Memantau Penghinaan terhadap Bali, Nyepi dan Hindu di akun FaceBook

Category : tentang KeseHaRian

Tempo hari sebelum hari raya Nyepi, saya masih sempat menyampaikan beberapa kalimat ungkapan hati, berkaitan dengan upaya penghinaan terhadap Bali, Nyepi maupun Hindu yang terpantau di akun FaceBook setiap kali Tahun Baru Caka datang.

Sudah biasa sebenarnya.

Lihat saja di halaman blog ini, ada beberapa tulisan yang dipublikasi dengan tema serupa. 2-4 tahun lalu.
Trus, kini masih ada ?

Tentu saja. Wong ndak semua bisa berpikiran sama kok. Dan sebagaimana pohon, tunas baru selalu bermunculan dengan kedewasaan dan pemahaman toleransi yang berbeda. Atau kalau mau, baca saja media cetak pasca Nyepi kemarin. Ada tuh beritanya.

Tapi iseng-iseng, saya mencoba memantau kembali, akun akun FaceBook mana saja yang tertangkap melakukan penghinaan ini. Dengan menggunaan kata kunci seperti (maaf) ‘Fuck Bali’, ‘Fuck Hindu’, ‘Fuck Nyepi’ atau dengan kata domestik (lagi-lagi maaf) ‘Bali Bangsat’, ‘Hindu Bangsat’, atau ‘Nyepi Bangsat’.

Ternyata dari beberapa hasil pencarian, rupanya tidak tertutup pada akun facebook di lokal domestik saja. Tapi ada juga yang dari akun FaceBook mancanegara. Dengan berbagai latar belakang alasannya. Bahkan meski tanpa melalui kata, ada juga kok akun lokal baik itu semeton Hindu dan juga umat lain, yang melakukan pelecehan akan pelaksanaan Nyepi itu sendiri.
Yuk lihat hasilnya.

Untuk

Hate Speech FB Lokal 01

Hate Speech FB Lokal 02

Hate Speech FB Lokal 03

Hate Speech FB Lokal 04

Hate Speech FB Lokal 05

Hate Speech FB Lokal 06

Hate Speech FB Lokal 07

Hate Speech FB Lokal 08

Hate Speech FB Lokal 09

Hate Speech FB Lokal 10

akan tetapi ada juga yang lewat BBM

Hate Speech BBM

makna nyepi

Hate Speech FB Makna 02

Hate Speech FB Makna 01

Hate Speech FB Makna 03

Hate Speech FB Makna 04

atau Blog

Hate Speech BloG

dan mancanegara

Hate Speech FB Manca 01

Hate Speech FB Manca 02

Hate Speech FB Manca 03

Hate Speech FB Manca 04

Hate Speech FB Manca 05

By the way, beberapa kawan yang tempo hari mempermasalahkan sempat mengungkapkan harapannya agar Pemerintah Daerah bisa membuat semacam aturan atau Perda terkait Penghinaan ini. Tujuannya ya tentu menindaklanjuti ke upaya berikutnya, agar jangan sampai terulang kembali di tahun berikutnya. tapi ya… namanya juga komen di akun FaceBook. rasanya ndak akan berlanjut lah ide ide itu…

Selamat Tahun Baru Caka 1938

Category : tentang Opini

Selamat merayakan Tahun Baru Caka bagi semua saudara saya yang beragama Hindu di manapun kalian berada, belajarlah untuk tetap tenang dalam keheningan…

Sedangkan untuk saudara saya yang beragama lain, mohon doa nya agar Kebaikan datang dari segala penjuru.

Hari Raya Nyepi hanya sehari, mari menghormati tradisi ini.

Setiap kali saya mengingat Tahun Baru Caka, pasti selalu terbayang cerita dari Ir. Tjok Sukawati, dosen senior Sipil Universitas Udayana tentang kisah dibalik penemuan Sosrobahu-nya. Karena dipercaya atau tidak ternyata ada kaitan diantara keduanya.

Bagi yang penasaran, bisa memanfaatkan kuota internetnya dengan mencari informasi berikut di Google…
Pertama soal koefisien tekanan hidrolik yang ditetapkan untuk memutar lengan beton Sosrobahu. Infonya sebagaimana yang pernah saya baca di Intisari edisi lama, ketetapan tekanan tersebut didapat setelah Beliau memohon petunjuk pada-NYA lantaran berkali-kali gagal memutar lengan beton Sosrobahu.
Hal ini dipastikan pula secara langsung saat kuliah tamu pasca sarjana tempo hari.

Lalu informasi kedua, carilah makna angka/nilai koefisien tersebut bagi umat Hindu terkait Tahun Baru Caka. Makna ini dalam artikel yang sama rupanya diingatkan oleh salah satu pejabat di Indonesia masa itu kepada Beliau, usai menceritakan ‘asal muasal dan kebingungannya.

Cerita lain lagi terkait hal yang berkaitan dengan perayaan Nyepi, Sebetulnya kalau mau dicari cari, ada banyak kok akun FB, yang baik status maupun komennya bermaksud menistakan Bali serta Hindu…
Yang rata-rata merupakan akun anak alay atau orang yang baru baru belajar agama, belum paham benar makna yang ada didalamnya…

Kalau kalian merupakan Semeton Bali atau Semeton Hindu yang Cerdas, ya tinggal abaikan saja semua itu, karena masih lebih banyak kok kawan kita, umat beragama lainnya, yang menghormati Bali serta Hindu secara Sadar…

Selamat merayakan Nyepi untuk semua umat di BALI ya…

Salam dari Pusat Kota Denpasar

Doa dalam Hening

Category : Cinta, tentang Buah Hati

…terpisah dalam jarak

…dua disana

…dan dua disini

…harapan tetap menyala

…untuk menyatukan semua

…dalam keluarga

…ada doa dalam keheningan ini cantik

…hanya untuk kalian semua

…aku disini menanti

…sepi sendiri

Sebuah Cerita saat Nyepi

3

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KeseHaRian

Setiap umat beragama memiliki satu hari perayaan Tahun Baru yang jatuh di hari tertentu, demikian pula halnya dengan umat Hindu.

Nyepi. Demikian kami menyebutnya.

Hari Raya Nyepi merupakan hari dimana kami umat Hindu mematuhi empat larangan yang tampaknya kian hari kian disesuaikan atau malah dilanggar. Amati Geni, tidak menyalakan api, tapi tetap memasak atau menyalakan lampu meski secara sembunyi-sembunyi. Amati Karya, tidak melakukan pekerjaan, tapi tetap beraktifitas seperti biasa, bahkan sebagian tetap lembur dengan tugas kantor meski berada di rumah. Amati Lelungan, tidak bepergian, namun sesempatnya berkunjung ke rumah saudara atau tetangga sebelah rumah hanya untuk bertukar  cerita, dimana di hari biasa rasanya kami tak sempat melakukannya. dan terakhir, Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan, namun tetap menonton televisi, meceki dan sebangsanya.

Benar tidaknya gambaran diatas ya kembali pada lingkungan sekitar kalian dan kesadaran diri. Namun setidaknya, itu yang kami rasakan hingga kini.

Nyepi bagi saya pribadi, adalah hari yang paling dinanti karena di hari inilah saya bisa menikmati hari tanpa keramaian lalu lalang kendaraan, mendengar kicau burung dengan jelas, bahkan tawa canda ponakan sekalipun mereka berada didalam kamar tidurnya.

Saat masih seusia mereka, Nyepi adalah hari dimana kami berlomba-lomba bangun pagi untuk segera duduk nongkrong di jalan depan rumah, sambil bermain bola hingga didatangi pecalang di lingkungan banjar. Jika pecalangnya kami kenal, biasanya setelah dilarang, kami akan kembali keluar rumah saat ia pergi. Begitu terus hingga kami lapar, pulang dan mandi.

Di usia sekolah, kami masih sempat untuk melakukan puasa, tidak makan dan tidak minum, selama 12 jam, 24 jam hingga 36 jam sesuai kemampuan, lantaran diwajibkan oleh Ibu Guru agama kami (kalo gag salah ingat, namanya Ibu Dayu Puniadhi), dan akan dipastikan kembali usai Nyepi. Puasa mulai jarang dilakukan seiring kebiasaan para ibu yang memasak secara besar-besaran atau berlebih, dan mulai merasa kasihan jika semua tersisa di malam hari. Hehehe…

Jenis makanan atau masakan yang ada setiap Hari Raya Nyepi, dapat dipastikan serupa antara satu keluarga dengan lainnya, yang membedakan hanya pendampingnya saja. Ada yang punya tape, kacang, jajanan kering atau kue buah untuk mempercepat penghabisan pasca meprani sehari sebelumnya. Ini belum termasuk penganan kecil lainnya hasil borongan di supermarket beberapa hari sebelumnya. Ini mengingatkan saya pada ‘kearifan lokal (demikian seorang kawan menyebutkannya), dimana sebagian masyarakat merasa perlu untuk menimbun pasokan makanan seminggu guna mengisi ‘satu’ hari Nyepi.

Disamping berpuasa, sebenarnya usai melakukan sembahyang pagi, kami diharapkan membaca buku agama atau kitab suci demi membersihkan pikiran kembali ke awal mula. Namun lantaran bosan, materi yang dibacapun jauh berubah. Dari majalah di saat sekolah dulu, hingga portal detik dan akun jejaring sosial saat era internet kini.

Bosan yang lahir sepanjang hari Nyepi datang karena hawa diluaran cukup panas bahkan menyengat (entah berbeda jika kami memiliki AC dirumah), dan waktu yang berjalan terasa lebih lambat dari biasanya. Maka, pilihan untuk tidur dan beristirahat sepanjang hari lebih dipilih sebagai cara melewatkan waktu dengan cepat.

Di sela waktu, kami masih menyempatkan diri untuk mengirimkan ucapan selamat merayakan Nyepi pada sanak saudara, teman hingga relasi kantor. Dari jaman kartu pos, telegram, hingga sms jadul dengan satu penerima, berkembang kini lewat whatsapp, BBM atau jejaring sosial seperti FaceBook dan Twitter. Namun untuk mereka yang jarang beraktifitas di era internet ini, sarana sms-lah yang kelihatannya masih tetap bermanfaat. Tidak usah terlalu panjang mengucapkannya, toh usai kata ‘semoga’, sudah sangat jarang dibaca pihak tujuan, bahkan cenderung copy paste dari kawan lain. Yang penting ada nama pengirim, agar yang dituju minimal yakin kenal dengan si pengirim. Hehehe…

Di sore hari Nyepi, rutinitas pagi di hari yang sama kembali terulang. Disini jumlah orang yang hadir di sisi jalan malah semakin banyak, termasuk para orang tua yang memilih untuk saling mengunjungi dan bertegur sapa satu dengan lainnya. Bahkan, ada juga yang sepengetahuan kami berada di luar pulau, kini bertemu dan ikut merasakan sepinya Nyepi di jalanan kami.

Saat menjelang malam, biasanya kami kaum laki-laki mulai mengenakan pakaian adat dan membawa senter untuk melakukan ronda keliling desa, secara berkelompok. Mengingat sendirian, bukanlah ide yang bagus untuk menyembunyikan kedok keinginan berjalan-jalan keluar rumah. Di malam hari, biasanya kami banyak menemukan sekelompok orang lainnya yang memilih duduk di tengah jalan, ngobrol kesana kemari dan menyapa.

Dalam menjalani aktifitas Nyepi, biasanya sih ada aja orang-orang yang merasa terusik dengan heningnya suasana sepi baik siang maupun malam hari, terutama yang belum terbiasa dan merasa terjebak lantaran gag ada aktifitas lain yang bisa diperbuat. Orang-orang ini biasanya merupakan orang yang tidak memiliki toleransi dan rasa sadar pada diri sendiri maupun orang lain, maka itu kerap memantik api permusuhan lewat jejaring sosial yang secara sengaja dilontarkan dan menimbulkan bully atau caci maki baik dari umat Hindu maupun umat lainnya.

Beberapa kejadian unik pun ada di berbagai wilayah adat, seperti penemuan seekor ular sanca berukuran  besar yang naik dari selokan dekat banjar, atau penangkapan warga yang kedapatan melaju dengan sepeda motornya, lantaran tidak tahan dengan sepinya jalan raya, membumbui cerita tentang Nyepi yang ada di sekitar kita.

Dan jelang tengah malam, satu-satunya penerangan yang kami andalkan adalah lampu kamar tidur tengah yang secara kebetulan berada di tengah-tengah rumah, sehingga nyala lampu yang ada mampu menerangi sedikit area sekitarnya meski tak sampai terlihat dari luar. Di ruangan inilah, kami menempatkan bayi agar tidak rewel saat dininabobokan.

Cerita saat Nyepi tentu saja berbeda antar satu keluarga dengan keluarga yang lain. dan kali ini tentu saja Cerita saat Nyepi dari kami.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936

1

Category : tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

PanDe Baik dan keluarga mengucapkan “Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936” kembali ke awal lagi…

MiRah Intan 2014 1936

Jangan lupa kunjungi halaman kedua Putri kami, Pande Putu Mirah GayatriDewi dan Pande Made Intan PradnyaniDewi di http://mybaby.pandebaik.com/

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1934

1

Category : tentang DiRi SenDiri

www.PanDeBaik.com bersama Keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1934, semoga Bali selalu dalam keadaan Aman, Tentram dan tetap berTolenransi. Mari Jaga Bali bersama-sama baik dari segi kehidupan sosial bermasyarakat maupun selaras terhadap alam. Jangan lupa untuk tetap mentaati Catur Brata Penyepian, dan jika mampu laksanakan Puasa Makan dan Minum selama sehari penuh.
Akhir kata, Selamat menikmati sepinya hari ini dalam hening dan kesucian hati.

Denpasar, 00.01 dini hari, 23 Maret 2012…
www.PanDeBaik.com

Sebuah Cerita di Pagi Hari Nyepi 1933

6

Category : tentang DiRi SenDiri

Gerak MiRah perlahan menuruni tempat tidur membuatku terbangun di pagi yang sepi. Tak ada satupun suara riuh yang terdengar jauh dijalan sana. Tak seperti biasanya.

Satu persatu tetes air hujan mulai turun membasahi muka bumi, membuat harum bau tanah mulai tercium. Selamat Pagi kawan-kawan…

Halaman sekitar rumah sudah mulai teduh dan digenangi air, masih jua tak ada orang yang terlihat. Nyepi tahun ini memang tak seperti biasanya.

Kunyalakan layar televisi yang ada diatas lemari kecil sambil mengecilkan volume seminim mungkin, tak ada lagi siaran yang tampil. Berarti memang benar informasi yang kudapat kemarin.

Sebelum beringsut keluar kamar untuk menyeduhkan segelas kopi, kusempatkan dahulu menyalakan layar notebook dan membiarkannya berjalan. Sepotong kue cokelat sisa kemarin langsung kulahap lapar, membatalkan niat untuk melakukan puasa sepanjang hari Tahun Baru Caka ini.

Online. Rupanya Amati Internetan tak dapat kutepati janjinya. Satu persatu halaman yang rutin dikunjungi tampil sempurna dengan cepat. Koneksi yang digunakan di awal bulan ini rupanya sudah mulai normal kembali.

Notebook HP milik LPSE Badung yang sedianya kuinstalasi ulang hari ini, ternyata selesai lebih cepat dari perkiraan. Beberapa aplikasi yang kubutuhkanpun sudah berhasil disuntikkan pagi kemarin. Tulisan terkait ogoh-ogoh dan juga ucapan Selamat merayakan hari raya Nyepi 1933 pun sudah tampil di halaman blog. Bersih-bersih file pun sudah dilakukan malam harinya. Maka satu-satunya aktifitas yang bisa dilakukan pagi ini adalah mengunduh beberapa album musik akustik yang sempat tertunda tempo hari.

MiRah tampak asyik beraktifitas sendiri dengan khayalannya. Sepeda mininya bolak balik menyusuri ruang tamu, kamar tidur dan ruang keluarga. Kopi dalam gelas pun sudah mulai dingin. Menanti waktu…

Ketimbang bengong, satu persatu pakaian kering kusiapkan untuk disetrika. Televisi yang biasanya menemani di pagi hari masih tetap menyajikan keributan semut yang monoton. Rasanya hampa. Namun karena hari ini Nyepi, semuanya harus dijalani dengan penuh semangat.

NoteBook masih menyala dan mulai mengunduh satu persatu album musik akustik dari 4shared. Agar koneksinya tak mubazir, salah satu aplikasi pengunduh websitepun kujalankan. Tak ada salahnya mencoba mengambil 1.700an tulisan yang pernah lahir dan tampil di halaman blog www.pandebaik.com. Entah akan membutuhkan waktu berapa lama untuk menyelesaikannya.

Jalan raya masih tampak sepi dari jendela. Sebagian pakaian sudah selesai kusetrika, tinggal empat stel pakaian dinas saja yang tersisa. Perut yang lapar langsung dihantam dengan dua ketupat kuah balung ditambah ayam bakar tulang lunak. Nikmatnya.

Air mandi jadi begitu segar terasa, apalagi suasana sudah seperti di desa saja. Membuat betah untuk berlama-lama menikmatinya.

Bau dupa harum langsung memenuhi ruangan. Beberapa kuntum bunga kuhaturkan dihadapan-Nya. Menghantarkan hari yang sepi dan penuh Berkah ini. Semoga alam bisa kembali sejenak dalam keheningan.

Tetes air hujan masih turun membasahi bumi, kali ini disertai sedikit angin kencang dan berlalu dengan segera. Makin menyejukkan hati dan raga yang mulai berjalan pulang.

Dianandha Heppista dan Penghinaan Nyepi Tahun 2011

97

Category : tentang Opini

‘kenapa ya kalo nyepi mesti matiin lampu?! toh juga kalo qt melanggar qt yg dosa khn?! Ada aja org yg buat aturan aneh2! Klo mw nyepi, nyepi aja sendri2! Ga usah ngerepotin org laen! saaaaaaaaatt ! \f/’

Dianandha Heppista (BeBeenya Bogel), remaja putri kelahiran 22 Maret 1993 ini tampaknya merasa tidak puas dengan Heningnya perayaan Tahun Baru Caka 1933 Nyepi di Bali atau lebih tepatnya di Kota Denpasar, daerah Kesiman tempat dimana ia tinggal. Peraturan atau lebih tepatnya anjuran untuk tidak menyalakan lampu dalam hal ini api atau penerangan sebagai salah satu dari empat yang diberlakukan setiap hari raya Nyepi, menjadi sasaran akibat ketidakpuasan bathin bisa juga ketidakpahaman si remaja akan hakekat, makna dan maksud dari pada peraturan atau anjuran tersebut.

Sebagai seorang siswa yang pernah atau masih bersekolah di sebuah sekolah ternama SMAN 1 Denpasar, status yang di-update melalui ponsel seluler yang bersangkutan sungguh patut disayangkan. Pertanyaan Pertama yang ada dalam benak saya adalah, apakah hal diatas tidak pernah diajarkan di sekolah ataukah si remaja tak pernah peduli dengan adat istiadat dan budaya tempat ia tinggal ?

Saya pribadi belum tahu secara pasti Agama apa yang dianut oleh si gadis remaja yang kelihatannya memiliki pacar bernama Twoe Arya Wijaya (BoOgel Poenya DianAndha) ini. Jika saja Hindu, status yang bersangkutan diatas makin patut untuk dipertanyakan. Seberapa jauh pemahaman yang ia dapatkan dalam mempelajari Agamanya di sekolah ataukah malahan tidak mau tahu dengan Agamanya sendiri ?

Sangat disayangkan apabila seorang Remaja Belia Bali ikut-ikutan menghina Hari Raya Nyepi. Menambah panjang daftar orang-orang yang harus diberikan Pendidikan Agama baik di sekolah dan juga dirumahnya.

*Sekedar Informasi, akun yang bersangkutan rupanya sudah tidak bisa ditemukan lagi di Jejaring Sosial Pertemanan FaceBook. Bisa jadi lantaran yang bersangkutan mengubah nama akun dan menutup Privacy akun secara lebih pribadi. Namun sebagai petunjuk, akun pacar yang bersangkutan, masih bisa kok ditemukan. :p

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Mengenal Hari Raya Nyepi ; Tahun Baru Caka 1933

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Pagi itu terasa lengang, hari berlalu seakan tak bernafas. Panas terik yang berasa makin menyengat tak pupuskan tawa ceria kami asyik bermain disepanjang jalan.

Nyepi adalah satu-satunya hari yang paling kami nanti saat kecil dulu. Hari dimana kami bisa lepas bermain sejak pagi hingga sandya kala tanpa harus diganggu raungan motor dan laju kencangnya mobil dijalan depan rumah, walau sesekali harus kabur ke segala arah menghindari hardikan para Pecalang yang tampak garang di kejauhan. Malam haripun biasanya kami lalui dengan duduk bersenda gurau dikegelapan tanpa penerangan secuil pun.

Berjalan menyusuri sepanjang jalan Nangka dari ujung Selatan hingga Utara sepertinya tak pernah memberi rasa lelah sedikitpun karena para tetangga selalu siap menyambut kami dengan segelas kopi dan beberapa penganan. Nyepi tidaklah sesepi yang dibayangkan orang.

Hari Raya Nyepi adalah hari  yang dirayakan oleh Umat Hindu setiap kali mereka menyambut Tahun Baru yang disebut pula sebagai Tahun Baru Caka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (kesembilan) yang dipercaya merupakan hari penyucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi atau senyap). Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun Baru lainnya,  Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Udara Internasional, Rumah Makan, Perhotelan (dalam teorinya namun tidak dalam prakteknya) namun tidak berlaku untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuwana Agung/macrocosmos/alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena pantai  atau danau merupakan sumber air suci (tirta amerta) yang diharapkan dapat menyucikan segala leteh/mala (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang kesembilan), umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya ini masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama kesepuluh), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan(tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu,  juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Caka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan kesepuluh). Pada hari ini Tahun Baru Caka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan satu sama lain.

Ogoh-Ogoh Gagah Dahulu dan Kini

9

Category : tentang InSPiRasi

Mengunjungi Bali belumlah lengkap jika belum menyempatkan diri untuk menonton arak-arakan Ogoh-Ogoh yang dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kesanga atau Malam sebelum Umat Hindu merayakan Tahun Baru Caka yang dikenalpula dengan istilah Nyepi. Sebagai sa;ah satu produk seni Budaya Bali, Ogoh-ogoh hingga kini telah banyak mengalami perkembangan. Baik dari bahan dan cara pembuatannya, hingga penokohan atau makna yang dibawakannya.

Jika pada era tahun 90an, Ogoh-ogoh yang dibuat umumnya berwujud makhluk-makhluk menyeramkan dimana rangkanya dibuat dari dari bambu lalu dibungkus dengan kertas, kain atau benang pada bagian-bagian tertentu, maka pada tahun terakhir, jelas sangat jauh berbeda. Tak hanya dari segi rangka, bahkan secara keseluruhan Ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dari bahan Gabus. Selain ringan, Kelebihannya lantaran Gabus lebih mudah dipahat dan dibuat menjadi macam-macam bentuk yang diinginkan tanpa memerlukan banyak waktu dan tenaga seperti halnya merakit bambu. Sayangnya secara finansial, penggunaan Gabus tentu jauh lebih banyak memerlukan modal ketimbang merakit bambu dan kertas.

Secara penokohan pun bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Siapa sih masyarakat Bali seputaran Kota Denpasar ataupun Sekaa Teruna Teruni yang bisa melupakan Ogoh-ogoh dengan figur Shincan tiga atau empat tahun yang lalu ? atau bahkan figur kenakalan anak-anak Negeri Tetangga Upin & Ipin ? ada juga yang mengambil figur Sangut Delem bahkan sang pedangdut ngeborpun ada.

Padahal secara makna, Ogoh-ogoh yang biasanya diarak keliling desa ini tidak lepas dari aktifitas Ritual, dalam hal ini kaitan upacara Bhutayadnya menjelang hari suci Nyepi. Ogoh-ogoh baru akan dihadirkan segera setelah usai pelaksanaan upacara. Diiringi suara gambelan –musik tradisional Bali- yang bertalu-talu ditingkah riuh rendah suara para pengarak. Semua itu mengandung makna untuk mengusir roh-roh jahat dari Desa yang bersangkutan. Maka itu sebabnya, perwujudan dari Ogoh-ogoh dibuat menyeramkan sebagai simbolisasi sifat-sifat keserakahan, ketamakan dan keangkaramurkaan.

Seiring perkembangan jaman, memang tidak salah sih jika profil ogoh-ogoh dibuat agak melenceng. Bahkan ada juga yang diselipi sindiran bagi para penguasa atau pejabat yang korup hingga yang berusaha untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat secara vulgar. Wong roh jahat jaman edan begini tak lagi berbentuk menyeramkan, ada juga yang gagah, perlente bahkan berdasi. Hehehe…

Sayangnya Image ogoh-ogoh perlahan makin memudar seiring perilaku pengarak yang kerap bersentuhan dengan minum minuman keras atau bahkan kerap memicu perkelahian antar pengarak. Jiwa muda lebih banyak berbicara disini. Meski pada tahun lalu, Ogoh-ogoh sempat pula dilombakan oleh Walikota Denpasar untuk menarik minat wisatawan dan juga kreatifitas para generasi muda yang diharapkan tidak melulu berlaku negatif.

Sekedar Informasi, untuk tahun 2011 prosesi pengarakan ogoh-ogoh sedianya jatuh pada hari Jumat malam tanggal 4 Maret mendatang. Jadi, bagi kalian yang penasaran dan ingin menyaksikannya langsung, silahkan meluangkan waktunya dari sekarang.

(sebagian kecil dari sumber materi diatas saya ambil  dari buku Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991 dan Ilustrasi Foto saya ambil dari besutannya Pak Ian Sumantika via FaceBook)