Bimbang di Persimpangan Jalan

Category : tentang Opini

Hari ini tiba-tiba saya teringat dengan nasehat senior saya, yang sudah resign setahun lalu, meninggalkan tugas sebagai abdi negara dan memilih menjadi warga biasa. Keputusan itu diambil saat ia berada pada posisi yang sama dengan kondisi saya hari ini.

Pikiran saya pun jauh melayang disela kesibukan yang makin terasa selama dua minggu terakhir. Dengan adanya tambahan tugas baru dari pimpinan, jadi makin jauh dari keluarga. Utamanya anak-anak dan ‘me time’. Meski lelahnya belum separah tahun lalu, namun perubahan itu mulai agak mengganggu waktu luang yang biasanya ada.

Saya juga jadi teringat pimpinan yang kini berada di balik jeruji. Hanya karena luput menjalankan tugasnya, ia harus meninggalkan keluarga dan melupakan karir yang telah dibangun selama ini. Sepertinya bantuan hukum yang diharapkan tak jua kunjung tiba di depan mata. Semua terkesan meninggalkannya sendirian saat bersua masalah di tengah jalan.
Saya sendiri belum sempat menjenguknya kembali pasca kehilangan kata-kata Kamis lalu.

Bimbang di persimpangan jalan.
Rasanya jika diperbolehkan memilih, lebih baik memiliki waktu luang yang banyak untuk keluarga dan anak-anak ketimbang disibukkan oleh pekerjaan yang meskipun dijalankan dengan benar saja, masih ada celah salah yang dilihat dan dimanfaatkan orang lain untuk menjatuhkan semua usaha dan pengorbanan yang dilakukan. Apalagi dengan sengaja berbuat salah ?

Namun sepertinya pilihan itu tak akan pernah ada ketika jalan belum mapan terbentang untuk masa depan keluarga. Jalan terus.

Lalu mau bertahan sampai kapan ?

Meluruskan HOAX Info BPJS Kesehatan

Category : tentang Opini

Sekitar pukul 2 siang tadi, salah seorang kawan sesama alumni sekolahan dulu, berinisiatif meneruskan sebuah broadcast yang isinya cukup tendensius menurut pandangan saya. Info tentang BPJS Kesehatan.
Isinya sebagai berikut :

*Info BPJS*

Hati hati yg ga punya BPJS karna thun dpn 2018 akan sulit ut kepengurusan bahkan ga bisa ngurus berkas… Simak…..
INFO UNTUK PESERTA BPJS MANDIRI

1. Sistem pembayaran BPJS mandiri mulai September 2016 1 no virtual account berlaku untuk 1 keluarga (sesuai jumlah anggota keluarga yang tertera pada KK.
? Bila ada anggota keluarga menunggak, maka keluarga akan terkena dampaknya.
?? Peserta diwajibkan membayar BPJS, karena tagihan BPJS dan denda tetap berjalan mesti kartu BPJS tidak aktif. Jadi jangan kaget kalau cek tagihan bisa sampai jutaan. Digunakan atau tidak BPJS, tetap wajib bayar.
??? Jumlah bulan tertunggak maksimal 12 (dua belas) bulan.
???? Besar denda paling tinggi Rp.30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah).
????? Tagihan BPJS akan berhenti jika meninggal dengan SYARAT melaporkan ke BPJS dan melunasi tunggakan jika ada.

2. Perpres RI Nomor 111 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, pasal 6 ayat 1 dinyatakan bahwa, kepesertaan Jaminan Kesehatan BERSIFAT WAJIB dan mencakup seluruh penduduk Indonesia sehingga TIDAK ADA proses penghentian keanggotaan JKN. Peserta HANYA BISA berhenti ketika data kematian atau meninggalnya peserta BPJS dilaporan dan masuk data base BPJS.

3. Sanksi bagi yang tidak memiliki BPJS tidak akan mendapat layanan publik. Lihat Peraturan Presiden no 86 tahun 2013 pasal 9. Layanan publik di maksud meliputi
? SIM
?? STNK
??? Sertifikat tanah
???? paspor
????? IMB
Sanksi akan berlaku 1 JANUARI 2018

Bantulah share postingan ini agar teman dan keluarga kita mengetahui. Terima kasih.

* * *

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan isi secara mendetail, tapi ketika membaca sepintas yang agak menyudutkan BPJS Kesehatan, terlepas dari pro kontra yang ada, saya pun nyeletuk iseng, mengingatkan yang bersangkutan akan sangat mencurigakan apabila info semacam ini dibagikan oleh seorang agen asuransi ternama. Hehehe…
Sambil berbagi cerita tentang perbedaan pemanfaatan asuransi BPJS dengan Non BPJS seperti yang pernah saya share berseri terdahulu disini.

Makin penasaran ketika menelaah satu persatu kalimatnya yang menurut saya pribadi agak aneh juga, kok bisa ya pemerintah bisa berupaya mempersulit masyarakat begini ?
Tapi kalo kalian mau browsing dikit-dikit, mungkin bisa nemu apa dan mengapanya. Misalkan saja dari halaman pasienbpjs.com disini.

Rupanya alasan pemberlakuan 1 virtual akun untuk 1 keluarga (boleh yang mana saja), berangkat dari kesulitan membayar berkali kali bagi mereka yang membayar per satu bulan masing-masing anggota keluarganya.
Keluhan yang manusiawi dan sempat pula terpikirkan oleh saya di awal dulu. Bakalan ribet urusannya kalo bayar satu-satu mah. Inginnya sih bayar sekali untuk semua. dan rupanya sudah terjawab oleh BPJS.
Maksudnya untuk membayar iuran bagi Bapak dan Ibu yang menjadi satu dalam Kartu Keluarga saya, sebelumnya musti dua kali input di ATM, dengan menggunakan 2 nomor virtual akun yang berbeda. Sempat kena komplain orang yang antre di belakang karena saya lama banget berada di dalam bilik ATM. Persoalannya adalah sistem pembayaran kerap gagal saat proses pengiriman. Sudah gitu, karena gak hafal semua nomor va nya, musti liatin layar ponsel bergantian dengan layar atm.
Sempat membathin gitu pas diteriaki orang.
Tapi karena ngeles bahwa Ibu saya gawat darurat di RS karena saya nunggak setahun lebih BPJS, rangorang jadi maklum gitu dan ndak marah lagi.
Aduh maaf yah… tapi sejatinya Ibu pas itu mau kontrol mata gegara katarak, dan gak bisa diambil penanganan karena saya belum bayar.
Belum bayarnya ini terjadi karena saya salah kira, kalau iuran BPJS untuk orang tua bisa potong gaji langsung. Eh ternyata yang bisa potong gaji hanya tanggungan anak dan istri. He…

Balik ke soal Virtual Akun untuk 1 Keluarga, andai saja nunggak 1 bulan, maka saya harus bayar sebesar 80ribu dikalikan 2. Tanpa denda infonya.
Eh iya, soal ndak kena denda akibat terlambat bayar bisa dibaca disini.
Akan tetapi kalo ndak bayar setahun, tinggal dikalikan 12. Sangat wajar juga kalimat ‘Jadi jangan kaget kalau cek tagihan bisa sampai jutaan’
kalo seumpama keluarga yang ikutan BPJS ini bukan berasal dari kalangan pns, dengan tambahan Istri dan tiga anak seperti saya misalkan. Ada 6 orang yang ditanggung sebulannya dengan nilai 480 ribu, BPJS Mandiri kelas I.
Lumayan ya ?
Tapi jika disandingkan dengan iuran Asuransi Non BPJS, angka segitu hanya cukup untuk bayar 1 anggota keluarga saja. He…
dan Angka Jutaan bakalan bisa kalian temukan ketika nunggak BPJSnya hingga hitungan 3 bulan dan seterusnya untuk 6 anggota tertanggung.
Begitu kan ya ?
Coba tadi disandingkan dengan pengeluaran Non BPJS per satu bulannya terlepas dari pertanggungan dan lainnya.

Lanjut kalimat selanjutnya yang ‘Digunakan atau tidak BPJS, tetap wajib bayar.’
Ya Benar sekali. Akan amat sangat tidak berguna apabila kalian dalam tidak dalam kondisi Sakit. Tapi bukankah semua Asuransi termasuk Non BPJS juga begitu ?
Cuma memang ada dalam jangka waktu tertentu sih ya, sementara BPJS kan seumur hidup ?
Yang kalau mau dihitung, pembayaran BPJS sebesar 80ribu sebulan setara dengan seperempat pembayaran Asuransi Non BPJS kategori minimal yang 350ribu. Ini perbandingan kasar loh ya. Dengan nilai pembayaran Asuransi Non BPJS selama 10 Tahun setara pengeluaran Asuransi BPJS selama 40 Tahun. Edan kan ? Itu kalo nilai iuran Asuransi Non BPJS kalian hanya sebesar 350ribu sebulannya. Kalo lebih besar yang tinggal dikalikan.
Ini terlepas dari jenis pertanggungannya masing-masing loh ya.

Soal besaran ‘Denda Paling Tinggi sebesar 30 juta’ sebenarnya ditujukan pada kalian yang menunggak dari angka 30 juta hingga lebih. Sedangkan besaran Denda tertentu kalo ndak salah diluar keterlambatan tadi hanya sebesar 2,5% saja.
Jangan jangan berprasangka bahwa terlambat bayar sebulan juga dikenakan 30 juta. Wealah…

Lalu soal sub kelima pada poin 1, soal ‘Tagihan BPJS akan berhenti jika meninggal dengan SYARAT melaporkan ke BPJS dan melunasi tunggakan jika ada.’
Kalo untuk Asuransi lainnya kira-kira gimana ya ?
Apakah Tagihan akan otomatis berhenti jika nasabah meninggal (selama masa wajib bayar iuran) tanpa ada laporan ke Agen Asuransi ?
Ada yang bisa menjawabnya ?

Lanjut untuk poin yang ke-2, masih melanjutkan soal penghentian keanggotaan JKN akan bisa dilakukan apabila yang bersangkutan mengalami kematian dan dilaporkan.
Kira-kira nih ya, kalo untuk Asuransi lain, tanpa melepas Agen untuk melakukan penagihan door to door, misalkan seperti saya yang Asuransi Non BPJSnya didebet dari Rekening, seumpama tidak ada keluarga yang melaporkan masuk ke data Asuransi tersebut, masih melanjutkan keanggotaan atau otomatis terhenti ?
Mampukah kalian melakukan itu ?
Hmmm… Katrok kali pemikirannya.

Lanjut Poin ke-3, soal Sanksi tidak mendapat layanan publik apabila tidak ikut kepesertaan hingga 1 Januari 2018, mencakup sim dan lainnya berdasarkan peraturan presiden nomor 86 tahun 2013.
Widiiih… ngeri ya ? Mosok Pemerintah sejahat itu ?
Tapi kalau boleh dicermati, sebenarnya yang dimaksud peraturan terkait adalah Peraturan Pemerintah (bukan Presiden), nomor yang sama, tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif kepada Pemberi Kerja selain dst.
Ingat kata kunci ‘Pemberi Kerja’. Jadi yang dimaksudkan disini adalah sekelasnya perusahaan baik kelompok maupun perorangan. Yang apabila mereka tidak memberikan Jaminan Kesehatan pada pekerjanya, sanksi dimaksud akan dikenakan sesuai aturan dan itupun akan diberlakukan sosialisasi hingga 1 Januari 2019.
Tahun 2019 loh ya, bukan Tahun 2018 yang sudah masuk dalam hitungan bulanan.
Yo wes, makin Katrok lah pemikiran kalian kalo mempercayai poin ke-3 ini.
Sudah salah comot, ngarang pula.

Terakhir ada kalimat penutup ‘Bantulah share postingan ini agar teman dan keluarga kita mengetahui. Terima kasih’.
Mulia sekali…

Tapi Katrok banget kalo kalian sampai ikut serta meneruskan informasi broadcast diatas tanpa pernah meluangkan sedikit kuota internet buat baca-baca sumber terpercaya dan akurat yang ada di dunia maya untuk sekedar pembanding, mencari tahu apa benar info yang saya terima ini ?

Berkaca pada status FaceBook komandan kami, Anton Muhajir terkait informasi simpang siur status Gunung Agung 23 September lalu yang bisa dibaca disini, ya ada benarnya juga.
Bahwa sebelum membagikan informasi yang didapat dari orang lain, bahkan dari Mertua sekalipun, cek ricek dulu ke media yang terpercaya. Ndak susah kok, apalagi menghabiskan banyak kuota untuk itu. Meh kuotanya bakalan lebih banyak habis buat share info yang hoax ke banyak group dan halaman sosial media. Eheh…

Jadi balik ke soal ‘meluruskan Info Hoax BPJS Kesehatan, rasanya sudah selesai ya, debat monolognya.
Kalian yang punya pengalaman pahit dengan BPJS ataupun manis sebagaimana halnya yang pernah kami alami, bisa share disini kok. Karena nanti postingan ini bakalan saya share ke rekan-rekan lain juga biar ndak ketularan menyebarkan info Hoax macam begini.

Termasuk info soal status Gunung Agung loh ya…

Eh tapinya jangan lupa untuk melakukan koreksi apabila ada yang salah dari opini saya diatas ya…

Terima Kasih sebelumnya. Tabik…

Kenakalan Anak Sekolah

Category : tentang Opini

Sebetulnya saya enggan kalo ngomongin soal satu ini, karena bukan ahlinya pula bukan orang yang paham akan kondisi lapangan yang sebenarnya.
Akan tetapi ketika mendengar dan mendapat masukan dari yang lain, sempat tergelitik juga untuk mengungkapkannya di halaman ini.
Hanya di halaman ini saja.
Ya anggaplah ini hanya sesi curhatan saya.

Soal kenakalan anak sekolah, jaman menjalaninya ya sekali dua pernah juga melakukan, terlibat didalamnya, menjadi korban, bahkan ketahuan. Namun ketika disandingkan dengan posisi yang dialami putri pertama saya, mirip dengan cerita shitnetron televisi, ya agak geregetan juga jadinya.
Pengen melabrak, tapi kok ya ini anak-anak sekolah SD kelas 4, atau dibiarkan tapi kok ya eman diteruskan tanpa adanya pengawasan dari orang tua.
Jadi ceritanya ingin share dengan para orang tua dulu deh paling aman.

Melihat adanya kenakalan anak sekolah SD kek gini, mengingatkan juga kisah cerita almarhum kakak saat ia masih menjejak masa sekolahnya dulu. Punya kawan baik sesama perempuan, yang kadang menjadi sahabat di kala duka, juga musuh saat berbeda pemikiran. Sementara saya, bisa jadi pernah tapi sepertinya tak separah itu. Mungkin karena kami laki-laki, jadi tak terlalu dalam lah perbedaannya terasa.

Nah balik lagi ke persoalan kenakalan anak sekolah, kalo didiamkan ya lama-lama bikin geregetan juga. Mengingat oknum yang sepertinya ingin berkuasa dan semua teman tunduk padanya ini, mirip dengan karakter antagonis yang diperankan begitu licik dan sinisnya dalam episode shitnetron tadi. Antara pengen ngejambak dan menampar si anak dan ngingetin bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik, atau membalikkan keadaan sesekali agar dia pernah berada di posisi korban. Tapi eh ya ndak boleh seperti itu kan ya ?

Gaduh Group Whatsapp soal Pekerjaan

Category : tentang Opini

Beberapa waktu lalu, ponsel saya sempat ribut menotifikasi puluhan chat yang masuk dari beberapa rekan kerja, baik menanyakan ada apa gerangan yang terjadi di Whatsapp Group dinas yang baru dibuat sebulan terakhir, juga menanggapi apa yang sudah terlewati. Rupanya pasca keluarnya saya dari group tersebut, banyak yang gaduh soal pekerjaan.

Sejak awal sudah diyakinkan, bahwa untuk urusan Whatsapp Group baiknya jangan membuat keterikatan dalam satu tempat apabila pemikiran kita belum satu sejalan. Banyaknya kepala dengan pola pikir dan latar belakang pemahaman yang berbeda biasanya cenderung ribut, apalagi di Whatsapp Group tidak ada intonasi dan nada bicara.
Apa yang dimaksud sesungguhnya oleh orang yang menyampaikan atau menanggapi pendapat bisa jadi berbeda satu sama lain, tergantung pada suasana hati dan kondisi psikis yang membaca.
Kalo sudah bawaannya negatif dan mangkel, sesederhana apapun chat yang dilontarkan, tetap dianggap negatif dan memojokkan.
Itu sebabnya, ketika saya berada dalam situasi tak menyenangkan begini, mending keluar dari group untuk amannya hubungan kerja atau pertemanan.

Gaduh Whatsapp Group soal Pekerjaan

Dalam sebuah group Whatsapp, biasanya ada banyak tipe orang yang bergabung didalamnya. Baik yang hanya senang memantau dalam diam, ada yang senang ngoceh berlebih, ada juga yang sok bijak dengan share broadcast kehidupan dan kesehatan yang belum tentu benar. Demikian halnya ketika group Whatsapp dibuat atas dasar hubungan kerja.
Akan tetapi ketika isi pembicaraan mulai masuk ke persoalan memojokkan, menjatuhkan teman dalam arti sebenarnya ya seharusnya Admin berwenang mengingatkan dan mengeluarkan orang per orang yang terlibat ketika topik sudah semakin tak terkontrol. Jadi ndak sehat pembicaraannya.

Akan tetapi karena sejak awal memang sudah memaklumi akan terjadi begini, berdasar pengalaman bertahun-tahun menggunakan Whatsapp dan tergabung di sejumlah group, baik yang jelas tujuannya maupun hanya sebatas ngalor ngidul, ya sudah menyadari pula berbagai pilihan yang bisa diambil saat berada dalam situasi tak menyenangkan.
Salah satunya adalah keluar dari Group demi kebaikan bersama. Semacam pengecut yang tak berani berdebat.
Itulah yang kerap saya lakukan.
Karena toh itu hanya satu media berbagi di dunia maya yang kini sedang trend digunakan. Sementara kalaupun tidak ikut didalamnya, paling-paling kita hanya tertinggal di informasi seputaran group itu saja. Sementara pertemanan sejati di dunia nyata ya harusnya sih tetap berjalan.
Masalahnya adalah, biasanya apa yang terjadi di dunia nyata bakalan ngikut apa yang terjadi di dunia maya. Musuhan ya musuhan juga di pertemuan langsungnya. Aduh…

Kalo sudah begini ya mau bilang apa ?

Kangen ngeBlog lagi

Category : tentang DiRi SenDiri

Sepertinya saya sudah tiba pada titik nadir dimana semua ide dan juga mood untuk menuliskannya, hilang perlahan digerus waktu. Lelah pikiran bisa jadi penyebab utamanya.
Meski belum berselang lama dari update postingan terakhir, tapi saya Kangen banget bisa ngeBlog lagi.
Bisa nulis banyak lagi dalam sekali waktu.

Dua minggu terakhir rutinitas lebih banyaj dijelali soal pekerjaan yang belum jua tuntas di tengah pergolakan anggaran, seakan tanggung jawab itu dibebankan semua di pundak ini. Padahal sejatinya posisi itu tak lagi diemban hingga akhir tahun ini paling tidak. Namun entah mengapa semua panah masih mengarah saja.

Kesehatan juga jadi kendala. Gangguan pada telinga, gigi dan pergelangan kaki akibat panas knalpot motor masih terasa sakitnya hingga kini. Sementara itu yang namanya gula darah kok ya makin tinggi saja rasanya.
Pertanyaan ‘kok makin kurus’ jadi terdengar wajar kalo ingat kondisi diatas. Apa daya lingkungan seakan tak peduli akan hal itu.

Maka itu saya Kangen banget bisa ngeBlog lagi. Kangen bisa nulis nulis banyak lagi. Menumpahkan semua pemikiran dari keluhan, impian, gaya hidup hingga hal hal kecil yang berkaitan dengan keluarga.
Apa ini efek samping dari membuka kembali lembaran FaceBook beberapa waktu lalu ?

Satu Satu

Category : tentang Opini

Orang-orang lalu lalang datang dan pergi.
Ada kesedihan dan juga kegembiraan yang hadir di dalamnya.
Aku hanya bisa melihat dan yakin, bahwa kelak akan melewati satu masa itu. Entah meninggalkan, atau ditinggalkan.

Tak ada yang tahu, kapan Ia akan memanggilmu pulang.
Tak ada yang tahu juga, kapan Ia akan memanggil orang yang kau sayangi untuk pulang.
Kita semua hanya bisa menunggu waktu dan giliran, tak pasti kapan.

Jika yang pergi adalah kesayangan keluarga, kehampaan akan hinggap untuk jangka yang lama.
Jika yang pergi adalah tulang punggung keluarga, kepedihan akan berlangsung sangat lama.
Namun Jika yang pergi, bukanlah siapa-siapa, yakin tak akan ada yang pernah pedulikan.
dan semua yang pergi, satu saat pasti kan kembali. Entah dalam lingkaran yang mana.

Satu persatu orang-orang yang kukenal dekat, sudah mendahului.
dan Aku hanya bisa berharap, tak pernah melihat orang yang kusayangi mendahului lebih awal.
Semoga kami berada dalam masa dimana menyayangi dan mencintai keluarga, bisa lebih lama.

Kelelahan itu Tuntas Jua Akhirnya

Category : tentang Opini

Delapan Bulan…

Ya, delapan bulan. Perlu waktu delapan bulan untuk bisa menyelesaikan ini semua. Untuk satu pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.
Rasanya Plong sejauh ini. Entah bagaimana nanti.
Yang penting semua usaha dan upaya sudah membuahkan hasil.

Tidak disangka ini bisa terjadi.
Kelelahan yang pada akhirnya saya lepas dan pasrahkan pada-Nya, hari ini selesai juga.
Padahal sudah sempat kehilangan semangat dan cenderung membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Mengingat perjuangan rasanya sia-sia saja dilakukan.

Hanya karena keinginan untuk menyelamatkan diri masing-masing, dan mengabaikan pengorbanan orang lain, kelelahan ini makin menjadi seiring perubahan orang dan perubahan posisi. Semua mencoba buang badan. Meski sakit, tapi harus tetap dijalani. Karena ini buah dari perjuangan akhir di tahun kemarin.

Rasa syukur pun dipanjatkan pada-Nya. Ucapan Terima Kasih disampaikan pada semua pihak yang telah membantu. Tak kenal lelah.
Kini tinggal melunasi hutang pada yang pernah ikut terlibat didalamnya.

Mengingat Whistle Blower, jadi Saksi Kunci, serius ?

1

Category : tentang Opini

Sesaat ketika mengetahui adanya fitur Whistle Blower di aplikasi LPSE, Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik beberapa tahun yang lalu, istilah yang saat itu menjadi Trend atas kasus apa gitu, saya lupa, maaf… sempat terpikirkan ‘seberapa beranikah kalian mencoba menerapkannya atas penyimpangan-penyimpangan yang kelak ataupun sudah terjadi pada birokrasi negeri ini ?’
Karena kalau melihat dari sisi positif atau reward yang diberikan, saya meyakini tak seberapa positifnya jika dibandingkan tekanan atau teror yang berpotensi diakibatkan karenanya, terutama apabila adanya ketidaksengajaan atau bisa jadi kesengajaan kebocoran informasi yang terjadi selama proses tersebut berlangsung.

Berselang sekian tahun, apa yang menjadi pertanyaan tadi, terjawab sudah.

Johannes Marliem, Saksi Kunci KPK atas kasus e-KTP yang kabarnya bakalan menjerat banyak pihak, tewas di Los Angeles Amerika. Ditengarai akibat bunuh diri, yang kalo secara logika pribadi, masih banyak kejanggalan didalamnya. Entahlah…

Ditambah teori konspirasi sebagaimana film epik JFK (1991), saya kok jadi semakin yakin, tentang kekhawatiran, seberapa kuatnya kita akan menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi ketika memilih tampil ke depan podium mendeklarasikan sebagai Abdi Negara yang Baik ?

Itulah yang terjadi pada sosok PakDe Jokowi, Presiden Indonesia keTujuh, dibully habis ketika sudah berupaya bekerja dengan benar, masih tetap Salah di mata banyak orang, atau Pak Ahok yang akhirnya terpeleset ucapan dan dipenjara, serta terbaru, Johannes Marliem yang tak mampu berbuat banyak, tewas mengenaskan.

Pada akhirnya, saya sendiri hanya bisa menuangkannya dalam sebuah status di akun sosial media FaceBook yang selama ini saya hindari.
‘Kematian Saksi Kunci KPK kasus e-KTP, Johannes Marliem di LA, menguatkan Pertanyaan yang selama ini bersliweran di Kepala.’
“Seberapa Kuat dan Seberapa Berani kah kalian menjadi seorang Saksi Kunci atau mungkin Whistle Blower pada kasus-kasus yang terjadi di Birokrasi negeri ini ?”

    Sambil menenggelamkan semua harapan dan keinginan yang sejak awal begitu menggebu, serta memilih jalan diam meski tak sesuai dengan hati nurani. Namun setidaknya ini merupakan keputusan terbaik bagi Keluarga nantinya.