Merekam Budaya lewat Teknologi

3

Category : tentang InSPiRasi

Hari Raya Nyepi baru saja usai. Dari sekian banyak proses menuju hari yang disucikan oleh Umat Hindu tersebut, beberapa diantaranya bisa jadi sangat dinanti oleh sebagian masyarakat. Entah itu berkaitan dengan kelangsungan upacara, keramaian hingga estetis budaya dan pernak perniknya.

Ada untungnya juga bahwa kini adalah masa berkembangnya Teknologi. Satu keuntungan dimana umat manusia dipermudah aksesbilitasnya terhadap segala bentuk aspek kehidupan yang diharapkannya. Orang tak lagi harus berada dilokasi kejadian karena sudah sedemikian banyak orang lain yang berusaha mengabadikan setiap momen tertentu dalam bentuk gambar bergerak ataupun diam.

Jejaring sosial menjadi ajang bertemunya semua kepentingan. Dari yang sekedar ingin tahu, keinginan untuk eksis dan mencoba menampilkan ketrampilan yang dimiliki agar diketahui banyak orang. FaceBook merupakan salah satu yang paling dinanti.

Berkawan dengan orang-orang yang memiliki ketrampilan khusus dalam kemampuannya dalam mengabadikan setiap momen tertentu dalam bentuk gambar bergerak ataupun diam adalah Anugerah bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya, keterbatasan waktu atau keterbatasan sarana untuk kemudian ikut memiliki rekaman budaya yang diharapkan hanya untuk koleksi pribadi.

Maka lewat BLoG ini saya berterima kasih kepada Saudara/i Ian SumatikaAdi SuryanegaraVira YunitaAtma Maya,Wayan Adi Sudiatmika dan Wayan Eka Dirgantara yang telah dengan setia mengabadikan setiap momen budaya yang terjadi selama kurun waktu Tahun Baru Caka 1932 kemarin. Sungguh beruntung Bali memiliki orang-orang yang bertalenta.

Salam dari Pusat Kota Denpasar

Mengusik Nyepi cara Ibnu Rachal Farhansyah

87

Category : tentang KeseHaRian

Nama Ibnu Rachal Farhansyah mendadak menjadi Trend dikalangan pengguna FaceBook, satu jejaring sosial yang begitu booming di Negeri ini. Ketenaran nama tersebut kurang lebih menyamai nama seorang FaceBooker (sebutan bagi pengguna FaceBook) yang tempo hari sempat pula mencuat saat perseteruan Cicak vs Buaya, Evan Brimob.

Saya pribadi merasa heran lantaran diundang oleh seorang teman yang juga Rekan Kantor untuk bergabung dalam sebuah group ‘Usir Ibnu Rachal Farhansyah dari Bali’. Siapa pula orang ini ? Baru mulai tersadar setelah mendapatkan sedikit bocoran dari Koran FesBuk, salah satu penyedia berita terkini di jejaring sosial yang sama, bahwa yang bersangkutan, Ibnu Rachal Farhansyah telah menuliskan kata-kata yang kurang etis terkait Hari Raya Nyepi. Kurang menghormati keragaman agama yang ada di tanah air ini.

Sekedar informasi, Ibnu Rachal Farhansyah melakukan update status melalui ponsel (dilihat dari tulisan Mobile Web) pada hari Selasa 16 Maret 2010 “nyepi sepi sehari kaya tai”, yang kemudian ditanggapi secara serius oleh rekan-rekannya.

Tidak menunggu waktu lama, reaksipun ditunjukkan dengan mencuatnya angka 6.000 pengguna FaceBook yang tergabung dalam group diatas. Belum lagi beberapa group lain yang senada. Betapa menakutkannya sebuah kekuatan dunia maya.

Pria yang kini sedang bertunangan dengan seorang gadis bernama Nur’aini Safanti Rani, rupanya kurang menyadari efek jera yang mampu dilakukan oleh kekuatan dunia maya di negeri ini, apalagi ranah hukumnya sudah diperjelas dengan keberadaan UU ITE. Entah karena merasa bersalah ataukah khawatir bahwa kebodohannya akan berbuntut panjang, pria bernama Ibnu Rachal Farhansyah ini kemudian membuat satu group tandingan “maafkan Ibnu Rachal Farhansyah” yang sampe detik yang sama baru mendapatkan kurang lebih 150 anggota.

Sebenarnya untuk mengusut keberadaan seseorang yang bertindak arogan disebuah jejaring sosial FaceBook tidaklah sulit. Apalagi yang bersangkutan ada juga di situs pertemanan lainnya seperti Friendster. Tinggal ‘mendekati’ orang-orang yang berada disekitarnya, saya yakin banyak informasi yang bisa didapat. Tapi biarlah, karena Tuhan tidak pernah tidur.

Nasi sudah menjadi bubur kata orang bijak. Jangan sekali-sekali menghina orang apalagi sampai menghina agama, sangat berbahaya. Kata ‘maaf’ yang belakangan terucap sepertinya bakalan sia-sia lantaran emosi yang diakibatkan jauh lebih besar. Tinggal tunggu waktu saja.

Terlepas dari ‘update status’ yang dipublikasikan oleh saudara Ibnu Rachal Farhansyah, saya pribadi beranggapan bahwa ‘bisa jadi ini hanyalah satu suara yang terungkap dari sekian banyak yang terpendam di negeri ini…

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932

6

Category : tentang KeseHaRian

Tak terasa setahun sudah terlewati, tahun dimana begitu banyak hal yang terjadi dan ditumpahkan, baik dalam lingkup keluarga besar hingga personal. Demikian pula halnya dengan Umat Hindu. Setahun penuh dilewati dengan berkarya dan ber-yadnya.

Di tahun baru Caka inilah, umat Hindu dimanapun mereka berada dengan gembira menyambutnya dengan kesunyian alam atau dikenal dengan Hari Raya Nyepi. Satu hari dimana umat Hindu menerapkan empat pantangan yang tak boleh dilakukan. Amati Geni (tidak menyalakan api –termasuk cahaya), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan apapun), Amati Lelungan (tidak bepergian kemana-mana) dan Amati Lelanguan. Kembali pada titik Nol, kata orang. Bisa juga diartikan kembali pada pikiran yang kosong setelah selama setahun dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Nyepi merupakan salah satu hari yang disucikan oleh Umat Hindu,  dimana selama proses Hari Raya Nyepi ini biasanya Umat Hindu melaksanakan Tapa Brata atau berpuasa, dari tingkatan paling rendah 12 jam, 24 jam hingga 36 jam. Tidak makan dan minum dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Agama. Namun jangan salah sangka, tujuannya bukanlah menghapus dosa, namun menenangkan pikiran dan kembali ketitik Nol tadi. Titik dimana Umat Hindu akan memulai hari dengan aktifitas yang semestinya ia laksanakan.

Sayangnya belakangan sebagian Umat Hindu tak lagi mampu melaksanakan kewajibannya tersebut, dan memanfaatkan proses Hari Raya Nyepi untuk mabuk-mabukan, berjudi (maceki) dan saling mengunjungi antar keluarga. Ada juga yang kebablasan memasak dan menyiapkan makanan secara berlebihan atau memborong isi swalayan seakan-akan kehidupan akan terhenti sejak saat itu. Tentu saja harapan saya jangan sampai sejauh itu.

Nyepi saya rasa sama saja dengan hari yang lain, hari yang sama sekali tak patut kita khawatirkan, lain hal apabila ada kerabat yang meninggal atau malah kelahiran anggota keluarga baru. Hari yang sama, kurang lebih begitu. Hanya saja, khusus satu hari ini, kita sebagai umat Manusia kembali berserah pada alam, pada-Nya, pada yang menciptakan seisi bumi ini. Kita sebagai umat manusia diharapkan dapat sedikit merenung akan apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan berharap esok akan kembali menjadi lebih baik lagi.

Bagi mereka yang mengenal dunia maya, apalagi yang melakukannya hanya sebatas hobby, entah nge-BLoG, tweet atau FaceBook-an, saya rasa bisa saja khusus pada satu hari itu tidak melakukan aktifitasnya, tidak terkoneksi dengan internet, tidak update status atau update tulisan dan lain-lain. Kira-kira bisa gak ya ???

Bagi sebagian lainnya, Nyepi bisa jadi kemudian menjadi inspirasi. Lahirnya ‘World Silent Day’, satu hari dimana dalam selama 4 (empat) jam, kita sebagai umat manusia diharapkan berkenan menghentikan segala aktifitasnya. Untuk memberikan ruang bagi alam dan kesunyiannya. Tidak jauh berbeda bukan ? namun hanya untuk 4 (empat) jam saja.

Selamat Tahun Baru Caka 1932, Selamat merayakan Hari Raya Nyepi bagi seluruh Umat Hindu khususnya dan Umat Manusia umumnya. Semoga ditahun yang akan datang kita sebagai Umat-Nya mampu berbuat jauh lebih baik lagi dari hari ini.

Salam dari PuSat Kota Denpasar, PanDe Baik beserta keluarga.

…dan kamipun terkesima Ogoh-Ogoh se-Kota Denpasar

13

Category : tentang Opini

Terjebak ditengah kemacetan lalu lintas Catur Muka lantaran ingin menyaksikan secara langsung satu persatu Ogoh-Ogoh yang mendapatkan juara per kecamatan sekota Denpasar bersama si kecil MiRah dan ibunya, membuat peluh bercucuran serta tangan mulai pegal menahan kopling dan gas. Keramaian hari ini memang lain dari biasanya.

Puluhan, ratusan bahkan ribuan kamera berusaha mengabadikan satu persatu barisan para raksasa yang terpampang ditepi jalan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dari kamera beragam ponsel hingga digital kamera beragam tipe lalu lalang dari satu ogoh-ogoh ke lainnya. Dari yang berjalan kaki, diatas sepeda motor hingga dari dalam mobil, penuh sesak di ruas jalan yang hanya setengahnya saja dapat digunakan.

Barisan Raksasa yang dibuat dalam kurun waktu kurang lebih sebulan sebelumnya tampak gagah dengan warna warni rupa dan keangkerannya, tergambar begitu jelas dari raut muka dan tingkah laku yang ada. Mulai dari kisah pewayangan, Mahabrata dan Ramayana hingga yang menyindir perilaku manusia seperti kegemarannya mengurik togel, dari yang bertemakan sosial dengan suntikan anti rabies hingga penokohan kartun Ipin & Upin berusaha ditampilkan oleh para Arsitek didaerahnya masing-masing.

Keluwesan hasil visual dipadu dengan ide konstruksi yang makin membuat kami terkesima, membuat keyakinan itu tumbuh bahwa benar mereka pantas menyandang gelar juara pada Lomba Ogoh-Ogoh yang diadakan oleh Pemerintah Kota Denpasar  tahun ini. Rata-rata hanya bergantung pada satu konstruksi pokok yang menalangi sekian banyak sosok diatasnya. Ada yang beruba pecut (cemeti), tongkat, tumpuan salah satu kaki, kain hingga wayang, mencerminkan betapa kokohnya pondasi dasar yang digunakan.

Memang harus diakui bahwa wajar ada pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil atau nilai penjurian yang telah dilakukan minggu sebelumnya, karena rata-rata ogoh-ogoh yang ada benar-benar mengagumkan, menakjubkan dan membanggakan. Bahwa ternyata Kota Denpasar menyimpan banyak Arsitek mumpuni dibidang seni dan terbukti mampu mewujudkannya dalam satu hasil karya apik, tidak hanya sebatas teori saja.

Menyusuri satu persatu jalanan Kota Denpasar pasca terlepas dari kemacetan yang terjadi, makin membuat kami terkagum-kagum. Entah berapa juta biaya yang telah dihabiskan untuk merancang dan mewujudkan sekian banyak ogoh-ogoh di seantero Kota Denpasar, dari yang sebesar raksasa hingga sekecil mungil buatan anak-anak, dari yang asal jadi hingga yang mencerminkan keakuratan desain dan pemikiran banyak kepala, membuat harapan kami membuncah, semoga saja setelah Lomba ini usai, tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk dan menodai kesucian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932 esok hari…

Sambil menanti perhelatan Lomba nanti malam, dari Pusat Kota Denpasar, PanDe Baik beserta Keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932…

Nyepi Bertiga

Category : Cinta

Melewatkan malam gelap gulita saat Nyepi kmaren gak seperti tahun-tahun lalu, dimana semalaman duduk berjaga didepan rumah bareng para pecalang sambil nge-ronda keliling desa.

nyepi-brsama-istri.jpg

Tahun ini, malam pekatpun dilewati bertiga, rebahan bareng dikamar yang sudah sempit oleh lemari dan buku-buku plus tempat tidur yang berukuran jumbo.

Bertiga itu bersama Istri dan sikecil yang kini masih didalam perut sang ibu, namun sepertinya ia sudah tau keberadaan Bapaknya.

Kata sang ibu, kalo Bapaknya jauh, sikecil pasti gak bisa diem didalem perut, tapi kalo sudah deket, langsung diem. Hehe…

Manut sama Bapak ya dik ? 🙂

Ngobrol kesana kmari hingga gak sadar matapun terpejam…

Nyepi tak selalu…

Category : tentang KHayaLan

Meingingatkan diri akan menerapkan Catur Brata Penyepian, nyatanya tak sepenuhnya mampu dilaksanakan.

Melewati Tahun Baru Caka kmaren, mungkin hanya ‘tidak boleh bepergian’ saja yang berlaku sehari penuh. Selebihnya gak beda dengan hari-hari biasa.

Anak-anak tetap saja ribut dengan segudang akal permainan mereka plus nyanyi lagu terkini dengan suara keras pula, sampe-sampe para ortu mereka bingung memberi nasehat.

Yang tua malah melewatkan hari dengan hiburan khas Nyepi, Meceki. Walopun ga pake taruhan uang, tapi keramaian saat salah satu berhasil menang tetap ada dan berujung pada saling mengingatkan untuk gak terlalu ribut. Hehehe…

Persiapan akan buku-buku religi plus psikologis hidup tak semuanya mampu dilahap seharian, karena sempat pula diselingi oleh 2 buah komik terbaru pinjeman dari adik sepupu, Train Man yang ceritanya bener-bener pas untuk orang yang pergaulannya lebih banyak didunia maya, pula cerita tentang penipu (judulnya lupa) yang dijuluki Kurosagi itu. Ditambah tebalnya Harry Potter seri terakhir, yang sengaja dibaca pas 3 bab terakhir saja. Huahaha…

Tapi yang paling banyak, apalagi kalo bukan nge-Blog perihal Ogoh-ogoh dan suasana Nyepi, plus menanti hasil pengobatan Blog yang masuk UGDnya Pak Dokter Cock sehari sebelumnya.

nyepi-nge-games2.jpg

Yang paling asyik, apalagi kalo bukan nge-games via ha pe, mainin Sudoku plus game-game milik Nokia 6275i terbaru.

Selebihnya dilewatkan dengan ngempu Ponakan yang hari ini sudah bisa manggil eh eh eh kalo lagi menghindari dia. 😀

Nyepi : Puasa atau…

6

Category : tentang KeseHaRian

Saat masih teruna dahulu, sejak sekolah menengah pertama, selalu disarankan oleh seorang guru agama, Ibu Dayu Puniadhi, untuk mampu berpuasa tidak makan minum, minimal 24-36 jam.

Maka dicobalah menerapkannya hingga sebelum nikah kmarin. Bisa kok. Tinggal bagaimana menjalaninya aja.

nyepi-makanan.jpg

Tapi setelah menikah, usaha untuk berpuasa gak lagi menjadi satu kewajiban tiap tahunnya, malah menjadi satu godaan terbesar dimana para Ibu seakan berlaku kalau Nyepi itu kiamat yang tiba, sehingga bahan makanan ditumpuk, dan sehari sebelumnya sudah mulai diracik menjadi bahan jadi untuk Soto Ayam, Tipat Cantok, Es Buah, Kue Bolu, beserta camilan-camilan layaknya suasana Lebaran tiba. Belum lagi buah-buahan yang dipake Meprani kmaren.

Alasan mereka, toh juga setahun sekali.Halah….

Celuluk yang Tercecer

4

Category : tentang KeseHaRian

oo-tainsiat.jpg

Ternyata desain saja tak cukup untuk membuat satu ogoh-ogoh yang mampu mengundang decak kagum sedari awal hingga akhir pengarakan. Apalagi kabarnya kmaren ada satu mantan Presiden Negara ini yang turut serta menyaksikan pawai ogoh-ogoh ini dari tribun yang disediakan.

Tak kalah penting, satu hal yang mungkin diabaikan oleh para perancang sekaligus pembuatnya, Konstruksi.Satu hal yang sangat vital apabila ingin membuat satu desain (lihat foto) yang tidak simetris dilihat dari sisi samping. Ini pula yang menyebabkan akhirnya sang Celeluk pun harus tumbang setengah perjalanan sebelum tiba kembali di banjar asalnya.

Sangat disayangkan, mengingat dari segi desain dan penampilan akhir, nyatanya patut diacungi jempol. Mengabaikan konstruksi sama saja dengan menghancurkan segala ketekunan yang diselesaikan dalam waktu singkat tersebut.

Memang menjadi komentator usai kerobohan ogoh-ogoh ini sangat tidak mengenakkan, namun mungkin bisa jadi satu masukan bahwasanya selain visual, harus pula kokoh secara strukturnya. Wah, ini sih cara bicaranya udah menjurus ke ilmu Manajemen Konstruksi. Hehe…

Tapi itu memang benar. Karena kebanyakan para seniman termasuk seorang Arsitek, sangat jarang dalam mendesain suatu bentuk akan memperhitungkan bagaimana cara perwujudan strukturnya agar desain itu dapat terwujud.

Maka dari pengalaman kerja tempo hari, ada arogansi seorang desainer Jepang yang ngotot bahwa di negaranya mampu mengaplikasikan dua buah tiang kayu, dan desain villa dari kayu pula, dengan jarak bentang 25 meter.Walopun disanggah, tapi dianya tetep ngotot.

‘We can built in my Country’. Gitu katanya.Halah…

Kepada seluruh Rekan-rekan….

6

Category : tentang KeseHaRian

nangka-nyepi.jpg

Dari Jalan Nangka mengucapkan,

Selamat Menjalankan Catur Brata Penyepian

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan

menurunkan segala kebaikan-NYA

untuk kehidupan umat Manusia

 

PandeBaik

Raksasa di Kegelapan

Category : tentang KeseHaRian

oo-9-pawai.jpg

Ogoh-ogoh STT Banjar Tainsiat : the Last Minute

14

Category : tentang KeseHaRian

oo-2-tainsiat.jpg

Seperti yang sudah terbayang dalam benak sebelumnya, akan penyelesaian ogoh-ogoh yang dibuat oleh Sekaa Teruna Teruni Banjar Tainsiat ‘Yowana Saka Bhuwana’, bakalan dikebut sedari pagi pada hari Pengerupukan menjelang.

Ogoh-ogoh dibuatdengan payudara (maaf) yang menggelantung, pantat yang sangat nungging dan seakan ringkih. Uniknya, entah kelupaan ato memang disengaja, vulgarnya bagian pantat dilihat dari arah belakang, dipenuhi oleh bulu2 yang berwarna hitam.

Hehe… masih gadis rupanya.

Namun menjelang siang, nyatanya ogoh-ogoh yang dibuat dalam waktu singkat ini dapat selesai dengan baik, dan memang tidak seperti Celuluk biasa, pakaian yang dipakai bukan berwarna hitam putih merah, melainkan hanya kemben putih diatas lutut.

Sungguh, salut diucapkan kepada sang Arsitek ogoh-ogoh yang hingga hari ini makin terbukti mampu menghasilkan buah karya terbaik dalam sejarah STT Banjar Tainsiat ini.