MuTaSi EseLon Pemda Badung : Bye Boss…

Category : tentang KeseHaRian

Saat penyegaran jabatan dilakukan terakhir kmaren, ruangan kerja yang penulis tempati rasa-rasanya seperti anak ayam kehilangan induk semangnya. Ini bisa dimaklumi, lantaran 3 orang atasan yang kami jumpai setiap hari, dipindahtugaskan ke tempat lain. Sayang memang rasanya, melihat pada keakraban kami satu sama lain terlihat benar sedari penulis pertama kalinya menjadi pengabdi negara ini. Namun satu kesadaran bahwa Beliau-beliau itu dipindah demi menjalankan tugasnya ditempat yang jauh lebih baik, maka kami selaku stafnya memang harus mau tidak mau merelakan mereka dengan ikhlas.

mutasi.jpg

So, Selamat berpisah Bapak Ibu atasan kami, sekaligus rekan terbaik yang kami pernah miliki. Pak Wayan Suratnya, Pak De Muliarta dan juga Bu Gung Suryaningsih. We’ll Miss You.

Gaji Jenderal tapi Kerjaannya Kopral

4

Category : tentang Opini

Udah hampir seminggu waktu berjalan usai keputusan Mutasi Eselon tempo hari, masih jua menyisakan kesemrawutan situasi maupun suasana kerja ditingkat staf. Ini lantaran adanya perubahan total susunan Eselon yang mengakibatkan kekisruhan kecil saat para pejabat kecil ini pindahan dari ruangan awal ke ruang tujuan.

0805-000.jpg

Masih bersyukur kalo Beliau-beliau ini bersedia pindah tanpa banyak basa basi, mungkin cukup dengan sedikit kata pembuka ‘maaf, saya atasan baru kalian dan tergolong baru dibidang ini. Jadi mohon bimbingan dan bantuannya untuk dapat mengefisiensikan waktu dan juga tenaga kita bersama ini’. Namun yang terjadi malah lebih dari yang dibayangkan, ‘Maaf saya tau ada beberapa yang gak menyukai kehadiran saya disini, tapi saya gak khawatir karena ada si anu dan si itu yang siap membantu saya‘. Beberapa Eselon yang dipindahkan ke tempat tugas yang tidak mereka kuasai (sepertinya sih rata-rata begitu), malah nekat membawa staf mereka yang loyal (baca :mengikutsertakan staf dengan paksa tanpa persetujuan kepala unit kerja) di bagian yang mereka tempati sebelumnya.

Kalo tenaga yang dibawa ini pas dalam hal kemampuan dan bidang yang dikuasainya, untuk ditempatkan pada bagian Teknis, mungkin ya gak pa-pa. tapi kalo sehari-harinya mereka itu gak becus ngurusin pegawai, dari memacu absen kehadiran, mengalihkan uang suka duka pegawai untuk dibagikan pada stafnya, atau malah naik golongan para pegawai yang gak pernah mereka pedulikan, malah cenderung menjatuhkan orang-orang yang gak mereka sukai, dan kini dipaksa masuk untuk menjadi staf Teknis yang kerjanya Survey, ngurusin Jalan dan juga berpanas-panas dijalan, apa mereka masih mau ?

Keheranan ini blom jua berakhir saat surat-surat untuk menghadiri rapat yang masuk, selalu di disposisikan kepada para staf, padahal para staf tak punya kewenangan mengambil kebijakan saat rapat tersebut. Alasannya cuman satu, ‘toh saya enam bulan lagi sudah pensiun, gak pantes buat ikut menangani hal-hal kayak gini, biarlah ini dianggap sebagai pengkaderan’ dan itu alasan selalu saja dipakai saat berbagai surat datang meminta kehadiran sang Eselon.

Shit ! mungkin apa kata seorang rekan bener adanya. Ni pejabat Eselon ‘Gajinya Jenderal, tapi kerjaan yang dia maui cuman setingkat Kopral’. Apa masih pantas tu orang didapuk sebagai seorang pimpinan ?

Mutasi tanpa melihat ‘Warna Kucing’

12

Category : tentang KeseHaRian

Awal minggu ini dilingkungan kerja Pemda Badung terjadi aksi Mutasi besar-besaran para pejabat eselon, menyusul penggabungan atau penciutan jumlah Dinas atau instansi unit kerja, tentunya dalam waktu dekat bakal berimbas pada perombakan jajaran stafnya pula.

Mencomot istilah berita di koran lokal 22 Juli kemaren, bahwa ‘dalam melakukan Mutasi kali ini, Bupati tak melihat ‘Warna Kucing’ sehingga dalam kenyataan dilapangan apa yang dikatakan di media tersebut benar adanya.

Seperti yang terjadi pada instansi dinas yang penulis tempati. Terjadi perombakan besar, perputaran posisi juga kenaikan jabatan yang mengakibatkan kerancuan penempatan posisi menjabat diisi oleh orang yang tak ahli di bidang itu.

Satu contoh yang paling lucu adalah seorang eselon yang sebelumnya mengurusi aministrasi pegawai selama bertahun-tahun dan tak becus mengawasi kinerja stafnya akan kepedulian suka duka jajaran staf di instansi yang ia tempati, kini malah menempati posisi yang tergolong Teknis dibidang Jalan dan infrastrukturnya, berkaitan dengan kondisi lapangan secara langsung dan sekaligus pula berkaitan dengan jalan mana saja yang pantas diusulkan tahun ini, dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan, kepadatan lalu lintas ataupun kondisi lingkungannya.

Jangan-jangan nantinya malah ‘eh jalan mana yang jadi diusulkan untuk tahun depan, Bu ? ‘terserah kalian sajalah, saya mau ke salon dulu. Loh ?

Memang benar apa kata Pak Bupati di media cetak sebelumnya, bahwa Mutasi ini dilakukan untuk penyegaran pada para pejabat eselon, bukan diartikan sebagai pembuangan ‘mereka yang berseberangan’ ke tempat kering dan menaikkan ˜mereka yang loyal ketempat basah. Tapi jangan sampe ˜menempatkan orang yang salah pada tempat yang salah’ pula dong !