…dan kamipun terkesima Ogoh-Ogoh se-Kota Denpasar

13

Category : tentang Opini

Terjebak ditengah kemacetan lalu lintas Catur Muka lantaran ingin menyaksikan secara langsung satu persatu Ogoh-Ogoh yang mendapatkan juara per kecamatan sekota Denpasar bersama si kecil MiRah dan ibunya, membuat peluh bercucuran serta tangan mulai pegal menahan kopling dan gas. Keramaian hari ini memang lain dari biasanya.

Puluhan, ratusan bahkan ribuan kamera berusaha mengabadikan satu persatu barisan para raksasa yang terpampang ditepi jalan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dari kamera beragam ponsel hingga digital kamera beragam tipe lalu lalang dari satu ogoh-ogoh ke lainnya. Dari yang berjalan kaki, diatas sepeda motor hingga dari dalam mobil, penuh sesak di ruas jalan yang hanya setengahnya saja dapat digunakan.

Barisan Raksasa yang dibuat dalam kurun waktu kurang lebih sebulan sebelumnya tampak gagah dengan warna warni rupa dan keangkerannya, tergambar begitu jelas dari raut muka dan tingkah laku yang ada. Mulai dari kisah pewayangan, Mahabrata dan Ramayana hingga yang menyindir perilaku manusia seperti kegemarannya mengurik togel, dari yang bertemakan sosial dengan suntikan anti rabies hingga penokohan kartun Ipin & Upin berusaha ditampilkan oleh para Arsitek didaerahnya masing-masing.

Keluwesan hasil visual dipadu dengan ide konstruksi yang makin membuat kami terkesima, membuat keyakinan itu tumbuh bahwa benar mereka pantas menyandang gelar juara pada Lomba Ogoh-Ogoh yang diadakan oleh Pemerintah Kota Denpasar  tahun ini. Rata-rata hanya bergantung pada satu konstruksi pokok yang menalangi sekian banyak sosok diatasnya. Ada yang beruba pecut (cemeti), tongkat, tumpuan salah satu kaki, kain hingga wayang, mencerminkan betapa kokohnya pondasi dasar yang digunakan.

Memang harus diakui bahwa wajar ada pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil atau nilai penjurian yang telah dilakukan minggu sebelumnya, karena rata-rata ogoh-ogoh yang ada benar-benar mengagumkan, menakjubkan dan membanggakan. Bahwa ternyata Kota Denpasar menyimpan banyak Arsitek mumpuni dibidang seni dan terbukti mampu mewujudkannya dalam satu hasil karya apik, tidak hanya sebatas teori saja.

Menyusuri satu persatu jalanan Kota Denpasar pasca terlepas dari kemacetan yang terjadi, makin membuat kami terkagum-kagum. Entah berapa juta biaya yang telah dihabiskan untuk merancang dan mewujudkan sekian banyak ogoh-ogoh di seantero Kota Denpasar, dari yang sebesar raksasa hingga sekecil mungil buatan anak-anak, dari yang asal jadi hingga yang mencerminkan keakuratan desain dan pemikiran banyak kepala, membuat harapan kami membuncah, semoga saja setelah Lomba ini usai, tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk dan menodai kesucian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932 esok hari…

Sambil menanti perhelatan Lomba nanti malam, dari Pusat Kota Denpasar, PanDe Baik beserta Keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932…

Celuluk yang Tercecer

4

Category : tentang KeseHaRian

oo-tainsiat.jpg

Ternyata desain saja tak cukup untuk membuat satu ogoh-ogoh yang mampu mengundang decak kagum sedari awal hingga akhir pengarakan. Apalagi kabarnya kmaren ada satu mantan Presiden Negara ini yang turut serta menyaksikan pawai ogoh-ogoh ini dari tribun yang disediakan.

Tak kalah penting, satu hal yang mungkin diabaikan oleh para perancang sekaligus pembuatnya, Konstruksi.Satu hal yang sangat vital apabila ingin membuat satu desain (lihat foto) yang tidak simetris dilihat dari sisi samping. Ini pula yang menyebabkan akhirnya sang Celeluk pun harus tumbang setengah perjalanan sebelum tiba kembali di banjar asalnya.

Sangat disayangkan, mengingat dari segi desain dan penampilan akhir, nyatanya patut diacungi jempol. Mengabaikan konstruksi sama saja dengan menghancurkan segala ketekunan yang diselesaikan dalam waktu singkat tersebut.

Memang menjadi komentator usai kerobohan ogoh-ogoh ini sangat tidak mengenakkan, namun mungkin bisa jadi satu masukan bahwasanya selain visual, harus pula kokoh secara strukturnya. Wah, ini sih cara bicaranya udah menjurus ke ilmu Manajemen Konstruksi. Hehe…

Tapi itu memang benar. Karena kebanyakan para seniman termasuk seorang Arsitek, sangat jarang dalam mendesain suatu bentuk akan memperhitungkan bagaimana cara perwujudan strukturnya agar desain itu dapat terwujud.

Maka dari pengalaman kerja tempo hari, ada arogansi seorang desainer Jepang yang ngotot bahwa di negaranya mampu mengaplikasikan dua buah tiang kayu, dan desain villa dari kayu pula, dengan jarak bentang 25 meter.Walopun disanggah, tapi dianya tetep ngotot.

‘We can built in my Country’. Gitu katanya.Halah…

Raksasa di Kegelapan

Category : tentang KeseHaRian

oo-9-pawai.jpg

Ogoh-ogoh STT Banjar Tainsiat : the Last Minute

14

Category : tentang KeseHaRian

oo-2-tainsiat.jpg

Seperti yang sudah terbayang dalam benak sebelumnya, akan penyelesaian ogoh-ogoh yang dibuat oleh Sekaa Teruna Teruni Banjar Tainsiat ‘Yowana Saka Bhuwana’, bakalan dikebut sedari pagi pada hari Pengerupukan menjelang.

Ogoh-ogoh dibuatdengan payudara (maaf) yang menggelantung, pantat yang sangat nungging dan seakan ringkih. Uniknya, entah kelupaan ato memang disengaja, vulgarnya bagian pantat dilihat dari arah belakang, dipenuhi oleh bulu2 yang berwarna hitam.

Hehe… masih gadis rupanya.

Namun menjelang siang, nyatanya ogoh-ogoh yang dibuat dalam waktu singkat ini dapat selesai dengan baik, dan memang tidak seperti Celuluk biasa, pakaian yang dipakai bukan berwarna hitam putih merah, melainkan hanya kemben putih diatas lutut.

Sungguh, salut diucapkan kepada sang Arsitek ogoh-ogoh yang hingga hari ini makin terbukti mampu menghasilkan buah karya terbaik dalam sejarah STT Banjar Tainsiat ini.

Ogoh-ogoh : Besar itu…

11

Category : tentang KeseHaRian

oo-6-tainsiat-2007.jpg

Setelah setahun lalu Sekaa Teruna Teruni Banjar Tainsiat ‘Yowana Saka Bhuwana’ membuat ogoh-ogoh yang sedemikian besarnya hingga memenuhi ruas jalan raya sebagai pelampiasan dua tahun gak bikin ogoh-ogoh (Posting 18 Maret 2007), kali ini giliran Banjar Tampak Gangsul membuat ogoh-ogoh yang tak kalah besar pula, namun dalam bentuk Celeng Hutan. Berwarna hitam berbulu lebat dan bertampang sangar. Hrrrrr… Besar itu Gagah, Jendral…

oo-6-besar.jpg

Ogoh-ogoh : Unik dan Klasik

Category : tentang KeseHaRian

oo-5-unik3.jpg

Kabarnya untuk membuat ogoh-ogoh yang mengundang decak kagum diperlukan sejuta ide maupun kecanggihan teknologi yang walopun sangat sederhana dari penampilan namun mampu memberikan rasa baru dalam pembuatan ogoh-ogoh setiap tahunnya. Daerah Sanur merupakan salah satu daerah pencetak ogoh-ogoh yang menggunakan beragam cara dan nyatanya mampu membuat para wisatawan hingga warga Kota Denpasar sendiri mengacungkan kedua jempol atas segala kreativitas yang dihasilkannya. Maka baik desain maupun cara pembuatanpun ditiru oleh banjar-banjar lain dan menghasilkan seni yang tak kalah bagusnya. Daerah Denpasar bagian Utara, tepatnya jalan Nangka Utara, trus ketimur menuju Jalan Seroja, menampilkan desain yang sangat membat decak kagum bagi mereka yang melewatinya.Betapa tidak, ogoh-ogoh yang dibuat menampilkan 2-3 tokoh hanya disangga oleh satu tiang. Entah bagaimana caranya, apakah memakai bahan besi yang dilas ataukan mungkin baja tentu mempengaruhi berat daripada ogoh-ogoh itu sendiri.Namun seberat-beratnya ogoh-ogoh, hari gini sudah ditopang oleh roda-roda ternyata mampu meringankan beban orang-orang yang dahulunya mengarak keliling Kota Denpasar.

oo-5-klasik.jpg

Namun desain klasik tetap saja ada, yaitu didepan Kantor Coca Cola jalan Nangka Utara, menampilkan Celuluk klasik berwarna merah membawa bayi untuk dimakan mentah. Mungkin kalo sempat lewat didaerah tertentu seperti Sanur, Gerenceng maupun Sesetan, barangkali foto-foto yang ditampilkan bakalan semakin banyak saja. Sayangnya terhalang oleh hujan yang mengguyur sepanjang perjalanan.

Kasian nanti Istri dan sikecil kehujanan… J

Ogoh-ogoh : Tumpahnya Kreativitas Anak Muda

Category : tentang KeseHaRian

Menikmati sajian khas Pengurupukan sehari sebelum Umat Hindu merayakan Tahun Baru Caka, ogoh-ogoh yang rata-rata mengambil bentuk raksasa maupun cerita-cerita Ramayana maupun Beratayudha, jelas membuat hati langsung saja terkesima menyimak hasil karya para Teruna Teruni diseantero Kota Denpasar.

oo-4-anak-muda.jpg

Tumpahnya segala bentuk ide maupun seni yang tertuang dalam bentuk ogoh-ogoh rasanya pantas untuk diacungi dua jempol, melihat pada halusnya pekerjaan yang mereka hasilkan, pula bentuk yang diwujudkan mampu menggambarkan apa yang mereka harapkan.

oo-4-ceramcam.jpg

Rupa unik terlihat pula dari ogoh-ogoh yang dibuat oleh Banjar Ceramcam di Jalan Turi, mengambil penokohan Sangut Delem yang dibuat sedemikian apik dan menarik untuk dinikmati. Tokoh 2 punakawan yang belakangan akrab dimata masyarakat lewat tayangan wayang Cenkblonk, nyatanya mampu ditampilkan dalam proporsi maupun warna warni khas keduanya.Walopun tokoh Delem mungkin kurang gendut layaknya cerita pewayangan.

Ogoh-ogoh : Menikmati Kreasi ditengah Hujan

Category : tentang KeseHaRian

oo-3-kidz-pande.jpg

Berjalan-jalan di siang hari dimana langit masih sangatlah mendung, satu hal yang patut diwaspadai mengingat malam nanti akan dilakukan arakan pawai ogoh-ogoh diseantero Kota Denpasar.

Ditengah guyuran hujan gerimis, bertiga bersama Istri dan sikecil yang masih ada diperut Ibunya, menerobos hujan hanya untuk melihat-lihat karya kreasi dari masing-masing Banjar Adat yang sayangnya rute blom mencapai hingga daerah Gerenceng, Sanur maupun Sesetan yang selama ini dikenal nyantep dalam urusan membuat ogoh-ogoh.

Sejauh yang ditempuh, suasana jalan memang terlihat macet dibeberapa ruas menuju Gajah Mada, dimana pada ruas jalan Abimanyu dan Arjuna, diblokir lantaran ogoh-ogoh banjar bersangkutan terlihat mejeng dengan megahnya ditengah jalan raya.

Sepinya arus lalu lintas, mungkin disebabkan lantaran hujan yang mengguyur sedari pagi, yang menyebabkan orang-orang malas untuk berjalan-jalan menikmati kreasi anak muda Kota Denpasar.

efek-nyepi-3-apotik-adiguna.jpg

Melewati Apotik Adhiguna dijalan Mayjen Sutoyo, rupanya mendapatkan imbas dari Hari Raya Nyepi, dimana pada hari biasa terlihat begitu padat dan ramai pengunjung.

Dibeberapa lokasi, selain ogoh-ogoh besar buatan STT banjar setempat, ada pula beberapa ogoh-ogoh berukuran kecil yang dibuat oleh anak-anak demi menyalurkan kreativitas mereka seakan tak mau kalah dengan kakak-kakaknya.

Walopun dari segi kualitas pembuatan, cat maupun proporsional tubuh apalagi kalo sudah ngomongin seni, jelas jauh dari harapan. Namun bolehlah menjadi satu hiburan tersendiri bagi generasi penerus bangsa selanjutnya. Hehehe…

PENGERUPUKAN : Sebuah Kreatifitas

1

Category : tentang KHayaLan

Saat untuk berkeliling sudah akan dimulai.
Kumpulan generasi muda Banjar Tainsiat yang tergabung dalam satu wadah, ‘Sekaa Teruna Banjar Tainsiat’, tampak memenuhi perempatan jalan raya, ditambah orang tua dan warga banjar lainnya, dilengkapi oleh Kelihan (pimpinan warga), juga Pecalang sebagai seksi Keamanan.Tak luput dari informasi, tampak beberapa anak muda menenteng kamera saku, handycam hingga video shooting layaknya BaliTV.
Inilah Dede Mahendra.
Berbekal Press Card yang dikalungkan di leher, walopun yang tertera bukanlah untuk kepentingan ogoh-ogoh, setidaknya menunjukkan kreatifitas secara sukarela dari generasi muda saat ini.
Tanpa bayaran, Bung !

Wajah garang ogoh-ogoh tampak menyeramkan dikegelapan malam, yang hanya diterangi beberapa lampu penerangan jalan, mulai menghias wajah Kota Denpasar.
Keberadaan ogoh-ogoh yang dibuat oleh generasi muda Banjar Tainsiat terlihat sangat kontras, dimana ogoh-ogoh lainnya berukuran kecil dibanding milik mereka.
Pantaslah foto-foto pun terpampang di halaman pertama beberapa media koran lokal. Termasuk Jawa Pos.

Saat diarakpun wajah garang ogoh-ogoh makin terlihat, dilengkapi lampu sorot, serta suara-suara lolongan dari para generasi muda yang kebagian menyangga ogoh-ogoh, makin membuat suasana mencekam.
Kejahilan anak muda tetaplah terlihat.
Saat melewati kuburan Desa Adat Bantas, tampaknya ogoh-ogohpun diarahkan kepintu gerbang kuburan tersebut, seakan menguatkan citra Celuluk sebagai penguasa kuburan.

Saat selesai dan tiba kembali di Banjar, sembari menunggu konsumsi dibagikan, ogoh-ogohpun dihancurkan dan dibawa ke Kuburan Desa Adat Badung, untuk kemudian dibakar.
Hilanglah sudah dana sebesar 8 juta yang telah diwujudkan dalam satu sosok besar, ‘Celuluk Bengong’.
Namun semangat generasi muda ditambah partisipasi warga banjar, Pengerupukan tahun ini berjalan tanpa masalah.
Bersyukur ini bisa tercapai, ditengah rasa was-was saat akan berangkat tadi.
Terima kasih untuk 2 orang Arsitek utama ogoh-ogoh, KEDUK juga ANTO’, yang sedemikian usahanya menyalurkan kenekadan aspirasi selama 3 tahun, menjadi satu wadah yang mampu menyatukan seluruh warga banjar.
Semoga tahun depan, bisa dibuatkan kembali.
Viva Sekaa Teruna Banjar Tainsiat ‘Yowana Saka Bhuwana’.
-Pande

PENGERUPUKAN : Sebuah Tradisi

Category : tentang KHayaLan

Malampun sudah menjelang, Umat hindu sebelum melakukan upacara Pengerupukan, terlebih dahulu melakukan persembahyangan bersama, sekaligus Natab Kaki, agar nantinya diharapkan kaki ini takkan menuntun diri kejalan yang salah.

Setelah natab selesai, barulah bunyi-bunyian bertalu-talu, sambil membawa percikan Tirta serta pelepah kelapa yang dibakar, berkeliling ke sudut-sudut rumah dan tempat-tempat yang diyakini ada penunggunya, berakhir di jalan raya depan rumah masing-masing.

Jalanan pun sudah mulai lengang, karena beberapa ruas jalan sudah ditutup agar arak-arakan ogoh-ogoh bisa dimulai.
Tampak pedagang duren yang hari ini sepertinya sepi pembeli, tak seperti biasanya.
Sebentar lagi, ogoh-ogoh akan diarak keliling Desa Pekraman, namun tentunya harus melewati Bali Hotel, dimana Gubernur Bali turut menyaksikan bersama ekspetariat asing serta wisatawan mancanegara lainnya,Bagaimana ceritanya ?Tunggu posting berikut….

Ogoh-ogoh : Sebuah Tradisi

Category : tentang KHayaLan

Menjelang hari Raya Nyepi, ada satu prosesi lagi yang dilakukan oleh sebagian besar Umat Hindu, khususnya generasi muda yaitu mengarak Ogoh-ogoh keliling Desa Pekraman setempat.Ogoh-ogoh sebagai simbol Bhuta Kala, salah satu unsur peran dalam kehidupan manusia, yang jika pada ajaran Agama Islam, malah diusir dari tempat tingalnya, seperti yang sering ditayangkan televisi, Umat Hindu malah memberikan sesaji dan persembahan pada mereka, agar mereka nantinya tak merusak tatanan kehidupan manusia.
Umat Hindu memang demikian.
Memberikan sesaji pada seluruh unsur kehidupan manusia, baik nyata maupun tak nyata. Baik hidup maupun benda mati.

Ogoh-ogoh yang sempat dilarang pembuatannya ditahun-tahun lalu, kini sesudah 3 tahun generasi muda Banjar Tainsiat mulai berani menyalurkan ekspresi kebebasannya.
Gak tangung2, ogoh-ogoh ukuran 8 meter panjang kali 3 meter pun dirancang dalam waktu 2 hari, dengan masa pengerjaan yang hanya 5 hari.
Menghabiskan dana sebesar 8 juta rupiah, diluar baju seragam yang disumbangkan oleh donatur ‘5 a Sec’.
Dana ini sebagian didapat dari sumbangan warga banjar juga orang-orang yang tergolong high class, setingkat Anggota DPR-lah.
Sekitar 2,5 juta dihabiskan untuk membuat topeng ogoh-ogoh. Lihat saja perbandingan antara 1 orang manusia, dengan tinggi dan panjang ogoh-ogoh.

Luar biasa untuk ukuran Kota Denpasar, yang setelah disurvey siang tadi, gak ada yang berukuran seperti ini.

Merancang tema ‘Celuluk Bengong’.
Satu tokoh dalam sejarah budaya Umat Hindu, yang mencerminkan tokoh jahat dimana perannya takkan pernah bisa hilang, sehingga disebut ‘Rwa Bineda’.
Seperti halnya sifat manusia yang ada 2, mutlak ada dalam setiap orang dimuka bumi ini.

Rencananya ogoh-ogoh ini akan diarak setelah ‘Sandya Kala’, dimana diyakini dalam rentang waktu tersebut, para Butha Kala berkuasa akan seluruh wilayah di Bali.
Jadi setelah dilakukan upacara ‘Mecaru’ di masing-masing rumah, dengan melakukan persembahyangan bersama, hingga berkeliling dengan kentongan dan pelepah kelapa yang dibakar, barulah prosesi ogoh-ogoh dimulai.

Mengambil rute yang tak biasanya, dimana seharusnya hanya disekitar Desa Pekraman setempat, kali ini malah akan keluar dari seputaran Desa, dengan pertimbangan besar Ogoh-ogoh yang mungkin takkan mampu dilalui lewat jalan kecil. Dan juga keegoisan generasi muda, yang telah susah payah melahirkan karya dalam waktu singkat dengan ukuran big size, menganggap mubazir jika ogoh-ogoh hanya diarak disekitar Desa Pekraman.

Satu harapan seluruh warga Banjar, semoga saja generasi muda mampu menahan diri dijalanan nanti, tak bentrok dengan sesamanya, sehingga bisa pulang kembali dengan selamat.
Semoga.