Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2013

9

Category : tentang KeseHaRian

Ogoh-Ogoh merupakan satu simbol dari sifat-sifat keserakahan, ketamakan atau keangkaramurkaan yang biasanya divisualisasikan dalam rupa raksasa menyeramkan serta diarak setahun sekali, tepatnya sehari jelang perayaan Tahun Baru Caka atau Nyepi. Perwujudan ini dahulunya dilakukan dengan mengolah bentuk dan rupa menggunakan anyaman bambu serta kertas tempel baik bekas produk semen ataupun koran sedemikian rupa, yang pada akhirnya dibakar atau dimusnahkan kembali pasca diarak keliling kota atau wilayah setempat.

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi banyak pergeseran pada ide dan penyelesaian rupa bentuk Ogoh-ogoh. Misalkan jika dahulu Ogoh-ogoh hampir selalu identik dengan sosok yang tinggi besar dan menakutkan, kini sudah tidak lagi dimana satu dua diantaranya ada yang mengambil bentukan tokoh kartun dunia anak seperti Shincan, Ipin dan Upin ataupun Doraemon. Bahkan ada juga yang mengambil rupa musisi Bali seperti Nanoe Biroe. Hanya saja, ide pembuatan yang memang sedikit menyimpang ini rata-rata dilakukan oleh para Sekaa Demen, banjar-banjar Pendatang bahkan simpatisan anak-anak. Sedangkan para Sekaa Teruna yang ada di wilayah Banjar Adat agaknya masih tetap pada jalurnya mengambil wujud raksasa seperti halnya pemahaman tadi.

Dilihat dari penyelesaian fisiknya pun, jika dahulu masih menggunakan anyaman bambu, kini sudah mulai marak penggunaan bahan baku gabus yang memberikan hasil akhir jauh lebih ringan, jauh lebih mudah dibentuk dan difinishing, baik pewarnaan dasar, dempul dan cat airbrush. Demikian halnya dengan pemanfaatan bahan lain seperti kain, asesoris, ukiran dan bulu. Jauh lebih detail dan nikmat dipandang.

Dalam kaitannya dengan rencana Pemerintah Kota Denpasar yang bakalan menggelar parade Ogoh-ogoh pada tanggal 11 Maret 2013, Tilem Kesanga mendatang, perwujudan Ogoh-ogoh yang ada di seputaran Kota Denpasar pagi ini sudah mulai marak dipajang didepan areal banjar masing-masing. Diluar dua hal diatas, kini ada satu perbedaan lagi yang bisa dilihat sejak Ogoh-Ogoh mulai dilombakan sekitar dua tahun silam *semoga benar :p. Cerita atau lampah yang mendasari bentukan atau wujud Ogoh-ogoh.

Jika dahulu Ogoh-ogoh dibuat dan dinamakan secara asal, dimana penamaan baru diberikan biasanya setelah Ogoh-ogoh selesai, kini faktor lampah ataupun Cerita merupakan dasar utama pembuatan wajah dan struktur Ogoh-Ogoh. Setidaknya kini ide bagaimana bentuk hingga gambaran detailnya sudah mulai terbayang sejak awal mula.

Br Abian Kapas Kaja

Salah satunya seperti yang diungkap dalam Ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Banjar Abian Kapas Kaja, Sang Kala Bala. Dalam lampah atau cerita yang dibawakan rupanya terkait upacara Pecaruan yang dilaksanakan pada Sasih Kesanga yang disebut ‘Cetramasa’, sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Caka bagi umat Hindu dimanapun mereka berada. Pecaruan ini dilaksanakan didepan pekarangan rumah yang disuguhkan kepada Sang Bhutakala dan Sang Kalalaba, berupa segehan nasi sasah 108 tanding berisi jejeron mentah serta segehan agung satu tanding.

Cerita atau lampah lainnya juga dapat dilihat pada Ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Putra Kencana banjar Dauh Tangluk Desa Pekraman Kesiman, yang menurunkan Kala Tri Netra, simbol atau visualisasi Egoisme yang muncul dari tiga aktifitas utama manusia, yaitu Berpikir, Berkata dan Berbuat. Dalam narasi yang dikisahkan, terdapat kalimat ‘barang siapa yang menyimpang dari tatwa dalam berpikir, berkata dan berbuat, dialah yang akan menjadi santapan Kala Tri Netra.

Disamping mempertahankan perwujudan raksasa atau para Kala, terjadi pula pergeseran atau lebih tepatnya peningkatan inovasi desain dimana kini detail para manusianyapun mulai dilibatkan secara lebih manusiawi. Ini bisa dilihat pada Ogoh-ogoh yang dibuat oleh Sekaa Teruna dari banjar Kedaton Sumerta, yang menyajikan dua pemuda dan satu orang pemangku sedang melakukan penyembelihan Babi (nyambleh). Perhatikan pada bentuk wajah, tingkah laku hingga detail lainnya seperti rambut, kain kemben dan penggunaan tikar, yang dibuat semirip mungkin dengan wujud aslinya. Atau jangan-jangan selain sarana, mereka memang menggunakan model manusia asli didalamnya ? *eh

Sayangnya, salah satu Sekaa Teruna yang tahun-tahun sebelumnya menjadi langganan juara di wilayah Denpasar Utara, kini tak lagi ikut serta dalam perhelatan Parade Ogoh-ogoh tahun ini. Kabarnya sih lantaran juara berturut-turut itulah, larangan untuk ikut kemudian diturunkan khusus untuk banjar Tainsiat, dengan harapan dapat memberikan kesempatan pada Sekaa Teruna banjar lainnya untuk tampil kali ini. Benar tidaknya, mungkin kelak bisa dikonfirmasi ke pihak-pihak yang berkaitan langsung. Dan entah apakah larangan ini berlaku pula bagi yang lain, terpantau dari Banjar Bengkel dan Kesiman, tak terlihat pula Ogoh-ogoh yang dipajang didepan banjar setempat. Bisa jadi pula disembunyikan sementara atau malah memang benar-benar tidak ikutan berpartisipasi.

Masih soal larangan, untuk perwujudan ide pun menjadi salah satu issue dimana tidak diijinkannya mengangkat tema politik ataupun hal yang berkaitan dengan perhelatan PilGub Bali, Mei 2013 seperti halnya yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini kabarnya untuk menghindari terjadinya bentrokan kepentingan, antara yang ingin membela atau memberikan kritik kepada salah satu calon yang akan bertarung.

Br Kedaton Sumerta

Untuk bisa mewujudkan Ogoh-ogoh sedemikian rupa dengan detail dan wajah yang jauh lebih menawan, tentu saja berimbang dengan biaya yang dihabiskan oleh masing-masing Sekaa Teruna yang ada di seputaran Kota Denpasar. Kabarnya untuk menghasilkan satu karakter Ogoh-ogoh dibutuhkan dana berkisar 5 hingga 15-an juta rupiah yang didalamnya sudah termasuk dengan konsumsi harian para desainer dan arsitek pembuatnya. Besaran ini tentu saja jauh dari besaran sumbangan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Denpasar yang hanya sebesar 3,5 juta rupiah tanpa dipotong pajak. Maka untuk dapat menalangi sisa dana yang dibutuhkan, masing-masing Sekaa Teruna dituntut untuk bisa berimprovisasi dalam menghasilkan dana awal seperti Bazaar banjar atau aktifitas sosial yang mampu memberi sedikit keuntungan, hingga mengandalkan sumbangan dari lingkungan sekitar, utamanya para anggota banjar.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, pembuatan ogoh-ogoh dalam rangka Parade tahun ini seperti menjadi ajang unjuk kekuatan seni dari masing-masing Sekaa Teruna yang selain membutuhkan pembiayaan yang cukup besar, dibutuhkan pula ketelatenan pembuatan, keindahan pewarnaan pula kabarnya koreografi saat pengarakan nantinya. Ah, rasanya sudah gag sabar lagi menanti mereka semua turun gunung di Alun-alun Kota Denpasar senin depan.

Ogoh-Ogoh Mini Kota Denpasar Tahun 2013

8

Category : tentang KeseHaRian

Di tengah persiapan perhelatan PilGub Provinsi Bali bulan Mei 2013 mendatang, tampaknya antusiasme Sekaa Teruna di masing-masing Banjar Adat lingkungan Kota Denpasar untuk membuat Ogoh-Ogoh, sedikit menurun. Entah apakah ini hanya perasaan saya secara pribadi yang merasa heran dengan ketiadaan aktifitas di masing-masing Bale Banjar, ataukah memang sudah ada kesepakatan antara seluruh Sekaa Teruna banjar adat di lingkungan Kota Denpasar dengan Walikota ? Karena informasi kabar burungnya sih memang begitu, ada pertemuan di awal tahun 2013 kemarin.

Namun meski animo pembuatan ogoh-ogoh ukuran raksasa sedikit menyepi, keberadaan ogoh-ogoh Mini, tampaknya mulai diminati oleh para pencari peluang pendulang rupiah, demi memuaskan hasrat para orang tua atas nama anak yang biasanya ikut serta mengusung saat pawai dilakukan. Ini terlihat di beberapa tempat yang sepintas lalu sempat saya lewati, menyajikan beragam pilihan Ogoh-ogoh Mini dalam berbagai bentuk, warna dan bahan.

image

Salah satunya sempat saya wawancarai secara singkat, terutama berkaitan harga jual yang memang ada yang terjangkau hingga jutaan rupiah, bergantung pada bahan yang digunakan. Jika Ogoh-Ogoh Mini dibuat dengan bahan dasar Gabus, harga jual yang ditawarkan bisa jadi cukup mahal. Untuk ukuran 75 cm, dengan figur anak-anak dijual dengan harga 500ribu hingga 750ribuan per unitnya. Sedang yang berukuran 1,0-1,5 meter, bisa berharga 1-2 jutaan bergantung pada detail yang dibuatkan. Sedang untuk Ogoh-Ogoh Mini yang dibuat dengan bahan dasar Spons, harga jual jadi jauh lebih terjangkau. Misalkan dengan ukuran yang sama dengan Gabus, bisa dijual sekitar 25% harga Ogoh-ogoh berbahan Gabus. Namun jangan harap soal detail bisa sebagus buatan gabus yang bisa dibentuk sedemikian rupa. Tapi kalo cuma buat konsumsi anak-anak sih, gag masalah deh kayaknya.

image

Jika kawan berkesempatan untuk keliling Kota Denpasar, lokasi penjualan Ogoh-Ogoh Mini bisa ditemukan di Jalan Ratna, baru masuk dari arah Utara (Gatot Subroto) sebelah Timur jalan, Jalan Sumatera ujung selatan, Timur Jalan tepatnya di deretan pedagang Majalah, Jalan Supratman Tohpati, sebelah kanan jalan sebelum Jalan Soka, atau Wilayah Kayumas sebelah selatan Kantor Catatan Sipil, Timur Jalan, dan terakhir di depan Pasar Tradisional Satriya.

List Posting dengan Page Views tertinggi

5

Category : tentang DiRi SenDiri

Awal tahun 2013 sempat iseng buka jendela Dashboard Blog yang kebetulan baru saja melakukan UpDate plugins Page Views, salah satu plugins yang berfungsi untuk melihat seberapa banyak jumlah kunjungan ke halaman tertentu di sejumlah posting yang dimiliki. Hasilnya cukup bikin kaget.

Diantara 10 Besar posting di halaman blog www.pandebaik.com selama hampir 7 tahun berjalan didominasi oleh tulisan yang bersinggungan dengan Tema Ogoh-Ogoh dan (tentu saja) Gadget. Berikut daftar lengkapnya.

  • Ogoh-ogoh STT Banjar Tainsiat | posting tanggal 2008/03/06 | 24,259 views
  • Ayo bermain Rubik’s Snake | posting tanggal 2010/09/22 | 23,320 views
  • Ogoh-Ogoh Kota Denpasar 2011 | posting tanggal 2011/03/04 | 18,459 views
  • Menjajal Blackberry Device Simulator | posting tanggal 2009/12/30 | 16,940 views
  • Upgrade Android GingerBread Samsung Galaxy ACE | posting tanggal 2011/09/02 | 16,510 views
  • Update Status FaceBook via HP Pinjaman | posting tanggal 2010/01/10 | 15,788 views
  • IWAN FALS my LEGEND (2001 – today) | posting tanggal 2009/06/24 | 15,500 views
  • Update Status FaceBook/Twitter dengan BLackBerry Torch 9800S | posting tanggal 2010/08/30 | 13,534 views
  • Manfaatkan Tethering dan Jadikan Androidmu Perangkat Portable Hotspot | posting tanggal 2011/04/26 | 13,361 views
  • Review Samsung Galaxy ACE S5830 | posting tanggal 2011/03/21 | 12,392 views
  • Yang unik, beberapa diantaranya bahkan diposting dalam kurun waktu tahun 2011, bahkan hanya satu posting saja yang mampu menembus dari kisaran tahun 2008. Artinya, rata-rata tulisan yang mampu meraih Page Views tertinggi merupakan tulisan yang memang dilahirkan pasca alamat domain yang digunakan untuk posting tersebut adalah www.pandebaik.com yang sudah lebih familiar untuk diingat oleh Google. sedang sebelumnya saat menumpang di blogspot dan pandeividuality.net sepertinya rada susah untuk diingat.

    Dominasi dengan tema yang sama pun kelihatannya maih berlaku hingga urutan 20 besar. Apakah itu artinya untuk Tahun 2013 ini blog www.pandebaik.com akan tetap mengulas tema yang sama secara berkala ? Tunggu saja. :p

    Ogoh-Ogoh Penggembira Kota Denpasar Tahun 2012

    7

    Category : tentang KeseHaRian

    Berikut beberapa gambar Ogoh-Ogoh yang bisa dikatakan masuk dalam kategori ‘Penggembira’ alias tidak diikutsertakan dalam Lomba namun dibuat dengan nafas dan semangat yang sama (dan tentu saja tanpa beban), yang sempat diabadikan tanpa sengaja melakukan perburuan seperti gambar sebelumnya.

    Ciri-ciri dari Ogoh-Ogoh ‘Penggembira ini adalah (1) dari segi siapa dibalik pembuatnya, biasanya sekumpulan keluarga yang ingin ikut berpartisipasi meramaikan atau sekedar ide dari para putra putri mereka, bisa juga oleh Sekaa Teruna Teruni yang ternyata gag masuk nominasi perlombaan, (2) dari segi penggarapan, tidak seapik yang diperlombakan meski masih bisa dikatakan cukup baik akan tetapi ada juga yang sekedar jadi atau sebisanya, (3) dari segi ide, beberapa mengambil penokohan yang bukan masuk dalam golongan Bhutakala atau Dewa Dewi, terpantau ada juga yang membuat Ogoh-Ogoh Scream, tengkorak, anak-anak, ipin upin, shincan dan lain sebagainya. Selain itu ada juga dilihat dari ukuran yang biasanya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa (meski ada juga yang monumental atau raksasa).

    Namun jika dilihat dari segi ide dan konstruksi dasar yang dibangun, sebenarnya masih bisa diadu dalam sesi perlombaan. Hanya saja ya lantaran beberapa pertimbangan diatas, maka jadilah Ogoh-Ogoh yang telah dibuat dengan susah payah dan banyaknya biaya yang dihabiskan, hanya sebagai penggembira dan meramaikan Malam Pengerupukan yang diselenggarakan Sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

    So, jangan terlalu dipikirkan bagus tidaknya, namun angkat jempol bagi mereka yang sudah berhasil menuangkan hasil karyanya dalam rupa Ogoh-Ogoh di Tahun 2012 ini.

    Hati-hati selama di Perjalanan nanti malam, dan Selamat merayakan Tahun Baru Caka 1934. Salam dari Pusat Kota Denpasar.

    Ogoh-Ogoh diseputaran Jalan Veteran (banjar Belaluan) dan Jalan Nangka

    Ogoh-Ogoh diseputaran Jalan Suli dan Jalan Nangka (lagi)

    Ogoh-Ogoh diseputaran Jalan Sarigading dan (lagi-lagi) Jalan Nangka

    Ogoh-Ogoh diseputaran Jalan Nangka (waduh !!!)

    Mengintip Ogoh-Ogoh Tahun 2012 Kota Denpasar (End)

    16

    Category : tentang KeseHaRian

    Berikut Tiga rekaman lensa Ogoh-Ogoh Tahun 2012 di Kota Denpasar edisi Terakhir. Selamat menjalankan prosesi Pengerupukan dan Brata Penyepian yah…

    Ogoh-Ogoh Banjar Taman Sanur

    Ogoh-Ogoh Banjar Kepisah Jalan Hayam Wuruk

    Ogoh-Ogoh Banjar Kedaton Kesiman Jalan W.R.Supratman

    Mengintip Ogoh-Ogoh Tahun 2012 Kota Denpasar (lanjutan)

    1

    Category : tentang KeseHaRian

    Masih berkisar pada sosok beberapa ogoh-ogoh yang kali ini berhasil di-Hunting…

    Ogoh-Ogoh Banjar Kedaton jalan Hayam Wuruk. Dari penampilannya (baik topeng/tapel maupun pewarnaan) sempat mengingatkan saya pada Ogoh-Ogoh Chandra Bairawa milik Banjar Taensiat Tahun 2011 lalu. Setelah ditelusuri ternyata ini masih merupakan buah karya Arsitek yang sama, termasuk Ogoh-Ogoh Ganapati Murka Banjar Taensiat 2012 kali ini.

    Ogoh-Ogoh Banjar Sengguan Jalan Seroja Denpasar

    Ogoh-Ogoh Banjar Kelandis Jalan Hayam Wuruk, termasuk kecil untuk ukuran para pesaingnya…

    Terakhir, Ogoh-Ogoh Banjar TanggunTiti Jalan Nangka Utara, termasuk yang paling panjang dan besar diantara semua. Kerennya, baik dari penyajian, pewarnaan hingga detail sangat apik dibuat. Salute untuk Team Work mereka. 🙂

    Mengintip Ogoh-Ogoh Tahun 2012 Kota Denpasar

    Category : tentang KeseHaRian

    Berikut beberapa foto Ogoh-ogoh yang dikirim ke Media BaleBengong via Twitter oleh Rekan-rekan seantero Kota Denpasar, yang mendapatkan gambarnya secara langsung.

    Ogoh-Ogoh Banjar Kayumas Kaja kiriman @adjiemasdhita

    Ogoh-Ogoh Banjar Jenah Peguyangan kiriman @Sugik_culun

    Ogoh-Ogoh Banjar Petangan Gede kiriman @SuryaAtmaja_Lc

    Ogoh-Ogoh Banjar Pengiasan kiriman @DewaAriYudha

    Ogoh-Ogoh Banjar Abiankapas Kaja kiriman @bli_eka

    Ogoh-Ogoh Banjar Batu Mekaem kiriman @adiprayoga

    Mengintip Ogoh-Ogoh Tahun 2012 seputaran Kota Denpasar

    9

    Category : tentang KeseHaRian

    Disela terjangan angin kencang disepanjang jalanan seputaran Kota Denpasar, aku mencoba menyisihkan sedikit waktu sepulang kerja untuk mengintip lebih dulu para peserta Lomba Ogoh-ogoh Tahun 2012 yang sepertinya sudah siap untuk diarak 23 Maret nanti. Dari sembilan Banjar besar yang kulalui, hanya tiga yang tidak ikut dalam perhelatan Lomba kali ini. Banjar TampakGangsul, Banjar Kayumas Kaja dan Kaliungu Kaja.

    Berdasarkan pengamatan, bahan baku Gabus rupanya jauh lebih menarik untuk digunakan dalam mengemas sosok Ogoh-ogoh tahun ini. Bisa jadi lantaran kemudahannya dalam membentuk badan, otot serta penampakan wajah, dan juga kecepatan pengerjaan dibanding menggunakan ulatan keranjang dan kertas semen seperti yang masih dilakukan oleh Banjar Langon jalan Arjuna. Sayangnya segala kemudahan ini seakan sirna jika kita ingat bahwa Gabus bukanlah bahan material yang ramah lingkungan.

    Meski demikian, secara performance semua Ogoh-ogoh yang saya pantau memiliki kualitas pengerjaan yang mantap dan memuaskan, sehingga mereka semua layak untuk dipertaruhkan dalam ajang Lomba dan parade Ogoh-Ogoh tahun 2012 ini. Namun memang belum semua sosok yang dapat saya abadikan dalam gambar kali ini. Mungkin bisa menyusul sebelum Hari Raya Nyepi nanti. Beneran Bisa gag yah ?

    Ogoh-ogoh Banjar Taensiat

    Ogoh-ogoh Banjar Titih

    Ogoh-ogoh Banjar Gemeh

    Ogoh-ogoh Banjar Kaliungu Kelod

    Ogoh-Ogoh Kota Denpasar Tahun 2011

    19

    Category : tentang InSPiRasi

    Entah mengapa ketika mencermati penampilan beberapa Ogoh-Ogoh di seputaran Kota Denpasar nampaknya lebih banyak terinspirasi dari Juara Pertama Lomba Ogoh-Ogoh yang diselenggarakan Walikota Denpasar Tahun 2010 lalu. Chandra Bhairawa buah karya Sekaa Teruna Yowana Saka Bhuwana Banjar Tainsiat. Ogoh-ogoh yang menampilkan banyak perwajahan (dibuat dan disusun sedemikian rupa) tiga hingga sembilan wajah ditambah dua tiga pasang tangan, beraksi dengan pose yang nyaris sama.

    Untuk Ogoh-ogoh berukuran besar didominasi dengan bahan gabus sebagai bahan dasar pembuatan sehingga memungkinkan terbentuknya otot dan lekukan tubuh sekecil dan sedetail apapun. Pose dan aksi mereka juga lebih banyak menantang, dari yang hanya berpegangan pada sebuah bambu, pohon, senjata ataupun kayu atau bahkan layaknya sedang terbang. Berkat pewarnaan dan hiasan yang diberikan, ogoh-ogoh yang tahun ini ditampilkan kembali di seputaran Alun-Alun Kota Denpasar ini jadi semakin hidup.

    Dibandingkan Tahun lalu, secara jumlah Ogoh-ogoh yang tampil di seputaran Kota Denpasar saya rasa lebih sedikit, itupun secara sosok juga jadi kurang kreatif. Kendati begitu, beberapa diantaranya masih ada yang mengambil situasi sosial negeri diantaranya ogoh-ogoh Gayus Tambunan, Rabies atau KPK.

    Berikut beberapa penampakan Ogoh-ogoh seputaran Kota Denpasar Tahun 2011 yang sempat saya ambil sore tadi.

    Ogoh-Ogoh Gagah Dahulu dan Kini

    9

    Category : tentang InSPiRasi

    Mengunjungi Bali belumlah lengkap jika belum menyempatkan diri untuk menonton arak-arakan Ogoh-Ogoh yang dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kesanga atau Malam sebelum Umat Hindu merayakan Tahun Baru Caka yang dikenalpula dengan istilah Nyepi. Sebagai sa;ah satu produk seni Budaya Bali, Ogoh-ogoh hingga kini telah banyak mengalami perkembangan. Baik dari bahan dan cara pembuatannya, hingga penokohan atau makna yang dibawakannya.

    Jika pada era tahun 90an, Ogoh-ogoh yang dibuat umumnya berwujud makhluk-makhluk menyeramkan dimana rangkanya dibuat dari dari bambu lalu dibungkus dengan kertas, kain atau benang pada bagian-bagian tertentu, maka pada tahun terakhir, jelas sangat jauh berbeda. Tak hanya dari segi rangka, bahkan secara keseluruhan Ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dari bahan Gabus. Selain ringan, Kelebihannya lantaran Gabus lebih mudah dipahat dan dibuat menjadi macam-macam bentuk yang diinginkan tanpa memerlukan banyak waktu dan tenaga seperti halnya merakit bambu. Sayangnya secara finansial, penggunaan Gabus tentu jauh lebih banyak memerlukan modal ketimbang merakit bambu dan kertas.

    Secara penokohan pun bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Siapa sih masyarakat Bali seputaran Kota Denpasar ataupun Sekaa Teruna Teruni yang bisa melupakan Ogoh-ogoh dengan figur Shincan tiga atau empat tahun yang lalu ? atau bahkan figur kenakalan anak-anak Negeri Tetangga Upin & Ipin ? ada juga yang mengambil figur Sangut Delem bahkan sang pedangdut ngeborpun ada.

    Padahal secara makna, Ogoh-ogoh yang biasanya diarak keliling desa ini tidak lepas dari aktifitas Ritual, dalam hal ini kaitan upacara Bhutayadnya menjelang hari suci Nyepi. Ogoh-ogoh baru akan dihadirkan segera setelah usai pelaksanaan upacara. Diiringi suara gambelan –musik tradisional Bali- yang bertalu-talu ditingkah riuh rendah suara para pengarak. Semua itu mengandung makna untuk mengusir roh-roh jahat dari Desa yang bersangkutan. Maka itu sebabnya, perwujudan dari Ogoh-ogoh dibuat menyeramkan sebagai simbolisasi sifat-sifat keserakahan, ketamakan dan keangkaramurkaan.

    Seiring perkembangan jaman, memang tidak salah sih jika profil ogoh-ogoh dibuat agak melenceng. Bahkan ada juga yang diselipi sindiran bagi para penguasa atau pejabat yang korup hingga yang berusaha untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat secara vulgar. Wong roh jahat jaman edan begini tak lagi berbentuk menyeramkan, ada juga yang gagah, perlente bahkan berdasi. Hehehe…

    Sayangnya Image ogoh-ogoh perlahan makin memudar seiring perilaku pengarak yang kerap bersentuhan dengan minum minuman keras atau bahkan kerap memicu perkelahian antar pengarak. Jiwa muda lebih banyak berbicara disini. Meski pada tahun lalu, Ogoh-ogoh sempat pula dilombakan oleh Walikota Denpasar untuk menarik minat wisatawan dan juga kreatifitas para generasi muda yang diharapkan tidak melulu berlaku negatif.

    Sekedar Informasi, untuk tahun 2011 prosesi pengarakan ogoh-ogoh sedianya jatuh pada hari Jumat malam tanggal 4 Maret mendatang. Jadi, bagi kalian yang penasaran dan ingin menyaksikannya langsung, silahkan meluangkan waktunya dari sekarang.

    (sebagian kecil dari sumber materi diatas saya ambil  dari buku Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991 dan Ilustrasi Foto saya ambil dari besutannya Pak Ian Sumantika via FaceBook)

    Merekam Budaya lewat Teknologi

    3

    Category : tentang InSPiRasi

    Hari Raya Nyepi baru saja usai. Dari sekian banyak proses menuju hari yang disucikan oleh Umat Hindu tersebut, beberapa diantaranya bisa jadi sangat dinanti oleh sebagian masyarakat. Entah itu berkaitan dengan kelangsungan upacara, keramaian hingga estetis budaya dan pernak perniknya.

    Ada untungnya juga bahwa kini adalah masa berkembangnya Teknologi. Satu keuntungan dimana umat manusia dipermudah aksesbilitasnya terhadap segala bentuk aspek kehidupan yang diharapkannya. Orang tak lagi harus berada dilokasi kejadian karena sudah sedemikian banyak orang lain yang berusaha mengabadikan setiap momen tertentu dalam bentuk gambar bergerak ataupun diam.

    Jejaring sosial menjadi ajang bertemunya semua kepentingan. Dari yang sekedar ingin tahu, keinginan untuk eksis dan mencoba menampilkan ketrampilan yang dimiliki agar diketahui banyak orang. FaceBook merupakan salah satu yang paling dinanti.

    Berkawan dengan orang-orang yang memiliki ketrampilan khusus dalam kemampuannya dalam mengabadikan setiap momen tertentu dalam bentuk gambar bergerak ataupun diam adalah Anugerah bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya, keterbatasan waktu atau keterbatasan sarana untuk kemudian ikut memiliki rekaman budaya yang diharapkan hanya untuk koleksi pribadi.

    Maka lewat BLoG ini saya berterima kasih kepada Saudara/i Ian SumatikaAdi SuryanegaraVira YunitaAtma Maya,Wayan Adi Sudiatmika dan Wayan Eka Dirgantara yang telah dengan setia mengabadikan setiap momen budaya yang terjadi selama kurun waktu Tahun Baru Caka 1932 kemarin. Sungguh beruntung Bali memiliki orang-orang yang bertalenta.

    Salam dari Pusat Kota Denpasar