Scoop dan Penyesuaian Kurs Dollar Google

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Tadinya cuma iseng, pengen nyenengin ortu dengan berlangganan Intisari, kesayangan Beliau sejak masa muda dulu, di aplikasi Scoop. Gegara aplikasi S-Lime bawaan Samsung Tab A 2016 10 inchi, ndak memberikan keleluasaan pengunduhan terhadap buku yang sama, padahal di perangkat Samsung A9 Pro yang saya pegang nyaris semua sajian bisa dinikmati.

Langkah pertama tentu membeli Google Voucher di Indomaret Gatsu, kamis dini hari. Lalu input di perangkat baru gres milik ortu dan bersiap hunting Intisari yang bisa dibeli seharga 15.000 IDR per edisinya. Saat pembayaran dilakukan, Scoop memberikan opsi pilihan berlangganan 6 bulan kedepan, dihitung tambahan ppn 10% sehingga total yang harus dibayarkan adalah 99.000 IDR.
Namun berkali-kali mencoba sebelum deal pembayaran, opsi perubahan muncul pemotongan 129.000 IDR untuk pilihan diatas.
Lantaran bingung dan penasaran, maka diambilah keputusan Pembelian.

Ternyata benar, top up Google Voucher yang diisi sebesar 150.000 IDR hanya menyisakan nominal 21.000 IDR. Lalu untuk apa perbedaan pemotongan nilai yang selisihnya mencapai 22.000 IDR tadi ?

Saya mencoba menanyakan hal ini melalui alamat email customercare Scoop sesuai petunjuk yang ada, mendapati alasan bahwa pemotongan diatas adalah untuk pembayaran Intisari 7 Edisi, dengan rincian 1 Edisi yang diunduh, dan 6 Edisi yang rencananya bakalan berlangganan mulai bulan depan. Yang kalo ditotal sebenarnya berjumlah 105.000 IDR tanpa ppn 10%, atau 115.500 IDR dengan ppn untuk 7 Edisi, atau 114.000 IDR untuk ppn 6 Edisi berlangganan dan 1 Edisi unduhan.

Lalu kenapa dipotong sebesar 129.000 IDR ? Apakah itu terkait opsi Premium Scoop yang bisa dipilih kategorinya ? Ternyata tidak.
Memang benar untuk pembelian Intisari 7 Edisi, 1 Edisi Unduhan dan persiapan 6 Edisi berlangganan berikutnya. Lalu cara hitungnya bagaimana ?

Info dari Customer Carenya sih, perbedaan pemotongan terjadi akibat penyesuaian Kurs Dollar yang dilakukan oleh Google. Masalahnya adalah penyesuaian yang mana ?
Apakah nilai 99.000 IDR untuk berlangganan Intisari 6 Edisi kedepan menjadi 129.000 IDR kah yang dimaksudkan ? Atau pembelian 7 Edisi diatas tadi ?

Yang paling memungkinkan adalah sebenarnya pembelian Intisari 2 Edisi dan paket berlangganan Intisari 6 Edisi plus ppn 10%, dimana angka 30.000 IDR ditambah 99.000 IDR menjadikannya lebih masuk akal. Cuma masalahnya, Intisari yang diunduh atau dibeli itu baru 1 Edisi saja. Makanya jadi mentah lagi.

Seakan tak percaya dengan alasan pembelian buku di media Scoop ini menyesuaikan kurs dollar Google, saya kembali melakukan pembelian majalah T-Plus yang juga senilai 15.000 IDR, yang ternyata hanya terpotong dengan nilai yang sama tanpa ada tambahan ppn.
Lalu penyesuaian tadi berlakunya dimana ?

Tapi yah, terlepas dari Nilai pembelian yang hanya sebesar 1 lembar uang merah dan 1 lembar uang hijau, ini pelajaran berharga dari Scoop. Bahwa sebenarnya tinggal menunggu lampu hijau dari aplikasi S-Lime miliknya Samsung saja untuk bisa mengakses Intisari secara gratis, free tanpa pembelian lagi ataupun pengenaan ppn 10%.
Memang ndak seberapa, tapi kalo dikalikan ratusan pengguna lainnya ? Lumayan juga yang terkumpul dari situ.

dan untuk Scoop ?
Ini kali terakhir saya bertransaksi.
Mungkin ada yang mengalami hal serupa ?

Berkenalan dengan Scoop demi Menumbuhkan Minat Baca di Layar Ponsel

3

Category : tentang iLMu tamBahan

Stupid Idea…
Berlangganan Scoop Premium ini memang nyebelin. Selain bikin habis waktu buat baca puluhan koleksinya, juga bikin habis internal memory buat unduh buku/majalah berKualitas…
Sudah begitu, bikin habis batere ponsel dan bikin habis kuota internet.
Asyeeem tenan…

Geregetan…
Bayangin, hanya dengan 89ribu sebulan, Scoop menawarkan opsi baca “All You Can Read”. Ini mirip mentraktir habis orang gendut yang suka makan meski kekenyangan ya tetep nambah. Edan memang aplikasi satu ini.
Tapi ya ini baru satu kategori yang saya coba, belum jua kelar sedari awal aksi. Bagaimana kalo penasaran nyoba kategori lainnya ?

Scoop, awas jangan kepleset dengan merek motor ya, merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk pasar perangkat pintar, bisa diunduh secara gratis dan menyediakan ribuan koleksi buku utamanya terbitan Gramedia, dengan cara pembelian per item atau berlangganan bulanan.

Tadinya sih hanya karena penasaran pengen baca tabloid ponsel macam Sinyal yang infonya kini terbit kembali dalam bentuk majalah, berhubung S-Lime gak lagi menyediakan, apa daya nemunya malah Gudang Buku macam nongkrong di Taman Baca Kesiman kemarin.
Dasarnya memang suka baca ya seperti dapat harta karun gitu deh. Mirip buk ibuk kalo lagi belanja tas dan kebaya di jualan online.
Kesetanan…

Tapi ya wajar, Scoop menawarkan fitur Premium yang salah satunya bertajuk “All You Can Read” tadi. Efek sampingnya ya gitu.
Habis waktu buat scroll scroll layar buat nyari buku yang asyik buat dibaca, Habis Memory Internal buat nyimpen arsipnya, Habis daya batere karena mau ndak mau ya menatap layar ponsel terus menerus, dan terakhir ya Habis Kuota. Kalo ini sih bisa diakali pake Kuota Malam. He…

Kalian ndak tertarik ?

Menikmati Kemewahan Uber Black

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang TeKnoLoGi

“Ada Harga Tentu Ada Rupa…”

Kurang lebih begitu yang saya rasakan ketika mencoba Uber Black semalam, pulang dari Kementrian PU PERA, menerapkan saran pimpinan yang tidak puas atas pelayanan salah satu Driver UberX sesaat kami tiba di Bandara Cengkareng Rabu malam lalu.
Saran ini dilontarkan ketika usai membaca halaman web resmi Uber, dengan harapan semakin berkelas kendaraannya, biasanya sih baik pengemudi maupun kondisi kendaraannya bisa jauh lebih nyaman.
Masuk Akal…

Fortuner Putih hadir menjemput saya sesaat setelah keluar dari pintu masuk Kementrian PU PERA, pengemudinya bernama Erlangga. Kalo nda salah ingat. Interior kendaraan besutan Toyota ini tampak nyaman dan bersih, meski dipenuhi dengan Gadget dan perlengkapannya. Gaya Anak Muda.
Pembawaannya tenang, dan ketika di sapa, obrolan kami mulai mengalir hangat.

Saya sendiri enggan bertanya tentang hal pribadi yang bersangkutan. Hanya soal Uber, kenapa Uber dipilih, dan bagaimana Uber digunakan.
Ini semacam membaca petunjuk penggunaan yang dibahasakan dengan gaya bicara mudah dipahami, dengan topik yang bisa dipilih secara acak.

Ada banyak hal baru yang kemudian bisa saya ketahui dengan menumpang kendaraan mewah yang mas Erlangga miliki. Utamanya terkait Teknis Uber dari sudut pandang Driver, juga kisi-kisi kecil dari sudut pandang Rider.
Saya sendiri baru tahu bahwa rating bintang yang tersemat pada Driver, yang diberikan oleh Rider, rupanya berlaku pula sebaliknya. Jika semakin rendah rating bintang seorang Driver menandakan kurangnya pelayanan yang ia berikan pada Rider, rendahnya rating bintang seorang Rider bisa jadi merupakan cerminan diri yang mungkin agak cerewet atau bermasalah.
Namun ada kemungkinan pemberian rating bintang pada Rider merupakan aksi balas dendam Driver yang diberi rating bintang terbatas usai perjalanan. Ceritanya ya Balas Dendam.
Hehehe…

Mencoba pemesanan Uber Black sebagai salah satu bentuk harapan pada sebuah kenyamanan, kelihatannya belum mampu dilakukan pesaingnya sendiri yaitu Grab.
Karena pada opsi aplikasi yang saya pantau tadi sore, keknya belum tersedia pilihan Grab Car dengan kelas yang lebih tinggi secara terpisah.
Bisa jadi ya satu keberuntungan saja apabila bisa menemukan Grab Car dengan model menengah ke atas.

Hal serupa juga saya pantau di aplikasi Blue Bird Taksi yang kini sudah merambah pengguna Android. Padahal rasa-rasanya sekitar dua tiga tahun lalu saya masih sempat mencoba Silver Bird pasca tugas dinas, namun kini tak bisa ditemukan di pasar aplikasi milik Google. Padahal model ini adalah pilihan menengah ke atasnya Blue Bird group kalo nda salah.

Balik ke topik, usai merasakan kenyamanan Uber Black dari Kementrian PU PERA ke Harris Tebet melalui Toyota Fortuner Putih milik mas Erlangga, saya hanya dikenai biaya sekitar 107 ribuan saja yang rupanya dibayar lunas oleh Credit yang semalam dikembalikan oleh Uber pasca melaporkan komplain pengemudi yang tak sesuai profil aplikasi dan cara mengemudi yang membahayakan itu.
Ya kaget juga sih.
Rupanya Aplikasi Uber secara default mengatur penggunaan Credit ataupun dana yang tersimpan pada aplikasi sebagai pembayaran perjalanan, yang bisa dinonaktifkan apabila pengguna ingin menyimpannya belakangan.

Bagaimana pendapat kalian ?

Uber atau Grab ?

1

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang TeKnoLoGi

“Kalo Bapak pake Grab, masuk mobil, ponsel disimpen, trus Tidur…
Nah kalo pake Uber, masuk mobil, ambil ponsel, trus Buka GPS…”

Anekdot macam gitu disampaikan oleh mas Deddy, driver Grab yang saya coba di pengalaman pertama kemarin, meluncur ke Bandara Cengkareng dari Harris Hotel dimana menginap selama di Jakarta.
Unik dan Lucu.
Tapi apa iya ?

Uber, menurut driver Fortuner yang ditumpangi semalam, ketika Rider mengajukan pemesanan, driver tidak dinfo lebih lanjut terkait rute tujuan dan tarif yang nantinya akan dibayarkan.
Hal ini berbeda dengan Grab yang sejak awal pemesanan, si driver bisa melihat kedua informasi tersebut sebelum mengambil penumpang dan mengantarkannya.

Tapi sebelum lanjut, diantara kalian ada yang belum tau Uber atau Grab ?

Keduanya merupakan alternatif transportasi yang dapat dimanfaatkan melalui aplikasi online pada ponsel calon pengguna, dan belakangan (utamanya di Bali) masih menjadi perdebatan terkait boleh tidaknya mereka beroperasi karena dianggap mengancam kelangsungan hidup para pekerja jasa taksi konvensional.
Istilah Driver untuk mereka yang berstatus pengemudi Uber ataupun Grab, dan Rider untuk pengguna atau penumpangnya.
Gitu siy keknya…

Lanjut ke topik terkait,
Berhubung dalam aplikasi Uber tidak tertera biaya perjalanan secara pasti (hanya perkiraan awal yang kalo nda salah muncul di layar ponsel calon pengguna), yang dibayarkan biasanya akan berbeda bergantung dari rute jalan yang akan dilalui nantinya.
Sebaliknya, Grab yang sejak awal sudah menyepakati biaya perjalanan yang terpampang jelas pada layar ponsel di kedua pihak, mau tidak mau memaksa Driver untuk memilih jalur jalan tercepat ke lokasi tujuan demi menghemat pengeluaran bahan bakar.
Jadi masuk akal kan ya ?

Yang bikin makin Unik, disadari atau tidak, meski kedua Driver menyatakan kedua moda transportasi online ini memiliki perhitungan tarif yang nyaris sama, secara saya pada akhirnya meyakini bahwa benar adanya, memanfaatkan Grab jauh lebih irit ketimbang Uber, baik secara perhitungan dalam memilih jalur perjalanan tadi ataupun biaya total yang nantinya akan dibayarkan, sesuai perkiraan informasi di awal pemesanan.
Gak percaya ?

Dalam percobaan pertama hari ini, saya mendapati biaya perjalanan Grab dari Harris Hotel Tebet menuju Bandara Cengkareng pada pukul 12 siang tadi adalah sebesar 99ribu. dan itu disetujui oleh mas Deddy, driver kendaraan Datsun Go yang langsung memberikan banyak pengalaman baru dalam aksi tersebut.
Sementara Uber yang dalam hal ini saya coba ambil informasi di dua jenis kendaraan, yaitu UberX untuk kendaraan miniVan macam Avanza, Xenia atau Mobilio dikenai perkiraan sekitar 205ribuan, sementara Uber Black dengan kendaraan paling minim berupa Innova (kemarin malam saya beruntung mendapatkan Fortuner) memberi perkiraan biaya sekitar 320ribuan. Mahal ya ?

Seandainya saja dari perkiraan awal sudah sedemikian besarnya ? Bagaimana jika dalam perjalanan Driver Uber mengambil jalan memutar terlebih dahulu mengingat secara Rider macam saya yang tak paham rute, bisa jadi menyebabkan tambahan pada biaya awal tadi ?
Sedang Grab ?
Owh, sudah nda ada nego lagi. Mau dibawa kemanapun oleh Driver, tetep segitu. Hehehe…

Bener gak ya, pemikiran diatas ?
Kalian yang sudah pernah mencoba atau membandingkan keduanya, boleh sharing pengalaman disini.

Uber Harusnya Bisa Lebih Selektif Pilih Driver

1

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Baru kemarin share cerita ‘Berkendara dengan Uber’ eh kok ya malam pas tiba di bandara Cengkareng malah kena batunya.

Agak kaget juga sebenarnya pas ambil Uber begitu tiba di Terminal Kedatangan. Kami diminta meluncur ke Terminal Keberangkatan yang jaraknya cukup jauh dari lokasi. Sudah begitu jadi makin was was pas baca peringatan yang dijaga dua aparat bahwa ‘tidak boleh menaikkan penumpang atau barang di terminal keberangkatan’,
aduh… ini bagaimana ceritanya ?

Jadi lebih kaget pas masuk kendaraan, menemukan pengemudi rupanya nda sama dengan profil driver yang tampak pada aplikasi.
Yang ini penampakannya sudah tua, ubanan semua, batuk kronis dengan sendawa secara berkala pasca batuk atau meludah sembarangan. Keknya secara personal lebih pantas jadi kakek yang sudah sewajarnya beristirahat disela tawa cucu-cucunya.
Tapi mungkin karena ini Jakarta, dimana kejamnya melebihi Ibu Tiri ya bisa jadi wajar, bathin saya.

Terbiasa dengan pelayanan Uber di Bali yang tertuang dalam postingan sebelumnya, terhapus tuntas gegara cara pengemudi driver yang ajrut-ajrutan. Mengandalkan gigi 2 dan 3 untuk melaju di jalanan tol Cawang. Aduh… parah.

Tapi mungkin Beliau ini diutus jadi Driver Uber saya kali kelima di jalanan Jakarta, tentu ada maksudnya. Untuk mendekatkan saya pada Tuhan dalam doa, setiap waktu ?
Jujur, baru kali ini merasa bego, menyerahkan nyawa sendiri kepada orang yang salah.
Yang meskipun bisa tiba di tujuan, lamanya minta ampun mengingat yang bersangkutan keknya mengalami persoalan dalam penglihatan, nda pasti dalam mengambil arah dan jalur jalan.
Ini Jakarta, bukan Denpasar.

Harusnya Uber bisa lebih selektif lagi dalam memilih Driver saat perekrutan. Terlepas kelak akan tergerus Bintang dan Review Rider, tetep aja agak nyesel memilih Driver satu ini.
Yang pada akhirnya, suka tidak suka hanya tiga bintang saja yang saya berikan. Mengingat setiba di tujuan, malah mabuk dan mual.
Edan bener…

dan Masih lebih mending ketika bertemu Pengemudi Uber pagi ini, yang secara komunikasi musti menggunakan suara yang keras plus tambahan isyarat tangan, rupanya ndak kenal jalanan menuju lokasi kegiatan.
Syukur pimpinan jauh lebih ingat dan hafal, jadi ya nda hanya mengandalkan Google Maps aja cem pengalaman kemarin.

Yah, ini hanya sharing pengalaman aja loh ya…
Semoga saja berguna

Berkendara dengan Uber

3

Category : tentang Opini, tentang TeKnoLoGi

Ini bukan kali pertama saya mencoba peruntungan berkendara dengan Uber.
Kalo nda salah sekitar empat kali.

Pertama dari Bandara, pulang kerumah.
Pengalamannya agak terburu karena si Driver agak khawatir mengambil penumpang di Bandara lantaran isu pemukulan masih santer saat itu. Saya sendiri iseng mencoba eh la ya dapet. He…

Pengalaman Kedua, masih sama. Dari Bandara, pulang kerumah.
Kena biaya kurang lebih sama. Cuma driver satu ini lebih berani ngetem di bandara. Entah karena yang bersangkutan masih anggota ormas lokal dilihat dari cincin yang tersemat di jemarinya, atau apa. He…

Pengalaman Ketiga, pas kerja lembur sampe sore di kantor, masih sama tujuannya. Pulang kerumah.
Perjalanan santai mengingat lokasi pengambilan tergolong aman.

dan Pengalaman terakhir ya baru aja. Dari Rumah menuju Bandara. Kebetulan dapat drivernya masih orang Bali dari Sanur. Umurnya sepantaran pula. Jadi masih bisa nyambung obrolannya.

Ada banyak pengetahuan baru yang bisa saya dapatkan dari aksi Berkendara dengan Uber.
Soal perseteruan taksi online dengan konvensional. Bagaimana kisah dan pengalaman mereka dikejar-kejar, atau trik agar tak sampai ketahuan pengemudi taksi lokal maupun bandara. Bagaimana cerita yang dulunya pengangguran jadi banyak tertolong berkat Uber minimal kini ada penghasilannya. Atau soal jalan alternatif ketika menemukan Tol dalam posisi macet luar binasa di pintu masuk. Memberikan banyak ide untuk saya menuliskannya lebih jauh di halaman blog ini.

Menarik sebenarnya, mengingat secara pengeluaran biaya transportasi, berkat adanya Uber, masyarakat termasuk saya jadi lebih irit. Bayangkan aja kalo pake Taksi Bandara. Bisa kena 160an ribu minimal sampe 250 ribu untuk rute pulang. Sementara menggunakan Uber hanya kena 60an ribu saja. Serius…
Ya banyak faktor sih yang menyebabkan begitu.

Cuma jaman sudah online begini, mau nda mau ya memang kita harus siap untuk bersaing dan menyesuaikan diri. Kek kata orang, jangan sampe tergerus jaman ketika kita nda mampu mengikuti perkembangan.
Uber hanya satu dari sekian kemudahan dunia online yang ada saat ini. Masih ada banyak alternatif lainnya.

Kamu salah satu pemanfaatnya ?

5 Jenis Vacuum Cleaner Yang Perlu Anda Ketahui

Category : tentang iLMu tamBahan

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan vacuum cleaner bukan? Vacuum cleaner merupakan alat penghisap debu yang biasa digunakan untuk membersihkan karpet, sela-sela jendela, interior mobil dan lainnya. Memang belum semua keluarga atau rumah memiliki vacuum cleaner, namun karena pemakaiannya yang praktis, vacuum cleaner saat ini mulai banyak diminati apalagi bagi para ibu muda dan pasangan yang baru menikah.

Bagi kalian yang ingin membeli vacuum cleaner, pasti masih bingung untuk menentukan jenis vacuum cleaner apa yang cocok untuk dipakai dirumah. Banyaknya jenis vacuum cleaner memang terkadang membuat beberapa orang bingung dengan fungsinya sendiri, oleh karena itu berikut ini berbagai jenis vacuum cleaner yang perlu kalian ketahui sebelum membeli jenis yang cocok untuk dipakai.

1. Upright
Vacuum cleaner dengan jenis upright ini biasa digunakan untuk membersihkan karpet. Karena semua bagiannya menyatu dimulai dari penghisap yang ada di bagian bawah dan menempel dengan lantai, hingga bagian penyaring yang menyatu dengan pegangan tangan. Vacuum cleaner jenis ini cocok dipakai di ruangan yang tidak terlalu banyak barang, karena designnya yang lebih minimalis dan memiliki corong lebar di bagian bawahnya.

2. Drum
Berbeda dengan jenis upright, vacuum cleaner drum memiliki design yang lebih fleksibel. Vacuum cleaner dengan jenis ini memiliki pipa panjang sehingga mempermudah kalian untk menjangkau bagian yang sempit dan kecil. Selain itu tempat penyaringannya pun terpisah tidak seperti jenis upright.

3. Hand held
Vacuum cleaner jenis ini banyak digunakan untuk membersihkan mobil. Karena designnya yang mudah digengam serta dibawa kemana saja saat hendak membersihkan kendaraan. Selain itu vacuum cleaner jenis ini juga dapat menjangkau ke daerah yang sulit dijangkau seperti sudut ruangan atau sudut kecil di dalam kendaraan anda.

4. Canister
Jenis ini adalah yang paling banyak digunakan oleh ibu rumah tangga, bentuknya yang mirip dengan vacuum cleaner jenis drum banyak dipakai oleh para ibu rumah tangga karena mudah menjangkau sudut yang sulit. Selain itu vacuum cleaner ini juga sangat fleksibel untuk digunakan.

5. Robotic
Canggihnya teknologi yang ada juga memacu beberapa vendor vacuum cleaner untuk membuat vacuum cleaner jenis robot. Cara kerjanya sendiri hampir 90% di control menggunakan remote control, namun memang belum banyak yang menggunakan jenis ini dikarenakan harganya yang terbilang cukup mahal.

Bagaimana, apa anda sudah menentukan jenis vacuum cleaner apa yang cocok untuk dipakai? Untuk lebih memudahkan lagi anda juga bisa lihat berbagai macam jenis vacuum cleaner di sini http://www.mataharimall.com/p-661/penghisap-debu. Tentunya akan ada banyak penawaran menarik di akhir tahun ini.
Selamat berbelanja.

Mengurus Perpanjangan SIM ? Mending pake Calo atau Siap Mental Lahir Bathin #3

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Dari 30 soal yang disajikan pada layar sentuh monitor besar didepan mata, faktanya hanya 18 saja yang mampu saya jawab dengan Benar.
‘Kurang 3 lagi Pak, syarat minimalnya…’
Ungkap bapak petugas yang melakukan verifikasi peserta ujian pengajuan SIM baru di dekat pintu sisi utara gedung lantai 2, paling selatan area Poltabes.
Yang artinya ?
Ya Ndak Lulus tentu saja.
Anjrit…

Tapi saya masih lebih mending.
Sejawat yang saya ajak ujian Teori bareng, yang memang menjalaninya tanpa bantuan Calo, hasilnya jauh lebih buruk. Bahkan Istri hanya 7 soal saja yang bisa dijawab dengan Benar.
Mau tau kenapa ?

Karena…

Karena… hehehe…

Karena rata-rata soal yang ditanyakan pada proses Ujian Teori, sebagian besar berasal dari Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang…

Tentang apa hayooo…

Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Kalian pernah baca ndak ?
Kalo ndak pernah, ya saya jamin deh, seandainya hari ini berhadapan dengan Test tulis Teori Pengajuan SIM Baru, bakalan bernasib sama dengan saya dan puluhan peserta lainnya.
Ndak bakalan Lulus.

SIM A PanDe Baik 5

Kecuali kalo mau pake Calo.

Kenapa untuk yang mau pake Calo dijamin lulus ?
Karena saat si Peserta melakukan ujian, ada pendampingan (he… macam BPKP saja ada pendampingan) dari si Calo yang akan memandu dalam menjawab soal.
Saya baru paham ketika beberapa orang berbaju hijau aparat menemani satu dua peserta dengan sabar. Inginnya menjiplak, apa daya soal yang diberikan untuk masing-masing Peserta Pengajuan SIM Baru yang melalui jalur Online, kelihatannya diacak. Bisa tau setelah melirik bahan soal tetangga sebelah yang ternyata sama-sama mengajukan pembaharuan SIM A.
Kapok dah…

Balik ke Soal Ujian, kira-kira kalo ditanya soal Emisi Gas Buang, kalian tau apa hayooo ?
Atau besaran desibel klakson minimal dan maksimal ?
Atau persyaratan keamanan kendaraan dan pendukungnya ?

Awalnya saya pikir, kisaran soal bakalan diberikan pada kasus per kasus yang kerap terjadi atau di temui di jalanan. Soal Rambu, etika, cara berkendara, dan lainnya.
Jika melihat pada faktanya, entah apakah soal-soal semacam ini bakalan dirilis pada Ujian Praktek atau malah ndak keluar sama sekali.

Namun saya bisa memaklumi apabila rupa Soal yang ditanyakan lebih bersifat Teoritis Undang Undang, lantaran bisa jadi agar si pemohon SIM Baru utamanya mereka yang berasal dari Usia Muda yang rentan pada aksi kebut kebutan, trek dan ugal ugalan, sedikitnya bisa lebih mampu memahami Aturannya sebelum bertindak di jalan raya.
Teorinya yah.
Akan tetapi kalo yang bersangkutan mengajukan permohonan melalui Calo atau bahkan kalo sampe ada yang tinggal Foto doang, saya kira ya akan sama saja hasilnya.
Maka itu Haruskah semuanya dipersulit apabila Praktek Calo masih ada dan diminati ?
Jangan tutup mata dan tutup telinga deh dengan fakta lapangan ini.

Nah berhubung saya statusnya ndak lulus Ujian Tulis, maka sesuai jadwal yang telah ditetapkan, saya musti balik lagi tanggal 22 Juni nanti.
Sebenarnya masih kepikiran mencoba dengan jalur lain alias memanfaatkan Calo yang kalo bisa tinggal foto doang. Cuma ndak tau bisa nemu atau enggak. Termasuk opsi SIM Keliling yang informasinya masih boleh dilakukan Perpanjangan selama masa berlaku SIM belum lewat 3 Bulan.
Doakan ya biar bisa salah satu diantara 2 opsi alternatif diatas.

Dan terkait pengalaman yang dituangkan dalam 3 tulisan terakhir, kalo mood menulisnya masih ada, mau saya tambahkan satu postingan lagi soal masukan bagi Bapak Ibu pejabat di Poltabes dalam kaitan proses pengajuan SIM Baru. Cuma masih bingung mau ditembuskan kemana. Karena saya pantau, di akun Twitter ndak ada tuh yang resmi milik mereka.
Atau ada saran dari Kalian ?