42 Hari Gek Mutiara

1

Category : tentang KHayaLan

Akhirnya kesampaian juga harapan kami, bisa menjalani upacara pertamanya Gek Ara di rumah bersama Keluarga.

Upacara 42 hari atau yang dikenal dengan istilah abulan pitung dina atau satu bulan (Bali-35 hari) tujuh hari, dilaksanakan pada hari Minggu kemarin, 29 Maret 2015 mulai pukul 14.30 wita dengan mengundang saudara terbatas di halaman rumah saja.
Upacara 42 hari ini selesai sekitar pukul 16.00 wita, sedikit lebih cepat dari perkiraan.

Meskipun pada malam harinya Gek Mutiara sempat kami bawa ke UGD Sanglah lagi karena menangis dan tampak kesakitan akibat ruam popok yang ada di pantatnya, sekitar pukul 1.00 dini hari, adik diijinkan pulang tanpa perlu rawat inap lagi. Dan sedari pukul 4.00 pagi tadi adik masih tampak rewel dengan rutinitasnya dan memaksa sang Ibu untuk mengorbankan lagi waktu Istirahatnya.
Tapi semoga Adik Mutiara bisa tetap sehat kedepannya.

Berikut beberapa rekaman lensa terkait upacara 42 harinya Pande Nyoman Mutiara AnnikaDewi.

42 hari Gek Ara 0

42 hari Gek Ara 1

42 hari Gek Ara 4

42 hari Gek Ara 6

42 hari Gek Ara 9

Gek Ara Pulang

Category : tentang Buah Hati, tentang iLMu tamBahan

“Mungkin memang adik Komang berniat buat nyari momen Bapak menyumbangkan darah untuknya…”
Celetuk seorang kawan begitu saya sampaikan padanya bahwa hari ini, putri ketiga saya Gek Mutiara diperbolehkan pulang oleh dokter Anak yang merawatnya.
Dengan syarat, kami bisa merawatnya dengan telaten di rumah…

Maka jam kantor pada hari Senin pagi inipun jadi terasa jauh lebih singkat dari yang seharusnya. Maklum, sekitar pukul 11an saya pamit pada semua kawan di ruangan Permukiman Dinas Cipta Karya untuk meluncur ke Rumah Sakit Sanglah guna memastikan kebenaran kabar itu sekaligus mengurus semuanya.

Sekantong Darah untuk Gek Ara

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan diri untuk memberikan darah ini kepada si cantik Mutiara pada hari jumat lalu, namun informasinya PMI telah menyediakan darah untuk transfusi bagi putri kami yang dinyatakan mengalami penurunan HB dan Trombosit.
Dari jumlah standar yang ditentukan antara 10-13, Gek Ara menghasilkan angka 7,2. Ini menurun lagi dibanding hasil test darah yang sebelumnya. Begitupun Trombosit menurun dari 151 menjadi 137.

Namun bersyukur bahwa Gek-nya hanya membutuhkan satu kantong darah lagi untuk menjaga kemungkinan transfusi tambahan apabila stok darah O yang dimiliki PMI kosong saat diperlukan. Artinya ya cukup hanya darah Bapaknya saja yang diambil untuk putri kecil ini.
Padahal ada beberapa saudara juga kawan yang menyatakan kesiapannya untuk memberikan darah mereka jika dibutuhkan.
Jadi Terima Kasih untuk kalian yang sudah mengontak saya sebelumnya.

Pulang 3

Sehari setelah Nyepi, tepatnya saat maturan, saya dikontak untuk menyiapkan darah yang dimaksud. Maka setelah menyelesaikan semua urusan hari tersebut, sayapun menjalani pemberian darah untuk yang ke-45 kalinya, dimana kali ini sebagai donor pengganti. Bukan Sukarela sebagaimana biasanya.
Itupun ternyata, setelah dihitung masa pasca donor darah sebelumnya, hanya berselang 72 hari saja dari standar 75 hari yang ditetapkan. Namun karena ini untuk kepentingan anak sendiri dan kondisi fisik saya siap, maka dengan memohon kepada petugas ruangan, darahpun jadi diambil saat itu.

BPJS Menanggung Semuanya

Kaget.
Kaget tentu saja.
Saat melakukan konfirmasi pembayaran Rawat Inap di Kasir BPJS, Asuransi yang kami gunakan untuk merawat Gek Ara selama dua setengah minggu di RS Sanglah, rupanya ditanggung Full oleh BPJS. Padahal total biaya yang dikeluarkan selama proses tersebut cukup banyak, kisaran 21jutaan.
Seperlima biaya yang kami habiskan dalam waktu yang sama saat adik dirawat di Puri Bunda sejak kelahirannya tempo hari.

Pulang 01

Ealah… tahu begitu, mungkin sejak awal malah lebih baik menggunakan BPJS di RS Sanglah saja ya ? Bathin saya saat berjalan balik ke sal Cempaka dimana Gek Ara dirawat semingguan terakhir.
Tapi yah… ini semua ada hikmahnya juga kok. Diambil positifnya saja.

Lega

Sesampainya Gek Ara di rumah, saya segera mengabarkan beberapa Kawan dan Saudara yang intens menanyakan kabar putri ketiga kami ini, bahkan satu dua diantaranya sempat pula memberi Advis, mengingatkan saya pada hal-hal yang selama ini luput dari kemampuan saya dalam menyadari situasi dan kondisi semacam ini.
Maka sudah sewajarnyalah saya mengucapkan banyak Terima Kasih untuk mereka, dan juga kalian yang telah mampir di blog ini lalu berkomunikasi dan menyapa lewat akun Whatsapp maupun sms, berkeinginan untuk menengok tapi selalu saya larang mengingat ketiadaan tempat untuk menerima kehadiran kalian. Tapi apa yang tersampaikan, sudah cukup memberikan semangat dan harapan untuk tetap berusaha meskipun lelah dan nyaris putusnya asa di tengah perjuangan ini.

Menyitir kalimat #ngehek yang pernah saya baca, ‘jika kamu tak merasakan capek, maka kamu tidak sedang berjuang untuk mendapatkan hasil tersebut…’

Jadi bisa dikatakan, malam ini bolehkan jika kami sudah bisa menarik nafas lega. Meskipun bukan tidak mungkin, pola tidur si adik Gek Mutiara ini kelak akan mirip dengan kedua kakaknya yang pula menguras tenaga juga pikiran utamanya saat malam hari dimana belasan tubuh lainnya sedang beristirahat dengan nyamannya. Akan tetapi, dengan kehadirannya di rumah ini, saya jauh lebih yakin bahwa semua rasa capek itu takkan sebesar saat kami masih menjalaninya di rumah sakit manapun.

Pulang 08

Sekali lagi, Terima Kasih. Matur Suksema semuanya untuk Dukungan dan Do’a selama satu bulan ini. Semoga kelak, Gek Mutiara putri ketiga kami bisa membalas semua amal baik kalian dengan cara yang ia yakini nanti.

Sekian dulu laporan dari kamar tidur yang bisa disampaikan sembari menunggu waktu pemberian obat dan mimiknya Gek Ara. Denpasar, Nangka 31, 10.01 PM.

Selamat Pagi Mutiara AnnikaDewi Cantikku

Category : tentang Buah Hati

Cepat Sembuh Nak…

Bapak Kangen peyuk peyuk nak Cantik…

Ara 02

Jangan lama-lama nginep di sal Cempaka, kasihani Ibumu sayang…

Sepi… meNyepi…

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Nyaris tak ada hal khusus yang bisa dilakukan pada hari Sabtu, 21 Maret 2015 yang dirayakan oleh seluruh umat Hindu di Bali sebagai Tahun Baru Caka 1937. Jauh berbeda dengan kesibukan yang berkesinambungan sebelumnya.

Tadinya sih berencana meminta surat ijin jalan di Nyepi kali ini untuk meluncur ke Rumah Sakit Sanglah, tempat dimana putri kami Gek Mutiara dirawat dan ditunggui Ibunya, tapi batal mengingat tiadanya fasilitas tidur dan beristirahat disana bagi penunggu selain Ibunya. Maka sehari sebelumnya, kami membawa semua pesanan dan bekal bagi sang Ibu, demi melewati kesepian hari ini.

Dua disana, Dua lagi disini.
Maka untuk menghandel dua cantik nakal yang kami miliki ini, sedari kamis sore hingga jumat siang kemarin, keduanya diajak keliling kota Denpasar untuk menghibur hati yang sunyi tanpa kehadiran sang Ibu serta membebaskannya dari jam malam untuk menonton pawai ogoh-ogoh yang lewat di depan rumah. Yang sayangnya, sebagian besar yang kami tonton, sudah jarang menggunakan iringan gambelan Baleganjur saat mengarak sang Bhuta Kala, berganti dengan House Musik atau Dangdut Koplo. Membuat barisan ogoh-ogoh jadi kehilangan makna dan wibawanya.
Mengecewakan…
Belum lagi rute beberapa banjar tampaknya berbalik langkah mengingat di Desa Tonja tampaknya ada perhelatan lomba ogoh-ogoh sehingga barisan usai jauh lebih awal dari tahun sebelumnya.

Selain minim gambelan, rata-rata perawakan sang Bhuta masih dibuat dari bahan yang katanya tidak ramah lingkungan, jadi masih bisa dibuat indah dan detail. Berbeda dengan sosok yang dibuat dari anyaman bambu dan tempelan kertas koran. Lekuk tubuhnya sedikit lebih kasar dan sukar dibentuk mendetail, dan juga secara aksi jadi jauh dari fenomenal mengingat berat ogoh-ogoh sulit diprediksi. Tapi sudahlah, yang penting Sekaa Teruna di banjar kami sudah mencoba melakukannya sesuai Edaran meski tak ikut dalam lomba, yang hasilnya tak kalah keren dari yang lainnya. Akan tetapi, tumben juga kalo tahun ini saya gak lagi menurunkan liputan foto ogoh-ogoh di seputaran Kota Denpasar. Selain kesibukan kerja, terkendala pada rutinitas ke RS Sanglah dan galaunya suasana hati. Maaf ya…

Pagi tadi usai mandi, maturan, sembahyang dan melayani si kecil Intan, saya hanya mencoba membersihkan kamar tidur dari debu diatas almari pakaian dan juga barang barang yang ada disekeliling. Hasilnya, jadi lumayan bersih dan rapi ketimbang semalam. Selain itu, menitip beberapa baju dan celana kotor pada mesin cuci untuk melapangkan bau ruangan, juga dilakukan sambil membuang waktu percuma dengan menengok beberapa games mobile di ponsel dan tablet Android. Siang ini malah bingung juga mau ngapain lagi.

Ini kali pertama saya melewatkan Nyepi tanpa kehadiran istri di rumah. Jadi kesepian juga ceritanya.
Komunikasi hanya bisa dilakukan sesekali karena ia harus merawat adik Mutiara mengingat kehadiran perawat amat sangat terbatas di sal Cempaka dua hari ini. Meski begitu, semuanya dipaksakan tertumpah dalam messenger. Jadi ya… gak ikutan Amati Internet nih ceritanya.

Dan bentar lagi, adik bakalan mendekati usia 42 hari. Semoga saja ia bisa pulang sebelum itu. Sudah hampir tiga minggu saya tak bisa lagi mengelus dan menciumnya.
Kangen…

Selamat Pagi Cantikku, Selamat Pagi Cintaku

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KHayaLan

Alarm ponsel berdering nyaring, sementara mata belum mau kompromi dengan hati, maka kumatikan kipas angin yang mendinginkan hawa kamar tidur ini, dan kulanjutkan tidur sedikit lagi.

Alarm ponsel kembali berdering nyaring, dua puluh menit tambahan sudah kulahap habis, sudah saatnya untuk bangun pagi dan mandi, jika tak ingin terlambat lagi.

Dua cantikku masih lelap tertidur di kamar nenek, aku beringsut menuju toilet untuk melancarkan percernaan, satu rutinitas pagi yang dilalui tanpa sapa siapapun.

Usai mandi kubangunkan si sulung cantik. Sementara si adik meminta sebotol susu lagi. Iapun memilih untuk tetap leyeh leyeh di tempatnya sambil menonton televisi. Waktu masih terlalu pagi untuk berkemas rapi.

Aktifitas hari ini mulai terasa sepi. Istri sudah mulai menjagai si cantik bungsu di rumah sakit sejak jumat malam, demi kepulihan dan kesehatan si kecil, kami semua harus berbagi waktu, berbagi tugas.

Tak ada lagi rasa yang bisa dibagi. Masing-masing menjadi sibuk dengan keadaan yang memaksa. Hari-haripun menjadi makin sunyi.

Saat malam pun kini jadi dilewati tanpa kesan. Hanya tawa canda dua cantikku yang saling berbalas usil, tanpa mampu ceriakan hati seperti dahulu.

Entah sampai kapan ini akan kami lalui. Mungkin hanya waktu yang akan bisa menjawabnya. Sampai menanti semua itu tiba, sepertinya memang harus dipaksa untuk optimis.

Cantikku 6

Selamat Pagi Cantikku…
Selamat Pagi Cintaku…
Ayo kita lalui sama sama semua ujian ini…

…campur aduk…

Category : tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Capek, penat, lelah… tapi apa daya gak semuanya bisa dipecahkan masalahnya…

Gula Darah makin tinggi. 378 mg/dl… mendekati batas awal dua tahun lalu.

Tekanan Darah menurun. 100/80… pantes saja semua aktifitas rasanya bikin enegh, bikin pusing, gak karuan…

Tepat sebulan lalu putri kami lahir di Puri Bunda. Tekanan demi tekanan hadir hampir setiap hari, setiap malam bahkan setiap saat nada telepon itu berdering.

Baru mulai berkurang saat bayi kami rujuk ke RS Sanglah. Tekanan berkurang, emosipun jauh berkurang. Tapi fisik, gak bisa dibohongi…

Kini bayi kami sudah jauh lebih membaik kondisinya. Ia pun mulai ditemani sang Ibu di sal Cempaka. Tapi aku, gak pernah bisa melihat keduanya berbarengan secara langsung. Bingung juga…

Hanya mendengar cerita tanpa bisa menyentuh. Hanya melihat tanpa bisa mengagumi. Hanya menghela nafas tanpa bisa menyanyikannya.

Capek, penat, lelah…
harus sampai kapan ?

Menunggui Anakku, Selasa Malam di emperan selasar Cempaka 4

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Jika saja kondisinya sudah jauh lebih baik Nak, mungkin Bapak takkan sesedih ini duduk sendirian di emperan selasar sebelah sal Cempaka ruang keempat. Karena bagaimanapun juga kasarnya temperamen Bapakmu, tetap saja ada rasa kangen untuk sekedar melihat wajah cantikmu semingguan ini.

Jika saja aku diberi kesempatan untuk bertemu Nak, mungkin kan kuberi pelukan hangat dan sayang sebagaimana yang sering kuberikan pada dua kakakmu saat kurindu pada wajah anak-anakku.

Jadi biarlah malam ini kulewati sejenak waktuku untuk memandangi kaca jendela buram yang menjagamu agar tetap hangat berada didalamnya.

Jika boleh kuhitung Nak, ini sudah hari keduapuluhtiga kamu lahir, namun sampai hari inipun aku belum pernah bisa menggendong dan menciummu dengan segala cinta kasih yang kupunya. Jadi wajarlah jika aku hanya bisa diam disini sambil berharap kelak kau kan membuka mata, menyadari kehadiran Bapakmu ada disisimu selalu.

Infeksi yang menyerangmu sejak dalam kandungan itu kelihatannya membuatmu jauh lebih menderita dari apa yang pernah kami bayangkan Nak, namun kami pun tak pernah berharap itu terjadi padamu, putri cantikku. Jadi, jika saja aku bisa menyembuhkanmu dengan kedua tanganku tentu sudah kulakukan sejak dahulu sehingga takkan sampai menyakitimu Nak.

Dan takkan pernah, tidak akan pernah terlintas, terbayang bahkan tersirat dalam pikiranku untuk meninggalkanmu sendirian dalam ruangan ini jika saja aku diijinkan untuk menjaga tidurmu Nak, seperti yang pernah kulakukan untuk ibu dan kedua kakakmu.

Jadi jangan pernah bersedih hanya karena kamu tak pernah melihatku disini, disisi tempatmu dirawat, begitupun sentuhan, senyum, belaiku, dan nyanyian serta doaku. Karena aku kan selalu mengingatmu dalam semua tindakanku.

7.40 PM, masih di emperan selasar selatan sal Cempaka, Rumah Sakit Sanglah

Cerita Satu Sore di Sal Cempaka

Category : tentang Buah Hati

Tangisannya masih keras terdengar saat kami melangkah pulang. Kata Ibunya, si Cantik seperti ingin mengadu, tak mau ditinggal pergi. Sedangkan kami, begitu tahu perkembangan si Bayi akan dipuasakan kembali, sepertinya pulang merupakan pilihan agar bisa beristirahat setelah seharian berada di RS Sanglah.

Pukul 10 pagi, kami tiba di PJT Sanglah. Setelah berbagi tugas, kami menjalankan kewajiban masing-masing sembari menunggu Konsul dengan Dokter Jaga. Dua jam kemudian, saya mendapat kabar dari Istri, bahwa adik akan dipindah ke sal Cempaka hari ini. Informasi yang sama kami dapatkan saat jumat malam lalu. Berbeda dengan malam itu, rencana kepindahan hari ini, sudah di Acc oleh Dokter Dharma Artana, dokter yang sama merawat putri kami sejak di Puri Bunda.

Lima Jam lamanya kami menunggu persiapan kepindahan, waktu yang lumayan lama sebetulnya jika digunakan untuk beraktifitas lain, istirahat misalnya. Infonya sih, butuh waktu yang tak sedikit untuk mensterilkan Inkubator yang nantinya akan digunakan oleh si Bayi berikutnya.
Namun demi anak, kamipun sama-sama mengutamakan penantian meski sempat jenuh duduk di areal depan gedung PJT, setelah diusir Keamanan lantaran terlalu lama berada di sejuknya ruangan PJT.

Mutiara PanDe Nyoman 03

Karena Tangisannya yang sudah cukup keras dan kencang, merupakan salah satu penyebab Gek Ara dipindahkan ke Sal Cempaka. Sal Isolasi dimana hanya sang Ibu saja yang diijinkan berinteraksi menyusui dengan anaknya, tanpa diperbolehkan ditengok oleh anggota keluarga lainnya, Ayah sekalipun.
Dimana secara fisik luar, si Cantik ini sudah tergolong stabil, meski secara hasil cek darah, masih ada beberapa catatan penting lainnya yang harus dicermati kembali.
Namun berhubung ia tak lagi menggunakan Oksigen, dan alat-alat perawatan NICU, maka dengan keputusan dokter, ia kini bisa turun ke tahap 2, tahap untuk berinteraksi dengan si Ibu, meski masih tetap berada dalam naungan Inkubator.

Perut Gek Ara terpantau bengkak lagi, walau tak sebesar dulu. Sedikit cairan berwarna kecokelatan juga masih tampak hadir dalam residu yang dimasukkan kedalam mulutnya. Itu sebabnya, ia kini harus dipuasakan lagi hingga cairan itu tak lagi dikeluarkan. Setelahnya, ia akan diberi mimik ASI melalui botol yang disiapkan dari sang Ibu, baru kemudian dievaluasi kembali. Begitu berulang hingga batas toleransi terpenuhi.

Beberapa pe-er khusus yang kini masih tersisa dari perawatannya adalah pemeriksaan terkait Cairan Otak dan Mata (ROP) yang ditenggarai merupakan efek samping dari penggunaan Inkubator dan Oksigen yang cukup lama, dan juga Jantung serta Hati akibat dari Infeksi yang dideritanya. Ohya, sakit yang dialami putri kami ini disebutkan sebagai Sepsis oleh dokter yang menanganinya. Infeksi Berat, begitu kurang lebihnya.

Jadi, tetaplah kami meminta Do’a dari semua kawan dan saudara, untuk kesehatan dan kepulihan Putri Ketiga kami ini, agar bisa sembuh dari sakitnya itu. Sehingga kami pun bisa segera berkumpul dengan si Cantik Mutiara.

Sudah tak sabar ingin menciumnya…

Berkorban dan Berjuang Sama Sama

Category : tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Masing-masing dari kalian, yakin pernah bahkan masih menekuninya, satu upaya pengorbanan yang dilakukan demi orang yang disayang. Demikian halnya kami.

Dua setengah minggu di Puri Bunda, dua kali sehari, ditambah doa dan tangisan, rasanya belum cukup untuk membawa pulang si Cantik dari perawatannya sejak lahir. Naik turun kondisinya selalu dikabarkan mengingat ia tak boleh dijenguk kecuali orangtua sendiri. Biaya rupiahpun kami pertaruhkan demi putri ketiga ini. Namun sepertinya Tuhan belum berkenan akan semua itu.

Perjuanganpun kini dilanjutkan di ruang yang sama RS Sanglah.

Sejak Rabu lalu, si Cantik kami rujuk berhubung kondisinya menurun lagi. Dengan perut yang membengkak, ia direncanakan puasa kembali hingga mencari waktu yang tepat untuk diberikan mimik ASI.

Ada banyak perubahan yang kami alami dari perpindahan ke RS Sanglah ini. Utamanya berkaitan dengan Pelayanan.

Puri Bunda memang mahal, namun pelayanannya pun sangat memuaskan. Keluarga pasien tidak direpotkan dengan urusan administrasi, menunggu dan lainnya. Semua bisa dibayar dengan rupiah. Sedang di RS Sanglah, dengan memanfaatkan asuransi kesehatan BPJS, mau tidak mau keluarga pasien harus meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengurus administrasi, menunggu dan menanti hal yang kadang tak pasti.
Seperti kata pak Ahok, kalo memang Miskin ya harus sadar, jangan banyak lagak.

Aturan di NICU RS Sanglah, ruangan steril dari kunjungan orang tua. Ini berbeda dengan Puri Bunda dimana orangtua masih diijinkan masuk ke ruang NICU untuk melihat dan menyentuh anak mereka. Awal diberitahu, saya sempat bengong, tapi demi kesehatan si Cantik, rasanya memang perlu pengorbanan ini dilakukan. Soal ini ditambahkan pula dengan tak bisa dilihat meskipun dari balik kaca ruangan, dimana selalu ditutup dengan tirai rapat. Satu-satunya Aturan tambahan yang kemudian agak menghibur adalah, kami diijinkan untuk menitip Foto anak kepada perawat yang menjaganya. Tentu hal ini juga berbeda dengan aturan di Puri Bunda dimana kami harus sembunyi sembunyi saat mengambil gambar baik foto maupun video.

Perjuangan lainnya adalah Mencari Parkir.
Jika di Puri Bunda persoalan parkir bukan menjadi satu masalah besar, tidak demikian halnya dengan di RS Sanglah. Hari pertama kami berkunjung, parkir baru bisa didapatkan diseputaran Serma Made Pil, belakang Alfa. Parah benar. Tapi tidak demikian saat waktu kunjungan bergeser ke sore hari. Agak lapang jika dibanding kunjungan pagi. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan sepeda motor meski dengan resiko kehujanan.

Akan tetapi bersyukur juga kalau dulu pernah punya pengalaman menginap di Sanglah selama 9 hari. Jadi untuk urusan makan, maturan dan lainnya, sudah hafal tinggal penyesuaiannya saja.

Sementara kami berupaya disini, adik Cantikpun kami yakin memiliki perjuangannya sendiri. Bertahan dalam sakit menuju kesembuhan yang kami harapkan selama ini. Jadi ya… sama sama Berjuang, sama sama Berkorban. Demi satu cita, berkumpul bersama Keluarga.

Banyak Jalan dari-MU

Category : tentang Opini

Kalau sudah jodoh ya pasti ada saja jalannya.

Kurang lebih begitu keyakinan yang kami dapatkan sedari awal proses perawatan Gek Ara, putri ketiga kami hingga kini.
Karena sesungguhnya dengan keterbatasan kemampuan yang kami miliki, ada banyak jalan yang kemudian ditunjukkan oleh-Nya melalui banyak tangan.

Katakanlah kisah Selasa Malam lalu. Dimana pada pukul 11 malam, saya dihubungi oleh salah satu kerabat yang kini sedang berbisnis mutiara, hanya untuk mengingatkan bahwa upacara yang kami kira sudah selesai dilaksanakan pada hari sabtu sebelumnya, ternyata belum usai bahkan belum apa-apa.
Andaikan saja ia tak menghubungi kami, maka bisa jadi sampai hari ini kami belum jua menyelesaikan proses yang sudah seharusnya dilaksanakan.

Begitu juga petunjuk lain yang bisa jadi mengarah pada harapan bagi umatnya agar kembali pada jalan yang benar. Minimal dengan rajin berbuat sebagaimana yang diajarkan agama dan etika, pula belajar dari awal untuk sebuah tujuan yang mungkin sudah sering diingatkan sejak dahulu.

Siapa yang mengira, jika Beliau memiliki banyak tangan untuk memberikan petunjuk pada kami lewat sebuah kisah pelik putri kami yang ketiga.

Maka sudah sepatutnyalah kami bersyukur atas semua itu. Dan berharap Ia kan senantiasa memberikan cahaya sucinya pada putri kami untuk kesembuhan dan kepulihannya sehingga kami dapat berkumpul kembali sebagaimana harapan.

Rutinitas Dua Minggu

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Waktu sudah menunjukkan jam besuk ruang NICU, kamipun bersiap menuju kendaraan dan berangkat menyusuri jalan Nangka, Patimura, Suli, Sarigading, lalu Gatsu IV menuju Rumah Sakit Puri Bunda.
Pulangnya, kalo gak kearah timur melewati Hotel Nikki, kearah barat melewati kantor PU Kota Denpasar, pilihan lainnya ya kearah Utara kembali pada rute awal. Begitu terus. Dua kali sehari, pagi dan malam. Selama dua minggu terakhir.

Sesampainya di parkiran, istri biasanya naik duluan ke lantai 3 sementara saya bersiap mebanten, ngaturang canang lan mebakti di Padmasana rumah sakit, untuk memohon kesehatan dan kepulihan putri cantik ketiga yang saya miliki ini.
Sambil melantunkan doa, kadang jika rasa itu tak kuat ditahan pasti ada saja air mata yang dijatuhkan.
Kami begitu cengeng dua minggu ini.

Rutinitas 8

Ruang yang biasa dijadikan tempat untuk menunggu jika keadaan sepi adalah Konsultasi. Meskipun disitu sudah ada larangan agar tidak menjadikannya tempat menunggu.
Namun jika kondisi ramai oleh keberadaan para orang tua bayi yang dirawat di ruang Intensif, kami akan menunggu di areal depan, dekat void lantai 3.
Sebelum pulang, biasanya kami mengobrol sebentar menceritakan pengalaman menengok baby didalam untuk kemudian pulang melalui lift pengunjung. Begitu terus dua minggu ini.

Saat menunggu giliran, biasanya kami akan bercakap antar orang tua mengisahkan sakit bayi masing masing sembari bertukar keluh kesah lantaran merasa senasib. Jika tidak, saya akan mengirimkan hasil foto dan video jepretan diam-diam ke ponsel Istri dan beberapa akun saudara lainnya untuk berkabar.

Ah, rutinitas…

Semoga tidak berlanjut terlalu lama