Intermezzo 212

Category : tentang KeseHaRian

Minggu ini keknya saya bener-bener berada pada puncak kesibukan kerja. Sampe-sampe sudah ndak sempat untuk ngeblog lagi. Menelantarkan halaman ini untuk semingguan lamanya.

Pertama, musti fokus di proposal Inovasi Pelayanan Publik, yang jujur aja pas liat draft penyusunannya lebih mirip Skripsi ketimbang bahan presentasi. Panjangnya edan. Sekitar 5800 kata. Satu tulisan blog ini saja keknya ndak nyampe seperlimanya. Musti bener-bener fokus buat merangkai kalimat yang berulang di semua sub bab yang ada. Pusing juga cari waktu buat konsentrasinya.

Kedua, terkait pengajuan dana DAK Perumahan. Menghabiskan dua hari kerja untuk menyusun anggaran biaya dan kronologis pengusulannya, sementara saat semua selesai, pimpinan tertinggi malah memberi penjelasan bahwa yang diperintahkan pada pimpinan saya tidak lah sejauh itu. Ealah…
Tapi bersyukur bisa melewatinya meski saya harus meninggalkan pe er yang sebetulnya sedari awal dibebankan kepada saya.

Ketiga, terkait Kotaku. Ini kelanjutan dari program kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan yang malih rupa menjadi Kota Tanpa Kumuh dimana hari minggu lalu, saya ditugaskan untuk memberikan pembekalan pada Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara berkaitan Teknis pemeliharaan sarana dan prasarana yang telah selesai dibangun, dari sudut pandang Pemda. Berhubung sebelumnya ndak pernah jadi narasumber, terpaksa deh belajar dadakan dari dokumen O&P dan menumpahkannya menjadi slide presentasi versi lite. Syukur semua bisa dilewati.

Keempat, ada gagasan Newsletter dari Askot Kotaku yang kemarin sempat diutakatik biar tampil lebih elegan mengingat ini membawa nama Badung, dicoba desain ulang pake Microsoft Publisher, hasilnya dicetak dan disebarkan saat agenda terkait Kotaku hari selasa kemarin. Gimana menurut kalian ?
Dan yang edisi #2, masih mengambil desain layout yang sama, namun dengan topik yang berbeda. Sementara itu dulu, nanti yang edisi berikutnya, bulan depan diubah lagi.

pandebaik-newsletter-kotaku

Lanjut soal paket Jalan Lingkungan di anggaran Perubahan, cukup menyita waktu mengingat usulan dan waktu sudah sangatlah mefet untuk dikerjakan. Untung aja kawan kawan di ruangan masih semangat mengerjakan. Sementara saya rasanya dah sulit sekali mencari waktu luang untuk membahasnya satu persatu.

Lain lagi soal paket Jalan Lingkungan yang sedang dibahas untuk anggaran Induk tahun depan. Kami mendapatkan porsi sebesar 235 Milyar sejauh ini. Yang terbesar selama Empat Tahun eh masih Tiga sih ya, berada di Permukiman. Bakalan tambah ruwet penanganannya keknya. Dan minimal minggu ini sudah harus didelegasikan ke masing-masing rekanan Perencanaan untuk ditindaklanjuti…

Lalu ada agenda pembahasan Kontrak Payung pengadaan material paving melalui jalur e-Katalog nya LKPP. wiiihhh… Ini beneran ndak kebayang sama sekali kek apa nantinya. Beneran masih meraba raba semua hal. dan kelihatannya saya memang harus banyak belajar lagi.

Banyak kerjaan, tapi minim refreshingnya. Kebetulan siy lagi bosan untuk nyebrang pulau atau naik pesawat lagi. Pengen tiduran lama… Bareng anak-anak dan Istri tapinya. Hehehe…

Mengagumi Analisa mas Alifurrahman, si @Pakar_Mantan

Category : tentang Opini

Di tengah kegalauan memantau perkembangan demo 4 November tempo hari yang katanya merupakan wujud penyampaian aspirasi umat Islam pasca tuduhan penistaan agama oleh pak Gubernur DKI, namun berbelok arah menjadi upaya penggulingan pemerintah terpilih, tampaknya akun akun sosial media yang saya miliki belum mampu memberikan ketenangan saat membacanya satu persatu. Pun demikian halnya dengan agenda turun ke jalan kembali 25 November mendatang.

Jika di akun Facebook (dengan identitas gamer) informasi yang disebarkan tampak sama alaynya dengan pidato pak mantan presiden dan pula cenderung provokatif, di akun Twitter informasi yang ada cenderung teduh dan akurat. Meski demikian, saya pribadi tak mampu memahami makna di balik itu semua sehingga saya membutuhkan masukan tambahan dari akun si Pakar Mantan, mas Alif dan kawan kawan lewat halaman berbagi milik bersama di seword.com.

Alifurrahman Ashyari, demikian nama akun Facebook yang bersangkutan, meski infonya menyandang nama aseli Alan Budiman. Bisa jadi semacam nama pena atau nama keren macam saya punya ini.
Tiap kali mas Alif menuliskan analisanya terkait kelakuan para mantan, secara otomatis di share pula ke akun Twitter yang bersangkutan. Memudahkan para pembacanya mencari tahu hal apa yang bisa dinikmati setiap harinya.

Ada banyak hal yang diulas, namun belakangan lebih fokus pada Ahok dan aksi menuntut mundur yang bersangkutan hingga pak Presiden Jokowi oleh sebagian umat yang katanya beragama. Terkadang ada juga topik-topik yang diselipkan diantara tulisan tersebut yang sekiranya patut mendapatkan perhatian lebih dari yang lain. Soal Intan Olivia misalkan.

Kalimat dan analisanya menggelitik, tajam, dan setelah lama dimunculkan, disandingkan dengan perkembangan yang ada, rata-rata cukup akurat juga jika dicerna dengan akal sehat.
Istilah yang digunakannya pun terbaca unik.
‘begitulah kura-kura’ bisa dikatakan selalu menghias di akhir Analisa. Memberi ciri khas pada tulisan yang bersangkutan untuk membedakannya dengan rekan sejawat.
Begitupula ‘pakar titik titik’, ‘sesapian’ dan lainnya. Memberi warna dalam setiap tulisannya.

Kalian pernah membacanya ?

Duka untuk Intan Olivia, Doa untuk Alvaro Sinaga

Category : tentang Buah Hati

Hati rasanya remuk saat membaca berita tentang Intan Olivia Marbun, gadis kecil usia 2,5 tahun yang akhirnya dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan di RS AW Sjahranie akibat luka bakar di sekujur tubuh pasca lemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan, Minggu 13 November lalu. Pelantun Kingkong badannya besar tapi kakinya pendek inipun mengharubirukan sejumlah netizen di dunia maya senin pagi kemarin.

Belum reda duka yang menghantam, mendapat kabar bahwa Alvaro Sinaga teman bermain Intan (alm) kini sedang dalam perawatan intensif dan akan segera dioperasi. Ia pun mengalami luka bakar, bersama dua kawan lainnya, meski tak separah apa yang dialami Intan.

Jika kalian masih punya hati, dan sedikit rasa kemanusiaan, berikanlah doa pada mereka.

Anak-anak tak seharusnya menjadi korban kebencian atas nama agama.

Untuk kalian, anak-anakku. Intan Olivia Banjarnahor (2,5 tahun), Anita Kristobel Sihotang (2 tahun), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4 tahun), dan Triniti Hutahaya (3 tahun). Salam sayang dari kami.

Cerita Iseng tentang Jenggot

Category : tentang DiRi SenDiri

ah, sesungguhnya postingan yang satu ini bisa dikatakan gak penting… soale lagi pengen cerita ngalor ngidul macem ‘Intermezzo’ tempo hari. Cuma aja topik kali ini soal Jenglot. Eh Jenggot maksute.
Jadi kalo pas dikasi halaman ini oleh mbah Google, baiknya dibalikin lagi ke halaman sebelumnya, biar kuota gak habis banyak. Hehehe…

Jenggot.
Bagi kami orang Bali, memelihara Jenggot (saja) kemungkinan besar bakalan dianggap aneh. Memiripkan diri dengan nyame braye Muslim, semeton Dauh Tukad.
Sementara orang kami lebih suka memelihara kumis (saja) untuk memberikan kesan wajah lebih tampan dan dewasa. Meski ada juga yang lengkap, dari kumis, jenggot hingga kales di pipi itu. Memberi kesan berwibawa.
Sementara Jenglot ? Eh Jenggot ?
Ehm… Care nak Jawe. Ape buin misi bibih camed, makin meyakinkan awake nak Jawe. Keto anake ngorahang…

Yang jelas, ndak ada misi khusus sebetulnya saya miara Jenggot.
Bukan terkait demo Bela Agama tanggal 4 November kemarin, bukan jua terkait perayaan Idul Adha.
Hanya Iseng.
Pengen tau apakah wajah ini masih bisa tampak seram apabila dikombinasi dengan kaca mata item minus yang kerap dipake buat gaya di jalan itu.
Sepintas, ndak ada yang percaya kalo semua itu hanya tambalan wajah semata.

pande-baik-jenggot-an

Jenggot makin lama tampak makin lebat dan panjang. Mirip mas Ahmad Dhani yang kemarin orasi sambil nyebut hewan piaraannya. Meski secara istri ya masih setia sama satu yang pertama. Cuma secara Jenggot setelah dikira kira, diamati berkali kali kok ya mirip ?
Jadi khawatir juga lama lama. Kena gep.

Tapi ada juga loh kerabat yang demen dengan aksi saya berjenggot ini. Katanya jadi kelihatan lebih macho, berhubung wajah aseli saya tanpa hiasan jenggot memperlihatkan lemah lembutnya hati si pemilik. Ndak nyambung dengan badan saya yang menjulang.

Aksi memelihara jenggot sudah berlangsung beberapa kali sejauh ini. Bahkan di IDcard kantor, wajah yang terekam adalah wajah berjenggot masa masih berdinas di LPSE dulu. Tahun lalu saat berkesempatan melawat ke Thai juga sama. Sampe-sampe sempat dicurigai saat pemeriksaan imigrasi setempat, berhubung saat itu lagi ramai pengebom berjenggot.

at last, malam ini saya memutuskan untuk mencukur habis hiasan dagu bersih tuntas, toh rata rata banyak kawan sudah melihatnya, dari memuji hingga mencandai. Misi isengnya dah tercapai, numpang tenar lewat jenggot.
Jadi setelah ini kalopun bertemu saya di jalan, mbok ya jangan pangling lagi. Apalagi manggil saya dengan sapaan Koh, lantaran secara perwajahan lebih mirip chinesse saat bersih begini.

Memang nasib. Hehehe…

Perang Sudah Dimulai

1

Category : tentang Opini

Satu persatu akun pertemanan di sosial media kembali menampakkan wajah aslinya. Jika selama ini selalu terbuai oleh sejumlah pencitraan palsu yang ingin dibangun dengan tujuan menambah follower atau pengikut, kini kian jelas terlihat mereka ada di posisi mana.
Entah dengan klaim terpanggil karena hati nurani, bisa juga ya sekedar mencari makan di tengah sulitnya persaingan yang ada.

Timeline mulai dipenuhi ajakan dan paparan ayat ayat suci yang sesungguhnya tak relevan bila dikaitkan dengan ajang pilkada. Apalagi Indonesia adalah negara demokrasi.
Ya, topik ini lagi membicarakan Pilkada DKI Jakarta yang oleh sebagian orang disebut sebagai Pilpres edisi 2.
Kehebohannya, black campaign nya, fitnah yang mengesampingkan akal sehat, permainan tafsir kitab suci dan ribut antar kawan lama, ah itu sudah biasa.

Tidak ada kawan ataupun lawan abadi dalam politik. Yang ada hanyalah Kepentingan.
dan semua dibalut dalam bahasa ‘demi kepentingan rakyat’.
Partai yang dahulunya bergabung di seberang, kini mulai merapat dan meninggalkan kesepakatan yang pernah dibanggakan.
dan mereka yang dahulu bahu membahu bersatu melawan fitnah, kini memilih berpisah dan melancarkan fitnah yang sama untuk sang mantan kawan.
Yah… Begitulah…

Hanya yang sangat disayangkan bahwa ada, orang-orang yang dulunya pernah menjadi idola banyak kalangan, kini dijauhi hanya karena politik kepentingan tadi.
Pura buta dan Pura tuli, ikut arus mengadu domba masyarakat, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Perang sudah dimulai.
Tinggal kalian, inginnya berdiri dimana.

Saya cukup pindah ke Bigo aja sementara waktu.

’64 Persen PNS Kemampuannya hanya Juru Ketik ?’

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Video yang diunggah oleh akun Instagram @punapibali rabu malam (26/10) kemarin, sempat menggelitik pikiran saya sedari awal menontonnya. Bagaimana tidak ?

Bahwa dari 4,7 Juta, 64 persen PNS kemampuannya hanya Juru Ketik ?

Emejing…

Dan kalimat berikut yang tampil adalah ‘dengan kemampuan terbatas itu… mereka bingung mengerjakan apa di kantor…’

Sangat Emejing…
Tapi kenapa baru nyadar sekarang ya ?
Padahal kalo menurut pandangan saya pribadi, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Dari jaman saya berstatus baru jadi PNS, semua pertanyaan itu sudah berkeliaran di kepala.
‘Serius nih, kemampuan kawan-kawan seruangan hanya segini ?’
Sementara saya masih ingat, seminggu sebelum diminta ngantor pertama kali, saya sudah menyiapkan diri untuk tidak gugup bekerja sebagai abdi negara. Jika saja Blog dan Sosial Media sudah menjadi Trend saat itu, saya yakin status atau postingan keresahan saya sebelum menghadapi hari jadi tersebut akan bisa dibaca kembali hari ini.
Ya, saya kecele…
Ini terjadi gegara saya terbiasa bekerja disiplin dengan orang di sejumlah perusahaan konsultan lepas materi kuliah hingga dinyatakan diterima sebagai PNS tahun 2003 lalu.

Owh enggak. Tulisan ini bukan untuk membangga-banggakan bagaimana perjalanan saya menjadi seorang PNS yang saya sendiri meyakini, tidak masuk dalam prosentase 64 diatas. Meskipun jika boleh dikatakan, kemampuan saya sejauh ini pun masih sangat terbatas, jika disandingkan dengan sejumlah kawan yang kini kerap saya ajak berinteraksi di komunitas ataupun sosial media.
Saya akui kok.

pns-pande-baik

Tapi apa yang disampaikan oleh Menpan RB Asman Abnur itu memang benar adanya.

Katakanlah di posisi saya saat ini.
Memiliki sejumlah staf yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, seperempatnya bisa dikatakan ya memang secara kemampuan hanya juru ketik. Tidak mampu menganalisa, membuat konsep surat ataupun notulen rapat sekalipun, bahkan seperempatnya lagi tidak bisa mengetik.
Emejing kan ?

Sementara saat saya masuk ke ruangan besar di pojokan barat lantai dua gedung lama, sebagian diantara kami seingat saya malah punya rutinitas membaca koran pagi, membolakbalikkan semua halaman hingga siang, lalu ngeloyor entah kemana. Dan itu fakta.
Maka ya ndak heran kalo diantara kami yang dijejali berbagai macam pekerjaan, tugas dan lainnya oleh pimpinan, sempat merasakan bahwa ‘mereka yang berusaha rajin bekerja ya akan terus diberikan pekerjaan, sementara yang malas ya dibiarkan. Tidak ada upaya meningkatkan kompetensi atau kemampuan, baik dari atasan apalagi dari dirinya sendiri… Nyaris tidak ada Sanksi atau ancaman pemecatan karena secara aturan terkait disiplin pegawai ya memang tergolong masih longgar.’

Akan tetapi belajar dari pengalaman semenjak jadi PNS, membuat saya selalu berupaya untuk memanage mereka yang terpantau memiliki keterbatasan kemampuan sebagaimana cerita diatas.
Meski tak sempurna, minimal staf yang saya miliki tak sampai duduk diam dari pagi hingga sore, apalagi sampai berhari-hari.
Untuk mereka yang tak mampu mengoperasikan komputer, saya berikan tugas pengawasan lapangan secara rutin, dan melaporkan hal-hal yang sekiranya dianggap penting atau tidak dapat diselesaikan permasalahannya dilapangan melalui akun BBM atau Whatsapp, ada juga yang ditugaskan untuk pencatatan administrasi manual yang hingga kini masih digunakan dalam alur kerja birokrasi. Sementara bagi mereka yang kemampuannya hanya sebatas juru ketik, saya tinggal memberikan konsep dokumen, menugaskan mereka bekerja dan selalu melakukan koreksi saat selesai dikerjakan.
Agak repot sih sebenarnya.

‘ada PNS jago gosok batu akik tapi tak bisa ngetik…’ kata Pak Ahok, masih dalam video yang sama.
Ya memang ndak heran, sebagaimana yang seringkali saya ungkapkan dalam postingan blog terkait kinerja kami, para PNS yang posisinya diidam-idamkan banyak orang.
Justru itu baru satu tipe yang spesifik.
Jika saja kalian menyadari ada banyak ragam tipe PNS di luar itu, mungkin ndak hanya caci maki yang saya dapatkan secara pribadi hanya lantaran kalian mengeneralisir bahwa keberadaan kami sama semua.
Dari tipe yang ngulik rumus matematika ‘Togel’, baca koran seharian tadi, omong doang tapi ndak mau bantuin kerja, hingga calo perijinan. Dan ada juga tipe yang nyambi jualan, entah kain kebaya, cincin hingga ponsel kawe. Ah, itu mah biasa.
Hanya saja memang tak terlihat secara kasat mata saat kalian mengunjungi kami ke ruangan. Percaya deh.

‘Dia (Menpan) mengakui Kompetensi PNS masih rendah…’

Ya begitulah adanya.
Dan saya lihat, itu lebih banyak menjangkiti mereka yang kini sudah berusia 40-an tahun keatas, dimana sudah mulai merasakan bahwa otak tak mampu lagi mengimbangi kemajuan teknologi yang kini makin berkembang. Tapi kalo sebatas urusan nge-FaceBook atau nonton YouTube ya masih diupayakan lah.
Hei, ini fakta Kawan.

Tapi ya… kenapa nyadarnya baru sekarang ?

Pilgub rasa Pilpres, Bali ?

Category : tentang Opini

Istilah diatas kalo ndak salah dilontarkan pak BeYe, presiden Indonesia yang 2 kali dipilih rakyat, saat menemani sang putra, om AHY yang diusung tiga atau empat parpol ya ? Maju sebagai Cagub di DKI menantang sang petahana Ahok, di sela aktifitas mereka bersama media.
Dan memang bisa ditebak, alur yang berjalan padahal masa kampanye belum jua dimulai sangat mirip dengan Pilpres tempo hari. Ramai dengan dua topik utama, SARA dan Asal Bukan Ahok.

Saya yang sedari awal sudah geli dengan pencalonan om AHY yang menurut pengamatan (eh sejak kapan jadi Pengamat ?) penuh dengan pencitraan, mirip sang Pepo, makin tambah geli pas nonton rekaman Mata Najwa di halaman YouTube yang sempat mengundang om AHY berbicara banyak terkait aksinya sebulan terakhir.

Kenapa jadi tambah geli ya karena jawaban yang diberikan demi menanggapi pertanyaan menohok mbak Najwa, mirip mirip dan mengingatkan saya pada mbak Angel siapa gitu, yang kalo ndak salah pernah jadi mantannya Bang Rhoma, mencalonkan diri di Pileg beberapa tahun lalu.
Normatif, tertutup dan blunder.
Lebih memberikan kesan ketidaksiapan yang bersangkutan untuk mencoba maju menjadi pejabat publik.

Tapi terlepas dari hal yang tidak bisa dikatakan saat ditanyai mbak Najwa, jujur saja saya salut dengan om AHY, yang begitu pintar berbahasa dan mengolah kata serta kalimat di depan kamera dan ditonton sekian banyak mata.
Saya yakin, jika saja saya yang berada di kursi tersebut, nggak bakalan deh keluar satupun kalimat cerdas macam om AHY. Gugup duluan. Kelihatan bedanya. Hehehe…

Tapi kok ya saya yang berdomisili di Bali malah ikut-ikutan meramaikan PilGub DKI sih ?
Ya mungkin saja karena merasa patah arang dengan agenda PilGub Bali yang hingga kini kalo ndak salah kelihatannya masih gabeng dan tak seheboh DKI. entah karena para bakal calon yang masih berkategori L4 – Loe Lagi Loe Lagi, nyaris ndak ada terobosan nyata dan baru yang bisa dirasakan masyarakat secara langsung. Ini menurut saya loh ya.
Apalagi yang namanya Reklamasi Benoa rasa-rasanya sih ndak bakalan dihentikan prosesnya jika mereka-mereka ini yang naik, jadi ndak heran kalo fokus masyarakat termasuk saya ndak ada peduli dengan PilGub Bali.

Kapan ya PilGub Bali bisa rasa PilPres macam DKI itu ?

Lagi Pengen Apa Coba ?

Category : tentang Opini

Belanja online terakhir kalo ndak salah sekitar sebulan lalu. Itupun yang dibeli cuma Slime, beragam jenis untuk si sulung Mirah.
Awalnya dia pengen jualan Slime dengan cara membuat sendiri. Tapi setelah direcokin tips jualan lewat belanja online, akhirnya yang bersangkutan setuju. Maka diboronglah 5 item slime berbeda jenis dengan maksimum pembelian awal, selembar uang merah.

Beda lagi dengan keperluan pribadi. Belanja online terakhir sekitaran dua bulan lalu. Yang dibeli jam tangan KW, yang kalo dilirik kawan sejawat pasti dikira berharga jutaan, padahal cuma cepek. Hehehe… Mereknya beragam. Dari Fossil, Rip Curl sampe Tissot. Sengaja nyari yang Analog tanpa chrono, biar lebih meyakinkan tampilannya. Selain itu, dengan harga cepek biasanya siy chrono yang ada hanya sekedar hiasan, ndak fungsi. Malu dong kalo sampe ketahuan.

Begitu juga dengan jasa layanan GoJek. Kalo ndak salah ingat, yah hitungan bulan gitu deh. Beli bungkusan Ayam Prambanan untuk anak anak lembur di kantor bareng Konsultan. Terkait Usulan apa gitu waktu itu. Selebihnya dah gak lagi.

Alhasil, icon aplikasi Tokopedia yang dulunya rajin diakses, kini dah mulai masuk kotak. Sefolder dengan Lazada, OLX dan GoJek tadi. Jarang dimanfaatin belakangan ini.

Jenuh sih kayaknya akhir-akhir ini. Ndak mood buat berperilaku konsumtif lagi. Atau bisa jadi lantaran cekak isi dompet, jadi ngelesnya kejauhan.

Kalo boleh sharing sih, yang rajin diakses belakangan cuma akun Twitter yang kini mulai rame dengan urusan PilGub DKI, dan Instagram. Selebihnya ya buka games si kucing Tom yang dulu suka dimainin si bungsu Ara, dan Paradise Island tanpa ngotot ngototan lagi. Pake strategi. Hahaha…

Makanya sempat bingung juga, ini hari mau pengen nyoba apa lagi ya ?

Intermezzo 26 September

1

Category : tentang Opini

Rasa mual itu datang lagi.
Dan pundak, punggung dan semua sisi belakang badan ini kembali merasakan nyeri.
Padahal baru sehari rutinitas ini dilakoni sejak pagi.
Semua keluhan hadir lengkap dengan pegal linu dan meriang.
Entah apa yang terjadi.

Aku yakin semua sakit ini ada karena pikiran.
Yap.
Bisa jadi ini pertanda stress.
Pertama kali dalam tiga tahun terakhir berada di Cipta Karya, melakoni jabatan sebagai Kepala Seksi Permukiman dan ditugaskan sebagai PPK Pejabat Pembuat Komitmen, yang dulu dikenal dengan istilah PimPro.

Tahun ini menjadi spesial. Karena sekurangnya ada 90an paket yang dipegang, dan dalam waktu satu minggu kedepan akan berkembang jadi 100an lebih.
Entah apa yang bisa kupikirkan untuk menjalani itu semua.

Diabetes sudah kucoba abaikan.
Meskipun akibat yang akan menghantui sungguh sangat menakutkan.
Tapi apa mau dikata jika pimpinan tak berkenan memberi pengganti untuk semua aktifitas yang dilakoni.

Hanya bisa pasrah.
Dan mengeluh di blog ini.

Karena memang, hanya ini yang mampu dilakukan.

Tempat kerja ini tak lagi nyaman untuk dinikmati.