itung itung menyegarkan badan yang kaku setelah seharian duduk di kursi bus untuk bisa kembali beraktifitas esok hari.

Ah ya sudah, cukup segitu aja ceritanya. Lain kali dilanjut lagi kalo ada kesempatan.
Bye…